Minggu, 29 Januari 2017

Nice Home Work IIP #1

Emak emak seumuran saya, biasanya sudah sampai pada tahap pencapaian tertentu dan sudah fokus di sana sehingga tinggal ngebut meraih prestasi dan spesialisasi.
Saya mungkin perkecualian. Karena sampai saat ini belum memiliki keahlian khusus yang pantas diandalkan. semuanya hanya kualitas rata rata. Perasaan seperti itulah yang mengantarkan saya ke kelas Matrikulasi Ibu Ibu Profesional . Daaaan..., here I am, mulai pekan ini dan beberapa pekan ke depan saya insya Allah akan berusaha menjadi siswa yang menurut dan rajin mengerjakan PR. Adapun pekan pertama ini, materinya adalah Adab Menuntut Ilmu. Berikut PR -nya....

* Satu Ilmu yang akan ditekuni
Dengan mantap  bismillah saya akan menjawab  ilmu pemasaran/marketing.

* Kenapa memilih itu ?
Alasannya adalah saya baru mendapati bahwa dibalik ilmu marketing ternyata ada banyak sekali potensi potensi kebaikan yang selama ini tidak/belum saya sadari.
Di samping ilmu marketing ini memang untuk menjual suatu produk, ternyata ilmu ini juga dapat dipakai untuk mengajak orang kepada kebaikan.
Contoh : ketika saya akan mengajak ibu ibu untuk ikut pengajian, maka saya harus menguasai bahasa marketing agar para ibu tertarik mengikuti pengajian tsb.
Ketika saya mengadakan kegiatan untuk anak anak remaja melalui Bina Keluarga Remaja, maka saya pun harus bisa mengemasf kegiatan tersebut dengan bahasa tertentu agar para remaja tertarik
termasuk ketika saya perlu donatur untuk acara yang saya buat, maka sayapun harus dapat 'menjual' acara tsb melalui presentasi ataupun proposal.
Daan ternyata baru saya sadari juga, ternyata ilmu pemasaran ini juga bisa menjadi sarana untuk menyalurkan hobby menulis saya sekaligus hobby fotografi  dan edit foto. Atau bahasa kerennya sekarang membuat markom

* Bagaimana strategi saya dalam mempelajari ?
Karena keterbatasan waktu dan mobilitas, maka saya berusaha mengoptimalkan segala cara yang saya bisa. antara lain :
1. Membaca buku buku pemasaran
2. Mengikuti kelas coaching online dan offline
3. mengikuti seminar dan pelatihan yang terkait
4. mengikuti sales clinic
5. follow akun akun sosmed para ahli pemasaran dan motivator
6. bergabung dengan grup WA maupun channel telegram bidang pemasaran

*Terkait dengan Adab Menuntut Ilmu ada beberapa hal yang saya perbaiki
1. Berusaha meluruskan niat karena Allah semata. Seiring dengan pencapaian pencapaian yang saya dapat, ujian berupa pujian dapat membelokkan niat.  Maka saya berusaha tidak memunculkan nama saya di setiap markom yang saya buat, khawatir akan mengganggu keikhlasan saya yang masih tahap belajar ikhlas
2. we are helping, not (just) selling. ini harus ditancapkan kuat kuat, agar tidak mudah kecewa ketika menghadapi kenyataan di dunia nyata yang tidak sesuai keinginan kita.
3, Belajar untuk lebih menghormati guru, meraih ridhonya dan menjaga kehormatannya, agar ilmu yang didapat semakin barokah.

wallahu alam bishowab

#NHW1_titiesti_IIPBandung


Selasa, 26 Januari 2016

Titian Muhibah #1 : Persiapan Perjalanan

Buat sebagian keluarga, liburan bersama sudah seperti menjadi agenda wajib. Sehingga sudah dipersiapkan baik waktu maupun pembiayaannya.
Tapi buat keluargaku, liburan itu seperti sebuah kemewahan yang harus diperjuangkan. Biasanya kami menjadikan mudik sebagai 'liburan'. Ya karena saat itulah anak-anak bisa berkunjung ke kota lain dan bertemu dengan keluarga besar.
Akan tetapi, sejak Eyang Kakung wafat sekitar dua tahun lalu, kami sekeluarga baru sekali mudik ke Lampung yaitu pas pernikahan Echi.

Nah kemarin ceritanya Abi mau ngajakin anak-anak berkunjung ke keluarga kakak dan adikku. Meskipun mampir mampir ke beberapa tempat wisata, tapi karena lebih banyak silaturrahimnnya, jadi Abi menyebut perjalanan ini semacam titian muhibah. :)
Selama ini kalau mau mengunjungi saudara saudaraku secara teknis agak susah, karena saudara-saudaraku ada 6 orang yang tinggalnya di 6 kota 5 provinsi. Nah kebetulan tahun lalu adikku yang sebelumnya ikut suami tugas ke Sumatera, pindah ke Purworejo di Jawa Tengah. Sehingga kalau kami ke Jawa Tengah, dapat menemui beberapa keluarga. Yaitu keluarga kakak pertama di Cilacap, keluarga adikku di Purworejo dan adik satu lagi di Temanggung. Udah gitu kami rencana akan diantar kakakku yang ketiga. Jadi minimal ini ketemu lah ya...lima orang. Yang dua lagi di Jaksel dan Bekasi insya Allah kapan-kapan lagi.

Maka Abi meminta aku merencanakan segala sesuatunya. Awalnya aku bikin rencana destinasi secara sederhana plus dengan akomodasinya. Karena ini perjalanan panjang, maka segala sesuatunya harus disiapkan.
Berikut rencana singkatnya :
Hari 1 ; Perjalanan ke Cilacap dengan KA Ekonomi, malamnya menginap di rumah kakak
Hari 2 : Berkunjung ke tempat wisata di sekitar rumah kakak, lanjut perjalanan ke Purworejo dengan rental mobil, malamnya menginap di rumah adik
Hari 3 : berkunjung ke Saudara-saudara Bapak dan Ibu lanjut ziarah ke makam Bapak dan Ibu malamnya menginap di penginapan di Magelang
Hari 4 : Berkunjung ke Candi Borobudur, Candi Mendut, Candi Prambanan, Taman Pintar, malamnya menginap di penginapan di Yogyakarta
Hari 5 : berkunjung ke keraton dan ke Budhe di Yogyakarta, malamnya perjalanan pulang ke Bandung.
Fyuuuuh, ngebayanginnya udah capek duluan. Tapi karena ini adalah perjalanan pertama ke arah Jawa Tengah buat kami sekeluarga, maka semua anggota keluarga pun antusias.

Kurang lebih seminggu sebelum perjalanan aku udah beli tiket KA Bandung-Cilacap (KA Ekonomi, karena cuma sebentar) dan juga tiket KA Yogya-Bandung (pakai kereta bisnis karena perjalanan bakal semaleman) . Aku juga udah mulai mengintip semacam trivago, traveloka, yogyes dsb untuk pemesanan kamar. Tapi karena aku dibuat bingung dengan perbedaan harga mereka dan fasilitas yang ditawarkan, akhirnya aku memilih pemesanan manual lewat telpon langsung ke pihak hotel. Alhamdulillah semua clear ya...

Setelah itu persiapan berlanjut pada perbekalan. Rencana semula, semua anak bertanggung jawab atas backpacker masing-masing, cuma punya Faiz dan Teteh yang akan digabung di tas Abi. Tapi mengingat bawaan cukup banyak (5 hari-5 kota, gak sempat nyuci laaah....) akhirnya Abi mengeluarkan travel bag simpanan untuk pakaian para cewek.

Ini tas perbekalan para cewek. Yang hijau buat Teteh sama Ayuk, yang batik buat Ummi dan Mbak

Kami berangkat Kamis pagi pukul 05.20 dari stasiun Kiara Condong. Terima kasih buat aplikasi Mybluebird yang sudah 'memastikan' bahwa taksi bakalan datang. Maklumlah, tinggal di Bandung coret ya begini ini, taksi jarang ada yang mau njemput ke arah sini. Tapi alhamdulillah, sejak aku pakai aplikasi My Bluebird, taksi biru ini selalu datang. 
Kemarin kami pesan yang MPV, ceritanya mau nyobain Honda Mobilio sekeluarga gituu.... tapi kemudian ditelpon sama CS Bluebird, katanya  armadanya nggak ada, jadi kami minta dikirim dua taksi sebagai gantinya.
Syukurlah kereta nggak penuh semua, jadi duduknya santai, bisa pindah kanan kiri memilih jendela yang menyuguhkan pemandangan lebih indah

Pemandangan matahari terbit di sekitar Garut
 Setelah menempuh perjalanan sekitar 5 jam, pada pukul 11 siang kami tiba di stasiun tujuan, yaitu Stasiun Maos. Di Maos inilah aku menempuh pendidikanku semasa SMP. Duuuh.. udah lama banget. Ada kali 20 tahun aku nggak ke Maos ini. Rasanya nyesek dan terharu akhirnya aku bisa sampai sini lagi. Ada perasaan semacam dejavu gitu, karena SMP-ku ini dekat sekali dengan stasiun.
Tapi ternyata pas aku menyusuri sepanjang jalan kenangan (hihi), SMP-ku udah berubah. Yang tadinya menghadap jalan stasiun berubah jadi menghadap jalan baru. Nggak ada bekas sama sekali. Yaah... sayang sekali ya... Padahal pas aku kelas dua, setiap ada kereta lewat, pasti kelihatan dari jendela karena antara rel dan kelasku cuma berbatas jalan.


Aku dan Faiz di Stasiun Maos
Sayang sekali perjalanan dari Maos menuju kampungku di Desa Adiraja Kec. Adipala (kecamatan sebelah), ternyata tidak semudah yang aku bayangkan. Kupikir sekian puluh tahun akan memberikan kemajuan di angkutan massal. ternyata yang terjadi adalah sebaliknya. Angkutan pedesaan berupa bis kecil dari Maos ke Adipala sudah jarang, bahkan angkutan kota dari Adipala ke Adiraja sudah punah, alias nggak ada lagi. Kata kakakku, ini terjadi karena orang lebih suka naik motor. Apalagi sekarang kredit motor sudah dapat dilakukan dengan persyaratan yang cukup mudah.
Alhamdulillah kami bertujuh ketemu bis kecil yang kosong, aku meminta sopir mengantarkan kami langsung sampai desaku (jaraknya cuma sekitar 2 km laah, dari Adipala). Alhamdulillah pak sopirnya bersedia, dan harganya pun tidak terlalu mahal. Kamipun sampai di rumah kakak dengan selamat dan penuh kemudahan.