Jumat, 30 April 2010

Menjemput Rizki

"Ass.. mbak, bukunya dah ketrima. juga hadiah bukunya... makasi ya.. jzklh, semoga silaturrahmi bisa terus ya.. aq jadi terinspirasi ni.. begitu gigihnya mba menjemput rizki. Mudah-mudahan aku bisa ya.."

itu tadi sms dari temen. bukannya tersanjung kalau titi menuliskannya disini. tapi justru jadi tersentuh."begitu gigihnya mba menjemput rizki".
Rizki itu musti dijemput memang kali ya... seperti burung yang terbang keluar sarang, tanpa membawa apapun, pulangnya dia bisa memberikan makanan buat anak-anaknya yang tinggal di sarang.
Orang Jawa bilang "yen obah, yo mamah". kurang lebih artinya kalau kita mau bergerak (berusaha), pasti akan mendapatkan (makanan. mamah = mengunyah).
Moga kegigihan ini tidak diartikan dengan rakus, napsu, atau apa yang konotasinya Negatif. Soalnya sejauh yang aku pahami, mencari rejeki seluas mungkin itu termasuk yang diperintahkan. Banyak hal teknis yang terkait dengan rejeki yang melimpah ini. Rumah seorang muslim mustilah luas, minimal ada 1 kamar untuk anak-anak laki, 1 kamar anak-anak perempuan dan 1 kamar untuk orang tua. belum kamar tamu, kamar pembantu,dll. kalau duitnya nggak banyak, nggak kebeli deh rumah yg begono.
Trus juga perintah untuk berzakat, klo gak kaya kan gak wajib zakat.
Ada juga perintah sedekah, infak, yang itu terkait dengan harta.
Secara, kalau kita banyak uang juga bisa berbuat baik yang lebih banyak. Misal ada keluarga yang tertimpa kemalangan, selain membantu dengan doa, kita bisa membantu dg materi juga. Ini belum membicarakan tentang (biaya) pendidikan anak-anak, pendidikan orang tua juga (mau sekolah lagi, nee...), masalah kesehatan, rekreasi keluarga, kendaraan, .. semua perlu uang.
yakh akhirnya hanya seuntai doa yang kupintakan, moga Rizki yang kujemput dengan gigih, membawa keberkahan adanya.

1 komentar:

Silakan Tinggalkan Kesan