Jumat, 28 Mei 2010

Habis ??

F5, pas IMD. Hebat euy, kecil kecil dah disuruh berjuang

Lucu deh, akhir akhir ini Faiz udah banyak belajar bicara. Kata-katanya yang sepotong sepotong sering membuatku bertanya-tanya,  apa maksudnya?

Misalnya, antar bola dan  mbak dia katakan 'buaak'
itu, satu, dia katakan "tuuu", bibi dan Abi sama sama "bi"
lagi, mandi, dikatakan "adi"

Suatu sore dia minum ASI. sekarang Faiz sudah bisa minta, misal setelah minum ASI yang kiri, dia akan bilang "tuuu" untuk minta yang sebelah kanan. (entah itu, entah yang satu..., maksudnya). Nah pas lagi asyik-asyik minum Asi yang kiri, tiba tiba dia berhenti dan bilang, "abis!"
Hah ?? apa maksudnya ini ? ASI ku habis ?? Asi bisa habis gitu ?
Aku mengingat2 apa gerangan yang kumakan sampai sedemikian rupa sehingga Faiz yang sekecil itu bisa bilang asi habis.
(emang si hari itu sarapan kelewat, dan makan siang agak kesorean, tanpa sayur. dari pagi cuma minum dua gelas).

Haha aku ketawa sendiri, dan setelah bingung sejenak, akupun menjawab:
"Apa yang habis, Faiz ?, mau ganti yang satu ?"
"Tu, tu" jawab Faiz sambil meraih yang bagian kanan.

Hmmm, ada ada saja.

Kamis, 27 Mei 2010

The Namesake

banyak belajar tentang kultur India, atau kondisi pertentangan budaya yang dialami oleh para imigran. antara ingin mempertahankan budaya lama/leluhur, dan atau beradaptasi dengan kebudayaan setempat.
dalam buku ini aku mendapat sesuatu yang baru, sangat tidak menyangka, kalau pemberian nama di sebuah negeri bisa sedemikian rumitnya (di India) atau sedemikian mudahnya (di amerika) bahkan ternyata pemberian nama pun dapat mempengaruhi kepribadian Gogol/Nikhil Ganguli -tokoh utama dalam buku ini-.

Sebagaimana yang orang kagumi dari Lahiri, adalah caranya bercerita yang sederhana dan sangat detail. Aku juga kagum itu.

Meski agak terkaget-kaget dengan kehidupan Amerika yang Lahiri ceritakan , mengingat setting tahunnya, (hidup serumah, narkoba, dll), ada satu hal yang sangat aku suka dari buku ini, yaitu, setelah semua tokoh malang melintang, menghadapi berbagai konfliknya, akhirnya si tokoh utama, kembali ke keluarga.
Satu lagi, cara Lahiri menceritakan kematian Ashima yang tiba tiba, dan bagaimana istrinya memaknai kematian Ashima, dan juga kematian demi kematian berikutnya demikian juga bagaimana dia menceritakan kelahiran demi kelahiran. atau memang demikianlah hidup ini. Lahir ke dunia, dan akhirnya harus meninggalkannya.

Senin, 17 Mei 2010

Akibat Suka Jahil

Setiap memakaikan baju atau mengganti popok/celana buah hati kami -Faiz (19 bulan), saya selalu gemas, terutama pada kakinya yang gemuk dan berkulit halus. Maka seringkali sambil memakaikan baju, atau kadang malah sambil main, saya pegang kaki itu dan saya gigit. (pelan sih....)
Ah, rupanya Faiz seorang pembelajar yang baik. Sekarang setelah usianya semakin besar, dia juga semakin pinter. Bila melihat kaki "nganggur" (lho), entah itu kaki saya, kaki Abinya ataupun kaki kakak-kakaknya, segera dia pegang dan dia angkat untuk dimasukkan ke mulut. (digigit juga, maksudnya).

"Auww "... reaksi kami. Dan Faizpun akan tersenyum senang.

Faiz... Faiz... maafkan Ummi ya, tidak sengaja mengajarimu jahil.


Gara Gara Abi suka Jahil

Faiz, anak kami, sekarang berumur 19 bulan. Sejak dia kecil kami terbiasa mematikan lampu sebelum tidur. Nah, terkadang, sebelum waktunya tidur, Abi Faiz mematikan lampu dan menghidupkannya kembali. Awalnya Faiz hanya tertawa-tawa. Sekarang dia sudah bisa memanggil "Abi......" ketika Abinya mematikan lampu.

Kejahilan Abi rupanya tidak sampai di situ. Setiap Faiz bangun pagi, dan Ummi sudah di dapur, maka Abi akan mengantar Faiz ke dapur dan sebelumnya mematikan lampu dapur yang saklarnya ada di ruang TV.

Sering juga ketika Faiz sedang dimandikan Ummi di kamar mandi, Abi mematikan lampu dan menghidupkannya kembali. Dan Faizpun akan berteriak "Abi.......!!!"

Akhir-akhir ini di Bandung sering terjadi pemadaman listrik. Maka, setiap  itu terjadi, Faiz pun akan berteriak "Abi........!!!"

Naaah....lho....


Faiz dan Abi

Rabu, 12 Mei 2010

Lelakiku

Si Lelaki di Pantai Sukabumi

lelakiku bicara bahasa cinta yang bisu
hanya dalam hening pikir, kudengar suara itu
hanya dalam bening hati, kumaknai dalamnya rasa itu

lelakiku bicara bahasa cinta yang bisu
dengan tatap mata kau sampaikan peduli
dengan hangat senyum kau katakan sukamu
dengan bergeming kau bisikkan khawatirmu
dengan rengkuhan kau bicarakan penjagaanmu

lelakiku bicara bahasa cinta yang bisu
dia teriakkan badai dengan diam
kau teriakkan pelangi dengan sepi
kau teriakkan rasa dengan senyap

lelakiku bicara bahasa cinta yang bisu
dan aku tak kan pernah berhenti

mendengarmu 

Selasa, 11 Mei 2010

Jalan Bareng : Melihat Pameran Pedang Nabi

Ternyata, punya anak teenagers bukan semakin mudah ya.. tapi semakin banyak tantangan. Membuat mereka 'stay tune' ama kita, ama rumah dan merasa nyaman selalu. Dah beberapa bulan ini kami selalu merutinkan untuk jalan bareng sama anak-anak. Yaah, sejak si Abi kuliah, dan nambah kesibukan di kantor, sering sabtu - ahad bukan cuma Ummi yang pergi, Abi juga ke kantor atau kuliah.

Bulan Mei ini kebetulan ada Pameran Pedang Nabi di Pusdai. Sebenernya pameran ini sudah berlangsung dari 9 April. Tapi nyadar-nyadar klo pameran ini perlu di kunjungi ya pas akhir April. Akhirnya setelah menjadwal, kami - aku dan suami - sepakat tanggal 8 Mei.
"Khawatir ramai, Bi.." kataku
"halah, palingan sepi " jawab suami yakin.

Menjelang  hari yang disepakati itu, aku dah dagdigdug aja, karena ternyata si Abi harus ke kantor. aku juga ada janjian sama ibu-ibu pengajian jam 12. Waah, mepet banget. Jadinya sepakat acara di mundurin tanggal 9 Mei, jam 9 teng. (benar - benar hari terakhir).

Dari beberapa hari sebelumnya aku udah promosi ke anak-anak, ayo - ayo kita mau melihat pedang Nabi. (meski belum kebayang olehku). Yang dibawa dari Musium Topkapi di Turki. (jauhnyaaa)
Besoknya aku dan anak-anak siap pas jam 9. Tapi ups, kenapa si Abi cemberut yaks. Haloooo ada yang salah ?? tapi daripada acara batal, aku tahan untuk tidak menanyakan kenapa si Abi cemberut. (sakit gigi kali...)
Kami berenam naik motor beriringan. Abi sama Teteh dan Mbak, Aku sama Fikri dan Ayuk. Sampai di Pusdai, masya Allaaah.... ternyata antrian sudah demikian panjang dan mengular. Bayangkan, antrian itu udah penuh dari ujung ke ujung plaza.

Setelah beli tiket, kami ikut mengantri untuk melihat Pedang Nabi. (ah ya, cemberut udah pergi dari wajah Abi). Dari jam setengah sepuluhan mengantri, akhirnya jam 11 baru sampai ruang pameran. Dan kami cuma dapat waktu palingan 20-an menitlah.
10 menit pertama, pengantar dari Panitia Pameran, Nonton film tentang Shalahudin Al Ayubi, karena beliaulah yang berinisiatif untuk mengumpulkan berbagai replika peninggalan Rasul SAW.
Setelah film selesai baru masuk ruang pameran. Ternyata Pedang pedang yang di pamerkan bukan pedang yang dipakai untuk  berperang. Jadi hanya pedang-pedang hadiah, atau pemberian. Ada juga sandal kiri Rasulullah, Tongkat Nabi Musa, Tongkat Nabi Muhammad, dan sebagai tambahan ada Mushaf Sundawi. Tapi asa belum puas, udah di suruh keluar lagiii.
Ya deh, untuk mengobati kekecewaan karena menikmati pedangnya tidak sesuai dengan antriannya, akhirnya kami para cewek berfoto ria... tadaaaaa..........



Rabu, 05 Mei 2010

Sajak Akad

kau datang
membawa janji di tangan
membawa amanah Tuhan
suamiku
akankah kebersamaan ini
abadi ?

Sajak Akad

Keluarga Echi, Lihat si Echi masih imut gitu..

Ayah dan Ibu Lampung

Bapakku dan Ayah Lampung

Perang Saudara (-lebay-)

Kejadiannya begitu cepat, dan tak terduga.
kemarin sore menjelang maghrib, ami Ray -temen Abi- datang ke rumah mau pinjam kamera digital. ini hal biasa. pas mau pulang, ami Ray nanya eh nawarin  ke Abi  :
"boleh nggak fikri diajak ke dufan?"
kata si Abi minta persetujuan ummi. fikri mendatangiku yang sedang di kamar bareng faiz.
"Mi, boleh nggak Yai diajak ami Ray ke Dufan?"
"sok aja" jawabku ringan. (ini udah ke sekian kali ami Ray ngajak fikri jalan jalaan..)
eh tiba tiba, Abi masuk kamar, sambil membuka lemari, sambil berteriak ke ami Ray:
"Ray, bayarnya besok aja ya...?" dan menutup lemari lagi.
tuing ... tuing ... langsung deh aku sadari kepolosanku. Kirain teh diajak cuma cuma, ternyata musti bayar.
Tidak lama kemudian, F1, F3, F4 masuk bareng bareng ke kamar. semua berwajah cemberut. Malah si lembut hati udah mewek.
"Ummi curang, ummi curang, giliran Yai aja di kasih ijin pergi"
"kenapa si selalu Yai yang diajakin ami Ray ?"
"pasti uangnya dibayarin sama Abi"
"kita minta mentahnya dong, Ummi"
"besok kalau sabtu kita jalan-jalan, Yai tinggalin aja"
"Ummi pilih kasih !"
"Abi nggak adil "
wah... aku nggak tahu lagi siapa yang ngomong. pokoknya tiga gadis itu pating celetuk, sementara aku masih ngasih ASI faiz.
"ya sudah, sekarang kita shalat maghrib dulu. nanti kita bicarakan dengan Abi. kirain Ummi juga gratis" aku menenangkan mereka.
Walhasil, kami semua shalat maghrib bersama. masih kulihat wajah cemberut ketiga gadis kecilku. Malah yang tadi mewek juga masih shalat sambil mewek. (duh duh duh...)
setelah shalat, dan salam salaman, aku mulai pembicaraan.
"Ta, memang bayar berapa fikri ke Dufan?"
"185rb. (185 rb? baru transport, belum uang jajan, belum uang bekal, dll )
"yang lain pada ngiri tuh...." kataku
kemudian Abi menatap anak gadisnya satu persatu. terakhir menatap fikri.
"Yae, kalau dibatalin yai kecewa nggak ?"
Fikri menggeleng, lemah.
"kasihan yae, saudaranya... mbak juga kan lagi UASBN. lagian mahal Yae, mendingan uangnya kita pake bayar SPP, atau daftar ulang, nggak papa Yae ?"
fikri menangguk. "nggak papa" katanya.
Kemudian si Abi meraih kepala fikri membelainya dan berkata :
"Nggak papa Yai bilang kecewa juga, sedih juga boleh, Abi ngerti kok. Tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk jalan-jalan. nanti aja kalau ada rejeki lebih kita jalan-jalan bareng  ya..."
fikri diam saja di pelukan Abi.
aku, bukan ngeliatin fikri. Aku lihat ketiga wajah anak gadisku. begitu Abi bilang "yai, kalau dibatalin Yai kecewa nggak?" wajah gadis gadis itu sudah cerah ceria, seperti pagi yang merekah. malah mata si Ayuk sudah berputar putar, bibirnya tersenyum.
Ya ampyuuuuuuuuuuuuuunnnnn...... mereka marahnya cuman segitu ???
(hufff,  bagaimana aku mendidik mereka ya, biar faham ADIL itu tidak berarti SAMA!!!)

 
Anak Empat pas lagi rukun

Selasa, 04 Mei 2010

SAJAK AKAD

kau datang
membawa janji di tangan
membawa amanah Tuhan
suamiku
akankah kebersamaan ini
abadi ?


sajak akad.JPG
  

keluargamama.JPG
  

ayahibu.JPG
  

ayahdanayah.JPG
  

Ummi, Maafkan Ayuk Ya...



Pada suatu sore, aku menceritakan apa yang kudengar dari teh Mimin Aminah ke anak-anak. yaitu sebaiknya setiap malam, sebelum tidur, semua anggota keluarga bermaafan, saling berlapang dada, sehingga bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan diantara mereka, tidak ada lagi penyakit hati.
ternyata diantara lima anak, eh, empat anak yang sudah besar - besar dan mengerti untuk diajak bicara, hanya si lembut hati ini yang menanggapi dan mempraktekkan.

"ummi, maafkan Ayuk ya, semoga besok kita masih hidup dan bertemu kembali"
"sama sama Ayuk, maafkan Ummi juga ya..."
ternyata dia bukan pas mau tidur aja, pas salim mau sekolah juga dia berkata :
"ummi, maafkan Ayuk ya, semoga nanti sore masih bertemu."
"ya Nak, maafkan ummi juga ya... selamat belajar"

duh, anakku, seandainya kelembutan hatimu untuk hal yang positif selalu.


The Long Lost Map


Penulis : Pierdomenico Baccalario

Ini sambungan dari buku pertama THE DOOR TO TIME (pintu waktu). Melanjutkan petualangan Jason dan Julia, di Mesir. Oya mereka ditemani seorang teman, Rick.
Karena satu kejadian tidak sengaja, Julia harus kembali ke Kilmore Cove. Dan dia tidak bisa menyusul kembaran dan sahabatnya.
Petualangan semakin seru ketika Maruk (gadis kecil Mesir) bergabung dengan Jason dan Rick. mereka bertiga menjelajahi kota Punt yang sudah sangat maju (a.l. punya perpustakaan yang hebbatt, dan ada petugas indeknya!!)
Ketiga anak tsb berlomba dengan Oblivia Newton (perempuan jahat yang menginginkan Kilmore Cove). Setelah melalui berbagai rintangan, akhirnya ketiga anak tsb menemukan peta yang dicari. dan mereka harus menelan kekecewaan, karena kejahatan orang dewasa disekitarnya, Oblivia merampas peta itu begitu saja. Duh... (ikut kecewa).
Sayangnya : penulis menggambarkan anak - anak yang terlalu cerdas (sangat cerdas) dan pemberani (padahal mereka baru 11 tahun).
Tapi bagaimanapun tetep sik asik membacanya. gak sabar nunggu Erlangga for Kids nerjemahin buku ketiganya.

The Door To Time

Pengarang : Pierdomenico Baccalario, Leah D. Jane
Genre : buku Anak
Biasanya aku tidak tertarik untuk mereview buku anak-anak. tapi buku ini assyyiik banget. sangat membuat penasaran.
Petualanan berawal ketika sebuah keluarga dengan 2 anak kembar, Johan n Julia, pindah ke Kilmore Cove. Rumah yang aneh di tepi pantai.
Dasar anak-anak, rasa ingin tahunya begitu banyak. si kembar ini kemudian menjelajahi rumah dan menemukan sebuah pintu (pintu waktu) yang membawanya ke masa Mesir, masa Fir'aun.
Jalan ceritanya mungkin biasa aja, tapi cara berceritanya yang siip dan top banget. Baca deh...

Senin, 03 Mei 2010

Lomba Mewarnai

Kemarin sabtu, untuk kedua kalinya nganter firda lomba mewarnai di Bandung Trade Mall. sebenarnya ini bukan lomba mewarnai kedua, yang firda ikuti di luar sekolah. selama ini beberapa kali firda mewakili sekolah lomba mewarnai, aku tidak pernah menemani, karena pas hari kerja. kebetulan hari sabtu aku libur, jadi bisa menemani.
terus terang, untuk lingkungan sekolah, RA At-Takwa, aku agak bersemangat firda dapat nominasi. secara dah dua piala lomba mewarnai yang nongkrong di rumah. tapi untuk di luar sekolah, aku nggak punya target juara. hanya sekedar melatih firda berani bertanding di luar ring, biar tidak menjadi jago kandang.
alhamdulilah kemaren di temeni abinya juga.jadi aku juga seneng. (hehe..)

Nah, di waktu luang itulah aku gunakan untuk menemani sejenak firda di arena lomba.kami duduk berseberangan di meja mewarnainya. dia  tengak tengok ke temen-temen di sekitarnya. entah apa yang dia perhatikan. aku juga tengak tengok.mataku tertuju pada kotak kotak crayon yang dibawa peserta lain. rata rata adalah kotak besar berisi 36 warna. ada yang lebih. sedang yang dibawa firda (hanya) isi 12 warna.
dug, aku baru nyadar sesuatu.
"teh, (firda dipanggil teteh), teteh  kepengen nggak, crayon yang seperti mereka ? yang isinya banyak ?"
firda cuma tersenyum.menatapku. aku pun tersenyum.
"kalau ummi beliin, teteh mau ?"
firda tersenyum lagi.
tiba-tiba aku merasa terenyuh sekali, kenapa gak pernah kepikiran yak, untuk membelikan crayon yang banyak warna, toh firda dah beberapa kali lomba mewarnai dan juara.
"teh, ummi minta maaf ya, ummi belum mbeliin teteh crayon yang isinya banyak"
firda menatapku sambil tersenyum. dan kemudian dia mencubit pipiku dan berkata :
"nggak papa lagi, ummi...... yang ini juga sudah cukup"
glek! aku menelan tangisku. berusaha tersenyum dan membalas cubitan di pipinya.

Loker Firda di Sekolah TK

Ummi Sayang Aku, Nggak ?

Sudah setahun ini, ada satu pertanyaan F1 yang sangat menggangguku.
"ummi, ummi sayang mbak nggak?"
"ya pasti sayang laah..."  itu jawabanku.
kupikir, cukup sekali dia akan bertanya. ternyata besoknya bertanya lagi, lagi dan lagi. kadang pagi, kadang sore, kadang siang, sering juga, pagi, siang dan sore. sehari beberapa kali.
akhirnya aku punya jawaban lain, yaitu menanyakan sebaliknya,
 "mbak sayang ummi, nggak ?"
dia pun menjawab sayang.
atau aku bilang, mbak kan udah sayang sama ummi, jadi ummi nggak perlu sayang sama mbak.  (hehe, ngeles)
atau kujawab iseng, nggak sayang. dan mbak fathimah akan ketawa.

pertanyaan pertanyaan tadi sangat membuatku tidak nyaman, dan tidak pede, sekaligus  menjadi koreksi bagiku, jangan-jangan selama ini dia kurang kasih sayang,  kurang merasa diperhatikan, kurang mendapat ekspresi perasaanku padanya, sehingga mbak fathimah tidak yakin, dan musti harus menanyakan berulang kali dalam sehari.

pas suatu kesempatan konsultasi psikologi di sekolah, aku menanyakan hal tsb,
 normal nggak siy... ternyata kata psikolognya itu adalah hal normal. apalagi mbak fathimah menjelang masa pubertas, anak-anak di masa itu butuh perhatian lebih dan sentuhan lebih, untuk memuaskan kebutuhannya. kalau itu tidak dia dapatkan di rumah, dari ibu bapaknya, maka dia akan mencarinya dari orang lain. (baca : laki-laki lain). aduuuh.. ngerinya. bahkan ibu Elly menambahkan, berikan juga pelukan, ciuman, usapan, tatap matanya penuh cinta.... (harus diniatkan nee...)

jadi kepikiran, besok besok aku harus mendahului mbak fathimah kali ya....
"mbak, ummi sayang sama mbak, peluk ummi dong... "