Rabu, 05 Mei 2010

Perang Saudara (-lebay-)

Kejadiannya begitu cepat, dan tak terduga.
kemarin sore menjelang maghrib, ami Ray -temen Abi- datang ke rumah mau pinjam kamera digital. ini hal biasa. pas mau pulang, ami Ray nanya eh nawarin  ke Abi  :
"boleh nggak fikri diajak ke dufan?"
kata si Abi minta persetujuan ummi. fikri mendatangiku yang sedang di kamar bareng faiz.
"Mi, boleh nggak Yai diajak ami Ray ke Dufan?"
"sok aja" jawabku ringan. (ini udah ke sekian kali ami Ray ngajak fikri jalan jalaan..)
eh tiba tiba, Abi masuk kamar, sambil membuka lemari, sambil berteriak ke ami Ray:
"Ray, bayarnya besok aja ya...?" dan menutup lemari lagi.
tuing ... tuing ... langsung deh aku sadari kepolosanku. Kirain teh diajak cuma cuma, ternyata musti bayar.
Tidak lama kemudian, F1, F3, F4 masuk bareng bareng ke kamar. semua berwajah cemberut. Malah si lembut hati udah mewek.
"Ummi curang, ummi curang, giliran Yai aja di kasih ijin pergi"
"kenapa si selalu Yai yang diajakin ami Ray ?"
"pasti uangnya dibayarin sama Abi"
"kita minta mentahnya dong, Ummi"
"besok kalau sabtu kita jalan-jalan, Yai tinggalin aja"
"Ummi pilih kasih !"
"Abi nggak adil "
wah... aku nggak tahu lagi siapa yang ngomong. pokoknya tiga gadis itu pating celetuk, sementara aku masih ngasih ASI faiz.
"ya sudah, sekarang kita shalat maghrib dulu. nanti kita bicarakan dengan Abi. kirain Ummi juga gratis" aku menenangkan mereka.
Walhasil, kami semua shalat maghrib bersama. masih kulihat wajah cemberut ketiga gadis kecilku. Malah yang tadi mewek juga masih shalat sambil mewek. (duh duh duh...)
setelah shalat, dan salam salaman, aku mulai pembicaraan.
"Ta, memang bayar berapa fikri ke Dufan?"
"185rb. (185 rb? baru transport, belum uang jajan, belum uang bekal, dll )
"yang lain pada ngiri tuh...." kataku
kemudian Abi menatap anak gadisnya satu persatu. terakhir menatap fikri.
"Yae, kalau dibatalin yai kecewa nggak ?"
Fikri menggeleng, lemah.
"kasihan yae, saudaranya... mbak juga kan lagi UASBN. lagian mahal Yae, mendingan uangnya kita pake bayar SPP, atau daftar ulang, nggak papa Yae ?"
fikri menangguk. "nggak papa" katanya.
Kemudian si Abi meraih kepala fikri membelainya dan berkata :
"Nggak papa Yai bilang kecewa juga, sedih juga boleh, Abi ngerti kok. Tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk jalan-jalan. nanti aja kalau ada rejeki lebih kita jalan-jalan bareng  ya..."
fikri diam saja di pelukan Abi.
aku, bukan ngeliatin fikri. Aku lihat ketiga wajah anak gadisku. begitu Abi bilang "yai, kalau dibatalin Yai kecewa nggak?" wajah gadis gadis itu sudah cerah ceria, seperti pagi yang merekah. malah mata si Ayuk sudah berputar putar, bibirnya tersenyum.
Ya ampyuuuuuuuuuuuuuunnnnn...... mereka marahnya cuman segitu ???
(hufff,  bagaimana aku mendidik mereka ya, biar faham ADIL itu tidak berarti SAMA!!!)

 
Anak Empat pas lagi rukun

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Tinggalkan Kesan