Jumat, 16 Juli 2010

I Love Indonesia

 Gambar dari sini
 
Tanah airku Indonesia...
Negeri elok amat kucinta
Tanah tumpah darahku yang mulia
Kan ku puja sepanjang masa...
(Rayuan Pulau Kelapa)

Desaku yang kucinta, pujaan hatiku
Tempat ayah dan bunda, dan handai taulanku
Tak mudah kulupakan, tak mudah bercerai
Selaluku rindukan, desaku yang permai
(Desaku)

Tanah airku, tidak kulupakan
Kan kukenang, selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh, tidak kan hilang dari kalbu
Tanahku tak kulupakan, engkau kubanggakan
(Tanah air)


Dari yakinku teguh, cinta ikhlasku penuh
akan jasa usaha, pahlawanku yang baka
Indonesia merdeka
syukur aku panjatkan, ke hadiratmu, Tuhan
(syukur)


Beberapa lagu di atas, sering membuatku menitikkan air mata bila menyanyikannya. Lebay ya...
Enggak juga sih, itulah air mata yang menitik karena perasaan cinta yang mendalam. Dan sayangnya, aku tak bisa mengatakan pada Indonesia, karena dia bukanlah makhluk hidup yang bisa mendengar kata.

Bersyukur aku tumbuh dan hidup di tengah lingkungan yang begitu damai, desa yang permai, lengkap dengan sawah, ladang, sungai, yang berbatasan dengan gunung dan bukit, sekaligus berhadapan dengan laut selatan, yang pantainya dihiasi nyiur melambai, dan ombaknya berdebur debur mengerikan.

Bersyukur aku, lahir dari seorang ayah pecinta bumi, yang pekerjaannya menjaga selalu kelestarian hutan dan penghuninya, mereboisasi, berpatroli di hutan,  agar aman dari pencuri.
Dan tentu saja, Bersyukur pula, lahir dari seorang Ibu yang penuh cinta, memberikan kesempatan dan kepercayaan pada anaknya, dan melihatnya begitu kasih, bahkan pengemis yang setiap Pon mampir ke rumahku untuk sarapan, dengan menu khusus yang Ibu sediakan.
Bersyukur aku, berteman dengan petani, gembala, pedagang,  tukang becak, sopir angkot, tukang bakso, dan pengamen yang setiap Minggu mampir kerumah, untuk menyanyikan tembang kenangan dan mengobrol dengan ayah.

Bersyukur aku, berasal dari Jawa, bersuamikan orang Sumatera, yang melengkapi keIndonesiaanku, dan membuatku melihat jajaran pulau-pulau  di Nusantara ini. Melihat luasnya samudera, mabok laut karena goncangannya.  Dan betapa bebasnya angkasa kita.

Bersyukur aku, pernah menemui konflik SARA di NTT dulu. Dan tahu pasti, bahwa seseorang yang berkeyakinan berbeda dengan kita, tidak lantas berbeda cita dengan kita. dan sebaliknya tentu saja. Belum tentu yang sama, lantas punya cita yang sama pula.

Bersyukur aku melihat dari dekat referendum, proses berpisahnya Timor Leste. Melihat akibatnya, melihat para pengungsi bagai tuna wisma di tengah kota, atau dalam bedeng bedeng mereka di pinggir kota, (bagaimana yang di Atambua ya..), melihat teman pegawai yang harus pindah kerja, berbicara dengan mereka yang musti meninggalkan tempat kelahirannya, dan mendengar langsung suara pesawat pesawat tempur yang bolak balik mendarat di Bandara Penfui selama proses itu, sambil berdebar-debar, dan berdoa, janganlah suara menggemuruh itu  diikuti ledakan.

Bersyukur aku, mendapatkan pencerahan, dari para mentorku pas di STAN dulu, bahwa ternyata, tanah air yang kucinta itu, sesungguhnya tidak terbatas Nusantara saja.Yang tentu saja, akan aku ingat selalu bagaimana para pendahuluku memperjuangkannya sehingga bisa merdeka.
Tanah airku adalah begitu luasnya, dimanapun di bumi Allah ini, dimana berpijak umat Islam, itulah tanah air yang harus kucinta dan kubela.
Kini di bumi, ini, tempat aku tumbuh, kuberusaha berbuat yang aku mampu.

Sungguh aku cinta Indonesia ini. Dengan segenap rasa dan pembuktian yang aku bisa lakukan.
- Kuperbaiki diriku selalu, dengan amal yang didahului ilmu, agar hari ini lebih baik dari hari kemarin
- Kuperbaiki keluargaku, kudidik anak-anakku, dan  kuberusaha semampuku mengajak orang orang disekitarku.
- Kudambakan masyarakat yang baik, yang bisa memilih kebaikan buat mereka dan membuang semua keburukan. (Ngeri ya.. membaca Indonesia negara ke-4 penggemar situr porno, malu, Indonesia termasuk jajaran negeri korup.)
- Kumemilih Wakil ku dan pemimpinku yang kukenal dengan amat, atau yang dikenal oleh orang yang kupercaya bahwa dia bakal amanah (insya Allah), dan aku berusaha tidak mencaci maki mereka karena kesalahannya, karena aku tahu, kalau aku yang disana pasti lebih buruk dari dia.

Sungguh aku cinta Indonesia ini, dengan segala kelebihannya, dan berharap tapak dan tangan kecilku, bisa mengurangi kekurangannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Tinggalkan Kesan