Rabu, 11 Agustus 2010

Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

*curhat dulu
Apa yang akan aku tulis ini sangat sangat subyektif,dan sayangnya aku sadar dari mulai huruf pertama kau eja.
apakah kau ingin tahu alasannya?
baiklah aku akan menuliskannya untukmu.

Pada suatu waktu, pada suatu tempat, aku merasakan sesuatu yang entah, terhadap seseorang.
Dalam nyamanku bersamanya, kuungkapkan semua perasaan2ku, pikiran2ku, keinginan2ku, bahkan mimpi mimpi konyolku padanya.
dan dia berkata "titi, kamu jatuh cinta".

Pernahkah kamu mencinta -kalau benar itu cinta- dengan kesadaran penuh, bahwa cinta itu tiada ujung selain perpisahan? hopeless love !

dan di suatu senja yang muram, ketika anginpun bertiup enggan, dalam perjalanan pulangku, kulihat selembar daun terbang dari rantingnya, melewati mukaku, dan akhirnya jatuh dekat kakiku.
aku merasa, itulah kiranya nasib cintaku.
sempurna nelangsa.

aku menulis :
sehelai daun berbisik pada ranting tempatnya bergantung,
setelah sekian waktu bersama
setelah sepanjang waktu itu berbagi makna
'selalu ada yang perih,
setiap kuingat saat perpisahan'
rantingpun memikirkan kata pelepasan


*masih selalu pengen nangis setiap lewat tempat itu dan atau membaca puisi itu

*baru cerita buku
Tapi buat para pecinta sejati, tak pernah peduli apa nasib cintanya. Karena cinta itu memberi energi, energi untuk selalu memberi.
Sebagaimana tania, meski perih hati menahan cinta yang tak pernah sanggup ia ungkapkan dan tak pernah mendapat jawaban,
tapi dia tetap menjalani hidupnya, meneruskan kehidupannya,
dapat melanjutkan studi dengan hasil yang sangat bagus. sangat sangat bagus malahan.
meski membaca buku ini, berderai derai air mataku, tapi yang membuatku mencintai buku ini, adalah, karena tere dengan telak menuliskan segala perasaanku yang aku sendiri tak dapat melukiskannya.

terima kasih tere (bukan karena tanda tanganmu aja aku semangat baca buku ini)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Tinggalkan Kesan