Minggu, 08 Agustus 2010

Meet and Greet with Tere Liye :)

Pernahkah engkau kagum pada seorang penulis, engkau membaca buku bukunya, engkau mereview buku buku itu, engkau berteman dengannya di dunia maya, dan tiba tiba engkau bertemu dengannya ? apa perasaanmu ?

Tak terbayangkan !!

Ceritanya begini, aku adalah penggemar berat (seberat apa ?) Tere Liye. Sejak aku membaca Hafalan shalat delisa, aku selalu membaca buku bukunya. Belakangan, aku baru tahu, sebelum menjelma menjadi Tere, ternyata ada bebarapa buku yang di tulisnya. seperti si Gogon, si MImpi mimpi patah hati, cintaku antara kuala lumpur dan jakarta, dan buku buku itu udah nggak ada di pasaran atau susah nyarinya.
Suatu hari secara tidak sengaja aku menemukan toko buku onlen yang menjual buku buku itu.
Aku pesan via sms ke nomor yang ada di sana.
Pas ditanya alamat, aku smskan lah alamatku.
Eh, ada balasan "Kami per 1 Agustus pindah ke Bandung lho... bagaimana kalau diambil aja, kan hemat ongkir 6rb"
"Baiklah" kataku. 6rb mungkin nggak seberapa, tapi begitu menghitung buku, itu sama dengan 1 buku anakku yg TK, atau sepertiga KKPK.
Kemudian aku dapat alamat yang dekaaaat banget dengan alamat kantorku. Semangat dong.
"Bisa diambil jam 5, tapi jangan lewat maghrib"
waaaaaaawwww... jam lima kan aku baru keluar kantor, udah gitu di Bandung beberapa hari terakhir ini hujan mulu. Tapi baiklah, demi si Gogon dan Mimpi MImpi Patah hati yang nggak ada di pasaran.

Tapi ketika sore menjelang, aku bingung antara pulang ke rumah atau mengambil buku. Dan tentu saja rumah lebih berat buatku.  Mana mendung pula.
"maafkan, titi tidak jadi mengambil buku hari ini, karena disini mendung, takut hujan"
Padahal lebih takut kemaghriban di jalan.

Besoknya, hari kamis, aku sms lagi, "Bolehkan dijadwalkan siang ?" aku mencoba hati hati bertanya.
Balasannya "Boleh, nggak lama kan ? Cuma ambil buku"
"Enggaklah....kan istirahat kantor juga cuma sampai jam satu" jawabku defensif.

Ih, aku curiga, siapa sih dia ini, kok gitu ya sama customer.
Pas aku cerita dari awal proses pesan buku ini sama sohibku si Mamak Ephraim, dia bilang, "itu si Tere kalee...."
Benarkah ? langsung tuing tuing di kepalaku.

Jumat pagi belum ada balasan.
Langsung aku sms lagi, "Bisakah hari ini jam 13?"
Dag dig dug aku  menunggu jawaban.
Sampai jam dua belas gada jawaban, aku cabut ke MIM, nemenin mamak Ephraim belanja. eh, tiba tiba jam 12.39 ada jawaban
"Boleh".
Aku bingung
Mamak Ephraim bilang "Cepat sana, dia kan sibuk. kamu bisa cari acara lain kali"
Aduh... baiknya temanku ini. Betapa mengertinya dia. (kayaknya dia lebih pengen ketemu
deh...

Daaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan.... dengan naik ojeg, keliling keliling di komplek itu, nanya satpam, akhirnya ketemu deh alamatnya.
"Assalamu'alaikum...." sapaku pada seseorang yang sedang berjongkok dekat kran, menunggu air dengan dua ember di dekatnya. Dan jemuran popok popok bayi di atas kepalanya.
"Siapa nih...." orang itu tegak. Dan wajah senyum itu..
"Titi " jawabku
"Masuk Ti, kenalkan, inilah Tere liye, Darwis."

Gubrak, untung gak jatuh, akupun akhirnya pulang dengan 3 buku bertanda tangan Tere.
TEngkyuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu Tere...
Dan sesuai pesan Mamak Eprhraim, salah satu buku itu bertuliskan :
u/ titi.
tertanda
tere liye

P.S. Fakta :
- aku menghemat ongkir 6rb dan memboroskan ongkos ojeg 22rb
-
Hahaha... masih berasa ngimpi. Sebenarnya seberapa penting sih, ketemu orang penting ini
- Tukang ojeg heran banget, aku ngorbanin ongkos ojeg segitu "cuma" untuk ngambil buku.
- aku senyum senyum sendiri sepanjang jalan pulang. nyesel nggak permisi boleh nggak kesono lagi, karena tadi dia bilang pindah kota lagi sembunyi, nemenin istri yang punya cute baby 2 bulan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Tinggalkan Kesan