Selasa, 28 September 2010

Curhat Tita : Back in Bandung



it's was amazing !!
asli.
buku (dan komik pula) berbahasa asing yang pertama kubaca sejak sekian tahun lalu aku belajar bahasa Inggris.

Buku yang awalnya berupa curhat Tita Larasati di blog-nya, kini dibukukan. Bener memang, ya, sensasi membaca komik itu pas ketika kita megang bukunya dan membalik lembaran lembarannya.

Tita menceritakan tentang perasaannya kembali (lagi) ke kota Bandung, setelah dia tinggalkan selama sepuluh tahun kuliah di Belanda.
Asyik meski bacanya sambil mikir dan sambil mantengin, ini huruf/tulisan apa sih..karena dalam komiknya Tita menuliskan semua pake tulisan tangan.
Detail, menggambarkan segala sesuatunya, misal sampai bekas gigitan nyamuk (bab flash back) menu makanan (jalan sutra, thursday,an eventfull weekend, dagopakar trip)
Lucu, sampai ngakak pas baca dia dimarahin satpam gara gara lewat boulevard (Bike ITB), gambaran dia tentang jalanan ITB yg dipenuhi kotoran burung dan sampah sisa makanan burung (BIrd ITB), dia dan cicak sampai beberapa kali (kejatuhan cicak, menginjak cicak) dan tentu saja pas anaknya -Lindri - berkalung sarung ke sekolah dan main cad-dog dengan kakaknya -Dhanu- pake sarung. (Mad About Sarung)
Kagum sama tulisannya tentang Indonesia dan My adopted Home.
pokoknya amazing lah, jadi pengen baca yang buku ke satunya

Hang !!

1. 17.50 :
Suara adzan berkumandang.
Ummi : Kalian dengar suara itu ?
F2 :dengar Umi
F3 : cuek, masih baca buku
F4 : diam diam masuk kamar mandi
F1 : masih memperagakan gerakan pencak silat sambil mengaca di jendela
F5 : asyik main pecahan rubic

2. 17:51
Ummi  beranjak ke kamar mandi
F1 : Masih memperagakan gerakan pencak silat, ke arah berbeda
F2 : ke kamar mandi, wudhu kemudian menggelar karpet
F3 : menyusul F2 wudhu, kemudian mengambil mukena
F4 : udah wudhu, pelan pelan mengenakan mukena
F5 : masih asyik bermain pecahan rubic

3. 17:52
Ummi keluar dari kamar mandi
F1 : sudah wudhu kemudian mengambil mukena, kemudian menyeret sajadah yang sudah terpasang
F2 : "Ummi.... aku lagi nggelar karpet, malah karpetnya ditendang tendang sama Ayuk"
F3 : "ummi... mukenaku dibuang sama Yai"
F4 : bengong liatin kakak kakaknya
F5 : Nyadar, umminya mau shalat "ummiiiiiiiiiiiiiiiiii... nenen, miii, nen uyu" (nen dulu) membuntuti ummi

4. 17:53:00
Ummi menggendong F5, membujuk, mengalihkan perhatian F5 (pura pura tidak melihat keributan F1-F3)
"Faiz, ummi pinjam sajadah roketnya ya..."
F5 : Nen uyu, nen uyu... (tidak menjawab pertanyaan, dan tidak teralihkan perhatiannya)
F4 : pelan pelan pake mukena
F2 : ganti melempar sarung F1
F3 : ketawa ketawa berlompatan
F1 : mengejar F2 sambil melempar sajadah yang sudah disiapkan oleh F2

5. 17:53:30
Ummi : masih membujuk F5, agar minum asi-nya  setelah shalat maghrib.
F5 : mulai menangis, menarik narik baju Ummi, "Mi... nen uyu... nen uyu..."
F1:F2:F3 : (bersama-sama) "Umiiiiiiiiiiiiii....... (titik titik diisi nama 'musuh' mereka) nakalllll !!!
Karpetnya berantakan lagi !
Mukenaku disumputin !
Sarungku terbang !
(terdengar bunyi bunyi ketawa pelan )
F4 : diem aja liat keributan, belum selesai juga pake mukenanya.

6. 17:53:45
Ummi : mulai gemes ke anak tiga terbesar, hopeless juga karena tidak berhasil membujuk F5
menggendong F5 lalu keluar kamar
berteriak : "kalian juga sih, kalau nggak mau dapat balasan jangan mulai menjahili orang"
F1-F3 : serempak diam, anteng, dan bersiap shalat
F 4 : baru selesai pake mukena kemudian shalat juga
F5 : diam (karena digendong) tangannya masih mencari cari apa yang dibalik daster ummi

7. 17:53:46
Ummi : terkapar di tempat tidur, sambil ngasih nen Faiz, tiba tiba merasa benar - benar lelah. Nggak berhasil shalat tepat waktu, nggak berhasil menahan kesabaran, nggak berhasil membujuk anak bayi.
memejamkan mata sambil mengusap usap kepala Faiz.

1-7 : F-0 (Abi) : lagi flu berat, masih tetap tidur (pura pura tidur ?) di bawah selimut yang menutup seluruh tubuhnya.seolah tidak ada kejadian apapun

Senin, 27 September 2010

Kenangan lebaran lewat hp

Seperti diceritakan dalam postingan sebelumnya, inilah gambar gambar yang sempat terekam di hape mbak fathimah.


Faiz mau berangkat shalat Ied.jpg
  

faiz dipangku ummi, nungguin Abi pulang Jumatan.jpg
  

nyobain kursi baru.jpg
  

nyobain kursi baru, ternyata enak ya...jpg
  

tiga cowok ganteng.jpg
  

ummi dan ayuk.jpg
  

ummi dan mbak.jpg
  

ummi, fathimah dan fadhila.jpg
  

hansaplas pertama, dipukul adik sepupunya.jpg
  

hihi, ada spongebob di perutku.jpg
  

Kesibukan Senin Pagi




Hari Senin pagi, alarm berteriak pukul 3.30. Aku bangun dan mematikan 

Aku tidur lagi.

Suara adzan berkumandang, mataku terbuka, aku ingat harus bangun segera. Meski berat karena si Abi masih menggenggam tanganku dalam tidurnya. 
Tapi aku tetap bangun, setelah sebelumnya membisikkan kata kata pamit mau bangun ke Abi yang tidur tidur ayam.

Aku bangun shalat subuh, Fikri menyusul keluar dari kamarnya dan shalat di belakangku. Anak ini memang jadwalnya sudah teratur.

Habis shalat aku ke warung sama Fikri. Oya aku belanja Senin pagi, karena Sabtu-Minggu aku justru jarang masak, banyakan main sama anak-anak. (alasan yah, padahal ajak aja anak-anak main main dengan masakan kita).

Di warung. Panik !.  Ibu Atang nggak punya nugget ayam. Ada nugget sapi tapi merk nya belum pernah dengar.  Hmmm.. Putar otak. Putar otak. Belanja dululah pokoknya. Tiga lauk dan tiga sayur sampai Rabu.
Jam 05.15 udah kelar dan pulang. Paaas banget Faiz bangun dan teriak "Mi.... Itut......"
Aku buru buru buka kerudung dan nyamperin Faiz, berkata pelan, seolah nggak dari mana-mana :
"Ikut kemana, Faiz? Ini Ummi. Faiz mau ikut ke kamar mandi?"
"Ndak" katanya
"Mau ikut bangun?
"Ndak "
"mau ikut mbangunin mbak?"
"Iya" katanya.
Setelah membangunkan para tuan putri, Faiz dan aku ke dapur.

Sukur alhamdulillah, Faiz tenang banget. Duduk di bangkunya sambil main rubic snake punya kakaknya. Kemudian pas Ayuk dan Teteh mengisi torn air ke atas, Faiz ikut ke atas.
Sementara Fikri dan Mbak mengerjakan tugasnya menyapu di bawah.
Aku pun kemudian menemukan menu hari ini.
Sarapan : Nasi Goreng campur campur
Makan siang : Sayur Bayam, telor mata sapi yang diceplok pake cetakan Love, dan Tempe Goreng.
Masakan siap !!!
Makan malam ? (ntar deh, kebayang sih, tumis jamur + sosis dan tempe mendoan)

Eh kemana Abi ? Abi membersihkan motor dan kemudian mandi.

Sukur alhamdulillah berikutnya, Mbak Fathimah yang libur hari ini, berinisiatif memandikan Faiz.
Faiz pun seneng seneng aja dimandiin mbak, malah lebih senang kali yak, nggak diburu buru dan ember mandinya penuh mainan plastik 

Akupun berhasil berangkat tepat waktu.
Eh, ternyata makan siang Fikri nggak kebawa sama Ayuk, akhirnya kurelakan makan siangku ditinggalin di sekolahan buat Fikri, dan Ayuk dengan rela menerima 'hukuman' makan pake tangan, karena aku minta dia minjemin sendoknya ke Fikri. Makan siangku kan tanpa sendok. hehe
Lagian aku juga baru inget, hari ini Sondang yang mau nraktir hokben, katanyaah...

Terima kasih Allah, hari Senin pagi yang indah

Minggu, 26 September 2010

Kenangan Lebaran 5

Hari terakhir di Lampung.

Ternyata sampai hari ini udah bener bener nggak bisa keluar buat jalan bareng. Anak anak juga maklum kayaknya. Semalem 3 anak terbesar nginep di rumah kakak kedua. Sampai jam 10-an baru datang.

Abi mencari kesibukan dengan membereskan tumpukan buku di lantai atas. Aku bersyukur menemukan buku lain yang bisa kubaca. Ada buku BPS tentang Lampung dalam angka. Tapi sayang udah lewat tahun jadi nama nama Kota dan Kabupaten sudah banyak perubahan. Waktu itu di Lampung cuma ada 5 kabupaten dengan gubernur masih Pudjono Prajoto (hihi hafal yaks, iya sih, soalnya si pak Pudjo ini dulu bupati Cilacap).
Sedangkan sekarang udah 10 kota dan kabupaten.
Ada juga buku buku lama yang masih dengan ejaan lama.
Ada buku tentang Bupati Sumedang, Pangeran Cornel - aku pengen baca.
Ada Nagasasra Sabuk Inten yang bukan komik
Ada buku kumpulan cerpen STA
Ada buku karangan pengarang Belanda
Ada buku buku yang mirip buku perpustakaan SD-ku dulu, yaitu buku2 terbitan Balai Pustaka.
Pesta deh, kalau saja masih lama di sini.
Tapi nggak papa lah, berharap aja jangan dibuang. Soalnya pernah pas kita pulang masih liat Majalah Intisari tahun 60-an dan 70-an (bayangkan !!) pas kita pulang lagi, sudah raib semuanya. Aduuuh, sayangnyaaa......
Si Abi juga kehilangan "Deni si Manusia Ikan"nya. Untung bbrp Lebaran lalu kami sempat 'menyelamatkan'  Little House in the Prairire ke Bandung.
Senengnya baca novel/buku buku lama di rumah Eyang ini adalah, kelihatan bahwa buku itu dibaca pada masanya. Banyak buku yang digaris bawah di kata kata sulit/asing, kemudian di sisi paragrafnya ditulis artinya. Tulisan siapa entah, rapi banget,pake pensil.

Tambah bersyukur lagi, kami bener bener nggak perlu pergi, karena kemudian Kakak Pertama mengantar oleh oleh keripik pisang satu kantong besar. Lengkap dengan Kakak Kedua yang membawa satu kardus full keripik ubi-ubian dan kakak ketiga membawakan kerupuk.
Aku cuma membeli mpek mpek dekat rumah, yang menurutku juga udah jauuuuuuuhhhh lebih enak dari mpek mpek di Bandung.

Sore ini kami bertolak ke Bandung, dengan seribu satu kenangan yang tidak tergambarkan (karena kamera ketinggalan). Makanya aku paksain menuliskannya, meski ternyata masih banyak juga yang bececeran. ya sudahlah, dari pada nggak ada sama sekali.

Kenangan Lebaran 4

Hari ketujuh

Hari ini adikku udah mulai ngantor. Tadinya hari ini mau ngajak anak anak jalan jalan. Minimal makan bareng di luar lah, atau nonton.
Mau nonton pas lihat judul film, gak ada yang asyik. Ada Sang Pencerah kayaknya terlalu serius buat anak anak yang kecil, mau nonton apa tuh, merah putih 2, si Abi nggak tertarik.
Ternyata, acara keluarpun bener bener nggak jadi, karena adik kesatu udah mulai kerja, dan adik bungsu jalan jalan sekeluarga. Klo kami pergi, berarti Eyang di rumah sendiri.

Aku menyelesaikan cucian dan setrikaan yang sempat tertunda karena si Danielle Steel, anak anak asyik nonton TV. Heran juga nih, para keponakan, biasanya pada maen lama lama. Tiap hari ada aja, ini mah sepi sepi ajah.
Pas setrika sedikit heran, kenapa sarung Eyang yang kucuci kemaren belum disetrika sama adikku, akhirnya aku setrika dan kumasukkin kamar Eyang.

Tanggal 15 September, anak pertama adik bungsu -si Kakak Faris- ulang tahun. Kami semua mau diajak jalan ke Laut. Tadinya aku dan Faiz nggak akan ikut karena mau nemenin Eyang. Si istri adik bungsu juga nggak ikut, karena semalem si Kakak Faris ini gak sengaja membuat jari jari adiknya -de Restu- yang mukul Faiz itu - kejepit pintu. Kasian juga, sampai tiga jari tengahnya luka. Yang paling parah ya jari tengah, luka terbuka dan sekaligus luka memar kejepit pintu.

Eh, Faiz dong, melihat kakak kakaknya sibuk, menyiapkan perbekalan baju ganti, makanan, dengan masing masing tas di punggung mereka, Faiz juga ikut sibuk.
"Itut ... itut.... itut..."
"Ikut kemana ? Ummi di sini kok, nggak kemana mana." kataku
"Itut edi, obil " (ikut pergi naik mobil)
Haha, ternyata udah gak bisa di tipu.
Eyang pun jatuh kasian  liat Faiz merengek rengek gitu.
"Ajak aja sih..." kata Eyang
"Takut masuk angin, Yang." kataku ngeles. Padahal kan aku mau nungguin Eyang
"Pakein jaket aja" kata Eyang.
Aku bersitatap sama Abi. Abi mengangguk. Akhirnya aku dan Faiz ikut ke laut. Eyang sama adik bungsuku.

Di laut anak anak yang besar langsung on. Ini kali kedua mereka ke pantai pasir putih ini.
Faiz ini kali pertama ke laut. Sama Abi diajak turun ke air. Pertama takut takut. Eh, lama lama nggak mau naik sama persis dengan kakak kakaknya. Nggak berasa sudah tengah hari dan waktunya pulang.

Malemnya ke rumah kakak pertama. Musti mampir lah. Walaupun sudah ketemu di rumah Eyang, tapi ternyata buat kakak-kakak, datang ke rumah lain artinya. Ya sudah deh, turutkan sajaaaa..

Kenangan Lebaran 3

Hari Ke-4, ke-5 dan ke-6 di Lampung

Lebaran kedua ini kami di rumah saja. Biasanya Lebaran kedua ke Metro. Aku juga udah ngarep, soalnya mau pake tas baru hadiah tea :P
Anak anak juga udah ngarep, mereka mau pake baju baru juga. hahaha...
Bukannya mau silaturrahimnya yaks...
Sebenernya aku senaaaaaanggg sekali mengunjungi Pak Lik di Metro itu. Suasana pedesaannya mengingatkanku akan kampung halaman. Sepanjang jalan di Metro akan nampak sawah yang luas terbentang bagai tak ada ujung, Irigasi yang mengalir lancar, kadangkala nampak kerbau, sapi atau kambing di sana. Sesekali rombongan bebek melintas. Terus di rumah Pak Lik itu, suasanya pedesaannya juga kental, rumah rumah berhalaman luas, halaman antar rumah masih nyambung, gerbang depan tanpa pintu tertutup, dan lebih sempurna lagi dengan bahasa Jawa yang mendominasi. Mungkin itu dulunya perkampungan transmigran.

Walaupun sebenarnya, di rumah pun aku sudah cukup disibukkan dengan pekerjaan wajibku di sini. Yaitu mencuci dan kemudian menyeterika baju kami bertujuh. Menurutku itu sudah cukup menyita waktu bermainku dengan Faiz. Hehe..
Tentunya diselingi membantu adikku memasak di dapur yah, mencuci piring dan peralatan memasak, -karena aku nggak berani masak di sono- dan membersihkan meja makan dan menatanya kembali di pagi hari sebelum jam 6, siang sebelum jam 11, dan sore hari pada jam 5-an untuk menata makan malam.

Anak anak selain Faiz? Jangan tanya, mereka bahkan ingat Ummi cuma malam hari saja ketika tidak berani  tidur beranjak tidur sebelum Ummi masuk kamar. Secara kamarnya di atas, dari lantai atas yang luas itu, cuma kamar kami yang ditinggali, jadi sepi kali yak.

Anak anak asyik dengan TV, sepupu yang datang silih berganti dan tentu saja, -teknologi- yakni tuker tukeran hape, dan tuker tukeran file lewat blutut. duh, anak sekarang...


Alhamdulillah ditengah kebosanan ini, kami -aku dan suami- menemukan tiga novel Danielle Steel di laci meja kamar. Syukurlah syukurlah syukurlah. Paling tidak tiga hari ini bakal ada hiburan, apapun yang terjadi. Meski gak bisa pergi pergi karena klo kami pergi Eyang pasti sendirian di rumah, dan klo kami pergi juga, males naik angkot,sedangkan nyari taksi juga susah. 


Hari Sabtu pagi Eyang minta Abi mengecek dokter udah praktek belum, tapi hari minggu aku baru ingat permintaan Eyang ini, kata Abi, biar saja, pasti masih liburlaaah.
Hari Sabtu malem ke rumah kakak pertama, tapi kakak pertama lagi di kakak kedua, jadi kami langsung meluncur ke rumah kakak kedua.


Hari minggu Faiz dipukul sepupunya yang baru berumur 18 bulan, tapi sampai berdarah di jidatnya. (sampai hari ini bekasnya masih ada).
Lukanya cukup lebar, adalah sekitar diameter setengah cm.  Karena darahnya ngucur, maka kutempel hansaplas. Untung Mama si sepupu punya betadin anak-anak, akhirnya Faiz mau ditempelin itu sambil ngaca.
Hari minggu itu juga, ke rumah adik kedua di Sukarame, Faiz gak mau duduk diem, maunya jalan jalan lihat mobil ke pinggir jalan raya.

Hari Senin, akhirnya Eyang diantar ke RS Immanuel. Sekalian nganterin anak anak Om Iyen ke RS juga. Sampai lewat makan siang baru pada pulang. Eyang sudah lumayan baik. Rupanya asam uratnya naik. (merasa bersalah mode on, dipesenin adik spy nyumputin emping tapi suka lupa)
Eyang dapat suntikan obat, entah apa, tapi akan membuat Eyang bolak balik ke kamar mandi. Eyang disarankan pake diapers bbrp hari ini.
Siang eyang manggil Abi buat masangin kunci diapers. Sore aku sempat mencuci sarung dan pakaian Eyang yang kena air seni.
Senin malam diajak keluarga Adik Bungsu ke Gubug Mas tapi rrruame banget, sampai gak dapat tempat. Trus akhirnya pindah ke yang lain, rumah makan apa yah, aku lupa, ada tiruan kapal diatas balong (padahal itu mess karyawan), trus naik sampan gratis di balong itu, tapi gak makan, cuma minum juice doang dan makan sate ayam yang asliiii enak sekali.

Sementara Abi sama Eyang di rumah berdua.

Tapi secara umum, Danielle Steel yang menutupi semua bolong bolong waktu di sela sela itu :D


faiz dengan tempelan di jidat, untung ada hape si mbak yang mengabadikan.


Kenangan Lebaran 2

Hari ke Tiga di Lampung

Alhamdulillah, bangun pagi Lebaran, anak-anak gak ada yang rungsing.
Kebayang kan, antrian mandinya, ada tiga keluarga di rumah Eyang, keluargaku, dua keluarga adikku dan Eyang sendiri.
Klo Eyang punya kamar mandi pribadi.
Dua kamar mandi sisanya untuk 7 anggota keluargaku, 4 keluarga adik bungsu, dan sepasang adikku dan suaminya.
Tapi alhamdulillah semuanya lancar, lagian masjid cuma di seberang, jadi nggak buru buru amat.

Pagi tadi sudah siap siap memotong ketupat (-ternyata ini jadi tugas aku selama lebaran-setiap ketupat habis, aku yg diminta motong motong)
Anak-anak sudah sarapan dengan menu lebaran, aku juga melihat bekas sarapan Eyang di meja makan, eh, ternyata pas kita mau berangkat shalat, Eyang masih tiduran.
Si Abi menemui Eyang di kamar, katanya Eyang sakit.
(Perasaan pagi tadi masih shubuh di masjid deeeeh....)
Ya sudahlah, akhirnya kita tinggalkan Eyang di rumah sendirian.

Pas shalat Ied, alhamdulillah Faiz gak rewel, tapiiii.. malahan yang rewel kakak kakaknya, berebut di samping Ummi. Padahal kan sisi umi cuma ada dua, kanan dan kiri, sedangkan anak gedenya ada tiga, Mbak, Ayuk dan Teteh.
Grhhhhh......

Sepulang shalat, salam salaman, Eyang udah nungguin di depan, tapi enggak pake baju baru. Biasanya Eyang pake baju baru. Kami semua salam salaman sama Eyang, baru kemudian keluargaku juga salam salaman sendiri.
Ritual berikutnya seusai shalat Ied, adalah ziyarah ke makam Ibu. Semua kakak dan adik kumpul. Abi delapan bersaudara.
Tapi kali ini sepertinya ada yang berbeda, itu kumpulnya nggak bareng. Jadi udah hampir jam 11 baru ke makam, dekat aja sih, memang, tapi nggak nyaman aja.
Biasanya adik membeli bunga tabur, tahun ini juga tidak ada bunga tabur.
Ke makam kita cuma berdoa pendek, membersihkan ala  kadarnya dan kemudian pulang karena yang bapak bapak mau shalat Jumat.

Trus sampai mereka pulang siang itu, juga tidak ada pembicaraan untuk nengok adik Ayah di Metro.
Aku cuma berani nanya ke Abi, kok nggak ada pembicaraan mau ke Metro sih ?
Aneh deh, Bi. Abi cuma nyengir.

Ini ada foto foto dikit, dari kamera hape si Mbak.


tiga cowok ganteng

Jumat, 24 September 2010

Kenangan Lebaran 1

Libur Lebaran kali ini rasa rasanya berbeda sekali. Sebelum berangkat sih seneng banget, Sore itu tanggal 7 sore dapat kiriman hadiah dari pasar pelangi karena menangin sayembara ini.
(horreeee... berhasil bikin link )
Makasih yah, Pasar Pelangi, saking senengnya, sampai - sampai itu tas aku langsung bawa ke Lampung, kumasukin aja ke tas mana aja yang masih muat. secara kan semua udah di packing-packing. Kupikir mau kupamerin pas Lebaran kedua, biasanya kami silatruahim keluarga besar ke Metro.
Trus sore itu aku dapat kiriman THR yang lumayanlaaaah.... 
Kami pun berangkatlah..
"Rasa beda" dimulai setelah buka puasa, Tiba tiba si Abi baru inget bahwa tas kecilnya ketinggalan.
Aku nggak ngeh, karena Abi dah ngeluarin tiket, biasanya tiket bus itu ada di dalam tas. Yah.. gak bakalan sempat lagi, mau sengebut apapun dari Stasiun Hall ke Ujungberung untuk ngambil tas. Isi tas itu adalah uang baru untuk THR keponakan-keponakan, uang Abi juga, obat-obatan, dan tentu saja kamera !!! Masih untung hape dan tiket dikantongin, yah..

Sepanjang perjalanan, alhamdulillah terbilang lancar deh, cuma pas di Merak aja, nunggu 3 jam buat nyebrang.  Tapi anak-anak malah jadi seneng, karena sempat lihat matahari terbit dari atas ferry. Aku sih nggak ikut keluar bis, karena biasanya mual klo di atas. (belum berani nyobain lagi, padahal terakhir mabuk laut akhir tahun 2001)

Nyampe Lampung masih pagi, sekitar jam 8-an. Syukur juga masih inget, bahwa ayukku yang pertama masih ngantor di KPPN Lampung, siapa tahu masih bisa nuker uang buat THR anak-anak dan keponakan (ini ritual wajib di rumah Eyang). Akan diusahakan, kata Mama (panggilan buat Ayuk). Semoga deh.... gak lucu kan, ngasih THR minta kembalian.

As usual, ritual wajib lainnya adalah mempersiapkan masakan lebaran.
Hari pertama di lampung, pagi aku masih sempat tidur tiduran ngelurusin punggung.
Agak siang, aku bantuin Mama bikin risoles dari Mi. (kapan kapan aku kasih tau caranya).
Sorenya aku yang kebagian nggoreng. Hihi..kata mama gorenganku putih tua, alias gosong.
Yah, gpp lah... masih gak pait kok kalau dimakan. aku gak PD aja, klo liat tepung roti masih terang benderang (ngeles...)
Malemnya, aku menggoreng kentang buat sambal goreng, tapi di bawah pengawasan supervisor, yaitu adik iparku. Yah si Kakak pertama dan adik pertama ini yang nurun kepinteran mertuaku memasak.
Alhamdulillah gorengan kentangku gak dikomplen.

Hari kedua di Lampung alias hari terakhir puasa mulai deh itu mengisi ketupat, mempersiapkan kuah kari ayam.  Pagi pagi dah kebagian meres santan, trus memisahkan antara santan kental dan santan encer.
Aku diorder untuk mengaduk si kuah agar tidak pecah. Ah... lumayan pegel juga ya..
entah berapa kg ayam dan entah panci berapa liter tuh, yang dipake masak. Dikau bayangkan aja untuk pasangan 100 ketupat. (yang ini aku bisa ngitung).
Tapi jadi dapet ilmunya - padahal taun kemaren aku jg yang ngaduk yah...
Sementara adikku mengisi ketupat, merebusnya dan Mama memasak rendang dll.
Dan dengan sukses, sore itu aku menggoreng bakwan alias bala bala untuk buka puasa, trus abis maghrib udah bisa ngicip ngicip itu ketupat, kari dan rendang lengkap dengan sambalnya.
 
Malamnya Faiz dah gak bisa tidur karena bunyi dar dor suara kembang api. kami kebagian tidur di atas. Klo dari atas, suara kembang api terdengar jelas, klo dari bawah, suaranya kesaru sama suara kendaraan.
Jadi setiap Faiz di ajak ke kamar, lalu dengar kembang api, maka dia nangis, "yun aja, yun aja" (turun aja, turun aja). Sampai pegel juga nih kaki, naek turun.

(Wah ni postingan kayaknya bakal panjang banget yah.. kupotong aja deh, takutnya pas di save- internet tiba tiba mati. capekdeh...)

Rabu, 22 September 2010

Faiz Peduli

Hihi kayak judul program tivi atau slogan partai politik  yah..

Selasa kemaren aku bekam, sorenya habis maghrib aku duduk duduk sama Faiz di dekat tempat buku favoritnya. Iseng - iseng aku tunjukin bekas bekam yang di kakiku, empat jari di atas mata kaki. katanya sih titik kesuburan. (aku sejak menyusui belum haid, makanya disarankan bekam di daerah itu)

Bekas bekam itu warnanya merah, titik titik darah yang mengering seperti luka gitu. Memang luka ya, karena ditusuk pake lancet.
"Ais, ini sakit nih..."
Faiz langsung komentar
"Yuk, obat yuk. amal..." (Yuk diobatin yuk, ke kamar)
Aku nurutin dia ke kamar.
Dia ambil minyak but but
"Oyong, ta, Mi.." (Tolong buka, Ummi...)
Kemudian dia oleskan si minyak butbut itu ke bekas luka bekamku.

Duh senengnya... alhamdulillah, Faiz udah makin pinter.



Senin, 06 September 2010

Bibi Titi yang (nggak) Teliti

Hmmmm....... (menghela napas dulu).
Bagaimana caranya menjadi orang teliti ya..

Kamis lalu, diminta ibu PKK RW untuk menyediakan makanan tambahan buat anak-anak balita di posyandu. Jumlah yang dibutuhkan 50 bungkus. Semangat dooog... Aku kan kader PKK baru di RT, menggantikan ibu ibu sepuh yang udah sibuk dengan cucu dan berbagai penyakit khas lansia lain.

Salah satu konten dari bingkisan itu adalah susu. Aku pergi ke grosir dekat rumah untuk membeli susu sebanyak 60 kemasan. Jatah 10 kemasan buat para F yang pastinya akan membantuku membungkus bungkus nanti.
Santai aja aku bayar untuk 60 kemasan ke si boss, dan santai juga aku terima susu satu dus dari pelayan, setengah rasa coklat, setengah rasa strowbery.

Malamnya, anak-anak pulang tarawih, aku bongkar itu belanjaan.
Anak-anak langsung ngeriung, siap membantu.
Pas udah masukin semua isi ke plastik, penasaran dong, aku, kok jumlah susu, tidak cocok dengan jumlah biscuit?
Akhirnya aku menghitung susu sisa, anak anak menghitung bungkusan yang sudah siap.
Ternyata.......................
Kardus itu isinya cuma 36 kemasan. Dan benar si pelayan memberikan, setengah coklat setengah strowbery
(Gubrak, kenapa ya, aku nggak memeriksa isinya ada berapa??)

Esoknya, berhubung musti dianter jam 7 ke Gedung Serba Guna RW, tempat posyandu dilaksanakan, habis subuh aku ke Alfamart 24 jam dekat rumah.
Aku ambil susu 10 kemasan dan bayar dan pulang. Buat anak-anak, ntar siang aja, ambil kekurangan yang dari grosir. Lumayan banyak kan, ada 24 kemasan, pikirku.

Daaaannnn... sampai rumah aku bengong bengong, aku kan perlunya 15 lagi, bukan 10!!!


Gemes sendiri, ya sudahlah, berhubung capek bolak balik, akhirnya aku kirim aja tuh, 45 bungkus ada susu, dan sisanya 5 bungkus lagi tanpa susu.
(Hapunteun nya' Bu RW, abdi hilap )

Jumat, 03 September 2010

Dino


Gara gara si Ummi pengen dapat tas yang anggun tapi ogah modal, akhirnya walaupun hari terakhir, dibela belain lah ikutan sayembara di http://pasarpelangi.multiply.com/photos/album/52/SAYEMBARA_BERHADIAH_CHANNEL_BAG?replies_read=20

Ini ceritanya tentang Faiz, dia itu dari kecil udah kelihatan banget minat bacanya. Memang sih, di rumah tuh nggak ada yang namanya mainan  kecuali si buku itu.
Awalnya, pas belum bisa berdiri, dia baca buku buku di rak yang paling bawah, yang isinya  buku Halo Balita dan buku buku yang aku rela kalaupun dia sobek.

Agak bisa berdiri, dia udah mulai membuka-buka lift the flap nya Erlangga. Yang favoritnya adalah si Dinosaurus. Dan lihatlah, dia juga sudah pandai berekspresi, kalau dia bilang dino, maka dia akan membuat suaranya membesar dan serak " Enoooooo" seperti lagi nakutin orang gitu. (maksudnya "dino" maklum belum jelas ngomongnya.)
Aih, lucunya.

Maka, pas di Pasar Pelangi ngadain lelang piyama GAP ada yang bergambar dino, langsung aja aku ikutan lelang. Alhamdulillah... itu baju aku dapatin.
Dan si Faiz ini, seneng banget.
Nggak pake dicuci, malam itu langsung dia pake. (emaknya jorok ya)
Besok pagi dicuci, sorenya langsung dipake lagi. Kalaupun sore pakai piyama bola (kesukaan dia sebelumnya) ntar malam dia cari cari alasan buat ganti dengan piyama dino.
Demikiaaaaan terus sampai berhari - hari.
Sampai sampai si kaos saking seringnya dicuci lehernya jadi lahak gitu.

Karena Ummi bosen tiap malem lihat si Dino, ummi iseng iseng sumputin tuh kaos.
Faiz ngubek ubek rak bajunya,
"eno ana Mi..."
"ndak ada .."
trus dia lupa..
sampai akhirnya  Pasar Pelangi ngadain sayembara, aku keluarin lagi deh si dinonya..

Nih, si penyuka dino, pake baju dino, lagi baca dino
"Ennooooooooooooooooooo"


niii... fotonya sebelum digundul juga ada yg pake baju dino
cakep kaaan? 


Kamis, 02 September 2010

Dimanja

Pagi tadi aku ke dapur udah jam setengah empat.
susaaah banget nglepasin diri dari Faiz. Tau tuh bayi, perasaaan makin dekat masa penyapihan, makin lengket dia ke emaknya.
Tiap bergeser dikit aja, dia udah kebangun.

Begitu kebangun, aku langsung buru buru menumis dan menggoreng telur buat sahur. Sekalian cuci piring.
Baru sempat minum madu, ngeeek, Faiz udah bangun, minta ASI.
Jadilah aku masuk kamar lagi.
Anak anak besar pada bangun, sampai menjelang imsak aku belum bisa keluar kamar.
Eh, si Mbak lho....
"Ummi, aku ambilin nasi aja ya.. sama apa?
"Nasi dikit, sayur yang banyak, sama telornya habisin aja."
Kemudian mbak ngambilin nasi persis seperti permintaanku.
Tambah bonus, susu coklat real good.
Asyiiikk...
sahur dengan layanan kamar.

*ternyata enak juga ya, dimanjain