Kamis, 28 Oktober 2010

Mbak Fathimah

Si mbak sama F5 lg main merangkak merangkak

Prolog :
Dengan maraknya boarding school, sekolah leadership atau apaun namanya yang murid-muridnya tinggal di asrama, banyak teman temanku yang menyekolahkan anaknya di sana.
Akan tetapi, beberapa waktu lalu, ada salah seorang teman yang anak gadisnya sekolah berasrama sejak SMP, mengeluhkan salah satu  permasalahan yang dihadapinya.
Yakni tentang kepedulian anak -terutama yang gadis- terhadap serba serbi keadaan rumah.
Kebiasaan di asrama yang serba dilayani, makanan sudah siap saji, piring ada yang mencuci, pakaian ada laundry, kamar ada petugas cleaning service, dan tugas anak hanya belajar dan belajar. Hal tersebut ternyata membuat si anak pas pulang liburan jadi tidak sensitif terhadap keadaan rumah.
Temanku berharap, dengan usia yang beranjak remaja, gadis lagi, dia berharap si gadis peduli dengan adik adiknya, dengan kesibukan ummi-nya di dapur dan mengurus rumah, dsb
(hihi, aku jadi makin setuju dengan keputusan Abi yang melarang si Mbak Fathimah sekolah berasrama )

Ceritanya, semalem aku terkagum kagum sama Mbak.
Mbak Fathimah lagi main  sama Faiz. Saking asyiknya bermain, mereka sampai 'lupa diri' cekakak cekikik bergerak kesana kemari.
Eh, nggak sengaja  kaki Faiz menendang piring di tangan Teteh yang duduk di dekatnya.
Piring itu jatuh dan pecah berantakan.
Kulihat muka Teteh dah ketakutan, hampir mewek malah.
Kali kaget  dengan bunyi kelontang yang asli keras banget,
(Oya, Fikri dan Ayuk yang lagi ngisi air di atas sampai turun kaget dengar bunyi kelontang itu.)
Ditambah membayangkan kewajiban musti membersihkan pecahan belingnya- kaleee...makin kusut aja tuh muka Teteh.
(Emang aku selalu minta siapapun yang memecahkan gelas/piring/mangkok untuk ikut membersihkan pecahannya sebagai bentuk tanggung jawab).

Tanpa kuduga duga, mbak mengambil alih keadaan.
"Semuanya diam di tempat, Teteh, Faiz, jangan jalan jalan"
Trus Fathimah mengambil tas plastik dan sapu.
Dia bersihkan pecahan beling itu. Pertama tama dia ambil pecahan yang bisa diambil. Kemudian dia menyapu yang kecil kecil dan memasukkan juga ke dalam plastik.

"Biar lebih aman, lap dengan kain basah Mbak" kataku.
Diapun melakukan.  Dan lantaipun aman untuk bermain kembali.

Aku berterima kasih dengan tulus. (tanpa berkomentar "tumben" meski kepengeeeeeen banget )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Tinggalkan Kesan