Selasa, 16 November 2010

Alhamdulillah, Menyapih Dengan Cinta


Alhamdulillah, setelah melalui berbagai perjuangan antara lain seperti yang pernah kuceritakan sebelumnya,  sudah seminggu lebih Faiz benar benar selesai minum ASI, alias telah sukses disapih dengan cinta versi kami.

Faiz sebenarnya dipersiapkan untuk disapih sejak umurnya masih 18 bulan.
Waktu itu, teman teman di sekitarku yang mempunyai bayi seumuran Faiz, udah ramai menceritakan tentang menyapih dengan cinta (aku gak gaul banget yah...),
yang intinya (menurut pengertianku) anak tidak boleh disapih dengan paksa, apalagi ditipu tipu dengan pahit pahitan atau dengan warna warna ngeri di seputar pabrik ASI kita.

Maka aku pun mulai proses itu. Pertama-tama aku mengatakan ke Faiz,
"Ais, nanti kalau Aiz udah dua tahun, berhenti ya minum ASI-nya"
Saat itu Faiz cuma ngangguk ngangguk dan menjawab hmm pendek saja,  karena mulutnya lagi asyik minum ASI.
Aku menangkapnya itu tanda ia setuju.
Demikiaaannn... terus, aku ulang ulang sampai usianya dua tahun.

Beberapa hari lewat dua tahun usianya, aku lebih serius mengingatkan tentang "berhenti minum ASI' itu.
Entah aku yang salah selama ini, atau bagaimana, suatu ketika aku mengatakannya tidak dengan istilah berhenti, tapi dengan kata kata STOP.
"Aiz, sekarang kan sudah dua tahun, jadi minum ASI-nya stop ya.."
"hhhmmmmmmmmmmmmmmmmm..."  *mulutnya masih ngenyot ASI* jawabannya kali ini lain. *nada meninggi seperti mau nangis*
Walah !! aku baru kepikiran.
Jangan jangan selama ini Faiz belum mengerti arti kata "berhenti"
Aku baru ingat, ketika itu Faiz lagi seneng senengnya main "jalan maju - mundur" dan dia paling suka jalan mundur jauh jauh,
sampai akhirnya kakak kakaknya bilang "STOP" dan dia berhenti mundur.

Waduh, aku harus ganti strategi.
Kami mundurkan lagi saat penyapihan.
Yang target awalnya adalah Lebaran Idul Fitri (Faiz lahir 27 Ramadhan) maka aku -dan Abinya tentu saja- memutuskan untuk memperpanjang tenggat sampai Lebaran Idul Adha.
Aku mulai lagi membujuknya.
Kumulai jalan tengah,  Faiz hanya diijinkan minum ASI pas malam hari.
Kalau siang hari nggak boleh sama sekali. Walaupun hari libur !! Ini berlangsung kira kira sebulan.
Terus terang, hal 'tidak minum ASI di siang hari libur" ini adalah hal yang sulit di banding hari kerja.
Kalau hari kerja kan Ummi nggak di rumah, berbeda dengan hari libur, Ummi di rumah, dan bibi juga ikut libur alias gak ada 'pelarian'  buat Faiz.
Hari kerja pun, bukan nggak ada tantangan, setiap pulang kerja, maghrib maghrib, Faiz serrrriiiiing banget nangis minta minum ASI.
Dan tahu sendiri, di usianya yang makin besar,  suaranya juga makin besar alias teriakannya kenceng banget.
Maghrib gitu lho.. saat kami semua shalat berjamaah, dia teriak teriak dan bergulingan antara Ummi dan Abi.

Jadilah, si Abi yang mulai nggak sabar dengan teriakan itu, lagi lagi kasih ultimatum "Lebaran haji harus udah selesai " !
Walaupun Abi berusaha membujuk dan mengalihkan perhatian Faiz klo lagi nangis nangis gitu, tetep aja Faiz lebih sering memilih di gendong Ummi aja.
Puncaknya seminggu sebelum lebaran kemaren, pas kami tegang nunggu kakak dari Lampung dan temannya yang mendadak mau datang, Faiz teriak teriak lagi.
Asli keras banget, sampai Abi mengeluarkan suara yang agak keras juga untuk menghentikan tangisnya.
Faiz bukannya ngeper terus diem, malah seperti diajarin.
Faiz  teriak lebih keras lagi.
Aku trenyuuuuuh........................ sekali.
Walhasil shalat maghrib kali itu, kujalani dengan berderai derai air mata ditingkahi rengek tangis Faiz.

Selesai shalat, aku ajak Faiz masuk kamar. 
Aku tatap matanya lekat lekat.
Dan kubelai rambutnya dengan segenap cinta.
Anehnya, tangisnya hilang seketika. Dia juga menatap mataku. Aku berkata "
"Faiz, Ummi mau bilang sama Faiz ya..
Sekarang Faiz sudah besar, jadi  Faiz harus  benar benar berhenti minum ASI ya..
Walaupun Faiz nggak minum ASI lagi,
kita masih bisa berduaan, bisa  bermain bersama, baca buku bersama, masih bisa sayang sayangan, dan pergi berdua"

"HUaaaaaaaa........." Tiba-tiba Faiz menangis keras sekali, sepertinya dia mengerti apa yang terjadi baru saja aku bicarakan.
Maka aku peluk dia, sambil ku usap usap kepala dan punggungnya. Faiz menangis tidak lama.
Dan sejak malam itu, ajaib, Faiz berhenti minum ASI. 
Malam itu dia menangis sekali, kemudian aku beri air putih dan tidur lagi. Malam berikutnya malahan jarang sekali Faiz terbangun di malam hari.
Alhamdulillah......

NB : sesekali Faiz masih ingat mau minta ASI, tapi tidak sampai rewel dan menangis teriak teriak seperti sebelum di sapih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Tinggalkan Kesan