Rabu, 01 Desember 2010

Pasangan (Jadi) Jadian


Karya Lusiwulan
Andai saja anakku belum membaca buku ini, pastilah aku nggak buru buru pingin nyelesaiin baca, dan sudah berhenti di bab pertama. Karena kupikir tidak ada gizi yang bisa aku ambil dari buku ini. (Maaf ya, Lusi...).
Sama sekali aku tidak suka dengan ide 'tinggal serumah' cuma berdua yang dilakukan oleh Jagad dan Yayi. Ide untuk menerima kos laki laki di rumah perempuan lajang yang tinggal sendiri adalah benar benar menantang dan mengundang setan.
Dan akhirnya, kejadian juga, sepulang pesta, dan mabuk.
Udah gitu kepergok sama Kakek, Mama dan Papa Yayi, yang ngedadak datang, sekaligus Mama dan Papa Jagad.
Pembelaannya, mereka melakukan dalam keadaan mabuk. (Yang di akhir buku di ralat sendiri oleh penulis via tokoh Yasmin-bahwa mereka nggak benar benar mabuk, toh Yayi masih bisa nyetir dari apartemen Kumala sampai rumah). Dan akhirnya Jagad dan Yayik dipaksa menikah.

Ide konyol lain adalah nikah pura pura yang mereka lakukan. Tinggal serumah layaknya suami istri, tapi masing masing masih jalan dengan pacarnya.
Duh duh.. serasa aku lagi melanglang ke dunia mana dan di jaman apa... (*sembari berpikir apa aku yang kuper tapi sembari bersyukur juga di lingkaran pertemananku tidak pernah menjumpai hal seperti itu)
Sukur deh, mereka nggak nambah dosa dengan akhirnya menikah beneran di akhir cerita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Tinggalkan Kesan