Kamis, 11 November 2010

Siapa Bilang Ibu Bekerja Tidak Bisa Mendidik Anak

Sudah lama banget pengen baca buku ini.
Penyebabnya, supervisor di Sygma Daya Insani yang selalu ngompor ngomporin bahwa aku harus baca buku best seller Rekor Muri ini.
Padahal dia sendiri belum berumah tangga lho..

Akhirnya sukuuuuuuuurrrrrr banget, aku berhasil juga membacanya di tengah tengah pelatihan Sahabat Sygma.
(sayang di goodreads gak ada gambar covernya)

Beberapa hal yang dapat kucatat dari buku ini adalah :
1. Gak ada yang salah ketika seorang Ibu memutuskan untuk bekerja di luar rumah, hanya saja memang dia harus berjuang lebih keras, agar dapat melaksanakan tugas tugas utamanya sebagai istri dan ibu bagi anak-anaknya.Melly Kiong mencontohkan bagaimana dia menyiapkan makan siang buat bekal anak anaknya, dan selalu menyelipkan memo kecil di kotak makan siang anaknya, yang berisi pesan/ungkapan sayang dan TEKA TEKI. Hasilnya si Anak yg tadinya gak mau makan nasi bekal, jadi malah menanti nanti saat 'membuka bekal dari rumah'.
2. Memupuk rasa bersalah adalah sebuah 'kesalahan' yang justru akan membuat kita melakukan kesalahan kesalahan berikutnya. Yang harus kita usahakan adalah bagaimana membuat waktu pertemuan antara kita dengan anak-anak menjadi pertemuan yang berkualitas dan selalu menyenangkan buat kedua belah pihak. Berikan anak kita pengertian bahwa kita bekerja untuk apa, dan ajaklah mereka berbicara.
3. Menyayangi anak TIDAK SAMA dengan memanjakan anak. Melly pernah membuang baju seragam anak ke tempat sampah, karena setelah ganti baju mereka tidak memasukkan baju seragam itu ke keranjang pakaian kotor. hasilnya anak anaknya jadi mau membereskan baju seragamnya sendiri.
4. Pengasuh adalah mitra mendidik anak, jadi kita harus menghargai peran mereka dan menganggap mereka sebagai bagian dari keluarga. Kalau bisa, para pengasuh ini punya Job Description tertulis, agar -klo pengasuh/asisten lebih dari satu terutama - dapat memahami tugas masing masing
5. Jangan pelit memberikan pujian bagi perilaku baik anak. Gunakan buku penghubung atau kertas tempelan di kulkas rumah untuk mencatat kebaikan anak-anak. Walhasil anak anak akan berlomba lomba melakukan kebaikan.
6. Usahakan komando tunggal di rumah, klo ayah bilang A, berarti ibu harus nurut A. dan sebaliknya.
7. Mengelola keinginan anak dengan konsekuensi2. Dicontohkan misal seorang anak yg minta es krim, boleh asal tidak sedang batuk. TIDAK SEDANG BATUK ini di tekankan, konsekuensinya kalau si anak SEDANG BATUK tidak boleh makan es krim.
8. Beri kesempatan anak melakukan hal hal baru, atau melakukan sendiri. Misalnya menyediakan bangku kecil biar anak yang kecil bisa mencuci tangan/menggosok gigi di wastafel. Awalnya orang tua mungkin khawatir anak jatuh, tapi ternyata anak anak yang diajari mandiri sejak awal, mereka akan bisa benar benar mandiri.
9. Buat what to do list untuk anak anak dan berikan stiker untuk hal hal yg dilakukan tepat waktu. dan beri hukuman juga untuk yang terlambat. Melly mencontohkan misal waktu makan 30 menit, kalau anak makan 35 menit, maka dia harus berdiri 5 menit (sama dengan waktu yg lebih).
Stiker jadwal harian ini menjadi 'tiket' untuk mendapatkan penghargaan 'mingguan'. (jadi ingat postingan di The Urban Mama)
10. Bikin MUSIUM KASIH MAMA yang isinya pernak pernik kecil kecil misal gigi tanggal, rambut anak, atau karya karya anak kita.

Catatanku : dalam hal 'menghukum anak' ini aku pernah baca ada tahapan-tahapannya, kapan kapan di cari lagi deh.
Hihi baru nyadar, reviuw-nya mirip "Rangkuman" pas SD dulu, biarin deh, soalnya bukunya memang teknis banget dan cumi alias cuma minjem, jadi biar gak lupa ya aku tuliskan aja semuanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Tinggalkan Kesan