Minggu, 19 Desember 2010

20 Langkah Salah dalam Mendidik Anak

Catatan  ini disarikan dari buku yang ditulis oleh Muhammad Rasyid Dimas, penasaran lihat namanya kirain orang Indonesia. Ternyata buku ini merupakan terjemahan. Muhammad Rasyid Dimas ini lulusan Fakultas Pendidikan dan Psikologi Al Imarat University dengan nilai excellent dan menduduki peringkat satu. Selain itu beliau juga master (excellent juga) di Bidang Perencanaan, Analisis dan Perancangan Sistem.
Menurut beliau, ada 20 kesalahan yang sering dilakukan orang tua dalam mendidik anak
1. Memaksakan kewajiban tanpa memberi pemahaman
Kebanyakan yang dikatakan orang tua adalah kalimat perintah. Misal, cepat bangun, cepat makan, pakailah pakaianmu, dsb. Hal ini kadang membuat anak pura pura tidak mendengar dan tidak mengerjakannya. Disisi lain, orang tua juga tidak boleh membiarkan si anak menolak perintah dan melanggar larangan lantaran mengikuti hawa nafsunya. Maka menjadi kewajiban orang tua untuk memberikan pemahaman tentang apa dan kenapa suatu kewajiban dibebankan.
Hal ini akan melatih daya pikir si anak untuk menjangkau suatu hikmah atas kenapa suatu kewajiban ditetapkan. Jangan sampai kelak dia melanggar peraturan dan meninggalkan kewajiban hanya dengan alasan karena dia tidak yakin atau belum bisa menerimanya.

2. Menyikapi perilaku anak hanya dengan satu pola
Misalnya orang tua selalu bersikap keras, padahal anak sudah berusaha menjadi baik. Ini akan membuat anak putus asa dan malas berbuat baik, toh tetap dipersalahkan. atau  anak selalu disanjung padahal dia berbuat kesalahan, maka akan membuatnya tidak mempunyai kepedulian.

3. Enggan menerapkan disiplin
Anak membutuhkan disiplin seperti mereka membutuhkan kasih sayang. Kadang orang tua mudah berputus asa, atau lemah tekadnya untuk membuat anak disiplin. ada juga orang tua yang khawatir, ketika dia menerapkan kesiplinan, maka akan kehilangan cinta si anak.

4. Tidak menggunakan siasat nafas panjang saat menyikapi kesalahan anak
Sabar, sabar dan sabar. Itulah kata yang mewakili dalam hal mendidik anak. Wasiat "jangan marah" yang sering diungkapkan Rasulullah juga berlaku dalam mendidik anak. Karena sikap sabar, tenang, bijak dan pemaaf sangat diperlukan dalam membentuk kepribadian anak.
Beberapa hal yang harus difahami orang tua dlm menyikapi kesalahan anak :
- parameter dunia anak berbeda dengan parameter orang dewasa
- anak berbuat kesalahan adalah lumrah, karena sedang proses belajar
- permasalahan personal tidak akan selesai dalam sehari semalam, jadi perlu waktu dan  kesabaran

5. Tidak berupaya mengetahui motif anak berbuat salah
Kadang si anak berbuat kesalahan tanpa sengaja atau tanpa tahu bahwa dia berbuat kesalahan, jadi orang tua harus berusaha mengetahui latar belakangnya.

6. Selalu menerima syarat yang diajukan oleh anak
Hentikanlah memberikan imbalan atas suatu kewajiban yang dilakukan anak. Ini seolah olah merupakan "suap" bagi si anak. Lebih baik meluruskan motivasi si anak sejak awal daripada setelah besar lebih susah untuk melakukannya.

7. Berlebihan dalam berjanji kepada anak

8. Menghukum anak atas perbuatan baiknya
Misalnya, si anak tiba tiba membereskan tempat tidur sebagai kejutan untuk ibunya. Setelah itu dia lapor pada ibunya, Bu aku sudah membereskan tempat tidur. Kemudian si Ibu berkata : Kamu harusnya mandi dulu baru membereskan tempat tidur !"
Nah si anak akan kecewa. Atau orang tua yang malas memberikan pujian atas hasil karya anak, karena dia sedang sibuk bekerja, dengan jawaban jawaban "Sana, main lagi aja, ibu sedang sibuk" dll secara tidak langsung "menghukum" si anak yang telah berbuat kebaikan.

9. Tidak menghukum perilaku buruk anak
Misal si A memukul temannya, orang tua hanya berkata "namanya juga anak-anak, nanti juga berbaikan lagi". Ini akan membuat si A  semakin menjadi - jadi di lain waktu.

10. Memberikan isyarat negatif Katakan selalu kata kata positif terhadap anak untuk memotivasi. Kamu anak pinter, kamu anak pemberani dsb

11. Membandingkan seroanga anak dengan anak lain dengan tidak adil

12. Memberlakukan standar ganda
Misalnya, pernah orang tua tertawa-tawa dan merasa lucu ketika si anak jalan jalan telanjang dalam rumah. Besoknya dia melakukan hal yang sama tapi pas ada tamu, eh, orang tua marah. Maka si anak akan bingung.
Contoh lain, orang tua meminta anak bicara jujur, tapi pernah meminta si anak mengatakan ayah tidak ada, ketika ada tamu yang tidak disukai, dll.

13. Tidak memenuhi kebutuhan kasih sayang dan cinta anak
Anak membutuhkan kepasatian bahwa dirinya dicintai. Rasa cinta kepada anak, akan membuatnya aman dan tentram serta tumbuh alami dan terhindar dari kegoncangan jiwa, frustasi maupun rendah diri. Anak yang mendapat cinta dan kasih sayang, lebih cenderung bersikap patuh, bisa bekerja sama dan disiplin.

14. Tidak memperhatikan patokan-patokan dalam memberikan sanksi fisik
Tidak memberlakukan hukuman fisik sama sekali, adalah hal yang salah juga. Tetapi, hukuman fisik adalah langkah terakhir. Selain itu, hindari menghukum saat marah. Ada tahapan tahapan memberikan hukuman :
- sampai dua tahun anak tidak boleh dihukum, tapi diberi imbalan atas perbuatan baiknya.
- setelah tiga tahun anak dapat menangkap perubahan roman muka ketika kita marah atau tidak suka.
- sampai usia delapan tahun, hukumannya adalah mengambil/mengurangi kenikmatan jika si anak bersalah.misal anak merusak mainan, maka mainannya disimpan utk waktu tertentu.
- sampai sepuluh tahun, anak ditegur dengan kata-kata.
- setelah 10 tahun anak boleh dipukul dengan "pukulan edukatif". (tidak dimuka, tidak di kepala, tidak menyakitkan, tidak keras)
- mengganti pukulan dengan kecaman ketika si anak sudah sampai tahap "menjadi teman" yaitu sekitar 12-14 tahun.

15. Tidak memperhatikan perbedaaan individual dalam mendidik anak
Setiap anak mempunyai kecenderungan yang berbeda, ada anak penurut, ada anak yang mudah menerima akhak baik, ada anak kritis, semua harus disesuaikan dengan si anak.

16. Tidak bertahap dalam berinteraksi dengan anak
Dalam memperbaiki akhak, pertama yang kita lakukan adalah meluruskan secara umum di hadapan semua anak tanpa menyebutkan si pelaku kesalahan. Jika tidak berhasil, maka luruskanlah di tempat tertutup (terpisah dari anak lain). Selain itu, bila cukup dengan isyarat, maka janganlah dilakukan dengan yang lebih keras dari itu. Harap dipahami, bahwa manusia sulit untuk merubah seluruh perilakunya secara sekaligus, sehingga harus bertahap.

17. Menghina, melecehkan, dan diskriminatif dalam memperlakukan anak

18. Tidak kompak dalam cara mendidik
Komunikasi orangtua, ayah dan ibu, harus menerapkan cara yang sama dalam mendidik anak. Jangan sampai si ayah menolak prinsip ibu, atau sebaliknya. karena ini akan membingungkan si anak.

19. Tidak melibatkan anak dalam membuat aturan
Ini adalah semacam kesepakatan antara ortu dan anak. Sehingga anak pun akan lebih bertanggung jawab ketika dia juga ikut menentukan peraturan.

20. Bersikap negatif dan salah terhadap anak
Otoriter, over protektif, mengabaikan/tidak peduli, memanjakan adalah contoh sikap yang salah terhadap anak.


wallahu 'alam bish-showwab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Tinggalkan Kesan