Kamis, 29 Desember 2011

Berkebun (atau bertenak ulat ) ?

Sebagai seseorang yang menggeluti multi peran (cie cie...) dan memiliki multi talent (jiah.. enggak banget)  salah satu hal yang kulakukan di sela sela hari libur adalah berkebun. Di seberang jalan depan rumahku terbentang sawah nan luas, adalah setengah hektar. Tapi bukan milikku .. hehe.. jadi aku cuma menikmati saja proses si Bapak membajak sawah, menyemai bibit, menanamnya, mencabut gulma dan beberapa hari (iyah, hari.. karena gak kerasa, usia padi kan paling 3 bulanan yah..) kemudian, akan terdengar suara kelontang  kaleng kaleng berisi kerikil pengusir burung burung ketika padi mulai menguning. Dan saat yang paling berbahagia adalah ketika di pagi buta, beberapa Ibu sudah duduk duduk di pinggir sawah, itu pasti saatnya panen tiba. Lumayan laaaah... meski cuma lihat, cukup jadi pengusir penat kehidupan kota Bandung, wabil khusus Cijambe, yang mulai macet di pagi dan sore hari.

Eh, kebunku bukan yang kuceritakan tadi ya.. kebunku hanya sepetak tanah sisa yang tidak dibeton oleh pemilik lama, kira kira ukuran 50 cm x 200 cm. Hayaaah.. berkebun apa ?? Macam macamlah aku tanam di situ. Ada bunga anggrek liar di pinggir tembok, disusul rumput menghampar, dipinggir pinggirnya aku tanam sansivera, disela sela rumput sekarang aku tanam sebuah pohon nanas (haha..sebuah saja), satu pohon kunyit, dan satu pohon kemangi. hehe.
Nah di hari bumi  tahun ini, aku menanam pohon kersen. Orang ada yang bilang buah cery kampung, atau apalah  terserah kalian menyebutnya.  Eit jangan diketawain, itu pohon pinggir jalan ya.. Ini mah soal menentramkan diri, mengenang masa kecil, memanjat pohonnya, meraih buahnya yang mulai merah ranum, dan langsung hap ! masuk mulut tanpa dicuci. hmmm... yummmi...

Beberapa teman melarangku, Bibi juga, katanya banyak ulat. Suamiku nggak ngelarang (ya eyalaaah... dia kan tumbuh di kota, gak hafal masalah 'perkebunan'. Abi lah yang membantu menghancurkan semen kira kira ukuran 50x50 cm, dan menggali lubangnya untuk si Kersen kesayangan. Daaaannn... dalam 6 bulan saja, pohon itu sudah tumbuh, rimbun dan rindang. Lengkap dengan ulat ulatnya yang bergelantungan (tuh kaaan.... kata Bibi). Ulat bulu lagiii....
Merasa sebagai satu satunya oknum yang wajib bertanggung jawab, hari Sabtu pagi minggu lalu aku berpakaian lengkap, membawa galah dan memukul mukul ranting kersen itu agar si ulat berjatuhan. setelah berjatuhan, dengan kejamnya aku matiin pakai galah bambu. Adalah.... barang 30 ekor ulat. Alamaaaak.. janganlah kau tanya apa yang kurasakan ketika melakukan itu. Demi si buah cery kampung aku rela melakukannya.
Mau lihat sebagian ulat itu ? Ini dia, yang bersembunyi di bawah pot di dekat pohon kersen itu.
Hiiiii....


Rabu, 28 Desember 2011

15 Tahun

foto berdua pas ikut seminar keluarga
Suamiku selalu bilang bahwa tidak ada perayaan ulang tahun di rumah. Karena ulang tahun bukanlah prestasi, sehingga tidak perlu dirayakan. Itu buat anak anak. Tetapi, untuk ulang tahun pernikahan, menurutku itu adalah prestasi, karena cinta harus diupayakan.
Bila dikenang 15 tahun lalu, kami berdua bukanlah siapa siapa, bertemu beberapa saat beberapa kali kemudian berkomitmen untuk membina rumah tangga dibawah nilai nilai Ilahi, tentu bukan hal yang mudah.
Menumbuhkan cinta melalui proses yang sangat panjang. Mulai menyemai bibit-bibitnya, menyiraminya dengan kasih sayang dan perhatian, dan menjaganya dengan tanggung jawab serta memagarinya dengan keimanan, dan memupuknya dengan doa doa. Memohon agar campur tangan Allah-lah yang menjadi penjaga, agar cinta itu senantiasa tumbuh dan berkembang menjadi naungan buat rumah tangga kami, aku, suamiku, dan anak anak.
Senyum dan tawa mengiringi.
Tangis dan derai air mata mewarnai.
Godaan dan ujian acap kali menghadang.
Alhamdulillah masih terjaga hingga kini.
Terima kasih ya Allah.....
Semoga Engkau mengekalkan kebersamaan kami di dunia ini hingga surga-Mu.


sama papa echi, mama echi dan mba Echi. Mbak Echi masih imut imuut
 

Selasa, 20 Desember 2011

Kehilangan

Semua yang menyangkut "kehilangan" pasti bakal terasa menyesakkan. Kehilangan apapun itu. Hatta untuk masalah atau benda yang kelihatannya sepele. Karena sudah penyakit manusia kali ya.. baru terasa betapa berartinya "sesuatu" setelah sesuatu itu tidak ada lagi di tangan kita, atau sudah tidak dapat kita menjangkaunya.

Sebenernya ini masalah sepele kali ya...
Faiz sejak usia dua tahun senang sekali memainkan uang kertas. Awalnya dari uang kertas mainan, lama lama dia pinter memainkan uang kertas yang dia ambil dari tas Umminya yang suka digeletakkan di lantai begitu saja, dengan resleting yang kadang masih terbuka.

Ketika main itu, dia belajar, uang 100rb-an buat deposit pulsa, uang 50rb an buat beli beras/ke toko, uang 10rb buat naik ojeg kakaknya ke sekolah, dsb dsb dengan pecahan lain.
Nah suatu malam di akhir bulan, dia memainkan satu lembar 50 rb an dan bbrp 10 atau lima ribu aku lupa. Nah kali ini dia mainnya lain jurusan. Dia lipat lipat si uang itu, dan mau dimasukkan ke kotak infak dari masjid sekolah yang di memang disimpan di rumah.

Sebagai Ummi yg penuh perhitungan (apa pelit ?) aku tereak doong waktu Faiz lipat lipat satu satunya uang biru yang ada, mau dia masukkin kotak infak. AKu membujuknya agar mau menukar dengan pecahan lain, terserah yang mana.. Dengan susah payah berhasil tuh..
Syukurlah bisa dipakai bayar majalah besok (pikirku)
Dan besoknya aku semangat menunggu Mang majalah. Eh, ternyata nggak datang, Dan uang 50 ribu yang aku siapkan itu...... ya ampppunnnn... aku baru ingat siangnya, dan AKU LUPA NAROKNYA DIMANA ??
Hmmm serasa dapat tamparan deh... mau dibelanjakan di jalan Allah gak boleh, malah hilang begitu saja....

Rabu, 14 Desember 2011

Bahasa Cinta

Salah satu efek aku pindah kantor adalah nggak ada lagi tumpangan teman sejalan. Asyiknya, aku jadi sejurusan sama Abi. Tiap pagi aku dianterin ke kantor, tapi .. si Abi bukan langsung ke kantor, tapi malah balik lagi ke rumah. Mau main dulu sama Faiz sampai jam 9-an baru berangkat ke kantor.
Sore aku di jemput juga sama doi. 


Kadang aku kasihan juga ngelihat doi maksa jemput, padahal habis maghrib ada kuliah yg lokasinya notabene masih di tengah kota juga. Jadi klo pas kuliah dan ngejemput aku, setelah shalat maghrib, dia buru buru ganti baju dan berangkat lagi. Alamaak
Setelah beberapa hari di kantor baru, aku dapat teman tumpangan yg searah. Namanya Teh Sri, sampai Pasir Impun. Sayangnya dia bukan PNS yang musti absen finger print. Jadi sebenernya dia bisa pulang sebelum jam 5. Nah pas suamiku tahu hal ini, dia udah nggak ngijinin aku numpang Teh Sri lagi. Kasian katanya. Dia juga ditunggu anak anaknya.
Ya udah akhirnya aku dijemput lagi sama doi. Pas kubilang, udah aja, kalau Abi kuliah , Ummi pulang naek angkot. Daripada Abi jemput Ummi, sampai rumah pergi lagi. Kan capek..
Eh si Abinya bukan ngejawab aku, malah ngomong ke Firda
"Teh, tuh, Umminya di sayang nggak mau. Dikasih perhatian nggak mau. "
"Yah, Ummi kan sayang juga sama Abi, nggak mau Abi kecapean" sahutku nimbrung.
"Itu kan bahasa cinta Abi ke Ummi. Ummi mah , maunya kita pake bahasa cinta Ummi sendiri"

Arrrggh.. si Ummi cuman tersipu malu dan si Teteh Firda bengong gak tau maksudnya kata kata apa!

Rabu, 30 November 2011

Perubahan

Hmmm.. lama nggak berkunjung ke rumahku sendiri. Inilah nasib klo pake modem gretongan. Pindah posisi gak ada lagi ... hehe..
Jadi inget syair sebuah lagu, "apa yang ada jarang disyukuri.. apa yang tiada sering dirisaukan"... kurang bersyukur waktu masih ada inet gratis, kurang sungguh sungguh bekerja (hehe) kurang sungguh sungguh jualan dan melayani customer (huahaha) kurang menyambung silaturrahmi..., pilih pilih teman chat.. wwaaah.. banyak hal deh
Sudah dua minggu ini gak ketemu inet, ternyata baik baik aja tuh. Aku lebih konsentrasi pada dunia nyata dari pada dunia maya. Aku lebih fokus pada kerjaan (yaeyalah.. orang duduknya di counter), banyak hal lah , hal baru yang merubah hidupku.
Mumpung tahun juga berubah, saatnya muhasabah, evaluasi diri, apa yang sudah direncanakan tahun lalu apakah tercapai, dan apa yang dicita citakan apakah sudah sungguh sungguh dikejar. dan tentu saja membuat resolusi resolusi baru di tahun depan. Untuk kerjaan, keluarga, anak anak, masa depan dan akhiratku tentu saja.
Setiap perubahan pasti membawa pelajaran. Dan aku mendapatkan. Terima kasih ya Allah, meski awalnya tidak mudah, tapi aku yakin satu hal, Kau tak akan berikan aku beban, kecuali Kau telah siapkan pundakku untuk memikulnya.
Aku akan simpan itu sebagai pelajaran.

Kamis, 10 November 2011

Pahlawan

Ada  satu kata kata Ustadz Anis Matta dalam catatan "serial pahlawan". Aku baca udah lama banget, dan mungkin tidak persis.
"Pahlawan bukanlah orang yang besar yang melakukan hal hal besar, Pahlawan adalah orang orang yang dengan segala keterbatasannya berusaha melakukan hal hal terbaik yang dia bisa"
Uff.. inspiring banget.


Aku melihat begitu banyak pahlawan disekelilingku.
*Ibuku, dengan 7 anak, seorang working mom, walau ada ART, berusaha  memasak sendiri makanan rumah dan menjahit baju untuk anak anaknya.Mengajarkan membaca dan menulis. Masih sempat ber-crafting ria
*Ayahku , sering membantu Ibu mengerjakan tugas domestik, dengan mencuci dan menyeterika sendiri pakaiannya, bahkan sering menambal/menjahit keliman celana yang sobek, menyapu, dan mengasuh anak anak. Bahkan memandikan dan mengajak jalan jalan sore.
*Suamiku, selain mencari nafkah, juga sperti ayahku, banyak membantu tugas domestik. Sampai kami punya anak 3, gak ada ART, anak dititip, kami bantu membantu masalah cucian dan setrikaan. Bebersih rumah, pasti suamiku. Sekarang, wlp sudah ada ART suamiku masih rutin menyapu, beberes, mengepel dan tentu saja.. mengasuh anak anak. hehehe
*Bibiku sekarang, memperlakukan anak dan cucunya sedemikian protektif. Karena anaknya dapat suami kok ya kebetulan tidak bisa diandalkan.
*Nenek pemulung langganan, badannya sudah bungkuk, suaranya sudah begitu pelan, tapi setiap hari masih keliling mencari barang bekas. Gelas aqua, karton, kertas bekas, dipanggulnya di punggung. Anak anak suka mengumpulkan sampah sampah kering itu, dan memberikan secara khusus buat nenek.
*Teman temanku semua yang inspiring juga. Dengan segala kesibukannya ada yang mengurus 9 anak, bahkan ada yang punya anak 10, subhanallah, tanpa ART, tetap bisa beraktifitas  memberikan sumbangsih berarti untuk masyarakat.
*Teman teman working mom, yang selalu berusaha memberikan dan melakukan yang terbaik buat keluarga, kalian semua pahlawan.

Jadi inget kata teman sekamarku dulu, pembilang yang sama dibagi dengan penyebut berbeda, pasti hasilnya berbeda. Aku melihat diriku sendiri. dengan keterbatasan ilmu, fikiran, kemampuan, dan waktu, semoga bisa menjadi pahlawan untuk keluargaku terutama, dan orang orang di sekelilingku, Buat instansiku, buat masyarakat, dan buat agamaku tentu saja, yang akan menjadi tumpuan kekalku kelak. Semoga !!

Senin, 07 November 2011

ulangtahun firda

Sudah sejak beberapa tahun ini, Firda selalu dibuatkan kue ulang tahun sama Ummi.
Yang pertama dengan nekatnya brownies amanda original disiram coklat
Yang kedua, ada kemajuan, aku bikin brownies kukus sendiri, dan udah dihias pakai krim yang dibuatkan oleh Tante Tri
Yang sekarang niy...semua dibuat oleh Ummi
Dalemnya cake sederhana pisan, rasa coklat
Luarnya bikin krim sendiri campuran mentega putih, susu kental manis, gula halus dan coklat bubuk. Semua nuansa coklat
Hiasannya aku beli di pasar, Snow white lagi melepaskan burung, dengan burung burung lain bertebaran di sekelilingnya.
Ornamen krimnya gak jelas pisan, pertama spuitnya entah dimana tidak ditemukan, kedua banyak tangan yg pegang, mbak, Ayuk semua mau coba nyemprotin krim ke kue.
Alhamdulillaaah... inilah gambar gambarnya


 
Kue firda

  
yang ultah pamer kuenya

 
potong kuenya.. potong kuenya

  
Kue pertama untuk Abi

  

Jumat, 28 Oktober 2011

Faiz Pake Seragam

Beberapa hari setelah Faiz dapat seragam olah raga, dia dapat seragam hijau untuk dipakai hari Senin.
Eh, pas aku pulang kantor, abis maghrib, nggak ada angin nggak ada hujan, Faiz membuka baju sendiri dan berganti dengan pakaian sekolah.
Alamaak.. mau nunjukin sama Umminya yah.. yang nggak pernah liat Faiz pake baju sekolah.
qqqqq...



  
siap sekolah

  
senangnya...

  

Kamis, 27 Oktober 2011

Citra Oh Citra

Itu bukan lagu jadul yang mendayu dayu itu ya..

Ini mau #curcol sedikit soal kantor... hehe..
Beberapa hari lalu, pas aku asyik masak nyiapin makan malam si Abi yang lagi nonton tivi tiba tiba manggil
"Dek dek... sini bentar " nunjukin acara tivi.  Tempat nonton kami memang nyambungnya ke dapur.  Tampaklah gambar beberapa rekan sejawat sedang melakukan SPN
"SPN itu apaan sih ?" tanyanya lagi
"oh itu sensus pajak, di tanya tanya tentang usahanya, trus udah punya NPWP belum. Klo udah punya, sudah melakukan kewajibannya atau belum... " jawab si dedek setengah ngasal. (harap maklum kantorku gak ikut SPN, dan kami gak nerima sosialisasinya)
"Ah, itu mah cari "proyekan" aja..." Abi komentar setengah negatif
"Waah... klo cari "proyekan" yang enakan dong, ini mah sebaliknya. Udah banyak tuh teman teman yang sakit karena harus keluar dua hari sekali. Ini kan karena penerimaan dituntut naik terus, yah kita cari cara gimana caranya ningkatin penerimaan. Ini mah semacam penyuluhan dan edukasi kewajiban aja.." *ummi sotoy masih mencoba meyakinkan sambil tetap memasak
"Alaah... penerimaan tuh udah tercapai berlipat lipat, kalau saja kalian nggak ngambil jatah" sambung si Abi
"Ih.. jatah yang manaa ? Orang tuh nyari mati kalau masih berani main mata setelah modernisasi ini !" (*mulai naik darah deh)
"Buktinya ada Gayus !. Gayus kan belum lama, udah modern juga. " Abi membela diri
"Eit jangan salah ya.. Gayus itu main mata sama instansi di luar kami" *Ummi tambah sengit
"Ah, kamu aja yang nggak tahu kali. Hari gini mana ada yang bersih " kata si Abi lagi.
"Ummi tersinggung !!  Kalau nggak ada yang bersih,nggak halal atuh harta yang kita makan selama ini !" *si Ummi emosi beneran.
"Yah, Abi bukan ngomongin kamu laah.."
"Coba deh ya, mau dikemanain ribuan orang yang berusaha bersih. Berapa % sih orang yang bener bener buruk di instansi Ummi ?
Ummi yakin jumlah  orang yang berusaha baik dan "masa mengambang" yang bisa diajak ke kebaikan, masih jauuh  lebih banyak daripada orang orang yang berkelakuan buruk itu"   *Ummi tetep mencoba meyakinkan

si Abi diam. Mungkin kaget juga, istrinya ternyata bisa nyolot. Ummi diam diam menangis. Gimana mau meyakinkan orang orang di luar sana ? Klo orang terdekat saja belum yakin.
(Ih, asli aku belum pernah melawan suamiku sekeras barusan)

*Semalem si Abi membawakan daku booklet SPN, entah dapat dari mana atau di sensus di mana.
Fact : Ditjen Pajak mencatat sedikitnya ada 20 juta orang wajib pajak pribadi yang telah memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Namun dari jumlah itu baru sekitar 8 juta wajib pajak yang melapor serta membayar pajak. Sementara itu untuk wajib pajak badan, jumlah yang terdaftar mencapai 1,2 juta, namun kurang dari 500 ribu wajib pajak badan yang melapor dan membayar pajak 


Foto diculik dari sini

Selasa, 25 Oktober 2011

Terpesona Waroeng Steak

logo WS dari mbah gogle

Ini bukan food review ya..

Beberapa hari lalu waktu aku ke Erlangga by angkot, aku lihat cabang baru WS di jalan Gatot Subroto dekat pertigaan Burangrang. Dekatlah dari kantor.Wah bisa jadi sasaran wisata kuliner siang hari deh. Udah gitu bisa dijangkau pakai angkot bolak balik. Kebetulan nih, aku udah lama nggak ke WS. Terakhir sekitar dua tahun lalu (lama banget yah).

Karena belum dekat jadwal gank wisata kuliner, jadi aku menghubungi Echi aja buat makan di WS. Akhirnya deal kemaren kita berdua makan di sana. Berangkat pas teng jam istirahat. Pas baru buka banget kali yah, soalnya tulisan buka mulai jam 12.00-20.00. Alhamdulillah masih sepi. Hanya nampak sepasang muda mudi di sisi kiri yang tersembunyi. (apa seeeh,.. gak penting banget)

Sambil nunggu pesanan datang, aku lihat lihat sekeliling. Di dinding nampak foto foto menu a la mereka, di sorot lampu lampu yang sesuai sehingga makanan makanan itu makin tampak aduhai. Melambai lambai minta dicicipi.
Aih, sebentar. Ternyata foto foto itu bukan sekedar foto menu, tetapi ada pesan yang hendak mereka sampaikan di sana. Ada 4 buah foto besar bertuliskan kata kata bijak :
1. Berdoalah sebelum makan
2. Makanlah dengan tangan kanan
3. Bersyukur atas nikmat-Nya
4. Berbagi dengan sesama

Nggak persis begitu banget kali ya.. karena aku nggak bawa kamera. Tapi kira kira begitulah. Penasaran dengan si WS aku googling. Gambar gambar itu nggak kudapatkan, tetapi aku dapat info. Owner WS , Bapak Jody Broto Suseno adalah seorang enterpreuneur muda, usianya belum juga 40 tahun. Mengawali bisnis WS di Yogya, menyasar pasar mahasiswa. Kini sudah ada 50an gerai WS dengan omset di atas 100 juta/gerai/bulan.
Dan sudah meluaskan bisnis ke Bebaqaran dan Bebek Goreng H. Slamet (H Slamet gitu lho... kirain yang punya ya pak haji Slamet).

Ah ya, sejak 2009 WS sudah memberlakukan larangan merokok untuk karyawannya. WS juga memberangkatkan haji dan umroh untuk karyawan yang mampu menghafal beberapa surat pilihan dari Al Qur'an. Kini, di bawah naungan Waroeng Group sudah ada empat rumah tahfidz untuk mempersiapkan anak anak penghafal Al Qur'an.
Ada nama nama ustadz yang tidak asing lagi buat kita seperti Ustadz Yusuf Mansur di jajaran investor Waroeng Group.
Kata pak Jody, alhamdulillah dengan program program itu usaha mereka makin maju.

Salut deh buat pak Jody !

Senin, 24 Oktober 2011

Pengemis : Modus Operandi Baru

Teringat masa kecil, ketika sering lomba baca puisi, pengemis identik dengan gadis kecil berkaleng kecil seperti puisi karya Toto Sudarto Bahtiar. Ternyata sekarang pengemis tidak sesederhana itu. Ada yang berbentuk gadis kecil menggendong anak kecil, atau gadis kecil dengan tangan kecil yang tengadah dan wajah memelas.

Mungkin ada yang menganut faham, kalau mau ngasih ya ngasih aja laah. Tapi ketika yang mau dikasihin hanya segitu gitunya, yah kalau aku sih mendingan lihat lihat dulu, supaya "multiplier effect"-nya semakin besar. (halaaah.. bahasanya)

Nah cerita soal pengemis ini, sebenernya aku lagi agak sensitif, karena di lampu merah dekat kantor ada "pendatang baru", seorang pengemis bersih, dengan bayi di gendongan, selimut bersih, baju bersih, semuanya tampak bersih. Sampai suamiku yang super pendiam juga sampai komentar. Klo aku mirisnya sama si bayi ya.. dari kecil dah diajarin meminta minta, gedenya jadi apa yah... Semoga kelak bayi itu bisa memilah mana contoh baik mana contoh buruk dari ibunya.

Beberapa hari lalu, pas aku jalan kaki di pertigaan Jalan Jakarta dan Jalan Sukabumi, seorang Ibu memanggilku. "De... de..... " katanya. Aku berhenti dan menunggunya.
Setelah dekat, ibu itu berkata "De, ibu mau minta tolong. Ade punya receh nggak. Ibu mau cari kerja jadi pembantu, tapi ternyata udah ada yang masuk duluan. Sekarang Ibu mau pulang ke Tanjungsari (Sumedang) nggak punya ongkos" katanya.
"Ya udah, bareng aja sama saya atuh, lewat Ujungberung" kataku spontan.
"Nggak Neng, Ibu mau naik bis kota aja, yang ke Nangor (Jatinangor), Ibu minta 2ribu aja" katanya.

Ah ya, ada bis kota ke Jatinangor dari perempatan Jl. Jakarta dengan Ahmad Yani.
AKhirnya kuberikan 5ribuan. Dia berterima kasih terima kasih gitu walaupun uang segitu mungkin buat kita nggak seberapa.

Eh, sedikit buruk sangka muncul, ketika aku udah putar putar di jalan Jakarta itu, ketemu lagi sama ibu yang tadi, dan dia belum berdiri di jalur bis kota. Aih, tapi sudahlah. Aku menepisnya.


Ternyata, dua hari kemudian, aku melihat ibu itu masih di sekitar jalan Sukabumi dan A Yani. Alamaaaak.... Gimana nggak berburuk sangka coba !!

Minggu, 23 Oktober 2011

Raport UTS

Yah, anak sekarang mah beda sama anak jaman dulu, jaman aku. Meski masih SD dan SMP mereka ada UTS macam mahasiswa aja. ALhamdulillah UTS nya udah selesai 2 minggu lalu. Dan kemaren dua Sabtu berturut turut aku mengambil raport hasil UTS itu.

Sebenernya aku termasuk orang tua yang "nrimo" , dalam segala hal. Jadi dalam hal raport anak anak ini juga aku nggak punya target khusus. Yang selalu aku tekankan ke anak anak adalah, mereka berjuang melawan diri mereka sendiri. bukan melawan orang lain. Jadi aku mengukurnya yah dengan melihat keseharian mereka di rumah. Ini review hasil raport itu

Mbak :
Untuk hasil di kelas cukup memuaskan. Dia ranking 3. Semester genap lalu dia rangking 7. Tapiii... ada 3 pelajaran yang tidak lulus KKM. Tidak lulus KKM bukan berarti nilai merah ya.. karena KKM ini adalah batas minimal yang ditentukan oleh sekolah. Ada yang 7, ada yang 7.5 tergantung pelajarannya.
Dari 3 pelajaran itu, satu pelajaran (bahasa Sunda) itu sekelas nggak ada yang mencapai KKM (aneh kan ? ) Ya sudahlah.
Tapi kalau catatan dariku adalah... Mbak belum cukup maksimal dalam belajar. Habis maghrib belajar sambil main hape. Subuh subuh bangun pagi kembali pegang hape. Rasa rasanya harus diambil tindakan khusus terhadap benda bernama hape ini.

Fikri
Ini adalah raport pertama Fikri di SMP. Dia memang berhasil masuk SMP cluster 1 dibanding Mbaknya yang masuk SMP cluster 2. Aku cukup maklum kalau persaingan di sana begitu ketat. Maka ketika disebutkan 10 besar di kelas dan Fikri masuk di sana, aku sudah bersyukur. Tapi .. .lagi lagi ada 3 pelajaran yang tidak lulus KKM. Memang saat aku konsultasikan ke Walikelas, ini hal yang biasa. Nanti anak minta remidial aja ke guru pelajaran ybs.
Tapiiii... besoknya ketika aku bertemu dengan temanku yang sekolah di sekolah yang sama dengan Fikri, ternyata anakknya ranking 10 dan nilainya itu jauh lebih besar dari nilai Fikri yang rangking 4 .  Waah, ada yang salah niy.
Sebenarnya aku melihat Fikri ada kemunduran dalam mengelola waktu dibanding SD dulu. Waktu SD kan dia full day, jadi udah banyak belajar laah di sekolah. Maka kalau di rumah aku gak gitu nuntut. Sekarang Fikri sekolah siang. Nah kalau pulang sekolah di sore hari dia sudah capek. Tapiii.. di pagi hari setelah mengerjakan tugas rumah tangga, dia tinggal santai santai.
Yah, ada yang harus dikoreksi.

Untuk Mbak dan Fikri mulai malam tadi, mulai abis maghrib sampai pagi menjelang sekolah, hape harus disimpang di suatu tempat yang disepakati yaitu di rak buku.Nggak boleh lagi dibawa bawa ke kamar atau di bawa bawa tidur. Dengan harapan malam hari bisa konsentrasi mengulang pelajaran, dan pagi hari bisa baca walaupun sedikit.

Fadhila
Tahun ini dia tetap di kelas 5A. tapi sesuai pengalaman tahun tahun sebelumnya, kelas A ini justru untuk anak anak yang agak 'kurang' dalam prestasi akademik.
Memang selama setengah semester ini, nilai Fadhila lumayan naik laah dibanding nilai semester genap di kelas 4. Dan betapa terkejutnya aku, ketika menerima raport Fadhila masuk 5 besar. Bukan terkejut senang ya... tetapi terkejut, karena dengan nilai yang dia capai (dan ada 4 pelajaran yang tidak lulus KKM) ternyata itu yang paling sedikit tidak lulusnya. Halaaah !!. Kayaknya ada yang harus dikomunikasikan niy, ke sekolah. Dalam waktu dekat ini. Harus.
Khawatirnya Fadhila cukup puas dengan hasil itu dan dia berhenti belajar.
Aku tetap memberikan dia penghargaan atas hasil yang di capainya. Tapi aku mengajak dia untuk realistis. Bahwa sekali lagi, dia berlomba bukan dengan teman sekelas. Tapi dia harus melawan "rasa malas" dalam dirinya.  Aku tunjukkan nilai (calon NEM) yang masih di kisaran 9,7,7 kalau dijumlahkan sekitar 24-25. Dan jumlah itu belum masuk untuk SMP Negeri dekat rumah. Bahkan yang cluster 3 sekalipun !!
Alhamdulillah Fadhila setuju kalau aku kasih soal tambahan semacam try out gitu untuk latihan dia di rumah.

Firda
Alhamdulillah, tidak ada  catatan dalam hal prestasi akademik. Tapi ada catatan dalam hal 'pengungkapan pendapat'. Katanya Firda di kelas jarang bertanya atau menjawab kalau tidak di tanya. Kata gurunya, apa karena mencari aman atau apa. Tapi kalau ulangan tertulis mah nggak ada masalah.
Aih .. aku jadi khawatir, jangan jangan karena keseringan di cela cela sama kakak kakaknya dia jadi menghambat kepedeannya. Wah harus lebih serius juga nih.. menangani yang ginian.
Binun juga kadang kadang, kapan membiarkan anak anak menyelesaikan masalah sendiri supaya mereka belajar problem solving dan kapan mencampuri urusan mereka. Habis. .. kadang kayak yang musuhan, satu dua menit kemudian dah baikan lagi.

Ternyata banyak PR juga buat Ummi Abinya.

Minggu, 16 Oktober 2011

Kue untuk Faiz


Beberapa hari yang lalu, kepikiran mau membuat kue khusus buat Faiz bawa ke sekolah. Tapi akunya masih bingung mau bikin kue apa. Belum pernah bikin cake yang berhasil. Sejauh ini si oven hadiah dari Mamak Ephraim baru berfungsi sebagai oven brownies yang enggak pernah gagal itu.

Ceritanya ada dua calon kue yang aku bikin. Yang satu resep dari Mamak Ephraim si Ultra coklat tea. Satu lagi resep sponge cake black forest dari mama Yuna.
Emang dasar aku malas kali ya... melihat detail resep resep itu, aku jadi males mencoba kedua duanya.
Si Ultra chip itu aku masih ragu bikin cream milk nya.. (sorry ya Maaak...)
Si black forest itu aku malas bikin printilannya . Ada selai oles, ada simple sirup.
Hmm.. jadi bagaimana ya.. akhirnya aku buka buka lagi buku sedap pemula yang ada di rumah, dan sekali lagi mental koboy beraksi. Masaklah aku cake yang nggak ada resepnya. Jadi comot sana comot sini, belagu kayak yang pinter ajah.

So si kue ini berhasil laah, jadi. Mirip cake tepatnya. Dan yang penting buat anakku adalah finishingnya. Yaitu saat hias menghias.
Hiasannya bertema sponge bob. Fathimah mulai penasaran ikutan menghias si kue ini. Setelah dia mencoba, akhirnya komentar : "Mi, ternyata nggak semudah kelihatannya..." Hihi..
Faiz yang ngerasa kue dibikin untuknya... masih setia menunggu walaupun udah 21.30 malam. Dan... dia beraksi dengan tugasnya, menaburkan trimit.
dan inilah hasil kolaborasi itu..

Kue F5, spongebob dan patrick
Dan malam itu pun Faiz berangkat tidur dengan puas.
Pagi pagi ... bangun tidur langsung nyari.
Kue Faiz mana kue Faiz mana (langsung dipamerin ke Teteh dan Ayuk yang udah keburu tidur)
Daaaan.... dengan semangatnya dia minta kue itu dipotong.
Ya sudahlaaah.. nggak jadi di bawa ke sekolah. Biar deh dimakan anak anakku saja. Jumlahnya hampir sama kok. Teman sekelas Faiz cuman 8 orang, anakku ada 5 orang.

Mati Mendadak

Mungkin gurauan ini tidak lucu buat sementara orang. Tapi di keluarga kami, "mati" sering diperbincangkan, dengan harapan anak anak tidak takut pada kematian. Tidak peduli tua atau muda, bila telah tiba pasti akan menghadap-Nya. Tidak bisa dimajukan ataupun dimundurkan.

Ceritanya, minggu lalu aku cek kolesterolku, karena udah lama nggak cek dan nggak olah raga.  Wuih, ternyata, udah mencapai 290, terpaksalah harus minum obat. (kata dokter kantor). Aku dikasih simvastatin. sehari satu tablet
Obat itu kusimpan di meja.
Ayuk : Mi, ini obat apa ?
Ummi : Obat penurun kolesterol
Ayuk : Ummi sakit itu ? bahayanya apa Mi ?
Ummi : Ummi bisa stroke atau bisa mati mendadak
(Sampai disini Mbak Fathimah dan Fikri dah ngomentarin ; "Mana ada orang yang matinya siap siap dulu Mi, semua orang juga matinya mendadak, nggak tahu kapan waktunya" Tapi Ayuk tetap serius)
Ayuk : Ah.. ummi nggak boleh mati dulu. Harus lihat Ayuk besar dulu. Ummi harus makan obat ini. Makan sekarang Mi...
Ummi : Ini dosisnya satu hari satu tablet
AYuk : Hari ini ummi udah minum obat belum ?
Ummi : Udah kok
Ayuk : Terus Ummi nggak boleh makan apa saja ?
Ummi : Goreng gorengan, udang, ati ampela ...
Ayuk : Ya udah Ummi nggak boleh lagi makan gorengan... (sambil menjauhkan gorengan dari jangkauanku). Pokoknya Ummi nggak boleh mati mendadak
Ummi : ketawa ... (puas, ngerjain sesekali)

Rabu, 12 Oktober 2011

Narsis (dot) com

Hihi. ini adalah hasil iseng iseng gara gara nggak bisa tidur setelah minum secangkir kopi.
Udah kubawa merajut satu dompet sampe beres belum ngantuk juga. Iseng iseng aku googling namaku sendiri. Asli iseng...


Eh.. ternyata sampai beberapa halaman di hapeku, masih muncul muncul aja namaku.
Kebanyakan sih dari review review di goodread. Kemudian kicauan kicauan di twitter. Dan tidak menyangka .. ternyata ada salah satu link yang aku sendiri tidak tahu bahwa ada kejadian itu yang menyangkut diriku. 


Ada yang menyebut namaku sebagai pelopor FLP di NTT (alaamaaaakkkk.. betapa tersanjungnya). Padahal ya... terus terang, waktu itu memang aku sempat saling berkirim faksimili dengan tim FLP pusat. Tapi  giliran aku menerima faksimili dari Jakarta tentang syarat syarat dan ketentuan pendirian FLP ini, kertasnya nggak kebaca sama sekali. Jadi sebenernya FLP NTT itu (di masa aku) belum pernah ada. Nggak tau deh sekarang.
Terus ada juga salah satu kejutan lainnya, ternyata ada salah satu ceritaku yang terbit juga di nulisbuku.com yang aku belum tahu. Itu aku dapatkan linknya dari sini. (aku dah invite tp blm dijawab)


Waaah.... ternyata, sesekali narsis itu boleh juga.
Penasaran ? Coba googling namamu sendiri.

Ini cover bukuku itu... 

curhat cinta colongan

Senin, 10 Oktober 2011

Fikri Jualan Pulsa Lho..

Hehe.. ini mah karena ada bakat turunan kali ya.... bakat ku butuh kata orang Sunda. (karena terdesak kebutuhan.)
Fikri dengan ketelatenannya, punya tabungan sekitar 700rb an. Itu jumlah yang sangat banyak buat ukuran anak anakku. Nah, dia ceritanya bingung, uang segitu mau diapain. Nanggung.
Membujuk mbujuk Ummi ngajak patungan beli netbook. Ogah doong.. Ummi belum perlu. hehe.. Eh, kemaren dia baca tabloid komputer, liaaatttt aja ada tablet entah merk apa, seharga 1.089rb saja. Semangat dooongg... dianya.
Mulanya masih berusaha membujuk Ummi patungan beli tablet. (keukeuh pisan nya'...), Ummi juga keukeuh nggak mau. Da belum butuuhhh...
Ya sudah akhirnya dia mencari akal bagaimana cara mempergemuk tabungan dengan lebih cepat. Bukan dari uang jajan yang 2500perak sehari, atau ngirit ongkos ojek 2000perak. Dia tertarik jualan pulsa. Yuhuy... Iyalah. segera difasilitasi. Dianter ke dealer pulsa dekat rumah. Diajarin cara cara pengisian, komplain dsb, go go go.. mulailah Sabtu sore dia jualan.

Kutanyain, Fik, kamu kan punya gratisan sms yah ? Iya, katanya. Sok atuh, promosikan ke seluruh teman temanmu, bahwa kamu jualan pulsa. Sekalian kasih harganya. Klo bisa lebih murah dari yang lain, biar omset lebih banyak. Malam itu dia langsung sms dan langsung dapat order. (hihi.. senengnya...)

Yah pokoknya itu sudah jalan lah.. jualan pulsa.
 Eeeee... pulang kantor kemaren, Fikri lapor, uang pembayaran pulsa 5rb rupiah jatuh entah dimana. Yaaah....
Aku cuman bisa membesarkan hati. "Nggak papa Nak, namanya juga usaha. Nanti pasti dapat gantinya." Chayo Fikri, jualin lagi pulsanya !!!


Minggu, 09 Oktober 2011

Melenggung

Suatu hari, Faiz sedang asyik mewarnai buku gambar di kamar.
Sambil tetap mewarnai dia berkata :

Faiz : Ummi, ummi, Faiz bisa melenggung lho...

Ummi : (sedikit bingung ) melenggung ?

Faiz : Iya.. Faiz bisa melenggung

Ummi : Melenggung gimana ?

Faiz : (berdiri di kasur dan menghadap dinding) Ini lho melenggung (sambil membuat garis lengkung di dinding)


Ummi  : Oooo... bikin garis melengkung.

Faiz : iya.. melenggung.

Ummi : ??? (iya deh)

Senin, 03 Oktober 2011

Mesin Jahit Pinjaman

Seperti pernah aku posting  disini,  aku sekeluarga pakai baju seragaman. Baju para cowok aku masih minta tolong teman untuk menjahit. Tapi baju para cewek, aku sendiri yang menjahit. Aku menjahit pakai mesin jahit pinjaman dari mbak Rakhma yang baik hati.

Ceritanya waktu itu sudah memasuki pekan ketiga Ramadhan. Kebetulan aku dapat halangan. Jadi inilah saat yang tepat untuk menjahit, pikirku. Semua bahan sudah aku potong potong sesuai pola a la Titi. Di Sabtu pagi yang cerah, dengan bersemangat aku panggil mang Ojek langganan. Berrrr.... sepuluh menit nyampe rumah mbak Rakhma. Aku minta nunggu sebentar, dan dapatlah aku pinjaman mesin jahit itu. Langsung aku bawa pulang, aku bongkar bongkar dan mulailah aku beraksi. Oya, kebetulan kan Sabtu anakku sekolah semua, jadi aku bisa leluasa menjahit.

Di tengah aku asyik menjahit, tiba tiba suamiku yang tadinya tengah membaca di kamar, keluar dan mendatangi. Rasa takjub begitu jelas di wajah itu. Memang di rumah ibu mertua ada mesin jahit siiih.., tapi itu mesin jahit jadul yang masih pakai kaki untuk menggerakkan.
Mula mula dipandanginya mesin dari arah depan. Kemudian dari arah samping. Kemudian dari arah belakang (dari posisiku menjahit). Lumayan lama deh.. Dan aku belum pernah melihat ekspresi itu saat melihat barang baru apa pun !!
Tau tidak, selama doi melihat - lihat mesin itu, maka mantra eh doa yang biasa kubaca kalau ada orang lagi melihat lihat daganganku aku bacalah. Sing kabita sing kabita ... (semoga kepengen semoga kepengen hihi.. *berharap dibeliin)
Hu.. andai saja dikau melihat ekspresinya ketika melihatku menjahit itu, tepatnya melihat mesin jahit itu, dan posisinya sama seperti aku (suka jahit tapi belum punya mesin jahit), aku yakin doa yang kubisikkan itu, pasti kau bisikkan pula. :D

Sayangnya, di kotak mesin jahit itu nggak ada lagi buku manualnya, dan aku belum belajar ke mbak Rakhma bagaimana memaksimalkan penggunaannya, jadi aku belum bisa menjahit yang motif motif gitu. Bisanya baru pake yang lurus lurus.

Mau tau penampakan mesin jahit itu ? Inilah dia....
 

mesin jahit mba Rahma

Emang bikin kepengen kaan ??

Kamis, 29 September 2011

Ummi sihh.... ke Kantor !

F5 mau sekolah, pas belum punya seragam
Faiz : Ummi ummi lihat deh, Faiz punya ini dali bu Bulu (dari bu Guru)
(sambil menunjukkan baju seragam sekolahnya)

Ummi : Ihhh.... bagus. Ada gambarnya. Ini  baju apa ?

Faiz : Ini baju sekolah. (bangga)

Ummi : Yaah... Faiz.... Ummi belum pernah lihat Faiz pake baju ini..

Faiz : Ummi siih.. ke kantor, Faiz sekolah (dengan santainya)

Ummi ; ??? Gubrak.

Firda Sakit

Firda, Abi dan Ayuk
Kemarin lusa, Teteh pulang sekolah diare. Adoooh.. segera aku berfikir. Jajan apa makan apa dan sebangsanya. Secara setelah lebaran ini aku kembali memberi uang jajan sama anak anak. padahal sebelumnya aku dah komitmen membekali makanan rumah.

Bertahan untuk tidak memberi obat berbahan kimia, aku hanya memberi madu dicampur air. Kata temenku, madu itu bermanfaat mengurangi sembelit. tapi sekaligus mencegah diare kalau anak diare. Yah kucoba aja.
karena malamnya panas, aku tambahkan antifus.
Trus kemarin nggak sekolah.

Nah semalam aku lupa nggak ngasih antifus karena ketiduran. Adoooh....
Pagi tadi Firda cerita katanya tadi malam nangis, mau minum obat. Daaan.. ajaib.. yang terbangun adalah Abi. Walhasil Abi-lah yang memberi dia obat.
Syukurlaaah.. tadi pagi udah sekolah lagi.
Dan barusan kutelepon sekolah lancar, nggak ada keluhan lagi. Alhamdulillaaah...

Senin, 26 September 2011

mudik lebaran

Huaaaa... udah kelamaan. Tapi nggak papa lah. Daripada enggak di upload. Ini beberapa foto waktu mudik kemarin. Ada beberapa perbedaan dari setahun lalu.
Yang nempatin rumah Eyang bukan lagi adik bungsu Abi, tapi jadi adik laki Abi, Om Iyen. Karena Ujuk dan Om Andi udah punya rumah sendiri. (alhamdulillah)
Tante Mpi dan Om Adi sekarang nempatin rumah bekas Om Iyen sekaligus melanjutkan bisnis keluarga (toko).

sekeluarga di rumah eyang

keluarga Om Iyen, yang nemenin Eyang di rumah.

keluarga besar Eyang

Faiz bersama sepupu, di salah satu sudut rumah Om Andi

asyiknya kumpul bocah, berebut game pun dijabanin

  
aku dan tante mPie di depan toko

  
foto bersama sebelum berangkat


Selasa, 20 September 2011

Faiz Sekolah !

Sebenernya aku dan suami belum berniat menyekolahkan Faiz tahun ini. Pertama, belum ada anggaran tentu saja. Kedua, usianya belum cukup untuk masuk TK A.
Akan tetapi, perasaan orang tua mana yang tidak luluh, kalau setiap pagi kakak kakaknya keluar pada mau sekolah, si adek menangis nangis minta sekolah.
Sempat kepikiran mau dibawa ke day care dekat kantor, yang masih terjangkau harganya, tapi enaknya di sana anak-anaknya diajak 'sekolah'. Karena si day care ini menyatu dengan sekolahan. Tapi dipikir pikir, kasian amat ya, harus siap siap dari pagi, naik motor pula dan jauh dari rumah.

Pada suatu Sabtu pagi, pas ke warung dekat rumah, tiba tiba saja kepikiran masukin Faiz ke Paud di depan warung itu. Selama ini sebenarnya Faiz udah sering main ke Paud/TK itu, untuk sekedar numpang main ayunan dan mainan lainnya. Tapi karena kurang sreg betul dengan sekolah itu, jadi nggak kepikiran masukin Faiz ke sana.

Pas dipikir pikir, dari pada Faiz tiap hari main ke rumah Bibi, dan main itu itu saja sama Eka -cucu Bibi, kenapa nggak sekolahin saja mereka berdua. Biar lebih berdaya dan saling memberdayakan. (halaaah.. lebay banget bahasanya).
Maka mulailah aku PDKT sama Bibi biar mengijinkan Eka sekolah. Kami akan membantu biaya sekolahnya. Soal perbekalan ke sekolah, lha wong nggak sekolah aja si Eka stok makannannya melebihi anak anakku yang sekolah. Bibi belanja ke pasar tiap minggu aneka biskuit, kacang, susu, dll camilan anak anak, dan permen (Faiz kebagian juga). Jadi masalah bekal sekolah, cincay laaah..

Awalnya Bibi nggak mau, nanti aja ke SD langsung katanya. Aku bilang bibi nggak boleh menghalangi rejeki Eka. Yang mau sekolah kan Eka, bukan Bibi. (kataku pelan pelan). Aku tetap daftarin, tetap kuisikan formulir dan kumintakan akte kelahiran Eka. Alhamdulillah, sehari sebelum sekolah, Bibi mengijinkan.

Jadilah Eka dan Faiz ada di satu kelas Paud, sekolahnya Selasa Kamis Sabtu. Alhamdulillah aku bisa nganter di hari Sabtu. Eh, setelah lebaran ini, jadwal Paud berubah ke Senin Rabu Jumat.Walaupun aku nggak bisa nganter lagi, masih ada Mbak Fathimah yang libur di hari Rabu, untuk mengantar ke sekolah.
Inilah foto foto yang diambil mbak Fathimah.
Oyah, baru di foto sekarang, karena seragam baru dibagikaan..

Eka nyamperin ke rumah

  
siap berangkat di depan rumah

aih.. ternyata berangkatnya digendong

  
Faiz, kamu mau digendong Mama Eka ya

  

daya tarik sekolahan, jungkat jungkit
  

mainan putar putaran, aku nggak tau namanya apa
  

lihat tuh, menikmati banget mainnya
  

jembatan goyang
  

ayunan butut yang masih terasa so sweeet krn bisa dipake berdua
 

main ular naga, lihat bu Guru semangat sekali
  

Kamis, 15 September 2011

Kenangan Seputar Pernikahan

moment 18 desember 1996
Membaca status seorang teman di facebook beberapa hari lalu.
"Usia pernikahan yang rentan godaan adalah 15-20 tahun "


Ups ! Itu kan usia pernikahanku... haiyyaaa...
Bismillah ah.. Semoga ALlah membimbing kami selalu. Amiiin...

Aku bertemu dengan (calon ) suamiku (waktu itu.... ) dipertemukan oleh seseorang yang aku hormati dan aku percayai.
Kondisinya si dia sudah jadi PNS dengan penempatan di Kupang. NTT.  Sedangkan aku PNS dengan penempatan di Jakarta.
Sebagai seorang gadis muda (cie...), punya duit (cie....) bebas (cie...emang sekarang enggak bebas yah ) aku berusaha mengisi waktu sebaik baiknya. Di sela sela pekerjaanku sebagai PNS, aku mau saja ketika diajak beraktivitas di sebuah yayasan pemberdayaan muslimah di selatan Jakarta oleh mbak Ida. Hubunganku yang intens sebagai sekretaris yayasan dan Mbak Ida sebagai ketua, membuat kami saling dekat dan saling percaya.
Sekitar awal Oktober 1996, tiba tiba mbak Ida menanyakan kesiapanku untuk menikah. Aku yang waktu itu masih menikmati kebebasan (dari belajar mata pelajaran maksudnya dan tentu saja jalan sana jalan sini di akhir pekan...) merasa belum cukup siap.  Berbagai alasan aku kemukakan, dari nggak bisa masak, masih males mandi sore, sampai belum khatam baca  Tarbiyatul Aulad-nya Abdullah Nasih Ulwan.
Tapi mbak Ida selalu menjawab dengan lugas, dan memberikan pandangan pandangan yang akhirnya membuatku luluh, antara lain beliau menyitir sebuah hadist Nabi SAW, yang katanya kalau berani menolak lamaran seorang laki laki sholeh sudah datang maka tunggulah keputusan ALlah. Huuuu... takuuut...
Akhirnya aku berikan biodata lengkapku, dan biodata keluarga serta gambaran kondisinya. Beberapa hari kemudian, mbak Ida meneleponku di kantor, katanya aku disuruh ambil biodata Ikhwan. Aku sedikit malas waktu itu, hihi.. sok jual mahal, akhirnyya disepakati numpang nerima faks di lobby Gedung Republika, dekat kost ku di Jalan Sawo. Hah kok bisa ? Iyah, aku berhasil SKSD sama front office Republika, karena  beberapa bulan sebelumnya aku sempat audisi ngelamar di Dompet Dhuafa (di tolak pas test terakhir, tinggal dua orang, sainganku lulusan D3 Akuntansi UGM).
Aku mulai mantengin biodata, mencari kesamaan-kesamaan (a.l. sama sama keluarga besar, ayahnya berdarah Jawa, meski tinggal di Sumatera) dan yang ada aku cuman minder...
Anehnya, faks itu terputus bagian atasnya, pas di BAGIAN NAMA ybs.
Jadi yang ada cuman data data pribadi, orang tua, dan saudara saudara.... Ya sudahlah...
Aku terlalu gengsi untuk menanyakan namanya ke Mbak Ida.  Beberapa hari kemudian, aku diminta datang ke rumah Mbak Ida, sendirian. Acaranya : Ta'aruf.
Aku inget waktu itu tanggal 28 Oktober 1996. Harusnya aku upacara, malah mangkir. hehehe..
Sesampai aku di rumah mbak Ida, rumah seperti kuncen (terkunci). Aku bolak balik dari pintu depan ke pintu samping, uluk salam.. eh nggak dibuka bukain. Setelah menunggu sekitar 10 menit barulah pintu terbuka dari samping. Aku masuk ke rumah Mbak Ida.
Tidak lama kemudian Mbak Ida membuka pintu depan, dan masuklah Ustadz Zen, suaminya, bersama seseorang yang aku nggak tau namanya.
Setelah Ustadz membuka dengan salam, dan memaparkan maksud pertemuan, maka dimulailah tanya jawab antara aku dan dia tentang berbagai hal. (Nama, tentu saja aku tanyakan.haha Mohamad Fajar, atas saran mbak Ida, aku memanggil Mas Fajar)
Aku sampai lupa waktu nggak tau berapa lama, tau tau udahan aja.
Oyah, hari itu juga aku baru menerima selembar foto (cie cie.....) semacam cover boy gitu laaaah...(*yuhuuu...melambung), artinya, aku belum melihat wajah 'sang calon' sampai saat ta'aruf.
Maka tahulah aku, bahwa doi bekerja di Kupang, sedang diklat 3 bulan sampai Desember di Jakarta ini. Dan Januari sudah harus ngantor lagi.
Dan disepakati tanggal 10 November keluarganya mau ke rumahku di Cilacap. So aku harus memberikan prolog.
Kebetulan Bapak dan Ibu sudah faham tentang "cara pernikahan lewat ta'aruf" itu. Jadi yah Ok OK saja dan siap menerima tamu tanggal 10 November.
10 November aku pulang . si Mas datang bersama kakak iparnya yang pertama. (Papa Echi) Dengan pertimbangan, Ayah sudah tua, kalau harus bolak balik melakukan perjalanan jauh, khawatir kecapekan.
Dari pembicaraan orang tuaku dan wakil orangtuanya, ketemulah tanggal pernikahan 18 Desember 1997. Agak sedikit alot, karena tanggal 13 Desember Mas-ku juga menikah di Temanggung. Kata orang Jawa nggak boleh mantu dalam tahun yang sama. Sementara si Mas Fajar dikejar deadline, bulan Januari harus sudah ngantor lagi. Yah tapi dalam bulan yang sama malah boleh kali ya...hehe
Selain itu, mas mas-ku juga meragukan kesungguhan si calon mempelai. Mana jauh .. mana belum kenal, tapi aku mencoba meyakinkan. Dan sepanjang Bapak menyetujui, bismillah.
Maka tadaaa..... tiba tiba si gadis bengal ini menikah pada tanggal 18 Desember 1996.
Pesan Oom-ku setelah menikah nanti "madhep, mantep, sedhakep"  (artinya kurleb mantap dan setia).

Berbagai fakta seputar pernikahan :
-aku baru mengenal Ayah dan Ibu Lampung sehari menjelang hari H, yang datang bersama Papa dan Mama Echi, dan dua adik si Mas.
- ibuku cuman sebentar nemenin di pelaminan, keburu nggak kuat karena kecapekan. Seminggu mantu dua kali gitu lho... sampai sampai nggak ada foto Ibuku di hari pernikahanku. (hiks *netes air mata)
- film dari kamera ada yang kesingsal, nyelip entah dimana, jadi beberapa momen tidak terabadikan (hiks)
-Aaaaaah... aku lupa apa isi khotbah nikahnya... terlalu melambung dan mengawang dan berbagai macam pikiran tentang perubahan status ini, aku tidak menyimak (huh !).
-undangan tercetak dobel, aku nyetak ke temen di Jakarta, Bapak juga nyetak sendiri di kampung
-banyak teman dan handai taulan yang terlewat gak diundang (ini mah biasa yah)
-harus siap siap tanggal 30 Desember,suamiku (cieeee....suami ni ye...) udah harus naik kapal berangkat ke Kupang, sedang aku tetap di Jakarta mengurus proses pindah (hikhikhik)
-Membagi 12 hari tersisa untuk keluarga di Cilacap, dan Keluarga di Lampung (membayangkan tinggal sama mertua, tapi alhamdulillah, Ibu lampung sayang sama aku.GR )
yang ini dari suamiku :
-waktu aku mondar mandir di depan rumah mbak Ida di hari ta'aruf itu, ternyata (calon) suamiku dan Ustadz Zein  duduk di ruang tamu rumah sebrang mbak Ida, itu  disengaja, supaya mas Fajar bisa melihatku sebelum ta'aruf. (Oalaaaah.. pantesan, lama nggak dibuka bukain pintu)
-ternyata suamiku di kasih biodata dua amplop, satu di tangan kanan, dan satu di tangan kiri. pas ditanya Ustadz Zein, suamiku milih yang di tangan kanan (biodataku) . Klo aku lagi bandel, suamiku suka bercanda, coba pilih yang kiri, pasti nggak seperti kamu.. wkwkwkwk..

Catatan setelah (hampir) 15 tahun menikah :
*baik baik ajah tuh.. yah tangis tangisan dan marahan mah hal yang biasa, coba yang pacaran dulu sekian tahun, apakah tidak pernah marahan? Ada yang melirik lirik suamiku, yah wajarlah, soalnya kan suamiku cakep yah (narsisdotcom), dan baby face. (baby face apa babe face ?) Yang penting suami tetap setia. Malahan selama jadi anggota PerpusDa NTT, petugas perpus selalu mencari nama suamiku di kotak "mahasiswa". Pernah juga pas shalat di sebuah masjid, ditanya Bapak bapak, mau nggak nikah sama anaknya. Pas dibilangin anak udah tiga, si Bapak nggak percaya. Yaelaaah...
*pacaran ba'da nikah ternyata lebih mengasyikan, habis marahan nggak bakalan lari kabur kemana, lha wong sudah suami istri. dan halaal.. mau diapa apain juga.. (diapain hayo ??)
*karena niat awalnya adalah menyempurnakan dien, maka kekurangan kekurangan yang ada untuk diperbaiki bersama, bukan menjadi alasan untuk tidak menerima. Perbedaan perbedaan menjadi pewarna, dan persamaan menjadi perekat cinta.
*dengan diawali dengan proses yang baik (tanpa pacaran), semoga perjalanan (pernikahan ini) baik, melahirkan anak yang baik baik dan berakhir baik juga kelak.
*Kami bertemu karena dipertemukan Allah, semoga Allah saja yang memisahkan. Amiiin...

Ini foto pernikahannya... eh salah, itu foto malam harinya, pas silaturrahmi keluarga. Karena foto nikahnya ilang... Ki-ka, Bapakku, suamiku, aku, dan Ayah Lampung.

Oya, tulisan ini dalam rangka ikut kontes give away-nya neng Orin yang cantik....

Faiz Maen Game


maen game di kapal ferry menuju Merak

Faiz lagi demen pinjem hape game milik kakaknya.
Ummi : Faiz lagi apa ?
Faiz    : Lagi maen game. (sambil cuek)
Ummi : Maen game apa ?
Faiz    : ya game opel  ("game-over" tetep cuek)
Ummi ; ??? kok game over ?
Faiz    : ya memang (massiiiihh... tetep cuek megangin hape game)

Minggu, 11 September 2011

Panggilan Tak Terjawab : 30 kali !

Masih seputar anak ABG.
Setelah kemarin aku cerita tentang F2, kali ini tentang F1, mbak  Fathimah.
Salah satu hal yang marak di bulan ramadhan, adalah fenomena buka bersama atau buka bareng. (bukbar). Termasuk anak anak ini. Fikri buka bersama di sekolah, dilanjutkan mabit dan shalat malam bersama. Alhamdulillah lancar.

F3 juga ngadain bukbar sama teman-temannya. Kebetulan acaranya di rumah. Jadi aku nggak perlu antar jemput. Ternyata 3 orang teman F3 yang buka bareng itu, dijemput setelah maghrib oleh ayah/ibu-nya yang kebetulan baru pulang kantor. Yaelah... pantes aja...

F1 ada acara bukbar sama teman teman eskul-nya di PMR. Sebenarnya aku kurang setuju yah.. karena mikirin nanti pulangnya bagaimana. Tapi berhubung Abi mau jemput, dan memberi ijin, toh acaranya di sekolah ini, ya sudahlah. Aku tinggal nurut.
Jadilah acaranya hari Rabu. Hari Senin pas berangkat bareng di pagi hari, aku tanya, hari ini pulang jam berapa... Dia jawab pulang sore. Mau ngedekor dulu. Ya sudah.. sore aku cek udah di rumah jam 4


Hari selasa pagi aku tanya lagi, hari ini pulang jam berapa. Dia bilang pulang sore.
Kupikir sudah minta ijin Abi. Soalnya semua perijinan kan di tangan Bapak Beliau itu.
Jam 3-an aku telepon rumah, yang ngangkat F3. Pas aku tanya, mbak udah pulang belum, katanya sudah. Tapi sambil masih tetap teriak main main sama F4, F5 dan F2 yang kebetulan pulang cepat. Ya sudah aku tenang aja. Kupikir sudah pulang.
Nah sore sekitar jam 5-an, pas kami -aku dan suami- pulang kantor, aku lihat ada anak anak pake baju PMR baru keluar dari ujung gang sekolah F1. Naluri seorang Ibu dong, langsung jalan. Kok ada anak PMR baru pulang.
Langsung aku SMS F1, "Udah pulang belum ?" nggak ada jawaban
Terus aku telepon.  Nggak diangkat. Teruss telepon lagi, nggak diangkat lagi. Kira kira selama 20 menit perjalanan dari sekolah F1 sampai rumah aku berusaha menelepon F1. Sesekali menelepon rumah, sudah sampai rumah belum.
Aku gemesss banget. Mbak ini kan nggak pernah jauh jauh dari HP-nya. Pasti ini disengaja. (langsung deh, negative thingking)
Si Abi juga marah sepertinya.  Karena ternyata F1 pergi tanpa ijin sebelumnya.
Kira kira setengah 6, F1 datang dari arah kiri, naik ojeg. (Tuh lihat, dia sudah naik ojeg mengambil jalan pintas, pasti dia tahu kalau lagi jadi MOST WANTED)
Begitu masuk rumah,  langsung Abi marah.
"Mana HP-nya ?"  Mbak kasih hp-nya ke Abi.
Si Mbak langsung mandi dan mengaji sambil nunggu buka. Aku memilih diam sambil menyiapkan segala macam ini dan itu buat buka puasa. Walaupun gondok banget.
Setelah shalat maghrib berjamaah, Abi melanjutkan "urusan" dg F1.
"Percuma kamu dikasih hape, hape itu gunanya supaya kamu mudah menghubungi dan dihubungi. Kenapa kamu pulang jam segini ?"
"Mbak latihan dulu, nyiapin buat pentas besok sama  nyelesaiin dekor" kata mbak
"Kenapa nggak minta ijin ?" tanya Abi lagi
"Tadi udah sms" kata Mbak
"Nggak ada tuh SMS masuk, hp Abi nyala terus. Abi buka nomor yang lama juga nggak ada"
Mbak diam.
"Abi tuh nggak ngelarang kamu pergi asalkan bener, dan minta ijin. Kamu pergi 3 hari untuk camping aja Abi ngijinin"
Si Mbak cuman diem. Yah nggak ada pilihan laen lah. Kupikir kali dia takut hari ini gak dapat ijin. Senin kemaren udah pulang sore, Selasa pulang sore, Rabu pulang malam.
Satu keputusan dikeluarkan : ijin bukbar besok dicabut.
Mbak masuk kamar dan menulis menulis diari. Sampai sampai ke masjidpun taraweh bawa buku. Biasanya bawa buku catatan ceramah, ini mah bawa buku diary. Emang sempat gitu, nulisnya.. hehe..

Malemnya, Abi bisik bisik. Bilangin mbak suruh minta maaf ke Abi. Besok diijinin bukbar. Halah, si Abi nih.. ternyata ngelarangnya nggak sungguh sungguh.
Yah, itu shock therapy aja .. kata Abi.
Jadi ingat kata kata Sondang apa si Ibu peri bapak jahat, atau sebaliknya yah.. Ah sudahlah, tanggung jawab ayahnya. Biarin. Tapi aku nggak bilang yah.. bahwa kalau Mbak minta maaf ke Abi, bakalan dikasih ijin bukbar besok.
Jadilah sepulang tarawih itu, aku suruh Mbak minta maaf ke Abi. Meski sambil manyun manyun, Akhirnya dia minta maaf. Intinya malam itu si Mbak dapat wejangan (haiyaa.. bahasanya) .
Besok paginya, hape dikembalikan, dan ijin diberikan kembali.

Pas berangkat ke kantor, sambil duduk manis di boncengan, iseng iseng aku ngapusin SMS. Eh, kepencet rekaman panggilan. Ya Ampuuuun.. aku nelpon Mbak Fathimah kemaren sore 30 kali !!!

Kamis, 08 September 2011

Fikri Kecelakaan !!!


gambar karya Teteh
Sebenarnya agak malas menuliskan kejadian ini. Pertama kejadiannya sudah lewat hampir dua minggu lalu. Kedua, kejadiannya nggak enak. Jadi nggak enak mood juga untuk mengenangnya. Tapi kupikir ada sebuah pelajaran yang bisa kuambil, dan mungkin juga buat emak emak yang sudah punya anak menjelang remaja.
Jumat tgl 26 Agustus lalu adalah rencana kami sekeluarga mudik ke Lampung. Di tengah acara packing packing, ada dua teman Fikri datang.  Mereka berboncengan naik motor. Hmm... terserahlah.. orang tua mereka ngijinin naik motor.
Trus aku ke pasar sebentar mencari beberapa keperluan. Sepulangku dari pasar, dua tamu cilik itu masih di rumah. (nggak cilik cilik amat sih, udah kelas 1 SMP)
Tiba tiba Fikri minta ijin mau Shalat Jumat di Giri Mekar. (Komplek tempat tinggal temannya itu). Yah, sesuai kesepakatan bersama, semua perijinan ada di tangan Abi. AKhirnya Fikri nelpon Abi. Dan dapat ijin shalat Jumat di sana.

Kira kira setengah dua, Abi datang  dan menanyakan, mana Fikri.
Maka aku SMS-lah Fikri.  Eh dasar bocah, nggak ngejawab.  Memang si F2 ini rada kurang lincah dalam menjawab SMS, alias males. Yah .. mungkin udah feeling orang tua kali yah... beberapa saat kemudian aku telpon. Diangkat, suaranya kecil banget.
"Fikri dimana ?"
"Di jalan, udah mau pulang nih. Ada kejadian"
"Kejadian apa ?" aku dah khawatir
"Yai udah dekat rumah" katanya. Telpon kututup.
Benar, tidak lama kemudian ada suara motor di depan, maka aku segera keluar.
Kaget aku, kok bukan ojeg ? Tapi seseorang berpakaian Satpam.
Kulihat Fikri. Kulihat Satpam. Berganti ganti kupandangi mereka.

"Yai  jatuh dari motor sama Ufi." kata Fikri sambil menunduk.
Gimana ceritanya ? sergahku
Berikut cerita versi Fikri
"Ufi bawa motor ke Ujungberung Indah, Yai di belakang. Tiba tiba Ufi bilang 'Fik kamu yang pegang setir' , terus Yai bilang Yai nggak bisa, tapi Ufi langsung lepas tangan jadi Yai langsung pegang setirnya. yah terus hilang kendali gitu deh, terus jatuh."
Aih, Sejenak naik darah, mana mau pulang, mana lagi beberes, pengen marah aja. tapi inget lagi puasa.
Segera kupanggil Abi yang masih di dalam. Kupikir mumpung ada saksi mata si Pak satpam itu. "Abiiii... sini... " (nggak teriak lho, rasanya seperti udah mati rasa, garing gitu. jadi datar aja.
Jreng jreng jreng... Berikut cerita versi Pak Satpam
"Putra Bapak dan Ibu, naik motor dengan temannya. Saya lihat dari jauh sudah oleng kiri kanan kiri kanan. Ban depan motornya kempes. Siapapun yang mengendalikan akan susah. Tadi pas ada mobil,mungkin kaget atau bagaimana, mereka ini menabrak pagar. Teman putra Bapak sudah saya antarkan ke rumahnya. Motor masih saya amankan. "
"Siapa yang di depan ?" tanya suamiku
"Teman putra Bapak." Jawab pak Satpam.
"Baik Pak, terima kasih atas bantuan Bapak." kata suamiku.
"Sama sama Pak, saya pamit dulu karena jam tiga nanti saya ganti shift"
"Mangga, Pak.." Kata suamiku. Aku ikut mengangguk dan senyum terima kasih ke Pak Satpam, namanya Pak Otong.

(Terus terang sejenak aku agak tenang, bukan Fikri yang bawa motornya. Karena Ufi, temannya itu, agak parah. Giginya lepas dua, bibirnya sobek, dan  saat Fikri diantar ke rumah  siang itu, Ufi sudah dalam perjalanan ke Rumah Sakit sama tetangganya, karena -kata Fikri- ayahnya lagi di Batam, dan adiknya sedang tidur, sehingga Mama Ufi tidak bisa mengantar.)

Waktu berjalan cepat rupanya. Sudah jam dua. Kami pesan taksi jam 4. Diskusi sebentar dengan Abi, kayaknya kami harus ke rumah Ufi, untuk bertemu orang tuanya, bagaimana bagaimana lah... Karena di rumah Ufi cuman ada Mama-nya maka Abi bilang mending aku yang ke sana.
Berangkatlah aku dan fikri (dan Faiz juga) ke rumah Ufi. Di perjalanan Fikri cerita, tadi pas perjalanan ke rumah Ufi, Yai disuruh diem aja di depan Mama Ufi., jangan nyalahin Ufi di depan mamanya. Aku diem aja, males komentarlah.

Sesampai di sana, rumah tertutup. Kupikir Mama Ufi sudah menggendong anaknya yang tidur itu dan berangkat ke rumah sakit. (membayangkan kalau aku yang mengalami ). Eh, ternyata masih di rumah. Ya ampuuunnn.. wajah itu begitu familiar.. sering ketemu di sekolah (Gimana enggak ? berteman 6 tahun )

"aduh Umi Fikri... saya sudah bingung bagaimana dengan Ufi ini. Anak itu nakal banget, nggak pernah nurut sama saya. Nggak ada takutnya sama saya. Kalau main nggak tahu kemana, dan pulang jam berapa, saya nggak bisa nyarinya. Anak itu nggaaaak ada kapoknya. Itu udah pernah jatuh dari sepeda, giginya patah. Masih dalam perawatan. Eh, sekarang nambah lagi patah. Aduh.. saya sudah capek rasanya"
Kontan aku bengong di berondong seperti itu.
"Oh, kirain dia diijinin naik motor" kataku polos.
"Nggak Bu.. .saya sudah melarang. Saya sudah umpetin itu kunci, kadang di lemari kadang di saku. Dia tahuuuuu aja.  Dia bisa motor itu belajar sendiri nggak tahu. Kalau ayahnya ke kantor, saya pengajian atau kemana, dia keluarin masukin itu motor. Saya tahu dari adiknya ini.  Sampai suatu ketika, saya bangun tidur kaget motor nggak ada, tahunya Ufi sudah bawa naik turun di depan itu."
(Aku semakin bengong)
"Terus sekarang Ufi sama siapa Bu ?"
"Sama Bapak sebelah ini, saya nggak tahan melihat darah. Lagian adiknya ini sama siapa kalau saya pergi. Saya kesel banget, saya udah capek"
"Saya bisa bantu apa Bu ? soalnya saya mau mudik sore ini jam  empat. Kalau saya ambilin motornya juga nggak bisa bawanya karena harus ditambal dulu. Paling saya carikan informasinya saja ya Bu, motornya di rumah siapa, dan saya cari pak Otong sama no telponnya. " (Posisinya aku masih merasa bahwa salah Ufi-lah motor itu bisa jatuh). Kemudian aku dan Mama Ufi bertukar nomor telepon

Tiba tiba hp Mama Ufi bunyi. Telpon dari suaminya. Gak terkuping pembicaraannya apa. Tapi terdengar jelas Mama Ufi bilang, Fikri nggak bisa ngambilin motor, karena mau pulang kampung jam 4. Setelah selesai bertelpon, mama Ufi bilang

"Telpon dari ayahnya, katanya Ufi di tolak di RSUD Ujungberung. Nggak ada dokternya. Jadi dibawa ke RS Santo Yusuf"
Aku kaget. Biasanya kalau ditolak kan parah gitu..
"Memang lukanya parah ya Bu ?"
"Ya dokter giginya di Ujungberung sudah nggak ada. Terus nggak tahu bibirnya itu perlu di jahit mungkin. Tadi kejadiannya gimana Fik ? Tanya Mama Ufi ke Fikri.
"Yah, aku lupa persisnya. kira kira seperti yang diceritain sama Bapak itu tadi" kata Fikri diplomatis.
"Kata Ufi tadi gara gara di gas sama Fikri, makanya nabrak" kata Mama Ufi
Deg !! Ufi nyalahin Fikri di depan mamanya.
"Anak saya kan belum bisa bawa motor Bu" kataku perlahan, setengah membela diri.
"Iya, Ufi itu sudah saya larang membonceng teman temannya, takut kenapa kenapa. Yah seperti ini kejadiannya."
Ah.. merasa sudah nggak enak banget. Dan diburu waktu juga, bla bla bla aku akhirnya pamit. Aku nggak ninggalin uang, selain karena nggak bawa (yah.. aku kan lagi beberes rumah tadi itu.. kupikir, uang itu seolah menjadi "pengakuan bersalah" bahwa Fikri yang bikin gara gara )
Nggak langsung pulang, tapi aku pergi ke Komplek Ujungberung Indah. Bayangkanlah posisinya. Dari rumahku ini, Giri mekar itu ke arah kiri, naik kira kira 1km. dan Komplek Ujungberung Indah itu dari rumahku ke arah kanan, kira kira 1km jg. Dasar anak anak ! Dari Giri Mekar ke Uber Indah itu kan lewat depan rumah. Bukannya berhenti dan pulang malah jalan jalan. Aku nggak sepenuhnya nyalahin Ufi yang ngebablasin motor, Fikri juga kayaknya seneng seneng aja dibawa jalan jalan.
Sesampai di Uber Indah, tanya Fikri dimana TKP-nya dia juga nggak ingat. Huh !!
(Walaupun akhirnya maklum, klo kita nggak pada posisi nyetir, kita susah nginget nginget jalan ya..)
Setelah tanya Satpam sana sini, ketemulah pos di mana pak Otong bertugas. Aku minta nomor telponnya dan aku minta alamat rumah dimana motor Ufi di titipkan. Sepanjang aku ke Ujungberung Indah, telponku bolak balik bunyi. Panggilan dari rumah. Nggak ku angkat, wlp hape di pegang Fikri.  SMS masuk, Fikri membuka  "Kata Abi cepat pulang, masih banyak yang harus diurus". Aih si Abi ini... pan kita juga lagi nyelesaiin satu urusan. Tapi aku cepat cepat pulang jg sih....
Sambil pulang aku bicara sama Fikri, tuh Fik, nggak mungkin kan anak anak dilarang naik motor kalau nggak ada sebabnya. Ufi kan udah lama bisa naik motor, masa' ban kempes nggak kerasa. Padahal itu kan bahaya, apalagi kalau ban depan. Mungkin karena sensitifitas anak anak belum ada, kewaspadaan belum cukup, tenaga juga masih kurang, sehingga belum diijinin bawa motor. Fikri diem saja.

Aku nyampe rumah sudah jam 3 sore. Satu jam lagi. Masih harus membereskan sisa sisa makan siang Faiz dan wadah wadahnya. Menyiapkan bekal untuk buka puasa. Sesuai pembicaraan pagi tadi, aku masak nasi, Abi yang beli lauk pauk buat buka. Untuk sahur aku udah pesan Eci agar beli KFC saja.

Begitulah... ada beberapa kejadian yang -menurutku- masih menggantung
- siapa yang benar omongannya antara Fikri dan Ufi ? (Tapi aku yakini kesaksian Satpam itu)
- apakah aku harus ikut menanggung biaya pengobatan Ufi ?
- sampai saat ini Fikri tidak bisa menghubungi Ufi di nomor hapenya, dan aku belum punya cukup nyali untuk menghubungi Mama Ufi.

Pelajarannya :
-  Tidak cukup aku melarang anakku naik motor/mengendarai motor. Tapi mereka harus kuberi pemahaman, agar tidak mau dibonceng oleh temannya yang belum punya SIM walaupun mereka sudah bisa naik motor.
-  Aku tidak cukup mengenali dengan dekat teman teman anakku. Ya Ampuun.. seorang Mama Ufi sampai komentar begitu terhadap anaknya. Nggak tau karena lagi marah atau karena begitu kenyataannya, perasaan kalau ketemu di sekolah nggak gitu gitu amat.
-  Aku tekankan lagi ke anak anak, pergilah sesuai ijin yang diberikan.
-  Mungkin aku kurang kuat membentengi anak anakku dengan doa doa. Ampun ya Allah... Ini pelarian terakhirku. Tidak akan menimpaku kecuali apa apa yang sudah Dia atur untukku

Minggu, 21 Agustus 2011

Obrolan di Pagi Hari


Salah satu yang kusukai di bulan Ramadhan adalah, space waktu yang panjang di pagi hari, untuk bersantai bersama keluarga.  Setelah sahur,  masih bisa duduk duduk, masih bisa mengobrol, tidak perlu ke warung, masak sarapan, dsb. 

Seminggu lalu, sehabis sahur  aku lagi duduk duduk di kasur Faiz. Setelah mengaji, Abi menyusul ke kamar. Trus nanyain kabar adik adikku dan kakak kakakku. Hehe.. memang aku ini jadi seperti PR. Humas sana sini. Ke keluargaku aku yang menjalin silaturrahim, ke keluarga suami, aku juga yang melakukan itu. (kayaknya rata rata, para istri berperan seperti itu yah..)
 
Aku tujuh bersaudara, tapi tidak ada satupun yang sekota. Tiga kakakku di Cilacap, Jaksel dan Kuningan. Tiga adikku di Temanggung, Sumatera dan Bekasi.  Lain dengan Abi, dari delapan bersaudara, cuma Abi yg di luar Lampung. Jadi kalau kami ke Lampung ya langsung ketemu semua. Sekali menyeberang laut, 7 keluarga terlampaui. hehe


Yuk, balik ke adik dan kakakku. Ceritanya adik bungsuku, baru punya bayi, 31 Juli kemarin. Aku belum sempat nengokin, karena keburu puasa.
Pinginku, habis lebaran aku bisa nengok. Walaupun, di keluarga Ibu-bapakku, tidak ada tradisi tengok menengok pas lahiran. Misal, Oomku/Bulik/Budhe/Pak Dhe punya bayi, aku tidak ingat Bpk Ibu pernah pergi atau tidak. Hihi, mungkin karena Ibuku bungsu, jadi yang punya bayi terakhir ya ibuku.. atau Mungkin karena kondisi ekonomi yang pas pasan, sehingga tidak ada alokasi dana ke sana. Bapak Ibu PNS, punya anak tujuh, kebayang repotnya. Maka kebiasaan itupun, turun ke kami, anak anaknya, sekarang -setelah Bapak dan Ibu meninggal- tujuh bersaudara ini tidak biasa saling tengok menengok, kalau tidak ada acara penting.  Alasannya, karena mungkin kondisi ekonomi yang pas pas-an, kedua yah, karena tidak dibiasakan dari orangtua. Yah... masih alhamdulillah sih, sekarang bisa sering sering sms-an atau telpon telponan.

Nah, pas nih momennya. Setelah kuceritakan tentang Mas mas dan adik adik, aku bilang ke Abi :
"Ta, nanti habis lebaran Ummi nengokin bayinya Sapto ya.. kan bisa bolak balik. Ke Bekasi kan udah ada travel dari MTC"  (aku nggak pake "kita nengokin Sapto" karena secara biaya pasti akan besar sekali kalau full team ke Bekasi, habis mudik lebaran gitu lho)
"Kamu sempat ?"  jawab Abi
"Ya, insya Allah. Bukan pas habis lebaran banget, pas hari Sabtu atau Minggu aja" jawabku.
"Mau nginep juga boleh kok, di rumah adik sendiri ini." sambung Abi lagi.
*ih .. senengnya...*
"Iya lah, berarti Teteh sama Faiz ikut ya...?"
Abi mengangguk
Terus aku bilang
"Kadang Ummi mikir ya, orang orang kok pada pulang balik Jakarta begitu mudah, Kita punya keluarga di Jakarta susah banget mau ketemu." (Pertemuan terakhir, Juli dua tahun yl, pas Sapto menikah)

Abi menjawab, rada tinggi nadanya
"Yah kalau ada duit, kemana saja sekarang menjadi mudah. Jangankan cuma bolak balik Jakarta. Mau ke Singapura, mau ke luar negeri juga mudah. Makanya Abi sekarang nggak pernah buka facebook, karena isinya kok malah seperti ajang pamer. Liburan ke mana, makan di mana, lagi beli ini, lagi beli itu ..... Padahal nggak semua teman kita kan enak seperti itu. Kalau yang nggak mampu, nggak ketahuan dia lagi ngapain ngapain. Yah, namanya juga nggak mampu, makan aja susah, gimana bisa facebook-an.
Kamu sih, keseringan gaul sama orang yang hidupnya serba enak, orang orang yang gajinya gede-gede. Lihatnya ke bawah dong. Orang orang yang tidak bisa berlibur, tidak pernah makan enak. Nggak usah jauh jauh, di kantor Abi aja ada,  orang yang kalau gajian tinggal nerima seratus dua ratus, bahkan ada yang lebih parah. Kalau gajian malah harus bayar, karena sudah kebanyakan kas bon. Suka kesian kalau lihat mereka di pertengahan bulan, bengong bengong di kantor nungguin uang makan, karena udah kehabisan ongkos. Kita harus banyak bersyukur, alhamdulillah kita nggak seperti itu. Walaupun nggak berlebih, Alhamdulillah, pas butuh, pas ada rejeki."


Aku kaget dengan reaksi Abi.  Kok jadi ke sana yah... Hmmm... tapi bener juga yang dikatakannya. Tak satupun ada yang  salah. Teman teman kantorku, kebanyakan dari kalangan berada. Tapi ini kan ada unsur takdir. Aku kerja di mana, bertemu dan berteman dengan mereka mereka. Yah ada juga kali, yang minus minus, tapi dari gayanya mah nggak bakalan ketahuan.Maksudku kan tidak seperti itu......
Apa nggak bisa, diagendakan...
Di sisihkan dari penghasilan tiap bulan, biar bisa nengok nengok saudara...
Tapi..
yah.. daripada pagi pagi udah ada emosi emosian, akhirnya aku memilih untuk mengobrol hal yang lain.

*Tapi, pas diem aku berpikir, oya ya.. kondisi kami saat ini, yang masih nyicil ini itu, baru bisa bepergian sekali dalam setahun. Sesuai kesepakatanku dan suami, selagi Ayah Lampung masih sehat, kita bakalan tiap tahun ke Lampung. Mengingat 3 orang tua meninggal -ayahku, ibuku, ibu suamiku- kami nggak sempat bertemu dengan jasad beliau beliau. Semua terjadi ketika kami sedang jauh. Jadi selagi Ayah masih sehat, kita seneng senengin Ayah, bawa kelima cucung yang jauh ini untuk setor muka pas lebaran tiba. walaupun bakal menguras tabungan setahun, menghabiskan bonus bonus dan THR, bahkan nombok nombok dikit, nggak papa laah..*