Selasa, 04 Januari 2011

Sang Pencerah


Karya : Akmal Nasery Basral
Aku belum nonton filmnya. Kupikir tadinya film diangkat dari novel, ternyata ini merupakan novelisasi film / skenario. Tapi dari komentar para ahli, katanya buku ini justru melengkapi film.

Tentang Darwis kecil, anak Kiai Abu Bakar, salah satu khatib dan amin (tibamin) di masjid Gede Kauman. Mungkin semacam Masjid Raya di suatu provinsi.
Darwis kecil yang penuh tanya, kenapa ada tradisi selamatan untuk orang meninggal di hari ke 7, ke 40, ke 100 dan keseribu. Keluarga yang berduka harus menyediakan makanan untuk para tetamu. Makanan yang nota bene mereka juga jarang atau nggak pernah menikmati dalam kondisi normal.
Kenapa ada tradisi padusan (mandi bersama di kali dekat Masjid Gede) untuk menyambut ramadan
Kenapa ada selamatan suran (di bulan suro/muharram)
kenapa ada sekatenan dimana rakyat sangat menderita.
Kenapa musti ada sesajen.

Darwis kecil hingga dewasa selalu penuh tanya. Itulah yang membuatnya tidak pernah berada dlm zona nyaman. Selalu ada pertanyaan membuatnya selalu bergerak, belajar dan belajar sehingga ditemukan jawaban.
Maka di usia 15 tahun, berangkatlah ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji dan menuntut ilmu agama kepada para ahlinya. terbukalah matanya. Terbukalah pandangannya. Ditemukanlah jawaban2 atas pertanyaannya.
Setelah lima tahun, Darwis kembali ke Tanah jawa dan berganti nama menjadi KH Ahmad Dahlan.
Maka dimulailah pergerakan itu. Bagaimana beliau berusaha untuk "menyadarkan" para Kiai bahwa tradisi yang selama ini dijalani, bukanlah berasal dari tuntunan/teladan Rasulullah.
Ingin rasanya ikut "menikmati" perjuangan beliau,
Bagaimana beliau berusaha meluruskan kiblat hampir seluruh masjid di pulau jawa yang sebelumnya hanya menghadap ke arah barat, tapi tidak lurus ke arah makkah/baitullah
Bagaimana beliau mengajak kembali ke ajaran Rasulullah yang tantangannya justru dari para Kiai sepuh
Bagaimana mengajarkan agama tanpa membosankan dan tanpa menghasilkan ketaklidan
Bagaimana belajar berorganisasi ke Budi Utomo dan beliau melahirkan muhammadiyah
Bagaimana belajar dari Kwekschool dan kemudian membuat madrasah yang seperti "sekolahan" / bentuk madrasah yang kita kenal sekarang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Tinggalkan Kesan