Senin, 28 Februari 2011

Ais Atit Cacal

Salah satu romantika punya punya anak banyak adalah, kalau ada salah satu yang sakit penyakit menular, pasti deh, harus siap siap untuk pasien berikutnya.
Mulai dari sakit flu, batuk, pilek yang biasa biasa sampai yah, .. sakit cacar.

Sebulan lalu Fikri sakit cacar. Aku bersiap siap siapa yang meneruskan, karena baru mbak Fathimah yang udah pernah cacar.
Tapi terus terang, tidak menyangka kalau Faiz yang bakalan kena. 

Tapi, setelah kupikir pikir, probabilitas Faiz kena cacar memang lebih banyak daripada si dua gadis itu.
Pertama : ketika Fikri nggak sekolah, di rumah tinggal mereka berdua. Pasti main bareng
Kedua : mereka ini sepasang pangeran di rumah, main bola, main mobil remot, main kartu, dan main main yang lain - kecuali membaca, lebih sering berdua
Yah jadi akhirnya aku harus menerima hal ini...

Kejadiannya kusadari Jumat pulang kantor minggu lalu, badannya hangat, dan di leher ada butiran kecil bening,
Untung juga, masih alhamdulillah, kenanya hari Jumat, jadi pas dia nggak enak badan di hari Sabtu dan Minggu aku bisa nungguin.
Aku sms dokterku dan bertanya, apakah untuk anak sekecil Faiz, cukup pake acyclovir salep atau harus ditambah apa..
Kata dokter boleh ditambah antivirus (sambil menyebut nama) tapi berhubung di apotik terdekat nggak ada aku menunda, malah akhirnya jadi lupa beli.
Praktis akhirnya pake acyclovir pagi habis mandi, siang mau tidur siang, dan malam mau tidur. Aku juga tetep mandiin pagi dan sore.

Hari minggunya ada yang nganterin habbats oil, kulihat dikemasannya bisa untuk penyakit eksim... (hihi.. kusamakan cacar dengan eksim/penyakit kulit).
iseng iseng nyobain minyak ini, jadi untuk cacar yang di perut dan punggung ku kasih acyclovir, dan yang di kepala (di balik rambut) kukasih minyak habbats.
Ada sedikit kekhawatiran, karena Faiz ini iseng banget. Sambil main sambil mengusap usap bagian tubuhnya yg ada plentisan, terus, dicuik cuik pake kuku gitu...
akhirnya semua cacar itu pecah karena dia.. terus terang khawatir infeksi.
Tapi alhamdulillah, ternyata malahan si cacar jadi cepat kering.
Jadi hari Jumat berikutnya, cacar Faiz udah kering, tinggal bekasnya beberapa.. seperti di bagian leher tampak di foto ini..





bekas cacar di leher

Klo ditanya, Aiz, ini kenapa?
"Aiz atit cacal" (Faiz sakit cacar)

Faiz... faiz...

Kamis, 24 Februari 2011

Senja Bersama Rossie


Karya : Tereliye

"tak ada mawar yang tumbuh di tergarnya karang"duh duh... puitis banget. Bisa aja Tere Liye membuat perumpamaan.

Tentang kisah Tegar, yang bersahabat sejak kecil dengan Rossie. Saking dekatnya persahabatan mereka sejak anak anak sampai dewasa, selalu berdua, selalu ada jika dibutuhkan, akhirnya Tegar sangat yakin, bahwa Rossie tak mungkin menerima orang lain disisinya.

Ternyata salah, karena tidak pernah mengungkapkan apa yang Tegar rasakan, akhirnya Rossie menerima ungkapan cinta dari orang lain yang baru dua bulan dikenalnya. Dan mereka segera menikah.

Hal itu membuat Tegar sangat terpukul. Dia melarikan diri dari kehidupan Rossie, sampai 5 tahun setelah pernikahan Rossie, baru Tegar bisa berdamai dengan masa lalunya.

Rossie telah sempurna dengan keluarga yang bahagia, bersama suami dan anak anaknya yang sempurna tanpa cela.

Tegar pun telah merencanakan sebuah pernikahan dengan perempuan lain.

Tiba tiba, tragedi bom bali memporakporandakan seluruh rencana.Rossie kehilangan suami, dan mengalami trauma. Keadaan memaksa Tegar kembali ke sisi Rossie dan anak anaknya.

Kayaknya jadian lagi deh... eh.. ternyata benar.

Hmmm...cukup menguras air mata, buatku yang cengeng ini. Tapi sekali lagi dari buku Tereliye, -menurutku Tereliye suka keindahan - kata katanya indah, ceritanya indah apalagi tentang sunset lengkap dengan detikannya, tapi ... kok pelakunya harus ganteng ganteng, cantik cantik, pinter pinter, kaya kaya. Semua sempurna

Asa, Malaikat Mungilku


Penulis : Astuti J Syahban, Mizan
Adalah kisah tentang Asa, yang bagai lautan asa tak bertepi, dalam menghadapi kenyataan dan menghadapinya, bahwa di usianya yang masih sangat muda, dia menderita Lupus (SLE).
Asa Putri Utami, yang tak lain adalah putri pengarang buku ini, sungguh sangat bersabar, pemberani, polos, tulus, bersih hatinya, pemurah, lembut perasaannya dan sungguh sangat 'dewasa' dalam menjalani masa pengobatan dan perawatan yang tidak mudah.
Berjuang melawan maut yang bagai mengintip di balik pintu, yang sewaktu waktu bisa saja datang menghampiri. Tapi jiwanya telah ikhlas, membumbung diwarnai langit, maka tiada sedikitpun ketakutan dan kesedihan dia rasakan.

Disapanya para dokter dan perawat yang dia hafal semua namanya.
Disapanya teman teman sekamarnya
Didoakannya setiap yang menjenguk dan yang memberikan bantuan biaya pengobatan baginya.
Dikuatkannya orang orang yang disekelilingnya.
Dalam penderitaannya, dia tidak kehilangan ceria dan kepolosan seorang bocah.
Pun ketika Ayah Bundanya kehabisan uang untuk biaya pengobatannya, maka dia pinjamkan tabungannya yang tiga juta rupiah. Ketika Ibunya berjanji akan memberinya uang lebih atas pinjaman itu, dia tidak mau. Takut makan uang riba, katanya.
Dan ketika ajal semakin dekat, dia katakan ke Ibunya, bahwa pinjaman itu dianggap lunas aja. "Alhamdulillah, Asa nggak jadi makan uang riba, katanya." (Ya ampuun.. ngenes banget aku bacanya)

Suatu ketika, Asa akan minum obat, dia minta ganti diapers ke Ibunda. tapi kata bunda, diapersnya baru diganti. Nanti aja kalau pas mau sholat, gantinya.
Akhirnya dia minum juga obat itu sambil berkata "ya Allah, ampunilah Asa, minum obat tidak dalam keadaan suci "
Aduuh.. anak sekecil itu sudah menjaga kesucian sepanjang waktu. Bahkan dalam keadaan sakit sekalipun !

Ketika sakitnya semakin parah, SLE komplikasi dengan tekanan darah tinggi dan gagal ginjal. Ketika dia minum obat darah tinggi, maka ginjalnya semakin rusak. Dan harus menjalani cuci darah seminggu dua kali. Entah bagaimana dia menahankan. Tapi hari harinya tetap dihiasi dengan zikir dan shalawat. Muraja'ah (mengulang hafalan) dari Al QUr'an yang begitu ingin dia khatam menghafalnya.
Ketika rasa sakit menderanya, dia tidak mengeluh apalagi berteriak, tapi justru mengeraskan dzikir atau bacaan Al Qur'annya.

Demikianlah selalu, sampai ajal benar benar mendatanginya.
"Mama ikhlaskan aku ya, soalnya aku juga sudah ikhlas. Kalau aku mati, Mama jangan menangis"
Pantaslah jika malaikat pun berebut menjemputmu dan membawanya ke surga.

Oh, Asa. Begitu banyak aku belajar darimu. Sungguh beruntung Ayah dan Ibu memiliki anak sepertimu.
Sungguh beruntung aku bisa membaca kisah yang ditulis Ibundamu.

Senin, 21 Februari 2011

Keidean



Pernah baca, atau pernah dengar, entah kapan dan entah dimana, katanya "meniru adalah bentuk kekaguman yang paling tulus".
Mungkin ada benarnya juga, makanya kita sering melihat ada suami istri yang makin lama makin mirip satu sama lain. Atau ada seorang anak yang tingkah lakunya sangat mirip orang tuanya, bahkan sampai cara berjalannya.

Tak jarang juga ada orang yang meniru orang yang dikagumi sampai cara bicara dan kadang isi pembicaraannya pula.
Malahan sering, kita secara sadar meniru model baju orang lain.

Nggak heran kalau ada orang yang memberi resep kreatif dengan 3 N
- Niteni (memperhatikan)
- Niroake (meniru)
- Nemoake (menemukan)
jadi dari memperhatikan orang, kemudian meniru, akhirnya keidean untuk menemukan sesuatu yang baru.

Lebih luas dari itu, katanya kalau kita pengen sukses, harus mau menapaki (meniru jalan yang sudah diambil) oleh orang sukses
Kata Mario Teguh, kalau ingin jadi orang baik, berlakulah seperti orang baiik.

Lebih agung dan lebih mulia dari itu, Allah SWT bahkan mememerintahkan manusia untuk meniru/mengikuti akhlak dan perilaku Rasulullah SAW sebagai bukti cinta pada-Nya.
Kesimpulannya, menurutku, keidean oleh ide orang lain itu sah sah saja. Asalkan tidak membajaknya seolah olah itu adalah hasil karyanya. 

Bahkan kalau bisa, jadilah kita manusia yang bisa mengidei (halaaah.. bahasanya !) orang lain, atau kerennya menginspirasi orang banyak. (pengennya....minimal anak anak kita lah, pan banyak juga, lebih dari 1).
Sebagaimana disampaikan Rasulullah SAW, para pelopor kebaikan akan terus mendapat pahala yang mengalir selama masih ada orang yang melakukan kebaikan tersebut. Sebaliknya para inspirator keburukan dan kejahatan, akan terus mendapat dosa yang mengalir selama masih ada orang yang melakukan dosa tersebut.

Hiiii... sereeemmm

Kamis, 17 Februari 2011

Bahan Pewarna Dalam Makanan


Ini oleh oleh dari penyuluhan pangan yang fotonya udah kuposting sebelumnya. Pewarna makanan adalah bahan tambahan yang dapat memperbaiki warna atau memberi warna dalam makanan.
Mengapa ini digunakan ? Biasanya adalah untuk memberi kesan menarik bagi konsumen, menyeragamkan dan menstabilkan warna, menutupi perubahan warna selama proses mengolahan atau penyimpanan.

Bagaimana memilih bahan pewarna yang baik untuk makanan ? yaitu dengan cara membaca label pada kemasan. Pada label kemasan harus tercantum :
1. Tulisan "Bahan Tambahan Makanan"
2. Nama pewarna makanan
3. Nomor index Pewarna (CI)
4. Komposisi untuk produk pewarna campuran
5. Isi Netto dan kode produksi
6. Takaran dalam penggunaan
7. Nomor pendaftaran produk (ada kode MD/ML)
8. Nama dan alamat produsen dan nomor pendaftaran 

Dalam PerMenKes no. 722/88 tercantum daftar pewarna makanan yang aman:

  1. Pewarna ALami (Natural Colour) terdiri dari Anato, Beta Apo 8" karotenal, Etil Beta Apo 8 Karotenoat, Kantasantin, Karamel (Amonia Sulfir Proses) Karamel, Karmin, Beta karoten, Klorofil Kurkumin, Riboflawin dan Tinatium Dioksida
  2. Pewarna Sintetik terdiri biru berlian, coklat HT, eritrosin, hijau FCF, Hijau S, Indigotin, Karmoisin< Kuning FCF, KUning Kuinolin, Merah Alura, Ponceau 4R, Tartrazin
Sumber : Leaflet BPOM RI, gambar dari Kaskus

Kamis, 10 Februari 2011

We Proud of You !

Sejak Jumat lalu Fikri libur sekolah eh, nggak masuk sekolah karena sakit cacar. Katanya sih, di kelasnya ada yang sakit cacar.

Eh tiba tiba, hari Selasa ada yang kirim surat. Kertasnya putih biasa, tulisannya rapi.  Pasti dari perempuan.. hehe.. begini bunyi suratnya :

Assalamu'alaikum wrwb

Fikri, Apa kabar ?
Semoga Allah SWT segera memberikan kesembuhan pada Fikri.
Amin


Fikri, untuk soal latihan, sudah dititipkan ke Ayuk.
Fikri dapat berlatih untuk mengerjakan di rumah.
Kalau sudah selesai, Fikri bisa titip lagi ke Ayuk.

Sukses selalu !

Wassalamu'alaikum wrwb

ttd

Coba tebak, surat itu dari siapa ? Apakah dari teman perempuannya ? hihi.. bukan. Surat itu adalah dari Bu Alfi, Wali Kelas VI.
Subhanallah, seandainya semua guru di Indonesia se-care itu, pastilah semua anak bersemangat pergi ke sekolah dan menuntut ilmu. 
Nggak nyesel aku titipkan anak-anakku di sekolahannya sekarang.
Guru-gurunya sangat mencintai profesi itu, mencintai muridnya dan mendidik mereka dengan penuh cinta juga.
Makanya, aku sangat maklum kalau hari ini tadi, Fikri sudah memaksa sekolah. Walaupun cacarnya belum sembuh benar. bahkan masih baru mengering, yang kata orang, justru itu fase penularannya.
Dan hasilnya, baru juga jam 10, bu Alfi sudah menelpon, "sebaiknya Fikri istirahat dulu di rumah, karena belum sembuh benar".


Fikri pas acara market day, di sekolah