Kamis, 24 Februari 2011

Asa, Malaikat Mungilku


Penulis : Astuti J Syahban, Mizan
Adalah kisah tentang Asa, yang bagai lautan asa tak bertepi, dalam menghadapi kenyataan dan menghadapinya, bahwa di usianya yang masih sangat muda, dia menderita Lupus (SLE).
Asa Putri Utami, yang tak lain adalah putri pengarang buku ini, sungguh sangat bersabar, pemberani, polos, tulus, bersih hatinya, pemurah, lembut perasaannya dan sungguh sangat 'dewasa' dalam menjalani masa pengobatan dan perawatan yang tidak mudah.
Berjuang melawan maut yang bagai mengintip di balik pintu, yang sewaktu waktu bisa saja datang menghampiri. Tapi jiwanya telah ikhlas, membumbung diwarnai langit, maka tiada sedikitpun ketakutan dan kesedihan dia rasakan.

Disapanya para dokter dan perawat yang dia hafal semua namanya.
Disapanya teman teman sekamarnya
Didoakannya setiap yang menjenguk dan yang memberikan bantuan biaya pengobatan baginya.
Dikuatkannya orang orang yang disekelilingnya.
Dalam penderitaannya, dia tidak kehilangan ceria dan kepolosan seorang bocah.
Pun ketika Ayah Bundanya kehabisan uang untuk biaya pengobatannya, maka dia pinjamkan tabungannya yang tiga juta rupiah. Ketika Ibunya berjanji akan memberinya uang lebih atas pinjaman itu, dia tidak mau. Takut makan uang riba, katanya.
Dan ketika ajal semakin dekat, dia katakan ke Ibunya, bahwa pinjaman itu dianggap lunas aja. "Alhamdulillah, Asa nggak jadi makan uang riba, katanya." (Ya ampuun.. ngenes banget aku bacanya)

Suatu ketika, Asa akan minum obat, dia minta ganti diapers ke Ibunda. tapi kata bunda, diapersnya baru diganti. Nanti aja kalau pas mau sholat, gantinya.
Akhirnya dia minum juga obat itu sambil berkata "ya Allah, ampunilah Asa, minum obat tidak dalam keadaan suci "
Aduuh.. anak sekecil itu sudah menjaga kesucian sepanjang waktu. Bahkan dalam keadaan sakit sekalipun !

Ketika sakitnya semakin parah, SLE komplikasi dengan tekanan darah tinggi dan gagal ginjal. Ketika dia minum obat darah tinggi, maka ginjalnya semakin rusak. Dan harus menjalani cuci darah seminggu dua kali. Entah bagaimana dia menahankan. Tapi hari harinya tetap dihiasi dengan zikir dan shalawat. Muraja'ah (mengulang hafalan) dari Al QUr'an yang begitu ingin dia khatam menghafalnya.
Ketika rasa sakit menderanya, dia tidak mengeluh apalagi berteriak, tapi justru mengeraskan dzikir atau bacaan Al Qur'annya.

Demikianlah selalu, sampai ajal benar benar mendatanginya.
"Mama ikhlaskan aku ya, soalnya aku juga sudah ikhlas. Kalau aku mati, Mama jangan menangis"
Pantaslah jika malaikat pun berebut menjemputmu dan membawanya ke surga.

Oh, Asa. Begitu banyak aku belajar darimu. Sungguh beruntung Ayah dan Ibu memiliki anak sepertimu.
Sungguh beruntung aku bisa membaca kisah yang ditulis Ibundamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Tinggalkan Kesan