Rabu, 27 April 2011

Virus DIY berbuah Giveaway

Hmmmm..... ditengah pekerjaan kantor yang sibuk selama dua bulan ini (syukurlah April hampir berakhir), si Ummi perlu relaksasi ah rekreasi maksudnya...
Mau pergi pergi di week end sudah tentu tidak semudah yang dibayangkan. Anak 5 dan kendaraan rodanya baru dua... hehe... Akhirnya yah mencari cara sendiri buat menghibur diri. Apa ya... yang nggak perlu merogoh kocek terlalu dalam dan  tentu saja nggak perlu meninggalkan rumah dan anak-anak.
.
Membongkar bongkar barang - barang bersejarah yang masih disimpan sejak jaman dahulu (hayyyaaah.....) menemukan beberapa hal yang bisa dikerjakan
- ada tas benang wool yang belum selesai dirajut
- ada benang benang rajut warna warni sisa membuat tas slempang anakku tahun lalu
- ada satu kresek kain perca dari teh Mimin, penjahit langganan
akhirnya beberapa malam aku selang seling antar membuat tas dan membuat selimut kain perca
alhamdulillah  selimutnya sudah jadi, dipake sama Mbak Fatimah dan Faiz (ada dua).
Selimut Mbak Fatimah memang dia membantu menjahit kain percanya. Kalau selimut Faiz aku sendiri yang menjahit.

Seneng juga ya.. ternyata dunia yang kukenal dari pelajaran "ketrampilan" jaman SD dan juga diajarin ibuku waktu aku kecil, sekarang sudah demikian maju dan dapat dengan mudah dipelajari dari internet. ... Sayang di rumah sekarang tidak ada mesin jahit, jadi aku membuat segala sesuatunya murni dengan tangan.

Ah ya, di internet kita bisa belajar dari tutorial tutorialnya. Bisa juga kontak langsung sama para pemilik blog/webnya. Dan ternyata ada acara pemberian giveaway segala. Seperti yang di blog pojok utak atik, saat ini lagi ada giveaway, bahkan udah kali kedua. Hadiahnya keren keren, bikin ngiler dan memancing bener untuk bikin sesuatu dari hadiah itu.

Ah, bener kata mbak Novi, virus DIY (do it yourself) juga bakal segera menjangkiti aku.

Selasa, 26 April 2011

Aku Bisa Sabar ?

F5 saat menangis

Beberapa hari lalu, seorang teman datang ke kantor dengan wajah kusut. Tak tampak senyum dan keceriaan yang biasanya. Aku tanyalah kenapa
Dia bercerita
Pagi pagi sudah marah marah sama anaknya. Karena terlambat bangun, mengompol dan tidak mau mandi. Dibentaknya si anak sampai akhirnya si anak jadi menangis. Padahal Ibu itu tak pernah membentak anaknya. Tambah dibentak anaknya tambah rewel. malah mau ikut kerja segala. Akhirnya dibawalah si anak, terlambat pula sampai kantornya.
Hmmm... pagi yang sibuk.
Kutanyalah dia, "memang anakmu bangun jam berapa?
"Setengah tujuh kurang lima... " katanya.
Yah.. terang aja (kataku dalam hati). Yang salah ibunya kalee.. membangunkan anak cuma lima menit sebelum berangkat. Yang ada anak tambah bete, kitanya buru buru, suami juga ikut bete biasanya.
Saat itu aku heran, kenapa tega ya.. membentak anak kecil. Aku sempat terlintas, syukurlaaah.. sampai hari itu aku belum pernah membentak Faiz (hampir 3 tahun) dan anak anak lain ketika masih kecil.

Nah sejak hari itu, entah kenapa, setiap aku pulang kerja, Faiz selalu menangis keras keras. Mulanya pas maghrib, Faiz teriak teriak, Ummi nggak boleh sholat....
Terus Ummi nggak boleh masak. (pake teriak)
Terus  tiap ditanya sedikit, jawabnya tangisan setengah teriak.
Akan mereda setelah jam 9 malem-an . Baru mau diajak main. Main bola lah, main puzzle lah.. sampai sekitar jam 10an.
Begitu pula pagi harinya.
Aku berkomitmen untuk tidak membentak dia. Dan tidak memarahi. Mungkin itu karena Faiz belum bisa menyampaikan apa maunya.
Setiap dia berteriak aku berbisik "pelan pelan Faiz, ummi mendengar"
Setiap dia menangis, aku berkata "menangisnya cukup, bicara yang jelas agar Ummi mengerti"
Berturut turut 3 hari membuatku bete juga. Ya Allah.. begini rasanya menahan kesabaran.
Sampai akhirnya hari ke tiga atau keempat, aku sudah tidak sanggup lagi. Akhirnya aku marah, nggak mbentak, tapi a
ir mataku tumpah. Nggak tahu lagi harus berbuat apa. Marah, kesal, putus asa. Aku peluk Faiz kuat kuat, dan aku menangis.
Subhanallah, melihatku menangis, Faiz malah berhenti berteriak teriak dan menangis.

Tangisku tambah panjang, teringat lintasan kesombonganku beberapa hari lalu, ketika temanku tadi tidak sabar menghadapi anak. Ya Allah, betapa takaburnya aku.
Teringat kisah Hidr as dan Musa as, ketika Musa as berkata bahwa dia akan bisa bersabar mengikuti Hidr dan mengambil pelajaran darinya, ternyata Musa tak sabar.
Teringat kisah Ismail as, ketika akan disembelih dia berkata insya Allah aku termasuk orang orang yang sabar, dan ternyata Ismail as benar benar sabar.
Terbukti satu lagi ayat ALlah, dengan rahmat Allah-lah engkau bisa berlemah lembut terhadap orang lain.
Jadi, seseorang bisa berlaku lemah lembut bukan karena kekuatan atau kesabarannya, tapi karena rahmat Allah.


Astaghfirullah...ternyata aku nggak bisa sabar, belum bisa sabar. Terlebih lagi ditambahin kesombongan.
Ya Allah, afrigh 'alaina shobron (Ya Allah, limpahkan kepada kami kesabaran)

Minggu, 24 April 2011

Life Begins at Forty

foto dari mbah google tapi lupa link-nya

Sebuah pesan pendek dari seorang sahabat, kuterima di pagi buta :
"Mhn do'a utk kesembuhan suami sy, kemarin ashar terkena serangan stroke di RS Al Islam. Sampai isya, kondisinya smpt membaik, malam mburuk dan sampe skrg anggota badan kiri blm bisa digerakkan lg. semoga kami diberikan kekuatan dan kesabaran mnrm ujian ini. amiin..."

Terhenyak aku.
Seorang dokter, di usia 44 tahun, sedang praktek di rumah sakit besar, memeriksa pasien ke-3, tiba tiba saja stroke.  Tanpa riwayat sakit sebelumnya. Untung kejadiannya di rumah sakit. segera mendapat penanganan yang terbaik. Penyakit yang sudah diketahui selama ini asam urat. Tapi pas kejadian, ternyata kolesterol lagi naik. Tekanan darah juga pas naik. Tapi alhamdulillah, satu hari kemudian tekanan darah dah normal kembali.

Jadi inget judul lagu. Life begins at forty. Hidup mulai di usia 40. Usia pas sampai pada kematangan karir, kemapanan finansial dan kebijakan spiritual (semoga).
Di usia 40-an  juga, anak anak menjelang remaja, penuh dengan cita cita.... Terbayang olehku putrinya yang baru kelas 3 SMP dan mau menempuh UN. (akhirnya enggak diberitahu kondisi ayahnya). Pak Dokter yang mau menguji mahasiswa co ass. dan istrinya beberapa hari lagi mau presentasi beasiswa doktoralnya. Ya Allah, manusia benar benar tak berdaya di depan Kuasa-Nya.

Ya kalau memang bener seseorang dah mencapai kematangan spiritual pada usia itu, pasti dia juga akan banyak mendapat ujian. Kata Allah gak akan seseorang dibiarkan mengaku beriman, tanpa ujian. Akan diuji seberapa besar keimanan itu. Ibarat pohon, makin menjulang makin kencang angin menerpa. Ada yang sepoi, menyejukkan. Bisa juga badai yang memporak porandakan.
Katanya keimanan akan Ke-MahaBijaksanaan Tuhan, akan membuat kita menerima apapun keputusanNya.

Ah... memang mungkin bener, kehidupan yang sesungguhnya dimulai di usia 40. Penyakit udah mulai datang satu persatu, apalagi kalau sebelumnya enggak dijaga baik baik. Perjuangan yang sesungguhnya dimulai. Tingginya cita cita melawan kekutan fisik yang mulai renta. Yihaaa.. .gak bisa dipungkiri tenaga sudah nggak sekuat pas muda lagi.  Life begin at forty, walaupun age just state of mind.

Syukurlah suami temanku itu, minggu ini sudah mulai fisioterapi. Semoga sehat kembali.... beraktifitas kembali.... Amiiin...



Jumat, 01 April 2011

Ditelpon Suami

Buat orang yang suka tetelponan sama suami, mungkin ditelpon adalah hal yang biasa. Tapi buat istri laki laki yang bicara bahasa cinta yang bisu, ditelpon ini sangat jarang terjadi, sehingga menjadi hal yang sangat sangat istimewa.

Pernah duluuuuu sekali, waktu masih berdua, bayangin, serumah cuman berdua, sebelum booming teknologi hape yang bisa kirim sms dan curhat real time ke teman/keluarga di penjuru dunia manapun, keseringan bercerita sama suami, eh, dikomentarin
"de, kamu nggak cape ngomong terus? ambil buku gih, baca aja"
qqqq... tega .. (sekarang bisa ketawa, belasan tahun lalu ya langsung manyun)
Sukurlaaah.. anak anak lahir satu demi satu, jadi banyak deh teman berceritanyaaa....

Nah, sekarangpun kalau di sms atau ditelpon jawabnya hanya singkat dan padat. Ya dan tidak. Nah kemaren itu ceritanya aku dinas kantor dan gak musti balik ke kantor lagi selesai dinas. Aku sudah pamit suami bahwa aku dinas. Dengan harapan supaya siap dengan resiko pulang lebih sore, walaupun ada peluang pulang lebih cepat.. hehehe..

Nah, hari itu aku pulang jam 4-an bareng sama Evelin. Numpang mobilnya.
Eh, tiba-tiba jam 4-an nelpon.
"Assalamu'alaikum, ada apa Ta ?" (maksudku, tumben amat)
"Aku jemput yaa...." kata suamiku. (Biasanya aku pulang kantor nebeng teman karena suamiku kuliah lagi)
"Hehe, " aku ketawa...
" aku udah dalam perjalanan pulang " kataku
"Udah nyampe mana ?" katanya lagi (hihi tambah GR, niat amat yaks)
"Udah sampai buah batu, mau mampir Mizan beli buku buat Ayuk dan Teteh yg lagi cacar " (hihi ini sih kebiasaan keluarga, kalau ada yg lagi sakit di rumah, dibeliin buku - wlp beli loakan)
"Kamu pulang naik apa ?"
"Numpang Evelin, sampai MTC"
"Oh ya sudah, ati ati aja"

Selesai tetelponan aku masih senyum senyum. Evelin heran ngeliatnya.
"Eh, ngapain mbak, senyum senyum sendiri "
"Hehe, suamiku nggak pernah nelpon nelpon, biasanya kalau  mau njemput cuma sms (bener bener SHORT MESSAGE : pulang bareng)