Selasa, 26 April 2011

Aku Bisa Sabar ?

F5 saat menangis

Beberapa hari lalu, seorang teman datang ke kantor dengan wajah kusut. Tak tampak senyum dan keceriaan yang biasanya. Aku tanyalah kenapa
Dia bercerita
Pagi pagi sudah marah marah sama anaknya. Karena terlambat bangun, mengompol dan tidak mau mandi. Dibentaknya si anak sampai akhirnya si anak jadi menangis. Padahal Ibu itu tak pernah membentak anaknya. Tambah dibentak anaknya tambah rewel. malah mau ikut kerja segala. Akhirnya dibawalah si anak, terlambat pula sampai kantornya.
Hmmm... pagi yang sibuk.
Kutanyalah dia, "memang anakmu bangun jam berapa?
"Setengah tujuh kurang lima... " katanya.
Yah.. terang aja (kataku dalam hati). Yang salah ibunya kalee.. membangunkan anak cuma lima menit sebelum berangkat. Yang ada anak tambah bete, kitanya buru buru, suami juga ikut bete biasanya.
Saat itu aku heran, kenapa tega ya.. membentak anak kecil. Aku sempat terlintas, syukurlaaah.. sampai hari itu aku belum pernah membentak Faiz (hampir 3 tahun) dan anak anak lain ketika masih kecil.

Nah sejak hari itu, entah kenapa, setiap aku pulang kerja, Faiz selalu menangis keras keras. Mulanya pas maghrib, Faiz teriak teriak, Ummi nggak boleh sholat....
Terus Ummi nggak boleh masak. (pake teriak)
Terus  tiap ditanya sedikit, jawabnya tangisan setengah teriak.
Akan mereda setelah jam 9 malem-an . Baru mau diajak main. Main bola lah, main puzzle lah.. sampai sekitar jam 10an.
Begitu pula pagi harinya.
Aku berkomitmen untuk tidak membentak dia. Dan tidak memarahi. Mungkin itu karena Faiz belum bisa menyampaikan apa maunya.
Setiap dia berteriak aku berbisik "pelan pelan Faiz, ummi mendengar"
Setiap dia menangis, aku berkata "menangisnya cukup, bicara yang jelas agar Ummi mengerti"
Berturut turut 3 hari membuatku bete juga. Ya Allah.. begini rasanya menahan kesabaran.
Sampai akhirnya hari ke tiga atau keempat, aku sudah tidak sanggup lagi. Akhirnya aku marah, nggak mbentak, tapi a
ir mataku tumpah. Nggak tahu lagi harus berbuat apa. Marah, kesal, putus asa. Aku peluk Faiz kuat kuat, dan aku menangis.
Subhanallah, melihatku menangis, Faiz malah berhenti berteriak teriak dan menangis.

Tangisku tambah panjang, teringat lintasan kesombonganku beberapa hari lalu, ketika temanku tadi tidak sabar menghadapi anak. Ya Allah, betapa takaburnya aku.
Teringat kisah Hidr as dan Musa as, ketika Musa as berkata bahwa dia akan bisa bersabar mengikuti Hidr dan mengambil pelajaran darinya, ternyata Musa tak sabar.
Teringat kisah Ismail as, ketika akan disembelih dia berkata insya Allah aku termasuk orang orang yang sabar, dan ternyata Ismail as benar benar sabar.
Terbukti satu lagi ayat ALlah, dengan rahmat Allah-lah engkau bisa berlemah lembut terhadap orang lain.
Jadi, seseorang bisa berlaku lemah lembut bukan karena kekuatan atau kesabarannya, tapi karena rahmat Allah.


Astaghfirullah...ternyata aku nggak bisa sabar, belum bisa sabar. Terlebih lagi ditambahin kesombongan.
Ya Allah, afrigh 'alaina shobron (Ya Allah, limpahkan kepada kami kesabaran)

2 komentar:

  1. salam kenal ummi, wow...ga sengaja mampir, ternyata nama anak kita sama ya? anakku faiz ghaisan muttaqi, usianya 11 oktober kemaren tepat 3 tahun. pernah mengalami hal seperti tadi tu, gak boleh inilah gak boleh itulah, aku turutin tapi dengan pelan aku coba atur emosinya, klo udah tenang baru aku sampaikan kalau ummi harus masak kalau gak masak gak ada makanan....heee kadang mo ngerti kadang engga, ya namanya anak2, kadang kita bisa sabar kadang terlewat dari ambang kesabaran...ya namanya kita manusia ya...heeee, mampir mi ke http://astinastanti.blogspot, nuhun ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal kembali mbak .. sammmmaa ya.. kejadian ini juga saat F5 sekitar umur 3 tahun. Sekarang sudah 4 tahun lebih... hehe... makasih udah mampir ya..

      Hapus

Silakan Tinggalkan Kesan