Minggu, 21 Agustus 2011

Obrolan di Pagi Hari


Salah satu yang kusukai di bulan Ramadhan adalah, space waktu yang panjang di pagi hari, untuk bersantai bersama keluarga.  Setelah sahur,  masih bisa duduk duduk, masih bisa mengobrol, tidak perlu ke warung, masak sarapan, dsb. 

Seminggu lalu, sehabis sahur  aku lagi duduk duduk di kasur Faiz. Setelah mengaji, Abi menyusul ke kamar. Trus nanyain kabar adik adikku dan kakak kakakku. Hehe.. memang aku ini jadi seperti PR. Humas sana sini. Ke keluargaku aku yang menjalin silaturrahim, ke keluarga suami, aku juga yang melakukan itu. (kayaknya rata rata, para istri berperan seperti itu yah..)
 
Aku tujuh bersaudara, tapi tidak ada satupun yang sekota. Tiga kakakku di Cilacap, Jaksel dan Kuningan. Tiga adikku di Temanggung, Sumatera dan Bekasi.  Lain dengan Abi, dari delapan bersaudara, cuma Abi yg di luar Lampung. Jadi kalau kami ke Lampung ya langsung ketemu semua. Sekali menyeberang laut, 7 keluarga terlampaui. hehe


Yuk, balik ke adik dan kakakku. Ceritanya adik bungsuku, baru punya bayi, 31 Juli kemarin. Aku belum sempat nengokin, karena keburu puasa.
Pinginku, habis lebaran aku bisa nengok. Walaupun, di keluarga Ibu-bapakku, tidak ada tradisi tengok menengok pas lahiran. Misal, Oomku/Bulik/Budhe/Pak Dhe punya bayi, aku tidak ingat Bpk Ibu pernah pergi atau tidak. Hihi, mungkin karena Ibuku bungsu, jadi yang punya bayi terakhir ya ibuku.. atau Mungkin karena kondisi ekonomi yang pas pasan, sehingga tidak ada alokasi dana ke sana. Bapak Ibu PNS, punya anak tujuh, kebayang repotnya. Maka kebiasaan itupun, turun ke kami, anak anaknya, sekarang -setelah Bapak dan Ibu meninggal- tujuh bersaudara ini tidak biasa saling tengok menengok, kalau tidak ada acara penting.  Alasannya, karena mungkin kondisi ekonomi yang pas pas-an, kedua yah, karena tidak dibiasakan dari orangtua. Yah... masih alhamdulillah sih, sekarang bisa sering sering sms-an atau telpon telponan.

Nah, pas nih momennya. Setelah kuceritakan tentang Mas mas dan adik adik, aku bilang ke Abi :
"Ta, nanti habis lebaran Ummi nengokin bayinya Sapto ya.. kan bisa bolak balik. Ke Bekasi kan udah ada travel dari MTC"  (aku nggak pake "kita nengokin Sapto" karena secara biaya pasti akan besar sekali kalau full team ke Bekasi, habis mudik lebaran gitu lho)
"Kamu sempat ?"  jawab Abi
"Ya, insya Allah. Bukan pas habis lebaran banget, pas hari Sabtu atau Minggu aja" jawabku.
"Mau nginep juga boleh kok, di rumah adik sendiri ini." sambung Abi lagi.
*ih .. senengnya...*
"Iya lah, berarti Teteh sama Faiz ikut ya...?"
Abi mengangguk
Terus aku bilang
"Kadang Ummi mikir ya, orang orang kok pada pulang balik Jakarta begitu mudah, Kita punya keluarga di Jakarta susah banget mau ketemu." (Pertemuan terakhir, Juli dua tahun yl, pas Sapto menikah)

Abi menjawab, rada tinggi nadanya
"Yah kalau ada duit, kemana saja sekarang menjadi mudah. Jangankan cuma bolak balik Jakarta. Mau ke Singapura, mau ke luar negeri juga mudah. Makanya Abi sekarang nggak pernah buka facebook, karena isinya kok malah seperti ajang pamer. Liburan ke mana, makan di mana, lagi beli ini, lagi beli itu ..... Padahal nggak semua teman kita kan enak seperti itu. Kalau yang nggak mampu, nggak ketahuan dia lagi ngapain ngapain. Yah, namanya juga nggak mampu, makan aja susah, gimana bisa facebook-an.
Kamu sih, keseringan gaul sama orang yang hidupnya serba enak, orang orang yang gajinya gede-gede. Lihatnya ke bawah dong. Orang orang yang tidak bisa berlibur, tidak pernah makan enak. Nggak usah jauh jauh, di kantor Abi aja ada,  orang yang kalau gajian tinggal nerima seratus dua ratus, bahkan ada yang lebih parah. Kalau gajian malah harus bayar, karena sudah kebanyakan kas bon. Suka kesian kalau lihat mereka di pertengahan bulan, bengong bengong di kantor nungguin uang makan, karena udah kehabisan ongkos. Kita harus banyak bersyukur, alhamdulillah kita nggak seperti itu. Walaupun nggak berlebih, Alhamdulillah, pas butuh, pas ada rejeki."


Aku kaget dengan reaksi Abi.  Kok jadi ke sana yah... Hmmm... tapi bener juga yang dikatakannya. Tak satupun ada yang  salah. Teman teman kantorku, kebanyakan dari kalangan berada. Tapi ini kan ada unsur takdir. Aku kerja di mana, bertemu dan berteman dengan mereka mereka. Yah ada juga kali, yang minus minus, tapi dari gayanya mah nggak bakalan ketahuan.Maksudku kan tidak seperti itu......
Apa nggak bisa, diagendakan...
Di sisihkan dari penghasilan tiap bulan, biar bisa nengok nengok saudara...
Tapi..
yah.. daripada pagi pagi udah ada emosi emosian, akhirnya aku memilih untuk mengobrol hal yang lain.

*Tapi, pas diem aku berpikir, oya ya.. kondisi kami saat ini, yang masih nyicil ini itu, baru bisa bepergian sekali dalam setahun. Sesuai kesepakatanku dan suami, selagi Ayah Lampung masih sehat, kita bakalan tiap tahun ke Lampung. Mengingat 3 orang tua meninggal -ayahku, ibuku, ibu suamiku- kami nggak sempat bertemu dengan jasad beliau beliau. Semua terjadi ketika kami sedang jauh. Jadi selagi Ayah masih sehat, kita seneng senengin Ayah, bawa kelima cucung yang jauh ini untuk setor muka pas lebaran tiba. walaupun bakal menguras tabungan setahun, menghabiskan bonus bonus dan THR, bahkan nombok nombok dikit, nggak papa laah..*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Tinggalkan Kesan