Kamis, 29 September 2011

Ummi sihh.... ke Kantor !

F5 mau sekolah, pas belum punya seragam
Faiz : Ummi ummi lihat deh, Faiz punya ini dali bu Bulu (dari bu Guru)
(sambil menunjukkan baju seragam sekolahnya)

Ummi : Ihhh.... bagus. Ada gambarnya. Ini  baju apa ?

Faiz : Ini baju sekolah. (bangga)

Ummi : Yaah... Faiz.... Ummi belum pernah lihat Faiz pake baju ini..

Faiz : Ummi siih.. ke kantor, Faiz sekolah (dengan santainya)

Ummi ; ??? Gubrak.

Firda Sakit

Firda, Abi dan Ayuk
Kemarin lusa, Teteh pulang sekolah diare. Adoooh.. segera aku berfikir. Jajan apa makan apa dan sebangsanya. Secara setelah lebaran ini aku kembali memberi uang jajan sama anak anak. padahal sebelumnya aku dah komitmen membekali makanan rumah.

Bertahan untuk tidak memberi obat berbahan kimia, aku hanya memberi madu dicampur air. Kata temenku, madu itu bermanfaat mengurangi sembelit. tapi sekaligus mencegah diare kalau anak diare. Yah kucoba aja.
karena malamnya panas, aku tambahkan antifus.
Trus kemarin nggak sekolah.

Nah semalam aku lupa nggak ngasih antifus karena ketiduran. Adoooh....
Pagi tadi Firda cerita katanya tadi malam nangis, mau minum obat. Daaan.. ajaib.. yang terbangun adalah Abi. Walhasil Abi-lah yang memberi dia obat.
Syukurlaaah.. tadi pagi udah sekolah lagi.
Dan barusan kutelepon sekolah lancar, nggak ada keluhan lagi. Alhamdulillaaah...

Senin, 26 September 2011

mudik lebaran

Huaaaa... udah kelamaan. Tapi nggak papa lah. Daripada enggak di upload. Ini beberapa foto waktu mudik kemarin. Ada beberapa perbedaan dari setahun lalu.
Yang nempatin rumah Eyang bukan lagi adik bungsu Abi, tapi jadi adik laki Abi, Om Iyen. Karena Ujuk dan Om Andi udah punya rumah sendiri. (alhamdulillah)
Tante Mpi dan Om Adi sekarang nempatin rumah bekas Om Iyen sekaligus melanjutkan bisnis keluarga (toko).

sekeluarga di rumah eyang

keluarga Om Iyen, yang nemenin Eyang di rumah.

keluarga besar Eyang

Faiz bersama sepupu, di salah satu sudut rumah Om Andi

asyiknya kumpul bocah, berebut game pun dijabanin

  
aku dan tante mPie di depan toko

  
foto bersama sebelum berangkat


Selasa, 20 September 2011

Faiz Sekolah !

Sebenernya aku dan suami belum berniat menyekolahkan Faiz tahun ini. Pertama, belum ada anggaran tentu saja. Kedua, usianya belum cukup untuk masuk TK A.
Akan tetapi, perasaan orang tua mana yang tidak luluh, kalau setiap pagi kakak kakaknya keluar pada mau sekolah, si adek menangis nangis minta sekolah.
Sempat kepikiran mau dibawa ke day care dekat kantor, yang masih terjangkau harganya, tapi enaknya di sana anak-anaknya diajak 'sekolah'. Karena si day care ini menyatu dengan sekolahan. Tapi dipikir pikir, kasian amat ya, harus siap siap dari pagi, naik motor pula dan jauh dari rumah.

Pada suatu Sabtu pagi, pas ke warung dekat rumah, tiba tiba saja kepikiran masukin Faiz ke Paud di depan warung itu. Selama ini sebenarnya Faiz udah sering main ke Paud/TK itu, untuk sekedar numpang main ayunan dan mainan lainnya. Tapi karena kurang sreg betul dengan sekolah itu, jadi nggak kepikiran masukin Faiz ke sana.

Pas dipikir pikir, dari pada Faiz tiap hari main ke rumah Bibi, dan main itu itu saja sama Eka -cucu Bibi, kenapa nggak sekolahin saja mereka berdua. Biar lebih berdaya dan saling memberdayakan. (halaaah.. lebay banget bahasanya).
Maka mulailah aku PDKT sama Bibi biar mengijinkan Eka sekolah. Kami akan membantu biaya sekolahnya. Soal perbekalan ke sekolah, lha wong nggak sekolah aja si Eka stok makannannya melebihi anak anakku yang sekolah. Bibi belanja ke pasar tiap minggu aneka biskuit, kacang, susu, dll camilan anak anak, dan permen (Faiz kebagian juga). Jadi masalah bekal sekolah, cincay laaah..

Awalnya Bibi nggak mau, nanti aja ke SD langsung katanya. Aku bilang bibi nggak boleh menghalangi rejeki Eka. Yang mau sekolah kan Eka, bukan Bibi. (kataku pelan pelan). Aku tetap daftarin, tetap kuisikan formulir dan kumintakan akte kelahiran Eka. Alhamdulillah, sehari sebelum sekolah, Bibi mengijinkan.

Jadilah Eka dan Faiz ada di satu kelas Paud, sekolahnya Selasa Kamis Sabtu. Alhamdulillah aku bisa nganter di hari Sabtu. Eh, setelah lebaran ini, jadwal Paud berubah ke Senin Rabu Jumat.Walaupun aku nggak bisa nganter lagi, masih ada Mbak Fathimah yang libur di hari Rabu, untuk mengantar ke sekolah.
Inilah foto foto yang diambil mbak Fathimah.
Oyah, baru di foto sekarang, karena seragam baru dibagikaan..

Eka nyamperin ke rumah

  
siap berangkat di depan rumah

aih.. ternyata berangkatnya digendong

  
Faiz, kamu mau digendong Mama Eka ya

  

daya tarik sekolahan, jungkat jungkit
  

mainan putar putaran, aku nggak tau namanya apa
  

lihat tuh, menikmati banget mainnya
  

jembatan goyang
  

ayunan butut yang masih terasa so sweeet krn bisa dipake berdua
 

main ular naga, lihat bu Guru semangat sekali
  

Kamis, 15 September 2011

Kenangan Seputar Pernikahan

moment 18 desember 1996
Membaca status seorang teman di facebook beberapa hari lalu.
"Usia pernikahan yang rentan godaan adalah 15-20 tahun "


Ups ! Itu kan usia pernikahanku... haiyyaaa...
Bismillah ah.. Semoga ALlah membimbing kami selalu. Amiiin...

Aku bertemu dengan (calon ) suamiku (waktu itu.... ) dipertemukan oleh seseorang yang aku hormati dan aku percayai.
Kondisinya si dia sudah jadi PNS dengan penempatan di Kupang. NTT.  Sedangkan aku PNS dengan penempatan di Jakarta.
Sebagai seorang gadis muda (cie...), punya duit (cie....) bebas (cie...emang sekarang enggak bebas yah ) aku berusaha mengisi waktu sebaik baiknya. Di sela sela pekerjaanku sebagai PNS, aku mau saja ketika diajak beraktivitas di sebuah yayasan pemberdayaan muslimah di selatan Jakarta oleh mbak Ida. Hubunganku yang intens sebagai sekretaris yayasan dan Mbak Ida sebagai ketua, membuat kami saling dekat dan saling percaya.
Sekitar awal Oktober 1996, tiba tiba mbak Ida menanyakan kesiapanku untuk menikah. Aku yang waktu itu masih menikmati kebebasan (dari belajar mata pelajaran maksudnya dan tentu saja jalan sana jalan sini di akhir pekan...) merasa belum cukup siap.  Berbagai alasan aku kemukakan, dari nggak bisa masak, masih males mandi sore, sampai belum khatam baca  Tarbiyatul Aulad-nya Abdullah Nasih Ulwan.
Tapi mbak Ida selalu menjawab dengan lugas, dan memberikan pandangan pandangan yang akhirnya membuatku luluh, antara lain beliau menyitir sebuah hadist Nabi SAW, yang katanya kalau berani menolak lamaran seorang laki laki sholeh sudah datang maka tunggulah keputusan ALlah. Huuuu... takuuut...
Akhirnya aku berikan biodata lengkapku, dan biodata keluarga serta gambaran kondisinya. Beberapa hari kemudian, mbak Ida meneleponku di kantor, katanya aku disuruh ambil biodata Ikhwan. Aku sedikit malas waktu itu, hihi.. sok jual mahal, akhirnyya disepakati numpang nerima faks di lobby Gedung Republika, dekat kost ku di Jalan Sawo. Hah kok bisa ? Iyah, aku berhasil SKSD sama front office Republika, karena  beberapa bulan sebelumnya aku sempat audisi ngelamar di Dompet Dhuafa (di tolak pas test terakhir, tinggal dua orang, sainganku lulusan D3 Akuntansi UGM).
Aku mulai mantengin biodata, mencari kesamaan-kesamaan (a.l. sama sama keluarga besar, ayahnya berdarah Jawa, meski tinggal di Sumatera) dan yang ada aku cuman minder...
Anehnya, faks itu terputus bagian atasnya, pas di BAGIAN NAMA ybs.
Jadi yang ada cuman data data pribadi, orang tua, dan saudara saudara.... Ya sudahlah...
Aku terlalu gengsi untuk menanyakan namanya ke Mbak Ida.  Beberapa hari kemudian, aku diminta datang ke rumah Mbak Ida, sendirian. Acaranya : Ta'aruf.
Aku inget waktu itu tanggal 28 Oktober 1996. Harusnya aku upacara, malah mangkir. hehehe..
Sesampai aku di rumah mbak Ida, rumah seperti kuncen (terkunci). Aku bolak balik dari pintu depan ke pintu samping, uluk salam.. eh nggak dibuka bukain. Setelah menunggu sekitar 10 menit barulah pintu terbuka dari samping. Aku masuk ke rumah Mbak Ida.
Tidak lama kemudian Mbak Ida membuka pintu depan, dan masuklah Ustadz Zen, suaminya, bersama seseorang yang aku nggak tau namanya.
Setelah Ustadz membuka dengan salam, dan memaparkan maksud pertemuan, maka dimulailah tanya jawab antara aku dan dia tentang berbagai hal. (Nama, tentu saja aku tanyakan.haha Mohamad Fajar, atas saran mbak Ida, aku memanggil Mas Fajar)
Aku sampai lupa waktu nggak tau berapa lama, tau tau udahan aja.
Oyah, hari itu juga aku baru menerima selembar foto (cie cie.....) semacam cover boy gitu laaaah...(*yuhuuu...melambung), artinya, aku belum melihat wajah 'sang calon' sampai saat ta'aruf.
Maka tahulah aku, bahwa doi bekerja di Kupang, sedang diklat 3 bulan sampai Desember di Jakarta ini. Dan Januari sudah harus ngantor lagi.
Dan disepakati tanggal 10 November keluarganya mau ke rumahku di Cilacap. So aku harus memberikan prolog.
Kebetulan Bapak dan Ibu sudah faham tentang "cara pernikahan lewat ta'aruf" itu. Jadi yah Ok OK saja dan siap menerima tamu tanggal 10 November.
10 November aku pulang . si Mas datang bersama kakak iparnya yang pertama. (Papa Echi) Dengan pertimbangan, Ayah sudah tua, kalau harus bolak balik melakukan perjalanan jauh, khawatir kecapekan.
Dari pembicaraan orang tuaku dan wakil orangtuanya, ketemulah tanggal pernikahan 18 Desember 1997. Agak sedikit alot, karena tanggal 13 Desember Mas-ku juga menikah di Temanggung. Kata orang Jawa nggak boleh mantu dalam tahun yang sama. Sementara si Mas Fajar dikejar deadline, bulan Januari harus sudah ngantor lagi. Yah tapi dalam bulan yang sama malah boleh kali ya...hehe
Selain itu, mas mas-ku juga meragukan kesungguhan si calon mempelai. Mana jauh .. mana belum kenal, tapi aku mencoba meyakinkan. Dan sepanjang Bapak menyetujui, bismillah.
Maka tadaaa..... tiba tiba si gadis bengal ini menikah pada tanggal 18 Desember 1996.
Pesan Oom-ku setelah menikah nanti "madhep, mantep, sedhakep"  (artinya kurleb mantap dan setia).

Berbagai fakta seputar pernikahan :
-aku baru mengenal Ayah dan Ibu Lampung sehari menjelang hari H, yang datang bersama Papa dan Mama Echi, dan dua adik si Mas.
- ibuku cuman sebentar nemenin di pelaminan, keburu nggak kuat karena kecapekan. Seminggu mantu dua kali gitu lho... sampai sampai nggak ada foto Ibuku di hari pernikahanku. (hiks *netes air mata)
- film dari kamera ada yang kesingsal, nyelip entah dimana, jadi beberapa momen tidak terabadikan (hiks)
-Aaaaaah... aku lupa apa isi khotbah nikahnya... terlalu melambung dan mengawang dan berbagai macam pikiran tentang perubahan status ini, aku tidak menyimak (huh !).
-undangan tercetak dobel, aku nyetak ke temen di Jakarta, Bapak juga nyetak sendiri di kampung
-banyak teman dan handai taulan yang terlewat gak diundang (ini mah biasa yah)
-harus siap siap tanggal 30 Desember,suamiku (cieeee....suami ni ye...) udah harus naik kapal berangkat ke Kupang, sedang aku tetap di Jakarta mengurus proses pindah (hikhikhik)
-Membagi 12 hari tersisa untuk keluarga di Cilacap, dan Keluarga di Lampung (membayangkan tinggal sama mertua, tapi alhamdulillah, Ibu lampung sayang sama aku.GR )
yang ini dari suamiku :
-waktu aku mondar mandir di depan rumah mbak Ida di hari ta'aruf itu, ternyata (calon) suamiku dan Ustadz Zein  duduk di ruang tamu rumah sebrang mbak Ida, itu  disengaja, supaya mas Fajar bisa melihatku sebelum ta'aruf. (Oalaaaah.. pantesan, lama nggak dibuka bukain pintu)
-ternyata suamiku di kasih biodata dua amplop, satu di tangan kanan, dan satu di tangan kiri. pas ditanya Ustadz Zein, suamiku milih yang di tangan kanan (biodataku) . Klo aku lagi bandel, suamiku suka bercanda, coba pilih yang kiri, pasti nggak seperti kamu.. wkwkwkwk..

Catatan setelah (hampir) 15 tahun menikah :
*baik baik ajah tuh.. yah tangis tangisan dan marahan mah hal yang biasa, coba yang pacaran dulu sekian tahun, apakah tidak pernah marahan? Ada yang melirik lirik suamiku, yah wajarlah, soalnya kan suamiku cakep yah (narsisdotcom), dan baby face. (baby face apa babe face ?) Yang penting suami tetap setia. Malahan selama jadi anggota PerpusDa NTT, petugas perpus selalu mencari nama suamiku di kotak "mahasiswa". Pernah juga pas shalat di sebuah masjid, ditanya Bapak bapak, mau nggak nikah sama anaknya. Pas dibilangin anak udah tiga, si Bapak nggak percaya. Yaelaaah...
*pacaran ba'da nikah ternyata lebih mengasyikan, habis marahan nggak bakalan lari kabur kemana, lha wong sudah suami istri. dan halaal.. mau diapa apain juga.. (diapain hayo ??)
*karena niat awalnya adalah menyempurnakan dien, maka kekurangan kekurangan yang ada untuk diperbaiki bersama, bukan menjadi alasan untuk tidak menerima. Perbedaan perbedaan menjadi pewarna, dan persamaan menjadi perekat cinta.
*dengan diawali dengan proses yang baik (tanpa pacaran), semoga perjalanan (pernikahan ini) baik, melahirkan anak yang baik baik dan berakhir baik juga kelak.
*Kami bertemu karena dipertemukan Allah, semoga Allah saja yang memisahkan. Amiiin...

Ini foto pernikahannya... eh salah, itu foto malam harinya, pas silaturrahmi keluarga. Karena foto nikahnya ilang... Ki-ka, Bapakku, suamiku, aku, dan Ayah Lampung.

Oya, tulisan ini dalam rangka ikut kontes give away-nya neng Orin yang cantik....

Faiz Maen Game


maen game di kapal ferry menuju Merak

Faiz lagi demen pinjem hape game milik kakaknya.
Ummi : Faiz lagi apa ?
Faiz    : Lagi maen game. (sambil cuek)
Ummi : Maen game apa ?
Faiz    : ya game opel  ("game-over" tetep cuek)
Ummi ; ??? kok game over ?
Faiz    : ya memang (massiiiihh... tetep cuek megangin hape game)

Minggu, 11 September 2011

Panggilan Tak Terjawab : 30 kali !

Masih seputar anak ABG.
Setelah kemarin aku cerita tentang F2, kali ini tentang F1, mbak  Fathimah.
Salah satu hal yang marak di bulan ramadhan, adalah fenomena buka bersama atau buka bareng. (bukbar). Termasuk anak anak ini. Fikri buka bersama di sekolah, dilanjutkan mabit dan shalat malam bersama. Alhamdulillah lancar.

F3 juga ngadain bukbar sama teman-temannya. Kebetulan acaranya di rumah. Jadi aku nggak perlu antar jemput. Ternyata 3 orang teman F3 yang buka bareng itu, dijemput setelah maghrib oleh ayah/ibu-nya yang kebetulan baru pulang kantor. Yaelah... pantes aja...

F1 ada acara bukbar sama teman teman eskul-nya di PMR. Sebenarnya aku kurang setuju yah.. karena mikirin nanti pulangnya bagaimana. Tapi berhubung Abi mau jemput, dan memberi ijin, toh acaranya di sekolah ini, ya sudahlah. Aku tinggal nurut.
Jadilah acaranya hari Rabu. Hari Senin pas berangkat bareng di pagi hari, aku tanya, hari ini pulang jam berapa... Dia jawab pulang sore. Mau ngedekor dulu. Ya sudah.. sore aku cek udah di rumah jam 4


Hari selasa pagi aku tanya lagi, hari ini pulang jam berapa. Dia bilang pulang sore.
Kupikir sudah minta ijin Abi. Soalnya semua perijinan kan di tangan Bapak Beliau itu.
Jam 3-an aku telepon rumah, yang ngangkat F3. Pas aku tanya, mbak udah pulang belum, katanya sudah. Tapi sambil masih tetap teriak main main sama F4, F5 dan F2 yang kebetulan pulang cepat. Ya sudah aku tenang aja. Kupikir sudah pulang.
Nah sore sekitar jam 5-an, pas kami -aku dan suami- pulang kantor, aku lihat ada anak anak pake baju PMR baru keluar dari ujung gang sekolah F1. Naluri seorang Ibu dong, langsung jalan. Kok ada anak PMR baru pulang.
Langsung aku SMS F1, "Udah pulang belum ?" nggak ada jawaban
Terus aku telepon.  Nggak diangkat. Teruss telepon lagi, nggak diangkat lagi. Kira kira selama 20 menit perjalanan dari sekolah F1 sampai rumah aku berusaha menelepon F1. Sesekali menelepon rumah, sudah sampai rumah belum.
Aku gemesss banget. Mbak ini kan nggak pernah jauh jauh dari HP-nya. Pasti ini disengaja. (langsung deh, negative thingking)
Si Abi juga marah sepertinya.  Karena ternyata F1 pergi tanpa ijin sebelumnya.
Kira kira setengah 6, F1 datang dari arah kiri, naik ojeg. (Tuh lihat, dia sudah naik ojeg mengambil jalan pintas, pasti dia tahu kalau lagi jadi MOST WANTED)
Begitu masuk rumah,  langsung Abi marah.
"Mana HP-nya ?"  Mbak kasih hp-nya ke Abi.
Si Mbak langsung mandi dan mengaji sambil nunggu buka. Aku memilih diam sambil menyiapkan segala macam ini dan itu buat buka puasa. Walaupun gondok banget.
Setelah shalat maghrib berjamaah, Abi melanjutkan "urusan" dg F1.
"Percuma kamu dikasih hape, hape itu gunanya supaya kamu mudah menghubungi dan dihubungi. Kenapa kamu pulang jam segini ?"
"Mbak latihan dulu, nyiapin buat pentas besok sama  nyelesaiin dekor" kata mbak
"Kenapa nggak minta ijin ?" tanya Abi lagi
"Tadi udah sms" kata Mbak
"Nggak ada tuh SMS masuk, hp Abi nyala terus. Abi buka nomor yang lama juga nggak ada"
Mbak diam.
"Abi tuh nggak ngelarang kamu pergi asalkan bener, dan minta ijin. Kamu pergi 3 hari untuk camping aja Abi ngijinin"
Si Mbak cuman diem. Yah nggak ada pilihan laen lah. Kupikir kali dia takut hari ini gak dapat ijin. Senin kemaren udah pulang sore, Selasa pulang sore, Rabu pulang malam.
Satu keputusan dikeluarkan : ijin bukbar besok dicabut.
Mbak masuk kamar dan menulis menulis diari. Sampai sampai ke masjidpun taraweh bawa buku. Biasanya bawa buku catatan ceramah, ini mah bawa buku diary. Emang sempat gitu, nulisnya.. hehe..

Malemnya, Abi bisik bisik. Bilangin mbak suruh minta maaf ke Abi. Besok diijinin bukbar. Halah, si Abi nih.. ternyata ngelarangnya nggak sungguh sungguh.
Yah, itu shock therapy aja .. kata Abi.
Jadi ingat kata kata Sondang apa si Ibu peri bapak jahat, atau sebaliknya yah.. Ah sudahlah, tanggung jawab ayahnya. Biarin. Tapi aku nggak bilang yah.. bahwa kalau Mbak minta maaf ke Abi, bakalan dikasih ijin bukbar besok.
Jadilah sepulang tarawih itu, aku suruh Mbak minta maaf ke Abi. Meski sambil manyun manyun, Akhirnya dia minta maaf. Intinya malam itu si Mbak dapat wejangan (haiyaa.. bahasanya) .
Besok paginya, hape dikembalikan, dan ijin diberikan kembali.

Pas berangkat ke kantor, sambil duduk manis di boncengan, iseng iseng aku ngapusin SMS. Eh, kepencet rekaman panggilan. Ya Ampuuuun.. aku nelpon Mbak Fathimah kemaren sore 30 kali !!!

Kamis, 08 September 2011

Fikri Kecelakaan !!!


gambar karya Teteh
Sebenarnya agak malas menuliskan kejadian ini. Pertama kejadiannya sudah lewat hampir dua minggu lalu. Kedua, kejadiannya nggak enak. Jadi nggak enak mood juga untuk mengenangnya. Tapi kupikir ada sebuah pelajaran yang bisa kuambil, dan mungkin juga buat emak emak yang sudah punya anak menjelang remaja.
Jumat tgl 26 Agustus lalu adalah rencana kami sekeluarga mudik ke Lampung. Di tengah acara packing packing, ada dua teman Fikri datang.  Mereka berboncengan naik motor. Hmm... terserahlah.. orang tua mereka ngijinin naik motor.
Trus aku ke pasar sebentar mencari beberapa keperluan. Sepulangku dari pasar, dua tamu cilik itu masih di rumah. (nggak cilik cilik amat sih, udah kelas 1 SMP)
Tiba tiba Fikri minta ijin mau Shalat Jumat di Giri Mekar. (Komplek tempat tinggal temannya itu). Yah, sesuai kesepakatan bersama, semua perijinan ada di tangan Abi. AKhirnya Fikri nelpon Abi. Dan dapat ijin shalat Jumat di sana.

Kira kira setengah dua, Abi datang  dan menanyakan, mana Fikri.
Maka aku SMS-lah Fikri.  Eh dasar bocah, nggak ngejawab.  Memang si F2 ini rada kurang lincah dalam menjawab SMS, alias males. Yah .. mungkin udah feeling orang tua kali yah... beberapa saat kemudian aku telpon. Diangkat, suaranya kecil banget.
"Fikri dimana ?"
"Di jalan, udah mau pulang nih. Ada kejadian"
"Kejadian apa ?" aku dah khawatir
"Yai udah dekat rumah" katanya. Telpon kututup.
Benar, tidak lama kemudian ada suara motor di depan, maka aku segera keluar.
Kaget aku, kok bukan ojeg ? Tapi seseorang berpakaian Satpam.
Kulihat Fikri. Kulihat Satpam. Berganti ganti kupandangi mereka.

"Yai  jatuh dari motor sama Ufi." kata Fikri sambil menunduk.
Gimana ceritanya ? sergahku
Berikut cerita versi Fikri
"Ufi bawa motor ke Ujungberung Indah, Yai di belakang. Tiba tiba Ufi bilang 'Fik kamu yang pegang setir' , terus Yai bilang Yai nggak bisa, tapi Ufi langsung lepas tangan jadi Yai langsung pegang setirnya. yah terus hilang kendali gitu deh, terus jatuh."
Aih, Sejenak naik darah, mana mau pulang, mana lagi beberes, pengen marah aja. tapi inget lagi puasa.
Segera kupanggil Abi yang masih di dalam. Kupikir mumpung ada saksi mata si Pak satpam itu. "Abiiii... sini... " (nggak teriak lho, rasanya seperti udah mati rasa, garing gitu. jadi datar aja.
Jreng jreng jreng... Berikut cerita versi Pak Satpam
"Putra Bapak dan Ibu, naik motor dengan temannya. Saya lihat dari jauh sudah oleng kiri kanan kiri kanan. Ban depan motornya kempes. Siapapun yang mengendalikan akan susah. Tadi pas ada mobil,mungkin kaget atau bagaimana, mereka ini menabrak pagar. Teman putra Bapak sudah saya antarkan ke rumahnya. Motor masih saya amankan. "
"Siapa yang di depan ?" tanya suamiku
"Teman putra Bapak." Jawab pak Satpam.
"Baik Pak, terima kasih atas bantuan Bapak." kata suamiku.
"Sama sama Pak, saya pamit dulu karena jam tiga nanti saya ganti shift"
"Mangga, Pak.." Kata suamiku. Aku ikut mengangguk dan senyum terima kasih ke Pak Satpam, namanya Pak Otong.

(Terus terang sejenak aku agak tenang, bukan Fikri yang bawa motornya. Karena Ufi, temannya itu, agak parah. Giginya lepas dua, bibirnya sobek, dan  saat Fikri diantar ke rumah  siang itu, Ufi sudah dalam perjalanan ke Rumah Sakit sama tetangganya, karena -kata Fikri- ayahnya lagi di Batam, dan adiknya sedang tidur, sehingga Mama Ufi tidak bisa mengantar.)

Waktu berjalan cepat rupanya. Sudah jam dua. Kami pesan taksi jam 4. Diskusi sebentar dengan Abi, kayaknya kami harus ke rumah Ufi, untuk bertemu orang tuanya, bagaimana bagaimana lah... Karena di rumah Ufi cuman ada Mama-nya maka Abi bilang mending aku yang ke sana.
Berangkatlah aku dan fikri (dan Faiz juga) ke rumah Ufi. Di perjalanan Fikri cerita, tadi pas perjalanan ke rumah Ufi, Yai disuruh diem aja di depan Mama Ufi., jangan nyalahin Ufi di depan mamanya. Aku diem aja, males komentarlah.

Sesampai di sana, rumah tertutup. Kupikir Mama Ufi sudah menggendong anaknya yang tidur itu dan berangkat ke rumah sakit. (membayangkan kalau aku yang mengalami ). Eh, ternyata masih di rumah. Ya ampuuunnn.. wajah itu begitu familiar.. sering ketemu di sekolah (Gimana enggak ? berteman 6 tahun )

"aduh Umi Fikri... saya sudah bingung bagaimana dengan Ufi ini. Anak itu nakal banget, nggak pernah nurut sama saya. Nggak ada takutnya sama saya. Kalau main nggak tahu kemana, dan pulang jam berapa, saya nggak bisa nyarinya. Anak itu nggaaaak ada kapoknya. Itu udah pernah jatuh dari sepeda, giginya patah. Masih dalam perawatan. Eh, sekarang nambah lagi patah. Aduh.. saya sudah capek rasanya"
Kontan aku bengong di berondong seperti itu.
"Oh, kirain dia diijinin naik motor" kataku polos.
"Nggak Bu.. .saya sudah melarang. Saya sudah umpetin itu kunci, kadang di lemari kadang di saku. Dia tahuuuuu aja.  Dia bisa motor itu belajar sendiri nggak tahu. Kalau ayahnya ke kantor, saya pengajian atau kemana, dia keluarin masukin itu motor. Saya tahu dari adiknya ini.  Sampai suatu ketika, saya bangun tidur kaget motor nggak ada, tahunya Ufi sudah bawa naik turun di depan itu."
(Aku semakin bengong)
"Terus sekarang Ufi sama siapa Bu ?"
"Sama Bapak sebelah ini, saya nggak tahan melihat darah. Lagian adiknya ini sama siapa kalau saya pergi. Saya kesel banget, saya udah capek"
"Saya bisa bantu apa Bu ? soalnya saya mau mudik sore ini jam  empat. Kalau saya ambilin motornya juga nggak bisa bawanya karena harus ditambal dulu. Paling saya carikan informasinya saja ya Bu, motornya di rumah siapa, dan saya cari pak Otong sama no telponnya. " (Posisinya aku masih merasa bahwa salah Ufi-lah motor itu bisa jatuh). Kemudian aku dan Mama Ufi bertukar nomor telepon

Tiba tiba hp Mama Ufi bunyi. Telpon dari suaminya. Gak terkuping pembicaraannya apa. Tapi terdengar jelas Mama Ufi bilang, Fikri nggak bisa ngambilin motor, karena mau pulang kampung jam 4. Setelah selesai bertelpon, mama Ufi bilang

"Telpon dari ayahnya, katanya Ufi di tolak di RSUD Ujungberung. Nggak ada dokternya. Jadi dibawa ke RS Santo Yusuf"
Aku kaget. Biasanya kalau ditolak kan parah gitu..
"Memang lukanya parah ya Bu ?"
"Ya dokter giginya di Ujungberung sudah nggak ada. Terus nggak tahu bibirnya itu perlu di jahit mungkin. Tadi kejadiannya gimana Fik ? Tanya Mama Ufi ke Fikri.
"Yah, aku lupa persisnya. kira kira seperti yang diceritain sama Bapak itu tadi" kata Fikri diplomatis.
"Kata Ufi tadi gara gara di gas sama Fikri, makanya nabrak" kata Mama Ufi
Deg !! Ufi nyalahin Fikri di depan mamanya.
"Anak saya kan belum bisa bawa motor Bu" kataku perlahan, setengah membela diri.
"Iya, Ufi itu sudah saya larang membonceng teman temannya, takut kenapa kenapa. Yah seperti ini kejadiannya."
Ah.. merasa sudah nggak enak banget. Dan diburu waktu juga, bla bla bla aku akhirnya pamit. Aku nggak ninggalin uang, selain karena nggak bawa (yah.. aku kan lagi beberes rumah tadi itu.. kupikir, uang itu seolah menjadi "pengakuan bersalah" bahwa Fikri yang bikin gara gara )
Nggak langsung pulang, tapi aku pergi ke Komplek Ujungberung Indah. Bayangkanlah posisinya. Dari rumahku ini, Giri mekar itu ke arah kiri, naik kira kira 1km. dan Komplek Ujungberung Indah itu dari rumahku ke arah kanan, kira kira 1km jg. Dasar anak anak ! Dari Giri Mekar ke Uber Indah itu kan lewat depan rumah. Bukannya berhenti dan pulang malah jalan jalan. Aku nggak sepenuhnya nyalahin Ufi yang ngebablasin motor, Fikri juga kayaknya seneng seneng aja dibawa jalan jalan.
Sesampai di Uber Indah, tanya Fikri dimana TKP-nya dia juga nggak ingat. Huh !!
(Walaupun akhirnya maklum, klo kita nggak pada posisi nyetir, kita susah nginget nginget jalan ya..)
Setelah tanya Satpam sana sini, ketemulah pos di mana pak Otong bertugas. Aku minta nomor telponnya dan aku minta alamat rumah dimana motor Ufi di titipkan. Sepanjang aku ke Ujungberung Indah, telponku bolak balik bunyi. Panggilan dari rumah. Nggak ku angkat, wlp hape di pegang Fikri.  SMS masuk, Fikri membuka  "Kata Abi cepat pulang, masih banyak yang harus diurus". Aih si Abi ini... pan kita juga lagi nyelesaiin satu urusan. Tapi aku cepat cepat pulang jg sih....
Sambil pulang aku bicara sama Fikri, tuh Fik, nggak mungkin kan anak anak dilarang naik motor kalau nggak ada sebabnya. Ufi kan udah lama bisa naik motor, masa' ban kempes nggak kerasa. Padahal itu kan bahaya, apalagi kalau ban depan. Mungkin karena sensitifitas anak anak belum ada, kewaspadaan belum cukup, tenaga juga masih kurang, sehingga belum diijinin bawa motor. Fikri diem saja.

Aku nyampe rumah sudah jam 3 sore. Satu jam lagi. Masih harus membereskan sisa sisa makan siang Faiz dan wadah wadahnya. Menyiapkan bekal untuk buka puasa. Sesuai pembicaraan pagi tadi, aku masak nasi, Abi yang beli lauk pauk buat buka. Untuk sahur aku udah pesan Eci agar beli KFC saja.

Begitulah... ada beberapa kejadian yang -menurutku- masih menggantung
- siapa yang benar omongannya antara Fikri dan Ufi ? (Tapi aku yakini kesaksian Satpam itu)
- apakah aku harus ikut menanggung biaya pengobatan Ufi ?
- sampai saat ini Fikri tidak bisa menghubungi Ufi di nomor hapenya, dan aku belum punya cukup nyali untuk menghubungi Mama Ufi.

Pelajarannya :
-  Tidak cukup aku melarang anakku naik motor/mengendarai motor. Tapi mereka harus kuberi pemahaman, agar tidak mau dibonceng oleh temannya yang belum punya SIM walaupun mereka sudah bisa naik motor.
-  Aku tidak cukup mengenali dengan dekat teman teman anakku. Ya Ampuun.. seorang Mama Ufi sampai komentar begitu terhadap anaknya. Nggak tau karena lagi marah atau karena begitu kenyataannya, perasaan kalau ketemu di sekolah nggak gitu gitu amat.
-  Aku tekankan lagi ke anak anak, pergilah sesuai ijin yang diberikan.
-  Mungkin aku kurang kuat membentengi anak anakku dengan doa doa. Ampun ya Allah... Ini pelarian terakhirku. Tidak akan menimpaku kecuali apa apa yang sudah Dia atur untukku