Kamis, 08 September 2011

Fikri Kecelakaan !!!


gambar karya Teteh
Sebenarnya agak malas menuliskan kejadian ini. Pertama kejadiannya sudah lewat hampir dua minggu lalu. Kedua, kejadiannya nggak enak. Jadi nggak enak mood juga untuk mengenangnya. Tapi kupikir ada sebuah pelajaran yang bisa kuambil, dan mungkin juga buat emak emak yang sudah punya anak menjelang remaja.
Jumat tgl 26 Agustus lalu adalah rencana kami sekeluarga mudik ke Lampung. Di tengah acara packing packing, ada dua teman Fikri datang.  Mereka berboncengan naik motor. Hmm... terserahlah.. orang tua mereka ngijinin naik motor.
Trus aku ke pasar sebentar mencari beberapa keperluan. Sepulangku dari pasar, dua tamu cilik itu masih di rumah. (nggak cilik cilik amat sih, udah kelas 1 SMP)
Tiba tiba Fikri minta ijin mau Shalat Jumat di Giri Mekar. (Komplek tempat tinggal temannya itu). Yah, sesuai kesepakatan bersama, semua perijinan ada di tangan Abi. AKhirnya Fikri nelpon Abi. Dan dapat ijin shalat Jumat di sana.

Kira kira setengah dua, Abi datang  dan menanyakan, mana Fikri.
Maka aku SMS-lah Fikri.  Eh dasar bocah, nggak ngejawab.  Memang si F2 ini rada kurang lincah dalam menjawab SMS, alias males. Yah .. mungkin udah feeling orang tua kali yah... beberapa saat kemudian aku telpon. Diangkat, suaranya kecil banget.
"Fikri dimana ?"
"Di jalan, udah mau pulang nih. Ada kejadian"
"Kejadian apa ?" aku dah khawatir
"Yai udah dekat rumah" katanya. Telpon kututup.
Benar, tidak lama kemudian ada suara motor di depan, maka aku segera keluar.
Kaget aku, kok bukan ojeg ? Tapi seseorang berpakaian Satpam.
Kulihat Fikri. Kulihat Satpam. Berganti ganti kupandangi mereka.

"Yai  jatuh dari motor sama Ufi." kata Fikri sambil menunduk.
Gimana ceritanya ? sergahku
Berikut cerita versi Fikri
"Ufi bawa motor ke Ujungberung Indah, Yai di belakang. Tiba tiba Ufi bilang 'Fik kamu yang pegang setir' , terus Yai bilang Yai nggak bisa, tapi Ufi langsung lepas tangan jadi Yai langsung pegang setirnya. yah terus hilang kendali gitu deh, terus jatuh."
Aih, Sejenak naik darah, mana mau pulang, mana lagi beberes, pengen marah aja. tapi inget lagi puasa.
Segera kupanggil Abi yang masih di dalam. Kupikir mumpung ada saksi mata si Pak satpam itu. "Abiiii... sini... " (nggak teriak lho, rasanya seperti udah mati rasa, garing gitu. jadi datar aja.
Jreng jreng jreng... Berikut cerita versi Pak Satpam
"Putra Bapak dan Ibu, naik motor dengan temannya. Saya lihat dari jauh sudah oleng kiri kanan kiri kanan. Ban depan motornya kempes. Siapapun yang mengendalikan akan susah. Tadi pas ada mobil,mungkin kaget atau bagaimana, mereka ini menabrak pagar. Teman putra Bapak sudah saya antarkan ke rumahnya. Motor masih saya amankan. "
"Siapa yang di depan ?" tanya suamiku
"Teman putra Bapak." Jawab pak Satpam.
"Baik Pak, terima kasih atas bantuan Bapak." kata suamiku.
"Sama sama Pak, saya pamit dulu karena jam tiga nanti saya ganti shift"
"Mangga, Pak.." Kata suamiku. Aku ikut mengangguk dan senyum terima kasih ke Pak Satpam, namanya Pak Otong.

(Terus terang sejenak aku agak tenang, bukan Fikri yang bawa motornya. Karena Ufi, temannya itu, agak parah. Giginya lepas dua, bibirnya sobek, dan  saat Fikri diantar ke rumah  siang itu, Ufi sudah dalam perjalanan ke Rumah Sakit sama tetangganya, karena -kata Fikri- ayahnya lagi di Batam, dan adiknya sedang tidur, sehingga Mama Ufi tidak bisa mengantar.)

Waktu berjalan cepat rupanya. Sudah jam dua. Kami pesan taksi jam 4. Diskusi sebentar dengan Abi, kayaknya kami harus ke rumah Ufi, untuk bertemu orang tuanya, bagaimana bagaimana lah... Karena di rumah Ufi cuman ada Mama-nya maka Abi bilang mending aku yang ke sana.
Berangkatlah aku dan fikri (dan Faiz juga) ke rumah Ufi. Di perjalanan Fikri cerita, tadi pas perjalanan ke rumah Ufi, Yai disuruh diem aja di depan Mama Ufi., jangan nyalahin Ufi di depan mamanya. Aku diem aja, males komentarlah.

Sesampai di sana, rumah tertutup. Kupikir Mama Ufi sudah menggendong anaknya yang tidur itu dan berangkat ke rumah sakit. (membayangkan kalau aku yang mengalami ). Eh, ternyata masih di rumah. Ya ampuuunnn.. wajah itu begitu familiar.. sering ketemu di sekolah (Gimana enggak ? berteman 6 tahun )

"aduh Umi Fikri... saya sudah bingung bagaimana dengan Ufi ini. Anak itu nakal banget, nggak pernah nurut sama saya. Nggak ada takutnya sama saya. Kalau main nggak tahu kemana, dan pulang jam berapa, saya nggak bisa nyarinya. Anak itu nggaaaak ada kapoknya. Itu udah pernah jatuh dari sepeda, giginya patah. Masih dalam perawatan. Eh, sekarang nambah lagi patah. Aduh.. saya sudah capek rasanya"
Kontan aku bengong di berondong seperti itu.
"Oh, kirain dia diijinin naik motor" kataku polos.
"Nggak Bu.. .saya sudah melarang. Saya sudah umpetin itu kunci, kadang di lemari kadang di saku. Dia tahuuuuu aja.  Dia bisa motor itu belajar sendiri nggak tahu. Kalau ayahnya ke kantor, saya pengajian atau kemana, dia keluarin masukin itu motor. Saya tahu dari adiknya ini.  Sampai suatu ketika, saya bangun tidur kaget motor nggak ada, tahunya Ufi sudah bawa naik turun di depan itu."
(Aku semakin bengong)
"Terus sekarang Ufi sama siapa Bu ?"
"Sama Bapak sebelah ini, saya nggak tahan melihat darah. Lagian adiknya ini sama siapa kalau saya pergi. Saya kesel banget, saya udah capek"
"Saya bisa bantu apa Bu ? soalnya saya mau mudik sore ini jam  empat. Kalau saya ambilin motornya juga nggak bisa bawanya karena harus ditambal dulu. Paling saya carikan informasinya saja ya Bu, motornya di rumah siapa, dan saya cari pak Otong sama no telponnya. " (Posisinya aku masih merasa bahwa salah Ufi-lah motor itu bisa jatuh). Kemudian aku dan Mama Ufi bertukar nomor telepon

Tiba tiba hp Mama Ufi bunyi. Telpon dari suaminya. Gak terkuping pembicaraannya apa. Tapi terdengar jelas Mama Ufi bilang, Fikri nggak bisa ngambilin motor, karena mau pulang kampung jam 4. Setelah selesai bertelpon, mama Ufi bilang

"Telpon dari ayahnya, katanya Ufi di tolak di RSUD Ujungberung. Nggak ada dokternya. Jadi dibawa ke RS Santo Yusuf"
Aku kaget. Biasanya kalau ditolak kan parah gitu..
"Memang lukanya parah ya Bu ?"
"Ya dokter giginya di Ujungberung sudah nggak ada. Terus nggak tahu bibirnya itu perlu di jahit mungkin. Tadi kejadiannya gimana Fik ? Tanya Mama Ufi ke Fikri.
"Yah, aku lupa persisnya. kira kira seperti yang diceritain sama Bapak itu tadi" kata Fikri diplomatis.
"Kata Ufi tadi gara gara di gas sama Fikri, makanya nabrak" kata Mama Ufi
Deg !! Ufi nyalahin Fikri di depan mamanya.
"Anak saya kan belum bisa bawa motor Bu" kataku perlahan, setengah membela diri.
"Iya, Ufi itu sudah saya larang membonceng teman temannya, takut kenapa kenapa. Yah seperti ini kejadiannya."
Ah.. merasa sudah nggak enak banget. Dan diburu waktu juga, bla bla bla aku akhirnya pamit. Aku nggak ninggalin uang, selain karena nggak bawa (yah.. aku kan lagi beberes rumah tadi itu.. kupikir, uang itu seolah menjadi "pengakuan bersalah" bahwa Fikri yang bikin gara gara )
Nggak langsung pulang, tapi aku pergi ke Komplek Ujungberung Indah. Bayangkanlah posisinya. Dari rumahku ini, Giri mekar itu ke arah kiri, naik kira kira 1km. dan Komplek Ujungberung Indah itu dari rumahku ke arah kanan, kira kira 1km jg. Dasar anak anak ! Dari Giri Mekar ke Uber Indah itu kan lewat depan rumah. Bukannya berhenti dan pulang malah jalan jalan. Aku nggak sepenuhnya nyalahin Ufi yang ngebablasin motor, Fikri juga kayaknya seneng seneng aja dibawa jalan jalan.
Sesampai di Uber Indah, tanya Fikri dimana TKP-nya dia juga nggak ingat. Huh !!
(Walaupun akhirnya maklum, klo kita nggak pada posisi nyetir, kita susah nginget nginget jalan ya..)
Setelah tanya Satpam sana sini, ketemulah pos di mana pak Otong bertugas. Aku minta nomor telponnya dan aku minta alamat rumah dimana motor Ufi di titipkan. Sepanjang aku ke Ujungberung Indah, telponku bolak balik bunyi. Panggilan dari rumah. Nggak ku angkat, wlp hape di pegang Fikri.  SMS masuk, Fikri membuka  "Kata Abi cepat pulang, masih banyak yang harus diurus". Aih si Abi ini... pan kita juga lagi nyelesaiin satu urusan. Tapi aku cepat cepat pulang jg sih....
Sambil pulang aku bicara sama Fikri, tuh Fik, nggak mungkin kan anak anak dilarang naik motor kalau nggak ada sebabnya. Ufi kan udah lama bisa naik motor, masa' ban kempes nggak kerasa. Padahal itu kan bahaya, apalagi kalau ban depan. Mungkin karena sensitifitas anak anak belum ada, kewaspadaan belum cukup, tenaga juga masih kurang, sehingga belum diijinin bawa motor. Fikri diem saja.

Aku nyampe rumah sudah jam 3 sore. Satu jam lagi. Masih harus membereskan sisa sisa makan siang Faiz dan wadah wadahnya. Menyiapkan bekal untuk buka puasa. Sesuai pembicaraan pagi tadi, aku masak nasi, Abi yang beli lauk pauk buat buka. Untuk sahur aku udah pesan Eci agar beli KFC saja.

Begitulah... ada beberapa kejadian yang -menurutku- masih menggantung
- siapa yang benar omongannya antara Fikri dan Ufi ? (Tapi aku yakini kesaksian Satpam itu)
- apakah aku harus ikut menanggung biaya pengobatan Ufi ?
- sampai saat ini Fikri tidak bisa menghubungi Ufi di nomor hapenya, dan aku belum punya cukup nyali untuk menghubungi Mama Ufi.

Pelajarannya :
-  Tidak cukup aku melarang anakku naik motor/mengendarai motor. Tapi mereka harus kuberi pemahaman, agar tidak mau dibonceng oleh temannya yang belum punya SIM walaupun mereka sudah bisa naik motor.
-  Aku tidak cukup mengenali dengan dekat teman teman anakku. Ya Ampuun.. seorang Mama Ufi sampai komentar begitu terhadap anaknya. Nggak tau karena lagi marah atau karena begitu kenyataannya, perasaan kalau ketemu di sekolah nggak gitu gitu amat.
-  Aku tekankan lagi ke anak anak, pergilah sesuai ijin yang diberikan.
-  Mungkin aku kurang kuat membentengi anak anakku dengan doa doa. Ampun ya Allah... Ini pelarian terakhirku. Tidak akan menimpaku kecuali apa apa yang sudah Dia atur untukku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Tinggalkan Kesan