Jumat, 28 Oktober 2011

Faiz Pake Seragam

Beberapa hari setelah Faiz dapat seragam olah raga, dia dapat seragam hijau untuk dipakai hari Senin.
Eh, pas aku pulang kantor, abis maghrib, nggak ada angin nggak ada hujan, Faiz membuka baju sendiri dan berganti dengan pakaian sekolah.
Alamaak.. mau nunjukin sama Umminya yah.. yang nggak pernah liat Faiz pake baju sekolah.
qqqqq...



  
siap sekolah

  
senangnya...

  

Kamis, 27 Oktober 2011

Citra Oh Citra

Itu bukan lagu jadul yang mendayu dayu itu ya..

Ini mau #curcol sedikit soal kantor... hehe..
Beberapa hari lalu, pas aku asyik masak nyiapin makan malam si Abi yang lagi nonton tivi tiba tiba manggil
"Dek dek... sini bentar " nunjukin acara tivi.  Tempat nonton kami memang nyambungnya ke dapur.  Tampaklah gambar beberapa rekan sejawat sedang melakukan SPN
"SPN itu apaan sih ?" tanyanya lagi
"oh itu sensus pajak, di tanya tanya tentang usahanya, trus udah punya NPWP belum. Klo udah punya, sudah melakukan kewajibannya atau belum... " jawab si dedek setengah ngasal. (harap maklum kantorku gak ikut SPN, dan kami gak nerima sosialisasinya)
"Ah, itu mah cari "proyekan" aja..." Abi komentar setengah negatif
"Waah... klo cari "proyekan" yang enakan dong, ini mah sebaliknya. Udah banyak tuh teman teman yang sakit karena harus keluar dua hari sekali. Ini kan karena penerimaan dituntut naik terus, yah kita cari cara gimana caranya ningkatin penerimaan. Ini mah semacam penyuluhan dan edukasi kewajiban aja.." *ummi sotoy masih mencoba meyakinkan sambil tetap memasak
"Alaah... penerimaan tuh udah tercapai berlipat lipat, kalau saja kalian nggak ngambil jatah" sambung si Abi
"Ih.. jatah yang manaa ? Orang tuh nyari mati kalau masih berani main mata setelah modernisasi ini !" (*mulai naik darah deh)
"Buktinya ada Gayus !. Gayus kan belum lama, udah modern juga. " Abi membela diri
"Eit jangan salah ya.. Gayus itu main mata sama instansi di luar kami" *Ummi tambah sengit
"Ah, kamu aja yang nggak tahu kali. Hari gini mana ada yang bersih " kata si Abi lagi.
"Ummi tersinggung !!  Kalau nggak ada yang bersih,nggak halal atuh harta yang kita makan selama ini !" *si Ummi emosi beneran.
"Yah, Abi bukan ngomongin kamu laah.."
"Coba deh ya, mau dikemanain ribuan orang yang berusaha bersih. Berapa % sih orang yang bener bener buruk di instansi Ummi ?
Ummi yakin jumlah  orang yang berusaha baik dan "masa mengambang" yang bisa diajak ke kebaikan, masih jauuh  lebih banyak daripada orang orang yang berkelakuan buruk itu"   *Ummi tetep mencoba meyakinkan

si Abi diam. Mungkin kaget juga, istrinya ternyata bisa nyolot. Ummi diam diam menangis. Gimana mau meyakinkan orang orang di luar sana ? Klo orang terdekat saja belum yakin.
(Ih, asli aku belum pernah melawan suamiku sekeras barusan)

*Semalem si Abi membawakan daku booklet SPN, entah dapat dari mana atau di sensus di mana.
Fact : Ditjen Pajak mencatat sedikitnya ada 20 juta orang wajib pajak pribadi yang telah memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Namun dari jumlah itu baru sekitar 8 juta wajib pajak yang melapor serta membayar pajak. Sementara itu untuk wajib pajak badan, jumlah yang terdaftar mencapai 1,2 juta, namun kurang dari 500 ribu wajib pajak badan yang melapor dan membayar pajak 


Foto diculik dari sini

Selasa, 25 Oktober 2011

Terpesona Waroeng Steak

logo WS dari mbah gogle

Ini bukan food review ya..

Beberapa hari lalu waktu aku ke Erlangga by angkot, aku lihat cabang baru WS di jalan Gatot Subroto dekat pertigaan Burangrang. Dekatlah dari kantor.Wah bisa jadi sasaran wisata kuliner siang hari deh. Udah gitu bisa dijangkau pakai angkot bolak balik. Kebetulan nih, aku udah lama nggak ke WS. Terakhir sekitar dua tahun lalu (lama banget yah).

Karena belum dekat jadwal gank wisata kuliner, jadi aku menghubungi Echi aja buat makan di WS. Akhirnya deal kemaren kita berdua makan di sana. Berangkat pas teng jam istirahat. Pas baru buka banget kali yah, soalnya tulisan buka mulai jam 12.00-20.00. Alhamdulillah masih sepi. Hanya nampak sepasang muda mudi di sisi kiri yang tersembunyi. (apa seeeh,.. gak penting banget)

Sambil nunggu pesanan datang, aku lihat lihat sekeliling. Di dinding nampak foto foto menu a la mereka, di sorot lampu lampu yang sesuai sehingga makanan makanan itu makin tampak aduhai. Melambai lambai minta dicicipi.
Aih, sebentar. Ternyata foto foto itu bukan sekedar foto menu, tetapi ada pesan yang hendak mereka sampaikan di sana. Ada 4 buah foto besar bertuliskan kata kata bijak :
1. Berdoalah sebelum makan
2. Makanlah dengan tangan kanan
3. Bersyukur atas nikmat-Nya
4. Berbagi dengan sesama

Nggak persis begitu banget kali ya.. karena aku nggak bawa kamera. Tapi kira kira begitulah. Penasaran dengan si WS aku googling. Gambar gambar itu nggak kudapatkan, tetapi aku dapat info. Owner WS , Bapak Jody Broto Suseno adalah seorang enterpreuneur muda, usianya belum juga 40 tahun. Mengawali bisnis WS di Yogya, menyasar pasar mahasiswa. Kini sudah ada 50an gerai WS dengan omset di atas 100 juta/gerai/bulan.
Dan sudah meluaskan bisnis ke Bebaqaran dan Bebek Goreng H. Slamet (H Slamet gitu lho... kirain yang punya ya pak haji Slamet).

Ah ya, sejak 2009 WS sudah memberlakukan larangan merokok untuk karyawannya. WS juga memberangkatkan haji dan umroh untuk karyawan yang mampu menghafal beberapa surat pilihan dari Al Qur'an. Kini, di bawah naungan Waroeng Group sudah ada empat rumah tahfidz untuk mempersiapkan anak anak penghafal Al Qur'an.
Ada nama nama ustadz yang tidak asing lagi buat kita seperti Ustadz Yusuf Mansur di jajaran investor Waroeng Group.
Kata pak Jody, alhamdulillah dengan program program itu usaha mereka makin maju.

Salut deh buat pak Jody !

Senin, 24 Oktober 2011

Pengemis : Modus Operandi Baru

Teringat masa kecil, ketika sering lomba baca puisi, pengemis identik dengan gadis kecil berkaleng kecil seperti puisi karya Toto Sudarto Bahtiar. Ternyata sekarang pengemis tidak sesederhana itu. Ada yang berbentuk gadis kecil menggendong anak kecil, atau gadis kecil dengan tangan kecil yang tengadah dan wajah memelas.

Mungkin ada yang menganut faham, kalau mau ngasih ya ngasih aja laah. Tapi ketika yang mau dikasihin hanya segitu gitunya, yah kalau aku sih mendingan lihat lihat dulu, supaya "multiplier effect"-nya semakin besar. (halaaah.. bahasanya)

Nah cerita soal pengemis ini, sebenernya aku lagi agak sensitif, karena di lampu merah dekat kantor ada "pendatang baru", seorang pengemis bersih, dengan bayi di gendongan, selimut bersih, baju bersih, semuanya tampak bersih. Sampai suamiku yang super pendiam juga sampai komentar. Klo aku mirisnya sama si bayi ya.. dari kecil dah diajarin meminta minta, gedenya jadi apa yah... Semoga kelak bayi itu bisa memilah mana contoh baik mana contoh buruk dari ibunya.

Beberapa hari lalu, pas aku jalan kaki di pertigaan Jalan Jakarta dan Jalan Sukabumi, seorang Ibu memanggilku. "De... de..... " katanya. Aku berhenti dan menunggunya.
Setelah dekat, ibu itu berkata "De, ibu mau minta tolong. Ade punya receh nggak. Ibu mau cari kerja jadi pembantu, tapi ternyata udah ada yang masuk duluan. Sekarang Ibu mau pulang ke Tanjungsari (Sumedang) nggak punya ongkos" katanya.
"Ya udah, bareng aja sama saya atuh, lewat Ujungberung" kataku spontan.
"Nggak Neng, Ibu mau naik bis kota aja, yang ke Nangor (Jatinangor), Ibu minta 2ribu aja" katanya.

Ah ya, ada bis kota ke Jatinangor dari perempatan Jl. Jakarta dengan Ahmad Yani.
AKhirnya kuberikan 5ribuan. Dia berterima kasih terima kasih gitu walaupun uang segitu mungkin buat kita nggak seberapa.

Eh, sedikit buruk sangka muncul, ketika aku udah putar putar di jalan Jakarta itu, ketemu lagi sama ibu yang tadi, dan dia belum berdiri di jalur bis kota. Aih, tapi sudahlah. Aku menepisnya.


Ternyata, dua hari kemudian, aku melihat ibu itu masih di sekitar jalan Sukabumi dan A Yani. Alamaaaak.... Gimana nggak berburuk sangka coba !!

Minggu, 23 Oktober 2011

Raport UTS

Yah, anak sekarang mah beda sama anak jaman dulu, jaman aku. Meski masih SD dan SMP mereka ada UTS macam mahasiswa aja. ALhamdulillah UTS nya udah selesai 2 minggu lalu. Dan kemaren dua Sabtu berturut turut aku mengambil raport hasil UTS itu.

Sebenernya aku termasuk orang tua yang "nrimo" , dalam segala hal. Jadi dalam hal raport anak anak ini juga aku nggak punya target khusus. Yang selalu aku tekankan ke anak anak adalah, mereka berjuang melawan diri mereka sendiri. bukan melawan orang lain. Jadi aku mengukurnya yah dengan melihat keseharian mereka di rumah. Ini review hasil raport itu

Mbak :
Untuk hasil di kelas cukup memuaskan. Dia ranking 3. Semester genap lalu dia rangking 7. Tapiii... ada 3 pelajaran yang tidak lulus KKM. Tidak lulus KKM bukan berarti nilai merah ya.. karena KKM ini adalah batas minimal yang ditentukan oleh sekolah. Ada yang 7, ada yang 7.5 tergantung pelajarannya.
Dari 3 pelajaran itu, satu pelajaran (bahasa Sunda) itu sekelas nggak ada yang mencapai KKM (aneh kan ? ) Ya sudahlah.
Tapi kalau catatan dariku adalah... Mbak belum cukup maksimal dalam belajar. Habis maghrib belajar sambil main hape. Subuh subuh bangun pagi kembali pegang hape. Rasa rasanya harus diambil tindakan khusus terhadap benda bernama hape ini.

Fikri
Ini adalah raport pertama Fikri di SMP. Dia memang berhasil masuk SMP cluster 1 dibanding Mbaknya yang masuk SMP cluster 2. Aku cukup maklum kalau persaingan di sana begitu ketat. Maka ketika disebutkan 10 besar di kelas dan Fikri masuk di sana, aku sudah bersyukur. Tapi .. .lagi lagi ada 3 pelajaran yang tidak lulus KKM. Memang saat aku konsultasikan ke Walikelas, ini hal yang biasa. Nanti anak minta remidial aja ke guru pelajaran ybs.
Tapiiii... besoknya ketika aku bertemu dengan temanku yang sekolah di sekolah yang sama dengan Fikri, ternyata anakknya ranking 10 dan nilainya itu jauh lebih besar dari nilai Fikri yang rangking 4 .  Waah, ada yang salah niy.
Sebenarnya aku melihat Fikri ada kemunduran dalam mengelola waktu dibanding SD dulu. Waktu SD kan dia full day, jadi udah banyak belajar laah di sekolah. Maka kalau di rumah aku gak gitu nuntut. Sekarang Fikri sekolah siang. Nah kalau pulang sekolah di sore hari dia sudah capek. Tapiii.. di pagi hari setelah mengerjakan tugas rumah tangga, dia tinggal santai santai.
Yah, ada yang harus dikoreksi.

Untuk Mbak dan Fikri mulai malam tadi, mulai abis maghrib sampai pagi menjelang sekolah, hape harus disimpang di suatu tempat yang disepakati yaitu di rak buku.Nggak boleh lagi dibawa bawa ke kamar atau di bawa bawa tidur. Dengan harapan malam hari bisa konsentrasi mengulang pelajaran, dan pagi hari bisa baca walaupun sedikit.

Fadhila
Tahun ini dia tetap di kelas 5A. tapi sesuai pengalaman tahun tahun sebelumnya, kelas A ini justru untuk anak anak yang agak 'kurang' dalam prestasi akademik.
Memang selama setengah semester ini, nilai Fadhila lumayan naik laah dibanding nilai semester genap di kelas 4. Dan betapa terkejutnya aku, ketika menerima raport Fadhila masuk 5 besar. Bukan terkejut senang ya... tetapi terkejut, karena dengan nilai yang dia capai (dan ada 4 pelajaran yang tidak lulus KKM) ternyata itu yang paling sedikit tidak lulusnya. Halaaah !!. Kayaknya ada yang harus dikomunikasikan niy, ke sekolah. Dalam waktu dekat ini. Harus.
Khawatirnya Fadhila cukup puas dengan hasil itu dan dia berhenti belajar.
Aku tetap memberikan dia penghargaan atas hasil yang di capainya. Tapi aku mengajak dia untuk realistis. Bahwa sekali lagi, dia berlomba bukan dengan teman sekelas. Tapi dia harus melawan "rasa malas" dalam dirinya.  Aku tunjukkan nilai (calon NEM) yang masih di kisaran 9,7,7 kalau dijumlahkan sekitar 24-25. Dan jumlah itu belum masuk untuk SMP Negeri dekat rumah. Bahkan yang cluster 3 sekalipun !!
Alhamdulillah Fadhila setuju kalau aku kasih soal tambahan semacam try out gitu untuk latihan dia di rumah.

Firda
Alhamdulillah, tidak ada  catatan dalam hal prestasi akademik. Tapi ada catatan dalam hal 'pengungkapan pendapat'. Katanya Firda di kelas jarang bertanya atau menjawab kalau tidak di tanya. Kata gurunya, apa karena mencari aman atau apa. Tapi kalau ulangan tertulis mah nggak ada masalah.
Aih .. aku jadi khawatir, jangan jangan karena keseringan di cela cela sama kakak kakaknya dia jadi menghambat kepedeannya. Wah harus lebih serius juga nih.. menangani yang ginian.
Binun juga kadang kadang, kapan membiarkan anak anak menyelesaikan masalah sendiri supaya mereka belajar problem solving dan kapan mencampuri urusan mereka. Habis. .. kadang kayak yang musuhan, satu dua menit kemudian dah baikan lagi.

Ternyata banyak PR juga buat Ummi Abinya.

Minggu, 16 Oktober 2011

Kue untuk Faiz


Beberapa hari yang lalu, kepikiran mau membuat kue khusus buat Faiz bawa ke sekolah. Tapi akunya masih bingung mau bikin kue apa. Belum pernah bikin cake yang berhasil. Sejauh ini si oven hadiah dari Mamak Ephraim baru berfungsi sebagai oven brownies yang enggak pernah gagal itu.

Ceritanya ada dua calon kue yang aku bikin. Yang satu resep dari Mamak Ephraim si Ultra coklat tea. Satu lagi resep sponge cake black forest dari mama Yuna.
Emang dasar aku malas kali ya... melihat detail resep resep itu, aku jadi males mencoba kedua duanya.
Si Ultra chip itu aku masih ragu bikin cream milk nya.. (sorry ya Maaak...)
Si black forest itu aku malas bikin printilannya . Ada selai oles, ada simple sirup.
Hmm.. jadi bagaimana ya.. akhirnya aku buka buka lagi buku sedap pemula yang ada di rumah, dan sekali lagi mental koboy beraksi. Masaklah aku cake yang nggak ada resepnya. Jadi comot sana comot sini, belagu kayak yang pinter ajah.

So si kue ini berhasil laah, jadi. Mirip cake tepatnya. Dan yang penting buat anakku adalah finishingnya. Yaitu saat hias menghias.
Hiasannya bertema sponge bob. Fathimah mulai penasaran ikutan menghias si kue ini. Setelah dia mencoba, akhirnya komentar : "Mi, ternyata nggak semudah kelihatannya..." Hihi..
Faiz yang ngerasa kue dibikin untuknya... masih setia menunggu walaupun udah 21.30 malam. Dan... dia beraksi dengan tugasnya, menaburkan trimit.
dan inilah hasil kolaborasi itu..

Kue F5, spongebob dan patrick
Dan malam itu pun Faiz berangkat tidur dengan puas.
Pagi pagi ... bangun tidur langsung nyari.
Kue Faiz mana kue Faiz mana (langsung dipamerin ke Teteh dan Ayuk yang udah keburu tidur)
Daaaan.... dengan semangatnya dia minta kue itu dipotong.
Ya sudahlaaah.. nggak jadi di bawa ke sekolah. Biar deh dimakan anak anakku saja. Jumlahnya hampir sama kok. Teman sekelas Faiz cuman 8 orang, anakku ada 5 orang.

Mati Mendadak

Mungkin gurauan ini tidak lucu buat sementara orang. Tapi di keluarga kami, "mati" sering diperbincangkan, dengan harapan anak anak tidak takut pada kematian. Tidak peduli tua atau muda, bila telah tiba pasti akan menghadap-Nya. Tidak bisa dimajukan ataupun dimundurkan.

Ceritanya, minggu lalu aku cek kolesterolku, karena udah lama nggak cek dan nggak olah raga.  Wuih, ternyata, udah mencapai 290, terpaksalah harus minum obat. (kata dokter kantor). Aku dikasih simvastatin. sehari satu tablet
Obat itu kusimpan di meja.
Ayuk : Mi, ini obat apa ?
Ummi : Obat penurun kolesterol
Ayuk : Ummi sakit itu ? bahayanya apa Mi ?
Ummi : Ummi bisa stroke atau bisa mati mendadak
(Sampai disini Mbak Fathimah dan Fikri dah ngomentarin ; "Mana ada orang yang matinya siap siap dulu Mi, semua orang juga matinya mendadak, nggak tahu kapan waktunya" Tapi Ayuk tetap serius)
Ayuk : Ah.. ummi nggak boleh mati dulu. Harus lihat Ayuk besar dulu. Ummi harus makan obat ini. Makan sekarang Mi...
Ummi : Ini dosisnya satu hari satu tablet
AYuk : Hari ini ummi udah minum obat belum ?
Ummi : Udah kok
Ayuk : Terus Ummi nggak boleh makan apa saja ?
Ummi : Goreng gorengan, udang, ati ampela ...
Ayuk : Ya udah Ummi nggak boleh lagi makan gorengan... (sambil menjauhkan gorengan dari jangkauanku). Pokoknya Ummi nggak boleh mati mendadak
Ummi : ketawa ... (puas, ngerjain sesekali)

Rabu, 12 Oktober 2011

Narsis (dot) com

Hihi. ini adalah hasil iseng iseng gara gara nggak bisa tidur setelah minum secangkir kopi.
Udah kubawa merajut satu dompet sampe beres belum ngantuk juga. Iseng iseng aku googling namaku sendiri. Asli iseng...


Eh.. ternyata sampai beberapa halaman di hapeku, masih muncul muncul aja namaku.
Kebanyakan sih dari review review di goodread. Kemudian kicauan kicauan di twitter. Dan tidak menyangka .. ternyata ada salah satu link yang aku sendiri tidak tahu bahwa ada kejadian itu yang menyangkut diriku. 


Ada yang menyebut namaku sebagai pelopor FLP di NTT (alaamaaaakkkk.. betapa tersanjungnya). Padahal ya... terus terang, waktu itu memang aku sempat saling berkirim faksimili dengan tim FLP pusat. Tapi  giliran aku menerima faksimili dari Jakarta tentang syarat syarat dan ketentuan pendirian FLP ini, kertasnya nggak kebaca sama sekali. Jadi sebenernya FLP NTT itu (di masa aku) belum pernah ada. Nggak tau deh sekarang.
Terus ada juga salah satu kejutan lainnya, ternyata ada salah satu ceritaku yang terbit juga di nulisbuku.com yang aku belum tahu. Itu aku dapatkan linknya dari sini. (aku dah invite tp blm dijawab)


Waaah.... ternyata, sesekali narsis itu boleh juga.
Penasaran ? Coba googling namamu sendiri.

Ini cover bukuku itu... 

curhat cinta colongan

Senin, 10 Oktober 2011

Fikri Jualan Pulsa Lho..

Hehe.. ini mah karena ada bakat turunan kali ya.... bakat ku butuh kata orang Sunda. (karena terdesak kebutuhan.)
Fikri dengan ketelatenannya, punya tabungan sekitar 700rb an. Itu jumlah yang sangat banyak buat ukuran anak anakku. Nah, dia ceritanya bingung, uang segitu mau diapain. Nanggung.
Membujuk mbujuk Ummi ngajak patungan beli netbook. Ogah doong.. Ummi belum perlu. hehe.. Eh, kemaren dia baca tabloid komputer, liaaatttt aja ada tablet entah merk apa, seharga 1.089rb saja. Semangat dooongg... dianya.
Mulanya masih berusaha membujuk Ummi patungan beli tablet. (keukeuh pisan nya'...), Ummi juga keukeuh nggak mau. Da belum butuuhhh...
Ya sudah akhirnya dia mencari akal bagaimana cara mempergemuk tabungan dengan lebih cepat. Bukan dari uang jajan yang 2500perak sehari, atau ngirit ongkos ojek 2000perak. Dia tertarik jualan pulsa. Yuhuy... Iyalah. segera difasilitasi. Dianter ke dealer pulsa dekat rumah. Diajarin cara cara pengisian, komplain dsb, go go go.. mulailah Sabtu sore dia jualan.

Kutanyain, Fik, kamu kan punya gratisan sms yah ? Iya, katanya. Sok atuh, promosikan ke seluruh teman temanmu, bahwa kamu jualan pulsa. Sekalian kasih harganya. Klo bisa lebih murah dari yang lain, biar omset lebih banyak. Malam itu dia langsung sms dan langsung dapat order. (hihi.. senengnya...)

Yah pokoknya itu sudah jalan lah.. jualan pulsa.
 Eeeee... pulang kantor kemaren, Fikri lapor, uang pembayaran pulsa 5rb rupiah jatuh entah dimana. Yaaah....
Aku cuman bisa membesarkan hati. "Nggak papa Nak, namanya juga usaha. Nanti pasti dapat gantinya." Chayo Fikri, jualin lagi pulsanya !!!


Minggu, 09 Oktober 2011

Melenggung

Suatu hari, Faiz sedang asyik mewarnai buku gambar di kamar.
Sambil tetap mewarnai dia berkata :

Faiz : Ummi, ummi, Faiz bisa melenggung lho...

Ummi : (sedikit bingung ) melenggung ?

Faiz : Iya.. Faiz bisa melenggung

Ummi : Melenggung gimana ?

Faiz : (berdiri di kasur dan menghadap dinding) Ini lho melenggung (sambil membuat garis lengkung di dinding)


Ummi  : Oooo... bikin garis melengkung.

Faiz : iya.. melenggung.

Ummi : ??? (iya deh)

Senin, 03 Oktober 2011

Mesin Jahit Pinjaman

Seperti pernah aku posting  disini,  aku sekeluarga pakai baju seragaman. Baju para cowok aku masih minta tolong teman untuk menjahit. Tapi baju para cewek, aku sendiri yang menjahit. Aku menjahit pakai mesin jahit pinjaman dari mbak Rakhma yang baik hati.

Ceritanya waktu itu sudah memasuki pekan ketiga Ramadhan. Kebetulan aku dapat halangan. Jadi inilah saat yang tepat untuk menjahit, pikirku. Semua bahan sudah aku potong potong sesuai pola a la Titi. Di Sabtu pagi yang cerah, dengan bersemangat aku panggil mang Ojek langganan. Berrrr.... sepuluh menit nyampe rumah mbak Rakhma. Aku minta nunggu sebentar, dan dapatlah aku pinjaman mesin jahit itu. Langsung aku bawa pulang, aku bongkar bongkar dan mulailah aku beraksi. Oya, kebetulan kan Sabtu anakku sekolah semua, jadi aku bisa leluasa menjahit.

Di tengah aku asyik menjahit, tiba tiba suamiku yang tadinya tengah membaca di kamar, keluar dan mendatangi. Rasa takjub begitu jelas di wajah itu. Memang di rumah ibu mertua ada mesin jahit siiih.., tapi itu mesin jahit jadul yang masih pakai kaki untuk menggerakkan.
Mula mula dipandanginya mesin dari arah depan. Kemudian dari arah samping. Kemudian dari arah belakang (dari posisiku menjahit). Lumayan lama deh.. Dan aku belum pernah melihat ekspresi itu saat melihat barang baru apa pun !!
Tau tidak, selama doi melihat - lihat mesin itu, maka mantra eh doa yang biasa kubaca kalau ada orang lagi melihat lihat daganganku aku bacalah. Sing kabita sing kabita ... (semoga kepengen semoga kepengen hihi.. *berharap dibeliin)
Hu.. andai saja dikau melihat ekspresinya ketika melihatku menjahit itu, tepatnya melihat mesin jahit itu, dan posisinya sama seperti aku (suka jahit tapi belum punya mesin jahit), aku yakin doa yang kubisikkan itu, pasti kau bisikkan pula. :D

Sayangnya, di kotak mesin jahit itu nggak ada lagi buku manualnya, dan aku belum belajar ke mbak Rakhma bagaimana memaksimalkan penggunaannya, jadi aku belum bisa menjahit yang motif motif gitu. Bisanya baru pake yang lurus lurus.

Mau tau penampakan mesin jahit itu ? Inilah dia....
 

mesin jahit mba Rahma

Emang bikin kepengen kaan ??