Kamis, 29 Desember 2011

Berkebun (atau bertenak ulat ) ?

Sebagai seseorang yang menggeluti multi peran (cie cie...) dan memiliki multi talent (jiah.. enggak banget)  salah satu hal yang kulakukan di sela sela hari libur adalah berkebun. Di seberang jalan depan rumahku terbentang sawah nan luas, adalah setengah hektar. Tapi bukan milikku .. hehe.. jadi aku cuma menikmati saja proses si Bapak membajak sawah, menyemai bibit, menanamnya, mencabut gulma dan beberapa hari (iyah, hari.. karena gak kerasa, usia padi kan paling 3 bulanan yah..) kemudian, akan terdengar suara kelontang  kaleng kaleng berisi kerikil pengusir burung burung ketika padi mulai menguning. Dan saat yang paling berbahagia adalah ketika di pagi buta, beberapa Ibu sudah duduk duduk di pinggir sawah, itu pasti saatnya panen tiba. Lumayan laaaah... meski cuma lihat, cukup jadi pengusir penat kehidupan kota Bandung, wabil khusus Cijambe, yang mulai macet di pagi dan sore hari.

Eh, kebunku bukan yang kuceritakan tadi ya.. kebunku hanya sepetak tanah sisa yang tidak dibeton oleh pemilik lama, kira kira ukuran 50 cm x 200 cm. Hayaaah.. berkebun apa ?? Macam macamlah aku tanam di situ. Ada bunga anggrek liar di pinggir tembok, disusul rumput menghampar, dipinggir pinggirnya aku tanam sansivera, disela sela rumput sekarang aku tanam sebuah pohon nanas (haha..sebuah saja), satu pohon kunyit, dan satu pohon kemangi. hehe.
Nah di hari bumi  tahun ini, aku menanam pohon kersen. Orang ada yang bilang buah cery kampung, atau apalah  terserah kalian menyebutnya.  Eit jangan diketawain, itu pohon pinggir jalan ya.. Ini mah soal menentramkan diri, mengenang masa kecil, memanjat pohonnya, meraih buahnya yang mulai merah ranum, dan langsung hap ! masuk mulut tanpa dicuci. hmmm... yummmi...

Beberapa teman melarangku, Bibi juga, katanya banyak ulat. Suamiku nggak ngelarang (ya eyalaaah... dia kan tumbuh di kota, gak hafal masalah 'perkebunan'. Abi lah yang membantu menghancurkan semen kira kira ukuran 50x50 cm, dan menggali lubangnya untuk si Kersen kesayangan. Daaaannn... dalam 6 bulan saja, pohon itu sudah tumbuh, rimbun dan rindang. Lengkap dengan ulat ulatnya yang bergelantungan (tuh kaaan.... kata Bibi). Ulat bulu lagiii....
Merasa sebagai satu satunya oknum yang wajib bertanggung jawab, hari Sabtu pagi minggu lalu aku berpakaian lengkap, membawa galah dan memukul mukul ranting kersen itu agar si ulat berjatuhan. setelah berjatuhan, dengan kejamnya aku matiin pakai galah bambu. Adalah.... barang 30 ekor ulat. Alamaaaak.. janganlah kau tanya apa yang kurasakan ketika melakukan itu. Demi si buah cery kampung aku rela melakukannya.
Mau lihat sebagian ulat itu ? Ini dia, yang bersembunyi di bawah pot di dekat pohon kersen itu.
Hiiiii....


6 komentar:

  1. hiii...geli liatnya....*merinding.... :)

    kunjungan perdana,..slm kenal yaa maaak

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihi... saya juga sebenernya, tapi gimana lagi, gak ada yang mau membasmi. Jadi terpaksa si penanam pohon harus tanggung jawab.
      Makasih kunjungannya ya Maak. *siap2 kunjungan balik

      Hapus
  2. ulaaatttt.......... hiiiiiyyyyy..
    *kabur...

    BalasHapus
    Balasan
    1. hi.. hi.... *kejar, sambil ngacungin ulat bulu di ujung ranting

      Hapus
  3. ulat..... bisa nangis aku liatnya. Trauma lagi kecil, bengkak sekujur tubuh hanya dicium ulat kekekekke

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah harus di terapi dong bun, biar ilang traumanya :)

      Hapus

Silakan Tinggalkan Kesan