Jumat, 30 Maret 2012

Catatan Hati Suatu Pagi

Pernah di suatu chat aku ditanya teman, kemana aku akan pergi siang itu ? Aku menjawab iseng, mencari kebahagiaan ! (maksudku mau bersenang senang gitu..) Ternyata dia menanggapi serius, dan kemudian membalas chat-ku
"jangan membuat syarat terlalu tinggi untuk kebahagiaan, karena kebahagiaan itu adanya di hati, maka kuberharap semoga kita dapat berbahagia dalam kondisi apapun"
Yup, aku sepenuhnya setuju  dengan kata kata itu. Bahagia itu ada di hati, dan hati itu ada dalam diri kita. Maka sebenernya bahagia atau tidak, adalah tergantung bagaimana kita menyetel hati. Mau bahagia mode on atau sebaliknya.
Ada orang yang menyetel bahagia ketika dia mencapai sesuatu, ada orang yang bahagia saat dia menjalani proses.Kalau aku sih lebih seneng memilih yang kedua. Bahagia ketika proses demi proses dapat kita lewati. Karena hasil itu adalah mutlak keputusan-Nya. Lewat proses itulah kita dapat memadukan antara doa, ikhtiar dan tawakkal.  Memulai segala sesuatu dengan doa, kemudian berikhtiar untuk mencapainya, dan akhirnya menyerahkan kepada Allah SWT hasil apa gerangan yang akan dikaruniakanNya.
Toh apapun kondisinya, bagi seorang hamba, selalu baik kesudahannya. Bila yang dikaruniakanNya kebaikan maka itu akan membuat seorang hamba bersyukur. Sebaliknya, bila yang dikaruniakanNya ujian, cobaan, musibah dan sejenisnya, maka itu akan membuat seorang hamba bersabar. Syukur dan sabar, sama baiknya, sama dekatnya dengan Dia.
Jadi tidak ada alasan untuk tidak bahagia.
Aku bahagia dikarunia suami yang mencinta dengan caranya dan bertanggung jawab terhadap keluarga
Aku bahagia dikaruniai anak lima, dimudahkan saat hamil dan melahirkannya, dimudahkan dalam mendidik dan memelihara mereka, semoga menjadi anak yang sholeh dan shalihah sepanjang hayat
Aku bahagia mempunyai teman teman yang penuh perhatian, seiring sejalan dalam meraih kebaikan
Aku bahagia dengan segala pemberianNya dalam diriku, jasad yang sempurna, akal yang ada ada saja, dan selalu diberiNya jalan untuk menyelesaikan segala kesulitanku saat ini.
Aku bahagia bisa berbagi, meski tidak selalu dalam bentuk materi.
Aku bahagia dengan berbagai kesempatan yang Allah berikan dalam berbagai keadaan.
Aku bahagia dengan apa yang kujalani saat ini.
Terima kasih ya Allah, atas karunia yang bukan hanya Kau berikan, tetapi Kau curahkan selalu, meliputi diriku.
Semoga ini menjadikanku seorang hamba yang pandai bersyukur.
Amiin



"Tulisan ini sebagai Inspirasi untuk Catatan Hati 10 Maret 2012 - @yankmira #1 Giveaway"

Rabu, 28 Maret 2012

Customer (lagi) !

Habis nulis cerita sedih, saking menghayatinya sampai ini muka juga kebawa sedih. Sampai sampai di kirimin pesan dari teman di back office katanya klo ngelayanin customer jangan pake cemberut. Walaupun aku ngeles, aku hari ini off dari melayani customer karena dapat tugas lain, mencetak tanda terima surat dari pos yang seabreg jumlahnya. Hihi.. tapi katanya ituh para tamu kan tetap melihat wajah cemberutku (padahal sedih).
Baiklah biar agak sedikit ceria aku cerita lucu tentang seorang Bapak yang sudah sepuh. Aku perkirakan usianya di atas usia pensiun. Mungkin sekitar 60 tahun bahkan lebih. Cara bicara dan cara berjalannya yang mengatakan itu.
Pertama aku bertemu adalah waktu bapak itu lapor spt tahunan. Tapi belum diisinya si laporan itu. Beliau hanya membawa SSP.  Jadi aku nggak bisa menerima.
Lucunya begini, laporan tahunan itu kan diterimanya di tenda khusus di luar kantor. Sedangkan kami di loket hanya menerima laporan bulanan. Saat itu antrian penuh sekali. Pas aku panggil nomor 130 (wuih aku masih ingat nomornya), dan ternyata nomor 130 ini lapor tahunan dan aku persilakan ke loket di luar, dengan sigap bapak ini menggantikan posisi nomor antrian 130 sambil meminta potongan kertas nomor antrian 130 yang tadi tidak diberikan padaku oleh si nomor 130 yang asli.
Tweng weeeng....
OK Baiklah... berhubung sudah sepuh aku sedikit mentolerir dengan menerima laporan beliau. Walaupun sesungguhnya laporan itu tidak dapat diterima juga, karena ternyata ada kesalahan nomor kode di SSP-nya. Harus dilakukan pemindahbukuan. Jadi aku persilakan beliau untuk konsultasi ke AR karena kalau aku jelasin di loket, antrian bakal mandek dan jadi panjang.......
Nah dua hari kemudian, ada anak muda yang membawa satu tumpuk laporan bulanan dan surat surat. Saat itu loket juga ramai sekali. Maklum mendekati tanggal 20, batas akhir laporan bulanan.
Eh, di antara surat itu aku menemukan surat si Bapak yang tadi. Permohonan pemindahbukuan. Nah, iseng iseng aku ajak ngobrol si anak muda tadi (kupikir tadinya konsultan si Bapak),
"Oh, ini jadinya pemindahbukuan ya ?" kataku sambil menginput surat si Bapak.
"Ada masalah bu ? " tanya si anak muda. "Soalnya saya tidak tahu, saya cuma dititipin, itu Bapaknya ada di belakang".
Gubrak !! Aduh Maaaak....  aku mau berburuk sangka nih, kayaknya Bapak itu sadar benar, dengan ketuaannya dia bisa mendapatkan kemudahan. Yang pertama 'nyabet' antrian orang, yang kedua 'nitip' ke antrian yang lebih awal.
Tapi aku  kok jadi miris ya... dengan aksi menelikung nelikung seperti ini... apa jangan jangan aku yang lebay !! *tepok jidat

Demam Youtube

Gambar dicomot dengan cara print screen dan di paste di paint. (manual banget yah ?)
Aduuuh.. beneer bener anak sekarang sudah beda jauuuuuuhhh banget sama anak jadul sebangsa aku ini. Jaman dulu mah, kalau tampil di panggung tujuhbelasan di halaman kelurahan rasanya sudah yang oke banget, ditonton orang sekampung.
Anak sekarang mah, mainannya youtube.
Ini sih sebenernya akibat dari keisengan salah satu temen anakku. Di hari  hari tertentu, anak anak SD itu diijinkan membawa kamera, misalnya pas class meeting atau ada peristiwa khusus.
Waktu itu, kalau gak salah pas bagian anak kelas 5 jualan di acara market day sekolahan. Nah ini segerombolan cewek iseng iseng nyanyiin lagu Beautiful-nya Cibi (aduuh, yg ini juga nggak nguatin niy, deman cherry belle ). Dan direkam kamera terus diupload di youtube.
Aku yang dilaporin anakku awalnya agak sedikit khawatir juga. Tapi pas ayahnya mengunduh file itu, tak urung aku ngakak juga.
Penasaran ? Anakku satu satunya yang pake kaos biru di sana.
AKu googling dengan kata kunci "attakwa - beautiful" langsung ditampilkan mbah Google di urutan kedua.
Makin penasaran ?
Ini dia linknya
http://www.youtube.com/watch?v=yTerGMX8dTY

 

Selasa, 27 Maret 2012

Olala, Anakku Jatuh Cinta

Pagi hari, baru bangun tidur dan keluar kamar, masih sambil ucek ucek mata si Ayuk langsung cerita;
"Ummi, tadi malam aku nangis lho..."
"Kenapa ? Patah hati ?" si Ummi menjawab setengah menggoda. Soalnya, nggak seperti kakak kakaknya yang kelas 6-an lah baru ngomongin lawan jenis. Ini mah, dari kelas 4 kemarin udah CCP (pake istilah Tri = curi curi pandang)
"Ih Ummi, aku sebelumnya berfikir kenapa orang teh pada bunuh diri gara gara putus cinta, ternyata emang sedih ya..." sambungnya lagi
"Alaah.. cinta anak anak ini. Kamu mau bela belain si dia, lha si dia juga masih anak anak, kalau mau apa apa juga masih nangis ke ibunya, gimana mau ngurusin cewek. ?" aku menetralisir
"Hehe.. iya juga sih, Mi.."
"Udah deh.. jangan terlalu cinta. Nanti kalau kamu SMP, SMA, kamu bakal ketemu orang yang lebih pinter dan lebih cakep dari dia. Apalagi kalau udah kerja."
"Emang Ummi tau, siapa orangnya ?"
"Ya taulaaah..." (asli klo yang ini mah jawaban Sotoy, abis, gonta ganti melulu sih... siapa oknum "si dia" itu)
Rupanya Ayuk cukup puas dengan jawabanku, dia pun beranjak ke kamar mandi.
Huh, dasar bocah !


Senin, 26 Maret 2012

Jalan Jalan Sama Faiz

Menjadi perempuan adalah kodrat, menjadi Ibu adalah pilihan. Aku suka dengan quote ini. Yah, ibu disini mungkin Ibu yang memerankan tugasnya ya.. bukan sekedar orang yang melahirkan. Toh seseorang tidak harus melahirkan dulu baru menjadi Ibu. (Ibu biologis). Dia bisa menjadi Ibu Guru, Ibu RT, Ibu angkat, dsb. Dan memang kodrat perempuan itu membawanya ke berbagai tugas. Tugas kita sebagai anak terhadap orang tua, tugas sebagai istri di hadapan suami, tugas sebagai anggota masyarakat, tugas sebagai Ibu terhadap anak anaknya (baik anak kandung maupun anak didik), dan tentu saja tugas sebagai hamba-Nya untuk tetap beribadah dan menyebarkan kebaikan serta mencegah kejahatan dan keburukan.
Nah, seringkali karena keterbatasan kita sendiri, kadang kita merasa kok tugas ini tabrakan dengan ini, kok tugas ini tabrakan dengan itu. Sebenarnya tidak, ketika kita lebih jeli melihatnya. Yaitu dengan kaca mata skala prioritas. Ada yang penting dan sekarang, ada yang penting tapi bisa nanti. Ada yang nggak penting tapi harus sekarang (hihi.. ngangkatin jemuran pas ujan gerimis kali ya..*becanda) atau nggak penting dan bisa nanti nanti . Ketika kita bisa memilih inilah maka kita akan senantiasa merasa tentram dengan pilihan kita, menurutku.
Misalnya aja ketika karena sesuatu hal aku nggak bisa ngantor (karena bibi nggak datang dan suamiku nggak bisa gantian membolos) ya sudahlah aku nikmati saja hari membolosku dengan mengoptimalkannya. Maka suatu hari itu akan aku gunakan untuk jalan jalan sama Faiz (iya karena tinggal dia yang di rumah, yang lain kan udah pada sekolah sampai siang/sore).
Aku ajak Faiz ke rumah Puput, urusan dagangan tentu saja, walaupun Puput nggak ada, poin pentingnya adalah aku jalan sama Faiz. Dagangan mah titipin aja sama Mbah.
Kami berangkat dengan jalur yang berbeda. Pertama naik angkot biru dari jalan Rumah Sakit, turun di Superindo, sambung becak dari Superindo ke rumah Put.  (aduuh senengnya,.. karena dia sudah belajar lagu Naik Becak), Pulangnya  ku ajak dia naik jembatan penyebrangan, dan naik angkot jurusan Cibiru sampe bunderan. Lalu naik Damri kesukaannya.
Tak lupa membungkus satu paket KFC untuk makan siangnya.
Maka cukuplah semua menjadi penghibur. Tak terbayar semua senyum dan tawa berdua dengan berapapun potongan penghasilan yang orang sering bilang "sayaaangg.. klo gak masuk... absen ajaa..."


Kamis, 22 Maret 2012

a la gitaris

Faiz ini aku melihat pendengarannya tajam sekali. Emm.. maksudku dibandingkan kakak kakaknya pada usia yang sama. Pertama adalah pas umur 8 bulanan gitu kalau dengar iklan tertentu bakal menoleh ke ruang tipi yg nota bene tinggal merangkak beberapa langkah dari tempat dia berguling dengan buku bukunya.
Kemudian beranjak agak besar sudah pinter ngikutin baca buku Mute Balita yang dibacain kak Eka Wardhana di VCD. Eh.. kemudian berlanjut ke intro intro iklan. Halah... (jadi inget olokan Sondang, hihi keturunan remaja vinolia..) Dan, yang sangat sangat berbeda dengan kakak-kakaknya yang puas dengan mainan buku, Faiz minta benda benda yang dia lihat baik langsung / di buku. Pertama sekali dulu minta semacam organ gitu.KLU nya yang dipencet pencet. Berhubung di rumah ada pianika, kayaknya dia cukup puas dengan mencet itu, dengan kakaknya yang meniup.
Kemudian minta drum, dan dia dengan mantap menggebuk drum, sedang kita yang disuruh kesana kemari naik motor motoran, memperagakan sholat, dll . Lho ? Iya.. doger monyet mode on. Dengan lebih gamblang, dia yang mukul drum, kita disuruh jadi monyetnya.
Kesini kesini dia minta gitar. Abinya doong,.. yang dirayunya jalan ke toko mainan dekat rumah. (yang asli lengkap, meski harganya jauh dari cibadak. ya eyalaaah.... ) Karena gak ada anggaran buat gitar beneran, gitar gitaran pun sangat membahagiakannya. Lihatlah gaya dia berdiri dan bernyanyi.. bari suara teu nyambung dengan gitar yang cuma bisa jrang jreng jreng.. hihi..
Berdoa ya Nak, kalau memang jalanmu di situ, Ummi dan Abi punya rejeki untuk membuka jalanmu.


tes senar
  

beraksi
  

ekspresif
  

Walk Out

Nyambung ngomongin customer.
Awal awal di kantor baru ini aku takjub takjub. Hampir tiap hari kantor tidak pernah sepi. Ada sih.. saat saat agak senggang yaitu antara tanggal 21 - 27 setiap bulannya. Di awal bulan, dimana kantor kantor yang lain (apa lagi kantorku sebelumnya) begitu sepi pengunjung, di sini sudah ramai. Hehe.. syukur jugalah.. aku tidak dibayar percuma. Tapi memang karena ada kerjaan.
Nah, di musim laporan tahunan ini.. volume customer bisa dua kali lipat, bahkan lebih.
Dan sebagai petugas front office, aduuuh.. sungguh sungguh perlu stok senyum dan kesabaran yang tidak boleh ada batasnya. Macam macam aja orang yang datang.
Kali ini aku mau ceritakan seorang customer dari salah satu perusahaan telekomunikasi yang sudah terkenal di negeri ini. Kukagumi bagian apapun di perusahaan itu,  yang sudah menyediakan form laporan tahunan orang pribadi di dalam sistem mereka, karyawan di bagian apapun tinggal mengunduh dan jadilah.
Hanya sayangnya.. hasil unduhan itu bukanlah bentuk standar.  Di dalam buku petunjuk pengisian laporan tahunan orang pribadi, sudah dijelaskan bahwa bentuk laporan karyawan yang berpenghasilan 60jt ke atas /tahun haruslah kertas F4. Nah karena laporan tahunan ini nantinya di-scan dan dikasih barcode lalu dikirim ke bagian pengolahan dokumen di Jakarta, maka -yang kami pahami-- kertas itu harus standar F4.
Suatu hari datanglah seorang anak muda (hihi.. lebih muda dari aku.. kira kira 30an awal) dengan laporannya yang tidak standar itu.
Titi : Bapak, mohon maaf, kami tidak dapat menerima laporan tahunan Bapak, karena bentuknya tidak standar. (Sambil aku jelaskan alasan dan kutunjukan buku petunjuk)
Tamu : Kami kan tinggal down load di kantor, jadi nggak tahu kalau peraturannya begitu . Terus gimana ?
Titi :  Bapak dapat mengunduh ulang di kantor dan dicetak di kertas F4
Tamu : Ribet amat. Di kantor saya nggak ada kertas F4. Lagian susah juga ijin mau ke sini.
Titi : Bapak dapat membawa kertas F4 dari sini (kataku sambil mengeluarkan kertas F4)  dan Bapak dapat minta tolong office boy untuk kemari.
Tamu : Nggak usahlah. (meno ak kertas dan sambil mencet mencet smart phone-nya)
Titi : atau Bapak dapat menyalin laporan Bapak di sini dengan di tulis tangan (laporannya cuman 1 halaman yang diisi full, halaman lain cuma sedikit-sedikit isinya)
Tamu : Ribet ah. (masih sambil mainin smart phone, dan tiba tiba berdiri serta berjalan keluar. Laporan tahunannya ditinggalkan begitu saja di mejaku)
Titi : ???? bengong (ih, ternyata yang bisa walk out gak cuman anggota dewan aja !!)

Minggu, 18 Maret 2012

Tidak, Terima Kasih

Suka duka bekerja di tempat yang dinilai orang begitu basah, begitu mudah menerima segala pemberian dan gratifikasi, ya resiko laaahh..
Sebelum koorps-ku modernisasi sih aku mafhum sekali bila itu terjadi. Tapi setelah hampir sepuluh tahun berjuang, merubah keadaan, merubah kondisi, membangun citra, Oh.. kalau masih menemui hal hal seperti itu, Aduuuh... sedih deh...
Memang sih, dalam hati kecilku, akuu tidak memungkiri, pastilah masih ada segelintir orang yang masih bermain api. Mereka yang biasa hidup berfoya foya dari uang persembahan, pasti nggak akan cukup hidup sederhana dengan uang barang belasan juta (kelas pejabat), atau uang 8-10  juta kelas rakyat seperti aku. Yang bagiku itu sudah jumlah yang alhamdulillaaah...
Kalau nurutin napsu (sengaja ya, ditulis pake 'p') mah gak bakalan ada habisnya..

Yap, kembali ke topik. Peraturan pelayanan di kantorku adalah dari jam 8 pagi sampai jam 16 sore. Kemarin ada customer datang, mau lapor, udah lewat dari jam empat. Melihat wajahnya dan kusut rambutnya, nggak tega rasanya mau menolak. Mana perempuan lagi. Gerimis pula. Aduh.. bener bener nggak tega deh, memintanya datang kembali esok pagi.
Akhirnya aku terima saja laporan dia, karena itu laporan tahunan yang tanda terimanya manual.
Setelah berbasa basi sebentar, si mbaknya bilang
"Mbak.. jangan marah ya.."
"Iya nggak papa, kan mbak nggak saya marahin kan ? ini laporannya saya terima" kataku
"Iya terima kasih. tapi ini udah di luar jam kerja Mbak .." kata dia lagi
"Oh, ini masih jam kerja saya, jam kerja saya sampai jam lima sore" kataku lagi sambil nyekrek nyekrek tanda terima ke laporannya.
Eh, tiba tiba si mbaknya ngeluarin duit dan menyorongkannya kepadaku . Alamaaak.... Aku yang (terus terang) baru pertama mengalami kaget. Dan untunglah segera mengendalikan diri
"tidak mbak terima kasih. Kami tidak menerima pemberian dari pelayanan yang kami berikan" Kataku. Pasti kalau wajahku putih, saat itu jadi merah.  Aku sih, malu aja klo menerima gituan.  Kayaknya kok nggak sebanding sama harga diri yang di pertaruhkan.
Akhirnya mbak nya mengerti dan pulang. Semoga dia mengenang, bahwa tidak semua pegawai korps-ku mudah tergoda oleh uang

Jumat, 02 Maret 2012

Story Behind the Birthday Cake

Di bulan Februari lalu ada dua orang istimewa yang ulang tahun.
Pertama adalah Mama Yuna yang ultahnya di 12 Februari, dan kedua adalah F2, yang ultahnya jatuh pada tanggal 19 Februari.
Dari jauh jauh hari mba Tri dah pesan, bahwa dia mau kue ultahnya aku yang bikin. Alamaak... mana pede ya... mbikinin kue si tukang kue. Yah demi sahabat akhirnya aku iya in laah..
Klu-nya rasa keju.
Kebetulah, karena sejak Januari, si F3 juga udah minta dibuatin kue ultah rasa keju untuk dibawa ke sekolah (sayang aku gak sempat ambil gambarnya).
Hingga aku dapat kiriman chiffon cake rasa keju dari Mama Ephraim. Kepikiran bikin itu. Tapi ... ternyata manusia merencanakan, Tuhan menentukan.
Pas hari H, tanggal 12, Faiz sakit. Panas. Panas banget malah. Sampai 39.9 gitu. Tapi masih ada syukurnya juga, dia enggak kejang. Selama malem senin sa
mpai senin malam masih dag dig dug ngurusin Faiz. Boro boro nyobain resep. Faiznya nempel banget. Yang biasanya mau dipeluk Abi, kulit nempel kulit biar panasnya turun, ini juga enggak mau. Nyerah deh. Senin malam panggil dokter datang ke rumah. Malam itu juga Faiz minum obat dan Selasa-nya sudah haha hihi.
Selasa malam sudah rada enakan, tapi aku yang enggak sanggup tenaganya mau nyobain resep. Akhirnya pagi pagi sekali di hari Rabu, aku coba bikin si kue keju itu. Berhasil. Langsung tandas ndas dikerubutin anak anak. Yup, dua loyang lagi untuk sebuah kue ulang tahun bertumpuk. Buru buru..... buru buru mengerjakan. Karena hari itu jadwal makan siang bersama.
Setengah sembilan mulai, beres beres setengah sebelasan. Utk menyiasati aku masukkan cake ke dalam kulkas sebentar. Nggak lucu dong, anget anget dioles krim, meleleh semua.
Ups ! ada masalah baru, spuit aku ternyata kebawa bu Yani waktu praktek menghias kue di ruangan. Aduuuh.. gimana nih... ya sudah akhirnya pakai cara koboi, -yg diajarkan bu yani- yaitu menggunting ujung plastik sedemikian rupa.
Faiz dah diijinin Abi ikut aku ke acara makan Tri di bebek Slamet. *tepok jidat* kenapa nggak nelpon taksi dari tadi ya..  terpaksalah aku berangkat naik angkot. Nggak macet sih, cuma naik turun bawa bayi, bawa tas punggung dan bawa cake ultah, kalian bayangkanlah sendiri.
Syukurlah sampai di Bebek Slamet dengan selamat. Inilah penampakan kuenya. Agak meleleh dikit nggak tau karena kebanting, atau karena kepanasan mesin angkot.

Saking groginya... pas mau bikin tulisan di atas kue, ditulisin apa ya.. bingung. Dan betapa bingungnya aku tidak punya coklat batang atau apa.
Eh.. pas tgl 19 bikin kue untuk Fikri, mungkin karena aku sudah cukup tenang juga, jadi inget deh... ada pewarna makanan di lemari. *tepok jidat lagi, apa faktor U ya..*

Ini adalah chiffon cake keju, dengan krim keju dan keju parut sebagai hiasan


Nah... ini kue Fikri... cukup macho kan ?

Kalau mau tahu resepnya.. silakan hunting langsung di blog Mamak Ephraim, a.k.a. Sondang tersayang
di sini