Rabu, 28 Maret 2012

Customer (lagi) !

Habis nulis cerita sedih, saking menghayatinya sampai ini muka juga kebawa sedih. Sampai sampai di kirimin pesan dari teman di back office katanya klo ngelayanin customer jangan pake cemberut. Walaupun aku ngeles, aku hari ini off dari melayani customer karena dapat tugas lain, mencetak tanda terima surat dari pos yang seabreg jumlahnya. Hihi.. tapi katanya ituh para tamu kan tetap melihat wajah cemberutku (padahal sedih).
Baiklah biar agak sedikit ceria aku cerita lucu tentang seorang Bapak yang sudah sepuh. Aku perkirakan usianya di atas usia pensiun. Mungkin sekitar 60 tahun bahkan lebih. Cara bicara dan cara berjalannya yang mengatakan itu.
Pertama aku bertemu adalah waktu bapak itu lapor spt tahunan. Tapi belum diisinya si laporan itu. Beliau hanya membawa SSP.  Jadi aku nggak bisa menerima.
Lucunya begini, laporan tahunan itu kan diterimanya di tenda khusus di luar kantor. Sedangkan kami di loket hanya menerima laporan bulanan. Saat itu antrian penuh sekali. Pas aku panggil nomor 130 (wuih aku masih ingat nomornya), dan ternyata nomor 130 ini lapor tahunan dan aku persilakan ke loket di luar, dengan sigap bapak ini menggantikan posisi nomor antrian 130 sambil meminta potongan kertas nomor antrian 130 yang tadi tidak diberikan padaku oleh si nomor 130 yang asli.
Tweng weeeng....
OK Baiklah... berhubung sudah sepuh aku sedikit mentolerir dengan menerima laporan beliau. Walaupun sesungguhnya laporan itu tidak dapat diterima juga, karena ternyata ada kesalahan nomor kode di SSP-nya. Harus dilakukan pemindahbukuan. Jadi aku persilakan beliau untuk konsultasi ke AR karena kalau aku jelasin di loket, antrian bakal mandek dan jadi panjang.......
Nah dua hari kemudian, ada anak muda yang membawa satu tumpuk laporan bulanan dan surat surat. Saat itu loket juga ramai sekali. Maklum mendekati tanggal 20, batas akhir laporan bulanan.
Eh, di antara surat itu aku menemukan surat si Bapak yang tadi. Permohonan pemindahbukuan. Nah, iseng iseng aku ajak ngobrol si anak muda tadi (kupikir tadinya konsultan si Bapak),
"Oh, ini jadinya pemindahbukuan ya ?" kataku sambil menginput surat si Bapak.
"Ada masalah bu ? " tanya si anak muda. "Soalnya saya tidak tahu, saya cuma dititipin, itu Bapaknya ada di belakang".
Gubrak !! Aduh Maaaak....  aku mau berburuk sangka nih, kayaknya Bapak itu sadar benar, dengan ketuaannya dia bisa mendapatkan kemudahan. Yang pertama 'nyabet' antrian orang, yang kedua 'nitip' ke antrian yang lebih awal.
Tapi aku  kok jadi miris ya... dengan aksi menelikung nelikung seperti ini... apa jangan jangan aku yang lebay !! *tepok jidat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Tinggalkan Kesan