Minggu, 18 Maret 2012

Tidak, Terima Kasih

Suka duka bekerja di tempat yang dinilai orang begitu basah, begitu mudah menerima segala pemberian dan gratifikasi, ya resiko laaahh..
Sebelum koorps-ku modernisasi sih aku mafhum sekali bila itu terjadi. Tapi setelah hampir sepuluh tahun berjuang, merubah keadaan, merubah kondisi, membangun citra, Oh.. kalau masih menemui hal hal seperti itu, Aduuuh... sedih deh...
Memang sih, dalam hati kecilku, akuu tidak memungkiri, pastilah masih ada segelintir orang yang masih bermain api. Mereka yang biasa hidup berfoya foya dari uang persembahan, pasti nggak akan cukup hidup sederhana dengan uang barang belasan juta (kelas pejabat), atau uang 8-10  juta kelas rakyat seperti aku. Yang bagiku itu sudah jumlah yang alhamdulillaaah...
Kalau nurutin napsu (sengaja ya, ditulis pake 'p') mah gak bakalan ada habisnya..

Yap, kembali ke topik. Peraturan pelayanan di kantorku adalah dari jam 8 pagi sampai jam 16 sore. Kemarin ada customer datang, mau lapor, udah lewat dari jam empat. Melihat wajahnya dan kusut rambutnya, nggak tega rasanya mau menolak. Mana perempuan lagi. Gerimis pula. Aduh.. bener bener nggak tega deh, memintanya datang kembali esok pagi.
Akhirnya aku terima saja laporan dia, karena itu laporan tahunan yang tanda terimanya manual.
Setelah berbasa basi sebentar, si mbaknya bilang
"Mbak.. jangan marah ya.."
"Iya nggak papa, kan mbak nggak saya marahin kan ? ini laporannya saya terima" kataku
"Iya terima kasih. tapi ini udah di luar jam kerja Mbak .." kata dia lagi
"Oh, ini masih jam kerja saya, jam kerja saya sampai jam lima sore" kataku lagi sambil nyekrek nyekrek tanda terima ke laporannya.
Eh, tiba tiba si mbaknya ngeluarin duit dan menyorongkannya kepadaku . Alamaaak.... Aku yang (terus terang) baru pertama mengalami kaget. Dan untunglah segera mengendalikan diri
"tidak mbak terima kasih. Kami tidak menerima pemberian dari pelayanan yang kami berikan" Kataku. Pasti kalau wajahku putih, saat itu jadi merah.  Aku sih, malu aja klo menerima gituan.  Kayaknya kok nggak sebanding sama harga diri yang di pertaruhkan.
Akhirnya mbak nya mengerti dan pulang. Semoga dia mengenang, bahwa tidak semua pegawai korps-ku mudah tergoda oleh uang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Tinggalkan Kesan