Sabtu, 28 April 2012

Kehilangan

Beberapa hari yang lalu aku dah ngetik postingan tentang kehilangan. Mungkin bukan kehilangan hal yang besar. Tapi kok rasanya .. tetep gimana ya..
Ceritanya pas Abi ke Lampung kemaren, modemku dimainin Faiz. Sore itu padahal aku dan Faiz abis main lepi berdua. Nah pas aku shalat, aku dengar Faiz matiin leppi dan membereskan barang barangnya termasuk si modem itu. Aku lihat dia pegang pegang.Nah setelah shalat, aku pergi pengajian berdua Faiz. Mbak dan Fikri masih pada sekolah.
Malamnya pas aku perlu modem, si Faiz udah tidur.  Ditanyain ya nggak mungkinlah dia ingat. Kucari cari ngider seluruh penjuru rumah yang kira kira bisa jadi tempat nggeletakin modem, eh gak ketemu juga. Udah dibantu Mbak dan Fikri, tetep nggak ketemu.
Besok paginya pas Faiz bangun, kutanyain dimana modemnya. Dia langsung menuju rak buku. Dan, enggak ada. Nggak mungkin disimpan disitu, karena nggak ada orang yang mungkin mindahin.
Sampai besoknya dan besoknya dan besoknya si modem tetep nggak ketemu. Udah bongkar kamar, bongkar tempat mainan, meja kompi, rak baju dia, tas sekolah dia, tetep nggak ketemu.
Lenyap, tak berbekas.
Aku yakin Faiz nggak membawanya keluar rumah, soalnya pas pergi itu aku gandeng tangannya kosong. gak megang apapun. sampai seminggu itu modem nggak ada juga.

Kebayang kan ya, betapa seorang blogger (walaupun belum full time) dan  OL seller seperti aku kehilangan modem. Mana belum BEP lagi.

Selama beberapa hari itu, kalau malam semuanya udah pada tidur aku diam diam masih mencari modem. Berharap benda itu tiba tiba ada di anak tangga lah, atau diselipan buku. Atau tiba tiba muncul di dalam tas leppi.
Berharap keajaiban.
Di saat aku mencari itulah,diam diam juga aku sudah mulai melow. Gini ya rasanya kehilangan sesuatu yang sangat kita cintai.
Entahlah, akhir akhir ini aku sering mikir yang enggak enggak. Eh yang iya iya. Sering berpikir tentang kehilangan dalam arti kematian.Kematian kan sesuatu yang pasti ya. Entah aku yang ditinggal. Entah aku yang meninggalkan. Makanya MP-ku ini juga kunamai "di sisa waktuku" / di sisa umurku. Cuma kapan persisnya itu yang ghaib. Tak seorangpun tahu.

Yah, gitu deh. Kehilangan modem aja kebayang bayang di mata.

Syukurrr banget , alhamdulillah, emang di rumahku nggak ada juara beres beres yang bisa menandingi Abi. Tepat seminggu, dari Sabtu ke Sabtu, sepulang aku pengajian yang sama, modem itu sudah tergeletak di atas meja kompi. Abi yang menemukan. Di mana ? Di tempat aku selama ini nyari nyari. Jadi memang si bibi Titi ini yang kurang teliti. Apapun ya alhamdulillah.

Nah pas aku posting tentang kehilangan itu, udah panjang dan lebar, eh, si inet langsung putus. Akupun jadi ilfill untuk menuliskannya kembali. Tapi aku memang harus menuliskan kembali.

Sekarang aku akan bicara tentang kehilangan lagi. Ini tentang kehilangan orang yang kita cintai di rumah kita. Pasti bakalan sering ya kebayang dia mondar mandir di rumah, dia duduk, dan bercengkrama dengan kita. Memang aku ini yang melow banget kali yah.
Orang sekedar nutup korden rumah karena suami pulang kemaleman aja udah membayangkan gimana kalau tiba tiba tugas menutup korden itu menjadi tugasku selamanya. Tes tes, air mata udah langsung netes.

Waktu Ibuku meninggal, adik bungsuku sampai berbulan bulan nggak mau potong rambut, karena yang terakhir mencukur rambutnya adalah Ibu. Dia juga nggak mau makan, karena setiap makan pasti bareng Ibu/dilayani Ibu. (Emang adikku ini manja banget sama Ibu)
Udah gitu tahun itu memang dia lagi nganggur, udah lulus SMA , gagal SMPTN dan lagi bimbel (doang) buat SMPTN berikutnya. Hampir tiap hari bareng Ibu yang sudah pensiun.
Sedangkan aku, ketika Ibu meninggal, aku udah bertahun tahun ninggalin rumah. Udah gitu, Bapak dan  Ibuku juga udah pindah dari rumah tempat kami dibesarkan. Bisa dikatakan aku tidak/belum punya kenangan di rumah baru itu.
Tambah lagi, aku tidak bisa  mengantarkan jenazah ibu ke pemakaman. Karena Ibu meninggal di Jawa Tengah, dan tahun itu aku masih di Kupang.Bukan berarti nggak cinta kalau aku nggak kebayang bayang Ibu.
Karena yang kurasakan saat ini adalah, Ibuku bagai tetap ada di rumah, entah sedang apa. Mungkin sedang memasak kluban (urap) kesukaanya, lantas makan dengan nasi dingin dan duduk di dingklik. Atau mungkin sedang menjahit, sedang berkebun, atau merajut. Mungkin pula sekedar duduk duduk di teras belakang sambil cari angin.
Aku tidak punya memori tentang prosesi meninggalnya Ibu.

Demikian juga Bapak. Ketika Bapakku meninggal, kami semua masih di Kupang. Sebenarnya sudah ada SK pindah. Tapi berangkatnya masih dua minggu lagi. Karena masih packing, membereskan ini itu. Mau langsung pulang kampung, kok kesannya lari dari tanggung jawab. Pekerjaan belum diserah terimakan. Mau pulang, ongkosnya mahal amat. Tidak mampu kami bolak balik Kupang Jawa Tengah sebulan dua kali dengan 3 balita. Orang pindahnya juga atas permintaan sendiri jadi nggak dapat uang jalan.
Akhirnya kamipun tidak dapat mengantarkan jenazah Bapak ke pemakaman.
Sama seperti Ibu, akupun tidak pernah merasa Bapak meninggal. Yang kebayang (di rumah lama) Bapakku sedang baca koran sampai tertidur dan kacamatanya ditangan. Atau bercelana pendek di pagi hari, kemudian menyeterika pakaiannya sendiri. Paling sering adalah Bapak berjalan mondar mandir di halaman sempit depan rumah yang penuh batu kali. Batu itu ditata Bapak sendiri. Kalau sekarang orang menanam kerikil di semen untuk semacam pijat refleksi gitu. Dan kapanpun Bapak melihat ada batu yang berubah dari posisinya, entah karena anak anak berlarian atau karena aku nyapunya grusa grusu maka Bapak akan membetulkan posisi batu itu.
Kalau aku nyapunya nggak bersih (susah kan nyapu area berbatu), Bapak akan mengambil bambu kecil yang runcing untuk menusuk satu demi satu daun yang masih tersisa. Ada daun belimbing, daun jambu biji,daun jambu air.
Yah. aku tidak pernah melihat Bapakku meninggal.

Maka ketika Ibu mertuaku (anak anak memanggil Eyang Putri) meninggal dan ternyata kami pun tidak bisa mengejar saat pemakaman (padahal kami udah di Bandung), maka akhirnya aku mulai belajar. Mungkin inilah bentuk kasih sayang Allah pada perantau macam kami ini. Abi delapan bersaudara tapi cuma dia yang di luar Lampung. Semua ada di Lampung. Inilah cara Allah menghadirkan orang tua yang kami cintai. Di mana, aku dan suami dan anak anakku tidak bisa sering sering hadir secara fisik di dekat mereka. Mereka selalu hidup dalam benak kami berupa memori.
Allah sambungkan kami kini dengan doa yang kami lantunkan dengan sepenuh kesadaran, bahwa Allah udah memanggil beliau beliau semua.Dan kami berusaha ikhlas menerimanya.

Tapi diam diam juga kami jadi melantunkan doa, semoga ketika Eyang Kakung nggak ada nanti, kami diberi kesempatan untuk menghadiri, mengurus jenazah, memandikan dan mengantar ke jenazah ke pemakaman . Karena itulah bentuk penghormatan kami yang terakhir kepada orang tua.

Dan Sabtu dini hari kemarin, saat itu tiba. Telepon dari Lampung membangunkan kami semua. Pukul satu Eyang sudah tiada meninggalkan kami semua. Eyang yang kami cinta, Eyang tempat kami pulang, Eyang yang selalu kami rindukan dan hanya bisa bertemu (hampir) saat lebaran saja,kini telah kembali pada Robbnya. Pada Pencipta dan Pemiliknya.
Ternyata Sejak hari Selasa malam Eyang yang relatif sehat sepulang dari RS, udah nggak mau makan. Maunya shalaaaaaattt terus.
Kalau ditanya jawabnya sedikit saja. Mungkin beliau sedang bercengkrama dengan Allah dalam dzikir dan munajat.
Allah mudahkan kami pulang segera ke lampung. Dini hari itu aku langsung cari rental mobil. Tapi sampai jam 3 belum dapat juga.
Trus papa mbak Eci telepon, kalau sampai jam 7 belum masuk kapal, berarti nggak akan ketemu Eyang. Abi sudah hampir khawatir nggak ketemu lagi.
Aku yakinkan "bisa". Kita akan cari pesawat. Minimal Abi duluan.
Di saat kepepet itulah aku baru ingat kalau aku punya teman yang punya biro perjalanan.
Aku telpon dia dan alhamdulillah... Pesan mendadak untuk minimal dua seat ternyata dapat 8 seat. Semua dimudahkan Allah.
Semua sudah takdir Allah. Akhirnya kami dapat mengantarkan Eyang ke tempat peristirahatan terakhir.
Terbayang wajahnya yang sejuk dan damai. Bagaikan tidur saja. Semoga sakit Eyang selama beberapa waktu dan setahun terakhir sampai 4 kali dirawat, menjadi kifarat segala dosa.

Ya Allah, ampunilah dosa orang tua kami semua, sayangilah mereka di sana, dekaplah dengan kasihMu. lapangkanlah alam kuburnya, terangilah dengan cahayaMu.
Amiin

Selasa, 24 April 2012

Kursus Masak with Ferris Kitchen

Atas kebaikan hati Mak Ephraim, aku dan teman teman diajak ikut kursus menghias cup cake/cake decoration.
Gurunya nggak tanggung tanggung, Mak Ephraim mendatangkan Fera si pemilik ferriskitchen.
Fera masakin kuenya-kami dibawain cupcake royal velvet, bawain kemasannya dan bahan bahan menghiasnya, jadi kita tinggal kruwel kruwel itu fondan dan jadilah bentuk yang dibayangkan. Kali ini sih kursusnya pakai tema angry bird.
Aduh senengnya bisa kursus gratis. Ngebayangin kalau bayar sendiri. (dasar emak emak itungan).
Kursus di rumah Mama Yuna ini alhamdulillah berjalan lancar. Mak Ephraim mbawain chiffon ketan hitam yang yummi. Mama Yuna bikin brownies andalan dia. Dan masakin selar solo buat makan siang peserta.
aku ? hehe .. numpang makan dan sekedar mbawain giant tumbler buat door prize peserta.
Thanks Mak, ajakannya
Thanks Mama Yuna, masakannya
Thanks Fera, ilmunya.

NB:pas mau upload foto baru nyadar, aku dikit banget ambil gambarnya




  




  
cupcake setelah dihias

cup cake setelah dikemas




  


Met Milad,Cinta

Ulang tahun, bagimu bukan sesuatu yang istimewa.
Sehingga tak perlu perayaan segala
Tapi ulang tahun adalah semacam alarm dari Yang Kuasa
Agar kita makin dekat padaNya

Cinta..
Di hari ulang tahunmu ini
Seuntai doa aku panjatkan
Kiranya Allah makin menyayangimu
dan memberkahi semua amal ibadahmu
dan melimpahimu dengan kasih sayang, kesabaran dan kelembutan
untuk mendidik istri dan anak anakmu
mencurahimu dengan kebahagiaan
untuk engkau bagikan kepada sekelilingmu

Selamat Milad, Cinta
foto berdua waktu jalan jalan di pantai Kupang, 1997

Nambah Lagi Antologiku

Aduh.. lupa . Ada yang kelewat nggak di posting. Ini sebenarnya proyek udah lama ya.. AKhir tahun lalu. Proyeknya Nulisbuku.com dalam rangka ulangtahunnya.
Nama gelarannya #11projects11days. Nulis cerita atau puisi dengan tema yang ditentukan. Dari kesebelas proyek itu, tulisanku masuk 5. Yuhuu...
 

Pertama adalah Terpana. Tulisanku masuk di buku satu. Buku kumcer ini terinspirasi dari lagu berjudul sama, yang dinyanyikan oleh  Yoyo dan ANdri Suisan. Untuk pemesanan langsung saja disini.
Berikutnya adalah.
 

Buku ini juga terinspirasi dari lagu Salah yang dinyanyikan oleh Potret. Hihi.. ceritaku lucu dan geje deh yang di buku Salah#2. Nggak nyangka gitu. Atau salah terka. Hihi.. pesan lah di TKP langsung ya..

Kemudian adalah buku tentang cemburu
 

Yang menantang saat menulis ini adalah saat bagaimana harus mengekslor perasaan cemburu. Karena temanya juga diambil dari lagu Cemburu yang dinyanyikan Dewa
Biasa, untuk pemesanan langsung saja ke nulisbuku yah. Di sini nih..

Kemudian adalah buku yang berjudul bimbang. Puisi yang kucomot dari blog-ku lolos di buku ke satu
 

weis.. sempat bimbang barusan. kok di webnya nulis buku gak ada namaku yah. Ternyata pas aku cek di fb nulisbuku ada deh daftar namaku di sini
Nggak harus pesan kok. Yah tapi gak lengkap klo gak kasih link pesan kan. OKelah. disini nih.

Terakhir adalah buku yang berjudul dont stop me. AKu suka pas nulis ini. Karena ini betul betul menunjukkan semangat. Semangat untuk mencinta dan selalu mencinta.

 

OK ? panjang banget yah. Oiya, belum ada link pesanan yah. di sini nih ya...

Panjang banget yah..

Senin, 23 April 2012

Cinta Buku

belum berani keluar kamar, atau pas ngantri kamar mandi, udah baca lagi. Walaupun kadKami mencintai buku. Amat mencintai buku. Ingat jaman SD dulu Ibu selalu pinjam dari sekolahan. Setelah aku agak gede, kebetulan aku ditugasi jadi penjaga perpustakaan. Uuuh.. senengnya.

Yah, perasaan pas aku udah punya uang sendiri, aku secara tetap menyisihkan uang untuk beli buku. Udah gitu aku kos sekamar dengan karyawan PT Gema Insani Pers (penerbit buku Islam yg jaya saat itu) . Eh, ternyata ketika sudah menikah, koleksi eh simpanan bukuku jauuuuuuuuhhh di bawah koleksi suamiku. Sampai dikatain, gajimu habis kemana, kok bukunya cuma segini.Yah, gimana enggak kalah, si dia sih, mainannya ke Kwitang. Pusatnya buku tea.Lagian, hihi.. tau sendiri lah.. cewek kan ini itu kebutuhannya. Ngomong pake bayar aja dijabanin. (telpon telponan maksudnya...) Jaman itu kan ada kartu telepon tea yah.. atau kalau di tempat kos ada telpon rumah pake koin. Klo kehabisan koin, nuker dulu di situ situ juga dengan membuka gemboknya.
Eh, kembali ke buku.

Katanya hari ini kan hari buku. (harinya dah mau habis). Unesco menetapkan 23 April sebagai World Book Day. Tujuannya adalah untuk menggiatkan membaca, penerbitan dan hak cipta. Sejarahnya kenapa tanggal ini yang dipilih,  karena  ini adalah tanggal lahir dan tanggal kematian William Shakespeare.

Dan, kalau mengingat masa lalu betapa buku itu sangat sulit didapatkan. Udah gitu harganya juga cukup mahal. Inget waktu di Kupang, NTT. Setiap ada teman tugas ke Jakarta entah diklat entah apa, pasti titipan kita ya si buku itu. Dari mulai buku serius semacam Fatwa - Fatwa Kontemporer ustadz Yusuf Qordowi, sampai buku kecil kecil untuk Fathimah dan Fikri saat itu.
Seneng juga sih melihat anak anak sekarang terlihat akrab sekali dengan buku. Pulang sekolah pada baca. Malam malam habis belajar, buku jadi pengantar tidur. Pagi hari kala mereka bangun tidur kepagian dan yang sebel juga, mau disuruh ini itu mereka sedang asyik berkutat dengan buku. hehe

Ini adalah beberapa sisa koleksi buku anak jaman Fathimah kecil dulu. (14 tahun lalu)

Buku buku di atas yang berjudul Labu dan Kehidupan Semut itu aku beli di Kupang. Udah di tumpukan paling bawah toko buku yang berdebu. Tapi bukunya bagus, terbitan Gramed klo gak salah. Trus buku Pocahontas itu nitip temenku yang diklat, tapi dia nggak mau dibayar, karena abis diklat keluar SK Mutasi dia pindah ke Jawa. Buku buku selanjutnya itu udah beli di Bandung. Terbitan Mizan Yang paling depan itu diwarnai sama Mbak Fathimah

rak pertama

Makanya, sekarang bersyukur banget di Bandung ini toko buku dapat di jangkau hanya dengan sekali ayun kaki. (lebay) Pameran buku tiga kali setahun ya.. Dua kali pameran Ikapi dan satu kali Islamic Book Fair. Belum lagi event-event nya Grup Gramedia yang udah nggak pernah ikut pameran buku Bandung lagi. Yang ada sekarang kejar kejaran sama anggaran RT yang makin membengkak.  Segitu juga tetep sih.. selalu jatuh cinta sama buku. Rak buku di rumah udah nggak sanggup lagi menampung pertambahanan buku.
Setelah pakai rak rak kecil diskonan dari hypermarket gitu... dan makin lama makin penuh, kebetulan sekali temen nawarin rak buku ini. Dengan bahan kayu jati, menurutku harganya sesuai lah.
Keidean dari rak pertama dan si penjual nawarin boleh mesen, maka kita pesan rak kedua. Sengaja dibuat tinggi dan jarak antar susunan nggak selebar rak pertama. Rak ini untuk menyimpan novel novel, materi materi kuliah, majalah dsb.
Tapi tetep aja rak buku masih berantakan dan buku anak anak pun masih nyebar di rak yang kecil kecil dan di meja belajar mereka.

PR : Sekarang tinggal bagaimana memaksimalkan semua buku buku itu.

Sabtu, 21 April 2012

Cetak Biru

Ini mah crita emak emak yang kesenengan karena nemuin kepinteran anaknya. Sekaligus cerita kesedihan, dari siapa ya dia belajar, perasaan bukan emaknya yang ngajarin. hehe..
Yah... darimanapun datangnya yang baik baik mah wellcome aja.
Dan sebaliknya keburukan keburukan orang tua yang kadang males, nggak sabaran, dsb jauh jauh deh dari anak anak.
*ngarep

Ini nih, suatu sore, pas aku di rumah, Faiz dengan cerianya bilang, aku bisa nulis Mi..
Eh, kupikir dia corat coret seperti biasa. Ini mah, nulis nama dia sendiri.
Meski anak lain banyak yang seperti itu, tapi di keluarga pak Fajar ini (maksude dibandingin kakak kakaknya), baru kali ini punya anak yang belum genap 4 tahun bisa menulis namanya sendiri.
Cheer Faiz... semoga makin lama makin tambah pinter kamu ya.. mmmuuaaah

F5 pamer bisa nulis namanya

  
ketawa puas setelah selesai

  
inilah dia hasil tulisan tangannya

Cup Cake

cup cake setelah dihias
cup cake setelah dikemas
Jangan tanya bagaimana resepnya ya...
Karena ini hanya latihan mendekor kue. Kerennya cake decoration.
Dalam pelatihan yang disponsori Mak Ephraim ini, kami belajar menghias kue dengan menggunakan fondan. Ya. Fondan. Just fondant and some food colour.
Aku gak bakal membahas acaranya. Cuman mau narsis aja. Ini lho hasil dari latihanku hari itu. Temanya angry bird. Dah mirip kan ? awas kalau bilang nggak ! :P


Perempuan dan Kerasnya Kehidupan

Potret pertama

Seorang ibu, menggendong bayinya dengan kain kumal seadanya.
Berjalan di sela sela kendaraan yang berhenti di perempatan lampu merah dekat stadion persib.
Menadahkan tangan, mengharap belas kasihan.

Dua tahun kemudian, bayi dalam gendongan itu sudah turun ke jalan. Menadahkan tangan. Memohon belas kasihan

Delapan tahun kemudian, bayi itu sudah tumbuh menjadi gadis cilik. Kali ini dia menggendong adiknya yang masih bayi. Memasang wajah memelas, menadahkan tangan, mengharap pemberian orang. Ketika lampu berubah hijau, wajahnya kembali ceria jamaknya wajah kanak kanak. Berlari kecil menuju teman-temannya sesama peminta minta. Sedang si Ibu kini duduk saja di bawah rindangnya pepohonan.

Potret kedua
Seorang Ibu, menggendong bayinya. Dalam selimut tebal di pagi yang dingin, kadang hujan. Melayani pembeli yang sekedar menginginkan kopi atau semangkuk indomi  untuk menghangatkan badan.

Seorang Ibu lain di sebelahnya, menimang bayi yang sedang belajar berdiri. Bermain dan bercanda menunjukkan wajah berseri.
Ibu dan anak itu bermain di tengah tumpukan sayur mayur yang akan di jual.
Itulah pemandangan yang ku lihat di pinggiran pasar Cicaheum, hampir setiap hari aku berangkat kerja.


Kedua kejadian tadi, kontras sekali. Ibu yang membawa anaknya meminta minta, bahkan dari bayi, ternyata secara tidak langsung mendidik anaknya menjadi peminta minta juga. Miris sekali. Melihat anak jalanan yang tumbuh dengan cara menadahkan tangan.

Kuberharap, para bayi yang diajak bekerja keras dari pagi, menyaksikan si Ibu bermandi peluh untuk mencari rejeki, akan tumbuh menjadi para pekerja keras juga.
Tak menyia nyiakan segala potensi yang Allah berikan. Tak menyia nyiakan berbagai peluang meski dalam kesempitan.
Karena Ibu, adalah madrasah pertama bagi anak anaknya. (meski kadang si Ibu tidak menyadarinya)

Kamis, 19 April 2012

Komunikasi Penuh Percaya Diri

Kasus 1
Aku punya teman seumuran adik bungsuku, laki laki, awalnya berteman dekat dengan suamiku. Terus karena sering ke rumah, kami semua jadi dekat. Abi, aku dan anak anak. Dia menurutku cukup rame. Cukup akrab dengan anak anak juga. Saking dekatnya, kadang dia curhat masalah pribadi.
Setelah si teman ini menikah, aku putuskan hubungan curhat ini. Kataku : tidak terima panggilan dan pengaduan. Asli semua curhat dia aku cuekin. Toh udah punya istri ini. Pikirku dia bisa cerita ke istrinya.

Istrinya, seorang perempuan yang rame juga. Mudah akrab. Dan segera juga jadi akrab sama aku dan suamiku.
Akhirnya tempat mengadu ini digantikan oleh si istri.
Kupikir tadinya dua orang ramai itu akan segera akrab sebagai suami istri dan teman. Ternyata tidak semudah itu, saudara saudara !
Si istri selalu mengadu suaminya cuek. Si suami kadang keceplosan ngaduin istri (yah klo udah sms atau kirim inbox aku kan gak bisa nolak) istrinya nggak pengertian.

Kasus 2
Aku, orangnya ramai. Mudah (merasa) akrab dengan seseorang. Meski tidak mudah curhat. Aku mudah merasa dekat dengan siapapun.
Suamiku, orangnya cool, cenderung pendiam, meski di lingkungan tertentu yang dia nyaman dia bisa jadi ramai juga.
Bagaimana komunikasi diantara kami ? Akrabkah ? Hangatkah ?

Setelah 15 tahun menikah, aku punya pandangan sendiri tentang komunikasi ini. Mungkin nggak ada di teori pakar komunikasi manapun.
Menurutku, pola komunikasi ini akan tumbuh alami seperti yang dibiasakan.
Nah dibiasakan ini, oleh siapa ? ya oleh kita laah.
Kalau kita mudah patah semangat, mudah patah arang ketika membangun komunikasi, akhirnya komunikasi itu akan dingin. Sudah jamak orang tahu, perempuan itu umumnya sangat boros dalam berkata kata. Sebaliknya, laki laki itu cenderung irit bahkan ada yang pelit berkata kata.
Jadi tidak selalu hahahihi kita juga dijawab hahahihi sama suami, palingan dijawab hi aja atau ha aja. Kalau kita kemudian berhenti di situ, aduh, kasihan banget deh kita, dan anak anak kita. Kadang para suami itu tidak memahami detail (contoh, pulang bepergian mau langsung makan, padahal kita para istri pulang bepergian masih harus ngurusin anak dulu, ngecek dulu makanan masih ada nggak, membereskan barang bawaan dsb dsb).
Lah kalau gara gara jawaban super irit itu terus masalah anak nggak diceritain, masalah dapur nggak diceritain, masalah masalah pribadi kita yang misalnya nggak sreg sama suami nggak disampaikan, lah dari mana para suami itu bakalan tau ? Yang rugi siapa ? semuanya. Kita rugi menanggung sendiri semua masalah. Anak rugi aspirasi tidak tersampaikan. Suami rugi jadi kurang perhatian sama anak dan keluarga.

Aku banyak belajar dari anak anakku. Kelima anakku punya tipe komunikasi yang berbeda beda dengan Abinya. Ternyata hasilnya berbeda. Yang lain mah cenderung diem dan menurut apa yang dikatakan Abinya. Atau apa yang disikapi Abinya.
Tetapi setelah F5 lahir, dia kok lain yah..
Kalau dimarahin Abi, sebentar kemudian dia mendekat. Menggoda.
Ternyata .. setelah berkali kali, setelah sekian lama berulang... si Abi luluh juga.
Jadi si Abi marahnya mudah cair kalau menghadapi Faiz. Aku menyebutnya komunikasi model Faiz ini sebagai komunikasi penuh percaya diri. Nggak tau kalau lagi diambekin, nggak tau kalau lagi dicuekin. (Mungkin karena memang masih polos)

Nah kalau kita, sudah dewasa, pakailah kata pura pura. Pura pura nggak tahu kalau ada yang ngambek. Pura pura nggak tahu kalau lagi dijutekin. Maafkan kalau dia yang salah. Minta maaflah kalau ktia yang salah. Kalau kita yang jutek, rugi sendiri.
Kalau kita mudah cair, aku yakin, lingkungan kita juga akan menyesuaikan.

Kalau mengharap kata kata berbunga bunga, indah indah, aih, mending ke laut aja deh. Sedikit sekali suami yang bertipe seperti itu kali.... Bahagialah  mereka yang berjodoh. Tapi kalau suami kita lempeng, apakah kita jadi tidak bahagia ?
Jangan dong. Kita harus bahagia menerima suami kita. Apapun keadaannya ketika menikah sama kita. Yakinlah, suami istri itu akan saling mempengaruhi. Saling mewarnai dan diwarnai. Saling menggenapkan. Kalau suami ada kekurangan, kita juga ada kekurangan. Banyak, bahkan.
Masa' sih.. semua sisi dari suami kita jelek. Nggak kan ?
Masa sih, semua sisi kita baik ? Nggak mungkin laah...
Bersabarlah. Bersabarlah. Ikhlaskan ... Ikhlaskan..
Apalagi perempuan dikasih kesabaran yang panjang. Untuk hamil, untuk menanggung beban kehamilan itu, untuk melahirkan dan menyusui anaknya, untuk mendidik mereka. Pastilah, Allah juga kasih kesabaran untuk menghadapi suaminya. hehehe ya nggak ya nggak ?

Aih sudahlah. Harusnya temanku itu baca ini. Tapi sudah kok. Semua yang kutulis disini sudah ku sampaikan pada mereka. Semoga waktu akan merubah keadaan mereka. Dan ALlah curahkan kesabaran buat mereka menjalaninya. Dan kita juga diberi kesabaran dan petunjuk dalam menjalani rumah tangga ini. Amiin.

Selasa, 17 April 2012

Abi AKu Datanggg

Rasa rasanya udah nggak tega dengar F5 selalu berceloteh lila lila teuing kemaren. Aku sih nggak cerita ke Abi. Nggak tega lah.. Dia disana aja tiap hari jagain Eyang dan nginep di Rumah Sakit.
Rencana awal mau pulang Sabtu sore supaya Ahad pagi udah sampai di Bandung. Karena melihat keadaan Eyang yang belum ada kemajuan yang berarti,akhirnya pulangnya dipepetin ke Ahad sore.
Wah ...tambahan 1x24 jam juga jadi berasa lama.
Untungnya mak Sondang hari minggu ngajakin ikut cooking class yang sungguh sungguh mengasyikkan. Jadi nggak gitu kerasa.
Singkat kata, alhamdulillah semua berjalan lancar
Jam 20.13 F3 kirim SMS "Ummi bis-nya baru jalan"
aku balas titi deje (kok nyebut namaku sendiri yah)
Terus jam 01.53 dia sms lagi "Udah sampai pelabuhan Merak"
Alhamdulillah. Ku balas, semoga perjalanan lancar , sampai Bandung dengan selamat"

Besoknya pagi pagi sekali eh, sekitar jam 6 an, aku dan Faiz duduk duduk di teras.
Dan ketika taksi itu berhenti di depan pagar, F4 berteriak
"Abi aku datanggg...."
Dan sepagian itu semua melepas rindu
Aih aih.. baru juga seminggu yah..

Jumat, 13 April 2012

Abi Aku Mana Sih, Meuni Lila Lila Teuing...

Sejak selasa malam yayang Cinta mudik ke Lampung bertiga F3 dan F4. Eyang sakit, agak parah dari biasanya, sehingga para anak yang merantau dipanggil pulang ke rumah.

Ini pertama kali Faiz ditinggal Abi dan beberapa kakaknya. Terus terang, rumah memang terasa sepi. Separuh biang keributan berpindah tempat.
Baru juga Abi berangkat naik taksi menuju pool Damri di stasiun, dia sudah menangis nangis.
Untuk menghiburnya, aku nekad ajak Faiz ke rumah tante Nur di Girimekar sambil nganterin carrot cake buat mas Lintang. (di jalan baru mikir, gimana kalau ketemu si tomcat udah mau gelap gini...). Untunglah Faiz kubonceng di belakang.
Sepulang dari sana dan shalat maghrib, aku ajak Faiz ke minimarket dekat rumah untuk belanja kebutuhan rumah yang dah pada habis.
Eh si Faiz dah mulai komen komen "abi aku mana sih.. meuni lila lila teuing..." (Abi aku kemana, kok lama amat)
Dan sampai hari ini, hari ke 3 Abi di Lampung, lila lila teuing itulah yang dia ucapkan di saat pagi hari bangun tidur, di saat sore hari aku pulang kantor.
Aduh Nak, berdoa ya..semoga Eyang lekas sehat, jadi Abimu lekas pulang ke Bandung.


Dekatnya..

Jalan Berdua

Jalan bareng pasangan, mungkin menjadi suatu kebiasaan atau bahkan sesuatu yang diagendakan secara tetap buat orang tertentu. Aku lihat tuh, ada temanku yang setiap pagi samper samperan buat sarapan bareng karena kantornya dekatan. Atau ada teman lain yang makan siang bersama. Bahkan ada juga yang sering jalan malam malam berdua, nonton atau makan bareng. Mereka menyebutnya us time.
Kadang kadang ngiri juga.
Tapi aku yakin, kondisi tiap pasangan pasti berbeda beda. Dan pola komunikasinya juga unik.
Dan akhirnya aku berpikir, ini sekedar pengen, atau aku butuh ? Atau jangan jangan aku saja yang menumbuhkan kebutuhan akan us time model seperti itu ?
Dengan pertimbangan aku dan abi yang seperti .. seperti apa yah.. seperti matahari dan rembulan kayak lagunya Nicky.. yang saling berkejaran, atau ibarat langit dan bumi yang saling menatap dari jauh... qqq.. ibarat sepasang suami istri aja deh. .emang kenyataanya gitu. *ogahmikir*
Aku yang aslinya lasak, nggak bisa diem baik jasad maupun mulut, tukang jalan, tukang pergi, eh berjodoh dengan si Abi yang asli anak rumahan. Bicara yang perlu perlu saja. Week end mending baca di rumah dan menghabiskan waktu sama anak anak. Atau membereskan rumah, ngepel sono sini daripada rekreasi. Aku harus menyesuaikan diri doong..
Yah akhirnya aku setelah menikah jadi "agak terkendali". Dan kuberharap sidia juga "agak terwarnai". Meski samar samar

Walaupun... tetep aja aku seneng juga kalau bisa jalan bareng di luar jalan bareng tiap hari pagi sore pulang pergi ke kantor.

Kayak beberapa minggu lalu tuh.. ada temen fb aku yang ternyata teman kantor si Abi mau nikah. Rumahnya di Lembang. Dia ngundang lewat fb. Aku tanya ke Abi :
"Ta, si Santi (kusebutin nama lengkapnya) mau nikah ya ?"
"Iya, kok kamu tahu ?"
"Dia ngundang Ummi, dia teman Ummi di FB. Mutual friend-nya teman blogger Ummi"(padahal, tentu saja si Abi juga)
"Semua orang kantor juga diundang. Cuman tempatnya di Sukawana sana. Tapi nggak enak juga kalau nggak datang. Dua duanya teman kantor" kata si Abi
"Hehe.. ya terserah Abi itu maaah.." jawabku jaim, meski ngarep
Eh, besoknya pulang kantor si Abi bawa undangan aslinya. Dari situ dan percakapan sepotong kemaren, setelah 15 tahun menikah, aku bisa mengartikan si Abi mau datang. Wkakak
Ups, ternyata perjuanganku belum selesai dooong... untuk sekedar bisa jalan jalan kondangan.
Ternyata Sabtu Minggu pas si Santi nikah itu, bibi minta ijin mau pulang kampung. Hadoooh... pikir pikir pikirr..
Ternyata juga, hari Sabtu yang sama, si Firda dan si Ayuk mau pentas di sekolah. Hadooh... pikir pikir pikir.. Ampuuuunnn.
Sibuk amat yaks. Ya eyalah.. anak banyak, ya banyak urusan. Tenang tenang tenang...
Syukur alhamdulillah Allah kasih aku otak yang meski nggak pinter pinter amat tapi amat kreatif.
Masalah bibi, aku usulkan sama Abi, bagaimana kalau  perginya ajak  F5, F3 dan F4 ditemenin sama anak bibi/bi Entin di rumah. Toh yang mudik cuman bibi. Bi entin nggak ikut mudik.  F1 dan F2 kan sekolah siang.
Nah masalah pentas ini.. belum ada dalam sejarah keluarga cie cie.. anak yg TK dan SD pentas orang tua nggak datang.  Jadi kami datang pagi pagi ke sekolah. Untung juga itu acara nggak pake molor molor, pas nyampe di sekolah jam 8 itu udahacara udah mulai.
Alhamdulillah lah,nonton anak anak pentas sampai jam setengah sebelasan. Pokoknya anak anak dan turun naik panggung beberapa kali.. hehe.Udah ngider ngider juga belanja belanji bazaarnya anak anak.
Lalu pulanglah dan siap siap. Agak agak mendung. Cuman niat udah kuat niy. Kata si Abi, udah aja kita jalan, istirahat di kantor Abi buat shalat zhuhur, ntar kalau nyampe sana ternyata hujan, lebih enak ngomongnya karena kita dah separo jalan. Siiplah

Dan alhamdulillah,.. Allah baik padaku dan selalu baik padaku. Singkat cerita sampai rumah si Santi dengan selamat dan cuman kegrimisan sedikit. Nggak perlu buka jas hujanlah.
Trus sepanjang jalan si Faiz juga menikmati. Lihat kanan kiri sepanjang jl. Sersan Bajuri itu. Dan kamseu pisan aku memang 10 th di Bandung baru lihat kalau di sepanjang jalan itu banyak kebun strowberry, ada si Kampung Gajah, ada apa lagi deh, udah lupa. Nggak penting deh itu semua, yang penting adalah jalan barengnya.

Dan dengan kamseu pula sebagai kenang kenangan, pulangnya kami mampir di sebuah kebun/nursery yang lagi sepi gitu dan minta ijin.. "pak..numpang foto yah..."
ini dia hasilnya... (habisan mau numpang foto di gerbang Kampung Gajah, banyak penjaga gitu, jadi malu)

Aku dan Faiz
Aih tumben si Abi mau dipoto
 


Kamis, 12 April 2012

Apa Tugas Harian Anakku ?

Hihi.. ini postingan emak emak pisan. Biarin deh. Daripada orang nyangka aku emak emak super bisa ngerjain ini dan itu. Mending aku ceritain.
Semua ini bukan sulapan cyn..soalnya nggak punya tongkat Harry Potter.
Bukan juga dikerjain sendiri. Mana kuaat.... eh mana taahaaan....
Mending diceritain. Siapa tahu bisa jadi inspirasi buat emak emak lain.
Aku dan suami sepakat melatih anak mengerjakan pekerjaan rumah sedini mungkin. Walaupun itu juga belum gitu gitu amat. Masiih sangat jauuuuh... dibandingkan apa yang dilakukan orang tua padaku dahulu. (gak tau ya.. pada suami qqq.. biasa kan anak laki suka diperlakukan lain)
Fathimah : Menyapu ruang tamu dan teras, mengelap kursi teras, termasuk mengepel teras luar ketika habis hujan, masak air pagi hari dan sepanjang hari. Air minum habis ? tinggal teriak ; Mbaaaaakkk.. maka dia tau maksudnya apa
Selain itu dia bertugas menyiapkan perlengkapan makan malam. nyiapin piring, masukin sayur dari dapur ke ruang makan, dan membereskan meja setelah peperangan eh acara makan selesai dll
Fikri : setiap pagi nungguin air PAM ngalir. Mengisi 2 tong persediaan air, 2 bak mandi, 2 ember cuci dan 1 ember persediaan air minum. Klo air PAM nggak ngalir, Fikri dan Abi bekerja sama menimba air dan mengusung pake ember ke bak mandi.
Merapikan kamar sendiri dan menyapu lantai dua. (isinya cuma kamar dia dan ruang setrikaan). Dia petugas ini itu untuk urusan sarapan. Menggelar karpet untuk shalat Maghrib berjamaah. (hal sepele gini aja bisa jadi bahan keributan lho..)
Fadhila : merapikan tempat tidurnya sendiri, membuka jendela, menyapu kamarnya, kamar umi, ruang makan dan ruang belakang. termasuk membereskan meja makan di pagi hari sebelum ada sarapan. dan petugas untuk makan siang. Ini jarang dilakukan, paling akhir pekan aja. pasang karpet ruang tengah klo malam hari buat duduk duduk / belajar bersama.
Firda : merapikan tempat tidurnya sendiri, menutup jendela kamar, menyapu ruang tivi dan dapur.

Tugas lain adalah :
-semua wajib mengeluarkan sampah ke gerobak sampah yang datang seminggu dua kali di hari Rabu dan Sabtu (termasuk Faiz ya..)
-semua anak menyiapkan sendiri buku pelajaran, pakaian dan perbekalan / keperluan sekolah lainnya. ngejadwal aku nggak pernah bantu sedikitpun mulai kelas satu SD. Nyiapin baju sekolah aku nggak pernah bantu mulai kelas B. (udah masuk kamar dan pakai baju sendiri, kalau salah kostum ya resiko) *kejam nggak sih ? Nggak ada cerita juga aku nganterin buku PR dan buku buku lain ke sekolah karena mereka lupa bawa. Supaya mereka belajar bertanggung jawab dan belajar menanggung resiko atas kelalaian. (duh .. bahasanya)
-aku nggak pernah suapin anak anakku di pagi hari menjelang sekolah dengan alasan biar cepat atau biar mau makanlah - sejak mereka kelas B. Resikonya bagiku adalah menyiapkan sarapan sepagi mungkin (krn anak anak suka lama kalau makan) atau pilih sarapan yang mudah buat anak. Resiko buat anak anak, klo mereka sarapannya lama ya bakalan telat ke sekolah.
Klo nyuapin di luar waktu itu siih.. kadang kadang, maksudnya satu suap dua suap gitu deeeh... bukan sepiring ya..
-Mandi, aku udah lepasin anak anak mandi sendiri sejak kelas B. Palingan dikontrol sesekali rambutnya, telinga dan belakang telinga, ketiak, leher dsb. Atau dengan pesan sponsor bagian bagian tubuh mana yang harus mendapat perhatian utk dibersihkan. Memang hasilnya mungkin tidak maksimal. Tapi aku nggak mau anakku telat belajar dan aku jadi emak yang kerepotan.
- cuci piring sendiri sendiri termasuk wadah bekal makan siang/tempat minum dsb terutama di malam hari karena aku lihat, klo pagi kadang aku sibuk masak gak keawasin.
-membereskan lemari baju masing masing. biasanya di akhir pekan
-mengganti seprei/sarung guling/bantal masing masing. *nunggu umminya sadar seprei kamar anaknya dah kelamaan
-tugas ke warung beli kerupuk, beli nasi kuning, beli minyak dsb apapun aku nggak bedain anak laki / perempuan. Siapa yang lagi gak ada tugas sekolah atau tugas lain, itu yang berangkat ke warung.

Jadi ... apa tugas ummi dooong...???  yah selain yang disebutkan di atas tentunya. Emak emak pasti tau kan ?

Selasa, 10 April 2012

Pekerja Di Bawah Umur

Makin banyak anak, tentunya makin banyak postingan. Eh salah.. 
Makin banyak anak, makin besar tanggung jawab mendidik, menggali potensi dan mengarahkan mereka agar besar menjadi apa.
Salah satu yang kulakukan adalah menumbuhkan jiwa wira usaha dalam diri mereka. Karena janji Allah itu pasti. Hanya satu dari sepuluh bagian rizki di dunia itu didapat orang dari pekerjaan tetap. Sembilan bagian lainnya Allah bagikan melalui pintu wirausaha/berdagang.
Nah, pas anak kelas 9 ujian kemaren, Fathimah kan libur. Aku titipkan dia di toko kue dekat rumah. (Ini asli dekat banget ya.. cuma selisih tiga gerbang dari rumahku). Alhamdulillah sama teh Eva si penjaga toko itu aku dah merasa dekat. Ini sih karena aku mudah merasa dekat sama orang kali yah.. atau memang karena ada sesuatu yang membuat kami merasa cocok. Sebagai gambaran, si Teh Eva klo kehujanan suka pinjam bajuku.. hihihi. jadi OOT
Eh, kembali ke topik. Singkat kata, Fathimah mulai bekerja. Setiap 6.30 dia udah mandi, sarapan dan siap berangkat.(dan sudah mengerjakan tugas rumah tangga tentunya). Olala, lebih pagi dari hari hari sekolah dia.
Kerjanya seharian, siang dia pulang makan siang (prakteknya cuma ambil makan siang doang, dibawa ke toko dan makan bersama teh Eva)
Nanti sore sekitar aku pulang kantor, dia pulang.
Daaan.. ternyata jam kerja belum selesai saudara saudara.. Setelah isya dia ke toko lagi untuk beberes, stock opname dan lap lap kaca/nyiapin kardus buat pesanan besok.
Pulang dari toko dia tertidur lelap. (pasti capek yah..)
Dia kerja dari hari senin sampai hari selasa minggu berikutnya.
Syukurlah dia senang menjalaninya. (buktinya kalau pagi justru nggak perlu disuruh ini itu dia running sendiri)
Teh Eva juga senang ada yang membantu dan menemani.
Hari terakhir kerja seisi rumah dah nggoda nggodain. Ayo .. hasil pertama kasih sesuatu yang berharga buat keluarga...
Si Abi pake lebay lebay... nanti kalau Mbak bawa kue kita semua makan sambil berurai air mata, terharu..
Ternyata dia belum dapat fee di hari selasa itu. Besoknyalah dia baru dapat.
Hari Rabu pas kita shalat maghrib dia datang dan ribut kresek kresek seperti bebawaan gitu. Dan.. ternyata.. dia memang bawain kue buat kita sekeluarga.
Ini diaaa....


Dan asli kita jadi bener bener terharu. Aku tahu persis seberapa besar yang dia korbankan untuk ini.
Terima kasih Mbak.. semoga sekolah bisnis a la Ummi dan Abi ini berkesan dan bermanfaat buatmu.

OSK (Olimpiade Sains Kuark)

OSK adalah Olimpiade Sains Kuark. Udah bulan lalu sih.. Udah juga diceritain Firda di blognya. Tapi nggak papalaah.. ini kan cerita versi orang tuanya.


F1 sampai F3 dulu pernah ikut juga olimpiade ini. Rata rata semua lolos di babak penyisihan. Tapi ketika F4 eh Firda kelas satu, sekolah nggak ngirimin lagi secara khusus. Siapa mau daftar dipersilakan. Mungkin karena aku orangnya emang gak fokus dan gak terlalu detail soal sekolahan, akhirnya momen OSK tahun lalu kelewat aja intinya.
Nah tahun ini sekolah kembali menangani secara khusus. Sekolah bikin seleksi dulu di tingkat sekolah agar dapat satu tim. Terus terang, F3 nggak lolos di seleksi ini. Maka cuma Firda yang ikut. Kemudian tim ini dilatih secara khusus seminggu dua kali oleh guru guru. (dan gratiiss saudara saudara. Makin cinta aja aku sama attakwa)

Akhirnya tibalah saatnya OSK itu. Firda berangkat ke Santa Ursula apa Santa Angela yah.. -tuh kan terbukti gak detailnya- bersama teman temannya dengan mobil jemputan sekolah. Pulangnya di jemput orang tua.

Mulanya aku janjian sama Mama Tri untuk ketemuan di sana pas njemput. Kebetulan Yuna juga ikut OSK. kan bisa dating sekalian gitu.. Tapi ternyata pagi itu aku harus ini itu maka akhirnya Abi yang njemput. Tapi Firda sempat ketemu mama Tri juga katanya.
Nah.. beberapa minggu kemudian, pas pengumuman dah keluar, aku justru taunya dari Mama Tri.
Selamat ya.. Firda masuk semi final. Mama Tri lihat di situs OSK. hihi.. satu lagi bukti aku gak detail. Tanggal pengumuman aku gak tahu. Ah,.. biasanya juga disuratin sama sekolah. hehehe
Dan kata Mama Tri, Firda nomor 13 se Kota Bandung.
Maka pas Mama Tri nanya gimana belajarnya, aku ketawa aja. Karena..
1. Firda dilatih gurunya di sekolah seminggu dua kali
2. Firda nggak kubeliin kuark secara khusus, cuma pake bekas kakak kakaknya dulu
3. (Rada takabbur) Aku merasa save dengan kemampuan Firda yang rada lain dari kakak kakaknya.
Lagi pula aku gak punya target khusus untuk OSK ini. Paling paling as usual lah.. mentok di semi final. Bisa berangkat juga udah bagus buat pengalaman. (Hihihi... kayaknya harus belajar semacam achieve more gitu sama Mamak Sondang)

Jumat, 06 April 2012

Bangkrut Bandar


Hehe.. judulnya..
Bukan bandar judi ya.. itu mah cuma olokan / istilah doang.
Di liburan lalu Fikri diajak teman teman sekelasnya menjadi panitia kompetisi futsal tingkat sekolah, wabil khusus kelas VII saja.
Kelas dia panitia, Fikri bagian pendaftaran.
Untuk pendaftaran setiap regu dikenai biaya 20rb rupiah.
Nah setelah peserta dari kelas lain sudah pada ndaftar, barulah si panitia itu cari cari tempat futsal yang disewakan. Padahal Futsalnya sabtu-ahad. Waduh ... makin susah dong nyari tempatnya. Alhamdulillah, akhirnya dapat juga lapangan futsal yang kosong, karena baru. Karena masih baru juga dan tempatnya kayaknya enak (aku sering lewat di depannya) ternyata jadi mahal. Per jam nya 65rb rupiah.
Halloooo... baru saat inilah panitia berhitung. Fikri bilang panitia rugi nih. Setiap jamnya, panitia kan cuma dapat uang 40rb dari dua tim. Itu baru babak penyisihan. Nanti kalau dah babak semifinal dan final siapa yang mbayarin ??? wkwkwkwk
Kusaranin mereka diskusi ulang aja soal biaya. Atau cari sponsor. Tapi karena takut sama anak kelas lain yang badannya besar besar,  anak anak kelas Fikri lebih memilih menanggung kerugian itu dengan patungan. Yaelah !
Semoga banyak pelajaran berharga yang kalian ambil ya.. dari peristiwa ini ya Nak. Pengalaman itu memang tidak ternilai harganya.
Tetep cemunguud !!

PS : ga ada fikri di foto ini, dia yg pegang kamera :D

Kamis, 05 April 2012

Mempersiapkan Nikah

Penantian 1
pernah
kupatahkan hati
tentang tambatan tidak pada tempatnya

pernah
kutanam harap
ketika diri beranjak hijrah
menata paruhan dien
ini

  :senantiasa
   kupintakan pada-Nya
   Qurrata a'yun

cilacap 070794

Puisi diambil dari sini.
Puisi di atas, kutulis jauuuuuuuuuhhhh.... sebelum aku menikah di akhir Desember 1996. Dan aku juga belum tahu siapa dan dari mana orang yang bakal menjadi suamiku.
Ceritanya waktu itu aku sudah mulai belajar agama, aku ikut mentoring di kampus.
Dari mbak mbak itulah aku tahu, bahwa tidak ada kamus pacaran dalam Islam. Karena Islam mengajarkan tentang kesucian. Suci hati, suci pandangan, suci lisan dan suci dalam segala urusan.  Sedangkan mereka yang pacaran sulit sekali untuk menjaga mata dari zina pandangan. Sulit sekali untuk menjaga hati tetap khusyu' mengingat ALlah dan mencintai-Nya dengan cinta yang paling utama.

Sebelum aku belajar Islam dengan lebih baik, sebenarnya aku sudah ada "some one spesial" (ehem ehem), dia adalah teman kakakku. Keluarga juga sudah setuju. Ketika aku akan melanjutkan kuliah jauh dari kampungku, keluarga si dia berkunjung ke rumahku. Meski belum membicarakan tentang pernikahan, menurut tradisi masyarakat di desaku, kalau sampai orang tua laki laki bertemu orang tua gadis, berarti hubungan sudah mulai serius.

Nah setelah aku tahu bahwa tidak ada kamus pacaran dalam Islam, maka sedikit demi sedikit aku berusaha menyampaikan apa yang aku fahami sama si Mas itu. Kebetulan beliaunya juga kuliah di Undip. Aku sarankan saja untuk belajar Islam. Ikut mentoring di kampusnya. Alhamdulillah akhirnya beliau juga belajar. Waktu terus berjalan. Sampai satu tahun kemudian ternyata tidak ada langkah nyata dari si Mas untuk meresmikan hubungan. Biar nggak jadi dosa. Biar tatapan tatapan menjadi halal. Biar surat suratan pun nggak ragu memilih kata-kata. Terus terang ada suatu perang dalam hatiku. Tampak luar aku adalah muslimah berjilbab rapi, rajin mengaji, tapi dalam hatiku masih menyembunyikan seseorang. Malu sama Allah yang selalu menyertai, malu sama Allah yang telah melimpahkan begitu banyak karunia dan nikmat.Dan tentunya, nikmat hidayah ini nggak ada duanya di dunia. Astaghfirullah..

Lelah berperang batin, akupun menanyakan kesiapan Mas untuk menikah. Karena nggak ada jawaban "Ya !" ,  dengan berat hati (sungguh !) aku tawarkan opsi, kalau nggak siap nikah, berarti kita putus saja. (Bukan putus dulu ya...) Putus ! Nggak ada relasi apa apa. Nggak ada "kewajiban" musti menjawab surat dan sebagainya.
Siapapun yang pernah jatuh cinta, pasti dapat membayangkan rasanya. Bagaimana berpisah tanpa suatu pertengkaran. Tanpa suatu "masalah". Tapi bagiku justru pacaran itulah masalahnya. 
Maka, walaupun dengan bercucuran air mata, resmilah kami berpisah. Aku berlari menuju Allah. Aku mohon kekuatan sama ALlah, memohon ketabahan, memohon keistiqomahan. Meski aku (sangat) mencintainya (saat itu), tapi bila aku berkata aku mencintai Allah, maka sesungguhnya Allah tidak suka dengan perbuatanku (pacaran itu). Aku memilih Allah. Kuhabiskan malam malam panjang dengan lantunan doa doa. Kuhabiskan hari hariku dengan berbagai aktivitas positif. Aku terbang dengan ghiroh / semangat yang menyala nyala. Alhamdulillah, pergolakan dalam hatiku pelan pelan terobati.

Akan tetapi, setelah aku berhasil menguasai pergolakan dalam diriku, muncul ujian baru. Si Mas ternyata tidak cukup tegar untuk menerima kenyataan. Beliau mogok kuliah. Ibunya menyuratiku. Kakaknya menyuratiku. Isinya hampir sama, tolonglah aku bersabar menunggu beberapa waktu sampai kami lulus kuliah baru menikah. Tolonglah kami balikan lagi. Tapi tekadku sudah teguh. Aku tak mungkin kembali. Satu keyakinan bagiku, jodoh itu tak akan lari ke mana. Semua sudah Allah pasang pasangkan dengan pasnya. Kata ALlah, wanita yang baik untuk laki laki yang baik. Aku sedang belajar menjadi baik, ku yakin Allah pun tengah menyiapkan "seseorang" yang tengah belajar menuju baik juga. Dengan permohonan maaf, akupun menyampaikan pendirianku kepada Ibu dan kakak si Mas.

Aku sedang mempersiapkan masa depanku. Masa depan di dunia dan di akhirat kelak. Bagiku, menikah hanyalah sekali seumur hidup. Dengan orang yang satu visi dan misi.
Kuberharap pada Allah, ketika aku menata separuh dien yang ada pada diriku, Allah akan menggenapkan dengan separuh lagi, suatu hari nanti.
Aku bersyukur sekali dengan keputusanku saat itu. Aku jadi lebih bebas melangkah. Tanpa perang batin. Tanpa beban dosa atas hubungan yang tidak diridhai Allah.
Aku bersyukur ALlah memberikan kekuatan dan ketabahan hingga saatnya jodohku datang.
Dan satu doa yang hingga kini tak lepas kulantunkan adalah :

"Ya Allah, karuniakanlah kepada kami, pasangan hidup dan anak anak yang menjadi penyejuk mata (qurrota a'yun) bagi kami, dan jadikanlah kami, pemimpin bagi orang orang yang bertakwa"
Amiin.

Selasa, 03 April 2012

Rejeki Bocah

Kamis atau Jumat lalu, aku terkesima lihat seorang bocah laki laki seumuran Faiz keluar dari toilet di tempat pelayanan terpadu.
Ada dua hal yang membuatku langsung melihatnya, pertama, anak itu cuma pergi berdua ayahnya. Kedua, anak itu pakai kaos merah. Eye catching !
Langsung dong, aku keinget Faiz di rumah. Aduuh.. emak emak banget ya.. kemanapun pergi dan lagi ngapainpun, tetap keingat buntut buntut itu..
Kayaknya Faiz cakep deh, dipakein baju merah. Terakhir dia punya baju merah, si piyama dino itu yang memenangkan kontesnya pasar pelangi. Walaupun masih muat, dia udah nggak mau pake karena lingkar leher sudah melebar, dan karet celana sudah melar gara gara disetrika pas masih basah.

Allahu Akbar  ! Allah Maha Besar. Walillahilhamd . Segala puji bagi-Nya
Hari Sabtunya, pas Faiz ikut aku ke kantor (sabtu itu aku lembur), temanku Ida SMS. "Mbak, aku ke rumah ya.. antar bajumu dan kaos buat Faiz"
Aku berterima kasih, Ida dah keduakalinya membelikan kaos buat Faiz.
Ternyata..... Saudara saudara.. kaos itu... berwarna ... M E R A H !!!
(mungkin karena seorang bocah yang polos belum banyak dosa, Allah langsung kirimkan hadiah buatnya)
Alhamdulillah !


Faiz senang sekali, karena ini pertama kalinya dia pakai baju karakter Cars

Senin, 02 April 2012

Panen Pertama

Alhamdulillah, pohon yang kutanam belum setahun sudah tumbuh tinggi, bercabang cabang dan  berdaun lebat. Dan hari Ahad pas long week end lalu aku kembali bersih bersih kebun. Merapikan batang batangnya yang sudah sampai ke jalan. Iiih.. senengnya.. ternyata sudah ada buah yang masak. Aku segera mencari galah untuk memetiknya. (Mau manjat malu soalnya... hehe)

Buah apa sih ? Halah, ini tentang buah kersen. Buah masa kecil. Tau kan pohon kersen ? Biasanya sih jadi pohon peneduh di pinggir jalan. Sebenernya tidak sepenuhnya buah masa kecil ya.. soalnya sampai sekarang aku masih suka kersen. Bahkan pas hamil Faiz, aku suka memetik kersen di halaman parkir Rumah Sakit Al Islam. MInta ijin aja sama satpamnya atau petugas parkirnya.

Dengan pohon kersen ini, halaman rumah kami sekarang jadi teduh sekarang.  Tanaman di pot juga tumbuh subur, karena nggak kepanasan lagi. Si Abi juga jadi suka duduk duduk di tritikan (pinggir rumah) buat baca koran atau baca Qur'an. Karena nggak semata mata kelihatan dari jalan raya yang jaraknya cuma 5 meteran.

Walaupun sempat dikerubutin ulat, dan nggak ada yang mau mendekat (selain yang nanem), alhamdulillah pohonnya dah serimbun ini sekarang
pohon kersen
Dulu Abi yang menghancurkan semen di halaman utk lokasi tanam ini. Huhu ..sampai Abi beli palu yang super besar dah tatah yang akhirnya patah. *senengbanget atas dukungannya (halamanku di semen semua sama pemilik rumah sebelumnya. Belum kami apa apain sampai sekarang. Pengennya ganti paving blok biar bisa nyerap air.)

Nah inilah kersen hasil panen pertama itu..


Sebenernya ada empat, mbak satu, Teteh satu, aku dua.. hahaha