Senin, 23 April 2012

Cinta Buku

belum berani keluar kamar, atau pas ngantri kamar mandi, udah baca lagi. Walaupun kadKami mencintai buku. Amat mencintai buku. Ingat jaman SD dulu Ibu selalu pinjam dari sekolahan. Setelah aku agak gede, kebetulan aku ditugasi jadi penjaga perpustakaan. Uuuh.. senengnya.

Yah, perasaan pas aku udah punya uang sendiri, aku secara tetap menyisihkan uang untuk beli buku. Udah gitu aku kos sekamar dengan karyawan PT Gema Insani Pers (penerbit buku Islam yg jaya saat itu) . Eh, ternyata ketika sudah menikah, koleksi eh simpanan bukuku jauuuuuuuuhhh di bawah koleksi suamiku. Sampai dikatain, gajimu habis kemana, kok bukunya cuma segini.Yah, gimana enggak kalah, si dia sih, mainannya ke Kwitang. Pusatnya buku tea.Lagian, hihi.. tau sendiri lah.. cewek kan ini itu kebutuhannya. Ngomong pake bayar aja dijabanin. (telpon telponan maksudnya...) Jaman itu kan ada kartu telepon tea yah.. atau kalau di tempat kos ada telpon rumah pake koin. Klo kehabisan koin, nuker dulu di situ situ juga dengan membuka gemboknya.
Eh, kembali ke buku.

Katanya hari ini kan hari buku. (harinya dah mau habis). Unesco menetapkan 23 April sebagai World Book Day. Tujuannya adalah untuk menggiatkan membaca, penerbitan dan hak cipta. Sejarahnya kenapa tanggal ini yang dipilih,  karena  ini adalah tanggal lahir dan tanggal kematian William Shakespeare.

Dan, kalau mengingat masa lalu betapa buku itu sangat sulit didapatkan. Udah gitu harganya juga cukup mahal. Inget waktu di Kupang, NTT. Setiap ada teman tugas ke Jakarta entah diklat entah apa, pasti titipan kita ya si buku itu. Dari mulai buku serius semacam Fatwa - Fatwa Kontemporer ustadz Yusuf Qordowi, sampai buku kecil kecil untuk Fathimah dan Fikri saat itu.
Seneng juga sih melihat anak anak sekarang terlihat akrab sekali dengan buku. Pulang sekolah pada baca. Malam malam habis belajar, buku jadi pengantar tidur. Pagi hari kala mereka bangun tidur kepagian dan yang sebel juga, mau disuruh ini itu mereka sedang asyik berkutat dengan buku. hehe

Ini adalah beberapa sisa koleksi buku anak jaman Fathimah kecil dulu. (14 tahun lalu)

Buku buku di atas yang berjudul Labu dan Kehidupan Semut itu aku beli di Kupang. Udah di tumpukan paling bawah toko buku yang berdebu. Tapi bukunya bagus, terbitan Gramed klo gak salah. Trus buku Pocahontas itu nitip temenku yang diklat, tapi dia nggak mau dibayar, karena abis diklat keluar SK Mutasi dia pindah ke Jawa. Buku buku selanjutnya itu udah beli di Bandung. Terbitan Mizan Yang paling depan itu diwarnai sama Mbak Fathimah

rak pertama

Makanya, sekarang bersyukur banget di Bandung ini toko buku dapat di jangkau hanya dengan sekali ayun kaki. (lebay) Pameran buku tiga kali setahun ya.. Dua kali pameran Ikapi dan satu kali Islamic Book Fair. Belum lagi event-event nya Grup Gramedia yang udah nggak pernah ikut pameran buku Bandung lagi. Yang ada sekarang kejar kejaran sama anggaran RT yang makin membengkak.  Segitu juga tetep sih.. selalu jatuh cinta sama buku. Rak buku di rumah udah nggak sanggup lagi menampung pertambahanan buku.
Setelah pakai rak rak kecil diskonan dari hypermarket gitu... dan makin lama makin penuh, kebetulan sekali temen nawarin rak buku ini. Dengan bahan kayu jati, menurutku harganya sesuai lah.
Keidean dari rak pertama dan si penjual nawarin boleh mesen, maka kita pesan rak kedua. Sengaja dibuat tinggi dan jarak antar susunan nggak selebar rak pertama. Rak ini untuk menyimpan novel novel, materi materi kuliah, majalah dsb.
Tapi tetep aja rak buku masih berantakan dan buku anak anak pun masih nyebar di rak yang kecil kecil dan di meja belajar mereka.

PR : Sekarang tinggal bagaimana memaksimalkan semua buku buku itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Tinggalkan Kesan