Sabtu, 21 April 2012

Perempuan dan Kerasnya Kehidupan

Potret pertama

Seorang ibu, menggendong bayinya dengan kain kumal seadanya.
Berjalan di sela sela kendaraan yang berhenti di perempatan lampu merah dekat stadion persib.
Menadahkan tangan, mengharap belas kasihan.

Dua tahun kemudian, bayi dalam gendongan itu sudah turun ke jalan. Menadahkan tangan. Memohon belas kasihan

Delapan tahun kemudian, bayi itu sudah tumbuh menjadi gadis cilik. Kali ini dia menggendong adiknya yang masih bayi. Memasang wajah memelas, menadahkan tangan, mengharap pemberian orang. Ketika lampu berubah hijau, wajahnya kembali ceria jamaknya wajah kanak kanak. Berlari kecil menuju teman-temannya sesama peminta minta. Sedang si Ibu kini duduk saja di bawah rindangnya pepohonan.

Potret kedua
Seorang Ibu, menggendong bayinya. Dalam selimut tebal di pagi yang dingin, kadang hujan. Melayani pembeli yang sekedar menginginkan kopi atau semangkuk indomi  untuk menghangatkan badan.

Seorang Ibu lain di sebelahnya, menimang bayi yang sedang belajar berdiri. Bermain dan bercanda menunjukkan wajah berseri.
Ibu dan anak itu bermain di tengah tumpukan sayur mayur yang akan di jual.
Itulah pemandangan yang ku lihat di pinggiran pasar Cicaheum, hampir setiap hari aku berangkat kerja.


Kedua kejadian tadi, kontras sekali. Ibu yang membawa anaknya meminta minta, bahkan dari bayi, ternyata secara tidak langsung mendidik anaknya menjadi peminta minta juga. Miris sekali. Melihat anak jalanan yang tumbuh dengan cara menadahkan tangan.

Kuberharap, para bayi yang diajak bekerja keras dari pagi, menyaksikan si Ibu bermandi peluh untuk mencari rejeki, akan tumbuh menjadi para pekerja keras juga.
Tak menyia nyiakan segala potensi yang Allah berikan. Tak menyia nyiakan berbagai peluang meski dalam kesempitan.
Karena Ibu, adalah madrasah pertama bagi anak anaknya. (meski kadang si Ibu tidak menyadarinya)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Tinggalkan Kesan