Senin, 04 Juni 2012

Su Minum Air Timor, Na..

Warning ! Postingan Mellow !

Pagi tadi, pas sarapan, beberapa  anak OJT di ruangan nanya nanya tentang penempatan. Pas aku cerita pernah di Kupang dan 5 tahun di sana mereka terlihat takjub. Tambah takjub ketika aku ceritakan kondisi Kupang saat kami di sana.
Pagi itu sih.. aku cerita biasa aja... tapi pas baca status g-talk salah satu temanku yang nulis

 Not to drink the water of mahakam river. otherwise you'll be back

tiba tiba saja aku jadi kangen Kupang. Kangen ? Kangen apanya ? Yah kangen semuanya laaah...
Kok bisa ? Ya bisa laaah..
Fakta :
* Kupang adalah rumah pertamaku setelah menikah. Pertama tinggal serumah dengan laki laki selain Bapak/adik/kakak. Suka duka, tawa dan air mata dibagi berdua. Belajar mengurus rumah dan segala isinya.
* Kupang adalah kota pertama aku tinggal sangat jauh dari orang tua dan nggak bisa pulang sendiri (naik kereta ekonomi dari Senen - OOT).
* Kupang adalah pertama aku hamil, dan melahirkan anak anak dan membesarkan mereka jauh dari orang tua dan tanpa ART
* ke Kupang adalah pertama aku bepergian naik pesawat (gak penting kali yah)
* Kupang adalah kota pertama yang membuatku tahu rasanya naik kapal besar (walaupun mabok laut)
* Di Kupang aku merasakan benar benar dunia kerja dan bagaimana harus mengambil tindakan dan memutuskan antara berbagai kepentingan. (anak sakit, badan lelah, kerjaan menunggu, atasan beda pandangan, beda kultur, beda bahasa, toleransi, memahami, membawa diri,  banyak deh )
* Di Kupang pula aku menemukan saudara saudara se iman yang demikian tulus. Menemukan orang tua. Menemukan teman. Menemukan sahabat. Menemukan guru. Berkesan deh !

Itu aku belum cerita keindahan alamnya ya... atau keunikan alamnya...
Kebetulan aku tinggal di komplek rumah dinas suamiku, tempatnya di pinggir laut. Tepatnya di Jalan Tim Tim desa Pasir Panjang.  Itu memang jalan satu satunya menuju Timor Timur saat itu. Keluar komplek, nyebrang jalan udah sampai di pantai. Pasirnya putih, banyak karang berserakan di bibir pantainya. Kesukaan kami adalah bermain air di Minggu pagi atau habis shalat maghrib langsung ke pantai untuk menikmati sisa sisa senja. Kalau terbangun di malam hari, hanya suara debur ombak di tengah sunyi.

Kebetulan rumahku menghadap ke timur. Setiap hari, kalau mau lihat matahari terbit, tinggal melihat jendela. Maka tampaklah si matahari malu malu dari balik bukit.
Kalau pertengahan bulan Hijriyah, serasa bulan terbit di halaman rumah. Lebay ? Tapi begitulah. Kami cukup membuka pintu yang menghadap lapangan luas itu, dan di ujung lapangan sana, bulan melambai.
Kalau udara cerah, kami keliling kota naik motor di malam hari. Dari jalan depan GKN Kupang, terlihat laut luas membentang, ditingkah cahaya dari perahu nelayan yang kelap kelip bertebaran.
Pasar ? Jangan tanya timbangan. Mungkin telur dan gula menjadi sedikit produk yang ditimbang.
Yang lainnya ? satuannya "kumpul". satu kumpul, dua kumpul. Seperti taningan bahasa Jawa gitu.
Ikan ? Segarrr semua. Bahkan bisa ambil di perahu nelayan langsung. Kalau mau ikat fillet, tinggal beli yang sudah dipotong potong dari ikan besar itu. Kakap, tongkol, pari...
Jangan tanya udang dan cumi. Segarr segarr segarr....

Yang nggak di suka ? nggak usahlah aku ceritain ... ntar kalian nggak mau ke sana suatu saat nanti.
Pokoknya semua yang pernah ke Kupang nggak bisa lupa. Mereka bilang "su minum air Timor, na.." (sudah minum air pulau Timor, sih....)

ini aku di dalam rumah pertamaku, bersama F1, F2 dan F3


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Tinggalkan Kesan