Jumat, 25 Januari 2013

Narsis Di Padang Rumput

Sebenernya aku enggak punya banyak bakat narsis. Terbukti jarang sekali mengganti profil bb dengan foto diri. *ya eyalah, profilnya dagangan melulu.
Tapi sebenarnya dalam hati ada satu pose yang pingiiiiiiinnn sekali aku lakukan, yaitu berfoto di tengah padang ilalang rumput seperti dulu Laura Ingals lari lari sementara topinya diterbangkan angin gitu...... *ih, buka rahasia umur ajah 
Memang sih enggak mungkin kalau aku foto kepang dua, karena dikepang dua atau dikepang satu atau enggak dikepang pun enggak bakalan ngaruh karena kepalaku tertutup kerudung. hihi

Dasar emang sudah rejeki kali yah, ternyata aku punya foto itu tanpa sengaja. Saat itu aku dan teman teman tengah ada acara family gathering di sebuah lapangan yang sepertinya jarang diinjak orang. Rumputnya tinggi tinggi. Ketika ada salah satu anak kecil yang berlari lari di lapangan, akupun berlari mengejar karena berniat menggambil gambarnya.

Berdasar pelajaran foto yang aku dapat secara kilat dari ratu dapur hangus, katanya kalau lagi ambil gambar masakan dia sampai nungging, mbrangkang pokoknya segala macam gaya agar mendapat sudut pandang yang pas. Kali ini akupun mempraktekkan pelajaran tersebut. Ceritanya pas aku mbrangkang - mbrangkang di lapangan dan terjatuh,  eh, emak anak kecil tadi dengan sigap mengambil gambarku. Maka jreng jreng jreng....jadilah foto ini. *iiihh... nggak nyangka .....
Pas aku jadiin profil bb, beberapa kontak langsung bilang : "Ummi narsiiiisss"

Narsis gituuu  ???

Narsis enggak ya ? Artistik enggak ya ? Ah terserah Una ajah.

"Postingan ini diikutsertakan di Narsisis-Artistik Giveaway."

Kamis, 24 Januari 2013

The Casual Vacancy, Sepotong Cinta, dan Bukan Review

Suatu malam  di akhir Desember
Orang orang pada cuti. Tapi aku nggak bisa cuti. Pengen beli buku, tapi budget belum ada untuk itu.
Sempat punya uang berjeti jeti, tapi langsung habis lagi *apa hubungannya coba ?

Ummi : Abi, tertarik buku J.K Rowling yang baru nggak ?
Abi    : Enggak !



Eh, sorenya pulang kantor si Abi buka tas dan ngeluarin The Casual Vacancy
(Nyes ! Lihat,  bahkan cinta pun perlu sesuatu untuk membahasakan)


NB :
tapi secara pribadi aku enggak suka buku ini. Memang cara bercerita JK tetap bagus, tapi isinya kok bikin kurang sreg ya.. Terlalu banyak adegan bercinta dan yang mengarah ke sana, trus hampir semua tokoh melakukan hal-hal buruk dan mau tampil sok baik. Masa' sih satu kota nggak ada yang benar benar baik ?

Rabu, 23 Januari 2013

Cuti Hari Ketiga : Peluncuran Sekolah Ibu

Sudah jauh jauh hari bu Siti minta bantuan dan dukungan untuk peluncuran Sekolah Ibu di RW 06 kelurahan tempat aku tinggal. Eh alhamdulillah kok ya harinya pas sama pekan saat aku ambil cuti tahunan ini.
Sebenarnya sudah banyak pihak yang membantu persiapan sekolah ibu ini. Yah, mungkin karena Ibu Siti sudah merasa dekat denganku jadi tidak mau kalau aku ketinggalan event ini.

Apa sih Sekolah Ibu ?
Sekolah Ibu adalah lembaga nonformal yang berada di bawah naungan Rumah Keluarga Indonesia. Kegiatannya adalah memberikan pendidikan buat ibu ibu ataupun calon ibu sesuai dengan prinsip Islam 'tarbiyah madal hayah' / long life education / belajar sepanjang hayat .

Apa saja yang diajarkan di Sekolah Ibu ?
Macam macam atau tepatnya segala macam hal / ilmu yang diperlukan oleh seorang ibu dalam menjalankan fungsi serta perannya. Materi sekolah ibu antara lain tentang agama/dien, keuangan, psikologi, kesehatan, lingkungan, teknolongi tepat guna, pendidikan anak, dsb bahkan juga ada materi materi ketrampilan yang sekiranya dapat dimanfaatkan untuk menambah penghasilan ibu ibu.

Bu Siti ini orangnya sangat bersemangat, sekaligus prigel kalau kata orang Jawa, cekatan. Aktif gitu deh. Padahal beliau seorang ibu dengan dua putra/putri yang sudah beranjak dewasa dan juga membutuhkan perhatian. Tetapi subhanallah, inspiring sekali, Ibu saat ini masih dapat mengelola 3 kelompok pengajian. Satu di masjid, dan dua kelompok di rumah beliau untuk belajar tahsin dan belajar ilmu agama. Yang muda muda sampai dibikin malu saking cekatannya beliau. *yah harap maklum juga kalii.. kita kita masih punya bayi

Ibu membuka ladang pahala baru dengan dibukanya Sekolah Ibu ini. Pesertanya sebagian besar adalah ibu ibu wali murid PAUD yang dikelola oleh RW.  Acaranya berlangsung hari Rabu tanggal 9 Januari lalu. Digelar secara sederhana di halaman rumah bu RW. Semua ibu ibu yang menyiapkan. Karpet, kursi, konsumsi, sound system, kado, dll.
Untuk peresmian sendiri dilakukan oleh Ketua Bidang Kewanitaan ibu Hj. Mulyani. Dan 'kuliah umum' disampaikan oleh Ibu Hj. Erna Kurniawati aka Ummu Maryam (istri mantan ketua DPRD kota Bandung periode lalu). Subhanallah, Bu Erna berkenan hadir untuk acara tingkat RW. Jempol dua buat bu Erna.

Trus aku ngapain ? hihi aku kan figuran. Aku bertugas pesan spanduk, mengambilnya di tempat pesan dan dan memasangnya di lokasi. Hihi kok bukan dari percetakan yang masang, yaah.. namanya juga udah dapat harga diskon, cuma 15rebu/meter, masa minta pasangin juga. Trus nganter nganter logistik gitu sama foto foto. hehehe.. tapi seneng kok. Lihat semangat ibu ibu yang hampir semuanya membawa anak anak balita *guebanget kemana mana bawa balita* dan melihat sinar mata mereka yang berbinar binar saat bu Erna menyampaikan kuliah umum dan saat panitia menyampaikan rencana belajar selama setahun, abis deh segala lelah mondar mandir ini itu.

Setelah tugasku selesai aku langsung capcus ke kantor .(lho.. katanya cuti... iyah, cuma mau tanda tangan DP3 dan ambil bolu meranti oleh oleh Sondang yang sudah menanti di kantor)

bu Hj. Mulyani (kiri) diskusi serius dengan bu Siti (kanan)

 peserta Sekolah Ibu

bu Erna ceramah. namanya acara emak emak, tetep ada intermezo

mahal sekali tatapan begini dari bu Siti,  lega..... acara usai

Minggu, 20 Januari 2013

Pandangan Pertama : Langsung Jatuh Cinta

Sebelum ini aku termasuk orang yang tidak percaya dengan istilah 'jatuh cinta pada pandangan pertama'. Karena sebagai orang Jawa aku lebih sering mendengar istilah 'witing tresno jalaran soko kulino' yang artinya kurang lebih bahwa seseorang itu mencintai orang lain / sesuatu disebabkan karena sering berhubungan atau  berdekatan.  Akan tetapi, setelah kejadian ini aku pun menjadi percaya bahwa jatuh cinta pada pandangan pertama itu memang ada :)

Ceritanya berawal di tahun 2002 ketika aku baru pindah tugas ke Bandung. Waktu itu aku ditempatkan di bagian kepegawaian kanwil. Salah satu tugas di sana adalah memproses rekomendasi melanjutkan studi baik di jalur kedinasan (bea siswa) maupun di luar kedinasan (atas biaya sendiri).
Nah ceritanya waktu itu ada seorang adik kelas yang akan melanjutkan studi dengan jalur bea siswa. Memang sih di direktoratku, ada ketentuan harus mempunyai masa kerja dua tahun. Tapi, berhubung waktu itu beasiswa berasal dari departemen dan tidak ada ketentuan itu, maka Edi, salah seorang pegawai baru, kami proses mengikuti seleksi, dan lulus !
Sayang seribu sayang, ternyata kelulusan Edi ini 'terganjal' oleh peraturan direktorat. Teman teman seangkatannya yang bertugas di direktorat lain, dapat melanjutkan studi. Dan Edi tidak. Namanya pun bahkan tidak tercantum di dalam surat edaran  panggilan untuk mahasiswa yang lulus seleksi. Nah sejak saat itulah muncul simpatiku atas kejadian yang menimpa Edi ini. Apakah aku jatuh cinta pada Edi ? Tidak ! Cerita masih berlanjut.

Beberapa waktu setelah kejadian itu berlalu, kami semua menerima undangan pernikahan Edi.


Entah kenapa ya... aku kok terkesan sekali sama senyum si calon mempelai perempuan. Berhubung si Edi ini pemalu sekali, berkata kata cuma sesekali, maka kami para ibu ibu dan bapak bapak di kepegawaian senang sekali menggoda dia. Tanya ini, tanya itu, akhirnya dapat info bahwa si calon mempelai adalah teman seangkatannya, dan nantinya akan pindah ke Bandung. Singkat cerita, merekapun menikah. Dan tidak lama kemudian, ada surat permohonan pindah ke Bandung atas nama Sondang.  Lagi lagi di kepegawaianlah proses memberikan rekomendasi pindah itu.
Aku ingat ya..saat itu sudah menjelang modernisasi DJP. Dan aku tidak tahu lagi kabar permohonan pindah itu karena kemudian aku dimutasikan ke kantor pelayanan.

Di kantor yang baru ini, karena benar benar 'baru' berdiri, maka pegawai yang masuk ditempatkan di bagian yang sama dengan di kantor asal. Tujuannya agar kantor baru dapat langsung berjalan. Akupun masuk di kepegawaian lagi.
Dasar udah jodoh kali ya...belum lama aku di kepegawaian baru ini, si Edi menelpon katanya surat keputusan pindah istrinya sudah ada. Dan dia ditempatkan di kantor yang sama denganku. Wow, makin penasaran. Dan benar, tidak lama kemudian si Sondang inipun menghubungiku. Tanya ini dan itu terkait administrasi dsb. Takdirpun bicara. Aku sekantor dengan Sondang. Dan itu sudah 7 tahun lalu !

Rupanya, 'cintaku' tidak bertepuk sebelah tangan. Sedikit demi sedikit, aku dan Sondang bertambah dekat. Tujuh tahun bukanlah waktu yang pendek untuk memupuk persahabatan.  Aku belajar banyak dari Sondang ya. Aku ingat di awal awal pernikahan, dia masih bertanya masak apa bagaimana caranya, ternyata sekarang kemampuan memasaknya sudah melesat jauh. Practice make perfect. Itu semboyan yang kudengar dari dia. Dia pula yang menyebarkan virus 'bekal makan siang' ke kantor. Lebih sehat dan lebih hemat.
Kemudian belakangan aku aku makin kagum setelah tahu kalau Sondang itu seorang penulis (enggak kayak aku yang cuma penulis abal abal), bahkan dia pernah memenangi lomba novelet Femina. (Femina ! di usia yang begitu muda. Selisih umur kami sekitar 6  tahun lho..). Selain itu dia juga menulis script untuk sinetron sinetron kejar tayang yang bayarannya sering dia pake nraktir, hehe.
Dan Sondang pulalah yang mengajakku sekaligus mengajariku ngeblog di multiply. (Yeay !)
Ya, Sondang itu mencerahkan, sesuai arti namanya Sondang = cahaya.

Persahabatan kami semakin dekat. Kami bertiga, bukan berdua. Karena ternyata si Tri yang juga sekantor denganku adalah sahabat Sondang sejak masa kuliah. Lebih dekat lagi ketika kami bertiga punya bayi di saat yang hampir bersamaan. Sondang punya anak pertama, trus aku anak kelima dan Tri anak ketiga. Masa masa memerah ASI bersama, menjadi sarana saling mendalami kepribadian. Bayangkan ! sehari dua kali, masing masing 30 menit, kami habiskan waktu bertiga saja. Kami saling menularkan virus - virus kebaikan (semoga ya..) Tri menularkan virus memasaknya, menceritakan bahwa memasak itu mudah. Sondang menularkan virus menulisnya (walaupun si Tri belum aktif ngeblognya). Dan sebagai yang paling tua di antara mereka, katanya aku punya ketenangan dan kesabaran yang membuat mereka juga menjadi lebih tenang. (cieee...). Komitmen kami adalah jangan ngegosip. Mending ngomongin pendidikan anak atau masakan dari pada nggosipin orang.

Tri, Sondang, Aku pas arisan kantor akhir 2011. (kelihatan nggak sih, aku lebih tua 6 tahun dari mereka ?)
Foto diculik dari blog Sondang


Setelah masa masa memerah ASI selesai, kami punya petualangan baru. Wisata kuliner. Di hari hari lain kami berbekal, dan di hari hari tertentu kami jajan. Kadang seminggu sekali, kadang dua minggu sekali. Dan ternyata inilah yang sampai sekarang mendekatkan kami. Meski sudah terpisah - pisah kami masih menyempatkan waktu untuk berkumpul sekaligus wisata kuliner. Ya, Sondang mendapat bea siswa S2 di MBA ITB tahun 2011 hampir bersamaan dengan kepindahanku ke kantor yang baru lagi. Tri yang tertinggal di kantor lama, menyusul Sondang ke MBA ITB di tahun 2012. Tapi malah jadi syukur ya.. aktivitas mereka dekat dengan kantor baruku di bilangan BEC/Gramedia.

Tri dan Sondang @wiskul Januari 2013
Kini, harapan kami, persahabatan ini akan terus berlanjut sampai tua. Bahkan si Tri sudah merekayasa perjodohan F5-ku dengan Nara anak ketiganya.  Persahabatan yang saling menularkan kebaikan, insya Allah.



Kamis, 17 Januari 2013

Hari Kedua Cuti : Taman Lalu Lintas

Sudah lama Faiz menyampaikan keinginannya naik kereta api. Terlebih setelah dia sekolah dan bisa menyanyikan lagu naik kereta api. Tapi sayang seribu sayang, Ummi dan Abinya belum punya kesempatan untuk mengajaknya naik kereta api.
Nah pas hari Sabtu lalu dia bilang lagi pengen naik kereta api, maka spontan aku menjawab Selasa ya.. kita naik kereta api.
Eh, bukannya naik kereta api beneran lho... bayanganku ya naik kereta api - kereta apian. Hehe.. padahal Faiz sudah semakin besar ya... harusnya aku berfikir bukan cuma kereta mainan. Tapi mau naik kereta beneran kok ya males gitu.. apalagi 'cuma' bolak balik misalnya kereta jurusan Bandung Cicalengka. Maka yang terpikir olehku langsung ke kereta mini di Taman Lalu Lintas. Kan udah mirip banget tuh, ada stasiun, ada loket tempat beli tiket, dan keretanya pun berjalan di atas rel. Lengkap dengan jembatan dan terowongan di 'sepanjang' perjalanannya. :)

Dah sepakat sama Faiz hari Selasa mau pergi berdua. Yah mungkin sudah takdir atau gimana, hari Senin sore aku pergi pengajian. Habis sholat maghrib lihat Abi jalan pincang pincang. Langsung kutembak : Abi jatuh lagi ya...?'  (jatuh dari motor), Abi cuma mengangguk. Biasalaah.. nggak mau cerita.
Trus malemnya aku pancing lagi, pas berangkat kantor atau pas pulang kantor ? Abi cuma menjawab pendek, pas pulang kantor. Jatuhnya udah di dekat rumah, karena ada yang mengerem mendadak.
Sempat ragu hari Selasa mau pergi apa enggak, soalnya Abi jadinya ijin nggak ngantor. Tapi berhubung sudah terlanjur janji dengan Faiz, aku pun tetap melanjutkan rencana. Eh, alhamdulillah, malah Abi mau nganterin. Iya sih, kebayang, Bandung sore hari hujan melulu, kalau naik angkot kapan sampainya :)

Akhirnya sekitar 11.30an kami berangkat bertiga. Jalanan relatif kosong. Maka sekitar jam 12 an kami sudah sampai di Taman Lalu Lintas. Sebenarnya taman ini bernama Taman Ade Irma Suryani Nasution. Alamatnya di jalan Belitung no. 2. Mungkin karena di dalamnya banyak unsur unsur pendidikan berlalu lintas, maka dinamakan taman lalu lintas.  Sempat heran, ternyata tiket masuknya masih 5000 perak. Anak di atas dua tahun harus bayar. Murce ya...

Karena tujuannya naik kereta, ditunjuki apapun Faiz tidak tertarik. Maka kami bertiga langsung jalan lurus menuju stasiun kereta. Namun sayang seribu sayang, mungkin karena sepi, keretanya tidak beroperasi.

keretanya sumbangan PT KAI dari tahun 1958 lhoo

Faiz menatap rel kereta dengan penuh harap
Di loket stasiun tidak satupun penjaga. Demikian juga di stasiunnya tidak ada satupun. Berhubung waktu
Karen zhuhur sudah tiba, maka kamipun sholat zhuhur dulu di mushola kecil yang cukup nyaman 
mempelajari situasi dari balik jendela mushola

Usai shalat berjalan lagi. Berharap bertemu kereta motor (kereta yang ditarik sepeda motor). Ternyata kereta inipun tidak beroperasi. Akhirnya perjalanan berhenti di tempat bermain yang pengoperasiannya pake koin. (Yaah... apa bedanya sama yang di Griya ya..)
Faiz nyobain trampolin. Masih dijagain Abi

Ahayy... ternyata robot dari jaman Fikri TK masih ada di sini.
Setelah bosan bermain main dalam ruangan, kuajak Faiz ke tempat penyewaan sepeda. Kebetulan dia kan lagi pengen sepeda yang agak besar. Dengan bersemangat Faiz berlari ke tempat sepeda.
Harga tiket sewanya 4000 perak untuk 15 menit main sepeda. Tapi berhubung kosong, jadi kayaknya si penjaga loket juga males mau nagih :P *alesan
Oya, untuk bersepeda ini disediakan trek khusus. Dibuat seperti di alam terbuka, ada jalan mendaki, ada jalan turun, berputar mengelilingi taman, bahkan masuk terowongan . Ada juga rambu rambu lalu lintasnya, seperti segitiga untuk menunjukkan jalan naik atau jalan turun, tanda halte bis, belok kanan/kiri, dsb.

mencoba sepeda

sudah berani bergaya, masuk terowongan segala
 
Ummi dan Abi

beristirahat sejenak setelah main sepeda
Karena sudah gerimis dan khawatir keburu hujan, kira kira pukul 14 kami pulang. Tak lupa foto dulu di pintu dekat gerbang, di depan papan rambu rambu lalu lintas yang menjadi ikon taman ini.


Sepertinya Faiz cukup puas dengan jalan jalan kali ini. Udah gitu diapun mendapat perhatian penuh dari Ummi dan Abi. Hanya saja masih punya satu hutang ; naik kereta !

Selasa, 08 Januari 2013

Hari Pertama Cuti

Di kantor ada kebijakan, bahwa akhir tahun tidak diperbolehkan cuti kecuali para pegawai yang merayakan hari besar agamanya. Jadi, meskipun anak anak liburan sekolah, aku nggak ngambil cuti. Malah bisa dikatakan jaga warung. Karena dari 3 petugas di depan cuti satu maka tinggal dua. Untunglah ada teman teman yang baik hati dan bersedia membantu pekerjaan melayani para customer *jiaaahh

Setelah temanku tadi cuti sampai akhir Desember, disusul teman satu lagi cuti di awal Januari. Walhasil aku memang benar benar tidak bisa cuti di masa masa anak liburan sekolah.
Anak anak protes nggak ? Pasti ! Mereka  protes liburan kok nggak kemana mana ..
Alhamdulillah Allah kasih 'alasan' kenapa enggak bisa jalan jalan. Pertama Bibi mudik di akhir tahun. Ini pasti akan sangat ngaruh terhadap kelancaran aktifitas rumah. Kedua, Abi sakit flu berat sampai sampai tiduran aja selama beberapa hari saking menahan pusing. Ketiga Ummi nggak bisa cuti.
Setelah diberi pengertian anak anak dapat mengerti. Untuk mengisi liburan mereka ada yang main ke rumah teman sekolah, ada yang hiking dengan teman teman eskul, ada yang sibuk ngabisin bacaan, dan tentu saja, nonton tivi serta maen game agak diberi tambahan waktu.

Nah, setelah dua temanku masuk, maka gantian aku yang ambil cuti. Nggak tanggung tanggung, langsung 5 hari cuti tahun lalu aku habisin.
Ketika teman teman bertanya heran, mau kemana ? yah kujawab di rumah saja. Nggak kemana mana. Paling banter nganterin Faiz sekolah hehe..
Pengennya sih, jawab mau umroh gitu ya.. kan pas tuh 9 hari. Tapi kok rasa rasanya masih seperti ngimpi ya.... Aih.. berdoa aja lah. suatu saat insya ALlah bisa ke tanah suci. Amin. *ngelantur

Dan .. ya memang itulah acaraku cuti. Antar jemput Faiz ke sekolah. Karena jarang sekali dia diantar oleh salah satu dari Ummi atau Abi. Nggak seperti kakak kakaknya dulu. Setiap hari diantar Ummi dan / atau Abi.
Hari pertama cuti : Nongkrong di sekolah. Nggak niat nongkrong sih awalnya. Sebelum liburan bu guru kasih pengumuman, katanya hari pertama bakal ada pemeriksaan kesehatan dari puskesmas terkait. Ibu ibu dah pada sedikit panik, takut ntar anak anak pada nangis atau gimana sehingga ibu Guru kerepotan. Tunggu punya tunggu.. udah ngabisin tahu sumedang, kerupuk, bahkan bakso yang mangkal, tetep si petugas kesehatan tidak muncul juga. Dan ibu ibu baru tahu kalau pemeriksaan di tunda minggu depan pas jam istirahat anak anak. Tanggung deh.... terusin aja kongkow nya . Ibu ibu membujuk. Kata mereka "kapan lagi mama Faiz, bisa nongkrong di sekolah" hehe iya sih.

Yah, tapi selama - lamanya nongkrong aku nggak betah juga kali ya, tiga jam gak ada kejelasan ngapain. Sedang anak anak baru pulang jam 11. Maka kuajak salah satu ibu ke rumah. Aku pamerin hasil craftingku, dan akhirnya dia tertarik untuk merajut. Yeay ! Satu orang 'teracuni'. Semoga bisa terus berlanjut, jadi pengisi waktu yang bermanfaat slama menunggu anak sekolah.

Nah, berhubung aku kurang narsis, jadi ya. aktivitasku bersama ibu ibu sekolah itu tidak terabadikan. Cuma ada foto F5 aja..
narsis sejenak

F5 baris



Minggu, 06 Januari 2013

Kota Ramah Anak



Sedang menghapus foto foto yang tidak lagi terpakai , rasa rasanya kok sayang membuang kenangan dua foto ini. Kedua foto di atas kuambil beberapa waktu lalu  ketika aku makan siang di sebuah warung tenda pinggir jalan di bilangan jalan Purnawarman. Aku lupa siapa nama kedua anak ini. Kalaupun  sekarang atau nanti ketemu lagi, mungkin juga aku tak akan mengenali mereka.

Entah kenapa, di hari hari liburan anak sekolah itu, tetiba banyak anak anak kecil yang menjual vitamin C. Karena mereka memandangiku terus selama aku makan bakso sementara aku tak hendak membeli barang yang mereka jual, maka kutawarkan kepada mereka makan dan minum bakso eh salah, minum dan makan bakso.
Untuk minumnya mereka minta teh botol, dan sejenak kemudian minta teh botol itu diplastikin aja. Trus baksonya pun demikian, dibungkus sajah.

Sementara menunggu pesanan mereka siap, iseng iseng aku wawancara sama mereka. Masih sekolah apa enggak, katanya masih. Sekolah dimana, katanya sih, di daerah Sukajadi (lumayan jauh lho... dari kantorku, walaupun cuma sekali pake angkot). Trus yang bikin aku ngenes adalah ketika kutanya bapak ibunya di mana kok mereka jauh jauh ke BEC, mereka bilang ibunya kerja nyuci di rumah orang, dan bapaknya tidur tiduran di rumah. #gubraks. hiks.
Untung aja aku nggak kasih mereka duit ya.. dan memang aku paling anti ngasih anak anak seperti ini dalam bentuk uang, karena aku su'uzhon, jangan jangan uang itu hanya akan jatuh ke tangan para dewasa di sekitar mereka.

Setelah pesanan mereka siap, mereka pun berlalu sambil berucap terima kasih dan ketawa ketiwi berdua dengan bakso kuah dalam plastik di tangan mereka.

Mengingat kejadian itu, entah kenapa ya ... aku tiba tiba ingat dengan istilah kota ramah anak. Apakah Bandung termasuk kota ramah anak ?