Minggu, 20 Januari 2013

Pandangan Pertama : Langsung Jatuh Cinta

Sebelum ini aku termasuk orang yang tidak percaya dengan istilah 'jatuh cinta pada pandangan pertama'. Karena sebagai orang Jawa aku lebih sering mendengar istilah 'witing tresno jalaran soko kulino' yang artinya kurang lebih bahwa seseorang itu mencintai orang lain / sesuatu disebabkan karena sering berhubungan atau  berdekatan.  Akan tetapi, setelah kejadian ini aku pun menjadi percaya bahwa jatuh cinta pada pandangan pertama itu memang ada :)

Ceritanya berawal di tahun 2002 ketika aku baru pindah tugas ke Bandung. Waktu itu aku ditempatkan di bagian kepegawaian kanwil. Salah satu tugas di sana adalah memproses rekomendasi melanjutkan studi baik di jalur kedinasan (bea siswa) maupun di luar kedinasan (atas biaya sendiri).
Nah ceritanya waktu itu ada seorang adik kelas yang akan melanjutkan studi dengan jalur bea siswa. Memang sih di direktoratku, ada ketentuan harus mempunyai masa kerja dua tahun. Tapi, berhubung waktu itu beasiswa berasal dari departemen dan tidak ada ketentuan itu, maka Edi, salah seorang pegawai baru, kami proses mengikuti seleksi, dan lulus !
Sayang seribu sayang, ternyata kelulusan Edi ini 'terganjal' oleh peraturan direktorat. Teman teman seangkatannya yang bertugas di direktorat lain, dapat melanjutkan studi. Dan Edi tidak. Namanya pun bahkan tidak tercantum di dalam surat edaran  panggilan untuk mahasiswa yang lulus seleksi. Nah sejak saat itulah muncul simpatiku atas kejadian yang menimpa Edi ini. Apakah aku jatuh cinta pada Edi ? Tidak ! Cerita masih berlanjut.

Beberapa waktu setelah kejadian itu berlalu, kami semua menerima undangan pernikahan Edi.


Entah kenapa ya... aku kok terkesan sekali sama senyum si calon mempelai perempuan. Berhubung si Edi ini pemalu sekali, berkata kata cuma sesekali, maka kami para ibu ibu dan bapak bapak di kepegawaian senang sekali menggoda dia. Tanya ini, tanya itu, akhirnya dapat info bahwa si calon mempelai adalah teman seangkatannya, dan nantinya akan pindah ke Bandung. Singkat cerita, merekapun menikah. Dan tidak lama kemudian, ada surat permohonan pindah ke Bandung atas nama Sondang.  Lagi lagi di kepegawaianlah proses memberikan rekomendasi pindah itu.
Aku ingat ya..saat itu sudah menjelang modernisasi DJP. Dan aku tidak tahu lagi kabar permohonan pindah itu karena kemudian aku dimutasikan ke kantor pelayanan.

Di kantor yang baru ini, karena benar benar 'baru' berdiri, maka pegawai yang masuk ditempatkan di bagian yang sama dengan di kantor asal. Tujuannya agar kantor baru dapat langsung berjalan. Akupun masuk di kepegawaian lagi.
Dasar udah jodoh kali ya...belum lama aku di kepegawaian baru ini, si Edi menelpon katanya surat keputusan pindah istrinya sudah ada. Dan dia ditempatkan di kantor yang sama denganku. Wow, makin penasaran. Dan benar, tidak lama kemudian si Sondang inipun menghubungiku. Tanya ini dan itu terkait administrasi dsb. Takdirpun bicara. Aku sekantor dengan Sondang. Dan itu sudah 7 tahun lalu !

Rupanya, 'cintaku' tidak bertepuk sebelah tangan. Sedikit demi sedikit, aku dan Sondang bertambah dekat. Tujuh tahun bukanlah waktu yang pendek untuk memupuk persahabatan.  Aku belajar banyak dari Sondang ya. Aku ingat di awal awal pernikahan, dia masih bertanya masak apa bagaimana caranya, ternyata sekarang kemampuan memasaknya sudah melesat jauh. Practice make perfect. Itu semboyan yang kudengar dari dia. Dia pula yang menyebarkan virus 'bekal makan siang' ke kantor. Lebih sehat dan lebih hemat.
Kemudian belakangan aku aku makin kagum setelah tahu kalau Sondang itu seorang penulis (enggak kayak aku yang cuma penulis abal abal), bahkan dia pernah memenangi lomba novelet Femina. (Femina ! di usia yang begitu muda. Selisih umur kami sekitar 6  tahun lho..). Selain itu dia juga menulis script untuk sinetron sinetron kejar tayang yang bayarannya sering dia pake nraktir, hehe.
Dan Sondang pulalah yang mengajakku sekaligus mengajariku ngeblog di multiply. (Yeay !)
Ya, Sondang itu mencerahkan, sesuai arti namanya Sondang = cahaya.

Persahabatan kami semakin dekat. Kami bertiga, bukan berdua. Karena ternyata si Tri yang juga sekantor denganku adalah sahabat Sondang sejak masa kuliah. Lebih dekat lagi ketika kami bertiga punya bayi di saat yang hampir bersamaan. Sondang punya anak pertama, trus aku anak kelima dan Tri anak ketiga. Masa masa memerah ASI bersama, menjadi sarana saling mendalami kepribadian. Bayangkan ! sehari dua kali, masing masing 30 menit, kami habiskan waktu bertiga saja. Kami saling menularkan virus - virus kebaikan (semoga ya..) Tri menularkan virus memasaknya, menceritakan bahwa memasak itu mudah. Sondang menularkan virus menulisnya (walaupun si Tri belum aktif ngeblognya). Dan sebagai yang paling tua di antara mereka, katanya aku punya ketenangan dan kesabaran yang membuat mereka juga menjadi lebih tenang. (cieee...). Komitmen kami adalah jangan ngegosip. Mending ngomongin pendidikan anak atau masakan dari pada nggosipin orang.

Tri, Sondang, Aku pas arisan kantor akhir 2011. (kelihatan nggak sih, aku lebih tua 6 tahun dari mereka ?)
Foto diculik dari blog Sondang


Setelah masa masa memerah ASI selesai, kami punya petualangan baru. Wisata kuliner. Di hari hari lain kami berbekal, dan di hari hari tertentu kami jajan. Kadang seminggu sekali, kadang dua minggu sekali. Dan ternyata inilah yang sampai sekarang mendekatkan kami. Meski sudah terpisah - pisah kami masih menyempatkan waktu untuk berkumpul sekaligus wisata kuliner. Ya, Sondang mendapat bea siswa S2 di MBA ITB tahun 2011 hampir bersamaan dengan kepindahanku ke kantor yang baru lagi. Tri yang tertinggal di kantor lama, menyusul Sondang ke MBA ITB di tahun 2012. Tapi malah jadi syukur ya.. aktivitas mereka dekat dengan kantor baruku di bilangan BEC/Gramedia.

Tri dan Sondang @wiskul Januari 2013
Kini, harapan kami, persahabatan ini akan terus berlanjut sampai tua. Bahkan si Tri sudah merekayasa perjodohan F5-ku dengan Nara anak ketiganya.  Persahabatan yang saling menularkan kebaikan, insya Allah.



8 komentar:

  1. huaaaa hahaha mbak Titii...aku padamu....sungguh aku padamu *aku jadi kangen masa masa kita mompa bareng ya hahahahaha* aku baru tau dikau inget Edi mulai dari hasil D4 yang kacau itu, kan pas jaman pak D*di R dan jadi bosnya pula kan, dunia sempit yaaaaa *well, dunia indah karena kita dipertemukan cieeee*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyah, aku terkesan melihat senyum polos dan ketenangannya saat itu. Jalan bolak balik dari bidang ke kepegawaian, trus akhirnya ya tetap harus menerima keputusan tersebut.
      Wow, aku baru nyadar, saat itu decision maker-nya Mr. R ? haha.. dunia ini memang sempit ya...

      Hapus
  2. ini blog ku, visit ya :) http://sometronom.blogspot.com/

    BalasHapus
  3. Woow, pandangan p[ertamanya sekaligus bernostalgia ya, Mba. hihihihi

    Saya kira Edi tuh calonnya Mba Titi. :D
    Pengalamannya benar2 banyak dan memberikan kesan tersendiri, Mba.
    Semoga persahabatannya tetap terjalin ya. Salam kenal untuk Mba sondang dan Mba Tri. :)


    Terimakasih sudah ikut meramaikan syukuran di Langkah Catatanku, Mba.
    Salam Senyuum,. . . . ^_*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Idaaah... iyah... ini pandangan pertama yang betul betul sangat berkesan. Syukurlah sampai sekarang masih berlanjut

      Hapus
  4. Mbaak... aku baru baca tulisan ini.. (krn muncul di Arsip Favorit)... dan aku baru tau kisah cinta kalian... co cweet.... mudah2an persahabatannya abadi mbak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. xixixixi...... amiiiin..... makasih doanya ya mbaak. Gimana mau kopdaran sama Sondang dan baginda ratu ? ntar aku comblangin

      Hapus

Silakan Tinggalkan Kesan