Rabu, 27 Februari 2013

Anak Seorang Perantau Akhirnya Jadi Perantau

Bapakku asli Magelang. Ibuku asli  Temanggung. Bapak seorang PNS, Ibu seorang Guru. Kami semua tinggal di Pingit, Temanggung.
Tidak lama setelah lahir adik kelima,  Bapak dipindahtugaskan ke Cilacap. Kamipun akhirnya menetap Cilacap.

Semasa Lajang
Aku belajar merantau sejak SMEA. Waktu itu aku kos  berdelapan. Tiap hari kami bergantian menanak nasi dan membeli sayur / lauk karena ibu kos tidak menyediakan makan. Selain itu kami juga  mengatur jadwal mandi (kamar mandi ada dua dipakai 8 anak kos + 2 tuan rumah) dan jadwal mencuci pakaian, karena kalau semua mencuci, tali jemuran langsung penuh. Intinya, di dalam rumah kos itu, kami telah belajar bermasyarakat, saling menghormati dan bertenggang rasa.

Lulus SMEA aku masuk STAN. Kehidupan sebagai anak kos pun dilanjutkan. Aku bersama teman-teman  berkongsi  menyewa rumah. Selain lebih murah, kami juga belajar mengurus rumah. Maka jadwal piket pun dibuat. Siapa yang kebagian menyapu, siapa mengepel lantai, siapa memasak, siapa  mencuci piring, menyapu halaman, menggosok kamar mandi, dsb. Kami benar-benar belajar mandiri. Tapi kehidupan anak kos pastilah penuh warna. Misalnya ada yang mendadak ujian sehingga  tidak dapat menunaikan tugas sesuai jadwal, ada yang ingin belajar dalam diam, dan sebaliknya ada yang nggak bisa belajar kalau nggak sambil mendengarkan musik. Ada yang rajin merapikan, ada juga yang sembarangan.Di sinilah, lagi lagi kami harus belajar bertenggang rasa, saling memahami, dan akhirnya menumbuhkan sikap sepenanggungan sebagai satu 'keluarga' di perantauan.

Setelah Menikah
Selesai kuliah, tidak lama kemudian aku dilamar oleh seseorang. Desember 1996 kami menikah.
Suamiku ini ternyata seorang pujakesuma. Putera Jawa kelahiran Sumatera. Ayah mertua asli Jawa, Ibu asli Palembang. Tinggal di Lampung. Suamiku lahir-besar di Lampung, kuliah  ikatan dinas di Jakarta dan penempatan pertama sebagai PNS di Kupang.
Maka perantauanku tahap berikutnya pun dimulai. Aku kali ini merantau karena ikut suami.


Aku dan anak-anak (baru F1-F3) di ruang tamu rumah Kupang
Selama lima tahun tinggal di Kupang, banyak sekali kejadian yang sungguh memperkaya lukisan kehidupanku. Namun satu hal yang membuat kami berduka, ketika di Kupang itulah Bapak dan Ibuku kembali ke pangkuan Allah. Saat itu armada penerbangan belum sebanyak sekarang. Tahun 1999 Ibuku wafat. Karena tidak dapat pesawat di hari yang sama, kami tidak dapat mengantarkan Ibu ke peristirahatan terakhir. 
Sedangkan Bapakku, wafat akhir tahun 2001, dua minggu sebelum kami pindah tugas ke Bandung. Memang saat itu sudah packing-packing, bahkan sebagian barang sudah dipaketkan, tapi tetap saja kami belum siap berangkat dua minggu lebih awal karena terkait dengan pekerjaan kantor baik suamiku maupun pekerjaanku. Belum lagi masalah biaya pindah. Tidak memungkinkan juga misalnya saat itu pulang ke Jawa terus balik lagi ke Kupang lalu pindahan. Mau tidak mau, kami kembali merelakan tidak dapat mengantar Bapak ke peristirahatan terakhir.
Demikian juga setelah pindah ke Bandung, Ibu mertua meninggalpun kami tidak dapat menemui jenazah beliau. Waktu itu tahun 2003, satu satunya cara ke Lampung yang terjangkau buat kami adalah naik bis malam. Ibu wafat hari Ahad pagi , dimakamkan hari itu juga. Malamnya kami baru berangkat dari Bandung. 
Wafatnya ketiga orang tua kami inilah yang menjadi hal paling membekas selama di perantauan.

Hikmah Merantau
* Merantau itu menguatkan, melatih kemandirian, dan mendewasakan 
Merantau sejak remaja, alhamdulillah membuatku merasa siap ketika diajak suami merantau di Kupang.  Suka duka ditanggung berdua. Mengurus (sampai dengan) tiga anak balita, tanpa asisten rumah tangga. Kalau pagi semua berangkat, anak anak ke penitipan, Ummi dan Abi pergi ngantor. Malam anak anak tidur, Ummi dan Abi berbagi tugas rumah tangga cuci, setrika, ngepel, dsb. Ada masalah keluarga ? Dibicarakan berdua. Jauhnya kami dari keluarga besar, justru mendekatkan kami satu sama lain.
* Merantau itu menambah saudara. 
Ketika kita merantau, pengganti keluarga kita adalah mereka yang ada di sekitar kita, yang dekat dengan kita. Ibaratnya minta gula, garam nggak mungkin telpon ke kakak atau ibu di kejauhan, tetep aja yang dimintai tolong pertama dan bisa datang cepat adalah tetangga dekat. Maka ketika merantau kita harus pandai pandai menjalin tali silaturrahim.
* Merantau memperkaya pengalaman
Bertemu lebih banyak orang, melihat lebih banyak budaya, mengunjungi lebih banyak daerah tidak akan menjadi sia-sia untuk kita.
* Merantau membuatku lebih arif terhadap alam
Contoh ketika di Kupang, air PAM mengalir 3 hari sekali. Yah, jadwalnya memang 3 hari sekali baru ngalir, sedangkan di rumah ada tiga balita. Kebayang kan seberapa cucian pritilannya ? Tapi disitulah justru kami jadi lebih dapat menghargai air dan memakainya sesuai keperluan saja.
* Merantau membuatku makin cinta Indonesia
Jawa, Sumatera, Bali, NTT baru itu sebagian keindahan Indonesia yang kulihat. Masing-masing mempunyai daya tarik yang tidak ada di daerah lain. Semua membuat rindu untuk didatangi kembali.

Sedikit Tips untuk perantau 
* Terimalah keadaan. Penerimaan akan membuat kita tenang. Kalau dalam diri kita ada sedikit saja penolakan, maka kita tidak akan betah di perantauan
* Berbagilah dengan yang dekat.  Entah itu suami atau sahabat. Kalau kita berbagi dengan yang jauh, misalnya orang tua, apalagi kalau keadaan kita 'tidak enak', pasti orang tua jadi khawatir. Bahkan aku ada temen yang ikut suami ke luar Jawa, eh, sama ibunya disuruh pulang ke Jawa, ninggalin suaminya di sono. Kalau suami diambil orang gimana coba #eh
* Bertanya kepada yang lebih dahulu tinggal di daerah tersebut, bagaimana trik-trik menghadapi kesulitan di perantauan. Pasti senior kita dengan senang hati akan membagi pengalamannya, bahkan tidak mustahil akan membantu kesulitan kita.
* Bersabar dan bersyukur.
* Banyakin minta doa dari kedua orang tua

 -----------------------------

NB*hihi.. mau diikutkan GA mbak Milati tp gak sempat ngedit, telat deeh...lumayan ah, buat postingan

Senin, 25 Februari 2013

Bahasa Daerah Itu Mudah

Anak pegawai negeri, menjadi seorang pegawai negeri, kemudian diperistri pegawai negeri, membuatku melanglang buana ke berbagai daerah di Indonesia. Belum banyak siiih.. tetapi setiap daerah yang pernah kutinggali mempunyai bahasanya masing-masing.

Aku numpang lahir di Temanggung, kemudian sejak masih balita ikut pindah orang tua ke Cilacap.
Masa kecil di Cilacap ini, bisa dikatakan aku bicara dalam 2 bahasa daerah *jiaaah
Yaitu : bahasa bandek (sebutan orang Cilacap untuk bahasa Jowo alus macam bahasa Yogya) kupakai untuk bicara dengan keluarga, dan  bahasa ngapak (istilah untuk dialek Banyumasan)  untuk bicara dengan teman teman sepermainan.
Jadi kalau di rumah bilang "ojo koyo kuwi' begitu keluar berganti menjadi "aja kaya kuwe" a la bahasa ngapak. Artinya sama, jangan begitu.
Yang lucu adalah ketika bermain bersama adik/kakak dan teman-teman sekaligus, bisa secara otomatis mengganti bahasa pada saat yang bersamaan, tergantung bicaranya dengan siapa. Teman - teman di Cilacap  kadang menirukan cara bicara kami. Karena logatnya masih kurang pas, lebih sering kami jadi tertawa bersama.
Aku menikmati saat-saat ini hingga lulus SMEA. Dan aku sangat berterima kasih pada Bapak dan Ibuku yang terus memakai 'bahasa ibu' meski sudah tinggal jauh dari tanah kelahiran. Paling tidak, ini membuatku selalu mendapat nilai bagus untuk pelajaran bahasa daerah, bahkan pas SMEA aku pernah menjuarai lomba karya tulis dua bahasa Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah, juara ketiga se-kabupaten Cilacap. *lumayan

Setelah SMEA aku pindah Jakarta karena kuliah. Kebetulan induk semangku Betawi asli,  dan teman kos anak Lumajang, Jawa Timur.
Maka bertambah satu lagi kosa kata bahasa daerahku.
Aku pun mulai mengenal elo - gue . Mulailah aku ber - "elu elu gue gue". Tapi sayang, kata anak-anak Jakarta, logat gue medok . Haha, dan akhirnya mereka melarang gue nyoba berbahasa Betawi.
Ada kejadian lucu ketika bicara dengan anak Lumajang. Ternyata meskipun sama-sama Jawa, ada kosa kata tertentu yang sedikit berbeda penempatannya.
Misalnya ;
Temen yang dari  Lumajang nanya : "Wis mari, Ti ?  (Sudah selesai , Ti ?)
Aku menjawab : " Mari opo, aku ora lara."  (Sembuh apa, aku nggak sakit)
Nggak nyambung kaan ? Iyah !
Ternyata di Jawa Timur, mari artinya sudah selesai, sedangkan di Jawa Tengah mari ya sudah selesai juga siiih, sudah selesai sakitnya, alias sudah sembuh. :p
Kemudian ada kata lain yang aku juga baru tahu, kalau di Jawa Tengah, sampeyan (kata ganti orang kedua) biasanya digunakan untuk yang sebaya / Jawa ngoko alus. Tetapi di Jawa Timur sampeyan itu untuk kata ganti orang kedua yang lebih tua/dihormati .

Lain lagi ceritanya ketika aku sudah menikah, aku ikut suami ke Kupang, NTT. Ternyata di sana juga ada bahasa daerah, tepatnya bahasa Indonesia logat Kupang. Masih dapat dimengerti. Hanya ada beberapa kosa kata baru. Akupun coba coba belajar bicara bahasa Kupang ini.
Misalnya :
saya = beta / kadang di singkat be saja
pergi = pigi / disingkat pi saja
tidak = sonde / disingkat son
tahu = tau
sudah = sudah / disingkat su
belum = belom
punya = pung
Misalnya berkata : saya tidak tahu = beta sonde tau / be son tau
Ada kejadian lucu saat awal tinggal di Kupang. Aku diajak silaturrahim ke salah satu teman suami.
Kebetulan saat itu si bapak yang dicari sedang pergi. Anak tertuanya yang membukakan pintu untuk kami.
Suami : Bapak ada, ko ?
Anak : Ada pi.... (ada kok pergi, kataku dalam hati, maksudnya sih sedang pergi begitu...)
Atau satu lagi yang kadang menjadi semacam plesetan teman teman kantor. Dalam bahasa Kupang, istri dikatakan sebagai maitua. Istriku = be pung maitua. Nah rata-rata teman-teman yang penempatan Kupang itu bulok alias bujang lokal, karena  tidak mengajak serta istri dan anak-anak pindah ke sana. Kalau sedang bercanda-canda kadang mereka keceplosan  mau mencari be pung maimuda. Artinya ? Yah, begitulah kira-kira.
Ada ada saja...

Aku senang menirukan bahasa Kupang ini. Kali ini tidak ada yang mengolok olok / melarangku berbahasa Kupang. Tidak seperti kejadian ketika gue di Jakarta. Lima tahun di Kupang, cukup membuatku fasih bicara logat Kupang. Dengan anak-anak aku juga membiasakan bahasa Kupang.  Sampai saat ini kalau bertemu, telepon atau komen di facebook teman teman Kupang, aku masih menggunakan bahasa Kupang. Beta su bisa !

Nah, sekarang sudah sepuluh tahun aku tinggal di Bandung. Bertambah lagi bahasa daerahku. Bahasa Sunda.
Pertama - tama aku belajar bahasa Sunda dari ibu tukang sayur dekat rumah. Aku selalu menanyakan apa bahasa Sunda dari kalimat yang kuucapkan. Si ibu berbicara kemudian aku menirukan. Lama-kelamaan jadi terbiasa. Selain itu, aku  juga belajar teman-teman kantor dan juga dari buku pelajaran bahasa Sunda anak-anak yang mulai masuk sekolah dasar. Alhamdulillah, semakin dipakai semakin lancar. Kadang aku menggunakan bahasa Sunda lemes (halus) untuk bicara dengan anak-anak.  Tapi anak-anak malah enggak tahu karena teman-teman main mereka tidak mempergunakan bahasa Sunda lemes dalam pergaulan.
Sayangnya, aku terkadang masih diprotes teman-teman Bandung karena  logatku yang masih belum fasih mengucapkan kata-kata yang mengandung suara khusus macam Cicaheum, Cibeureum, Cimbeuleuit , Leuwi Panjang, bageur, cageur, peuyeum, dsb . Kalau sudah demikian, ya aku tinggal ngeles aja, punteun atuh, da nuju diajar. (maaf ya, kan masih belajar) :D

Menurutku bahasa Sunda ini tidak begitu susah, karena masih mirip- mirip bahasa Jawa, bahasa ibuku.
Yang sama misalnya  ;
- kanggo / kangge (artinya untuk), hanya kalau bahasa Sunda kanggo lebih halus dari kangge.
- dahar (Sunda) dan dhahar (Jawa), artinya sama-sama makan, tapi dahar Sunda untuk sebaya, dhahar Jawa untuk bahasa kromo / halus
Tapi ada juga lho.. yang artinya sungguh berbeda, gedang di Sunda artinya pepaya, sedang di Jawa Tengah artinya pisang.

Wow, ini aku belum cerita suamiku orang Lampung, bapaknya Jawa ibunya Palembang ?  Hehe, karena tinggal di Lampung tidak lama, maka terus terang aku belum bisa bahasa Lampung. Bahasa Palembang pun belum pacak. Semoga lain waktu aku bisa mendapat kesempatan mempelajari bahasa Palembang. Paling tidak aku sudah membiasakan lidahku mencicip empek-empek dan perutku pun tidak protes diajak minum cuka empek-empek pagi hari. *apacoba ?

Intinya, aku senang menirukan dan mempelajari bahasa  daerah di mana aku tinggal. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.
Menurutku mengenal bahasa daerah ini membawa banyak hal positif, antara lain :
* lebih mengakrabkan kita dengan masyarakat setempat;
* memudahkan kita dalam berkomunikasi;
* mempelajari bahasa daerah menunjukkan kesungguhan kita untuk membaur;
* mempelajari bahasa daerah adalah bentuk sekaligus bukti penghormatan kita atas kebudayaan setempat;
* membelajari bahasa daerah memudahkan kita menawar harga di pasar wkwkwk :D

Oke Niar, terbukti  belum aku cinta bahasa daerah ?

"Postingan ini diikutsertakan di Aku Cinta Bahasa Daerah Giveaway"


Jumat, 22 Februari 2013

Pertama dan Terakhir

Sebagai satu - satunya anak / menantu Eyang yang tinggal di luar Lampung, kunjungan Eyang Kakung tentulah sangat istimewa. Apalagi bila mengingat usia Eyang Kakung yang menginjak 70 tahun kala itu. Pastilah perjalanan Lampung - Bandung bukan perjalanan yang mudah.

Sebenarnya kunjungan tahun 2010 itu bukan kunjungan pertama Eyang. Dulu waktu masih di rumah kontrakan, Eyang pernah berkunjung, tapi aku juga baru punya anak 4, belum lahir yang kelima. :p
Meski kunjungan kali ini bukan kunjungan pertama, tapi menjadi istimewa karena  banyak hal 'pertama' -nya
* Eyang pertama kali melihat rumah kami sendiri, bukan rumah kontrakan lagi. Hehe.. alhamdulillah, Eyang senang melihat rumah kami, yang kami peroleh dengan hasil keringat sendiri. Enggak ngrepotin Eyang
* Eyang ke Bandung mengunjungi anak laki-laki pertamanya (dari 8 anak Eyang, semua perempuan, hanya dua anak laki laki, dan suamiku anak laki laki paling besar)
* Eyang ke Bandung dalam rangka menghadiri wisuda cucu pertama yaitu mbak Echi.

Tapi sayangnya, kunjungan Eyang ke rumah baru kami ini menjadi kunjungan terakhir. Tidak berapa lama sepulang dari Bandung, kondisi kesehatan Eyang drop, nggak bisa bepergian jauh lagi.
Tahun 2012, Allah SWT memanggil Eyang Kakung ke haribaan-Nya.


Kamis, 21 Februari 2013

Hore ! #eh Alhamdulillah Dapat Hadiah

Setelah posting kisah sedih di akhir minggu, baiklah, yuk kali ini kembali  bikin postingan hal hal yang menggembirakan, Walaupun sebenarnya kesempatan istimewa lho bisa dengar baca curhatan saya. Soalnya jarang jarang kaaan saya curhat di blog. wkwkw *timpukmouse
Di dunia nyata juga hanya 4 orang yang tahu kejadian ini. hihi
Meski demikian, saya tetap menyampaikan terima kasih atas perhatian teman teman yang sungguh membuat saya berbesar hati.

Nah apakah hal menggembirakan itu ?
Pertama : saya menangin give away Pak Dhe Cholik Misteri Di Balik Layar
Ceritanya Pak Dhe membuat cerita pertama, trus para peserta GA diminta membuat sambungannya. Aku tea, jarang blog walking, maklum ya.. walaupun punya modem aku nggak punya leppi, jadi tetep aja musti numpang dan menunggu giliran anak anak dan bapaknya nggak pake leppi. 
Sejujurnya aku nggak nyangka kalau pak Dhe bakal membuat sambungan cerita itu bahkan sampai beberapa seri. Jadilah aku menganggap bahwa tokoh yang terbunuh di panggung itu nggak bener bener terbunuh.
Maka aku searching tentang acting terbunuh dan segala macam properti panggung.
Itulah yang kujadikan cerita. Pas tahu peserta lain membuat cerita bagus bagus, aku sebenarnya malu, karena punyaku bener bener geje ceritanya.
Tapi, ketika aku tunjukkan ceritaku ke F2, dia malah komentar gini : "kayaknya punya Ummi menang deh, soalnya out of the box" *gubraks
Kayaknya komentar doa anak didengar malaikat, sehingga diaminin. Maka jadilah aku pemenang kedua GA pak  Dhe.
Inilah hadiahnya
Buku Rahasia Menjadi Manusia Karya Arti karya Pak Dhe Cholik

Satu box organic palm sugar Arenga dari mbak Evi Indrawanto  *wedeww banyak banget yaks
Blus batik super keren dari mbak Nia owner  www.kios108.com
Buku pak Dhe menyisakan PR buat nge-review. Hihihi.. belum tergerak hati untuk menulis yang serius. *toyor.
Satu box Arenga langsung didistribusikan dipromosikan ke teman teman satu seksi dan sahabat dekat, sudah ada yang nanyain kalau ntar kepengen gimana ? hihi.. berhasil dooong..
Aku seneng banget dapat gula ini, secara kan hobi bikin carrot cake yang salah satu bahannya adalah palm sugar. Ngomong ngomong palm sugar ini aku jadi ingat jaman aku di NTT, di sana gula palem dipakai sebagai isi roti tawar sebagaimana selai / meises.
Kalau pengen tahu lebih banyak tentang gula palem ini bisa langsung ke sana atau ke sono.

Berikutnya adalah blus batik super keren perpaduan  hitam merah, yuhuy.. seneng sekali. Pas kebetulan aku punya celana hitam baru dan aneka kerudung gradasi merah tersedia di lemari, jadi nggak usah nyari nyari lagi. Modelnya oke punya. Sampai anak gadisku terkagum-kagum suka ama krahnya. *ciyus. Untunglah ya... aku pesan pak Dhe ukuran L. Kupikir kalau kegedean bisa dipermak. Eh, ternyata paaaaasss, saudara saudara... *denial3kgkenaikanBB
Blus ini dipersembahkan oleh www.kios108.com milik Mbak Nia.

Kedua : Menangin GA mbak Lusi owner Ladaka Craft
It's all about craft. hihi duniaku banget. Maruk deh sampai ngirim dua tulisan. Tentang rompi rajut dan tas selempang buatanku sendiri.  Sempat kepikiran mau hunting tentang wayang golek, karena aku sering melihat di Jalan Bypass entah di dekat perempatan Buah Batu atau dekat perempatan Kircon beberapa toko memajang wayang golek, kendang dll . (ternyata di dekat perempatan kiara condong) Tapi nggak keburu euy... lagian tambah maruk juga ya.. klo sampai kirim 3 tulisan. qqq
Alhamdulillah, postinganku tentang tas selempang mendapatkan hadiah sbb :

seperangkat alat sholat dompet, kaos, stiker ladaka (sayang blm ada mobilnya) dan pembatas buku ladaka

tulisan di kaosnya itu lho..mak jleb.
Kaosnya cakep, asli ! kayaknya bakal seksyeh di 48 bb-ku. dan bakalan diprotes para gadis yang ada di rumah. Palingan F1 dan F2 bakal bersaing memperebutkan ini. *umpetin di lemari

Nah.. ikut seneng kaaan ? Semoga teman teman juga mendapat giliran rejeki menangin GA dan lomba lomba. Rasanya sesuatu banget. Asli. Asal jangan bosan jadi peserta ya...

Rabu, 20 Februari 2013

Thanks God, It's Friday

#Curhat

Pernahkah menjalani satu hari dengan masalah tantangan yang bertubi-tubi ?

Bangun tidur aku mendapat SMS, ada salah satu teman yang akan mengambil spanduk dan satu x-banner yang dia butuhkan untuk acara Sabtu jam 9 pagi. Sudah aku sampaikan sebelumnya ke teman itu, bahwa kedua benda tersebut masih berada di dua tempat yang berbeda. Bukan di rumahku. Awalnya aku tawarkan untuk mengantar di Sabtu pagi pagi sekali. Tapi teman itu keukeuh mau ambil hari ini. Supaya tenang. Besok udah siap semua. Okelah aku maklum, mungkin ybs sedikit nerves karena baru ini ngadain acara. Padahal kan timbang pasang spanduk sama x-banner itu nggak sampai setengah jam.
Ya udah, aku tanyalah, mau diambil jam berapa ? Jam 6 pagi, katanya. Sekalian suaminya ngantor, karena sore sering hujan.
Oke, daripada berkepanjangan,  kuusahakanlah ya... mengumpulkan kedua benda tersebut sebelum pukul 6 pagi.  Aku telpon teman yang nyimpen spanduk dan SMS ibu yang bikin x-banner. Mau diambil pagi pagi. Spanduk aku ambil sendiri, dan x-banner aku minta tukang ojeg langganan untuk mengambilnya. Setengah enam pagi aku ambil spanduk ke RW sebelah. 
Olala, baru saja aku tiba dari ambil spanduk, si teman sudah SMS, "mbak, maaf nggak jadi pagi ini diambilnya, nanti malam aja sekalian suami pulang kantor". Gubraks !
Masih bengong menatap SMS, si Mang Ojeg nelpon katanya rumah yang bikin X-banner kosong, diketok ketok gak ada yang mbukain. Pas aku telpon, ternyata si Ibu lagi ke pasar. Ya amppuuun, rasa-rasanya enggak ada guna yang kukerjain 'gethuprukan' sepagi ini.  Aku cuma bisa ngahuleung di teras depan, sampai sampai masakanku gosong.

Okelah, kupikir skip adegan ini. Namanya juga dinamika berorganisasi. Aku nggak mau orang orang merusak kebahagiaanku. Yang penting semua terkendali. Anak anak sarapan beli nasi kuning. Makan siang di kantin sekolah masing masing. Untuk si F5 yang makan siang di rumah pesan aja ke ibu warung sebelah.

Dalam perjalanan ke kantor, bu Teguh, salah satu pelanggan yang sejak Senin dah ngobrol mau beli paket Nabiku Idolaku secara cash, tiba tiba nge-bbm
"Mbak, bisa nggak ya bukunya hari ini sudah di rumahku, karena besok pagi pagi mau dibawa keluar kota"
Hmmmm...... tarik nafas panjaaangg.... lepaskan.
Dalam hati aku bilang, yaelah Bu, kenapa bukan dari kemaren sih bilang. 
Yaeyalah cuma dalam hati, masa' mau marah sama pelanggan ya... 
Cuma, kenapa harus hari ini dan pagi ini ? Seluruh kemampuan berfikir dan berimajinasi aku kerahkan. Jam berapa aku musti bertransaksi, dan bagaimana caranya agar kurir bisa mengantar hari ini juga. Padahal aku baru bisa keluar jam 2, karena aku hari ini kebagian piket istirahat. Akhirnya aku berkoordinasi dengan supervisor, alhamdulillah ada jalan keluar. Aku bisa mendapatkan paket itu di Pameran Ikapi dan membawanya pulang untuk diantar sendiri ke rumah pelanggan tadi, tinggal ijin sama Abi, aku pulang sendiri.
Masih di perjalanan,  si Abi bilang, bahwa doi hari ini nggantiin temennya piket sampai jam 8 malam, dan aku diminta pulang sendiri. Ya udah kebetulan, kataku. Karena aku mau antar buku.
Oke sementara semua terkendali.

Di kantor, tanggal 15, tentulah sudah mulai ramai itu para tamu yang mau lapor. Singkat kata aku bertugas seperti biasa. Untung untung untung, nggak ada tamu yang bikin bete (hihi.. kadang ada yang komen komen nggak jelas gitu dan tetap harus kujawab dengan senyum), alhamdulillah juga, mulai hari ini, SPT tahunan bukan counter sendiri, jadi lumayan lancaaarrr sampai jam 2 baru tiba waktu istirahatku. Tepatnya jam 2.15.
Aku shalat dan berfikir mau makan apa jam segini. Pasti warung favorit dekat kantor udah kehabisan persediaan. Biasanya aku bekal makan siang ke kantor, tapi karena kejadian pagi tadi itu aku nggak bisa bawa apa apa ke kantor.
Akhirnya aku makan mie rebus di sebrang kantor. SMS-an sama Tri katanya dia lagi di BEC. Aku mintalah dia datang ke warung tempat aku makan. Mungkin karena aku masih mikir macem macem itu, tumben tumben kata Tri aku kelihatan nggak semangat makan. Aku ceritainlah sama Tri, kejadian pagi ini dan PR-ku mengantar NBI. Tri menghiburku, bisalah..mbak Titi mengatasi....
Sambil ngobrol  sama Tri akhirnya makanku habis seiring habisnya jatah waktu istirahatku. dan aku kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaan.Tri pulang mau mampir beli coklat dulu buat proyek taman bacaan gratisnya.
FYI, aku nggak pernah jarang sekali pulang ke rumah lewat maghrib. Jadi 'bagaimana caranya agar si buku sampai ke rumah pelanggan nanti sore tanpa aku kemaleman di jalan' itu masih aku pikirin. Sangat aku pikirin tepatnya. Karena kan menyangkut banyak hal. Makan malam anak anak gimana, trus nanti bibi overtime gimana, bibiku soalnya pulang pergi setiap hari / enggak nginep. Mana kalau sore sering hujan. Okelah naik taksi, pikirku. Sementara mungkin ini penyelesaian terbaik. Naik taksi biar cepat pulang.

Maka, demi pelanggan dan demi tidak pulang kemaleman, aku putuskan untuk ijin pulang lebih cepat 30 menit. Kena potong gaji ? Pasti. Tapi masih ketutuplah sama komisi Nabiku Idolaku / NBI, hitungku.
Aku segera ke pameran Ikapi di Jalan Braga. Bertransaksi secara cepat dan segera mencari taksi. Woi, ternyata paket NBI berat sekali. Aku nggak sanggup ngangkatnya. Alhamdulillah ada pak Ikhsan dari Mizan yang baik hati nganterin eh mbawain buku ke pinggir jalan dan menungguiku sampai dapat taksi. Masya Allah, ternyata nunggu taksi teng jam lima itu susaaaaah sekali. Jalanan yang 15 menit lalu lengang, kini dipenuhi kendaraan. Banyak taksi yang lewat, tapi ada isinya. Banyak taksi yang lampunya menyala, tapi diberhentiin lewat lewat saja. Alhamdulillah jam 17.20 baru dapat itu taksi. Aku duduk, taksi jalan dan langsung hujan.

Baru jalan beberapa meter, sopir taksi bertanya, aku turun di mana. Aku sebutkanlah tujuanku daerah Arcamanik. Kirain taksi bakal seneng ya.. karena denger denger mereka suka nggak mau kalau tujuannya dekat saja. Ternyata oh ternyata, si bapak ini maunya nganter yang dekat saja. Karena mau jemput orang di daerah Unpar. Aku bengong sejenak. Apalagikah ?
Si Bapak keukeuh mau nurunin aku di jalan, mana hujan dan bawa buku, ya bawa buku, dan b e r a t.
Bapaknya sok baik gitu, udah nggak bayar nggak papa Neng, nanti Bapak cariin taksi. Aku diam saja.
Berhenti sejenak di samping Hotel Panghegar, hujan, si Bapak nyetop taksi, nggak ada yang mau berhenti.
Akhirnya maju sedikit. Sampai di Patung Bola, hujan benar benar turun sederas derasnya. Si Bapak masih saja berkata kata, minta maaf, nggak usah bayar, mau jemput ke Unpar, bla bla bla, intinya aku tetap harus turun di jalan. Aku tak berkomentar.
Taksi berjalan terus tanpa argo dinyalakan. Sampai di Kosambi bener bener macet. Jam 6 kurang dikit aku baru sampai di rel kereta api Kosambi. Aku SMS Abi di mana posisiku. Si Abi pesan supaya aku ngabarin anak anak di rumah.
Akhirnya aku nego si Bapak, minta turun di Segitiga Emas saja, supaya ada angkot ke Antapani. Nanti dari Antapani kupikirkan lagi bagaimanalah supaya bisa sampai Arcamanik.
Alhamdulilah pas sampai Segitiga Emas Kosambi, hujan sedikit reda, dan aku turun di depan dealer mobil. Si Bapak mengangkat paket NBI dari bagasi dan meletakkan begitu saja di teras dealer yang mulai sepi. Aku minta ijin nitip barang ke satpam sambil nunggu angkot.
Setengah kesel setengah bingung, nggak kepikir mau nangis,  aku cuma berterima kasih sama sopir taksi.

Tidak berapa lama aku dapat angkot Antapani. Anehnya, paket NBI yang semula tidak sanggup kuangkat sendiri itu, karena kondisi terpaksa, aku sanggup mengangkatnya dari teras dealer sampai naik angkot. The power of kepepet terbukti di sini.

Hujan, banjir, angkot jalan melipir.
Jam 7-an baru sampai terminal Antapani. Mana belum shalat, anak anak sudah pada SMS, mana mikirin makan malam mereka gimana, trus mana suami juga udah nelpon2 lagi, sampa di mana.  Galau deh !
Syukurlah, Mamang sopir angkot mau dicarter ke Arcamanik.
Aku nelpon bu Teguh dan bertanya bagaimana caranya jam segitu aku keluar dari komplek, ada ojek atu enggak. Kata bu Teguh, ojek udah nggak ada, dan si Ibu menawarkan mengantar aku pulang. Ya udah aku setuju dan deal sama sopir, angkot cuma nganter aku langsung balik lagi. Selain itu, kalaupun aku maksa langsung pulang, aku bakal nggak keburu shalat maghrib.

Baru juga selesai shalat, eh sudah adzan Isya. Astaghfirullah.

Aku sedikit terhibur melihat anak anak bu Teguh begitu gembira dan antusias mencoba smart e-Pen dan membaca buku buku Nabiku Idolaku. Lupa sejenak sama anak anak (dan suami) di rumah. Kalau saja anak anak nggak sms, kapan pulang, masih lama nggak, Ummi ada dimana dan bla bla bla, mungkin aku juga masih betah di rumah bu Teguh untuk mencoba semua buku buku dari paket Nabiku Idolaku. Karena walaupun aku book advisor, aku belum punya paket itu :p. #mupeng.

Tanpa terasa, waktu terus berjalan rupanya. Aku semakin kemaleman saja. Akhirnya, jam 8 malam aku baru keluar dari rumah bu Teguh, sekalian  mereka mau jalan jalan di akhir pekan, aku dianter sampai depan rumahku. Alhamdulillah., Meski perut lapar dan kaos kaki / sepatu basah.

Aku mengetuk pintu dan menekan bel, tapi tak seorangpun membukanya. Aku dihukum.
Astaghfirullah.
Belum selesai rupanya kejadian hari ini.

---------@@@----------




Thanks God, it's Friday !

"sesuatu yang tidak dapat membunuhmu maka itu akan menguatkanmu"

Senin, 18 Februari 2013

Main Bersama

Kata orang, laki laki itu lebih lama 'belajar' menjadi orang tua dibandingkan dengan perempuan. Yah, aku setuju karena kebetulan suamiku juga demikian. Tapi aku maklum, mungkin seorang ibu lebih dulu belajar karena seorang ibu mengandung anakknya. Dia merasakan sudah 'mempunyai anak' bahkan sebelum anak itu lahir.
Jadi aku juga maklum sekali, kalau  cara perhatian suamiku ke anak pertama, kedua dst sampai anak yang kelima berbeda beda. ALhamdulillah, dengan F5, Abi sudah jauuuuh lebih banyak bermain dan bercanda canda. hehe mau bukti ?
Ini salah satunya... Pas Abi ngajak F5 main sepeda di Taman Lalu Lintas


foto diambil dengan kamera hp (bb gemini) siang hari



Minggu, 17 Februari 2013

Jalan Jalan Siang

Sudah sekian lama nggak jalan bareng sama anak anak. Selain karena jadwal antar anggota keluarga yang jarang match, juga karena keinginan dan kantong tidak berjalan seiring. *wkwkwk alias kantong keburu kering, tidak ada budget untuk jajan jajan.

Minggu lalu pas ada kegiatan lomba tumpeng antar Sekolah Ibu, kepikiran mau ngajak anak anak. Mumpung acaranya nggak terlalu serius, tempatnya pun cukup luas, mereka dapat bermain dengan leluasa di GOR tersebut.

Yang mau ikut cuma F3-F5. Ayuk, Teteh dan Faiz. Berempat naik motor enggak mungkin. Kalaupun naik ojek, waaah jadi dua ojek doong.. mendingan uangnya buat beli es. #eh.
Berhitung sama anak anak, akhirnya mereka bersedia jalan kaki. Yippie...

Agar jalan kaki terasa santai, maka aku tidak melewati jalan pada umumnya. Tapi anak anak kubawa masuk gang. Pertama, tentu saja biar enggak kepanasan. Kalau lewat gang kan relatif banyak pohon dan rumah. Kedua biar enggak ramai dan banyak kendaraan. Jadi aku tinggal lihatin anak anak jalan semaunya *hihi* nggak khawatir kesenggol ojek. Ketiga mengajak mereka berpetualang dan mengenali lingkungan sekitar rumahnya.

Aaah, ternyata anak anak senang sekali dibawa  masuk keluar gang. Tebak tebakan belok kiri apa kanan ketika gang bercabang. F3 dan F4 terkenang kembali masa kecil mereka. Pas sampai di tempat yang dulunya berupa sawah, mereka kaget, di situ sudah berdiri puluhan rumah dan juga calon rumah

anak anak takjub melihat pemandangan baru
Setelah melihat lihat perubahan di sana kami melanjutkan perjalanan ke acara lomba tumpeng itu. 
Namanya anak anak, hadir di acara ibu ibu hihi pastilah mereka enggak merasa asyik. Bahkan justru mereka membuat sendiri acara yang mengasyikkan. Berlarian sana sini, melihat lihat kolam ikan di halaman GOR, klo si F3 sih asyik maen hape :p  Sayangnya aku nggak bisa segera meninggalkan lokasi, karena aku salah satu juri lomba tumpeng itu.

Setelah acara lomba selesai, baru deh, kami melanjutkan jalan jalan siang. Kemana ? dekat saja. Ke Kabayan Ujungberung. 
Makan minum sepuasnya berempat, habisnya gak lebih dari cepek. Iriiiit kaaaaan ? Tapi lumayan memberikan nuansa baru buat anak anak

bergaya sejenak setelah makan enak

Faiz masih asyik minum jusnya, si Fadhila udah mau bergaya aja

Ayo Teteh Firda, teruskan perjuanganmu menghabiskan bakso di mangkokmu

Ummi dan Teteh
Ketiga anak itu nampaknya cukup puas untuk acara jalan bareng kali ini. Terbukti pas pulang mereka enggak ada komplen apa apa. Tapi pulangnya ya terpaksa naik ojek setelah ngangkot. Lha panas terik di siang bolong. Syapa suruh jalan jalan siang ya ? hehehe


Sabtu, 16 Februari 2013

Bebegig Sawah : Kerajinan Rakyat yang Hampir Punah

Mencari sawah di pinggir kota Bandung saat ini, bukanlah hal yang mudah. Semakin banyak sawah sawah yang sudah berubah menjadi pemukiman.
Enggak usah jauh jauh, di kelurahanku saja dari tujuh RW yang ada, setidaknya di setiap RW ada satu komplek baru. Di RW  01 satu lokasi, 02 satu lokasi, RW 3 satu lokasi, RW 4 satu lokasi, RW 5 (RW-ku)  dua lokasi, RW 6 satu lokasi dan RW 7 satu lokasi. Masya Allah. Pantesan aja ya.. jalan depan rumah makin macet aja.

Bersyukur aku, di depan rumahku masih tersisa  sawah yang lumayan luas. Aku menyaksikan proses mulai dari mencangkul, membajak sawah, menebar benih, menanam bibit sampai panen. Dari proses itu yang berlangsung kurang lebih 3.5 bulan yang paling berkesan adalah saat menunggu panen tiba, yaitu ketika padi sudah mulai menguning.
Untuk mengusir hama padi berupa burung pipit, petani membuat orang orangan sawah, atau dalam bahasa Sunda disebut bebegig. Dalam bahasa Jawa disebut memedi sawah (hantu sawah) :)
Nah, untuk musim panen kali ini, entah kenapa pemilik sawah itu membuat bebegig yang lain dari biasanya.
Yaitu ada kepala bonekanya yang dilengkapi dengan kumis dan alis yang sangar, sampai sampai si F5 pertama kali melihat lari ketakutan nabrak kusen pintu dan benjol di pelipisnya. :D *lupamotonya

Mau lihat wajah-wajah 'hantu' itu ?

bebegig sawah dari kejauhan
si wajah hantu

dua penjaga sawah yang siap bertugas mengusir burung burung


burung burung pipit, terbanglah menjauuuh.... :)

padi yang mulai menguning

padi setelah dimakan pipit
Coba manteman bandingkan dua gambar terakhir, padi yang utuh dan padi yang sudah dimakan pipit. Udah nggak ada bulir bulirnya. Pantesan pak tani semangat sekali, masih remang remang juga sudah berjaga mengusir pipit.
Dan yang lebih menyedihkan lagi, sejak sawah mulai berubah rumah, hama pipit ini semakin banyak. Mungkin mereka kehilangan sumber makannya ya... 

Semoga keberkahan senantiasa Allah limpahkan pada pak tani. Atas kerja keras dan usahanya menyediakan beras buat kitaaaa... Amiiiin
 


Jumat, 08 Februari 2013

Highlight of the Day*

Highlight of the Day mak Sondang yang bikin mupeng. Ternyata aku punya juga hehe


Ini kemaren waktu aku mau ijin pulang cepat krn mau melayat, eh, tiba tiba abi sms.
Awalnya kirain si Abi ini mau ikutan membolos, padahal si doi kan udah presensi sidik jari juga sekarang.
Lagipula kadang si Abi suka mendadak 'ikut ikutan' membolos hahaha kayak pas aku cuti kemaren.
Daaaannn.. ternyata sesampai di rumah, istirahat bentar, dia balik kantor lagi.

ini kabar dari anakku barusan hehe
Dia kan katanya peringkat pertama di kelas, meski tidak ditulis. Tapi wali kelasnya ngasih tau. *samaajaboong.

Kamis, 07 Februari 2013

Sebaik-baik Nasehat adalah Kematian

Aku pernah punya teman yang menurutku subhanallah sekali. Hafalannya banyak, tilawahnya juga banyak. Minimal yang beliau laporkan ke ustazah adalah 2 juz per hari, atau 14 juz dalam sepekan. Atau bisa dikatakan dia khatam Al Qur'an sebulan 2x (subhanallah...).
Tutur katanya lembut , kalau bicara runut. Beliau ini sebenarnya ustadzah juga. Binaan pengajian beliau waktu itu adalah mahasiswi-mahasiswi ITB. Meskipun demikian, beliau tetap mengaji dan sangat menghormati ustadzah kami.

Pada suatu hari aku minta nasihat sama beliau. Katakan namanya Mbak Siti.
"Mbak, kasih aku nasihat dong. Biar bisa shalihah seperti Mbak Siti"
"Sebaik baik nasehat adalah kematian" jawab beliau menyitir salah satu hadits.  Aku sempat shock *lebay dengan kata kata mbak Siti. Dan akupun langsung terdiam. Memikirkan apa makna di balik kalimat pendek beliau tersebut. Karena mbak Siti enggak bersedia menjelaskan. Ya jadinya aku berusaha mencari hikmah di balik nasehat itu.

Setelah aku renungkan, memang benar sebaik baik nasehat itu kematian. Setidaknya ada beberapa hikmah yang dapat diambil. Orang yang senantiasa memikirkan kematian maka :
1. akan memanfaatkan waktu sebaik baiknya
kenapa ? karena hidup di dunia ini sangat sangat terbatas waktunya. Setiap hari berganti maka semakin sedikit waktu yang kita punyai. Bahkan orang bijak mengatakan, waktu adalah hidup itu sendiri. Kalau nggak ma(mp)u memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, siap siap aja menyesal dalam kehidupannya

2. akan selalu menyegerakan kebaikan
karena ajal itu sifatnya rahasia. Padahal dia akan menghampiri siapa saja. Jangan sampai belum berbuat baik eh, keburu dipanggil sama Yang Maha Kuasa. Pernah dengar nasehat seorang ustadz tentang rahasia ajal ini ternyata adalah nikmat dari Allah. Coba, kalau orang tahu kapan akhir hidupnya, macam orang yang bakal dihukum tembak mati, pastilah dia enggak enak makan, enggak enak tidur, maunya ibadah melulu.
'Beribadahlah engkau seolah olah engkau akan mati besok pagi'

3. tidak akan menghalalkan segala cara
orang orang yang beriman, tentu mempercayai bahwa ada kehidupan setelah kematian. Di mana kita semua akan mempertanggungjawabkan segala perbuatan kita. mulut terkunci, kaki dan tangan akan bersaksi. Orang orang yang menghalalkan segala cara, tentu melupakan semua ini. Nah mereka yang mengingat mati, akan menjadikan hal ini semacam rambu rambu bagi segala amal perbuatannya. 

4. tidak akan mencintai dunia secara berlebihan
dunia ini fana. kita tinggal hanya sementara. yang abadi adalah akhirat nanti. Jadi dia tidak akan mencintai yang fana dan melupakan yang abadi. Semua yang kita 'miliki' di dunia ini hanyalah pinjaman dari Yang Maha Memiliki. Dia Maha Kuasa untuk mengambil kapanpun dia sukai. Wajar jika salah seorang sahabat Nabi SAW berpesan "letakkan dunia di tanganmu, jangan di hatimu".  

5. akan mempersiapkan bekal untuk mati
Allah berfirman : berbekallah, sesungguhnya sebaik baik bekal adalah takwa. (QS 2;197)

Itulah menurutku nasehat yang dapat diambil dari 'kematian'. Tentu teman teman juga dapat mengambil hikmahnya selain itu. Ayo dong bagi bagi di sini...

"Posting ini diikutsertakan pada Give Away Perdana Dellafirayama, 
seorang ibu labil yang tidak suka warna hijau dan hitam"