Senin, 25 Februari 2013

Bahasa Daerah Itu Mudah

Anak pegawai negeri, menjadi seorang pegawai negeri, kemudian diperistri pegawai negeri, membuatku melanglang buana ke berbagai daerah di Indonesia. Belum banyak siiih.. tetapi setiap daerah yang pernah kutinggali mempunyai bahasanya masing-masing.

Aku numpang lahir di Temanggung, kemudian sejak masih balita ikut pindah orang tua ke Cilacap.
Masa kecil di Cilacap ini, bisa dikatakan aku bicara dalam 2 bahasa daerah *jiaaah
Yaitu : bahasa bandek (sebutan orang Cilacap untuk bahasa Jowo alus macam bahasa Yogya) kupakai untuk bicara dengan keluarga, dan  bahasa ngapak (istilah untuk dialek Banyumasan)  untuk bicara dengan teman teman sepermainan.
Jadi kalau di rumah bilang "ojo koyo kuwi' begitu keluar berganti menjadi "aja kaya kuwe" a la bahasa ngapak. Artinya sama, jangan begitu.
Yang lucu adalah ketika bermain bersama adik/kakak dan teman-teman sekaligus, bisa secara otomatis mengganti bahasa pada saat yang bersamaan, tergantung bicaranya dengan siapa. Teman - teman di Cilacap  kadang menirukan cara bicara kami. Karena logatnya masih kurang pas, lebih sering kami jadi tertawa bersama.
Aku menikmati saat-saat ini hingga lulus SMEA. Dan aku sangat berterima kasih pada Bapak dan Ibuku yang terus memakai 'bahasa ibu' meski sudah tinggal jauh dari tanah kelahiran. Paling tidak, ini membuatku selalu mendapat nilai bagus untuk pelajaran bahasa daerah, bahkan pas SMEA aku pernah menjuarai lomba karya tulis dua bahasa Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah, juara ketiga se-kabupaten Cilacap. *lumayan

Setelah SMEA aku pindah Jakarta karena kuliah. Kebetulan induk semangku Betawi asli,  dan teman kos anak Lumajang, Jawa Timur.
Maka bertambah satu lagi kosa kata bahasa daerahku.
Aku pun mulai mengenal elo - gue . Mulailah aku ber - "elu elu gue gue". Tapi sayang, kata anak-anak Jakarta, logat gue medok . Haha, dan akhirnya mereka melarang gue nyoba berbahasa Betawi.
Ada kejadian lucu ketika bicara dengan anak Lumajang. Ternyata meskipun sama-sama Jawa, ada kosa kata tertentu yang sedikit berbeda penempatannya.
Misalnya ;
Temen yang dari  Lumajang nanya : "Wis mari, Ti ?  (Sudah selesai , Ti ?)
Aku menjawab : " Mari opo, aku ora lara."  (Sembuh apa, aku nggak sakit)
Nggak nyambung kaan ? Iyah !
Ternyata di Jawa Timur, mari artinya sudah selesai, sedangkan di Jawa Tengah mari ya sudah selesai juga siiih, sudah selesai sakitnya, alias sudah sembuh. :p
Kemudian ada kata lain yang aku juga baru tahu, kalau di Jawa Tengah, sampeyan (kata ganti orang kedua) biasanya digunakan untuk yang sebaya / Jawa ngoko alus. Tetapi di Jawa Timur sampeyan itu untuk kata ganti orang kedua yang lebih tua/dihormati .

Lain lagi ceritanya ketika aku sudah menikah, aku ikut suami ke Kupang, NTT. Ternyata di sana juga ada bahasa daerah, tepatnya bahasa Indonesia logat Kupang. Masih dapat dimengerti. Hanya ada beberapa kosa kata baru. Akupun coba coba belajar bicara bahasa Kupang ini.
Misalnya :
saya = beta / kadang di singkat be saja
pergi = pigi / disingkat pi saja
tidak = sonde / disingkat son
tahu = tau
sudah = sudah / disingkat su
belum = belom
punya = pung
Misalnya berkata : saya tidak tahu = beta sonde tau / be son tau
Ada kejadian lucu saat awal tinggal di Kupang. Aku diajak silaturrahim ke salah satu teman suami.
Kebetulan saat itu si bapak yang dicari sedang pergi. Anak tertuanya yang membukakan pintu untuk kami.
Suami : Bapak ada, ko ?
Anak : Ada pi.... (ada kok pergi, kataku dalam hati, maksudnya sih sedang pergi begitu...)
Atau satu lagi yang kadang menjadi semacam plesetan teman teman kantor. Dalam bahasa Kupang, istri dikatakan sebagai maitua. Istriku = be pung maitua. Nah rata-rata teman-teman yang penempatan Kupang itu bulok alias bujang lokal, karena  tidak mengajak serta istri dan anak-anak pindah ke sana. Kalau sedang bercanda-canda kadang mereka keceplosan  mau mencari be pung maimuda. Artinya ? Yah, begitulah kira-kira.
Ada ada saja...

Aku senang menirukan bahasa Kupang ini. Kali ini tidak ada yang mengolok olok / melarangku berbahasa Kupang. Tidak seperti kejadian ketika gue di Jakarta. Lima tahun di Kupang, cukup membuatku fasih bicara logat Kupang. Dengan anak-anak aku juga membiasakan bahasa Kupang.  Sampai saat ini kalau bertemu, telepon atau komen di facebook teman teman Kupang, aku masih menggunakan bahasa Kupang. Beta su bisa !

Nah, sekarang sudah sepuluh tahun aku tinggal di Bandung. Bertambah lagi bahasa daerahku. Bahasa Sunda.
Pertama - tama aku belajar bahasa Sunda dari ibu tukang sayur dekat rumah. Aku selalu menanyakan apa bahasa Sunda dari kalimat yang kuucapkan. Si ibu berbicara kemudian aku menirukan. Lama-kelamaan jadi terbiasa. Selain itu, aku  juga belajar teman-teman kantor dan juga dari buku pelajaran bahasa Sunda anak-anak yang mulai masuk sekolah dasar. Alhamdulillah, semakin dipakai semakin lancar. Kadang aku menggunakan bahasa Sunda lemes (halus) untuk bicara dengan anak-anak.  Tapi anak-anak malah enggak tahu karena teman-teman main mereka tidak mempergunakan bahasa Sunda lemes dalam pergaulan.
Sayangnya, aku terkadang masih diprotes teman-teman Bandung karena  logatku yang masih belum fasih mengucapkan kata-kata yang mengandung suara khusus macam Cicaheum, Cibeureum, Cimbeuleuit , Leuwi Panjang, bageur, cageur, peuyeum, dsb . Kalau sudah demikian, ya aku tinggal ngeles aja, punteun atuh, da nuju diajar. (maaf ya, kan masih belajar) :D

Menurutku bahasa Sunda ini tidak begitu susah, karena masih mirip- mirip bahasa Jawa, bahasa ibuku.
Yang sama misalnya  ;
- kanggo / kangge (artinya untuk), hanya kalau bahasa Sunda kanggo lebih halus dari kangge.
- dahar (Sunda) dan dhahar (Jawa), artinya sama-sama makan, tapi dahar Sunda untuk sebaya, dhahar Jawa untuk bahasa kromo / halus
Tapi ada juga lho.. yang artinya sungguh berbeda, gedang di Sunda artinya pepaya, sedang di Jawa Tengah artinya pisang.

Wow, ini aku belum cerita suamiku orang Lampung, bapaknya Jawa ibunya Palembang ?  Hehe, karena tinggal di Lampung tidak lama, maka terus terang aku belum bisa bahasa Lampung. Bahasa Palembang pun belum pacak. Semoga lain waktu aku bisa mendapat kesempatan mempelajari bahasa Palembang. Paling tidak aku sudah membiasakan lidahku mencicip empek-empek dan perutku pun tidak protes diajak minum cuka empek-empek pagi hari. *apacoba ?

Intinya, aku senang menirukan dan mempelajari bahasa  daerah di mana aku tinggal. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.
Menurutku mengenal bahasa daerah ini membawa banyak hal positif, antara lain :
* lebih mengakrabkan kita dengan masyarakat setempat;
* memudahkan kita dalam berkomunikasi;
* mempelajari bahasa daerah menunjukkan kesungguhan kita untuk membaur;
* mempelajari bahasa daerah adalah bentuk sekaligus bukti penghormatan kita atas kebudayaan setempat;
* membelajari bahasa daerah memudahkan kita menawar harga di pasar wkwkwk :D

Oke Niar, terbukti  belum aku cinta bahasa daerah ?

"Postingan ini diikutsertakan di Aku Cinta Bahasa Daerah Giveaway"


12 komentar:

  1. kalau bicara bahasa sunda aku bisa mbak sehari-hari memang dipakai tapi kalau sudah masuk kepelajaran sekolah agak membingungkan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bahasa daerah dalam pelajaran sekolah memang membingungkan mbak, karena hanya sekian persen yang bahasa sehari-hari. Tapi kalau kita teliti, insya Allah bisa kok. Biasanya jawabannya ada di buku :)

      Hapus
  2. wah bahasanya banyaaakk banget dan keliling indonesia, eeh yang dikupang seru itu bahasannya disingkat2 yaa bu :D

    Makaasih sudah ikutan, dicatet PESERTA :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya .. di Kupang bahasa lisannya disingkat-singkat.
      Niar su tau oo....

      Hapus
  3. Wah.. Seru banget yah belajar banyak bahasa mba Titi ^^, ayoo kapan tinggal di Bali atau Aceh, biar belajar bahasa sini jg. hehehe

    Smoga sukses yah mba GAnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ke Bali baru lewat dan transit semalam, pas pindahan dari NTT ke Jawa. Tapi seruu, ada pengalaman baru karena bertepatan dengan Nyepi.
      Kalau ke Sumatera, paling jauh baru sampai Lampung :)

      Hapus
  4. bahasa sundanya masih berlogat jawa mbak hehehe..

    BalasHapus
  5. bahsa Batak aku lumayan mbak. Lha bahasa Sunda berhenti di dipayun *naik angkot nih ye*

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha.. senjatanya itu ya.. "di payun, Pak" biar nggak kelewat

      Hapus

Silakan Tinggalkan Kesan