Rabu, 20 Februari 2013

Thanks God, It's Friday

#Curhat

Pernahkah menjalani satu hari dengan masalah tantangan yang bertubi-tubi ?

Bangun tidur aku mendapat SMS, ada salah satu teman yang akan mengambil spanduk dan satu x-banner yang dia butuhkan untuk acara Sabtu jam 9 pagi. Sudah aku sampaikan sebelumnya ke teman itu, bahwa kedua benda tersebut masih berada di dua tempat yang berbeda. Bukan di rumahku. Awalnya aku tawarkan untuk mengantar di Sabtu pagi pagi sekali. Tapi teman itu keukeuh mau ambil hari ini. Supaya tenang. Besok udah siap semua. Okelah aku maklum, mungkin ybs sedikit nerves karena baru ini ngadain acara. Padahal kan timbang pasang spanduk sama x-banner itu nggak sampai setengah jam.
Ya udah, aku tanyalah, mau diambil jam berapa ? Jam 6 pagi, katanya. Sekalian suaminya ngantor, karena sore sering hujan.
Oke, daripada berkepanjangan,  kuusahakanlah ya... mengumpulkan kedua benda tersebut sebelum pukul 6 pagi.  Aku telpon teman yang nyimpen spanduk dan SMS ibu yang bikin x-banner. Mau diambil pagi pagi. Spanduk aku ambil sendiri, dan x-banner aku minta tukang ojeg langganan untuk mengambilnya. Setengah enam pagi aku ambil spanduk ke RW sebelah. 
Olala, baru saja aku tiba dari ambil spanduk, si teman sudah SMS, "mbak, maaf nggak jadi pagi ini diambilnya, nanti malam aja sekalian suami pulang kantor". Gubraks !
Masih bengong menatap SMS, si Mang Ojeg nelpon katanya rumah yang bikin X-banner kosong, diketok ketok gak ada yang mbukain. Pas aku telpon, ternyata si Ibu lagi ke pasar. Ya amppuuun, rasa-rasanya enggak ada guna yang kukerjain 'gethuprukan' sepagi ini.  Aku cuma bisa ngahuleung di teras depan, sampai sampai masakanku gosong.

Okelah, kupikir skip adegan ini. Namanya juga dinamika berorganisasi. Aku nggak mau orang orang merusak kebahagiaanku. Yang penting semua terkendali. Anak anak sarapan beli nasi kuning. Makan siang di kantin sekolah masing masing. Untuk si F5 yang makan siang di rumah pesan aja ke ibu warung sebelah.

Dalam perjalanan ke kantor, bu Teguh, salah satu pelanggan yang sejak Senin dah ngobrol mau beli paket Nabiku Idolaku secara cash, tiba tiba nge-bbm
"Mbak, bisa nggak ya bukunya hari ini sudah di rumahku, karena besok pagi pagi mau dibawa keluar kota"
Hmmmm...... tarik nafas panjaaangg.... lepaskan.
Dalam hati aku bilang, yaelah Bu, kenapa bukan dari kemaren sih bilang. 
Yaeyalah cuma dalam hati, masa' mau marah sama pelanggan ya... 
Cuma, kenapa harus hari ini dan pagi ini ? Seluruh kemampuan berfikir dan berimajinasi aku kerahkan. Jam berapa aku musti bertransaksi, dan bagaimana caranya agar kurir bisa mengantar hari ini juga. Padahal aku baru bisa keluar jam 2, karena aku hari ini kebagian piket istirahat. Akhirnya aku berkoordinasi dengan supervisor, alhamdulillah ada jalan keluar. Aku bisa mendapatkan paket itu di Pameran Ikapi dan membawanya pulang untuk diantar sendiri ke rumah pelanggan tadi, tinggal ijin sama Abi, aku pulang sendiri.
Masih di perjalanan,  si Abi bilang, bahwa doi hari ini nggantiin temennya piket sampai jam 8 malam, dan aku diminta pulang sendiri. Ya udah kebetulan, kataku. Karena aku mau antar buku.
Oke sementara semua terkendali.

Di kantor, tanggal 15, tentulah sudah mulai ramai itu para tamu yang mau lapor. Singkat kata aku bertugas seperti biasa. Untung untung untung, nggak ada tamu yang bikin bete (hihi.. kadang ada yang komen komen nggak jelas gitu dan tetap harus kujawab dengan senyum), alhamdulillah juga, mulai hari ini, SPT tahunan bukan counter sendiri, jadi lumayan lancaaarrr sampai jam 2 baru tiba waktu istirahatku. Tepatnya jam 2.15.
Aku shalat dan berfikir mau makan apa jam segini. Pasti warung favorit dekat kantor udah kehabisan persediaan. Biasanya aku bekal makan siang ke kantor, tapi karena kejadian pagi tadi itu aku nggak bisa bawa apa apa ke kantor.
Akhirnya aku makan mie rebus di sebrang kantor. SMS-an sama Tri katanya dia lagi di BEC. Aku mintalah dia datang ke warung tempat aku makan. Mungkin karena aku masih mikir macem macem itu, tumben tumben kata Tri aku kelihatan nggak semangat makan. Aku ceritainlah sama Tri, kejadian pagi ini dan PR-ku mengantar NBI. Tri menghiburku, bisalah..mbak Titi mengatasi....
Sambil ngobrol  sama Tri akhirnya makanku habis seiring habisnya jatah waktu istirahatku. dan aku kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaan.Tri pulang mau mampir beli coklat dulu buat proyek taman bacaan gratisnya.
FYI, aku nggak pernah jarang sekali pulang ke rumah lewat maghrib. Jadi 'bagaimana caranya agar si buku sampai ke rumah pelanggan nanti sore tanpa aku kemaleman di jalan' itu masih aku pikirin. Sangat aku pikirin tepatnya. Karena kan menyangkut banyak hal. Makan malam anak anak gimana, trus nanti bibi overtime gimana, bibiku soalnya pulang pergi setiap hari / enggak nginep. Mana kalau sore sering hujan. Okelah naik taksi, pikirku. Sementara mungkin ini penyelesaian terbaik. Naik taksi biar cepat pulang.

Maka, demi pelanggan dan demi tidak pulang kemaleman, aku putuskan untuk ijin pulang lebih cepat 30 menit. Kena potong gaji ? Pasti. Tapi masih ketutuplah sama komisi Nabiku Idolaku / NBI, hitungku.
Aku segera ke pameran Ikapi di Jalan Braga. Bertransaksi secara cepat dan segera mencari taksi. Woi, ternyata paket NBI berat sekali. Aku nggak sanggup ngangkatnya. Alhamdulillah ada pak Ikhsan dari Mizan yang baik hati nganterin eh mbawain buku ke pinggir jalan dan menungguiku sampai dapat taksi. Masya Allah, ternyata nunggu taksi teng jam lima itu susaaaaah sekali. Jalanan yang 15 menit lalu lengang, kini dipenuhi kendaraan. Banyak taksi yang lewat, tapi ada isinya. Banyak taksi yang lampunya menyala, tapi diberhentiin lewat lewat saja. Alhamdulillah jam 17.20 baru dapat itu taksi. Aku duduk, taksi jalan dan langsung hujan.

Baru jalan beberapa meter, sopir taksi bertanya, aku turun di mana. Aku sebutkanlah tujuanku daerah Arcamanik. Kirain taksi bakal seneng ya.. karena denger denger mereka suka nggak mau kalau tujuannya dekat saja. Ternyata oh ternyata, si bapak ini maunya nganter yang dekat saja. Karena mau jemput orang di daerah Unpar. Aku bengong sejenak. Apalagikah ?
Si Bapak keukeuh mau nurunin aku di jalan, mana hujan dan bawa buku, ya bawa buku, dan b e r a t.
Bapaknya sok baik gitu, udah nggak bayar nggak papa Neng, nanti Bapak cariin taksi. Aku diam saja.
Berhenti sejenak di samping Hotel Panghegar, hujan, si Bapak nyetop taksi, nggak ada yang mau berhenti.
Akhirnya maju sedikit. Sampai di Patung Bola, hujan benar benar turun sederas derasnya. Si Bapak masih saja berkata kata, minta maaf, nggak usah bayar, mau jemput ke Unpar, bla bla bla, intinya aku tetap harus turun di jalan. Aku tak berkomentar.
Taksi berjalan terus tanpa argo dinyalakan. Sampai di Kosambi bener bener macet. Jam 6 kurang dikit aku baru sampai di rel kereta api Kosambi. Aku SMS Abi di mana posisiku. Si Abi pesan supaya aku ngabarin anak anak di rumah.
Akhirnya aku nego si Bapak, minta turun di Segitiga Emas saja, supaya ada angkot ke Antapani. Nanti dari Antapani kupikirkan lagi bagaimanalah supaya bisa sampai Arcamanik.
Alhamdulilah pas sampai Segitiga Emas Kosambi, hujan sedikit reda, dan aku turun di depan dealer mobil. Si Bapak mengangkat paket NBI dari bagasi dan meletakkan begitu saja di teras dealer yang mulai sepi. Aku minta ijin nitip barang ke satpam sambil nunggu angkot.
Setengah kesel setengah bingung, nggak kepikir mau nangis,  aku cuma berterima kasih sama sopir taksi.

Tidak berapa lama aku dapat angkot Antapani. Anehnya, paket NBI yang semula tidak sanggup kuangkat sendiri itu, karena kondisi terpaksa, aku sanggup mengangkatnya dari teras dealer sampai naik angkot. The power of kepepet terbukti di sini.

Hujan, banjir, angkot jalan melipir.
Jam 7-an baru sampai terminal Antapani. Mana belum shalat, anak anak sudah pada SMS, mana mikirin makan malam mereka gimana, trus mana suami juga udah nelpon2 lagi, sampa di mana.  Galau deh !
Syukurlah, Mamang sopir angkot mau dicarter ke Arcamanik.
Aku nelpon bu Teguh dan bertanya bagaimana caranya jam segitu aku keluar dari komplek, ada ojek atu enggak. Kata bu Teguh, ojek udah nggak ada, dan si Ibu menawarkan mengantar aku pulang. Ya udah aku setuju dan deal sama sopir, angkot cuma nganter aku langsung balik lagi. Selain itu, kalaupun aku maksa langsung pulang, aku bakal nggak keburu shalat maghrib.

Baru juga selesai shalat, eh sudah adzan Isya. Astaghfirullah.

Aku sedikit terhibur melihat anak anak bu Teguh begitu gembira dan antusias mencoba smart e-Pen dan membaca buku buku Nabiku Idolaku. Lupa sejenak sama anak anak (dan suami) di rumah. Kalau saja anak anak nggak sms, kapan pulang, masih lama nggak, Ummi ada dimana dan bla bla bla, mungkin aku juga masih betah di rumah bu Teguh untuk mencoba semua buku buku dari paket Nabiku Idolaku. Karena walaupun aku book advisor, aku belum punya paket itu :p. #mupeng.

Tanpa terasa, waktu terus berjalan rupanya. Aku semakin kemaleman saja. Akhirnya, jam 8 malam aku baru keluar dari rumah bu Teguh, sekalian  mereka mau jalan jalan di akhir pekan, aku dianter sampai depan rumahku. Alhamdulillah., Meski perut lapar dan kaos kaki / sepatu basah.

Aku mengetuk pintu dan menekan bel, tapi tak seorangpun membukanya. Aku dihukum.
Astaghfirullah.
Belum selesai rupanya kejadian hari ini.

---------@@@----------




Thanks God, it's Friday !

"sesuatu yang tidak dapat membunuhmu maka itu akan menguatkanmu"

20 komentar:

  1. Hadeuuh Maak, curhat subuhnya panjaaang banget, ngos2an deh..!
    ya begetolah jadi emak2 rempong deh apalagi F5, hmm salut deh buat Mak Titi..!!

    Di segitiga kosambi, kenapa ga nelpon eike ojek cantik xiixixi :P nanti pasti di anterin ke rumah denga selamat :D

    Aku pernah Mak beberapa hari kebelakang, udah magh dari pagi hujan, ada aja masalah bertubi2, rasanya badan udah ga pada tempatnya Mak :P

    yang penting tetep menikmati dan menjalaninya..
    semangaaat Mak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukannya teteh di Kebon Kelapa yah.. kan jauh ke segitiga kosambi maah... lagian hujan, kacian ojek cantik kehujanan

      Hapus
  2. wah curhat shubuh aja segini panjangnya, gimana klo curhat siang??? hehehe mantap imajinasinya. salam kenal. izin follower ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihi.. justru karena malem jadi leluasa... curhatku biasanya pendek saja lhoo
      salam kenal balik Mak Lisa

      Hapus
  3. Pernah juga mbak Titi.. aku ngalamin kjadian ngga enak bertubi-tubu. sampe mikir, apa salah dan dosaku, padahal udah tau kalo banyak hihihi. Sabar dan iklas ajah.:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mak Rahmi... aku juga jadi banyakin istighfar, semua hal buruk berasal dari diri kita sendiri
      sabar dan iklas dalam proses selalu... makasih ya ...

      Hapus
  4. Huhuhu bikin gubraks ya mak. Sabar, sabar. Btw, "ngahuleung" itu apa? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaa...
      ngahuleung itu diam sambil mikir kali ya.... hihi

      Hapus
  5. fiuhhh .. ikutan cape ...

    BalasHapus
  6. weleh...
    pernah juga sih, tp gk separah itu hehe
    ya emang pas lg apes aja
    klo sdh gtu mikirnya pengen cpt tidur n berharap hari berganti esok n lbh baik lg hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, pengennya cepat selesai dan cepat tiduuurr.... minimal pas tidur gak inget klo lagi punya masalah :)

      Hapus
  7. aku malah pernah ngerasa hampir seminggu masalah datang bertubi-tubi mba, aq berhenti dan diam sejenak, terus istighfar dan senyum :) berharap banget "semoga hari esok lebih baik dari hari ni"

    btw.. mba sanggup ya cerita panjang banget gt.. Salut.. hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. panjang bangeeet, dari jam setengah sebelas nyalain leppi, gak nyadar tau tau udah jam satu dini hari :P

      Hapus
  8. setelah dibaca dengan seksama,,,kayaknya kita 1 instansi deh mbak...
    mbak jaga TPT ya??
    alhamdulillah aku uda lepas dari TPT...hehehehe
    gud luck ya mbak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya begitulah, di tpt, baru setahun setengah :)

      Hapus
  9. NBI itu Nabi idolaku bukan mbak? jadi mbak BA juga? :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Nabiku Idolaku, aku BA juga...

      Hapus
  10. kita kalo ketemu suka kurang ya waktunya mbak hiks. Tau nggak, aku baca ini sama jurnal Lisa, pas banget di tiga hari kemarin GET 1 anget dan GET 3 panas dan so many things to do, aku merasa 'dikuatkan'. Peluk Mbak Titi erat -erat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tengkyuuu Maaak... kalian yang selalu siap dengan kuping dan pundak *peluk erat juga

      Hapus

Silakan Tinggalkan Kesan