Sabtu, 27 April 2013

Mimpi Yang Menjadi Kenyataan

Hari - hari yang melelahkan.
Tumpukan pekerjaan demi pekerjaan di peak season kantorku ini benar benar membuat tubuh tuaku mengeluh.
Bahkan mau bangun dari tidur pun terasa badan tidak fit.
Maka akupun meregangkan tangan.
Daaan...... buk ! Auuuuuuwwww....
Seketika aku bangun dari tidur
Dan mendapati buku jariku telah mengelupas kulitnya, karena meninju tembok demikian keras.

Pas awal - awal kalau buat cuci piring /sayur perih.  Sampai sekarang, mungkin karena pas di lipatan jari ya... jadi dipake meregang-menggenggam gitu.. lukanya nggak kunjung sembuh. Trus sering kebentur bentur gelas kalau pas cuci piring, sering juga kegesrek pintu kalau pas ngeluarin motor.

luka setelah dua minggu, belum kunjung sembuh. 

Minggu, 21 April 2013

Rendang Padang Restu Mande, Wow ! Mak Nyus...

Aku mengenal rendang kemasan Restu Mande sebetulnya sudah agak lama. Pertama mengenal justru dari facebook. Melihat ada satu dua teman yang menawarkan. Mengingat bahwa rendang padang itu adalah salah satu makanan tradisional Sumatera Barat, aku langsung kepikir pasti harus pesan rendang itu dari daerah asalnya. Sambil menghitung berapa ongkos kirim yang harus kukeluarkan, maka aku biarkan saja promo-promo itu tanpa melihat lebih lanjut.

Eh, beberapa waktu kemudian, di jalur berangkat ke kantor, aku melihat ada RM Restu Mande. Tepatnya di Jalan Brigjen Katamso No. 64, Bandung. Wow, pucuk dicinta ulam tiba. Senanglah hatiku. Namun sayang seribu sayang belum rejeki mungkin ya.. jadinya sampai sekarang aku belum pernah mampir ke sana, karena jalur pulang kantor tidak lewat jalan itu.
Sebaliknya kalau sudah rejeki, tentu bisa datang tanpa diduga-duga. Minggu lalu aku diajak teman lama untuk  ketemuan di RM Restu Mande Ujung Berung. Tepatnya di Jalan A.H. Nasution No. 59. Kurang lebih di seberang Kantor Pos Ujungberung / pom bensin.

Karena aku datang terlambat dari waktu yang disepakati, aku langsung menuju ruang lesehan tempat temanku menunggu. Berhubung sudah sangat penasaran penasaran, tentu saja aku  pesan rendang sebagai lauk utamaku. Ternyata memang benar. Seperti testimoni mereka yang sudah merasakan sebelumnya, rendang padang Restu Mande memang benar benar enak. Dagingnya empuk, bumbunya meresap. Bikin ketagihan. Walhasil dua potong rendang aku santap bersama nasi setengah porsi. Mantaaapppp...

Selesai  makan-makan dan mengobrol, barulah santai keluar menuju ruang depan. Ternyata di sini aku bisa membeli rendang kemasannya. Ada dua pilihan, rendang sapi dan rendang ayam. Untuk rendang sapi, harganya Rp. 6x.xxx,-  dan untuk rendang ayam harganya Rp 5x.xxx,-. Cukup sesuai untuk 300 gr rendang dengan proses memasak yang higienis dan bumbu - bumbu yang membuat rasa demikian aduhai.
Selain itu, ada juga pilihan rasa original atau yang hot (lebih pedas). Rendang kemasan ini cocok sekali ya .. untuk bekal anak kos, untuk persiapan darurat di bulan ramadhan kalau bangun kesiangan, ataupun untuk membekali teman / sanak saudara yang menunaikan ibadah haji / umroh. Untuk sehari-hari juga oke. Apalagi untuk ibu bekerja seperti aku ini. Kadang - kadang ada aja kejadian mendadak yang membuat acara memasak jadi tertunda. Cukup buka kemasan alumunium foilnya dan panaskan. Tadaaa.... rendang padang enak segera tersaji di atas meja.

Rendang Padang Restu Mande memang oke !

Bungkus satu ya......

Nah, teman - teman, tidak perlu ragu dengan rendang kemasan Restu Mande, karena telah bersertifikat halal MUI dan sertifikat kesehatan dari Depkes. Rendang ini  bisa tahan hingga satu tahun.  Wow !






Selera Madiun di Kota Kembang

Setelah mengikuti tantangan #8minggungeblog minggu pertama, maka tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua. Temanya tentang local flavour.

Waktu anak-anak dan remaja, aku tinggal di Cilacap. Salah satu makanan kesukaanku adalah pecel. Apakah pecel itu ? Yaitu campuran sayur mayur yang sudah direbus biasanya bayam, kangkung, kacang panjang, taoge, kemudian disiram bumbu kacang / saos kacang pedas. Enaknya dimakan sama kerupuk dan mendoan.

Nah untuk mengobati rasa kangen kampung halaman, alhamdulillah di Bandung ada warung pecel. Namanya Warung Pecel Madiun. Letaknya di Jalan Haria Banga No 3 Bandung. Meski selera Jawa Timur, rasanya masih oke di lidahku. Dan juga di kantongku tentu saja.
Posisinya strategis banget, dekat kantor (penting ini ya...) dekat Unisba, dekat BEC, dekat Gramedia, ya.. jalan kaki lah ... enggak sampai sekilo, paling paling 5 ons eh, 500 meter... *bawang kali ya.. pake di-ons segala.


Mengenai tempat makan ini, sebenernya aku punya semacam 'janji' gitu, janji itu kubuat karena aku lebih sering bekal makan siang dari rumah daripada jajan di kantor.  Bunyi janji : "tidak akan makan di tempat yang sama, kalau pun makan di tempat yang sama, maka harus memesan menu yang berbeda dengan sebelumnya".
Nah tapi anehnya, setiap aku ke Pecel Madiun, seperti sudah reflek aja aku pesan nasi pecel dan mendoan :)  Tuh, kan setiap, berarti sering ke sini. Iya laah.. wong dekat sekali dari kantor. Kadang juga ke sini karena diajak ketemuan sama Sondang atau sama Ikarahma. Atau ya..  ..sekedar mampir aja setelah belanja belanji di toko bahan kue pas di sebrang warung pecel ini.

foto pecel menyusul yaa...

Yah meski namanya Pecel Madiun, di sini sedia juga makanan lain seperti nasi rawon, ayam goreng, dll.

Nah pas aku inget kemaren, aku nyobain pesan nasi rawon. Si mas yang menghidangkan sepertinya agak buru - buru (atau mangkoknya yang kepenuhan ya ?) maka pas nyampe penampakan si rawon ini menjadi seperti ini
Nasi rawon, kerupuk dan telor asin. Telor asinnya lupa nggak dipesan
Kenapa kuah rawon ini begitu pekat ? Rahasianya adalah pada bumbu bernama 'kluwek' yang dicampurkan di sana. Tanpa kluwek, maka rawon tidak akan menjadi rawon. (Halaaah... apaan sik ?) Rasanya mak nyusss.. dagingnya empuk, bikin ketagihan. Kalau aku sih, itu taoge kurang banyak, karena aku penyuka sayur.

Minumnya apa ? Teh pahit jelas gratissss ya... sudah tersedia di dekat pintu masuk, bisa langsung ambil sendiri pas datang. Kalau mau pesan minuman yang khas dari sini adalah es cincau hitam. Yang bikin beda dari yang lain es cincau di sini pakai santan dan gula merah. (Soalnya kalau es cincau ibu mertua aku, pakainya susu dan sirup merah)
Nyesss... abis hhssss hssss... kepedesan nasi pecel atau rawon, langsung minum es cincau ini. Adem di perut.


Selain es cincau, bisa juga pesan wedang. Wedang ini merupakan ramuan rebusan rempah rempah gitu. Ada jahe, ada kunyit, kencur, ataupun perpaduannya. Ada wedang beras kencur, wedang jahe, wedang kunir asem. Kalau di menu sih disebut pake es. Tapi kita juga bisa pesan enggak pakai es alias hangat. Karena aku penasaran dengan salah satu namanya, aku pesan wedang secang. Ternyata rasanya perpaduan gitu, antara pedas jahe dan rasa kunyit. Woww.... sesuatu dan patut dicoba !

aneka wedang
Harga gimana harga ? Ini kan hal yang penting juga. Harga sangat sangat bersahabat. Dijamin enggak mahal. Maka jangan heran kalau pas ke sini di jam makan siang, bakalan enggak kebagian meja dan harus ngantri dulu. Soalnya memang benar benar laris manis. Sekitar jam satu aja sering mendoan sudah habis. Padahal kan itu salah satu yang khas dari sini. Daftar harga ini diambil bulan April 2013. Bisa berubah sewaktu-waktu dengan pemberitahuan langsung di Pecel Madiun. (lihat tuh, tempelan perubahan harganya.... :D)

daftar harga menu makanan di Pecel Madiun
daftar harga minuman
Nah, buat teman - teman Jawa Timur yang ada di Bandung, atau pas berkunjung ke Bandung, silakan coba makan di sini. Teman lain yang mau nyobain makanan Jawa Timur, juga dipersilakan mampir. Kalau perlu teman makan, hubungi aku aja ya.... aku mangkal dekat situ kok, kalau di hari kerja :P

#8 MingguNgeblog minggu kedua

Seharian Keliling Bandung

Selamat datang di Bandung, Keke dan Naima.....

Kali ini Ummi Titi akan menawarkan cara menghabiskan satu hari di Bandung dengan cara yang berbeda dari biasanya. Pertama - tama kita akan mengunjungi Taman Lalu Lintas. Taman ini buka jam 8 pagi. Di sini Keke dan Naima bisa belajar segala sesuatu tentang berlalu lintas. Mulai dari rambu-rambu lalu lintas, mencoba berbagai alat transportasi (ada sepeda, kereta api, kereta motor) sekaligus mempraktekkan tentang rambu-rambu lalu lintas itu di jalan - jalan yang terdapat dalam area taman. Pasti Keke dan Naima tidak tertarik lagi menaiki binatang tiruan yang ada ataupun maen ayunan ataupun naik flying fox, tapi di Taman ini ada sebuah perpustakaan yang bisa di kunjungi. Sekarang di sana juga ada komposter, yaitu alat untuk merubah sampah-sampah daun menjadi kompos. Kita bisa bertanya sama bapak penjaganya, bagaimana proses pembuatan kompos itu. Selain itu, Keke dan Naima juga dapat mempelajari nama-nama pohon yang terdapat di dalam taman. Eh, mau berenang ? Di sini juga ada kolam renangnya.
Tiket masuk taman  hanya 6 ribu rupiah. Sedangkan tiket masing masing wahana rata-rata hanya 4 ribu rupiah.

rambu-rambu lalu lintas
kereta api mini sumbangan dari PJKA

Nah, setelah capek keliling taman dan mencoba wahana wahana yang ada, Keke dan Naima bisa makan di dalam taman lho. Kalau makan di PVJ atau di Ciwalk tentu hal biasa. Nah, biar berkesan kita makan yang lain dari biasanya. Memang di dalam ada tempat makan yang sedia sate, bakso, popmie, lotek dll. Tapi ada tempat makan yang unik di sini. Yaitu warung-warungnya di luar taman, tapi mereka menggelar tikar di dalam taman. Mereka melayani pesanan dari balik pagar. Menunya bisa dipilih yang sehat seperti bakso tahu atau nasi timbel lengkap dengan ayam goreng, ikan asin dan sambel lalap. Setelah makan, bisa sholat dan istirahat sebentar di masjid kecil dalam taman.

Supaya petualangan sedikit seru, dari Taman Lalu Lintas, kita naik angkot ya.. Ke mana ? kita ke Saung Angklung Mang Udjo. Naiknya angkot hijau nomor 02. Tanya dulu ya... soalnya angkot-angkot di seputar taman lalu lintas ada dua arah. Arah pemberangkatan dan arah tujuan. Nanti kita naik angkot 02 jurusan Terminal Cicaheum.

Sebelum sampai terminal, kita turun di Padasuka. Jalan kaki dikit atau boleh naik ojek dua ribu saja, kita menuju Saung Angklung Mang Udjo. Ngapain aja di sana ? Bisa nanya - nanya proses / cara pembuatan angklung. Bisa nyobain main angklung. Kalau sedang beruntung, di sana sedang ada pementasan, ya kita bisa ikut nonton. Kalau rombongan sekitar 100 orang, biasanya disuguhi pementasan anak-anak sanggar angklung.
Saung ini punya filosofi lho ... yaitu 5M, artinya  : mudah, murah, menarik, massal dan mendidik


Ini rombongan kantor pas jam istirahat ke sana dan nyobain main angklung :)

Setelah puas mencoba angklung, kita menuju destinasi berikutnya.. yaitu Monumen Nol Kilometer di Jalan Asia Afrika. Dari terminal Cicaheum, kita cukup sekali naik bis Damri. Bisa pilih yang AC biar enggak terlalu berdesakan. 

Monumen Nol Kilometer
Monumen ini terletak persis di sebrang halte CKC /GKN (Gedung Keuangan Negara). Di samping hotel Preanger. Di halaman Kantor PU. Waduh lengkap banget ya... Ngapain di sini ? popotoan laah.. narsis-narsisan dikit. 
Nah .. setelah itu, kita jalan kaki sedikit menuju jalan Braga. Yang paling monumental di sini adalah Museum Asia Afrika ya.. Tapi kalau kesorean ya sudah tutup. Paling tinggal foto-foto lagi di tiang bendera di depan museum. Kemudian kita jalan - jalan sore sepanjang jalan Braga. Bisa membeli roti di toko roti kuno di sana, namanya toko Sumber Hidangan. Roti yang dijual di sini, tanpa pengawet dan tanpa pengembang. Sehingga rotinya tampak kecil kecil. Eh, meskipun kecil-kecil, rasanya enakk lhoooo.... Kalau kita beli, bungkusnya pake bungkus kertas. Waah.. pokoknya jadul banget deeh.. Etalasenya juga model jadul. Sayang enggak sempat ambil gambar waktu itu.
Kalau tadi siang Keke dan Naima makan di pinggir taman, maka sore ini bisa milih tempat makan di sepanjang jalan Braga. Yang cepat saji ada Wendy's (hihi paling suka brokoli kejunya) atau pilih tempat makan di Braga City Walk.  
Naaah.. bener bener seharian keliling Bandung kaan ? 



Postingan ini diikutkan dalam

 

Seharian Ngebolang di Lembang

Menjadi working mom adalah sebuah pilihan yang sudah kuambil. Sejak 1993 aku memutuskan bekerja di instansiku aku sudah mempertimbangkan segala resiko dan membekali diri untuk menghadapi resiko tersebut. Menurut keyakinanku, posisiku bekerja saat ini bukan hal yang wajib, sehingga aku tidak boleh melupakan tugas pertama dan utamaku sebagai istri dan ibu bagi anak-anakku.
Nah salah satu 'resiko' itu adalah ketika kemarin kantorku mengadakan acara gathering di akhir pekan, maka akupun harus mengikuti itu. Sejak beberapa hari sebelumnya, aku sudah sosialisasi pada suami dan anak-anak, tak lupa minta maaf bahwa akhir pekan ini aku bakalan pergi acara kantor. Alhamdulillah suami ngasih ijin dan anak-anak juga mengerti. Tapi rupanya aku harus berusaha lebih keras. Pagi itu gas habis, semua rencana memasak yang sudah disiapkan gagal begitu saja. Akupun segera berganti rencana, membeli kupat tahu untuk sarapan seluruh keluarga, dan memesan gudek di tetangga sebelah yang punya warung makan untuk makan siang suami dan anak-anak. Alhamdulillah urusan logistik rumah beres.

Akupun berangkat menuju kantor. Suasana sudah berbeda sejak awal keberangkatan, rencana jam 7 pagi berangkat, tepat jam 7 sudah selesai apel pagi dan doa bersama. Kemudian kami naik truk menuju lokasi.  Acara gathering ini bertujuan untuk menyatukan tekad agar rencana kerja dan target kantor tahun ini dapat tercapai.  Enggak tanggung tanggung, EO akan membawa kami ke pusdiklat  salah satu pasukan terbaik bangsa ini. Lokasinya di daerah Lembang.

Sampai di lokasi, pembimbing mengingatkan kami, bahwa kami telah tiba di lokasi pelatihan. Di tengah hutan nan perawan, yang bersih tanpa campur tangan manusia untuk kepentingan wisata dan sejenisnya. Kami diingatkan untuk menjaga kelestarian alam, tidak membuang sampah sembarangan, tidak mencabut rumput / tanaman, mencoret bebatuan/pepohonan. Dan ... yang lebih amazing, kami diminta menyamar agar menyatu dengan alam. Wajah kami dicoret coret dengan make up khusus untuk face painting. Tidak boleh ada yang wajahnya masih bisa dikenali.
Kemudian selama seharian kemarin nilai nilai tentang kebersamaan, kerja sama, nilai nilai organisasi, tentang tugas dan wewenang, dll disampaikan baik melalui game-game maupun pengarahan langsung dari Mr. Boss dan juga melalui pihak EO (event organizer).

Puncaknya adalah ngebolang, kami diajak masuk hutan menyusuri jalan setapak menuju danau yang menurut legenda adalah tempat mandi Dayang Sumbi. Udara segar dengan merdeka memasuki paru - paru kami. Suara kicau burung dan hewan - hewan hutan lain pun saling bersahutan. Sesekali suara batang rapuh yang jatuh mengagetkan kami. Entah berapa ulat bulu yang kami temui, dari yang sebesar kabel charger hape sampai yang sebesar telunjuk. Melompati batang batang pepohonan yang jatuh melintang menutupi setapak, dan menembus jalanan berlumpur hingga melewati mata kaki. Kami juga menyeberangi beberapa kali kecil, ketinggian air ada yang mencapai paha. Jangan tanya apa warna sepatu, kaos kaki dan celana panjang yang kami kenakan. Bercampur antara lumpur, rumput-rumput hutan yang terbawa, hingga basah-basahan. Keringat yang mengucur  dan nafas yang memburu tidak kami hiraukan.
Setelah berjalan kurang lebih dua jam, sampailah kami di danau yang dijanjikan. Pemandangan indah luar biasa tersaji di depan mata. Air bersih yang luas terbentang, dikelilingi bukit yang berpayung awan. Banyak capung dan burung kecil yang beterbangan. Subhanallah... benar-benar jadi makin cinta dengan alam Indonesia. Anehnya, kenapa di sekeliling danau rumput nampak terpelihara ya...

Ternyata.... kami semua 'tertipu'. Awalnya, kami sempat bertanya-tanya, bagaimana kembali ke tempat awal keberangkatan. Membayangkan lagi masuk hutan dan becek-becekan. Eh... rupanya danau itu dekat saja. Hanya tersembunyi di balik barak-barak pasukan tempat kami berangkat tadi. Tapi kami dibawa jalan memutar memasuki hutan agar lebih mengenal dan mencintai alam :D dan merasakan semangat juang mencapai suatu tujuan. Semangat !!

berpose di pinggir danau, terbayar sudah semua lelah

Foto ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan: 

Kamis, 18 April 2013

Edisi Homesick

Beberapa hari lalu aku posting ini di facebook :


Engak lama kemudian, Aini komen gitu ...
Yaah.  emang udah lama juga kali ya.. aku enggak mudik, padahal dekaaat lho.. cuma ke Cilacap. Emang di sana udah enggak ada Bapak dan Ibu, karena beliau berdua sudah tiada. Tinggal ada kakak pertama.
Bener kata suamiku, kalau bapak ibu nggak ada, tarikan untuk pulang kampung itu beda sekali kekuatannya.

Nah, ternyata oh ternyata mimpi itu berlanjut dooong... kalau pada mimpi di atas tidak tampak dengan jelas tempatnya di mana, kemarin mimpi lagi... to the point. Menyebut nama, menyebut tempat.
Jambe Lima, Jambe Pitu, tempat parkir, salim salim sama penjual yang di sana yang notabene teman-teman Bapak alm. Langsung kepengen nangis ajaaa...
FYI, Bapak terakhir tugas di Balai Konservasi Sumber Daya ALam di bawah DepHut, kira kira ngawasin kelestarian hutan gitu deeeh... salah satu wilayahnya adalah Gunung Selok. Jambe Lima dan Jambe Pitu adalah tempat wisata yang ada di Gunung Selok. Semua yang berjualan di lokasi tersebut bisa dipastikan mengenal Bapak. Pas aku salim salim itu, ternyata diantara para penjual itu juga sudah ada yang 'mewariskan' warungnya pada anak-anak merek a yang aku belum mengenalnya. :)

Dan dalam mimpiku kedua tempat itu sudah direnovasi, dengan jalan yang halus...bersih... hutan yang hijau... langit biru.. awan putih... pemandangan ke laut selatan sampai ke garis cakrawala dari sela sela pepohonan.
Ahaaayyyy
Takut dibilang hoaks aku bilang kampungku indah, seperti yang aku ceritakan di buku antologi tentang kampung halaman aku cari di google nemu gambar ini...


foto di dapat dari sini

Senin, 15 April 2013

Rumahku 'Diskotik Mewah'

Baru tahu kemarin kalau  blog angingmammiri  punya gawe #8minggungeblog. Satu tema akan diberikan untuk setiap minggu. Nah, tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu pertama. Temanya Sekitar Rumah. Baiklah, aku mulai ceritanya ya...

pemandangan depan rumahku

Sebuah rumah, 'berhalaman' sawah. Hanya berbatas sebuah jalan selebar 4 meter.
Sejauh mata memandang, hijau terhampar dan perbukitan di kejauhan. Bila malam tahun baru tiba, semua anggota keluarga keluar, melihat kembang api yang ditembakkan dari kaki bukit.
Tanpa tetangga di hadapan.
Sebelah kanan sawah terbentang luas, dari balik jendela kamar, tampak rumah-rumah di RW sebelah.
Sebelah kiri ada jalan kampung yang terhubung dengan jalan tembus menuju ke komplek perumahan lain.
Itulah rumahku, diskotik = di sisi komplek sa-eutik terjemah bebasnya kurang lebih sedikit mepet ke komplek . Dan juga 'mewah' alias mepet sawah.

Sebuah rumah di pinggiran Bandung. Maka diskotik pun dapat berarti di sisi kota saeutik
Meskipun diskotik, namun letak rumahku sangat sangat strategis. Alhamdulillah. Semua dalam hitungan menit.

Sekolah ? 40 meter dari rumah ada sebuah TK yang kini menjadi tempat sekolah si F5
Hanya kurang dari 1 km menuju sekolah dasar / madrasah ibtidaiyah Islam yang  lumayan favorit, yang kemudian menjadi tempat sekolah ke-4 anakku yang pertama.
Hanya satu kali naik angkot menuju 3 buah SMP Negeri  yang clusternya berbeda. Cluster 1, cluster 2 dan cluster 3. Anak pertamaku tidak berhasil masuk cluster jadi masuk SMP N cluster 2. Anak kedua alhamdulillah berhasil masuk SMPN cluster 1. Jadi kalau pagi, satu ke kiri satu ke kanan sesuai arah sekolahnya. Nah anak ketiga tahun ini mau masuk SMP, cita citanya pengen masuk SMP yang sama dengan kakak pertamanya.
Sekitar  500 meter dari rumah, ada  SMAN favorit di Kota Bandung, yaitu SMAN 24. Diseberang SMA ada bimbel Nurul Fikri. Sekali mendayung, dua tempat tertuju sudah.

Kampus ? Ya, dekat juga laaah... silakan anak anak tinggal pilih, ke kanan ke ITB ke kiri arah Jatinangor ke Unpad. Pengennya orang tua mah anak dikekepin aja, nggak usah kuliah ke luar kota. Ke luar negeri sekalian ntar kalau S2, tapi cari bea siswa ya..
Sedangkan anak ? Pengennya segera mandiri aja. Sekarang yang SMP aja bilang mau kuliah di Lampung, kampung halaman Abi-nya.

Pasar ? Tinggal pilih. Ada dua pasar dekat rumahku. Pasar Pasir Jati tinggal jalan kaki, atau naik motor kalau malas. Atau pasar Ujungberung yang lebih besar dan lebih lengkap. Dari sayuran sampai perhiasan. Dari pakaian sampai alat alat rajutan. :D
Pasar kaget juga ada ! Ya di Pasir Jati itu. Dari pasar naik sedikit.  Kadang kadang  kami jalan-jalan ke sana.. 

Dokter ? Rumah Sakit ? Bidan ? Semua ada. Dokter praktek umum dan bidan ada di belakang rumahku. Ada praktek dokter gigi  paling 100 meter -an dari rumah. Lengkap dengan dokter gigi spesialis anak dan apoteknya. Sekarang malah di depan apotik itu berdiri klinik yang akan buka 24 jam mulai Juni nanti. Rumah Sakit Umum Daerah, paling 2KM dari rumah. Tapi semoga jangan sampai ya.. dirawat di rumah sakit. Yang diminta tetep sehat semuanya.

Nah, semakin berkembangnya perumahan di sekitar rumah, maka ada makna baru dari diskotik ini. Yaitu di sisi toko sa-eutik.  Yaaa... bagaimana tidak ? Di sekitar rumahku saja lengkap ada 5 mini market yang cukup ditempuh dengan jalan kaki. Yomart, Alfamart, Indomaret, SB-Mart , dan UB Istiqomah. Dan entah sudah sejak tau kapan, aku sudah meninggalkan kebiasaan belanja bulanan ke supermarket. Selain malas membawa belanjaan yang seabreg dengan motor, kayaknya kok kalau belanja bulanan duitnya langsung habis :D.  Padahal untuk mendukung bisnis sampinganku untuk muterin uang belanja, aku kan perlu cash flow yang lancaaar. Jadi ya aku belanjanya tiap minggu aja ke toko toko di atas. Suka suka aja mau pilih yang mana.

Kini, di sebelah kanan rumahku pun telah berdiri sebuah toko bahan bangunan, berhimpitan tembok. Sebelahnya lagi sudah menjadi sebuah komplek perumahan. 
Sedangkan di depanku, sebagian sawah sudah mulai di urug. 



Sudah begitu, urugan itu menutup selokan yang mengalirkan air menuju kali.  Beberapa kali hujan terakhir, selokan itu meluap, dan airpun masuk ke sawah. Bukan mustahil, sawah yant tersisa pun, tidak lama lagi akan dijual karena sering kebanjiran. Yaaah, rumahku bisa bisa enggak 'mewah' lagi deeeh...

Nah, apakah rumahmu 'diskotik' juga ? Atau 'mewah' ?



#tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri

Sabtu, 13 April 2013

Mizan dan Hobby Baca Keluargaku

Aku mengenal Mizan mungkin belum sepanjang usianya yang kini mencapai 30 tahun. Tapi begitu mengenalnya, langsung lekat macam jatuh cinta pada pandangan pertama :)

Ketika tahun 2002 aku pindah ke Bandung, aku diajak Mbak Siti bergabung di Ormas Persaudaraan Muslimah (Salimah) Jawa Barat. Sekretariatnya di jalan Bekalivron. Setiap aku ke sekretariat Salimah, aku melihat tulisan Mizan dalam warna biru yang terpampang besar di sebuah gedung di jalan sebelahnya, jalan Yodkali. Aku baru tahu kalau itu nama sebuah penerbit, saat di rumah mbak Siti banyak sekali buku - buku dari Mizan. Yang paling berkesan adalah serial Cerita Nabiku yang selalu dibacakan mbak Siti untuk 3 anakku yang masih kecil - kecil. Selain itu ada pula serial Sahabat Nabiku dan Cerita Balita. Mbak Siti saat itu belum dikaruniai putera, tapi kecintaannya terhadap anak-anak, membuatnya mengoleksi buku anak-anak. Akhirnya akupun mulai mengoleksi juga buku-buku tersebut untuk anak-anak. Alhamdulillah, anak-anak sudah terbiasa membaca dari bayi, jadi buku - buku anak yang kubeli sekitar sepuluh tahun lalu itu, masih utuh sampai sekarang.

Buku-buku Mizan diantara buku-buku yang lain


Beberapa waktu kemudian, aku bertemu dengan bu Erna yang menawarkan buku - buku  ke kantor. Yang paling berkesan adalah Halo Balita dan I Love My Al Qur'an. Hanya saja saat itu aku merasa buku - buku itu masih 'mahal' jadi akupun menahan diri untuk membeli. Namun setelah bu Erna mengajakku ikut seminar parenting tentang manfaat mendongeng dalam mendidik anak, maka pandanganku tentang buku mahal menjadi berubah. Mahal atau tidak itu dipengaruhi oleh pandangan kita tentang prioritas. Kalau misalnya pendidikan anak menjadi prioritas, maka 'semahal apapun' itu, orang tua pasti akan mengupayakan memberikan sarana-sarananya.
Dengan pertimbangan di rumah masih ada 3 balita (2003 lahir anak keempat), maka aku memutuskan membeli Halo Balita dengan sistem arisan Rp. 125.000/bulan selama 10 bulan. Ternyata masih terjangkau :).
Paket  Halo Balita ini mirip dengan serial Cerita Balita, tapi dalam versi lengkap dan edisi board book. Lengkap, karena terdiri dari tema self help untuk melatih kemandirian, ada tema value agar anak-anak menerapkan nilai moral dan ada tema spiritual untuk melatih dan mengenalkan anak pada kehidupan beragama. Ada hadiah boneka tangan berupa tokoh tokoh dalam buku yaitu Sali, Saliha dan Mio si kucing.  Alhamdulillah, tidak menyesal aku membelinya, karena aku merasakan sendiri manfaat membacakan cerita-ceritanya setiap menjelang tidur kepada anak-anakku.


Pengalaman lain yang tidak kalah berkesan adalah : bersama Halo Balita aku mendapatkan piala pertamaku pada Lomba Mendongeng Orang Tua dan Guru yang diadakan oleh TK Al Hadits Arcamanik 7 Mei 2006. Temanya memang cerita dari serial Halo Balita. Bukunya disediakan oleh panitia. Karena aku sudah memiliki bukunya, aku punya cukup waktu untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Saat lomba aku membacakan cerita Aku Bisa Mandi Sendiri, lengkap membawa properti berupa gayung, sikat gigi, odol, sabun dan handuk :). Hasilnya ? Aku juara pertama ! :D

Piala dan Mio yang masih ada sampai sekarang
Kesukaan membaca ini memang menjangkiti kami sekeluarga. Enggak emak, enggak anak, enggak bapak. Begitu anak kelima lahir, maka si anak keempat ini gantian membacakan buku untuk adiknya :

F4 membaca Halo Balita untuk F5
Setelah anak - anak semakin besar, salah satu kebiasaan keluarga kami adalah selalu membawa mereka ke toko buku di saat mereka ulang tahun, berprestasi di sekolah atau setiap kali berhasil mengkhatamkan Al Qur'an.  Ketika mereka SD mereka banyak memilih buku - buku KKPK (Kecil Kecil Punya Karya). Setelah mereka SMP maka bergeser ke Pink Berry.
Kalau aku suka novel - novel Qonita, tapi yang paling kusuka adalah serial Anne of Avonlea.
Suamikupun mengoleksi buku - buku terbitan  Qonita, Bentang dan buku Mizan lainnya. Baru-baru ini dia membeli The Casual Vacancy dan Sandyakala Rajasawangsa karya Langit K.H.  (aku baru baca yang TCV ).

Sekarang aku bisa dikatakan menjadi salah satu bagian Mizan, persisnya sebagai book advisor di Mizan Dian Semesta (MDS). Masih newbie. Pencapaianku juga  belum seberapa dibandingkan dengan teman-teman lain yang memang fokus di sana. Tapi alhamdulillah, setiap bulan ada saja transaksi dan komisi tentu saja. Yang paling aku suka adalah, komisi dari MDS tidak harus menunggu lama, cukup satu pekan setelah buku terkirim, maka komisi akan segera masuk rekening kita. Sejak 2012 aku bergabung, kuhitung-hitung, baru menjual  5 paket Halo Balita, 2 paket Nabiku Idolaku dan satu arisan Ensiklopedi Bocah Muslim serta satu lagi segera menyusul peserta arisan Halo Balita. Karena buku-bukunya memang bagus, bermutu dan tentu saja bermanfaat, maka aku bersemangat dan percaya diri menawarkan kepada teman-teman. Alhamdulillah, komisinya bisa buat beli buku lagi.


Postingan ini diikutsertakan dalam lomba #MizanAndMe


Kamis, 11 April 2013

Jerawat Pindah

F5 kadang  ada bintit semacam jerawat gitu di wajahnya.
Kadang ada sedikit nanah seperti bisul, dan rasanya sakit. Soalnya kalau disentuh suka marah bahkan nangis.
Anehnya, dia nggak mau dibilang itu bisul.. kayak tau aja ya.. yang namanya bisul :p

Aku sudah konsultasikan ke dokter umum yang praktek dekat rumah, katanya sih nggak papa.
Kalau kata orang tua jaman dulu sih.. bintitan model gitu biasanya karena kebanyakan / alergi makan telur.  Yah, nggak tau juga sih, yang jelas dia emang doyan banget makan telur. Dari telur kecil (telur puyuh), telur ceplok ceplok di wajan (orak - arik) maupun telur ageung (telur dadar). Telur bulat (telur rebus) juga suka.

Nah, minggu lalu si 'jerawat' itu tumbuh di ujung hidung dan di alisnya.
Eh, minggu ini, tumben langsung muncul lagi, ada di dagunya.
Pas kita godain itu yang di dagu apa, dengan santainya dia bilang :
"Ini jerawat yang di alis, pindah ke sini  "....sambil nunjuk dagunya


Rabu, 10 April 2013

Stress Bentuk Lain

Ini adalah istilah kami waktu kuliah dulu, ketika ada teman yang slalu bisulan ketika musim UAS tiba.

Nah kemaren mbak cerita katanya  pas try out pertama dia kan ranking satu se-sekolah. Kemudian, TO kedua, dia ranking dua, TO ketiga turun jadi ranking 5, TO keempat jadi ranking 9.
Eh, tapi untungnya si ranking kedua dan seterusnya itu, dalam mimpi si Mbak Fathimah doang. Apakah ini juga salah satu contoh "stress bentuk lain ?" bahkan sudah  merasuk dalam mimpi ? :D


Kamis, 04 April 2013

Dating with My Boy



On Saturday,  I am going to have a lunch with Faiz. Faiz is my  5th child. He is nearly  5 years old. We sit at the terrace of the café. We are eat ing some meat ball and drinking some  juice.  My favorit juice is the same as Faiz’s. 

The view  from our table is a yard, which is Alun-Alun Ujung Berung. There are so many  outdoor game in Alun-alun Ujungberung on week end, e.g. pretend fishing,  toys train, riding horse, mini motorcycle, mini car, etc.  Faiz look at the yard for a long long time.  I think he is really really want to try the game on the yard.



“Do you want to try, Faiz ?”
“Yes,  Ummi !”
“Well, perhaps Abi can join us on Monday. So you can try it”

On Monday morning,  I, Abi and Faiz are going together to Alun –alun Ujungberung.  Faiz is in the blue shirt and the white pants. He is  trying three of the game. The price is so economic.  And as  I guess, he look very happy.




Pretend fishing. Look at his smile 


Riding a horse for the first time. The horse is about 1.5 metres.


Try the toy train
We are going home at 9  o’clock. It’ s  my time  to go to the campus.

“ It’s  enough  for today, Faiz.  We are probably  coming on next week”.

NB : bukan sok nggaya posting pake boso Londo, ini tugas kuliah, daripada tergeletak yah diabadikan saja. Tulung dikomen ya.. salah salah kalimat atau kosakata. Makasiiih