Kamis, 09 Mei 2013

I'm not an achiever

Pas awal awal Sondang masuk SBM dia cerita di acara semacam pengenalan kampus gitu kalii yaa, ada sesi di mana dia dan teman teman seangkatannya 'dilepas' begitu saja di alun alun Sukabumi tanpa dikasih uang saku dan diminta mencari cara gimana caranya untuk bisa pulang ke Bandung. Terus Sondang ceritalah apa yang dilakukan anak anak SBM itu, ada yang ngajar, ada yang bikinin program di sebuah BPR, ada yang nawarin jasa mbersihin got, dsb. Aku malah lupa apa yang dilakuin Sondang saat itu, yang kuingat cuma episode dia sakit di alun alun itu. #peace ya Ndang.....
Sebagai orang jadul yang sangat awam maka akupun bertanya sama Sondang, apa maksud dan tujuan sesi itu. "Achievement More" kata Sondang.
Cerita tadi begitu membekas dalam benakku, pantesan orang orang sukses itu makin sukses karena jiwa achievement more-nya itu diasah terus menerus.  Dari the gank makan siang aja aku dah belajar banyak hal. Gak usah lah sampai ke tahap ngelmu akademik yang pastinya aku gak akan sampai, dari sehari hari aja urusan masak memasak aku dah ketinggalan jauh. Tri kalau nyobain resep itu begitu telaten sampai menghasilkan masakan yang 'sempurna'. Enggak heran kalau kukis dan kue kue buatan dia udah mulai banyak yang pesen :) *aku pesan gratisan aja yaaa....
Sondang juga demikian, aku masih inget pas dia belajar bikin perkedel dulu masih nanya itu mbuletinnya pake tangan apa pake sendok, kujawab suka suka kita lah mau pake tangan atau pakai dua sendok sampai akhirnya si Iko meracuni bahwa untuk mencetak perkedel yang necis itu cukup menggunakan skop es krim :p

Berharap barang  sedikit dari semangat achiever mereka itu menular kepadaku. Kayaknya musti memperbanyak pergaulan sama mereka nih, semoga  ntar klo Sondang lulus SBM *selesaiin tesismu Mak eh dapat ART dulu* trus  jadi kasi humas aku ditarik jadi anak buahnya, kan bisa coaching, biar bisa belajar banyak dan lebih sering ditraktir :p

Kembali pada diriku sendiri kenapa sampai berkesimpulan seperti itu, kalau kuingat-ingat jaman SD aku leading di pelajaran, juara kelas, maklum tinggal di kampung. Sekampung apakah ? Jangan bayangkan laskar pelangi ya.. Gambaran aja, enggak sampai 2/3 teman SD ku melanjutkan SMP dan lebih sedikit lagi yang kemudian sampai SMA. Bahkan rival terberatku di SD, malah gak ke SMP karena langsung ijabsah gak lama setelah menerima ijasah.

Kemudian aku lanjut SMP ke kecamatan sebelah, ketemulah aku dengan anak-anak pinter dari SD di beberapa kecamatan. Saat aku menyadari bahwa aku 'tidak mungkin' dapat menyalip kepandaian mereka maka akupun menyerah berjalan dalam speed aku saat itu. Aku sampai lupa aku juara berapa saat SMP yang jelas targetnya hanya cukup 10 besar di kelas ( di kelas yaaaa bukan di angkatan ).

Pas aku SMEA kembali aku menemukan lawan yang 'seimbang'. Aku milih SMEA saat itu karena memang aku ingin langsung bekerja setelah lulus. Apa saja lah semacam pekerjaan klerikal gitu. Selain itu, sebagai anak PNS yang tujuh bersaudara aku sadar bahwa bapak dan ibu pasti akan lebih sulit mengatur keuangan kalau aku kuliah. Kemudian setelah bekerja aku akan segera menikah dan punya anak. (Lihat, cita cita saja aku tak punya ).
Maka di SMEA ini kami bersaing di dalam radiusku . Maksudnya aku enggak perlu belajar jauh lebih keras. Hasilnya waktu itu aku meraih NEM tertinggi, dan sainganku itu kedua. Sebaliknya dia meraih nilai ijasah tertinggi dan aku kedua. Atau sebaliknya, sudah lupa. Maklum itu sudah 22 tahun lalu *masya Allah.... sudah setua itukah aku saat ini?
Trus kenapa nyasar sampe STAN ?
Itupun kudapat tanpa perjuangan yang berarti karena memang sudah rejeki. Trus mungkin karena aku ujian juga tanpa target, jadi ngerjainnya soal ujiannya yaah....biasa aja...... no stress. Lagipula saat itu masuk stan tidak sekeren sekarang, persaingannya ketat sekali.
Awalnya  di STAN lumayan pede berdampingan sama anak SMA ngerjain akuntansi. Tapi setelah ketemu dengan intermediate, advance, akpem, maka akupun menyerah. Ibaratnya IP aku di stan itu 3,2,1 dari tingkat satu sampai tiga. Lulus ? Ya enggaklaaaahhh.....

So bagaimana aku menjalani hidup tanpa target gitu ? Alhamdulillah Allah kasih kreatifitas padaku. Aku selalu percaya ada cara lain. Selalu percaya ada alternatif. Maka buatku tak masalah itu atau ini tidak tercapai, karena aku akan segera menemukan penghiburan lain atau pencapaian di bidang lain.  Tapi itu some time enggak baik juga. Klo misalnya sekedar gak laku dagangan ini insya allah bakal laku dagangan itu mah masih enggak masalah, tapi kalau mau ikut ustadz Yusuf Mansur one day one ayat kemudian aku punya alternatif one week one ayat kan jadi berabee  x_x

Nah yang bikin aku kepikiran adalah pas kemaren sebelum UN si F3 bilang gini  'ummi klo aku gak masuk smp 17 (klaster 2) gimana?'  Reflek doooong aku menjawab 'nggak papa.... masih ada smp 50 (klaster 3)'.
"Aiih si ummi mah .... bukannya,  menyemangati malah bilang gituuu" F3 sewot.
"Yaa abis bagaimana lagi ? Masuk kemana kemana itu kan tergantung NEM kamu. Ummi kan hanya menawarkan alternatif solusi :p" * asli jawaban ngeles.

Nah itu, I'm not an achiever mungkin gak terlalu jadi masalah buatku. Tapi kalau aku kemudian enggak bisa menyuntikkan pada anak-anakku semangat untuk berprestasi lebih tinggi , untuk meraih cita cita yang diimpikan, itu baru masalah yaaaa....
Ah kudu belajar achieve more nih.
Helpppp...............,.

6 komentar:

  1. hihihi maksudnya mungkin mau disemangati masuk sekolah yang dia mau ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mak Lidya... dia pengennya disemangatin masuk sekolah yang dia pengen itu... syuuukurlaaah... bagian itu telah dikerjakan dengan baik oleh Abinya.

      Hapus
  2. ih mbak kok kamu lupa, kan aku yag ngajar di SD huh *dapet 100 rb rebu satu sesi hahahahaha*. Aku masih in process buat usaha lebih sabar mbak. Tapi kau mah gak achieve itu, ya, kau udah born with it hihihi. Oh ya, satu lagi mbak, sisi porsitifnya kay gak kompetitif sama sekali dan nggak kena peer pressure sama sekali. Tenang kali jiwamuuuu hahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. waaah... maap soal yang aku lupa ituu... hihi.. tapi yang penting kan moral of the story-nya ketangkep. *ngeles
      Dirimu emang paling bisa menghiburku Maak... Aminkan saja ya.. semoga insya ALlah termasuk orang yang sabar. Amin. Aku gak kena peer pressure iya, gak pengen sepatu lari :D #nomention.

      Hapus
    2. apa nih, bawa2 sepatu lari...? *langsung tersungging* :lol:
      Lahir dgn stok sabar berlimpah itu anugrah, mbak.. beneran!
      Kirim yg banyak dong, buat aku siniiii.... :D

      Hapus
    3. aaah.. jangan termakan bujuk rayu Sondang ya... dia aja tuh... belum tahu sisi gelapku :D

      Hapus

Silakan Tinggalkan Kesan