Senin, 24 Juni 2013

Menyemai Cinta : Pernikahan Tanpa Pacaran


foto nikah, masa'  suami istri foto berdua, yang  satu tangannya di depan, satu lagi tangannya di belakang punggung X_X

Aku menikah dengan Abi tanpa pacaran. Begitulah kenyataanya. Kami diperkenalkan oleh guru mengaji. Aku saat di Jakarta dulu aktif di sebuah yayasan . Suami ustadzah ketua yayasan adalah seorang ustadz terbang yang wilayah dakwahnya sampai ke Kupang-NTT kota penempatan pertama Abi setelah jadi PNS. Abi yang kemudian diklat ke  Jakarta, datang menemui ustadz mohon bantuan dicarikan jodoh. Targetnya selama 3 bulan diklat di Jakarta semua proses dapat dilalui mulai dari taaruf / kenalan sampai menikah.

Menurut cerita  Abi,  ketika itu dia dikasih 2 amplop tertutup yang berisi biodata akhwat. Pas minta dipilihkan, kata ustadz insya Allah dua duanya cocok dengan abi. Akhirnya Abi memilih yang ada di tangan kanan ustadz. Isinya ? Biodataku. :D
Si Abi pun shalat istikharah mau lanjut atau tidak setelah melihat data diriku. Ketika Abi memutuskan mau lanjut ta'aruf baru aku dikasih tahu sama ustadzah bahwa ada ikhwan yang siap ta'aruf. Awalnya aku sampaikan bahwa aku belum siap. Karena aku masih belum bisa masak dan masih males mandi *sampai sekarang.
Tapi ustazah menasehatiku bahwa kesiapan itu sangat relatif. Soal belum bisa masak itu bisa berlatih. Dan soal males mandi insya allah enggak bakalan males mandi lagi setelah nanti punya suami. Dan yang paling jleb adalah ketika ustazah membacakan hadis
“Apabila datang kepadamu seorang laki-laki (untuk meminang) yang engkau ridha terhadap agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia. Bila tidak engkau lakukan, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan akan timbul kerusakan yang merata di muka bumi.”
(HR At-Tirmidzi dan Ahmad)

Maka akupun takluk dan menuruti kata ustadzah. Aku menerima biodata Abi.

Awalnya agak minder. Melihat Abi yang 8 bersaudara kuliah semua pastilah dari keluarga berada. Sedangkan aku dari keluarga yang sangat sederhana, dari 7 bersaudara yang sampai bangku kuliah cuma baru dua orang. Kemudian perbedaan latar belakang budaya, Abi Sumatera dan aku dari Jawa, khawatir nanti menjadi kendala. Tapi sekali lagi ustazah menguatkan bahwa Islam akan menyatukan kami berdua insya allah. Akupun takluk sekali lagi untuk lanjut ke taaruf atau berkenalan langsung.

Taaruf saat itu tanggal 28 Oktober . Inget karena aku  pulang upacara Sumpah Pemuda. Saat ta'aruf itulah aku sekali lagi takluk melihat kemantapan dan komitmen abi utk melanjutkan proses. Maka dengan persiapan kilat lamaran pun dilakukan tanggal 10 November. Abi ke Cilacap diantar papa Echi.
Hari itu juga ditentukan tanggal pernikahan insya Allah 18 Desember 1996.
Alhamdulillah semua berjalan lancar. Tanggal 31 Des Abi berangkat ke Kupang. Aku ditinggal di Jakarta sambil mengurus proses pindah kantor. Dan setelah 3 bulan LDR-an,  Maret 1997 aku bisa menyusul abi ke sana.

Lalu mana cerita menyemai cintanya ?
Sabaaar yaaa ...kuceritakan itu semua supaya terbayang situasi dan kondisinya. Bahwa cinta itu ternyata bisa ditanam dan disemaikan  *macam biji ajah
Jadi apa doooong resep atau rahasia menyemai cinta itu ?

1. Ta'aruf lebih dalam melalui komunikasi yang intens. Tak kenal maka tak sayang ta'aruf. Hari-hari, bulan-bulan bahkan tahun pertama di Kupang, aku masih bercucuran air mata. Bisa dibilang ini adalah masa perkenalan yang sebenarnya. Karena 12 hari pertama setelah menikah dan sebelum Abi kembali ke Kupang itu cuma hari bersenang senang. Yang kami lakukan dalam proses perkenalan ini adalah saling membuka diri.. mengungkapkan apa yang disukai dan tidak disukai. Mengungkapkan keinginan dan mimpi- mimpi tentang sebuah kekuarga juga tentu saja bercerita tentang masa kecil . Saling mempelajari masa lalu akan memudahkan kita memahami kebiasaan pasangan di saat ini. Memang selama 3 bulanLDR an banyak diungkap lewat surat dan telepon. Tapi komunikasinya belum seintens setelah bertemu dan berkumpul langsung.

2. Saling memberi hadiah.
Tahaddu tahabbu. Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai. Itu adalah pesan Rasul saw. Dari hadiah kecil sampai hadiah besar. Dari hadiah bernilai sampai hadiah yang tak ternilai harganya semacam perhatian. atau ciuman selamat pagi /malam di kening pasangan.

3. Melakukan aneka aktivitas bersama. Waiting traisen because kulinten ..Pepatah Jawa witing tresna jalaran saka kulina (awal cinta karena berawal dari kebiaaan) itu ternyata benar adanya. Aku yang masih cuti sebulan banyak belajar mengerjakan pekerjaan rumah. Belanja ke pasar berdua. Makan berdua. Tidur berdua. yaeyalah... Kalau aku mencuci Abi membantu menjemurnya. Kebetulan di komplek kami air PAM mengalir 3 hari sekali, itupun keciiiil sekali sehingga enggak naik ke bak mandi. Maka kamipun kerja sama nampungin air. Kadang di pagi yang cerah atau di senja yang indah (cieeee puitis kali) kami ke pantai yang cuma tinggal nyebrang jalan depan komplek. Duduk duduk sambil ngobrol, jalan jalan di pasir sambil sambil pegangan tangan layaknya orang pacaran . Yaeyalah emang lagi pacaran. Pacaran ba'da nikah kata Ustadz Salim A Fillah, atau ATM  kata Ippho . Amati-taaruf-menikah. Kalau lagi males keluar rumah karena cuaca di Kupang memang sangat panas, kami duduk-duduk saja di rumah sambil baca buku dan saling merayu. Kamipun sering shalat berjamaah dan saling mrnyimak bacaan Al Qur'an
Dari aktivitas bersama inilah tumbuh kebiasaan tumbuh kesepahaman, akhirnya saling membantu dan saling menopang.

4. Saling mendoakan. Doa adalah kekuatan yang tak terkira. Doa pun dapat merubah takdir. Maka kamipun saling mendoakan. Mendoakan segala kebaikan untuk orang yang kita cintai. Karena kami menikah dalam rangka mencintai Allah dan untuk menyempurnakan ibadah pada-Nya, kamipun  selalu membaca doanya orang orang yang bersatu di jalan Allah. Sambil berdoa sambil membayangkan wajah orang yang didoakan. Antara lain adalah dengan membaca doa rabithah. Rabithah artinya ikatan. Agar selamanya, ikatan cinta pada ALlah dan ikatan Islam-lah yang menyatukan kami berdua.
Doa dicopy dari sini

artinya :
"Yaa Allah, sesungguhnya Engkau maha mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul dalam cinta kepada-Mu, bertemu dalam keta'atan pada-Mu, bersatu dalam rangka menyeru (di jalan)-Mu, dan berjanji setia untuk membela syari'at-Mu, maka kuatkanlah ikatannya...Yaa allah, abadikanlah kasih sayangnya, tunjukilah jalan-jalannya, dan penuhilah dengan nur cahaya-Mu yang tidak akan pernah padam. Lapangkanlah dadanya dengan keutamaan iman padaMu dan keindahan tawakkal pada-Mu, hidupkanlah dengan ma'rifat-Mu, dan matikanlah dalam keadaan syahid di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan pembela. Amin. Dan Sholawat serta salam selalu tercurahkan kepada Muhammad SAW, kepada keluarganya, dan kepada sahabat-sahabatnya... Allahumma Amiin."

5. Komitmen. Kemauan yang bukan sekedarnya, tapi kemauan yang kuat untuk menumbuhkan cinta. Tidak ada kata tidak bisa. Karena bagi Allah semua mudah adanya. Dia maha membolak balik hati. Benci jadi cinta, cinta jadi benci. Mungkin setelah sekian tahun bersama nanti ada rasa jenuh, kecewa, atau perasaan negatif lainnya. Maka komitmen inilah yang akan membingkai langkah pertama dst di atas yang itu teruuus berlangsung sepanjang hayat. Taaruf jalan terus. Kita berubah.pasangan berubah. kondisi berubah. Ada anak ada perbedaan sikap. Nambah harta atau kurang harta, semua bisa merubah seseorang. Maka kita harus teruus belajar mengenali pasangan.Saling memberi hadiah atau memberikan ucapan selamat atas keberhasilannya (tahniah), menjaga waktu-waktu istimewa berdua, dan saling mendoakan harus terus dilakukan sampai akhir hayat nanti.

Nah, teman teman, itulah yang kulakukan untuk menyemai cinta dalam pengalamanku selama hampir 17 tahun meniti bahtera rumah tangga, menikah dengan orang yang baru dikenal dan alhamdulillah sampai hari ini Allah masih menjaga ikatan kami berdua dan mengaruniai kami dengan 5 anak yang semoga menjadi anak sholeh dan shalihah. Dan berharap, semoga kebersamaan kami ini, kekal dunia dan akhirat. Amiiin.



60 komentar:

  1. Mbak Indah sekali perjalanannya , saya juga ingin anak-anak begini pergaulan dengan pernikahannya kelak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Hana.. alhamdulillah. Rizqu minallah. Semoga Allah mudahkan mbak hana mencapai keinginan/ cita cita tsb. Amiin

      Hapus
  2. mbak titiiiii.... *peluk*
    aku terharuuu....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tykaaaaa ... * peluk juga * aku kok yo dadi melu melu to...

      Hapus
  3. Waaah...Mbaktiti romantis sekali...... :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Tituuuuk... ayo ikutan. ...

      Hapus
    2. Langsung minder baca ceritanya mbak Titi..... mikir2 lagi deh mau ikutan hehe..

      Hapus
    3. hayaaah.... ayolah... mumpung masih ada waktu. Setiap cerita punya gaya dan daya tariknya sendiri

      Hapus
  4. waw... udah 17 tahun.... bisa minta ilmu langgeng nih... :) he2

    Salam kenal mbak.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hampiiiiirrr.... insya Allah Desember nantiiii. Rahasianya sudah dibagi di atas. Salam kenal kembalii

      Hapus
  5. motivasi banget nich buat aku.....,, moga selamanya ya, mbak...aamiin..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiiiin.. terima kasiih. Alhamdulillah bila bermanfaat.

      Hapus
  6. subhanallah.....moga samara senantiasa ya mba:)

    BalasHapus
  7. Mbak Titi, hati saya berdebar membaca semaian cinta keluargamu. Indah sekali mbak. Ada catatan-catatan yang saya buat ketika membacanya. Terima kasih berkenan membaginya untuk GA ini.

    Sudah tercatat sebagai peserta ya mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillaah..makasih ya mbak Niken. Hanya berbagi, barangkali masih banyak yang belum terbayang bagaimana proses menikah melalui ta'aruf. Semoga bisa menyumbang warna untuk pelangi GA mbak Niken

      Hapus
  8. semoga pernikahannya langgeng ya mbak...jodoh emang sudah diatur

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiiiin. Terima kasih. Begitulah... saya juga percaya jodoh sudah diatur oleh-Nya

      Hapus
  9. indah sekali perjalanan menyemai cinta dalam keluarga mbak
    semoga rumah tangganya selalu bahagia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillaah... amiiiin... terima kasih atas doanya, Lisa. Semoga demikian juga dengan keluargamu

      Hapus
  10. Mak, merinding bacanya. Indah sekali Mak Titi menuliskannya :')

    Semoga menang ya, Mak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi Mak Sari bisa aja. Jadi kesandung nih. Makasih dukungannya. Ikutan juga GA ini ? *merasa bersalah jarang bewe* semoga lactASI mak Sari jg menang :D

      Hapus
  11. 17 tahun? Subhanallah. Aku baca ini sambil denger lagu "Cobalah Mengerti" Momo Geisha, rangkaian kata yang aku bayangkan dengan suasananya, praktis bikin airmata ngembeng... :(
    Semoga selalu Sakinah Mawakhdah Warokhmah ya, mak *hug

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduuuh.. ada MakPon sidak hihihi... terima kasih udah mampiir.
      Iya nih tahun ini insya Allah genap 17 tahun. *kebongkar umur deh. Begitulah Mak. Airmata suka dan duka sudah menyuburkanya. Terima kasih doanya. Semoga dirimu juga ya... meski LDR-an, tetap Allah mudahkan menuju keluarga Samara. jamannya udah berubah. Gak kayak jaman aku dulu pake surat2an . Telponan pun nunggu diskonan interlokal. hihi

      Hapus
  12. Subhanallah.... Speechless bacanya mbak.
    Jika Allah Sudah berkehendak tidak ada yang tidak mungkin..

    Yaaa muqollibal quluub tsabbit quluubana aladdiiinik wataa atiq aminnn...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Subhanallah, walhamdulillah, walillahilhamd.
      Betul Mas. Itulah keyakinan kami juga, insya Allah.

      Semoga Allah teguhkan hati kita semua di jalan kebenaran dan ketakwaan. Amiin

      Hapus
  13. Pacarannya sesudah menikah aja ya mbak, lebih indah dan halal :)

    BalasHapus
  14. subhanallah!
    Moga2 berjodoh dunia akhirat ya, mbak...
    Ngakak liat fotonya. Momennya lucuuuu...! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. amiin.. semoga dirimu juga ya ...
      Hihi soal foto itu aku juga baru nyadar pas posting kemarin, soalnya aku biasa crop setengah badan. Eh, pas ditampilkan seluruhnya...x_x
      keliatan banget yah, masih malu malunya.

      Hapus
  15. sECARA gars besar, proses menuju pernkahannya sama dengan saya: lewt jalur ta'aruf dan dalam hitungan bulan. Jika keluarga saya gak pakai hitung-hitungan weton [hr lahir], maka rencana kami dalam 1 bulan stlh khitbah kmd Ijab. Dan saya pun milih manggil suami dengan Abi deh..

    #g'luck kontesnya ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Toosss dong Mbak Ririe.
      #dirimu ikut kontesnya juga kah ?

      Hapus
  16. sangat menginspirasi :) nice (y)

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih.. alhamdulillah bila bermanfaat

      Hapus
  17. Salam kenal mb Titi... Waaah asyik banget baca kisah cintanya ^_^ Alhamdulillah saya juga termasuk yang pacaran setelah nikah... dan setuju memang lebih indah mbak...
    Btw, barakallah tuk milad pernikahannya yang sudah hampir 17 tahun ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ikaa... salam kenal kembali. Maafkan kalau aku nanti jarang silaturrahim. *hihi pengakuan dosa duluan*
      Barakallah ya... untukmu dan keluargamu juga. Semoga jadi keluarga samarada

      Hapus
    2. amien ya rabbal 'alamien

      Hapus
  18. 17 tahun? duh...semoga bisa mencapai angka itu nanti. Semoga bahagia selalu ya Teh *ketjup*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Orin. Jangan tambahkan sama usia berapa aku menikah ya.. haha... Insya Allah Orin akan mencapai angka itu dan seterusnya. Semoga bahagia juga dirimu *ketjupbalik3x*

      Hapus
  19. mbaaaaaak, sudah mendengar berkali kali but I alwaaaaaaays love to be reminded again *peluk Mbak Titi* dan sungkem Mas Fajar hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sondaaaaaaaaanggg..... tengkyu untuk telingamu yang selalu tersedia untukku *peluk baliiik* salam buat The Tambas yang lain *hihi orang tua mah gak perlu sungkem ke anak muda*

      Hapus
  20. datang berkunjung....
    waduh... indah sekali jalinannya..., kayaknya pengen langsung praktek dah.... jiagagagagaga....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mas ridawan... silakaaan.....
      Terima kasih sudah hadir di sini. Saya doakan semoga dapat dipraktekkan dalam waktu yang tidak terlalu lama... :)

      Hapus
  21. Selamat, mbak Titi. Artikel ini termasuk sebagai pemenang GA Menyemai Cinta.

    http://forgiveaway.blogspot.com/2013/07/pemenang-ga-menyemai-cinta.html

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah... hadiah sudah sampai Mbak....

      Hapus
  22. Waaa... terharu sekali baca artikel ini.
    Bismillah semoga sayapun bisa membina rumah tangga yang bahagia lahir batin dunia akhirat. amiiiin Demikian juga mba Titi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga bermanfaat ya....
      Doanya sama sama kita aminkan

      Hapus
  23. hmmm kapa aq taaruf ya... ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya Allah ... akan tiba saatnya. Persiapannya aja ya... dimantapkan *soktuwaginih

      Hapus
  24. Ternyata mbak Titi menaang..... (sudah kuduga, ini verry verry touching)
    Selamat ya mbaaaak... ditunggu syukurannya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasiiih.....
      Syukurannya bukber di rumah masing masing :D

      Hapus
  25. Assalamu'ailkum wr. wb. Pakabar mbak ? mudah-mudahan baik ya, kangen nih mbak dah lama gak bertemu...

    BalasHapus
  26. sukaaaa banget bacanya...membayangkan mba Titi jalan2 dipantai sama kang mas nya serasa habis nonton sinetron....

    BalasHapus
    Balasan
    1. qiqiqiqi... harusnya itu disensor, biar nggak ada yang membayangkan seperti ini

      Hapus
  27. bongkar2 blogmu trus nemu kisah ini... maknyuuuus... jadi pengen pulang trus pelukin tuan besar...

    bahagia selalu ya mbaaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaaaamin... Makasih Eda...mari kita jaga selalu cinta milik kitaaa

      Hapus
    2. Aaaaamin... Makasih Eda...mari kita jaga selalu cinta milik kitaaa

      Hapus
  28. Samawa ya mbak.. mohon bantu doakan ikhtiarku untuk ikut menutup diri bagi yang bukan seharusnya memilikiku, dan sempurna d hadapan suamiku nanti.. artikelmu keren mbak. Romantis. Memotivasi sekali..๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜ƒ

    BalasHapus
  29. mmm terharu aku bacanya, aku yang belum menikah membayangkan bisa bertemu jodoh yang pas tanpa pacaran. saat ini saya lagi menahan diri untuk tidak pacaran, cuman subhanallah sekali godaan nya begitu banyak.saya yang tidak punya pacar dan lagi tidak punya orang yang disukai kadang-kadang merasa galau, bt, jenuh tapi saya selalu bertekad lagi untuk tetep happy dengan hijrah saya. cuman peasaan khawatir dan galau itu suka balik lagi, balik lagi bagaimana ya mbak mengatasi nya?

    BalasHapus

Silakan Tinggalkan Kesan