Selasa, 09 Juli 2013

H2C

Kayaknya kesibukan sebagai pengacara baru   masih agak tersisih dengan kondisi ini termasuk kehebohan Faiz untuk belajar sekolah di At-Takwa yang Sabtu kemarin memasuki hari keempat alias pertemuan terakhir sebelum dia sekolah beneran di sana.
Apa sih yang sampai segitunya membuat harap harap cemas ?
Apalagi kalau bukan pendaftaran anak sekolah.

Syukurlah ya... sejak beberapa tahun terakhir ini, hasil seleksi masuk SMP, SMA (hihi di situs PPDB istilahnya masih SMA) dan SMK Negeri di kota Bandung dapat dilihat secara online. Dari mulai data pendaftar sampai rekapitulasinya ada. Kita bisa tahu berapa passing grade atau gampangnya nilai terkecil agar dapat diterima di sekolah yang kita tuju. Lumayan membantu walaupun tentu saja itu sampai pendaftaran sehari sebelumnya. Jangan sampai gara-gara tidak memperhitungkan passing grade ini anak-anak tidak berhasil masuk sekolah negeri ( dan dekat rumah).  Kenapa sekolah negeri ?Simpelnya ini pilihan keluarga. Dengan berbagai pertimbangan tentu saja. Keluarga lain punya pilihannya masing-masing.

Dengan nilai UN yang didapat mbak, alhamdulillah kami lebih tenang. Pilihan pertama dia SMA 24 di klaster 1 dan pilihan keduanya SMA 23 di klaster 3. Kalaupun dia enggak diterima di pilihan pertama, insya Allah bakal masuk di pilihan kedua. Hasil pantauan melalui PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) online Kota Bandung, sejak hari apa itu dia mendaftar, posisinya masih aman di pilihan pertama.

Tapi dengan nilai yang didapat Ayuk, rupanya ini menjadi pengalaman baru bagi kami sekeluarga.
Bukannya tidak menghargai hasil jerih payahnya, tapi hendak mengajarkan bahwa di dunia ini selain kita berjuang melawan sisi negatif diri kita, kita juga berlomba dan bersaing dengan orang lain. Berlomba-lomba dalam kebaikan.
Sedih pas melihat di hari ketiga Ayuk sudah kehilangan pilihan pertamanya di SMP 17. Kamipun membujuk agar dia mau ke SMP 50 yang ibaratnya tinggal ngesot saking dekatnya. Awalnya dia enggak mau karena deket banget sama rumah. Eh pas dia udah mau, ternyata di hari berikutnya nilai dia udah lewat juga. Ayuk mulai menangis diam diam. Setiap ditanya geleng kepala. Pilihan pertama berubah lagi ke SMP 49. Ternyata di hari kelima, lewat pula. Pas Jumat malam itu tinggal 2  SMP Negeri -agak dekat dari rumah-  yang masih memungkinkan nilai Ayuk masuk. Satunya SMP 22 di jalan Supratman, satu lagi  SMP 20 di Kosambi. Udah jauh dari rumah kalau ukuran Abi.
Sabtu, hari terakhir pendaftaran, bismillah memilih SMP 22 di pilihan pertama dan MTs Negeri 2 di Cicaheum sebagai pilihan kedua.
Abi sempat cemas ketika Sabtu menjelang maghrib belum ada nama Ayuk di sekolah manapun. Aku menghibur mungkin masih proses input data. Alhamdulillah habis isya sudah ada nama Ayuk diterima di MTsN 2.
Dan benar saja karena salah perhitungan passing grade, ada teman Ayuk yang akhirnya tidak diterima di SMP manapun. :(
Ayuk kelihatan belum lega diterima di madrasah. Masih terlihat melamun diam diam dan menangis sembunyi sembunyi.  Dia ingin sekolah umum seperti kedua kakaknya. Setelah Abi memberikan pemahaman, bahwa ini bagian dari keputusan Allah, bahwa Allah berikan yang terbaik buat kita, Allah berikan sesuai yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan, terlihat Ayuk lebih legowo. Pas hari Minggu siang Ayuk diajak Abi melihat calon sekolahnya, dia langsung jatuh cinta.
Dan Senin ketika dia menerima surat resmi tanda diterima melalui guru At Takwa -karena ndaftarnya kolektif - dia sudah tertawa tawa dan berani menunjukkan foto foto sekolah barunya. Apalagi ketika diberitahu bahwa MTsN 2 adalah madrasah tsanawiyah percontohan dia makin bangga. Kepala At Takwa secara khusus berpesan agar Ayuk menjaga nama baik  AtTakwa karena alumninya sudah dikenal di sana.
Yah satu pelajaran baru sudah dilalui kami sekeluarga. Benar kata Ayuk, hidup itu tak semulus paha cherybelle.

8 komentar:

  1. Ayuuuuuk *peluk dulu lah, udah gede aja diaaaaa*
    Selamat bersekolah di sekolah baru, ya. Katya-kata abi bener tuh, Yuk
    Mbak soal bersaing ini aku juga lagi menyamakan suara sama Edi. Aku *yg kompetitif dan merasa ini sangat mengganggu* kan pengen krucils tak usahlah kompetitif, nikmati aja kehidupannya, dan semakin berusaha lebih baik dari dirinya aja (nggak usah bandingin dengan orang lain). Tapi kalo kebablasan bikin jadi santai kayak di pantai kali ya *masih bingung, ah sudahlah dilakukan sambil didoakan saja*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa... peluk juga.
      Terima kasih ya Tante... belum ketemu lagi dengan tante Sondang.
      Yah memang susah susah gampang menumbuhkan jiwa pejuang ini Mak.
      Walaupun kalau bicara data ya, yang diterima di SMA 24 itu tetep aja banyakan anak anak dari SMP klaster 1. Mungkin suasana belajar yang kompetitif itu ngaruh juga ke cara belajar anak-anak.
      Klo Abi memang memilih jalur umum dan biasa karena nanti anak-anak juga mau kuliah di jalur umum. Jadi lurus aja smp negeri-sma negeri-ptn negeri.

      Hapus
  2. Semangat Ayuk! Anakku waktu baru pindah juga gak diterima dimana-mana di Pekanbaru kok mak, alasannya di umur tp kulihat yg lbh muda diterima. Akhirnya masuk sekolah seadanya dg akreditasi B smp sekarang dg fasilitas alakadarnya krn sekolah negeri gratisan. Eh 2th ini sekolahnya selalu juara 1 UN kodya krn kekompakan guru-murid. Insya Allah, mak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Mak Lusi. Kemarin juga Abi kasih tau Ayuk gimana kitanya aja belajar di sekolah manapun.
      Hihi ini anak anakku juga pada sekolah di smp gratisan.
      Nah kalau guru dan murid udah kompak gitu enak ya... kita orang tua / wali murid tinggal mendukung.

      Hapus
  3. Alhamdulillah, mudah-mudahan Ayuk cepat enjoy di sekolah yang baru. Selalu ada hikmah di balik semua yang kita alami ya mbak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiiiiin..... terima kasih mbak. Semoga dapat segera tersingkap hikmahnya. Agar semakin lega menjalani.

      Hapus
  4. hidup itu nggak semulus paha cherrybelle.. hahaha... bisaaa, aja..!
    Cemungudhhh ya, Ayuuukkk..! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyah.. itu istilah yang dia dapat dari Anggun, katanya.
      ya paling tidak kata-kata itu sudah mengajarkan padanya tentang roda kehidupan yang terus berputar

      Hapus

Silakan Tinggalkan Kesan