Sabtu, 13 Juli 2013

Pilihan Keluarga

Membaca postingan Baginda Ratu "done that been there" (maaf hese ngelink-na)  langsung deh ya keinget mau nyambung postingan aku yang lalu yaitu H2C.
Pas di paragraf tentang kenapa aku pilih sekolah lanjutan negeri, aku cuma kasih alasan simpel, ini pilihan keluarga.
Kalau dibuka diskusi tentang alasan memilih sekolah, pastilah akan panjang dan sulit untuk menemukan kata sepakat. Karena masing-masing orang tua punya alasan dan pertimbangan masing-masing ketika menentukan sekolah anaknya.

Pernah ada yang bertanya, emang gak mempertimbangkan sekolah swasta ? Aku cuma senyum. Dan akhirnya kemarin ada yang nanya beneran sama aku, pas kubilang Ayuk akhirnya masuk madrasah tsanawiyah negeri. Pertanyaannya berasa nodong. Apa akunya yang sensi yah... "Kenapa enggak disekolahin di madrasah xxx ?"  ( sambil menyebut madrasah swasta di mana banyak temen-temenku  yang anaknya sekolah di sana).Terus terang saja madrasah tsanawiyah negeri itu memang bukan pilihan pertama Ayuk - dan kami juga. Pilihan pertamanya adalah SMP umum. Beda ya, kalau SMP itu ada di bawah Diknas kalau madrasah ada di bawah Kemenag. Dari pelajaran juga berbeda, di madrasah pasti nanti akan ketemu lagi pelajaran fiqh, bahasa arab, hadits, dsb.seperti yang pernah Ayuk dapatkan di Madrasah Ibtidaiyah At-takwa Jadi ya kalau mau disandingkan atau dibandingkan pasti akan berbeda. Ya yang harus ridho Ayuk masuk madrasah bukan cuma anaknya, tapi juga orang tuanya. Itu yang terbaik yang dapat diraih Ayuk. Di luar kenyataan bahwa madrasah tsb madrasah percontohan ya... itu berlaku hanya sesama madrasah. Tidak dapat dibandingkan dengan SMP. Meski sama-sama negeri.

Nah jadi apa dong alasannya kenapa kami memilih SMP Negeri ?
Pertama : anak-anak kami, sejauh ini masih diarahkan untuk menempuh jalur pendidikan umum SD-SMP-SLA-PT minimal S1 ( bukan pendidikan agama). Adapun dia menjadi sholeh, menjadi penghafal Al Qur'an, faham ilmu agama, peduli pada sesama, (amiin) dsb itu adalah semacam life skill yang harus melekat dalam dirinya mau apapun profesi dia kelak. Kecuali memang anak kelihatan ada kecenderungan mau mendalami ilmu agama secara profesional.

Kedua: Jalur pendidikan umum ini pesaing terbanyak adalah dari sekolah umum. Standar yang dipakai adalah standar umum. Bukan keahlian khusus lain yang dia miliki. Kecuali sudah benar- benar istimewa mungkin dapat masuk melalui jalur prestasi. Katakan sekarang yang dipakai adalah nilai UN. Berarti nilai UN anak harus dapat mengungguli pesaing-pesaing lainnya. Dan statistik menunjukkan sekolah negeri lah yang paling banyak mengisi  jalur ini. Wabil khusus, smp klaster satu paling banyak memasok murid untuk sma klaster satu. Dan sepertinya itu juga berlaku untuk perguruan tinggi negeri.

Ketiga: Kami ingin anak-anak tumbuh dan menjadi kuat di 'dunia nyata'. Mereka akan hidup di masyarakat yang aneka ragam kelak. Sekolah umum adalah miniatur masyarakat. Dari keluarga mana anak berasal akan kelihatan di sekolah umum.  Kami ingin anak-anak belajar bahwa dunia ini warna warni. Nilai-nilai apa yang dianut sebuah keluarga sedikit banyak akan tergambar di diri anak. Ya misalnya kalau anak nilai UN nya kecil terus bapak ibunya bilang nanti kita beli kunci jawaban saja/nanti beli kursi aja di sekolah anu, atau nanti pindah aja ke sekolah klaster satu, maka anak belajar menghalalkan segala cara dan menggampangkan masalah. Nggak ada semangat juang.

Keempat: ini yang paling berat. Melepaskan anak dari 'karantina' dan proteksi. Kalau dia sekolah di 'sekolah komunitas' yang gurunya baik-baik, sopan-sopan, suasana sekolah religius, dan anak tumbuh jadi sopan dan religius ya itu wajarlah. Tapi bagaimana nanti ? Mau sampai kapan kami sanggup memproteksi?  Enggak tau kapan ajal datang, kapan rejeki diputuskan. Sudah jadi tugas orang tualah memberikan 'imunitas', menanamkan nilai-nilai dasar dari rumah sejak anak- anak lahir,  agar di manapun anak tumbuh besar, dia tetap berpegang teguh pada nilai-nilai dasar tersebut. Dan menurut kami, makin cepat dia  'praktek' insya allah makin baik hasilnya. Meskipun terus terang saja sampai saat ini kami pun masih tetap berjuang menjaga shalat anak-anak, menjaga hafalan, akhlak dsb karena godaan keburukan itu memang jauh lebih mudah untuk diikuti.

Kelima : (tambahan) alasan biaya. Untuk sekolah negeri gratis aja banyak biaya lain yang harus dikeluarkan. Minimal transport tiap hari dan printilan lain. Uang fotocopy, buku, praktik ini itu, dsb. Realistis aja, ini bapak ibunya pns biasa -bukan pejabat- yang penerimaannya bisa dihitung bahkan sebelum gaji diterima. Belum lagi dipotong cicilan rumah. Kami tidak sanggup menyekolahkan di swasta dengan biaya mahal pleus 'biaya sosial' tinggi - ini kudapat dari temenku yang ngajar di smp swasta favorit- tidak mudah menjaga anak di tengah gempuran gaya hidup konsumerisme. Klo di sekolah negeri setidaknya latar belakang sosial ekonominya juga lebih heterogen .

Ya demikianlah teman teman. Kenapa saya dan suami tetap memilih sekolah negeri untuk anak-anak. Dan itupun harus dekat dari rumah. No macet. No mahal di transport. Maksimal maghrib udah pulang lengkap udah selesai eskul/bimbel. Dan mohon maaf kalau kita dalam hal ini kita harus sepakat untuk tidak sepakat.

12 komentar:

  1. Anakku malah gak mau sekolah negri mbak... entah kenapa.
    Kalo ditanya sih jawabannya pengin sekolah yang seragamnya beda, hahaha... bukan jawaban banget yaa.....
    Gak tau nih kalo SMA kelak.. mau atau gak. Si kakak kayanya masih ragu-ragu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yah itulah anak anak mbak.... masih perlu bantuan ketegasan dari orang tua untuk memutuskan

      Hapus
  2. aku setuju tuh di bagian: 'mencari sekolah yg dekat dgn rumah' :D #pengalamanpribadi #agree2disagree #kenapajadipakehashtag #yabiarasikaja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi... Tyka emang asiiik mau dihestek atau enggak.
      Sama ni Tyk, bagian dekat rumah. Klo aku dulu tinggal di kampung, smp terdekat di lain kecamatan. SMA juga musti ke kota kabupaten dan kost

      Hapus
  3. Mbak yang ketiga dan keempat juga jadi wacana kami untuk krucils pas SMP nanti. Meski gak ke negeri doang pilihannya, tapi ke swasta yang umum. Kalo SD masih belum berani ke negeri hahahaha dengan banyak pertimbangan juga tentunya. Tapi kalo SMP ke atas, negeri is an option banget mbak
    pengen ngikutin Tyke pake hastag tapibingung cari keyword

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa.... TK dan SD anak anakku juga masih di TK /SD jalur luar negeri, dan agak pilih pilih juga yang emang lulusannya bisa bersaing dengan sekolah umum. Dekat dan terjangkau *pentingjuga
      Lumayan lah attakwa, kemampuan anakku aja emang yang beda beda. Ini udah 3 anak lulus dari sana, masuk smp-nya klaster beda2 juga.:D

      Hapus
  4. Hampir sama mbak.. cuma tuk TK-SD aku belum berani 'melepas' anak-anakku ke sekolah umum/negeri mbak.. karena pengennya mereka juga ada dasar kuat buat yang mbak sebutkan di no 4... yah ortunya yang masih begini saja rada berat kalo dari awal harus mengawal mereka penuh... *pengalaman anak sulung TK di negeri, setahun gak ada peningkatan dari sekolah. tambah pinternya ya karena di rumah diajari...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tosss dong kita Ka....TK dan SD anak anakku jg masih luar negeri.

      Duh, berasa jleb itu yang dikau bilang ortunya gini.gini aja. Iya ya... kayaknya kita musti bikin lompatan apaaaa.... gitu ya.... Biar dipermudah dalam menjaga amanah anak ini. Terutama menanamkan nilai nilai dasar mereka.*kemudiantafakur
      Makin remaja makin berat rasanya.

      Hapus
    2. Betul mbak... memang harus bikin apa gitu.. walau dikata ujian kita tidak mungkin melebihi kemampuan kita, tapi kan pengennya dapat nilai maksimal ya.. bukan sekedar lulus, hiks.. thanks for sharing

      Hapus
    3. Iyah setuju, kemarin baca TL ustadz Yusuf Mansur katanya klo untuk kebaikan mah kita kudu maksain. Nanti badan kita menyesuaikan dengan aktifitas kita. Jleb banget nih.

      Hapus
  5. untuk sementara ini, aku berkebalikan sama mbak Titi, dongg...
    cari sekolah anak2 JUSTRU yang paling deket sama kantor.. hahaha... *nasib nggak punya ART* :D
    Buatku sih, mau nyekolahin anak dimana ini murni hak orangtua ya, mbak. Orang lain nggak perlu lah, komen macem2. Wong kalo ada apa2 yg repot orangtuanya, kok.. hihihi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Klo aku di posisi dirimu pasti jg milih hal yang sama. Gampang playonane kalo ada perlu apa. Maunya sing ya dekat kantor, ya dekat rumah, asyik ya #kode . Maunya kantor dekat rumah hahaha
      *itu dia Mak, aku setuju sekali dengan quote mu itu. Yg direpotin pasti ortunya. Bukan orang lain

      Hapus

Silakan Tinggalkan Kesan