Sabtu, 28 September 2013

Di Ultah Faiz

Di hari ulang tahun Faiz :
* Abi membelikan mainan kereta-keretaan. Pake batere. Padahal baru abis lebaran kemarin Abi beliin Faiz mobil remot. Tumbeeeeen.....perasaan jaman Fikri dulu gak sering-sering amat dibeliin mainan. Sampai si Ayuk protes : iiih ... enak Faiz iih.. dapat mainan teruuss... Umminya dengan santai cuma bilang : rejeki tiap orang beda-beda, sudah Allah tentukan sejak dia masih di perut ibunya.

* Kyai Fikri kasih bola bergambar bendera berbagai negara. Faiz gembira karena bisa memilih tim favoritnya.

* Ada yang ngirim kueeeeee..... si choco devil dari toko yang dekat di mata jauh di kantong. Gretooongg.... tengkyu Mak, semoga wabah bokek never menjangkitimu lagi. Seberapapun pengeluaranmu untuk kebaikan, semoga Dia ganti dengan jumlah berkelipatan.

* Abi enggak jemput karena piket sampai malam, eh teh Sri mengantarku sampai rumaah.

* Pas lihat aku datang bawa kue, Faiz teriak "alhamdulillaaaah...." sambil lari menyongsong. Pas aku simpan di meja pleus figurin powe ranger-nya, dia gembira sampai naik kursi dan naik meja makan. Aku yang kaget bilang 'sabaar' tapi terlalu keras volumenya sampai si Faiz kaget juga dan mengkeret.

* langsung si power ranger di pasang tanpa mempedulikan estetika, eh salah, dipasang sesuai selera Faiz, biar aja enggak matching dekorasinya yang penting anak gembira dan bahagia.

* setelah anak-anak tenang dan selesai dengan excited-nya, baru aku shalat maghrib. Faiz pesan jangan lupa selesai sholat langsung berdoa. Pas kutanyain Faiz mau doa apa ? Katanya doa supaya tetap menjaga kesehatan. (Iya naak, sehat jasmani, sehat ruhani, sehat ekonomi, aaamiiiinn).

* meski Abi telpon boleh potong kue duluan, Faiz tetep bilang mau nunggu Abi. Walaupun akhirnya ketiduran gegara gak tidur siang. Walhasil, pas potong kue dia cuma on sebentar.

* habis potong kue, bukannya nyicip kuenya malah asyik mainin figurin. Langsung dicuci dan dikeringin, trus udah ngajak tidur lagi sambil bawa figurin figurin itu ke kamarnya.

* oke  deh Naaak... terserah kamu aja menikmati hari ini bagaiman caranya, selamat ulang tahun, semoga keberkahan selalu Allah curahkan untuk semua ilmu dan amalmu, dan segala doa kebaikan terkumpul di dirimu. Amiiin.

Here's the birthday boy (pinjem istilah Sondang). Dan no balita lagi di rumah ini. Bye bye posyandu....... *siap-siap nyalon bu RT hahahaha

Soal Rejeki

Biar aja dibilang konservatif atau enggak masuk akal, atau malah sotoy . .... aku ini termasuk yang enggak percaya sepenuhnya sama aneka financial clinic, nasehat keuangan atau apalah istilahnya. Kubaca siih.. bukunya, kufollow juga beberapa twitter mereka, tapi ya sekedar tau aja hehehe dijalanin sebagian. Sebagian kutinggalkan karena enggak memungkinkan buat keadaanku saat ini.

Terus terang, aku masih percaya nasehat orang tua jaman dulu bahwa setiap anak ada rejekinya masing-masing. Orang tua cuma wajib ikhtiar kanggo lantaran alias buat wasilah / buat numpang lewat agar si rejeki sampai ke anak. Kadang memang suka itung-itungannya muncul, namanya juga manusia. Apalagi di ujung bulan seperti ini. Manusiawi kaaan.... tapi sisi yang sering jadi tameng ini, berulang kali  kena tampar  bahwa ternyata Allah punya itung-itungan tersendiri.
Akhirnya yaa.... mau enggak mau kaaan.... ikut itungan-Nya.
Kadang tiba-tiba ada pengeluaran tak terduga dan tidak dapat ditunda. Mana tanggal tua pulak. Terus nggrundel dalam hati. Tapi jadi malu... karena sangat mudah bagi Allah untuk kasih pemasukan tak terduga juga, kan kan kan ?

Sebagai pegawai yang terikat jam kerja dan konsekwensi turunannya  (penghasilan sesuai kehadiran, kepangkatan sesuai masa kerja, dll. ) rasa-rasanya semua pintu pemasukan itu 'sudah bisa diperkirakan'.
Nah makanya ketika tiba-tiba di pagi hari kita bangun telat atau de krucils tiba-tiba berulah yang bikin kerjaan rumah tertunda, atau di  tengah perjalanan ke kantor ada sesuatu yang mungkin bisa bikin terlambat, refleks di kepala langsung berhitung.. yah... sekian persen melayang. Apalagi Bandung ini kota besar, kadang karena asyik kerja kita kita nih jadi kudet soal event yang bakal mengganggu lalu lintas esok hari. Jalan ditutuplah, dibelokinlah... dsb...
Tapi sebaliknya, kadangpun kita bagai mendapat berkah ya... ketika karena sesuatu dan lain hal dari rumah sedikit terlambat, sampai-sampai udah pasrah dengan sekian persen potongan,  ternyata sepanjang jalan lalu lintas lancar jaya. Walhasil bisa sampai kantor enggak terlambat, meski mesin presensi menunjukan 07.30.50 hehehe... belum 7.31. Slamet... slamet...
Etapi masih ada lagi lhoo.. pintu kebocoran kehadiran lain adalah lupa absen, alias lupa setor jari ke mesin finger print, udah gitu pas kita lembur pula, udah gitu pulangnya lewat pintu yang CCTV-nya mati. Lengkap kaaan ???
Atau ada lagi problem yang lebih ekatrim,  mungkin ada yang naik pangkatnya terlambat, maksudnya sudah berhak naik pangkat tapi belum disetujui, atau sudah berhak menduduki jabatan tapi belum diamanahi, atau naik gradenya terlambat seperti aku ini.
Aku menyebut semua fenomena itu sebagai bagian dari takdir. Tak ada satu kejadianpun yang menimpa satu anak manusia melainkan sudah Allah ditetapkan terjadi padanya. Justru saat ada kejadian yang menurut kita buruk inilah, saatnya 'menengok ke dalam' kata Ebiet G. Ade.

Soal kenaikan grade ini dulu pernah ada kasus di kantor lama. Ada salah satu teman yang mempertanyakan kenapa dirinya enggak naik grade. Ternyata setelah lacak sana lacak sini sampai ke kepegawaian kanwil diketahui ada nilai cukup di salah satu  periode penilaian. Dan teman ini ngotot minta nilai cukup itu diralat. Karena dia merasa sudah bekerja dengan baik. Saat itu si atasan langsung yang menilainya sudah pindah kantor. Dikejarnya ke kantor yang baru. Padahal setahuku penilaian itu melibatkan atasan langsung/kasinya dan 2 kasi lain. Mungkin saking keselnya atau apa, eh si atasan langsung ini keceplosan sama anak buahnya : enggak malu apa ngejar-ngejar dinilai baik. Udah jelas-jelas beberapa kali kepergok bilangnya masih tugas ternyata mobilnya parkir di toko bahan bangunan, jemput anak sekolahlah, dsb. (Ya maklum aja waktu itu kebetulan jalur-jalur si teman itu dilewati pula sama si atasan langsung. Jadi gak heran juga kalau sesekali bertemu bila kejadiannya berulang) Nah, kalau kejadian kayak gitu, kan malu yaa... udah ajalah... serahkan penilaian sama pihak yang berwenang. Yah kalau penilaian para beliau itu menurut kita salah, toh kita punya Sang Penilai yang tak pernah salah. Kita serahkan saja urusan ini pada-Nya.

Dan semoga Dia limpahkan 'keberkahan' atas rejeki (tidak sebatas materi ya....) yang kita dapatkan, yakni meluasnya kemanfaatan. Suami makin cinta, semua anggota keluarga sehat jadi gak perlu biaya obat, bisa membantu kirim kirim ke keluarga besar, sahabat makin dekat, amanah-amanah terselesaikan, dsb. Amiiiin....
Dapet ini dari DP mbak Yulianti (temen kantor).

Kamis, 26 September 2013

Judulnya Termehek-mehek

Bukan, bukan, ini bukan tentang suami yaaa... tapi tentang si anak laki yang bikin termehek-mehek emaknya.
Kalau kemarin cerita Faiz dengan segala tipu daya eh rayuan gombalnya yang bikin orang ketawa dan hilang marah, klo F2 ini ke -cool-annya yang kadang bikin gemes...
Mau diuyel uyel kok ya udah lebih tinggi dari Ummi, mau diciwel-ciwel gak pantes juga da udah bujangan. Kelakuannya bikin perasaan  orang tua naik turun kanan kiri jumpalitan muter sekaligus.

Kapan tau itu, dia lalai mengerjakan tugas cuci piring di malam hari. Satu hari kubiarkan. Hari kedua kubiarkan. Lagi baik nih ceritanya... Hari ketiga, muntab eh.. enggak sih.. cuma nanya.. "kapan kamu mau cuci piring, nak ?" Perasaan aku ngomong biasa aja. Ealah... moodnya F2 lagi bad kali gegara bokek #eh, dia terus marah gitu. Cuci piring sembari gubrak gabruk. Ummi yang lagi masak di sebelahnya jelas doong sakit kuping. Jadi pengen naik darah deh...
"Ya udah, kalau gak mau cuci piring, tinggalin aja... "kataku berusaha ngerem emosi jiwa.
Trus dia diem gitu, kayak marah atau apa..tapi alhamdulillah suara piringnya gak keras lagi.
Eh, entah angin entah badai mana yang membawa hatinya berubah, pas mau berangkat dia salim dan nanya :
"Ummi ridho enggak, Mi.. aku pergi.."
"Ya ridholaah...masa mau sekolah enggak ridho" jawabku sambil masih sedikit kesel
"Bener ya Mi... soalnya, kalau Ummi enggak ridho trus aku kenapa-kenapa di jalan, nanti gimana...."
Ummipun cuma melengos ngelus dada.

Malem minggu kemarin, Fikri rencana mau nginep di rumah temannya. Udah minta izin Abi dan Abi pun memberi izin. Ummi tetep, masih menyeleksi dengan menanyakan alamat di mana, nomor telepon berapa, besok pulang jam berapa dll .
Eh Sabtu maghrib, pas mau ke masjid tiba -tiba saja Abi baru ingat kalau malam itu harus menggantikan anggota tim lain untuk dinas malam. Abi memanggil Fikri dan menyampaikan keadaannya. Terserah Fikri kalau mau nginep boleh, kalau enggak jadi nginep ya enggak papa, lebih bagus lagi. Bisa nemenin Ummi dan saudara-saudaranya.
Fikri iya-iya dan kelihatan berfikir *padahalgalaukaliya...
Trus sehabis maghriban sepanjang Abi belum pulang dari masjid, Fikri duduk di kamarku. Cerita kalau rumah temannya itu mewah *ukuranFikri.
"Kamarnya gede Mi, kayak kamarku. Kamarku kan kosong, kalau kamar dia banyak isinya. Ada laptop, ada PS, banyak deh
Fasilitasnya lengkap"
"Dia anak ke berapa?"
"Anak pertama. Adiknya dua, kelas lima dan TK. Di luar kamar dia, padahal ada komputer juga lho Mi...."
"Bapaknya kerja di mana?"
"Enggak tau Mi....kalau ibunya sih kayaknya di rumah. Soalnya pas aku ke sana, Ibunya ada."
Kami diam sejenak.
(Bagian ini asli aku bersyukur sekali cuma berhenti di situ, gak pake nyinyir ini itu bin su'uzhon pleus iridengki... Bukan karena shalihah, berkah aja topik itu berhenti sebatas tanya. Aduuuh Ndaang, kalau sampai aku komen dan terpatri di benak Fikri, aaaah... menyesal deh diriku karena kata-kata tak dapat ditarik kembali dan waktupun gak bisa diputar ulang).
Trus Fikri ngomong lagi:
"Mi, kayaknya aku nggak jadi nginep aja deh. Ummi bilang ke Abi ya..."
"Ih, kamu bilang aja sendiri. Emang kenapa gak jadi? Ummi berani kok, di rumah enggak ada Abi atau kamu"
"Ya masa' Abi pergi kerja untuk urusan keluarga, malah aku pergi seneng-seneng untuk kepentinganku sendiri...."
Ummi melongo sebentar. Biar gak keliatan bengong langsung ngeles;
"Yaaah.... itu keputusanmu. Bilang aja sendiri ke Abi klo kamu gak jadi nginep"
"Iya Mi... aku kan udah bisa mikirlah Mi.... aku udah 14 tahun lhooo...."
x_x
Ummi aja masih ingat jaman Fikri 2-3 tahun kalau minum susu pasti habis segelas dan minta nambah lagi nambah lagi.

Senin, 23 September 2013

Bokek Bokek Bahagia

Sebelumnya minta maaf, postingan sebelum ini kumasukin draft lagi karena khawatir menimbulkan efek negatif yang sebelumnya tak kuduga. Padahal udah think before posting, tapi ternyata pikiranku cupet. Xixixi... ya sudahlah.. memang aku lemot kok, syukurlah agak kreatif dikit.

Nah, mengiringi hari hari September yang tidak terlalu ceria karena akupun terjangkit wabah bokek, ternyata Allah punya penghiburan tersendiri bagi emak bokek sepertiku. Ini bokeknya bukan saja efek lebaran, tapi juga akibat libur panjang dua bulan kemarin, puncaknya di September ini.
Mari menarik nafas panjang-panjang supaya kesabaran juga makin panjang.

Di bulan September ini, ternyata  banyak hal bikin gembira yang datang bertubi-tubi. Baik yang soal duit maupun yang berimplikasi duit. Yang bikin sedih ada enggak? Adaaa... Tapi nggak perlu kaan... kuceritakan detail yang sedihnyaa ..... nanti membawa aura negatif. Kata Aa Gym, kalau kita dapat musibah/ujian, jangan cerita ke manusia, itu seperti mengadukan Sang Khaliq kepada makhluk-Nya. Jleb enggak siih???... jadi kalau lagi sedih, galau, dsb.. kembalilah kepada-Nya. *ish malah ceramah*

Apa sih kabar gembiranya ?
* setelah menunggu hampir 3 tahun, akhirnya aku naik grade.  Ada teman yang setahun, dua tahun sudah naik grade. Tadinya aku sudah pasrah soal ini. Tak ada kejadian yang terlepas dari takdir. Anggap saja ini impas-impasan sejam dua jam atau menit-menit dari jam kerja 7.30-17.00 yang aku enggak manfaatin untuk kerja. Etapi pas orang HRD-nya baru, dan kemudian nanyain nilaiku di awal Juli lalu, akupun ikhtiar. Kukumpulin semua kelengkapannya. alhamdulillah... akhirnya naik juga. Belum jadi duit, tapi akan berimplikasi duit dalam satu-dua bulan ke depan. *udahngitungrapelanbuatbayarkesiapadulu*

* ada yang beli buku Mizan.... inipun belum jadi duit. Tunggu bukunya terkirim baru dapat komisi. Etapi Allah Maha Adil, di Sygma, bulan lalu bukunya belum terkirim, tumben tumben komisi udah cair. Lumayan laah.. beras sebulan.

* Sepeda lipatku dataaaaanggg. Alhamdulillaah... Rasanya kayak apa yah..  Jebret banget pokoknya.
Ini sepeda hadiah dari Mizan seperti yang kuposting beberapa waktu lalu. Tanpa dikirimi email, tiba-tiba saja aku dapat kiriman sepeda. Lha tabletnya mana?  Enggak tau deh.
Apa pendapat teman teman atas kalimat 'nama - nama berikut ini masing-masing berhak mendapat sepeda lipat dan tablet' ?
Apakah semua mendapat sepeda dan tablet?
Ataukah ada yang mendapat sepeda dan ada yang mendapat tablet?
Soalnya temen sebelah dapatnya tablet duluan.
Yah, daripada pusing bagai mikirin soal pilihan ganda pelajaran bahasa Indonesia, mari kita bergembira naik sepeda. Putal putal Jakalta Ancol Monas, aduh aciknya belsepedaaah.... #lagujamankapantauk

* Aku terpilih mewakili kantor untuk lomba front liner tingkat kanwil.
Pas kutanya boss kenapa aku? Aku kan hanya anak SMA. Kata beliau ini berdasar masukan dari kasi-kasi lain. Kan enggak cuma ilmu aja, perilaku kepada pelanggan dan sesama pegawai juga dinilai. (Wkwkwkwk dah berasa miss-miss an aja, yang dinilai brain, beauty and behaviornya).
Berhubung Ibu boss mau dines 3 hari, di hari sebelum berangkat beliau berpesan 'pokoknya gue percaya ma elu Ti, lakukan yang terbaik.  Pesan gue cuma satu, besok pas lomba tolong PAKE BEDAK'. Gubrak enggak cobak. Lain ya... klo boss cewek maah...
Tim sukses pun menambahkan lebih banyak, jangan pake backpack, jangan lupa parfum, jangan lupa potong kuku, jangan biarkan rambut keluar dari jilbab, hahaha Baiklah kakak.... akupun make over tingkat dewa di hari ituh. Sampai sampai temen cowok  di front line ngakak- ngakak aku pakai sepatu bunyi tok tok dan menenteng tas kulit buaya imitasi hadiah dari oriflame.
Hasil tingkat kanwil gimana ? Menang ? Enggak eh belum tahun ini. Hihihi menghibur diri banget. Soalnya para finalisnya besok diundang ke rakorda dan aku gak dapat undangan.
Tapi aku tetep bahagia berkat tim sponsor tunggal yang kasih support dari sebelum pemilihan tingkat kantor, sampai support di hari H saat pelaksanaan masih nge-BBM teruussssss *peluk Sondang* .
Aku terima kok kekalahanku. Yang menang masih muda-muda, ganteng-ganteng dan cantik, lulusan diploma, pinter-pinter (iyah, bisa penempatan Jawa itu biasanya karena pinter), dan tentu saja mereka baik dan ramah serta disiplin. Presensi mereka clean.
Alhamdulillah, anggap saja aku dapat free day gak kerja sehari, berbonus dapat teman baru dan goodie bag. Berhubung kata orang HRD aku boleh enggak absen sore, habis acara aku ketemuan bentar sama Sondang dan Yayangnya  yang lagi pacaran di warung padang,  trus reunian sama temen-temen mantan se-seksi yang udah berpencaran dan aku dapat traktiran, trus lanjut kangen-kangenan sama Ika Dapurhangus di Baltos, mau ditraktir lagi tapi perutku udah full jadi cuma ngobrol aja. Puwaaass deeh. Bagaikan udah terima hadiahnya di depan.
Eh tapi dapat pelajaran berharga dari mas Doni yang terpilih jadi salah satu OB terbaik, pas aku sms kasih ucapan selamat, kata beliau,  ini adalah beban, amanah yang berat untuk menjaga perilaku ke depannya.
Oke banget kan?  Mas Doni ini OB di front line kantorku.
Toss Mas, setuju, semoga kita dapat menjaga amanah ini, tetap bekerja sebaik-baiknya dan melayani secara tulus, sebagaimana sebelum ada lomba-lombaan ini.

* bahagia berikutnya adalah ketika di hari libur aku bisa ke rumah mbak Ida tanpa attachment. Hihi.. memang sih, acaranya ngambil tong air yang Ida hibahkan. Enggak mungkin aku sambil ngebonceng F4 atau F5. Meski rencananya sebentar, tetep aja di apato Ida sempat makan berdua dan ngobrol sini sana. Lumayaaanlaah...

Tentu saja masih sangat buanyak berkat rahmat yang Allah berikan. Kita tidak dapat menghitungnya. Termasuk suami yang baik dan bertanggung jawab, anak anak yang sehat dan salih/salihat, teman-teman yang baik, baik yang di dunia nyata maupun dunia maya, tugas tugas yang terkendali -atas ijinNya- dsb. Intinya banyak jalan menuju bahagia dan mensyukurinya. (meski bokek di akhir bulan).
Soooooo.... teteup bahagia yukkk.......

Rabu, 18 September 2013

Lomba Pertama - Hadiah Pertama

Selalu ada yang pertama -katanya.
Ini tentang Faiz.
Di sekolah yang dulu... setiap ada kegiatan outing baik itu berupa lomba lomba atau sekedar jalan jalan, maka Bibi yang saking sayangnya sama Faiz dan khawatir terjadi sesuatu padanya, akan memilih tidak sekolah. Awalnya aku nggak ngeuh dengan keadaan ini, kupikir ya ... namanya sekolah masih main main, klo nggak masuk ya biarin aja.
Tapi stelah Faiz makin pinter ngomong, bisa ngapalin tanggal berdasar informasi dari bu Guru, akhirnya aku tau modus bibi ini.
Ah, tapi ya sudahlah, toh aku dah nitipin Faiz sama beliau, klo ada sesuatu yang beliau rasa enggak sanggup, kenapa aku harus maksa ??? Hehehe... damai aja deh... damaii...
Maka ketika Faiz sekolah sendiri sekarang, kami berharap dia lebih mandiri. Salah satunya adalah memberi kesempatan buat Faiz ikut kegiatan di sekolah.

Pas Agustusan kemarin, salah satu kegiatan di sekolah Faiz adalah lomba lomba. Sayang aku gak bisa ikut datang... selain gak ada undangan buat ortu dari ibu guru, juga karena aku kan baru masuk setelah cuti besar, masa mau ijin lagiiii... Aiih.. malu dooong... ( dan rasanya jadi masuk akal klo boss yang dulu membatasi ijin pegawai keluar di jam kerja maksimal hanya 2x sebulan).

Awalnya, si Faiz gak mau ikut lomba apapun. Tapi kakaknya kasih semangat, nanti dapat hadiah, bla bla bla... akhirnya Faiz mau ikut lombaaa... Dan mau tau dia lomba apa ? Lomba mindahin ikan dari satu baskom ke baskom lain. Xixixi... kebayang gelinya. Padahal setiap Faiz makan sendiri pake tangan, dia selalu membersihkan tangan setiap satu suapan.
Alhamdulillah, Faiz menang. Pulangnya bawa ikan 2 ekor pleus kotak makan hadiah dari bu Guru.
Selamaaaattt.....

Minggu, 15 September 2013

SMS Istimewa

Dua minggu lalu, waktu aku sakit flu berat pleus batuk yang sampai bikin terk*ntut-k*ntut  akhirnya aku menyerah pada dokter. Rupanya kunyit madu tidak  mempan lagi untuk mengobati sakit gegara banyak dosa ini. Akupun dikasih obat dan dokter memaksaku istirahat dua hari. *lupakan potongan demi kesehatan*
Gara-gara minum obat ini, kalau malam aku tertidur cepat. Pas malam pertama istirahat itu, aku bener-bener enggak dengar apa-apa habis isya. Termasuk lupa juga gimana Faiz tidur nantinya. Karena kebetulan malam itu Abi jadwal pengajian.
Tau-tau sekitar jam sepuluhan Ayuk ngetuk-ngetuk pintu sambil nggendong Faiz. Katanya Faiz kebangun dan nangis. Fikri yang sekamar malah tidur dengan nyenyaknya. Sementara Abi belum datang dari pengajian. Antara sadar dan tidak, aku bergeser dan memberikan ruang untuk Faiz tidur di kamarku. Beberapa waktu kemudian, ketika Abi datang menanyakan kenapa Faiz tidur di kamar kami, sambil ngantuk kujawab 'tadi udah ke atas tapi kebangun dan nangis'. Abi pun maklum.
Nah yang bikin nyeesss adalah, pagi hari ketika aku terbangun  ternyata semalam  ada SMS dari Ayuk yang enggak kebaca olehku. *Boro-boro ya... namanya juga lagi teler..
Haduuuh.... emak-emak gampang mewek inipun langsung terharu.
Akupun bersyukur semalam ngijinin Faiz gabung,  ternyata sepanjang sisa malam itu, Faiz agak demam, dan makin panas tinggi di pagi hari. Entah kenapa. Mungkin semalam pas dia nangis itu, sebenernya sudah merasa enggak enak badan. Tapi gak bisa menyampaikannya. Alhamdulillah Ayuk dengar tangisan Faiz dan membawanya turun. Akhirnya sepanjang Senin itu, ada dua orang sakit kruntelan di rumah, sementara yang lain beraktivitas.

Senin, 09 September 2013

Balada si Gembul

Kalau menyebut 'gembul' pasti yang ada di benak kita sosok paman gembul di majalah anak yang sudah ada sejak kita kanak kanak sampai sekarang sudah pada beranak.
Eh tapi ada lho.... sosok gembul yang enggak gede gede juga... siapa coba.. hehehe ya diriku sendirilah... kan enggak boleh ngomongin orang. :p

Bagiku, di dunia ini hanya ada dua kategori makanan, yaitu enak dan enak sekali. *perkecualian yang keras karena gigiku nggak lengkap lagi*
Kalau hari kerja, hasrat gembulku ini sedikit tertahan. Kenapa ? Karena aku duduk di depan,  susah laaah.. mau sambil makan ini itu, kan melayani tetamu. Nah kalau hari libur ? Itu adalah hari merdeka untuk makan.

Contohnya wiken kemarin, Jumat malam, aku siap-siapin bikin garang asem, supaya Sabtu pagi- pagi bisa cuss pergi ngaji karena ibu-ibu janjiannya jam 7 udah mulai. Malem aku kukus 1 jam. Sabtu pagi pagi aku kukus lagi setengah jam. Jadi tanek, kata Tri. Iya sih... sampai minggu siang enggak dipanasin tetep masih enak. Enggak basi. Padahal pakai santan.
Sabtu jam 6 pagi aku udah sarapan dengan si garang asem. Berusaha enggak nambah karena biasanya sehabis ngaji banyak cemal cemil. Benerkaan... Tapi nyampe rumah jam sebelasan udah berasa jam makan siang, akupun makan lagi, apalagi keliatan merasa si garang asem masih banyak. Pake nambah pula..Ya iyalah, kan si mbak, fikri dan Ayuk pada pulang sore. Jadi pada enggak makan siang di rumah. Abis makan, minum tipco gratisan yang membuatku bahagia, sangat bahagia, karena yang doyan tipco original cuma aku sama Fikri.  *cium mak Sondang*
Nah abis ashar gitu aku makan lagi.... Trus karena kasihan anak anak gak ada camilan, aku bikin bakwan aka bala bala. Makannya pake kuah cuko. Yaaah.... jadi makan lagi deh...tambah kenyang deh.... judulnya aja mbikinin anak-anak. Jadi inget cerita tetanggaku di rumah kontrakan dulu, anaknya 6, dan menjelang remaja semua. Katanya kalau bikin bala- bala musti terigu sekilo biar kebagian semua... haha.. ... jangan-jangan nanti aku juga gitu.
Tapi malemnya aku tidur cepet karena khawatir bakal makan lagi dan lagi...

Minggu pagi, jam 6, anak anak sarapan roti dan aku masih melanjutkan si garang asem. Apalagi ada cabe rawit utuhnya... Enyaaakk....
Habis sarapan baru aku berburu ayam, karena Faiz rikues ayam goreng untuk makan siang. Nah, mari kita membahas ayam goreng sekarang..... Mumpung minggu pagi sedikit lega, aku kepikir ayam goreng tradisional a la mbak Tituk. Semua bumbu ada.alhamdulillah. ayam goreng pun segera diproses. Sambil nunggu ungkepan pake api kecil aku menggosok kamar mandi. Wah... cape deh... langsung minum tipco lagi..
Dan ternyataa... si ayam goreng itu memang enak. Bahkan sebelum digorengpun sudah dicuwil cuwil sama Ayuk. Sisa bumbu ungkepnya enggak aku buang, tapi aku cemplungin nasi jadilah nasi kuning yang nikmat.
Setelah ayam digoreng, aku, Faiz dan Teteh makan bersama. Masih belum jam 12. Nambah. Faiz sampai komentar : ayam goreng urang enak ya.. ayam goreng urang enak ya.. sampai berkali kali. Untuk melengkapi kenikmatan ayam goreng aku bikin sambel dan merebus labu kecil+wortel. Syedaaap...  *Labu kecil ini aku hampir selalu 'ada sisa' karena kalau aku bikin bakwan, sayurannya si labu+wortel ini*  Yaah... jadi nambah deh.. makan siangnya. Padahal sore nanti masih ada pengajian dengan kelompok satunya. Yang kumakan  sore itu adalah kacang hijau+roti tawar dan beberapa potong bolu pisang pleus beberapa bakwan (lagi). Trus, malam makan enggak ? Makan lagi laaah.... kan aku gembul :D

Jadi, apakah di antara ibu-ibu ada yang berani gembul juga ?

Pict : yang akan ditulari ilmu gembul

Sabtu, 07 September 2013

Don't Try This at Home

Membaca postingan mak Ika tentang ojek sejati *maaf males nge-link* aku jadi inget kalau aku juga mau cerita soal motor ini.
Sama seperti bapaknya Ika yang keukeuh eh patuh terhadap aturan, bapakku juga gitu. Aku belajar naik motor pas kelas dua smea. Saat itu ketiga masku udah bisa semua. Klo gak salah motor bebek honda astrea. Pokoknya yg lagi ngetop deh saat itu. *maap klo salah seperti aku juga gak merhatiin merk dan type mobil *sungkem mbak tituk dan baginda ratu*
Aku juga lupa kenapa, atas pertimbangan apa, bapak dan ibu beli motor. Apa buat masku berangkat kerja apa ya.. eh tapi kan dia pake bis jemputan perusahaan. Lagian kan Bapak dah ada motor dinas honda tahun kapan yang bunyinya mirip moge itu... uduk..duk.duk... gitu... klo di kampungku di Cilacap sana disebut ublug. *pake g kali ya biar medhok*
Nah ... berhubung jalanan di Cilacap saat itu sudah lumayan mulus aku justru diajak Bapak ke jalan raya yang lebar tapi agak sepi. Sepi karena itu jalur bis AKDP. Kan tahun 90an masih juga kalii... ceritanya di jalur itu aku lancar. Beberapa kali berdua Bapak lancar, maka aku mulai dilepas sendiri di jalan kampung. Masih jalanan tanah, tapi keras dan rata, enggak berbatu nih Ka, enggak seperti jalan depan rumah nenekku. Nah pas dilepas ini, aku cuma muterin blok. Dan selalu aku ambil belok ke kiri, karena itu lebih mudah. Beberapa kali latihan belok kiri melulu, Bapak ngomporin aku agar aku muternya ke arah kanan aja dulu.... Dan akupun memberanikan diri mencoba. Apa yang terjadi saudara saudara ? Aku gagal dan menabrak pagar bambu+tanaman rumah depanku. Enggak jatuh sih, wong langsung dikejar sama Bapak. Tapi itu membuatku berhenti belajar, dan tak lama motorpun dijual lagi enggak tau kenapa juga.

Lalu vakum sementaun. *sementara tahun*

Ketika aku sudah menikah, tinggal di Kupang dan sudah melahirkan anak pertama, alhamdulillah kebeli tuh motor. Ya kaan tinggal di rumah dinas dan belum pake acara mudik. Si Abi mewacanakan aku belajar motor. Langkah pertama adalah belajar nuntun motor hahaha... ini serius. Untuk bisa keluar komplek, aku harus melewati jalan setapak penuh batu karang gitu. Belak belok, naik turun. Enggak jauh kook... paling sekitar 50an meter. Dan aku menyerah. Lha motor sama akunya gede motornya. *ngeles. Klo gak salah masih motor yamaha 2 tak. Soalnya Abi suka minta tolong aku lihatin itu knalpot ngebul item atau enggak. Klo hitam tanda oli perlu diganti. *ngarang* xixixi...

Lupakanlah lagi soal naik motor itu ya....
Kemudian tahun 2002 aku pindah Bandung tanpa kendaraan apapun. Setahun kemudian baru beli motor lagi karena dipikir pikir ongkos mahal, lagian anak anak juga sudah mulai sekolah. Lumayan kan ngirit ongkos jemputan pagi. Beli motor seken dan uangnya pinjem bank BRI.
Nah, merasakan perlunya motor banget itu karena tahun 2006 an lah kira kira, si Abi dinas dua minggu ke pelosok Jawa Barat yang klo mau ke sana aja kayak mudik ke Jateng, itu motor cuma diem di kamar belakang. Sementara aku tiap pagi mesti bayar uang ojek antar anak sekolah. Akhirnya sepulang Abi dinas itu aku mulai belajar motor lagi.
Kebayang olehku diajarin naik motor sama Abi tuh ya berdua dooong, nanti klo aku salah nyetangin kan Abi dari belakangku meraih stang. So sweet kaaan ?
Ternyata.... aku di minta naik motor sendiri, duduk, puter kunci, pencet starter, dikasih instruksi injak gigi yang kiri,  tarik gas, injak rem yang kanan dan silakan coba.
Alamaaaak...... *rusakdehitubayangansosweetbelajarmotor*
Awalnya takut pasti... tapi Abi bilang apa sih yang ditakuti. Belajar motor paling paling kan jatoh. Jatuh kalau parah paling paling mati. Mati udah takdir kok ditakuti. *gubraaaak*
Abi sukses mengalahkan kekhawatiranku. Akupun belajar. Muter sekali dua kali di blok. Trus pake acara mboncengin satu anak di depan. Udah sukses tambah lagi satu di belakang. Udah sukses tambah lagi stang digantungin tas bebawaan. Begitu bertahap sampai akhirnya aku berani bawa gembolan dagangan. Dan aku dapat pesan dari adikku klo di jalan kampung jangan terlalu minggir karena suka ada yang keluar tiba tiba dari mulut gang. Trus kalau di jalan besar jangan terlalu pelan, minimal 40km/jam, karena kalau kita pelan bikin kagok orang. Trus jangan jalan zigzag/pindah pindah jalur. Ternyata tips ini manfaat banget.

Pernah jatuh?
Pernah dooooong... kata orang tua dulu kalau belum jatuh berarti belum 'bisa'. Aku udah empat kali jatuh. Pertama  nabrak taneman di teras rumah kontrakan. *salahinAbi yang bikin grogi ngeliatin aku parkir motor* kedua nabrak pintu samping karena masukin motor buru buru. Ketiga kesenggol ojek di pertigaan (aku posisi berhenti mau nyebrang). Keempat jatuh  selip karena mobil depan ngerem mendadak jadi ikut ngerem dan jalanan basah. Ini aku berdua Faiz dalam gendonganku. Tapi alhamdulillaah.... dari keempat jatuh itu, akunya enggak ikut jatuh. Jadi no lecet no benturan. Tetap berdiri dan cuma motor aja yang terguling. Ya mungkin karena semuanya pas posisi pelan. Eh pernah juga ding kesenggol mobil pas puteran bypass. Ini juga pelan. Tapi itu mobil yang galau, orang mepet puteran kok enggak muter, malah lurus. Jadi kejadian ini kuabaikan saja.

Jarak terjauh yang aku tempuh?  Yang pertama enggak kuhitung. Waktu itu jaraknya dari kantor dekat BEC - rumahku di ujungberung - lanjut ke Setiabudi Regency di jl sersan bajuri - kantor lagi yang kutempuh dalam 2 jam di istirahat hari Jumat. Cuma nganter pesanan. 50 km ada gak ya... sama satu lagi ujungberung - cimahi PP. 2 jam berangkat duduk 30 menit lalu pulang 2 jam lagi. Ini mah 50km lebih karena aku cek spedometer.

Mulai naik motor berdua Faiz pas dia 7-8 bulanan. Begitu dia bisa duduk di gendongan. Jarak terjauh sama Faiz baru sekitar 10km  saja. Belum sehebat mak Vio yang kemana mana berdua Vio. Dan sampai sekarang kalau berdua Faiz aku masiih pake gendongan dia. Soalnya masih suka tidur di motor. Ngeri ? Hihi ...
Aih jangan dikira juga aku langsung berani ya... awal awal bisa, aku enggak berani muter di tengah jalan/nyebrang. Kalau mau balik musti nyari lampu merah. Kalau mau belok musti nyari barengan. Ya tapi lama lama akhirnya terbiasa juga. pokoknya begitu berangkat, kita berdoa bismillahi tawakkaltu 'alallah - Dengan nama Allah aku berserah diri pada Allah- bacanya penuh penghayatan.
Yuuuuk... cuusssss....

Jadi yang mau belajar motor, don't try this at home ya.... langsung aja on the road gituuu...

Rabu, 04 September 2013

Si Raja Gombal

Kata orang, perempuan itu suka kalau dirayu. Dan sampai setua ini, hanya ada satu laki laki  yang suka merayu dan nggombalin aku. Pertama kaget-kaget salting gitu... tapi lama lama yaaa..kebiasaan. Malah jadi kangen kalau enggak ada rayuannya, misal kalau dia sakit atau dia enggak ada di dekatku.
Pernah aku marah padanya, dengan langkah malu malu dan wajah kocak dia datang padaku
"kamu masih marah enggak sama aku ?"
"ya kamu punya salah enggak sama aku?' aku bertanya balik
"enggak" jawabanya polos. Huuuuh.... sebel ! padahal baru beberapa menit berselang dia bikin kesel.
"trus kalau aku enggak marah, kenapa gitu ?" aku menjawab ketus
"soalnya, aku mau cium dan peluk kamu"
Iiiiih.... enggak kuku.. hati siapa yang enggak luluh coba

Paling gemes kalau aku lagi balas balas bbm atau lagi uplod dagangan di grup bb, trus dia menutupkan tangannya ke mataku. Enggak sampai nempel gitu sih. Tapi tangan itu menghalangi pandanganku ke hape.
"liatin aku doong...."
dengan -sedikit-  kesel aku arahkan pandanganku padanya. Maka tangannya segera memelukku kadang pakai acara menyibakkan anak anak rambutku, dan terakhir menciumi wajahku. Kening, pipi kiri, pipi kanan, janggut, hidung. Ritualnya gitu. Musti lengkap.

Nah pas Jumat dua minggu lalu hapeku ketinggalan di kantor, aku sedikit ngahuleung gitu.. soalnya acara sabtu ahad kan biasanya padat dan perlu koordinasi. Melihatku diam gitu, dia nanya
"Kenapa ?"
"Aku sediih...."
Tanpa bertanya kenapa kenapa dia langsung merangkulku dan berkata "Jangan sedih doong, kan aku sayang kamu". Gubrak !!!
Iyaaa... tapi tetep aja kaaan... hape yang ketinggalan itu nggak akan balik dalam dua hari ini.

Banyak deeh.. momen momen lucu berdua gitu. Coba tebak, siapa sih, si Raja Gombal itu ?
Dialaah......


Faiiiizzzzz !!!!

Coba, tebakanmu bener atau salah ???

Minggu, 01 September 2013

Cerita di Balik 'Rahasia Kapten Bhirawa'

Iseng iseng nggaya sok penting sesekali boleh lah yaa.... Efek lagi sakit pusing flu dan batuk cuma baring baring di rumah karena kata dokter aku harus istirahat. Ini si bocah Faiz, ngapain juga pakai solider ikut ikutan sakit jadi enggak sekolah...... So, ada dua orang sakit berduaan di rumah nih.

Gini, mungkin teman teman ada yang tahu, akhir Agustus lalu aku dapat hadiah dari Pak Dhe Cholik karena menjadi salah satu pemenang give away beliau yaitu GA 63 untuk cerpenku yang berjudul Rahasia Kapten Bhirawa . Bukan cerpen sih, lebih tepat cerita super pendek, bikin #FF atau flash fiction dengan HANYA 63 kata saja . Susah? Susah susah gampang.
Syukur kepada Allah atas ide yang muncul tiba tiba dan begitu saja.
Ceritanya waktu itu aku lagi mengulang kembali hafalanku surat Al Mulk.
Pas sampai di ayat 23 yang artinya : "katakanlah : Dialah yang menciptakan kamu dan menjadikan pendengaran, penglihatan, dan hati nurani bagi kamu. Tetapi sedikit sekali kamu bersyukur" tiba tiba muncullah ide dasar flash fiction itu.
Dari ayat Al Qur'an di atas, beberapa poin tafsir yang kuingat adalah bahwa organ yang pertama berfungsi adalah pendengaran, kemudian baru penglihatan. Bahkan sejak dalam kandungan. Subhanallah, makanya klo hamil kita disuruh jaga kata kata, kasih bacaan yang baik baik buat si jabang bayi, bahkan mengajaknya bicara. Dan bayipun akan mengenali suara suara orang yang sering menyapanya ketika lahir nanti.
Demikian pula penglihatan, untuk menguji apakah bayi dalam perut bisa melihat atau tidak, silakan ibu berada di kamar yang gelap, lalu nyalakan senter ke arah perut. Niscaya bayi akan bereaksi.
Sebaliknya kalau seseorang menua nanti, maka yang paling pertama berkurang adalah fungsi pendengaran, disusul fungsi penglihatan. Makanya kalau ngomong sama orang tua kadang musti agak lebih keras volumenya. *pengalamanpribadi,banyaktamutamusepuh di loket*
Dari situlah ide dasar cerita tersebut. Yaitu tentang kemampuan membaca gerak bibir. Pernah heboh kan dulu yaa... saat ada pemain bola tingkat dunia yang memaki lawannya di tengah lapangan, para ahli membaca gerak bibir ditanyai ngomong apa *misuh2 opo gitu* si pemain itu. Sampai akhirnya ramai di koran. Lupa aku, kena skors atau enggak si pemain tsb.

Nah kembali ke cerita, mengapa tokohnya pak kapten ? Ya karena yang empunya hajat kan pensiunan angkatan, dan aku kok membayangkan dengan sotoy-nya, jangan jangan beliau diajari ilmu rahasia semacam membaca gerak bibir ini kali ya... *kebanyakanbacaceritadetektif*
Dan alasan paling pentingnya, kali aja dapat lebih berkenan di hati beliau dan dapat mencuri perhatian beliau sebagai dewan juri.  Xixixixi...

Ceritanya pak Kapten ini sudah bebas tugas. Kebayang kaaan... usianya di atas 60 tahun pastinya. Dan kebiasaan beliau sejak muda adalah selalu memandang mesra sang istri bila sedang bicara.  Istrinya cantik siiih... namanya  Kamaratih. Ternyata kebiasaan sangat baik *dan bikin ngiri* ini sangat bermanfaat saat pendengaran pak Kapten sudah mulai berkurang. Beliau bukan lagi mengandalkan telinga untuk mendengar, tetapi kini mengandalkan mata. Dengan ilmu membaca gerak bibir tadi. Namanya ilmu apa, tanya aja Om Wiki yaaa...
Dan di hari istrinya pensiun, yang setelah itu mereka akan menikmati hari pensiun berdua, *so sweet enggak siiih* Kapten Bhirawa tiba - tiba kepikiran, gimana nanti dia akan mendengarkan istrinya, bila pandangannya sudah mulai rabun ??? Itu ditandai dengan bayangan remang istrinya di pagar. Artinya jarak pandang pak Kapten sudah berkurang. Masa' di pagar rumah aja udah remang remang... Pak Kapten sudah mulai rabun. Aah.... aku jadi ikut sedih membayangkannya. Sukurlah cuma fiksi ya... Jadi sedihnya bentar aja, pas lagi ngarangnya.
Daaaaan, alhamdulillah,  cerita yang agak sedih ini mendatangkan kebahagiaan buatku. Yaitu mendapatkan hadiah sbb