Sabtu, 30 November 2013

Penyesalan

Ini bukan judul lagu...  #eh ada gitu ?

Malam-malam, pas aku njahit tas yang akan kubagi-bagi buat pengunjung blog sebelah, F3 tau-tau mbanting sim card hp-nya di depanku. Caper banget yaks...
Aku cuma ketawa dan ngeledek...  patah hati ya..
Dia menjawab... 'ih enggak lah yaw..'
Kupikir kejadian itu ya sudahlah ya... palingan dimensyen butut atau apa.. enggak bersambung deh intinya. Eh..ternyata..

Besoknya pulang kantor, habis maghriban dan anak-anak dah ngaji semua, aku agak santai karena semua setuju makan malam bakso sesuai rikues Abi. Tiba-tiba Teteh masuk kamarku dan ngasih tau kalau Ayuk mau curhat.
Kemudian aku masuk kamar Ayuk, dia lagi sms-an sambil manyun manyun gitu. Kutanya ada apa, mau curhat apa, dia hanya menggidikkan bahu.
Aku mau lihat hapenya, enggak boleh. *gemes enggak siih...*
Terus malah dia membuka casing hapenya dengan kasar.
Kataku 'iiih... hati-hati, belum sah jadi milikmu sampai raport semestermu ketauan...' haha mempan juga omonganku. Trus dia buang lagi sim cardnya.
"Ayuk kenapa ? Patah hati lagi?"
*menggeleng*
"Cowok yang kamu taksir nembak orang lain?"
*menggeleng*
"Sahabatmu menghianati?"
*menggeleng*
"Ya terus kenapa ? Katanya mau curhat"
*malah nangis*
Sebentar aku peluk dan aku biarkan dia menangis di pundakku. Romantis banget kayak drama korea -katanya :)
"Dimarahin teman ?"
*diam*
"Dipanggil guru BP? "
*guru BK, Ummiii.....* sahutnya
"Kamu dipanggil guru BK?"
Enggaklaah...
"Kamu ditembak orang?"
*menggeleng*
"Ada guru yang naksir kamu?"
"Enggak atuuuuh... kalau gitu aku mah udah cerita ke ummi kali..."
"jadi kenapa atuh.... kamu galau galau kunaon ?
*membuang hape*
Ummi memutar otak mencari ide.
"kamu menyesal udah salah ngomong ?"
*mengangguk dan nangis lagi lebih keras, aku peluk lebih erat, kubiarkan dia menangis beberapa saat*

"semua orang juga pernah salah ngomong kaliii, itu adalah resiko yang harus ditanggung. kamu juga harus belajar menanggung resiko, karena kamu sudah mulai dewasa. Makanya kan kita harus memikirkan dulu sebelum mengatakan sesuatu. karena kata-kata yang terucap enggak bisa dihapus lagi"
Kataku sambil mengusap usap punggungnya.

"ummi waktu kecil  dulu juga  pernah menyesal mengatakan sesuatu. Dulu ada teteh teteh gitu yang nakalin ummi, terus ummi bilang ke ibunya, kalau dia nakalin ummi. Eh, terus dia disabetin pakai kayu sama ibunya, sampai nangis teriak teriak. terus habis itu dia dimandiin, diguyur di sumur. Jaman dulu kan sumurnya dipakai ramai-ramai, satu sumur untuk beberapa keluarga. Sampai teman-teman tau semua kalau dia disabetin ibunya. Ummi menyesal deh udah ngaduin dia sama ibunya. walaupun dia salah juga, tapi ummi enggak nyangka kalau dia bakal disabetin gitu. Ya gitu deh, sampai lama dia marah sama Ummi."
*diam sejenak, ummi mendadak sedih ingat kejadian yang sudah berpuluh-puluh tahun lalu itu*

"trus, kamu udah minta maaf sama temenmu ?"
"udah"
"bagus, trus dia gimana ?"
"ya udah maafin, tapi ya gitu we... aku malu jadinya"
"temen cewek apa temen cowok ?" *ih ummi kepo deh*
*diem aja si Ayuknya*
" ya sudah, semua perlu waktu, dia juga perlu waktu untuk memaafkanmu. kalau dia sudah maafin, kamu harus menunjukkan sikap baik sama dia. Kan kata Rasul, ikuti perbuatan buruk dengan perbuatan baik, maka perbuatan baik itu akan menghapus perbuatan buruk"
*gadisku diam saja, agaknya dia menerima kata-kataku*
"ya sudah, kalau udah maafan, pasang lagi sim-cardnya. temenmu kan enggak cuma dia doang. nanti kalau ada teman lain mau sms, gimana. nanti kalau abi atau ummi mau nelpon kamu  gimana..."
*Ayuk nurut dan masang lagi simcard ke hape yang tadi dipisah pisah mana casing mana batere*
"kamu udah cerita ke temanmu soal ini ?'
*menggeleng*
"Kamu menyimpan sendiri dari kemarin ?"
*mengangguk*
"kamu hebat ih, berarti sudah sanggup menanggung masalah sendiri" *asli, ini mah pengakuan tulus*
*tersenyum*
"tau enggak Yuk, dalam beberapa hal, kita banyak kesamaan lho, kamu kan anak tengah, nomor 3 dari lima anak, ummi juga anak tengah, nomor empat dari 7 anak, kata orang, anak tengah itu lebih dewasa. Dan memang Ayuk lebih tenang dan lebih dewasa"
*ketawa*
Akhirnya kami berpelukan lagi untuk beberapa saat.

Rabu, 27 November 2013

Lingkaran Beraroma Surga

Kalau ada yang menjadikan aktifitas ngeblog sebagai sarana menjada level kewarasan tetap dalam posisi aman, alhamdulillah aku punya blog.
Tapi, selain blog di dunia maya ini,  aku punya lingkaran di dunia nyata yang akan segera menopang, menarik dan memberiku 'pil-pil anti galau' agar kewarasanku tidak saja dalam level aman, tapi harus selalu dalam posisi maksimal, *pengennyaaa.....
Apakah itu?  itulah lingkaran ibu-ibu pengajian, yang beranggotakan relatif tetap, bertemu secara intens setiap pekan. Aku belum pernah cerita tentang ini secara khusus,  mumpung masih dalam suasana hijrah, kayaknya timingnya pas ya.. kalau aku ceritain.
Alkisah, 22 tahun lalu, ketika awal-awal kuliah, aku dipertemukan dengan saudara-saudaraku ini. Untuk pertama kalinya dalam 18 tahun usiaku, aku mendapatkan pencerahan atas hakikat hidup dan kehidupan.
Aku tak pernah meminta untuk datang ke dunia ini, aku ada semata karena Dia yang Menghendaki. Aku buta tentang diriku dan jalan hidupku,  Dia dengan kasih sayang-Nya telah menyediakan petunjuk-Nya yang suci. Aku gelap akan akhir perjalanan ini, Dia tunjukkan terminal terakhir di surga-Nya nanti. Itulah inti yang kusimpulkan. Aku diajak kembali pada fitrahku, agar aku dapat menjalankan tugas kehidupanku.
Perjalanan menuju hakikat kehidupan ini sangatlah panjang. Sepanjang kehidupan itu sendiri. Prosesnya pun tidak mudah. Setiap perjalanan spiritual pasti ada godaan, eksternal dan internal. Secara eksternal akan ada tarikan-tarikan masa lalu, tarikan-tarikan dunia yang indah mempesona. Pertemanan,  gaya hidup, pemikiran, dsb.
Di saat yang sama kita juga harus mengatasi 'musuh dalam selimut' berupa hawa nafsu dalam diri kita. Rasa malas, egois, iri, dengki, dsb. Berat sekali ya... Layaknya seseorang yang sedang berjalan mendaki, makin ke atas makin terengah-engah. Bukan saja karena lelah, tapi juga karena oksigen yang makin menipis.
Seperti itulah kumaknai perumpamaan perjalanan hidup ini. Kalau pakai logika bahwa makin tinggi tingkat  keimanan seseorang,  makin berat ujiannya,  mestinya hidup ini tidak makin mudah.
Maunya kan keimanan naik terus, artinya walaupun naik turun tapi kalau digambar kurvanya tetap naik trend-nya.
Berarti kehidupan ini akan makin berat, sesuai pertambahan kadar keimanan kita.
Hidup boleh makin berat, tapi cara pandang akan ujian itulah yang akan melahirkan penyikapan yang berbeda, dan ini akan membuat segalanya berbeda, jauh berbeda.
Dari sinilah aku merasakan, bahwa aku perlu teman seperjalanan, aku perlu tim yang saling menopang ketika lemah, saling mengoreksi ketika salah, saling mengingatkan ketika mulai lupa. Dan tentu saja, aku perlu guru yang membimbing sekaligus memberikan teladan.
Alhamdulillah, hampiiir semua yang kubutuhkan itu, aku dapatkan di lingkaran teman-teman pengajianku.
Di saat-saat awal aku mulai ngaji, aku akui aku membatasi diri hanya bergerak di lingkungan yang membuatku nyaman. Memilih  teman yang seiring sejalan, memilih tempat kos yang tenang, sampai kegiatanpun sebisa mungkin yang mendukung proses perubahanku ini.
Orang mengatakan jilbaber itu eksklusif. Bukan, bukan maksud hati untuk jadi  ekslusif, menurutku. Ibaratnya  orang lagi berbenah, ya enggak mau dong proses bebenahnya banyak interupsi, kapan beresnya ? Begitulah...
Alhamdulillah itu tidak berlangsung lama. Karena aku hidup di dunia nyata yang penuh perbedaan, maka aku belajar. Belajar bergaul, belajar bermasyarakat. Belajar mempraktekkan apa yang kudapat di lingkaran pengajian ke dunia nyata.
Langkah-langkah yang tengah kutempuh adalah:
* Diawali dengan berusaha memperbaiki diri dari segi aqidah,  ibadah, wawasan agama, ahlak, manajemen waktu, kesehatan fisik, sumber rezeki, dan muamalah agar keberadaan diriku membawa manfaat untuk orang-orang di sekitarku.
*Kemudian berusaha membentuk keluarga saleh. alhamdulillah Allah mempertemukanku dengan Abi yang jadi partner sekaligus pembimbingku. Dari keluarga ini berharap usaha perbaikan diri kami terus berlanjut dan mendapatkan generasi penerus yang siap menerima estafet perbaikan dan membawanya kepada teman/anak-anaknya kelak.
*Berikutnya adalah belajar memberikan kontribusi ke masyarakat. Dulu waktu masih gadis, ya bisa aktif berorganisasi. Ikut acara ini dan itu, jadi panitia ina dan inu. Sekarang setelah berbuntut banyak dan langkahnya pendek, bukan menjadi alasan untuk berhenti bergerak. Bergerak dan mengalirkan kebaikan. Nggak bisa jauh dan luas,  ya ambil yang terdekat, urusan dasa wisma,  arisan RT, posyandu, pengajian ibu-ibu,  sekolah ibu, sanggar baca gratis, bakti sosial dsb. Oh iya,  menulis juga sempat menjadi salah satu obsesi,  pengennya sih tulisanku ada isinya. Ya kalau belum kelihatan, ya maap maap aja, karena memang kepalaku masih dalam proses pengisian. :D
*Berikutnya adalah berkontribusi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena aku pegawai pemerintah,  aku menjadi  bagian dari pemerintahan.  Aku ambil bagianku dalam proses menuju good governance. Caranya ?  Berusaha amanah dalam melaksanakan tugas pekerjaanku. Terus belajar untuk meningkatkan kapasitasku.
Selain itu, di jaman demokrasi seperti ini, aku peduli siapa pemimpin yang bakal membawa perubahan. Aku dukung dia.
Aku juga peduli siapa yang mewakili suaraku di anggota dewan. Jadi aku bukan golput dan aku menolak golput. Satu suara yang kita berikan dapat membawa perubahan. Dan satu suara yang tidak kita gunakan, akan mungkin disalahgunakan.
*Berikutnya adalah aku peduli dengan urusan dunia, orang-orangnya, bumi dan isinya. Kalaupun enggak/belum ada laku nyata yang luas dampaknya untuk mencegah keburukan di belahan bumi mana, minimal ada penolakan, ini tanda peduli. Meskipun belum ada bantuan nyata yang besar buat mereka yang membutuhkan di belahan bumi sana, minimal doa. Akan ada 'Tangan Tak Terlihat' yang akan bekerja. Masalah sampah, masalah udara dan pencemaran, menanam pohon, pornografi, pornoaksi, dsb semua diawali dari diri, keluarga dan lingkungan terdekat.
Berpikir global bertindak lokal.
Langkah-langkah praktis itu kudapatkan dari lingkaran pengajian.
Semua langkah-langkah itu masih terus kulakukan, seiring dan sejalan, diusahakan dalam keseimbangan.  semoga tetap istiqomah kulakukan sampai akhir hayat kelak.
Alhamdulillah dengan itu semua aku 'dipaksa'  enggak punya waktu untuk menggalau urusan pribadi macam utang, nggak punya uang, dapur mau ambruk
#curcol dsb, aku harus berusaha untuk selalu 'waras', aku belajar untuk tidak mementingkan  permasalahan pribadi, karena masih baanyaaak hal besar lain yang harus dipikirkan.
Katanya, siapa yang tidak memikirkan hal-hal besar, pasti yang terjadi sebaliknya.
Kini, dengan posisi lingkaranku ada dua orang kandidat doktor (komunikasi dan psikologi), satu orang S2 psikologi juga, satu calon dokter spesialis, satu direktris perusahaan biro wisata, satu dosen, satu guru dan aku yang karyawati, pembicaraan di lingkaran ini bisa meluas kemana-mana. Dari urusan anak sampai urusan sekolah / perguruan tinggi yang baik. Dari urusan RT sampai urusan negara. Dari urusan dapur sampai urusan politik. Satu jam dua jam tidak cukup. Kadang 3-4 jam. Begitu banyak ilmu yang (seharusnya) bisa aku raup secara cuma-cuma. Ya mungkin karena keterbatasanku aja maka aku masih gini-gini aja. Eits jangan dikira di lingkaran ini kami damai-damai saja, selalu ada dinamika kelompok. Belajar memberikan perhatian, belajar pengertian, belajar mengutamakan kepentingan teman, belajar mendengarkan, belajar menghargai dsb. Marahan dikit sesekali, jauuuh banyakan ketawanya setelah maafan lagi.
Oh iya, ngomongin soal gini-gini aja ini, jadi ingat pas temen sekamarku di sekolah tinggi dulu nelpon (setelah 15 tahun enggak ketemu), nanya :
"Titi masih ngaji ?"
"Masih dong, ada yang ngingetin aja masih bandel, gimana kalau nggak ada yang ngiingetin ?" Itu jawabku.
Terus kenapa judulnya lebay gitu ? Itu karena pas aku bikin tulisan ini, ingat kisah seorang sahabat yang mengadu kepada Rasulullah SAW, katanya kenapa kalau di dalam majelis Rasul surga itu terasa dekat, keimanan itu begitu kuat, ibadah jadi semangat. Sebaliknya ketika kembali ke keluarga, bersenang- senang, surga itu jadi menjauh. Rasul pun memberikan pengertian, bahwa segala sesuatu itu ada saatnya. Ada waktunya.
Jadi kita kitalah yang musti pandai-pandai mengatur waktu. Karena sejatinya, kewajiban itu jauuuuuh lebih banyak dari waktu yang tersedia. Maka apapun kesibukanku, sepanjang masih memungkinkan, aku akan menyediakan waktuku untuk duduk melingkar setiap pekan. Di lingkaran 'beraroma surga' ini.


suasana dalam lingkaranku, yang kebetulan pas di masjid . captured by Faiz

Minggu, 24 November 2013

Akhir Pekan Yang Sibuk

Biarin lah ya... nggaya dikit, sibuk-sibukan melulu. Lha kalau enggak sibuk malah dipertanyakan, ngapain aja anaknya lima kok enggak sibuk.

Setelah 5 hari kerja yang super full karena memang lagi 'peak season', menjelang akhir penerimaan laporan bulanan, maka mari kita sambut dua hari akhir pekan yang  (juga) bakal menyibukkan. Udah kebayang soalnya undangan sudah di tangan dari beberapa hari lalu.

Sabtu pagi sampai siang ada acara di sekolah Faiz dalam rangka memeriahkan tahun baru Hijriah. Ada lomba-lomba antar anak, dan ada juga lomba menghias tumpeng untuk ibu-ibunya. Lomba menghias tumpeng tanding antar kelas.
Anak-anak lomba mewarnai, lomba tahfidz Al Qur'an dan lomba busana muslim. Selain itu juga ada penampilan dari masing masing kelas.

Pagi-pagi diawali lomba mewarnai. Anak-anak udah dikondisikan oleh bu guru di selasar kelas. Kertas bergambar dibagikan. Lucu-lucu komen anak kelas A ketika bu guru pesan mewarnainya harus selesai, tidak keluar garis, langsung ada yang nyautin : bu guru, mewarnainya kebanyakan..... hahaha..
Kebayang ya... konsentrasi mereka kan baru 10 menitan. Ini musti menyelesaikan mewarnai satu halaman folio yang paling enggak perlu waktu setengah jam.

Setelah anak-anak mulai mewarnai, para ibu mulai menghias tumpeng. Selesai bantu-bantu menghias tumpeng, aku ke lokasi lomba mewarnai lagi. Kulihat sebagian besar anak kelas A sudah menyerahkan kertasnya. Tentu saja dengan warnaan yang belum selesai. Paling tinggal beberapa anak aja. Faiz masih mewarnai, tapi sebentar-sebentar berhenti, lihat temannya, lihat kertasnya yang belum selesai, mewarnai lagi dikit, lihat temannya lagi yang sudah lari-lari, aaah..... dia sudah bete. Untunglah bu Iis, salah satu guru Faiz, membujuk agar Faiz menyelesaikan gambarnya. Kata bu Iis, ayo semangat Faiz, katanya mau dapat piala...
Aku sih nggak terlalu ngarep yaa... soalnya kan kalau dilombakan sama kelas B, ya kelas A mental kemana-manalah... targetku buat Faiz cukup belajar menyelesaikan tugas yang diberikan.
Akhirnya setelah dibujuk-bujuk Faiz selesai juga mewarnainya. Tapi olala... kenapa itu celana kanan-kiri beda warna? Trus sepatu kenapa satu kuning satu orange ? (Kata Abi ya sah-sah aja, buktinya sekarang juga ada kok yang jual sendal/sepatu kanan-kiri lain gitu).

Selesai mewarnai, anak-anak menuju halaman belakang di mana panggung di gelar.
Eh pas duduk-duduk gitu, Faiz tiba-tiba bilang mau muntah. Adooooh... aku segera gendong dia ke toilet. Dan memang benar langsung muntah. Kenapa ini anak... aku mengingat-ingat ritual pagi tadi. Apa yang salah... mandi air anget, sarapan udah, kekenyangan enggak, tapi ah sudahlah... Faiznya alhamdulillah tetep tenang kok. Aku ke kantor guru minta minyak kayu putih. Alhamdulillah dapat. Setelah dibalur  minyak, Faiz main lagi, dan minta makaaaaan. Laper kali bo, sarapan keluar semua.

Kemudian diumumkan lomba tahfidz akan dimulai,  ternyata hari ini hanya menampilkan para finalis yang sudah diseleksi di kelas pada hari Rabu dan Kamis. Waaah... aku enggak tau kalau ternyata Faiz lolos seleksi tahfidz. Sampai terharu. Lha dia crita tapi enggak meyakinkan gitu. Yakinnya cuma mewarnai aja. Apa umminya yang enggak perhatian ya... alhamdulillah pas dipanggil naik panggung dia mau, enggak pake ngambek tapi suaranya kecil beut. Urusan sama anak-anak kicik gini guru-guru bener bener udah pengalaman. Kalau ngambek ya dilewat dulu. Habis Faiz turun dipanggil teman lain ada yang grogi, ilang deh hafalan. Trus ada juga yang mau menghafal tapi enggak mau naik panggung. Lucu-lucu... kayak teteh kecil dulu, udah didandanin malah ngambek nggak mau nari, katanya kesel wajahnya 'dicoret-coret'. Hahahaha... di make up Teteeeh... Make UP ! (Ketauan banget anak emak gak pernah dandan).

Lomba tahfiz selesai, ada sessi dongeng daru Kak Nur Halimah yang pernah yang pernah menjuarai lomba mendongeng tingkat nasional. Anak anak ngerubutin panggung. Ada yang ikut naik malah, dan mainin boneka tangan. Yaaa... namanya juga anak-anak.

Setelah dongeng selesai, baru lomba busana muslim. Lucu,  pas lihat anak-anak naik panggung satu per satu untuk bergaya, Faiz malah melipir ke arena bazaar. Enggak mau beranjak dari konter walaupun aku udah bilang enggak akan membelikan mainan apapun. Awalnya aku enggak nyadar kalau dia menghindar dari lomba busana ini.  
Ketika kukatakan bahwa kelas A udah selesai naik panggungnya, baru deh dia mau ke arena panggung lagi. Nggak papa ya Faiz, enggak ikut lomba busana muslim, memang kamu enggak ada keturunan nggaya hahaha walaupun kalau di rumah kamu banyak gaya.

Tibalah saatnya untuk penampilan per kelas. Dimulai dari kelas play group, kelas A baru kelas B1 dan B2. Masing masing kelas unjuk kebolehan. Kelas PG menari, kelas A menyanyi dan main tepuk, kelas B menyanyi, menghafal surat, menghafal hadits sama apa lagi ya lupa. Yang jelas kelas B lebih banyak unjuk kebisaannya.
Baru setelah itu diumumkan hasil perlombaan. Ternyata dari semua lomba, ada dua kriteria. Kelas A+PG sama kelas B. Waaah ... ada harapan dooong... Faiz bawa pulang piala. *ummi mulai ngarepdotcom*

Yang diumumkan pertama adalah lomba tahfidz, alhamdulillah Faiz juara dua. Juara satunya emang pede habis, bacaannya juga bagus. juara tiganya yang tadi mau baca tapi gak mau naik panggung.
Baru juga turun panggung, Faiz dipanggil lagi untuk juara dua lomba mewarnai.
Alhamdulillah.... sehari dapat dua piala. Masih jago kandang nggak papa ya.... nanti nanti latihan ke kandang lawan. Faiz kelihatan seneng tapi sok cool gitu.
Ketauan bangganya pas di rumah dia cerita ke siapa aja yang datang.

Habis zhuhur acara berlanjut dengan  pertemuan ibu-ibu PJ sekolah ibu di rumah. Mari siap-siap bila rumah berubah menjadi seperti kapal pecah karena beberapa sudah konfirm mau ngajak SEMUA anaknya. Ada yang 3 ada yang 2. Syukurlah ya.. cuma 5 anak itu pleus Faiz saja.
Karena tadi pagi gak sempat bikin2,  ku beli kue aja di sebelah, pleus ngedadak masak makroni dan puding. Saking sibuknya puding lupa enggak dikeluarin sampai mereka pulang. Anak-anakku yang kesenengan.
alhamdulillah rumah yang berantakan rapi dalam sekejap, karena ibu-ibu dari si anak-anak tadi kerja sama merapikan kembali. enak ya.. punya teman pengertian gini.

Abis ashar aku pergi untuk ngaji pekanan. Hape aja perlu di-charge, semangat ibadah pasti lebih perlu lagi. Maghrib sampai rumah dengan badan lumayan tepar. Syukurlah tadi siang sudah memborong sayur dan lauk masakan ibu-ibu di bazaar, jadi aku tinggal menghangatkan aja.

Hari minggunya aku pergi lagi. Kali ini acaranya cukup serius. Seminar ketahanan keluarga. Kalau diceritain lengkap bisa jadi satu postingan lagi bahkan mungkin bersambung. hehehe... berarti aku harus mengingat-ingat lagi isi ceramah. 
Acara ini sebenarnya sampai sore. Tapi berhubung aku pergi sama Faiz, kayaknya hanya bertahan sampai siang.

Sessi pagi mendengarkan pemaparan tentang  pemikiran feminisme, LGBT, sex bebas, pornografi, pornoaksi dsb serta upaya-upaya penganutnya dalam mensosialisasikan faham tersebut. Ngerilah judulnya.
Intinya bahwa pemikiran-pemikiran  itu 'menyerang' dari institusi terkecil yaitu KELUARGA. Dan haluuuuussss.... banget. Sampai-sampai yang diserang seringnya enggak kerasa. Contohnya : misal ngajari anak baca abjad.  A-apple, B-blue, C- condom (biasanya kan cat yaa).
Masaaa' dari kecil dah dikenalkan dengan benda ituh? X_X
Hadeuuuh.....
Mestinya aku  pergi sama Abi, supaya
Abi dapat infonya langsung dari nara  sumber, sayang,  Abi memilih di rumah menemani 4 anak lainnya.

Contoh lain dari tontonan, melalui karakter-karakter yang nggak jelas cowok ceweknya, secara nggak sadar yang tadinya orang enggak setuju dan menentang, lama kelamaan menjadi memaklumi karena begitu banyaknya pelaku di sekitarnya.
Contoh lain lagi, banyak diantara kita yang sudah maklum aja kalau ada host laki-laki yang melambai. Padahal jaman lenong rumpi dulu kita masih nganggep bahwa perilaku 'melambai' itu sesuatu yang aneh.
Begitulah saudara-saudara.
Jadi berasa makin berat nih, PR menjaga diri dan keluarga. Semoga Allah SWT mudahkan tugas kita para ibu dalam membantu suami mendidik anak-anak. Aaamiin...

Demikianlah akhir pekanku kemarin. Malem masih dilanjut menjahit tas yang beberapa diantaranya bakal aku hadiahkan buat para komentator yang beruntung.
Mau tas ? Langsung aja cuuzzz ke sebelah yaa...

Sabtu, 23 November 2013

The Hectic Week

Setiap menghadapi tanggal 20, rasa-rasanya mulai dag dig dug der. Kenapa ? Karena para pelanggan itu benar-benar tidak dapat ditebak kapan mau datangnya. Hihi.... yaeyalah... jadi kami-kami para penjaga loket depan ini ya harus siap mental. Selama ini sih rekor termalam pulang jam 7. Entah berapa bulan yang lalu. Udah lupa. Di bawah itu ya maghrib. Tapi syukurlah, bulan ini pulangnya jam normal.

Awalnya Sondang ngabarin klo Tyka mau ke Bandung seminggu. Nginep di mana ? Tanyaku. Ternyata nginepnya di hotel sebelaaaah dooong... *salah satu kenikmatan berkantor di tengah kota*
Setelah aku kontak-kontakan sama Tyke, jadilah kami janjian Senin jam 2, pas aku off jaga.
Jadi senin itu aku nganter Tyke ke Tiki, trus makan di Pujasera yang di atas Soes Merdeka, dan lanjut ke Gramedia. Wooow kopdar pendahuluan yang menyenangkan. Seneng mengenal lebih dekat Tyke. Puas booo ngobrolnya. Ya, belum juga ding. Puas gak ada yang nyela-nyela pembicaraan.
Kami berpisah dengan kupesan 'siap dipanggil kapan aja' *sok iyeh banget*

Selasa, tadinya aku mau ambil jam istirahatku di awal, buat nemenin Tyka ke Mirasa. Katanya kan itu tempat makan yang 'bersejarah' juga. *dan enak, gado-gadonya yummmyyy* tempatnya juga lumayan, terutama yang dekat kebun belakang.
Eh ternyata belum berjodoh sama Tyka karena dia baru bisa keluar di atas jam satu.
Sebenarnya hari ini kan ada makan makan ultah Ida, udah janjian ke nasi padang Bunga Padi Raya (2 kali hahaha), karena aku jaga, aku tadinya hopeless, bakal gak bisa laah. Sondang masih tetap merayuku. Tiada kesan tanpa kehadiranmu, katanya. Haha 80-an banget.
Janjian sama Tyka gak jadi, sama Ida gak bisa. *nangis bombay* alhamdulillah dapat ide dong, aku merayu teman sebangku gapapa lah aku jaga pagi dan sore asalkan aku bisa keluar jam istirahat. Deal ? Deaaal....
Akhirnya bisa keluar tepat pada waktunya. Bareng Sondang pergi pulang. Pas lagi makan, ingat Tyka yang masih di kamarnya. Kata Sondang, tawarkanlah itu nasi padang. Sebagai penggemar padang, Tyka mau doong. Akhirnya cuzz... sebungkus nasi padang buat Tyka, atas ide Sondang, dibebankan ke traktiran Ida, dianter sama Titi. Haiyah, betapa panjangnya riwayat sebungkus nasi padang ini :D

Rabu gak ada panggilan dari Tyka, rupanya dia diculik salah satu tantenya dan keliling-keliling seharian. Syukurlah, dan memang karena dah tanggal 20 tamunya full minta ampun. Sampai-sampai makanpun aku di ruangan. Gratis siiih.... alhamdulillah.. dibeli pake uang kas.

Kamis bikin janji lagi sama neng Tyka Abis ashar mau kemanalah atau makan apa entar gampang, atau sekedar ketawa2... Ternyata  oh ternyata, setelah dia kopdar sama customer di BIP,  kata Tyka, Abi pulang cepat dari diklatnya..... jadi kami gak jadi keluar. aaaah syukurlah.... Memang manusia merencanakan Allah yang menentukan. Karena jadinya aku hari ini juga gak bisa keluar. Sebenarnya ada temen yang 'utang jaga' ke aku, tadinya mau dibayar hari ini, eh tiba tiba harus keluar kota. Ya sudahlah aku pun jaga sambil patah hati. Kalau patah hati kerja jadi semangat. *banting-banting amplop dan tonjok2 keyboard* Akhirnya makan di ruangan lagi. Lebih parah, disambil kerja.  Karena kerjaanku kan memang ada dead line-nya, 1x24 jam. Syukurlah yaa.... jam 4 kurang dikit udah beres. Pas Tyka bilang mau mampir ke kantor, aku iyain dengan senyum lebaaar.... lumayan... hiburan di sore hari. Sempat popotoan sama mbak Tituk juga.

Jumat
Ini dia puncak acara. Kopdar dengan blogger blogger Bandung lainnya. Yang udah iya sih aku, Sondang, Baginda Ratu, Mbak Tituk, Ika Rahma dapur hangus, Neng Dini, trus kata Tyka ada Ladeva sama siapa lagi (chat BBM terhapus).
Oh... sayang seribu sayang, yang harusnya jaga siang enggak masuk. Dasar belum rejeki kali ya... akupun terancam enggak ikut kopdar karena paling cepat stengah dua baru istirahat. Sedangkan Sondang jam 2 sudah harus di kampus. Yang lain? Ya harus balik ke kantor doong setelah jam istirahat habis.
Akhirnya aku istirahat jam setengah duaan, shalat dan langsun cuzz ke Djoeroe Masak. Untung dekeeet.5 menit naik motor. Semua udah berdiri. Hiks. Cuma serah terima kenang-kenangan kopdar. Yang tinggal cuma Tyke, Dini, Ika+Vio. Eh baru juga duduk bentar si Tyke udah ditelpon dijemput tantenya. Dini juga menyusul (ya iya laah.. kan mau kerja).
Tinggal aku bertiga Ika dan Vio, gak kerasa juga ngobrol sampai jam tiga lebih.. satu setengah jam berlalu cepet banget. Apalagi sudah lama juga gak ketemu mereka. Akupun harus segera kembali ke kantor.

Senengnyaa... Jumat sore. Berasa kejar kejaran semua janjiannya. tapi minggu ini sungguh membahagiakan. So special.
Selamat datang week end yang (bakal) sibuk juga.

Rabu, 20 November 2013

Faiz Minta Adik

Niatnya sih semalem mau nyelesaiin Berani Cerita minggu kemarin di blog sebelah. Udah ngebayangin jalan cerita, udah 2 hari ini baca-baca referensi tentang 3 kakak beradik dari Kuru, yaitu Amba, Ambika dan Ambalika dalam kisah Mahabarata. Tokoh yang bakal kuambil ya antara Amba atau Ambalika. Soalnya harus ada tokoh Amba. Eh lha kok bingung nempatin prompt-nya dimana. Maklumlah, belum 'berani cerita' beneran, masih maju mundur kanan kiri.  Ya sudahlah kita cerita tentang adik yang lain aja. Postingan ini khusus dipersembahkan untuk yang masih galau antara mau nambah adik atau enggak. Kalau aku insya Allah udah mantep. Cukup lima. *kecualiAbiberubahpikiran*

Kemarin malam, menjelang jam sepuluh, tinggal aku dan Faiz yang belum tidur. Faiz sedang asyik menjadi tokoh utama dalam mewarnai. Dan aku jadi pemeran pembantu. Sedang asyik-asyiknya coret sana sini ini itu kok tiba-tiba Faiz berhenti mencoret, dan menatapku *senyap*
"Ummi aku mau adiklaah"
*Ummi pengsan, sejujurnya ini kedua kali Faiz mengatakan kalimat ini dalam 3 bulan terakhir*
"Mau adik laki apa perempuan?"
*ummi ngulur waktu untuk berpikir*
"Aku mau adik perempuan"
" Besok kita pinjam de Acha, adiknya Mas Karim". (Usianya sekitar 2 tahun)
" enggak mau, aku mau yang satu tahun"
"Oh, kalau gitu kita pinjam de Ilma, adiknya Ayash, kan baru setahun"
"Aku mau yang kamu hamiiiil" *nada meninggi, sambil menatapku*
"Ummi udah tua Nak, sudah tidak sehat untuk hamil"
"Bunda Ayash hamil, mbak Didin hamil..." *Faiz menyebut nama teman-teman Ummi yang lagi hamil. Ummi masih cari jurus.
"Emang kalau punya adik, kamu mau ngurusin?"
"Apaaaa?"
"Emang kalau punya adik kamu mau nemenin?"
"Apaaa?"
"Emang kalau punya adik kamu mau ngajak main?"
"Apaa?"
"Aaah, nggak usah apa-apa, pura-pura. Nanti kalau ada adik, adiknya dong yang tidur sama Ummi, sama Abi"
"Nggak papa, kalau libur juga aku bakal tidur di luhur" (di atas, di kamarnya)
"Nanti kalau aku pergi, kamu nggak diajak, yang diajak cuma adik bayi"
Faiz berhenti mewarnai, dan menatapku lagi.
"Nggak papa juga kali, kalau pergi bawa dua anak"
*si Ummi mulai kehabisan kata*
"Iyaa, bawa dua anak, Teteh sama kamu"
"Bukaaaan, aku sama adik bayi"
"Capek kaliii...pergi ngajak dua anak maah"
Faiz terdiam. Nerusin mewarnai.
Pas udah jam sepuluh, aku nganter dia ke kamarnya. Udah dipaksa tidur ini. Matanya masih cenghar karena menjelang maghrib baru bangun tidur.
Nah pas di kasurnya itu, dalam pelukanku aku tanya lagi,
"Faiz, nanti kalau ada adik, aku nggak bisa lagi nganter kamu tidur kayak gini. Gimana ? Nggak punya adik nggak papa ya ?"
Faiz ngangguk ngangguk.

Ish, semoga kalimat terakhir itu yang terekam di benak dia, kan kata Kang Dudit dari Smile Institut, saat yang tepat untuk meng'hipnotis' itu saat seseorang dalam kondisi rileks, seperti saat menjelang tidur nyenyak ... saat otak ada di gelombang alfa.

Pict:kebayang ya, anak yang nempel Ummi macam amplop dan perangko gini, tiba tiba mau punya adik...

Jumat, 15 November 2013

My Jleb Moments

Pinjem judul Ika, takut keburu lupa.

Berulang kali terlintas di pikiranku, seharusnya postinganku lebih banyak dari postingan Sondang dan Ika di bagian cerita anak-anak. Lha kan niatnya jurnal anak-anak. Karena anaknya banyak, mestinya aku jadwalin postingan tentang mereka satu per satu. Tapi sayang, faktor U itu gak pernah boong dalam segi daya ingat. Nah kalau sekarang blog ini banyakan label F5 dibanding kakak-kakaknya, bukan berarti aku mbeda-mbedain anak yang emang udah beda dan unik dari sononya. Tapi semata-mata karena F5 yang saat ini paling banyak waktu nempel ummi -nya. Kalau yang besar kan udah makin banyak kegiatan di luar. Semoga gak bosen ya, Faiz lagi Faiz lagi.... besok deh cerita yang lain (sebelum cerita Faiz lagi :D).

*Tiket masuk surga
Ceritanya di sekolah Faiz itu, anak-anak tidak diperkenankan membawa uang jajan. Jadi dibiasakan membawa bekal dari rumah. Ya kalau jajanpun setidaknya masih di bawah kontrol orang tua. Tapi tiap Jumat, anak-anak boleh bawa uang karena  ada program belajar infak. Infak ini sebenarnya untuk kas kelas. Besarannya ya kecil laaah... namanya juga yang bawa anak-anak kecil. Minimalnya seribu. Peruntukannya antara lain untuk kasih 'reward' ke anak-anak, atau untuk takziyah dan tahniah (udunan dg kas POMG). Kas POMG beda lagi, ada semacam kartu SPP gitu, dibayar oleh ortu. dan infak masjid sudah dibebankan di awal tahun ajaran pleus ada semacam 'celengan' yang di bawa pulang.
Awalnya seperti rata-rata anak lain,  Faiz bawa infak dua ribu.
Nah minggu demi minggu Faiz minta uangnya naik-naik terus. Kemarin mencapai angka tujuh ribu.  Pas aku komplen tentang hal itu, Faiz lantang menjawab :
"Ummi, infak itu tiket masuk surga ...."
Dueng ... dueng....
Jleb enggak sih? Masih mau mbatesin ? *tutupmuka

*Puasa
Pas ngobrolin mau sahur puasa muharram kemarin, aku nggak inget kalau Faiz minta bangunin. Sejujurnya aku kadang yah yoh (iya iya aja) kalau Faiz minta bangunin. Sering banget dia bilang minta dibangunin jam dua atau jam tiga pas aku bangun. Katanya dia mau ... mewarnai ! Menurutku itu enggak masuk akal banget, jadi aku gak pernah bangunin walaupun aku bilang iya. *karena aku bukan bangun jam tiga, paling cepet setengah empat - alesan*
Nah mungkin kemarin dia dengar dengar kita mau bangun sahur, dia mau ikutan. Tapi ya itu, aku gak bangunin. Wong Mbak sama Ayuk juga enggak ikut puasa.

Pas sore hari pulang kantor yang puasa udah buka, shalat dan siap makan, Faiz marah. Kayaknya bener bener marah. (aduuuh... maaf ya Naaak).
Kalau marah manja dia suka mukul-mukul gak jelas gitu. Tapi kemarin itu dia cemberut dan berjalan masuk kamarku sambil ngomong:
"Ummi, siniii.... aku mau bicara". (Ya ampun, dia nggak pernah seserius itu)
Pas aku masuk kamar, dia nutup pintu, trus ke kasur. Dan bilang lagi :
"Aku teh marah beneran ini. Aku minta bangunin tapi kamu enggak bangunin aku. Aku mau ikut puasaaa"
Ya Allah, ngerasa dosaaaa.... banget sama anak. Sampe aku peluk-peluk dia dan minta maaf enggak bangunin sahur. Terlepas dia puasa apa enggak nantinya. Ini kan masih soal pengkondisian. Makin dipeluk malah makin mingsek-mingsek gitu nangisnya. Sumedhot rasaning ati lah kata orang Jawa. Atau kasuwat-suwat kali ya kata orang Bandung.Akhirnya setelah agak lama dan kuusap-usap punggungnya, baru dia berhenti dan mau dibujuk untuk ikut buka.
Alhamdulillah ada bakso yang diajak pesan bareng sama Mbak Tituk.

Rabu, 13 November 2013

Lihat Saja Dadaku

Dua hari lalu pas lagi main-main berdua Faiz di kamarku, kulihat mata Faiz udah meredup. Memang sudah jam 8 malem siih, tapi kan jarang-jarang Faiz ngantuk jam segitu. Biasanya dia tidur jam 9, eh jam 9 masuk kamarnya. Dan kurang dua menit pun dia enggak mau. Kayaknya berharga banget itu waktu bermain sama Ummi. Nah kalau dia tiba-tiba ngantuk jam 8, mencurigakan nih... naga-naganya anak ini enggak tidur siang. Akhir-akhir ini Faiz sudah agak susah tidur siang. Kalau enggak tidur siang, biasanya sorenya rewel, banyak permintaan bari teu pararuguh. Ini salah itu salah. Minta susu salah gelas, marah. Main kartu salah naruh, salah. Rungsing deh, judulnya.
(Memang aku wajibin anak-anak untuk tidur siang. Terutama pas mereka usia TK. Karena udah pernah baca manfaat tidur siang untuk anak-anak pra sekolah. Yang penasaran silakan search yaa..)

Nah yang kemarin itu dia enggak rewel. Makanya aku baru pada tahap curiga enggak tidur siang.
Aku tanya :
"Faiz, kamu enggak tidur siang ya..."
"Tidur, di rumah Bibi"
"Kok matamu udah kecil"
"Enggak, beunta da" kata Faiz sambil membelalakkan mata.
"Asa bo'ong".
"Bener, aku tidur dari jam satu sampai setengah dua"
"Aaah... sebentar banget. Berarti kamu enggak tidur siang. Cuma tidur-tiduran".
"Bener, lihat aja dadaku".

Gubraaak.
Soal tidur siang aja meuni pakai drama dan sandiwara gini.

Maka setelah itu Ummi ceramah panjang lebar deh, soal drama dan sandiwara itu. Dan Faiz pun harus menyelesaikan secara adat soal 'kebohongan'nya dengan Abi.
Duh, tapi ya.. kalau dia pasang wajah polos dan kocaknya seperti ini, sungguh aku gak bisa menahan tawa saat harus 'marah' padanya.

Sabtu, 09 November 2013

Cerita ABG : Jatuh Cinta dan Patah Hati

Meramaikan program PKK (Peduli Kata Kunci)-nya Warung Blogger, kali ini aku mau cerita satu aja tentang ABG-ABG di rumah yang jumlahnya ada tiga.
Aku suka iniih, membuat kecele para pengguna mesin pencari, yang mencari konten-konten negatif di dunia maya dengan kata kunci tertentu. Kalau para blogger udah menuhin dunia maya dengan konten positif yang mudah ditemukan mesin pencari, pastilah konten negatif itu akan terpinggirkan dengan sendirinya.

Cerita ABG, bukan cerita aku blogger gaul ya... kalau aku blogger gak gaul mah iya banget. Mainnya ke situ-situ aja. Yang komennya juga itu-itu aja. Hahaha... susah move on, aku kan type setia.... *tendangsampaiawang-awang
Hihi malah menceracau kacau, katanya mau nulis Cerita ABG. Iya deh.. iya... kita mulai.. begini ceritanya... sudah berlalu hampir setahun.

Buat men-temen yang udah jadi ibu, apa yang ibu pikirkan  ketika bangun pagi hari, anak yang menjelang gadis tiba-tiba memeluk dan berkeluh : "Ummi, sekarang aku tahu, kenapa orang patah hati bisa bunuh diri."
Jreng... jreng... jreng.... kemana Ummi waktu anak gadisnya nangis semaleman ? *ngringkukdikamar
Kemana Ummi waktu anaknya perlu teman curhat ? *asyikbikinpostingan
Kemana Ummi ? Di mana Ummi ? Ummi sibuk ? Ummi ngertiin anaknya nggak siih?

Tenang... tenang... Ummi ada kok.
Karena aku tahu type anak-anakku, enggak laju lebay gitu aku nanggepinnya. Masih dalam pelukku, dengan santai  kutanya balik :
"Trus kamu mau bunuh diri ?"
"Enggaklah.... kan dosa Ummi, rugi banget" jawab gadisku.
Alhamdulillaah. Berarti dia masih menganggap bahwa selain 'cinta monyet'-nya itu, masih buaaanyaaak hal berharga yang pantas dikejar. Dan karena secara normatif anak-anakku sudah tahu bahwa pacaran itu dilarang agama, aku tinggal masukin nilai-nilai yang diterima logika mereka.
Salah satunya aku  pakai resepnya mba Tri. Kurang lebih begini :
"Jangan terlalu mencintai teman-teman SD, nanti kalau kamu SMP banyak teman SMP yang lebih keren. Jangan juga terlalu serius sama teman SMP, karena di SMA akan lebih banyak lagi cowok yang lebih keren. Kalau mau serius pas kuliah. Karena kalian sudah semakin dewasa dan lebih bisa mempertimbangkan segala sesuatunya. "

Ya gitu deh... itu baru cerita satu anak ya... tapi seputar jatuh cinta dan patah hati aku masih pakai rumus yang ini. Alhamdulillah nampaknya berhasil untuk dua gadis pertama. Paling tidak, mereka nampak segera move-on dari para cowok-cowok CCP-nya dan segera beraktifitas yang lain atau dapet CCP baru. :p *mudahcintadanmudahlupa.
Kalau yang cowok belum kelihatan punya gebetan siih...

Dan untuk nasihat yang lebih serius aku bilang gini : (dapat dari tweet siapa ya, lupa. Kata-kata bijak atau nasehat Islam gitu ).
"Bila kau mencintai seseorang, lihatlah apakah dia dekat dengan Allah atau tidak. Kalau Allah aja dia tinggalin, apalagi kamu ?"

Memang awalnya buat telingaku rada-rada jengah mendengar cerita ABG versi anak-anakku. Mengingat jaman aku seumuran mereka dulu apa-apa kan dirasa sendiri. Paling nulis di diary.
Tapi kan mending anak-anak curhat sama kita kaan, dari pada curhat sama orang lain.
Minimal walaupun dia curhat sama temannya, dia curhat juga sama kita, jadi ada semacam second opinion.
Nah yang kulakukan sehingga anak-anak mau cerita adalah :
* ada sessi berdua -quality time- dengan masing-masing anak. Waktunya atur-atur saja.
* belajar bertanya tentang dunia mereka dan menyiapkan diri menjadi pendengar yang baik. Nggak mencela, nggak motong cerita, full attention.
* ikut baca buku/novel mereka
* sesekali stalking TL / akun socmed mereka spy enggak kudet. #eeeaaaa

Nah ini Cerita ABG-ku. Lain keluarga pasti lain cerita. Mana ceritamu ?

*postingan ini tidak dilombakan karena kesulitan teknis dalam pendaftaran* bilangajamalesngelink

Rabu, 06 November 2013

Selamat Milad, Teteh...

JTanggal 5 kemarin Teteh genap 10 tahun.
Masih jelas terbayang, Ramadhan 10 tahun lalu, di pagi hari. Aku sudah cuti sejak tanggal 1 Nov.Masih ngurusin mandi F1 dan F2 yang masih TK. Tumben keluar flek. Aku minta Mbak dan Fikri bergegas. Mungkin hari ini adik bayi akan lahir, kataku. Mereka nurut. Ayuk yang belum belum 3 tahun juga bersikap manis.
Setelah Mbak dan Fikri sekolah, dan Ayuk sudah sarapan pleus mandi aku berangkat ke Bidan dianter Abi naik motor. Ayuk di rumah sama Bibi.
Jam 8-an berangkat ke Bidan. Jam 10-an masih ditelpon pengurus DKM kantor nanyain penceramah ba'da Zhuhur :D  Kira-kira jam sebelasan Teteh lahir dengan selamat. Alhamdulillah...

Masih jelas juga terdengar, kata-kata Fikri di sore hari ketika datang : 'kenapa Ummi ngelairin adik perempuan lagi? Aku tambah nggak ada temen'.
Tapi nyatanya, Fikri tetap sayang sama adik perempuannya.

Farah Nada Firdausi.
Kabar kebahagiaan dan kesejukan Firdaus di rumah ini. Yang selalu bangga karena pindah dari rumah kontrakan ke rumah sendiri di tanggal ulang tahunnya.
Yang selalu bilang 'iya' ketika dimintai tolong apa saja dan oleh siapa saja penghuni rumah. Sampai-sampai yang enggak masuk akal - nemenin Ayuk cuci piring malam2, atau nemenin mbak belajar di kamarnya- tetep dijabanin.
Yang menurut Ummi kamu sudah 'dibully' kakak adikmu, kamu jalani santai -santai saja sampai Ummi harus mewakilimu untuk menolak dan bilang 'tidaaaak'.

Barakallah... selamat milad anakku. Segala doa kebaikan terkumpul untukmu. Semoga doa Abi dan Ummi dalam namamu pun mewujud dalam lakumu.
Sudah makin besar ya Nak... tangga kehidupan makin naik, tantangan ke depan makin besar. Berlakulah seperti orang besar. Dan peliharalah selalu jiwa besarmu.
Semoga Allah mengabulkan segala permintaanmu. Amiin.

Pict : kuenya rasa Mak Ika ... makasih share resepnya. Ada yang dulat dulit nggak sabar nunggh dipotong kuenya

Jumat, 01 November 2013

Lima Anak Lima Gaya

Seperti yang kusebut di postingan lalu soal LDR, tetiba aja kepikiran mau bikin postingan tentang gaya 'pamit' nya anak-anak kalau mau  keluar rumah.

Sebenarnya urusan exit permit ini adalah wewenang mutlak Abi. Artinya kemanapun anak-anak mau pergi di luar urusan sekolah, maka harus minta izin ke Abi. *lempartanggungjawab ke Abi.
Ya anak-anak pun kayaknya lebih suka pamit ke Abi, soalnya -ini opiniku- Abi lebih ngertiin dunia anak (kota). Aku kan tumbuh besar di desa, dan tipeku kayak yang  enggak punya keinginan pergi-pergi gitu. Bagiku buku-buku, alam,  craft dan makan kenyang, sudah cukup menjadi hiburan.  Jadi ya wajar kaan...  kalau sampai sekarang aku males jalan  ke mall-mall  sekitar kantor itu.
Itulah kenapa kalau anak-anak pamit untuk pergi main (yang menurutku enggak penting) ya aku gak bakal kasih ijin hehe.
Tapi syukurlah yaa... .. mereka izinnya ke Abi, bukan ke Ummi. Walaupun izin sudah keluar, tetep aja siih,  saat pamit ke
Ummi, masih di 'omat' (pesen) banyak hal.
Misalnya : sebisa mungkin enggak lewat waktu makan. Trus  aku juga  lebih galak eh lebih ketat dari Abi soal lamanya bepergian. Bahasaku enggak boleh lewat dua waktu shalat. Selain membiasakan anak agar menjadikan waktu shalat sebagai standar pengaturan waktu mereka, pengennya juga menjalankan ajaran Rasul, segera pulang kalau urusan sudah tersampaikan. Khawatir si empunya rumah mau ada urusan lain, jadi tertunda gegara kita.
Kesimpulannya, kalau pergi main jam 9 ya ashar sudah harus di rumah. Kalau perginya habis zhuhur ya sebelum maghrib udah di rumah. Tapi kalau perginya ashar, ya tetep aja maghrib sudah harus di rumah :p.  Masih konvensional ? Biarin aja. Ini bentuk ikhtiar kami menjaga anak-anak dari hal yang tidak diinginkan di luar sana.

Oh iya, jam malam ini berlaku juga untukku ya... maghrib sudah harus di rumah.  kan orang tua harus kasih contoh...
klo Abi sih dapat hak istimewa luar biasa, karena aku kan  bukan ibunya hahahahaha
Bukan, bukan itu, karena  Abi kan laki-laki, sudah dewasa, insya Allah sudah bisa menjaga diri. Trus kalau pergi juga, pasti urusannya memang penting.  
Walaupun prakteknya Abi juga jarang banget bepergian abis maghrib, kecuali ke pengajian bapak-bapak dan/atau urusan kantor kayak sekarang lagi kena shift, ada 2 hari yang pulang jam 8 malam.

Setelah aku ingat-ingat #haiyah -maklum, faktor U- seperti ini nih gaya pamitnya anak-anakku...

1. Fathimah
Kalau mau pergi ke rumah temen/kerja kelompok, SMS ke Abi langsung,  enggak di cc ke Ummi. Kalau Ummi ngecek sore-sore suka bingung ini anak kemana. Etapi satu dua kali begitu, lihat aja Abi kalau Abi tenang-tenang, berarti semua terkendali.
Kalau berangkat sekolah, pamitnya sambil lewat. Tau-tau udah senyap aja. Nggak ada suaranya.
Kadang aja kalau mau ulangan, suka ada permintaan khusus buat didoakan.

2. Fikri
Kalau dia ini, pamitnya bisa berkali-kali. Habis mandi ganti seragam trus sarapan, setelah sarapan sambil nggendong tas udah pamit. Kalau masih kepagian, dia duduk lagi. Pinjem hapeku dan twitteran. Atau ngelaba sisa sarapan yang kebetulan dia suka. Misal roti/pancake. Atau nggado lauk klo kelihatan banyak. Nanti baru pamitan lagi. Trus pakai kaos kaki, pamitan lagi. Kadang ditambah kata-kata : Ummi, ridho ya.. aku pergi. Ridho ya, kalau aku meninggal hari ini.
Si anak bujang ini masih nurut kalau dicium, enggak lari-lari kayak F1 dan F3 kalau mau dicium Abi.

3. Fadhila
Pamitnya es te de. Konsisten. Biasanya sih habis nyapu, mandi, ganti baju sekolah trus sarapan. Karena seragamnya pakai kerudung blong yang tinggal masukin, F3 ini suka santai - santai saat sarapan. Tapi bukan berarti sarapannya jadi banyak, tapi justru dia susumputan supaya bisa makan dikiiit. Nah habis sarapan, pake kerudung barulah dia pamit. Pamit di saat terakhir.

4. Firda
Firda agak istimewa ini. Mungkin karena belum puas jadi bungsu atau justru karena udah berasa 5 tahun jadi bungsu baru F5 lahir, jadi dia agak spesial. Jangan coba-coba pergi kalau dia masih di kamar mandi atau masih nutup kamar lagi ganti baju. Dia bakalan nangis. Sedih. Jadi kalau mau pergi ya harus dia lihat pleus salaman. Salamannya suka berkali kali. Dulu jaman masih searah aku nganter TK, bisa tuh salaman di rumah sekali, depan kelas sekali, trus pas aku balik ke motor dia ikut lagi ke parkiran dan salim lagi. Uff.. ummi kan udah pengen lari ngejar setor jari. ya tapi syukurlah, biasanya kalau kita tetep ridho gegara anak seperti ini, kok ya enggak telat. Ada ... saja kemudahan di perjalanan yang bikin kita cepet nyampe kantor. Kalau F4 ini suka kasih embel-embel : dadah Ummi, Selamat Bekerja ! Sampai jumpa nanti sore. Dan semacamnya.
Sampai gede sekarang ini, kebiasaan salam berkali-kali masih berlaku. Jadi kalau aku berangkat, sebelum keluar aku salimin anak²  yang masih ada di rumah. Eh nanti pas di luar ketika aku mau naik motor, si Teteh ini bakal minta salaman lagi.

5.Faiz
Faiz ini tepatnya bukan pamitan ya.. tapi dipamiti. Secara dia kan belum pergi-pergi sendiri. Faiz menjadi tempat berkumpul segala kehebohan kakak-kakaknya. Yang salim berkali-kali, yang nangis (kadang) kalau ditinggal, yang kasih ucapan bertubi tubi plus ciumannya juga yang musti pipikanankirijidatjanggut belum pelukannya. Katanya. "Selamat bekerja ummi, bawa oleh-oleh Ummi, semoga selamat Ummi,  sampai jumpang#. Asli pakai jumpang ini mah... bukan jumpa.
Awalnya mungkin karena  dulu belum banyak kosa kata. Asal mirip sama yang didengarnya aja.  Sekarang mah dah keenakkan, pakai kata jumpang itu. Kalau diingetin malah kayak sengaja nylelek gituuu... ya tapi namanya bontot, tetep aja berasa lucu lagi menggemaskan.

Eh,  pas disandingkan gini, ternyata sebagian besar anakku kalau pamit musti berkali-kali ya.. *nurun siapa ini?*
Moga aja bukan karena mereka males sekolah ya... tapi semata-mata karena mereka masih betah di rumah. Hahahaha *bedanya apa?*