Rabu, 27 November 2013

Lingkaran Beraroma Surga

Kalau ada yang menjadikan aktifitas ngeblog sebagai sarana menjada level kewarasan tetap dalam posisi aman, alhamdulillah aku punya blog.
Tapi, selain blog di dunia maya ini,  aku punya lingkaran di dunia nyata yang akan segera menopang, menarik dan memberiku 'pil-pil anti galau' agar kewarasanku tidak saja dalam level aman, tapi harus selalu dalam posisi maksimal, *pengennyaaa.....
Apakah itu?  itulah lingkaran ibu-ibu pengajian, yang beranggotakan relatif tetap, bertemu secara intens setiap pekan. Aku belum pernah cerita tentang ini secara khusus,  mumpung masih dalam suasana hijrah, kayaknya timingnya pas ya.. kalau aku ceritain.
Alkisah, 22 tahun lalu, ketika awal-awal kuliah, aku dipertemukan dengan saudara-saudaraku ini. Untuk pertama kalinya dalam 18 tahun usiaku, aku mendapatkan pencerahan atas hakikat hidup dan kehidupan.
Aku tak pernah meminta untuk datang ke dunia ini, aku ada semata karena Dia yang Menghendaki. Aku buta tentang diriku dan jalan hidupku,  Dia dengan kasih sayang-Nya telah menyediakan petunjuk-Nya yang suci. Aku gelap akan akhir perjalanan ini, Dia tunjukkan terminal terakhir di surga-Nya nanti. Itulah inti yang kusimpulkan. Aku diajak kembali pada fitrahku, agar aku dapat menjalankan tugas kehidupanku.
Perjalanan menuju hakikat kehidupan ini sangatlah panjang. Sepanjang kehidupan itu sendiri. Prosesnya pun tidak mudah. Setiap perjalanan spiritual pasti ada godaan, eksternal dan internal. Secara eksternal akan ada tarikan-tarikan masa lalu, tarikan-tarikan dunia yang indah mempesona. Pertemanan,  gaya hidup, pemikiran, dsb.
Di saat yang sama kita juga harus mengatasi 'musuh dalam selimut' berupa hawa nafsu dalam diri kita. Rasa malas, egois, iri, dengki, dsb. Berat sekali ya... Layaknya seseorang yang sedang berjalan mendaki, makin ke atas makin terengah-engah. Bukan saja karena lelah, tapi juga karena oksigen yang makin menipis.
Seperti itulah kumaknai perumpamaan perjalanan hidup ini. Kalau pakai logika bahwa makin tinggi tingkat  keimanan seseorang,  makin berat ujiannya,  mestinya hidup ini tidak makin mudah.
Maunya kan keimanan naik terus, artinya walaupun naik turun tapi kalau digambar kurvanya tetap naik trend-nya.
Berarti kehidupan ini akan makin berat, sesuai pertambahan kadar keimanan kita.
Hidup boleh makin berat, tapi cara pandang akan ujian itulah yang akan melahirkan penyikapan yang berbeda, dan ini akan membuat segalanya berbeda, jauh berbeda.
Dari sinilah aku merasakan, bahwa aku perlu teman seperjalanan, aku perlu tim yang saling menopang ketika lemah, saling mengoreksi ketika salah, saling mengingatkan ketika mulai lupa. Dan tentu saja, aku perlu guru yang membimbing sekaligus memberikan teladan.
Alhamdulillah, hampiiir semua yang kubutuhkan itu, aku dapatkan di lingkaran teman-teman pengajianku.
Di saat-saat awal aku mulai ngaji, aku akui aku membatasi diri hanya bergerak di lingkungan yang membuatku nyaman. Memilih  teman yang seiring sejalan, memilih tempat kos yang tenang, sampai kegiatanpun sebisa mungkin yang mendukung proses perubahanku ini.
Orang mengatakan jilbaber itu eksklusif. Bukan, bukan maksud hati untuk jadi  ekslusif, menurutku. Ibaratnya  orang lagi berbenah, ya enggak mau dong proses bebenahnya banyak interupsi, kapan beresnya ? Begitulah...
Alhamdulillah itu tidak berlangsung lama. Karena aku hidup di dunia nyata yang penuh perbedaan, maka aku belajar. Belajar bergaul, belajar bermasyarakat. Belajar mempraktekkan apa yang kudapat di lingkaran pengajian ke dunia nyata.
Langkah-langkah yang tengah kutempuh adalah:
* Diawali dengan berusaha memperbaiki diri dari segi aqidah,  ibadah, wawasan agama, ahlak, manajemen waktu, kesehatan fisik, sumber rezeki, dan muamalah agar keberadaan diriku membawa manfaat untuk orang-orang di sekitarku.
*Kemudian berusaha membentuk keluarga saleh. alhamdulillah Allah mempertemukanku dengan Abi yang jadi partner sekaligus pembimbingku. Dari keluarga ini berharap usaha perbaikan diri kami terus berlanjut dan mendapatkan generasi penerus yang siap menerima estafet perbaikan dan membawanya kepada teman/anak-anaknya kelak.
*Berikutnya adalah belajar memberikan kontribusi ke masyarakat. Dulu waktu masih gadis, ya bisa aktif berorganisasi. Ikut acara ini dan itu, jadi panitia ina dan inu. Sekarang setelah berbuntut banyak dan langkahnya pendek, bukan menjadi alasan untuk berhenti bergerak. Bergerak dan mengalirkan kebaikan. Nggak bisa jauh dan luas,  ya ambil yang terdekat, urusan dasa wisma,  arisan RT, posyandu, pengajian ibu-ibu,  sekolah ibu, sanggar baca gratis, bakti sosial dsb. Oh iya,  menulis juga sempat menjadi salah satu obsesi,  pengennya sih tulisanku ada isinya. Ya kalau belum kelihatan, ya maap maap aja, karena memang kepalaku masih dalam proses pengisian. :D
*Berikutnya adalah berkontribusi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena aku pegawai pemerintah,  aku menjadi  bagian dari pemerintahan.  Aku ambil bagianku dalam proses menuju good governance. Caranya ?  Berusaha amanah dalam melaksanakan tugas pekerjaanku. Terus belajar untuk meningkatkan kapasitasku.
Selain itu, di jaman demokrasi seperti ini, aku peduli siapa pemimpin yang bakal membawa perubahan. Aku dukung dia.
Aku juga peduli siapa yang mewakili suaraku di anggota dewan. Jadi aku bukan golput dan aku menolak golput. Satu suara yang kita berikan dapat membawa perubahan. Dan satu suara yang tidak kita gunakan, akan mungkin disalahgunakan.
*Berikutnya adalah aku peduli dengan urusan dunia, orang-orangnya, bumi dan isinya. Kalaupun enggak/belum ada laku nyata yang luas dampaknya untuk mencegah keburukan di belahan bumi mana, minimal ada penolakan, ini tanda peduli. Meskipun belum ada bantuan nyata yang besar buat mereka yang membutuhkan di belahan bumi sana, minimal doa. Akan ada 'Tangan Tak Terlihat' yang akan bekerja. Masalah sampah, masalah udara dan pencemaran, menanam pohon, pornografi, pornoaksi, dsb semua diawali dari diri, keluarga dan lingkungan terdekat.
Berpikir global bertindak lokal.
Langkah-langkah praktis itu kudapatkan dari lingkaran pengajian.
Semua langkah-langkah itu masih terus kulakukan, seiring dan sejalan, diusahakan dalam keseimbangan.  semoga tetap istiqomah kulakukan sampai akhir hayat kelak.
Alhamdulillah dengan itu semua aku 'dipaksa'  enggak punya waktu untuk menggalau urusan pribadi macam utang, nggak punya uang, dapur mau ambruk
#curcol dsb, aku harus berusaha untuk selalu 'waras', aku belajar untuk tidak mementingkan  permasalahan pribadi, karena masih baanyaaak hal besar lain yang harus dipikirkan.
Katanya, siapa yang tidak memikirkan hal-hal besar, pasti yang terjadi sebaliknya.
Kini, dengan posisi lingkaranku ada dua orang kandidat doktor (komunikasi dan psikologi), satu orang S2 psikologi juga, satu calon dokter spesialis, satu direktris perusahaan biro wisata, satu dosen, satu guru dan aku yang karyawati, pembicaraan di lingkaran ini bisa meluas kemana-mana. Dari urusan anak sampai urusan sekolah / perguruan tinggi yang baik. Dari urusan RT sampai urusan negara. Dari urusan dapur sampai urusan politik. Satu jam dua jam tidak cukup. Kadang 3-4 jam. Begitu banyak ilmu yang (seharusnya) bisa aku raup secara cuma-cuma. Ya mungkin karena keterbatasanku aja maka aku masih gini-gini aja. Eits jangan dikira di lingkaran ini kami damai-damai saja, selalu ada dinamika kelompok. Belajar memberikan perhatian, belajar pengertian, belajar mengutamakan kepentingan teman, belajar mendengarkan, belajar menghargai dsb. Marahan dikit sesekali, jauuuh banyakan ketawanya setelah maafan lagi.
Oh iya, ngomongin soal gini-gini aja ini, jadi ingat pas temen sekamarku di sekolah tinggi dulu nelpon (setelah 15 tahun enggak ketemu), nanya :
"Titi masih ngaji ?"
"Masih dong, ada yang ngingetin aja masih bandel, gimana kalau nggak ada yang ngiingetin ?" Itu jawabku.
Terus kenapa judulnya lebay gitu ? Itu karena pas aku bikin tulisan ini, ingat kisah seorang sahabat yang mengadu kepada Rasulullah SAW, katanya kenapa kalau di dalam majelis Rasul surga itu terasa dekat, keimanan itu begitu kuat, ibadah jadi semangat. Sebaliknya ketika kembali ke keluarga, bersenang- senang, surga itu jadi menjauh. Rasul pun memberikan pengertian, bahwa segala sesuatu itu ada saatnya. Ada waktunya.
Jadi kita kitalah yang musti pandai-pandai mengatur waktu. Karena sejatinya, kewajiban itu jauuuuuh lebih banyak dari waktu yang tersedia. Maka apapun kesibukanku, sepanjang masih memungkinkan, aku akan menyediakan waktuku untuk duduk melingkar setiap pekan. Di lingkaran 'beraroma surga' ini.


suasana dalam lingkaranku, yang kebetulan pas di masjid . captured by Faiz

10 komentar:

  1. Mbaaak... aku sukaaaa tulisan inii.... suka isinya, suka juga cara berceritanya.. begitu runut dan teratur, mudah dimengerti, dan menyemangati.

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih mbak Tituuuk.... semoga bermanfaat ya... ayo mbak Tituk cerita juga tentang ini..

      Hapus
  2. saling mendoakan, semoga senantiasa istiqomah di jalan dakwah ya mba..
    *jabat erat, cipika cipiki
    ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya.. saling mendoakan agar tsabat dan istiqomah. *balik jabat dan peluk, bonus cipika cipiki*

      Hapus
  3. Waaaahhhh... isi postingan ini mewakili isi hatiku juga mbak.... Bagus banget cara berceritanya, dan memaknainya sama banget deh cara kita. Memang sangat-sangat beruntung kita dipertemukan teman-teman selingkaran ya mbak??
    Belajar gratisnya itu yang gak bisa didapat di mana-mana... bahkan bisa konsul dokter gratis juga, secara temanku selingkaran ada 3 dokter, dua di antaranya spesialis... huaaahhh... alhamdulillah. Dan enaknya di saling ringan membantu itu lhooo... wah jadi kangen mereka ni... ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. betull...belajar gratisnya itu tidak aku dapatkan di manapun. intensif pula ya.. seminggu sekali.
      konsul gratis ? xixixi... iya... itu berlaku juga buatku sekeluarga. hahaha

      Hapus
  4. aku bagi waktu mbak antara negblog dengan kegiatan dunia nyata. Tapi jujur suka pingin buru2 ada dirumah buat berselancar :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. bagus mbaaak...ya seimbangkan sajalah... agar tidak ada yang berkelebihan di satu sisi dan berkekurangan di bagian lain...

      Hapus
  5. hihihi lanjutkan mbaaak, kan aku yang ikutan ngerasain efek baiknya dirimu. Lingkaran di dunia nyata itu sebenernya ya emang harusnya lebih utama daripada yang dunia maya ya, mbak. Kan anak-anak kita ngeliatnya juga yang di dunia nyatanya kita buat jadi contoh. eh ini kayak ngomongin yang tadi siang yes

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Maaak.. kita saling dukung aja to be better person kalau kata Mak Ika. emang sih ya... contoh di hadapan anak-anak itu yang kadang kita nggak nyadar. Kayak katamu, jangan khawatir anak-anak nggak nyontoh kita, tapi justru khawatir di contoh sampai yang buruk buruk nya puuun... *tutup muka*

      Hapus

Silakan Tinggalkan Kesan