Selasa, 31 Desember 2013

Kisah Kasih Asisten Rumah Tangga

Ini bukan cerita tentang ART yang menjalin asmara ya.. tapi cerita tentang ART yang pernah menemani dan mengasuh anak-anakku.
Jadi aja ini semacam kaleidoskop ART gituuu...

Sewaktu kami tinggal di Kupang selama  hampir 5 tahun dan sampai lahir anak ketiga, tidak ada ART di rumah. Jadi pekerjaan rumah ya dikerjakan berdua aja sama Abi. Kalau Abi nyuci aku setrika. Kalau aku nyuci ya Abi yang setrika. Kadang Abi ya nyuci ya setrika ya ngepel, ya ngisi air hehehe...*istringelunjak*
Trus anak-anak gimana dooong kalau ditinggal kerja?

Pas Mbak Fathimah lahir, ada Ummi dan Cici  yang bersedia menjaga mbak Fathimah. Beliau berdua sepasang suami istri. Anak-anaknya dua orang dan menjadi murid pengajian Abi. Jadi pagi hari sebelum ngantor kami ke rumah beliau nganter mbak Fathimah, siang istirahat nengok ke rumah beliau, baru sore dibawa pulang. Meski punya bayi dan belum presensi sidik jari, aku gak bisa santai-santai istirahat siang. Karena waktu itu berlaku absen 4x. Jadi jam 12 istirahat tanda tangan dan maksimal jam 13.30 sudah harus kembali ke kantor /tanda tangan lagi. Makanya kalau yang nakal, pulangnya bukan jam 12, tapi jam 13 baru keluar, balik lagi menjelang jam pulang.
Kalau telat kembali setelah istirahat ? Ya telat/tlb. Jadi sehari bisa tlb/pc dua kali.
Tapi syukur juga aku ngalamin ini, sepuluh tahun kemudian pas di Bandung, dpt boss yang peduli banget masalah ini, udah enggak kaget. Karena aku sudah mengalami yang lebih dari itu.

Ketika Fikri lahir, Ummi dan Cici enggak sanggup menjaga dua anak. Alhamdulillah ada Nenek Khalid dan Kak Ida yang bersedia. Rumahnya lebih dekat dengan tempat tinggalku. Jadi pagi-pagi mbak Fathim dan Fikri: diboyong ke sana. Eh, Fikri aku bawa ngantor dulu ding, sampai 6 bulan ASI ekslusifnya. Baru setelah itu aku titipin di Nenek. Aku bawain masakan dan jajan-jajanan buat de krucils. Sufor juga nyimpen di rumah Nenek. Nenek Khalid ini baiiiik banget. Seringkali di akhir minggu kami dibikinkan kue-kue gitu. Favoritnya adalah bolu rasa jeruk, waktu itu aku belum tertarik baking, yang kuingat, rasa jeruk itu didapat dari sirup ABC aja, segimana dan bagaimananya aku gak perhatiin hehehe... Trus kalau lebaran dibikinin kuker dan baju baru. Pokoknya enggak itungan. Banyak utang budi sama Nenek Khalid ini.
Pas Fadhila lahir, Nenek Khalid sempat kebingungan bagaimana ini menjaga 3 anak. Fadhila kubawa ngantor sampai usia 6 bulan.
Trus Abi sudah mengajukan pindah ke Jawa. SK Abi keluar, aku menyusul mengajukan pindah juga.
Alhamdulillah waktu itu ada satu lagi anak gadis beliau yang baru keluar dari Pesantren Putri Padang Panjang dan sedang melamar  pekerjaan. Namanya Kak Aminah. Kak Aminah ini yang bersedia membantu menemani Fadhila, akhirnya Fadhila ikut juga ke rumah Nenek Khalid. Iramanya masih sama. Siang istirahat aku ke rumah Nenek. Sore nanti jemput. Jemputnya bukan di rumah, tapi di TPA/Taman Pendidikan Al Qur'an di masjid samping rumah. Karena kalau sore Kak Ida dan kak Aminah mengajar TPA. Kecuali Fadhila kecil yang kujemput di rumah Nenek. Demikian berlangsung selama Agustus-November tahun itu.

Nenek dan Kakek Khalid, pas pulang Haji 2007 mampir ke Bandung
'Cucu' kesayangan Nenek Khalid, sampai tangis-tangisan pas nganter ke bandara saat kami pindahan

Fadhila berumur hampir setahun saat kami pindah Bandung. Waktu itu Mbak Fathimah  sudah sekolah TK sampai siang. Inilah pertama kalinya kami punya ART di rumah.
ART pertama : Mbak Rini, lulusan SMA dari Jawa. Modelnya PP gitu, pagi datang, sore pulang.
Sebelum mulai bekerja, aku main dulu ke rumah kontrakannya. Dia ngontrak dekat kakaknya yang sudah berkeluarga dan bekerja di Bandung. Dekat rumah teman pengajianku juga.
Hari-hari pertama bekerja pakai celana pendek selutut. Lha aku aja sama pak suami gak boleh pakai celana pendek demi menjaga pandangan Fikri,,  ini ada gadis pakai celana pendek di rumah. Akhirnya kusediakan beberapa celana panjang untuk dipakainya. Alhamdulillah mba Rini gak keberatan.
Untuk memilih acara tivi, kami belikan tabloid bintang, dan kami lingkari acara-acara yang boleh ditonton bersama anak-anak. Kalau anak-anak tidur, terserah mbak Rini mau nonton apa.
Pekerjaan utama menjaga anak dan setrika. Masak dan nyuci sudah kukerjakan sebelum mba Rini datang. Bebersih rumah Abi yang melakukan.
Sayang, mbak Rini kerja hanya dua minggu saja. Dua minggu ?
Umminya galak ya.... kebanyakan peraturan kalii... gajinya kecil pulak.
Hahaha... enggaklaah... insya Allah. Mba Rini pamit baik-baik karena dia diterima kerja di pabrik tekstil. Jadi dia kerja di rumahku iseng-iseng aja nunggu jawaban lamaran kerja. Ya sudah deh belum rejeki. Padahal enak lho ngobrol sama mbak Rini. Yaeyalah... anak sma gitu lho...
Beberapa waktu kemudian pas ketemu lagi aku pangling karena mbak Rini sudah berkerudung cantik.

ART kedua Bi Erna
Usianya sudah setengah tua. Aku tidak ke rumah beliau dulu karena kami sudah kenal sering ketemu di warung ketika belanja.
Default pekerjaannya masih sama dengan Mbak Rini.
Paling sebulanan Bibi ini kerja, minta berhenti karena jam kerjanya terlalu panjang. Maunya yang nyuci setrika terus pulang gituuu... seperti ART pulang pergi pada umumnya. Yah.. bi, emang yang kami butuhkan teman anak-anak selama kami bekerja. Kalau kerjaan rumah mah udah biasa kami kerjakan bersama.
Ya sudah deeh.... kamipun merelakan bibi pindah.

Tidak lama kemudian, ada Bi Marie.
Alhamdulillah masa-masa mencari ART ini GPL alias gak pakai lama. Soalnya model ART pulang pergi ini banyak banget di komplekku. Kalau aku menyapu halaman pagi-pagi, pasti ketemu mereka berangkat kerja. Makanya pas aku perlu, nitip pesan aja sama yang lewat itu -para ART tetanggaku- untuk dicarikan.
Bi Marie bersama kami hampir dua tahunan.  Fikri sudah sekolah juga. Jadi kalau pagi bi Marie hanya berdua Fadhila. Pekerjaan mencuci aku delegasikan. Masak tetap aku yang mengerjakan. Kayaknya masih mendingan membiarkan anak main air daripada anak main dekat kompor..
Nah pas aku mau melahirkan anak ke empat, aku ambil cuti besar selama 3 bulan. Karena aku di rumah, dan tidak dapat tunjangan, maka aku bilang bi Marie kondisiku, aku tidak memungkinkan untuk membayar gajinya. Jadi Bibi Mari aku cutikan, dengan perjanjian kalau dapat kerjaan ya silakan bekerja di tempat lain. Gak balik ke aku gapapa. Tapi kalau mau kembali ya pintu rumah kami terbuka.
Kurang lebih sebulanan, bi Marie main ke rumah dan cerita sudah punya kerjaan. Aku ikut seneng juga, bi Marie enggak nganggur lagi.

Ketika cutiku hampir habis, tante sebelah menawarkan ART. Yang ditawarkan adalah ibu teh Entin-ART beliau. Namanya Bi Esih.
Yang mengejutkan adalah, Tante mensyaratkan Bi Esih pake kerudung untuk bekerja di rumahku. Padahal belum ada pembicaraan apapun antara aku dan bi Esih. Dan akupun enggak menjadikan itu sebagai syarat. Toh ketiga ART terdahulu juga aku gak pakai syarat itu. Tapi bi Esih ternyata menerima. Ya alhamdulillah...
Jadi kalau berangkat kerja Bibi pakai kerudung rapi. Kalau di rumah/pas libur ya kostumnya lain lagi.
Seperti ART terdahulu, aku main ke rumah bibi. Kenalan sama keluarganya, sama suaminya. Asalnya dari Kuningan tapi sudah menetap di Bandung. Suami ya punya toko di pasar.
Tahun-tahun pertama sama Bi Esih itu ibarat orang pacaran putus nyambung gitu. Kadang kesel. Tapi ya untunglah kalau malam Bibi pulang, jadi pas pagi datang lagi, aku udah ilang marahnya.
Misalnya : Bibi keukeuh membawa anak-anakku pulang ke rumahnya kalau siang hari. Tapi Bibi selalu berdalih "moal diculik, moal diciwitan". Gak akan diculik, gak akan dicubitin, tetap disayang.
Iyaaa... percaya. Justru saking sayangnya Bibi sama anak-anak, dan memberikan apa saja, dan mengijinkan nonton apapun di rumahnya itulah yang membuat kami khawatir. Rasa-rasanya seperti ada perebutan perhatian anak-anak dan inkonsistensi peraturan rumah gitu. Tapi ya alhamdulillah setiap malam Bibi pulang anak anak kembali pada kami dan tetap diingatkan dengan peraturan rumah, sebagai anak Abi dan Umi. Lama-kelamaan posisi Bibi itu seperti orang tua kami, gak bisa dibantah. Gemes ? Pecat aja sih ! *ups
Hahahaha.... *iya sekarang bisa ketawa*
Pernah... pernah aku mau day-care in siTeteh waktu itu. Udah survey sana sini, tapi ternyata si Tetehnya juga enggak bisa ditinggalin dan toh mikirnya bentar lagi juga sekolah. Ya udah deh, enggak jadi.
Pernah juga aku mau berhentikan Bibi pas lahiran Faiz. Dengan alasan aku gak bisa membayar gajinya. Eh ternyata Bibi cuma dua hari berhenti, habis itu tetap datang, katanya tetep mau ikut keluarga kami, enggak dibayar juga enggak papa. Drama banget enggak siih ???
Kenapa bisa gitu? Enggak dibayar gak papa. Dibayar nanti-nanti aja, maksudnya.
Tahukah saudara-saudara, Bibi itu bekerja bukannya butuh penghasilan. kayaknya ngisi waktu luang aja. Hasil pasar suaminya sangat cukup untuk menghidupi mereka berdua. Jadi gaji bibi tiap bulan dibelikan perhiasan (*pinjem dong Bi... buat digadaiin, 4 bulaaan aja..... ) dan setelah terkumpul banyak, menjadi tanah dan sapi di kampung sana. Bibi tidak tertarik overtime kalau dia enggak mau.
Bibi ini baiiik banget sama anak-anak. Enggak pernah mau makan di rumahku, makanya siang selalu pulang dan makan di rumahnya.Katanya buat anak-anak aja. Dibawain oleh - oleh juga enggak mau, kecuali dianter ke rumahnya. Sekarang aja, setelah bibi ada cucu, aku bilang 'titip buat Eka', bibi enggak bisa nolak lagi.
Tiap habis gajian pasti beliin oleh-oleh buat anak-anak. tiap Senin/habis libur pasti mbawain kue buat anak-anak. Jangan tanya kalau habis mudik, pasti bawa beras dan sayuran untuk kami.
Dan yang paling jooss, kalau lebaran dikasih THR, trus ngasih lagi THE lagi ke anak-anakku. Bibi juga mbeliin baju buat anak-anak.  Dulu jamannya Firda, ya Firda yang dikasih. Sekarang jaman Faiz, ya Faiz yang banyak dikasih perhatian sama Bibi.
Dan kurasa Bibi pun perlahan tapi pasti banyak menyesuaikan dengan kebiasaan kami. Pasti dia juga banyak makan hatinya sama kami, namanya juga 7 orang. orang banyak ya banyak maunya.
Itulah sebabnya kami selalu menekankan pada anak-anak, hormatilah bibi sebagai pengganti orang tua selama ummi dan abi enggak ada di rumah. Harus nurut sama bibi. Kalau disuruh makan ya makan, kalau disuruh mandi ya mandi. Kalau keluar rumah pamit sama bibi.

Bi Esih bersama Eka dan Faiz

Dengan 10 tahun bi Esih bersama kami, rasanya aku sudah membuktikan satu anekdot yang ku dapat dari temen kantor :
"Yang membuat pembantu betah itu, kalau bukan karena majikannya yang baik banget, pasti karena dianya yang baik banget".

Minggu, 29 Desember 2013

Testimoni : Sebulan Bersama Grup ODOJ

Aku sudah pernah posting tentang grup ODOJ sebelum ini di sini .  Kini hampir sebulan aku tergabung dalam grup ODOJ 230. Tepatnya satu periode haidku hehe...
Belum lama ? Iya banget. Ibarat peribahasa baru seumur jagung. Itupun masih kurang. Karena umur jagung sekitar 3 bulan. Meski baru sebentar, tapi subhanallah, efeknya luarrrr biasaa...

Seperti yang dikatakan Mak Ika dalam postingannya, kurang lebih aku juga merasakan hal yang sama.  Sungguh, setelah menjadi ODOJers terasa sekali bahwa ternyata aku masih mempunyai banyak keluangan waktu diantara kesibukan atau yang kuanggap sebagai kesibukan. Yang kuperlukan hanyalah fokus dan azzam/kemauan yang kuat untuk menyelesaikan (minimal)  satu juz. Azzam itu semacam apa ya...pokoknya yang keinget teruslah. Klo di pengajian ibu-ibu, aku sering  mengibaratkan bagai perasaan/pikiran ibu kalau anaknya lagi sakit. Pasti akan keingeeeeet terus apapun kesibukan sang ibu. Sehingga di sela-sela kesibukan itu, dia masih dapat melantunkan doa kesembuhan buat anak kita. Begitulah kira-kira.
Daan.... ternyata bisa lho...  Aku dapati banyak kesempatan tilawah yang selama ini terbiarkan, misal  saat nunggu jemputan, saat pagi antara jam kedatangan sampai jam bertugas tiba, saat nunggu customer datang, saat nunggu yang lain siap-siap... banyak laah... barang lima menitan juga udah lumayan,  bisa dapat satu - dua halaman. Tapi tetap ada waktu-waktu yang memang kita luangkan untuk tilawah dengan khusyu'.  Istilahnya golden time. Tiap orang mungkin berbeda. Biasanya  sebelum atau setelah subuh. Ada juga yang setelah ashar. Temukan saja kapan golden time kita, dan tilawahlah dengan tenang.

Selain itu, aku juga menemukan teman-teman yang saling mendukung untuk bersama-sama menyelesaikan ( minimal ) satu juz. Teman seperjuangan itu perlu. Kan ada lagunya tuh...
"Selama ini, kumencari-cari... teman yang sejati, tuk menemani, perjuangan ini...."
Wkwkwkwk... penyuka nasyid slow pasti tahu lagu ini.
Yah, ibaratnya orang mau nakal aja -yang katanya udah ditemenin setan - masih memerlukan 'partner in crime'. Apalagi ini mau melakukan kebaikan, sangat-sangat perlu teman untuk saling mengingatkan. Karena  pasti banyak banget godaannya. Apakah bentuk godaan itu? Banyaklah... kita rasa-rasa sendiri aja, hal apa yang menahan kita dari kebaikan/berbuat baik. Tiap orang beda-beda sesuai kondisi dan kecenderungannya. Nah, alhamdulillah, dalam hal tilawah qur'an ini aku dah dapetin teman seperjuanganku di grupODOJ  ini.

Bertambah teman dan saudara. 30 orang tergabung dalam satu grup, intens 24 jam. Subhanallah. Kemarin kami kenalan satu per satu di grup. Tak kenal maka..... ta'aruf atau kenalan. Alhamdulillah, grupku ini heterogen sekali. Ada beberapa dokter, ada beberapa PNS, ada dosen, ada terapis ABK, ada guru, ada IRT dan profesional lain. Subhanallah... terasa sekali dinamikanya.  Tempat tinggalnya pun beda-beda, beberapa di Bandung, ada yang Jakarta, Depok, Garut, dsb. Jadi bener bener lintas geografis. Atau jangan-jangan udah mendunia (amiiiiin....)
Ya Fety aja yang di Jepun sana dah gabung ODOJ.
Anaknya Jamil Az-Zaini di Jerman sana gabung ODOJ*.
Dan kabarnya..ada puluhan orang yang rela mengantri setiap harinya untuk diinvite ke grup ODOJ. Subhanallah...sebulan lalu aja grupku udah nomor 230, sekarang udah berapa ya.. Buat yang pengen kopdar dengan sesama ODOJers, Insya Allah akan ada acara akbar ODOJers se-Indonesia Mei tahun depan di Masjid Istiqlal Jakarta.

Bertambah ilmu dan pemahaman, insya Allah. Sambil belajar prakteknya, tentu saja. Bukan sebatas tentang tafsir dsb, tapi share hikmah dan pengetahuan dari anggota lain sesuai bidang ilmunya. Ada yang share hypnoparenting. Ada yang share tips mengajarkan anak hafalan Al Qur'an, dsb. Semua jenis ilmu dan info boleh di-share di grup, kecuali jualan. Banyak juga cerita tentang keluarga-keluarga pecinta Al Qur'an yang bikin diri  menjadi berkaca, betapa masih jauhnya interaksi diriku ini dengan kitabullah. Semua itu menjadi semacam moodbooster agar lebih dekat dan dekat lagi dengan Al Qur'an sebagai sumber ilmu dan pengetahuan.

Bertambahnya kecintaan terhadap Al Qur'an - insya Allah.
Katanya, cinta itu kan inget melulu, berdebar-debar kalau dengar namanya, pengen dekat-dekat terus, dsb. Cinta itu harus dipelihara, antara lain ya dengan menjaga kualitas dan kuantitas hubungan. Kurasa rumus cinta itu berlaku untuk semua hal. Begitu juga dengan cinta terhadap Al Qur'an.
Nah dengan belajar one day one juz ini ternyata ajaib sekali ya.. sebelum gabung, membaca satu juz atau dua juz per hari itu hanya berlaku di bulan ramadhan. Ternyata di luar ramadhan juga tetep nikmat lhooo..., banyak-banyak baca Al Qur'an.
Yang awalnya masih terbata-bata, dengan sering sering membaca insya allah makin lancar tilawahnya.
yang udah lancar tilawahnya, lama-lama insya Allah makin familiar dengan ayat yang dibaca, maka akan lebih mudah menghafalnya. Yang sudah menghafal, maka tilawah menjadi salah satu cara penjagaan. Yang belum tahu maknanya, ya jadi belajar. Yang udah belajar maknanya, ya jadi terdorong untuk mempraktekkan. .Pokoknya enggak akan ada habisnya deh..
Mungkin ada yang bertanya, trus kalau enggak punya wudhu gimana ? ini kan beda pendapat masalah fiqhiyah ya.., di luar kapasitaskku untuk membahasnya. Solusinya ya sering-sering aja wudhu lagi, minimal setiap ke toilet sekalian wudhu. Tuh kan,  dengan ODOJ jadi ada amal baik lain yang menyertai, yaitu mendawamkan wudhu/menjaga wudhu.

Hidupnya hati - khusus bagian ini bukan testimoni ya.. tapi harapan.
Katanya, hati yang hidup, hati yang sehat adalah hati yang mudah menerima peringatan dan pelajaran. Mudah diarahkan kepada kebaikan.
Ibaratnya tanah, dia adalah tanah yang gembur, yang mudah ditanami dan dapat menyimpan air di sela-selanya. Sehingga tanaman di atasnya menjadi tanaman yang subur, berbuah lebat, dan bermanfaat untuk orang banyak... enggak berbuah pun, minimal bisa untuk berteduh dan bersarang burung-burung. Nah, dengan membaca ayat-ayat Allah, semoga hati kita menjadi lebih lembut, menjadi lebih lunak. Sehingga kebaikan-kebaikan yang Allah curahkan di kehidupan kita ini, dapat kita lihat dan kita rasakan. Ini akan membuat hati dipenuhi kesyukuran. Kesadaran akan limpahan kebaikan dari  Allah ini akan mendorong seseorang untuk melahirkan kebaikan-kebaikan baru. Ahsin kama ahsanallah ilaik. Berbuat baiklah seperti Allah berbuat baik kepada kalian. Dalem banget ini kaan.. dan enggak akan ada selesainya sampai maut menjemput. Allah berbuat baik sama kita terus menerus, Allah berbuat baik sama kita tanpa minta balasan, Allah berbuat baik sama kita tanpa mengharap pujian, Allah berbuat baik sama kita tiada batas dan tidak pilah pilih. Dsb. Jleb jleb jleb laaah...
Semoga kita dijadikan pribadi-pribadi yang terus menerus melahirkan kebaikan. Amiiin.

Demikian pengalamanku selama sebulan ikut program ODOJ, besar harapku (minimal) one day one juz ini menjadi salah satu amalan yang istiqomah aku jalani hingga akhir hayat nanti. Amin amin Ya Rabbal 'alamin. Soalnya, para sahabat Nabi, rata rata mengkhatamkan Al Qur'an 10 hari, yang lebih cepat dari itu ada yang 7 hari dan ada yang 3 hari. Dan yang paling lama diantara mereka adalah khatam sekali dalam sebulan.
Buat teman teman yang pingin gabung, aku insya allah masih siap menjadi mak comblang ke admin ODOJ pusat. SMS aja ya .. ke nomor aku 081901383151, sebutkan saja nama lengkap, jenis kelamin (L/P), dan nomor whatsapp atau pin BB yang akan didaftarkan.


*http://jamilazzaini.com/one-day-one-juz/

Kamis, 26 Desember 2013

Hari Ibu bersama Ibu dan Anak

Ceritanya kemarin kami mengadakan peringatan Hari Ibu. Acaranya disatuin sama acara Bincang-Bincang Santai (BBS) Rumah Keluarga. BBS-nya sendiri ini udah kali kedua. Kali pertama pertengahan tahun kemarin bersama Ibu Atalia Kamil dan Ibu Zulaeha Rahman. Kali ini nara sumbernya adalah Ibu Yuria Pratiwi Cleopatra, nama tenarnya Teh Patra- alumni ITB yang sudah lulus S2 Keuangan Syariah di UI. Temanya nggak jauh-jauh dari seputar keluarga dan mendidik anak.

Sebelum acara BBS dimulai, acara dimeriahkan dengan lomba mewarnai untuk siswa TK yang notabene adalah  anak-anak peserta BBS.
Acara dibuka dengan tasmi' (mendengarkan hafalan Al Qur'an) surat An-Naba. Full  40 ayat. Dibawakan oleh Sofi - kelas 5 SD Cendekia Muda. Sofi ini putri Ibu Nailah ketua Pimpinan Cabang Persaudaraan Muslimah (Salimah) Ujungberung. Wah, kalau ketemu anak kecil yang sudah mulai menghafal Al Qur'an gini malu hati. Umur segitu dulu aku masih main di sawah dan di kali, dan baru belajar menghafal bacaan shalat. Umur segini sekarang, hafalan juga segini-gini aja. Astaghfirullah...

Setelah tasmi' ada sambutan sebentar dari panitia dan pemaparan oleh Teh Patra. Ramai ? Pastilah. Namanya juga acara ibu dan anak. Anak anak riuh bermain di halaman TK, sementara ibu-ibu tetap konsentrasi mendengarkan apa yang disampaikan Teh Patra saking menariknya.

ini lho ulah anak-anak selama ibunya mengikuti BBS

Beliau cerita tentang mendidik anak. Bahwa memberikan pendidikan terbaik untuk anak itu bukan berarti harus masuk sekolah yang favorit dan mahal. Ya harus disesuaikan dengan kondisi  kita masing-masing. Apa yang tidak didapat anak dari sekolahan, orang tua harus mengusahakan. Sebagai praktisi homeschooling, beliau menceritakan aktivitasnya, di saat sekolah serba mahal, kenapa enggak jika para ibu mengajar sendiri anak-anaknya. Dalam komunitas home schooling ini ibu akan mengajar sesuai latar belakang ilmunya. Misal belajar bahasa ke Mama A. Belajar matematika ke Mama si B, dst.
Ya tapi kembali lagi ke kondisi setiap keluarga. Pilihannya apa. Semua ada kurang lebihnya. Tapi dari pilihan itu, minimal ada 4 hal yang dibekalkan orang tua pada anak :
* kemampuan membaca, memahami dan menghafal Al Qur'an ( krn dari Al Qur'an anak akan mengenal diri dan Tuhannya)
* kemampuan berbahasa - sebagai bekal dia berinteraksi dengan sesama
* kemampuan untuk survive - termasuk ilmu pengetahuan sesuai jamannya ada di sini ya...
* kesehatan fisik
Pas sesi tanya jawab, ibu ibu berebut untuk bertanya. Bukan karena dapat doorprize dari Fera|Faza|Faqih OLShop, tapi karena pengen lebih jelas.

Acara ditutup dengan penyerahan hadiah lomba mewarnai yang berupa piala, piagam penghargaan, bingkisan dan voucher diskon untuk test STIFIN dari Pak Human. Vocer itu dapat digunakan sebagai pengurang biaya test STIFIN yang aslinya Rp.350rb. Buat temen-temen yang mau nanya-nanya tentang STIFIN bisa langsung  berkunjung ke website : www.pakhuman.com atau melalui FB Human Revalsyah / chat WA 087825240626.

Selesai acara panitia langsung rapat evaluasi. Alhamdulillah dapat kejutan masing-masing sekotak nasi kuning dari bu Yani.
Lumayan capek juga, tapi seneng karena acara sukses. Anak senang, ibu senang, keluarga tenang hehehe


Sofi - berkerudung Ungu. Ditemani adiknya
hihi itu yang kerudung biru siapa ya.. menyamar jadi bu guru TK
Juri dan sebagian panitia foto bersama dengan teh Patra (tengah, berkerudung abu)

Senin, 23 Desember 2013

Highlight Last Week

Pas aku lihat jadwal postingan sebelum yang dipaksain harus tayang hari Ibu kemarin,  ya ampunn... udah seminggu. Padahal kan minggu kemarin banyak banget peristiwa bersejarah dan berkesan. Dan mau cerita satu demi satu rasanya udah enggak mood lagi, tapi ya sayang juga untuk dilewatkan. Baiklah mari kita cekidot satu demi satu

17 Des
Jadwal Faiz berenang. Yang terakhir di semester ini. Setelah kesempatan berenang pertama dan kedua yang dia enggak berani masuk ke kolam, alhamdulillah, kali ini dia mau masuk kolam renang. Kata bu Guru, ini sebuah kemajuan.
Meski belum berani mandi air dingin (ini mah gue banget) tapi sudah mau main ciprat air sama bu Guru dan membenamkan muka ke dalam air.
Syukurlah ya... semoga ke depannya dia bisa berenang beneran.

Ini pas aku jemput Faiz di renang kedua. Belum mau masuk kolam samsek. Giliran yang lain udahan dan lari-larian, baru deh ikutan
18 Des
Anniv pernikahan yang ke 17. Sweet seventeen...... sampai enggak bisa berkata-kata. Udah kuposting di IG-ku. hehe
Seperti biasa, enggak ada acara apa-apa. Nggak ada us time, biasa aja deh pokoknya. Bahkan aku juga lupa. Pagi pagi, bangun tidur aku teriak, asyiik ada yang ulang tahun.
Si mbak nanya, siapa Mi ? Kamu ultah tanggal berapa ? tanyaku balik
Tanggal 20.
Oh berarti ulang tahun pernikahan Ummi dan Abi hehehe..
Sampai diketawain Baginda Ratu tuh, pas aku cerita hal ini. intinya, aku lupa, mana yang tanggal ultah mbak, yang mana yang anniv aku dan Abi.
Tapi pas aku  pulang kantor, Abi ngeluarin satu set pisau Oxone. Anak-anak nyorakin itulah hadiah anniv -nya.
Abi membelikan yang warna biru

Trus hari ini juga si Teteh mamerin apa yang dibawa dari sekolahnya hasil class meeting gitu.
Yang pertama adalah bungkusan berisi lunch box, mug dan buku KKPK sebagai hadiah juara tiga lomba mengarang cerpen tingkat sekolah.
Dan satunya lagi adalah piala juara 1 lomba sains tingkat sekolah. Pesertanya kelas 3 - 5. Karena kelas 6 jadi panitianya.

Hadiah Teteh.
Aku jadi ingat pembicaraan malam sebelumnya, ketika Teteh nanya menurutku bakat dia apa. Ya kubilang aja, kamu nyamannya ngerjain apa. Dia suka menulis. Bahkan dia juga sudah punya blog.
kupikir dia mau bilang nulis atau apa, ternyata dia bilang, bakatnya sains.
Baguslah Nak, kalau gitu. Semoga dia menjadi seseorang yang seimbang maksimal otak kiri dan otak kanannya. Kan ilmumnya bisa ditularkan melalui tulisan. Jarang- jarang lho...
Banyak orang pintar tapi sulit menuangkan kepintarannya dalam bentuk tulisan.Sebaliknya karena pandai menulis, ilmu yang sedikit menjadi abadi dan lebih luas manfaatnya karena dibagikan lewat tulisan.

19 Des
Ambil rapot Faiz. Seneng deeh.. ketemu Bu Guru. Faiz banyak kemajuan katanya, yang awalnya datang pendiam seperti pengamat sekarang sudah mulai terdengar suaranya. Sudah berani berpendapat. Dan sudah bermain dengan semua teman. awal-awal kalau main cari aman. Mainnya sama anak perempuan yang no terjangan, no pukulan, no dorong-dorongan. Nggak mau main bola dsb. Sekarang sih sudah mau, walaupun masih pada tahap main berdua dengan siapaa.. gitu, belum mau main ramai-ramai atau masuk tim futsal. Tapi kan itu kemajuan. Bu Guru enggak tau aja, kalau di rumah main bolanya kayak apa. Ya emang sih.. nggak bakalan ditabrak sama Fikri atau Abi haha
Rapot Faiz juga lumayan bagus, kebanyakan berkembang sesuai harapan.
Hanya satu catatan bu Guru, bu Guru menargetkan Faiz mempunyai hafalan yang lebih banyak dari kebanyakan temannya. Lho ! ini mah bu Guru kasih PR buatku :p

Faiz main bola di sekolah, captured by Bu Guru.

Trus pas ngambil rapot ini juga, ketemu guru Teteh, katanya Teteh sih.. ngumpulin cerpen di hari terakhir. Padahal karya teman-teman lain sudah dinilai karena mengumpulkan lebih awal. (duh ini mah emaknya banget, ikut lomba di saat - saat terakhir). Jadi jurinya menilai cepat cepat.
aku bilangin Teteh, lain kali kalau ada lomba lagi, buat maksimal dan kumpulin di awal waktu. Siapa tahu jurinya jatuh cinta pada pandangan pertama. hahaha

Malemnya aku dibuat ngikik sendiri mendengar percakapan Faiz sama Teteh
Teteh : Iz, mbak besok ulang tahun lho
Faiz : Iya gitu ? kita ucapkan yuk
Teteh : yuk kita bikin ucapin ya besok bangun pagi, kita bikin kartunya.
Terus mereka berdua bikin kartu love-love gitu.

20 Des
Ultah mbak
Pagi-pagi bener Faiz sama Teteh bangun tidur ngasih kartunya ke Mbak. Sayang euy, aku lupa ngambil gambarnya, dan lupa juga ngintip apa kata-kata yang mereka tuliskan #emakKepo

Hari ini juga giliran Fikri dan Mbak terima rapot. Bagian Abi untuk ngambil raport mereka berdua.
Fikri rapotnya alhamdulillah ada kemajuan, pesat. Aku tidak membandingkan dia dengan temannya, tapi dengan dirinya sendiri. Di akhir semester lalu Fikri 10 besar dari belakang. Dan alhamdulillah semester ini melejit ke 10 besar dari depan.


kalau Mbak rapotnya ya lumayan juga. Kan tahun ini sudah berlaku penilaian yang bukan pakai angka tea. Jadi nilai mbak dalam abjad. Nilainya B semua, beberapa B+  ada juga B- tapi aku lupa ada berapa buah. ya alhamdulillah.
Kata mbak, nilai dia bagus tapi tidak memuaskan. hahaha.. syukurlah ya.. kamu udah bikin target sendiri mbaak.. bukan kata Ummi lhoo.....*cuci tangan

21 Des
Ambil rapot Teteh.
Alhamdulillah hasilnya juga bagus. Kalau dari peringkat kelas juga naik. Semester lalu peringkat 6, sekarang peringkat 3. Tapi aku lebih suka membandingkan nilai dia semester ini dengan semester sebelumnya. Naik 1 poin. lumayan lah. Belum seperti semester satu kelas 3 sih. Semester lalu tuh, nilai Teteh anjlok karena dia lagi tergila-gila baca buku. Iyah, tergila-gila. Sampai bukupun dibawa tidur dan disimpan di bawah bantal. Bangun subuh bukannya keluar kamar, malah nglanjutin baca (niru siapa nih...)
Ya sudahlah, toh yang dia baca juga buku yang bermanfaat. Aku hanya mengingatkan saja, jangan sampai jauh tertinggal di pelajaran. Karena Teteh kan masih pakai 'jalur pada umumnya'. Belum yang ngambil spesialis apaaa gitu.... Jadi nilai juga masih penting untuk masuk ke jenjang sekolah yang lebih tinggi nantinya.

Satu catatan dari Wali Kelas adalah menanyakan tentang aktivitas Teteh di socmed.
Ya kusampaikan saja, aku tahu mengikuti aktivitas dia. Wong dia fb-an dari hapeku kok. Dan kalau Teteh belum marah aku stalking lewat akun dia, baca-baca inbox dia. Karena Teteh memang lumayan lengket sama aku. Kalau yang besar-besar kan sudah berasa punya privasi gitu. setiap pinjem hape, langsung log out pas hape dikembalikan. hehehe


Itulah cerita singkat minggu lalu. Masih ada satu cerita lagi di week end yaitu tentang peringatan hari ibu bareng ebo-ebo pengajian. Tapi entar lagi deh.. udah pegel nulisnya


Minggu, 22 Desember 2013

Kenangan tentang Ibu

Ketika aku keluar kamar seusai shalat dan tilawah subuh tadi, mbak yang sedang cuci piring memberi isyarat minta cipika cipiki. "Happy Mother Day, Ummi". Kemudian disusul oleh Teteh yang juga baru selesai shalat subuh. "Selamat hari, Ibu. I love You"

Di penghujung Desember ini, ada beberapa hari 'istimewa' yang sambung menyambung. Ultah perkawinan 18 des, ultah mbak 20 des, dan juga hari Ibu 22 Des. Aku sendiri menganggapnya bukan sesuatu yang harus dirayakan atau apa, tetapi tanggal tanggal tersebut ibaratnya seperti patok-patok kilometer di perjalanan hidup. Sebagai penanda, bahwa suatu saat akan tiba di akhir perjalanan.

Bila kita lihat sejarah Hari Ibu di Indonesia, yang bermula dari Kongres Perempuan 22 Des 1928, aku melihatnya lebih ke penghargaan akan perjuangan seorang perempuan.  Di Indonesia kita mengenal nama-nama pejuang yang berasal dari kaum kita, sebutlah Ibu Kartini, Dewi Sartika, Tjut Nyak Dien, Tjut Mutia, Nyi Ageng Serang, Christina Marta Tiahahu, dan masih banyak lagi.

Perjuangan seorang Ibu bukan saja di era baru. Sejarah kemanusiaan telah mengukir indah perjuangan seorang ibu untuk kehidupan dan keberlangsungan generasi. Kita mengenang perjuangan Bunda Hajar yang berlari-lari kecil dari Shafa ke Marwa demi bayi Ismail as. Kita juga mengenang perjuangan Maryam menghadapi cemooh penduduk  ketika Allah titipkan bayi kecil Isa as melalui rahimnya. Bunda Khadijah yang menghibahkan seluruh hartanya untuk pencerahan umat, bunda Fathimah yang rela mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang begitu berat demi keridhoan Allah dan Rasul-Nya. 
Dan sesungguhnya perjuangan semua Ibu di muka bumi ini dimulai ketika di rahimnya telah Allah ciptakan calon jabang bayi.

Ibu mengandung selama 9 bulan lebih, dengan konsekwensi merasakan "wahnan 'ala wahnin" kesusahan di atas kesusahan, kesusahan yang bertambah-tambah. Yang mual tapi harus tetap makan demi kebutuhan asupan gizi si jabang bayi. Yang menggendong janin kemanapun dia pergi, dsb.
Setelah jabang bayi lahir, seorang Ibu masih harus menyusui.
Di samping itu, pendidikan si anak pun bermula dari Ibu.  Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya.
Subhanallah, tak heranlah bila dikatakan surga itu di bawah telapak kaki ibu. Dan Rasulpun memerintahkan agar seorang anak mematuhi kata-kata atau perintah ibu sejauh perintah tersebut tidak melanggar ketentuan Allah.

Kalau aku membuka kenangan tentang ibuku sendiri, rasanya tak kan sanggup kata-kataku melukiskan perjuangan beliau. Aku mengenal Ibu sebagai pribadi yang sabar dan anggun, tidak pernah marah meledak maupun tertawa terbahak-bahak. Mengandung, melahirkan, menyusui sekaligus mendidik 7 anak bukanlah perkara mudah. Bukan, bukan 7 anak, tepatnya 10 anak, karena ada 3 kakakku yang meninggal waktu kecil. Entah usia berapa, tidak ada yang berani membuka luka lama itu, kecuali selentingan saja. Aku hanya melihat ibuku pernah menangis dan berdoa di deretan makam-makam mungil tanpa nisan saat pulang ke kampung mbah.

Ibuku seorang guru sekolah dasar. Meski tiap hari mengajar, mempunyai 2 ART aku tahu ibuku menyempatkan memasak sebelum bekerja. Karena aku selalu diutusnya ke pasar dan kemudian membantu beliau sekedar memotong-motong sayur atau bumbu dapur. Masakan standar saja. Bobor, oseng, sup, sayur bening, goreng tempe / tahu, paling banter ikan atau udang. Sesekali menyembelih ayam peliharaan. Tidsk ada baking atau apa. Aku ingat ibuku belajar baking saat aku sudah SD. Bolu 'seprapatan' yang benar benar hommy yummy di lidahku saat itu.

Aku melihat ibuku begitu sabar mendidik dan memberikan pengajaran. Beliau bercerita bahwa perjuangan paling berat adalah mengajar kelas 6 dan kelas kecil (kelas satu dan dua). Di kelas kecil,  guru harus membuka mata mereka dan mengajari mereka membaca. Meski berat, toh kami masih bisa tertawa ketika mengoreksi hasil ulangan anak-anak dan mendapati jawaban mereka yang 'enggak nyambung'  sama sekali dengan pertanyaan.  Ya, aku sering dapat order mengoreksi ulangan dan mengetik soal dari ibuku. Dan aku mendapat 'honor' dari tugas itu.
Dan di kelas besar ada beban mental soal prosentase kelulusan.
Mungkin karena aku anak perempuan terbesar ya jadi ibu sharing hal beginian denganku.

Membekas juga di benakku perjuangan ibu di dalam mencukupi nafkah. Berapa sih gaji pasangan PNS kala itu ? Cukup apa untuk membiayai makan dan sekolah anak tujuh?  Kadang gali lubang tutup lubang menjadi jalan keluar. Dan akulah kurir untuk pinjam uang atau membayar hutang. Cukup ibu menulis surat buat sahabat beliau dan aku mengantar surat itu. Di sinilah aku belajar, bahwa berhutang itu bukan semata transaksi keuangan, tapi ini menyangkut masalah harga diri. Aku belajar di posisi orang yang berkesusahan.

Meski kehidupan kami seperti itu, tapi tidak membuat bapak dan ibu pelit berbagi. Bapak, mempunyai seorang pengamen langganan. Ya, langganan. Setiap dia datang kami request beberapa lagi diiringi ukulele. Trus pengamen itu diajak makan bersama. Jangan bayangkan pengamen seperti jaman sekarang ya... saat itu pengamen itu singgah paling hanya sebulan sekali.
Ibu juga ada pengemis langganan. Dia datang di setiap pasaran Pon, menuju pasar di kota kecamatan. Jadi lima hari sekali dia mampir ke rumah kami. Sampai sampai ibu punya piring khusus untuk pak Pon dan selalu menyediakan makanan di pagi hari sebelum bapak itu datang.

Itulah sekelumit kenanganku tentang Ibu. Sengaja aku tidak menuliskan bagian yang mengharu biru, karena aku tak ingin menangis di hari Ibu.

Selamat hari Ibu, teman. Selamat berjuang hingga maut mengistirahatkan.

Senin, 16 Desember 2013

Profile Picture

Ngomong-ngomong tentang PP, sekarang ini banyak banget modelnya. Mulai dari kata-kata motivasi sampai kata-kata yang enggak bergizi. Mulai dari foto pribadi sampai foto barang-barang milik pribadi (dan pribadi orang lain hahaha)
Dari artis idola sampai makanan kesukaan.
Ya gitu deh... silakan saja, prinsipnya ya gadget gadget sayah kumaha sayah weeh...

Nah, tapi nanti dulu...itu enggak berlaku sepenuhnya untuk anak-anakku. Bagaimanapun selaku orang tua harus ngingetin bahwa untuk beraktivitas di dunia maya ada semacam rambu-rambu atau biasa disebut netiket.
Khusus untuk ava atau pp ini aku rada cerewet. Tidak saru dan sara itu harus. Tapi memperhatikan kepantasan juga tidak boleh dilupakan.
Makanya pas si F2 pakai PP gambar cewek dari grup kesukaannya ya aku komenin, bapaknya juga komen. Baru komen ini... belum jadi semacam instruksi.

Dan agak seneng juga, ketika beberapa hari kemudian dia pasang gambar ini. Sampai sekarang enggak ganti, udah semingguan.

Nah gitu dong Nak, rasanya ini lebih cocok dengan jiwa mudamu.

Minggu, 15 Desember 2013

Terkontaminasi

Faiz menyanyi :

Kumpulkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia...

Huuuuu..... langsung diteriakin sama kakak-kakaknya. Andai itu di panggung pasti udah diteriakin 'turun.. turuuun !"
Eits tapi bukan Faiz kalau enggak ngeles. Katanya :
"Bentar .. bentar, sekarang enggak pakai lebay" meminta kesempatan kedua.
"Kumpulkanlah ingatanku...
Hapuskan tentang dia"

*klo yang update pasti tahu dimana letak kesalahan lagu itu.*

Yah... itulah Faiz. Umurnya baru 5 tahun. Tapi sudah ikut-ikutan menyanyikan lagu anak remaja.
Ini adalah salah satu tantangan buat mahmud abal-abal seperti diriku ini yang punya anak dengan rentang usia berbeda. Ada ABG di rumah, ada pula ATK alias anak TK. :D

Dulu waktu Fikri kecil pernah nanyain, kenapa anak-anak enggak boleh nyanyiin lagu anak gede, tapi anak gede boleh nyanyiin lagu anak-anak?
Waktu itu jawabanku adalah : karena anak gede sudah pernah menjadi anak-anak dan anak kecil belum pernah menjadi anak gede.
Nampaknya jawaban tersebut cukup masuk akal, sehingga Fikri kecil tidak mempertanyakan lagi hal tersebut.

Tapi, beda anak beda jaman, beda jaman beda lagi tantangannya. Jaman Fikri kan enggak ada remaja yang memperdengarkan lagu, nah kalau jaman Faiz, si hape F1 dan F3 selalu bunyi menemani mereka belajar. Yah enggak mendengarkan secara khususpun  bisa hafal. Harus banyak-banyak mencarikan kegiatan lain yang membuat anak hanya memperhatikan apa yang baik dan pas buat mereka. Susah ? Ya iyalah.. namanya juga tanggung jawab. Ya harus menanggung, gak cuma menjawab aja hahaha...

Kalau kata Fikri, anak-anak ABG sekarang itu terlalu mainstream. Iya sih, lihat saja gaya fotonya, dari mulai bibir monyong hingga lidah menjulur, tangan di pipi sambil mengacungkan dua jari membentuk "V". Anakku juga kalau foto ya kayak gitu.
Lihat gaya rambutnya... lihat gaya pakaiannya...
Semua mirip-mirip. Sampai sampai Abi  enggak bisa membedakan mana yang anggota Chibi Chibi mana anggota JKT 48 kalau mereka foto sendirian. Akupun demikian :D

Nah, kemarin ini ada seorang ibu yang mengeluhkan gadis sulungnya. Kata beliau, sejak kuliah senengnya pakai celana ketat, trus pakai T-shirt dan jaket. Kerudungnya juga lipat segitiga satu peniti dan ujung-ujungnya dilempar ke pundak.
Komenku ya jangan salahkan dulu anaknya. Kita sebagai orang tua harus mawas diri dahulu.
Coba, si kakak itu kalau beli pakaian sama siapa, trus kalau mau keluar pas pamitan, ibu lihat enggak. Sejak kapan si kakak ganti gaya gitu?
Trus selama ini dia mainnya sama siapa.
Segala sesuatu pasti ada awalnya kaaan. Ya ibaratnya garis lurus sama garis serong, berangkat di titik yang sama, setelah jauh/panjang baru kelihatan deh jaraknya.
Nah, tanda tanya doong, selama ini kita kemana ajaaa?

Menurutku I'ts Ok pakai celana panjang. Asalkan tidak ketat. Ini pakemku. Sejauh ini kalau untuk celana jeans anak-anak aku selalu pakai satu nomor di atas yang seharusnya. Supaya enggak ngetat di paha dan betis. Trus buat anak-anak gadis itu aku juga kasih rambu-rambu. Boleh keluar pakai celana jeans, asal atasannya minimal sampai ke paha.
Kalau pakai rok gak boleh yang nerawang membentuk paha, walau pakai leggingpun.
Kerudungnya juga harus (belajar) menutup dada. Memang sekarang belum ada tuh dada, belum nampak yang ditutupnya. Tapi satu dua tahun lagi? Kalau enggak dibiasakan dari sekarang khawatirnya tau-tau aku kaget sendiri dengan gaya fashion anakku.
Kenapa aku tegas gitu?
( Lah si mbak sama si Ayuk aja lebih galak lagi  sama aku. Kalau aku pakai baju agak pas, baru agak lho... belum pas, pasti mereka ribut. Ummi kerudungnya harus panjang nutup pinggang. Bukan berarti balas dendam ya... hahaha)
Yah namanya juga anak-anak. Katanya hidup cuma hari ini. Yang diinget cuma hari ini. Jadi meski ummi udah pernah ingatkan, ya lupa lagi lupa lagi. Aku yakin para gadisku itu sebenarnya sudah tahu rambu-rambu berpakaian mereka.
Ini semacam iseng iseng berhadiah gitu. Aku faham, mereka butuh perjuangan lhoo... untuk berpakaian anti mainstream.
Apakah anakku selalu nurut ? Ya enggaklah......
kalau mereka perginya pas nggak ada ummi dan abi ya kadang pakai gaya mereka sendiri. Namanya juga manusia. Harus selalu diingatkan. Yang udah tua begini aja masih sering lupa dan perlu diingatkan.

Yang bujang gimana ?
Kira kira setali tiga uanglah. Sejak Fikri punya hape baru hasil menabung 2 tahun+dapat donasi, sesekali aku pinjem hp dia buat IG-an. Iseng-isenglah kita lihat koleksi gambar dia.
Ya ampuuun... itu si jekateempatlapan bener bener mendominasi kartu memori.
Ava bbm pun gambar si jekate. Sampai pada suatu hari Abi lihat dan menggoda, kenapa sih gambarnya anak jekate banyak amiit?
Waktu jaman Abi kecil yang disimpan itu gambar gambar artis dan atlet, misalnya Rambo, Stalone (sama aja wkwk), dengan ringan Fikri menjawab  sambil ngeledek Abi
"Kalau aku suka gambar jekate, berarti aku masih normal, Bi. Daripada aku suka sesama cowok"

Gubrak banget enggak sih ??? Nau'dzubillahi min dzalika.

Agak kaget juga, meskipun sejak awal menikah dengan Abi dan punya anak, kami sepakat bahwa kami tidak akan mengarantina anak-anak dalam lingkungan yang homogen. Biarkan mereka tumbuh di lingkungan heterogen dan belajar bertahan. Maka yang harus kami bekalkan adalah imunitas.

*langsung keinget obrolan bareng Sondang, kalau kita ini lama-lama merasa biasa dengan LGBT, karena sering dengar dan sering dibercandakan. Sampai kitapun menganggap bahwa hal tsb biasa aja. Gak ada lagi rasa jijik atau perlawanan dalam hati. Akhirnya memaklumi kaan...*

*pantesan yak, Rasul sejak berabad yang lalu mengingatkan, agar segera mencegah kemungkaran. Tingkatan yang paling utama ya cegahlah dengan tangan/wewenangmu, kalau enggak bisa, cegah dengan lisanmu, kalau enggak bisa ya cegah dengan hatimu. Dan inilah selemah-lemah iman* kemudianhening

Sabtu, 14 Desember 2013

Termakan Iklan

Waktu janjian makan sama The Girls dua minggu lalu, aku dan Sondang dicegat sales mobil. Sondang langsung ngasih kode enggak. Aku yang jalan di belakangnya, malah mengangkat tangan meminta flyer sambil tetep jalan. Ngikik berdua pas sudah berlalu dari si mbak, dia masih bilang "ada yang seratusan lho Bu..."
*iye... ketauan yak duit kita pas-pasan nggak jauh sama tampang?*

Eits, sebentar... ini bukan cerita mau beli mobil ya... karena untuk keluargaku saat ini  aku dan Abi menilai belum perlu. Buat apa ?  Ke kantor kami PP pakai motor, searah pulak aku dan suami. Selalu ngebayangin mau berangkat dan pulang jam berapa kalau bawa mobil. Berharga sekali lima sepuluh menit bersama anak atau belom selesai masak. *lagian klo pake mobil gak ada alasan peluk suami sepanjang jalan hahaha*
Buat antar jemput anak ? Kayaknya belum juga. Sekolah anakku semua masih di sekitar rumah. Tinggal ojek/ngangkot paling 5-10 menit.
Buat jalan-jalan. Ini apalagi yah, jalan juga setaun sekali belum tentu. Kata Tri, nanti kalau mbak Titi nyicil mobil, tambahkan ongkos jalan-jalan di cicilan bulanannya haha..
Tapi yang paling penting, mengalahkan semua hal di atas, ya memang duitnya belom ada juga siiih.... *ketawa lebar. Ngapain dibahas ya... ya maksudnya kalau itu keperluan, pasti bakal diusahakan kan kaan ?*

Tapi tunggu dulu, beda lagi kalau kata Faiz. Ceritanya si flyer mobil itu kebawa pulang dalam tas. Pas Faiz minta kertas buat bikin pesawat, keluarlah si kertas itu. Bukannya dibikin, malah dilihatin gambarnya.
Wow, dia perhatikan dengan serius.
Aku iseng nanya :
"Faiz pilih mobil mana ?"
"Inih " (sambil nunjuk CRV)
"Itu namanya si-ar-vi"
"Iya, aku mau si-ar-vi"
"Mau yang berapa cc ? 2000 apa 2400?"
"Yang 2400" (berhubung Ummi kagak ngerti apa fungsi dan beda cc ini jadi gak dibahas)
"Mau yang warna apa ?"
"Aku mau warna putih".
"Nanti kita lihat di jalan, ada yang putih enggak ya..." (bukan lihat di showroom ya...)
*kemudian hening, Ummi gak lanjut membahas harga, khawatir merusak imajinasi anak*

Selasa, 10 Desember 2013

Setahun Sekolah Ibu Pasir Endah

Namanya Sekolah Ibu. Tentu saja pesertanya ya Ibu-ibu. Ada yang -istilah Tyka- mahmud abas (mamah muda anak baru satu) ada juga yang mahtu alias mamah udah punya menantu. Yang jelas selama setahun mendampingi sekolah ibu aku belum ketemu mahmud abal-abal (mamah ngaku muda anak baru lima) hahaha maksa banget ya...

Yang namanya ibu-ibu, ya kita maklumin kondisinya. Sekolah bawa anak ya kita terima saja... silakan. Justru jadi pembelajaran buat si anak, bahwa ibunya tidak henti belajar meski harus penuh perjuangan (sambil momong anak).
Sejauh ini semua terkendali...

Selama 12 bulan berjalan (peluncurannya Januari lalu), ibu ibu belajar sedikitnya 12 materi. Lumayanlaah... ada tentang kesehatan, psikologi, mengenal obat yang dijual bebas, belajar membuat kerajinan dari limbah plastik,  tentang manajemen keluarga dsb. Sengaja bukan materi-materi dinniyah, karena itu sudah dibahas di pengajian-pengajian.
Nah pas pertemuan akhir tahun kemarin, panitia pelaksana membagikan cindera mata untuk srikandi-srikandi Sekolah Ibu. *hihi kayak Srikandi Blogger aja. Itu bukan ide aku lho... tapi murni ide Ibu Siti, panpel yang notabene bukan blogger. Memang tokoh Srikandi itu mewakili ya..mewakili perempuan-perempuan yang menonjol di bidangnya.

Jadi ceritanya ada satu ibu yang subhanallah... membuat kami ter-Wow wow saking kerennya. Namanya bu Aminah. Usia beliau menjelang 50 tahun. Awalnya jadi peserta. Trus mulai tampak jiwa leadership beliau, aktif dan kreatif juga. Trus jadi sering dapat tugas nge-MC di sekolah ibu. Terakhir di Des kemarin, Ibu Aminah udah ikutan nyiap-nyiapin tempat dsb. Jempol deh.... Uniknya pas dilihat siapa peserta yang SELALU hadir di 12 bulan tersebut ya Bu Aminah.

Srikandi yang lain adalah Ibu RW yang senantiasa mendukung berjalannya Sekolah Ibu ini dengan menyediakan waktu beliau dan tempat di garasi rumah beliau serta aktif memberikan saran dan masukan juga untuk kemajuan Sekolah ibu.
Seneeeeng deh rasanya, bergaul dengan ibu ibu sepuh yang penuh semangat seperti beliau berdua, dan juga bu Siti tentunya, sebagai panpel tiap bulannya. Nanti kalau aku tua, masih semangat kayak beliau enggak ya??? *ambilkaca*

Ini fotoku pas nyerahin cinderamata ke bu Aminah.hihi baru nyadar sesama ungu.

Minggu, 08 Desember 2013

Fenomena Baru : ODOJ

ODOJ . Apa itu ? Belum tahu ? Yaaaah.....
Bagaimana dengan One Day One Juz ?
Pasti udah pernah dengar ya... Gegara lihat postingan foto IG Baginda Ratu, yang ada mbak-mbak dibonceng motor sambil tilawah, aku jadi keidean cerita hal ini.
ODOJ adalah fenomena yang sangat menggembirakan. Di tengah terjangan informasi dan teknologi yang sungguh mendukung kegiatan konsumtif sekaligus berpotensi melenakan pemanfaatan waktu, ternyata di sisi lain masih banyak yang melakukan sebaliknya. Dengan bantuan teknologi, dia dapat meng-optimalkan waktunya, antara lain untuk mendalami Al Quran melalui grup ODOJ.
Al Quran adalah petunjuk Allah tentang produk-Nya, yaitu manusia. Ibaratnya manual book. Kalau ingin tahu apa, bagaimana, mengapa, dsb tentang manusia dan kehidupannya, ya tinggal buka saja manual book tadi. Jadi mempelajari Al Quran bukan (saja) urusan akhirat, tapi justru kunci menjalani kehidupan di dunia ini agar sukses mencapai cita-cita abadi di akhirat kelak.
Nah fenomena ODOJ ini menarik. Buat yang belum tergabung, kira-kira teknisnya begini.
Satu grup ( bisa grup BB atau WA) terdiri dari 30 orang. Misal si A, si B si C dst sampai AA, AB, AC dan AD, tiap hari masing-masing anggota kebagian satu juz.
Contoh : hari ini
A baca juz 1
B baca juz 2
C baca juz 3
Dst sampai dengan
AC baca juz 29
AD baca juz 30
Besoknya : (naik, dengan asumsi bacaan satu juz sudah kelar)
A baca juz 2
B baca juz 3
C baca juz 4
Dst sampai dengan 
AC baca juz 30
AD baca juz 1.
Demikian terus dan seterusnya muter lagi. Perhitungan dimulai dari saat bangun shalat tahajud, sampai pukul 21.   Jadi -pengennya- tiap hari grup ODOJ itu membaca doa khatmul qur'an.
Trus siapa anggotanya ? Siapa saja, yang ingin berjuang  (iya, berjuang) atau belajar membaca) satu juz per hari, satu grup terdiri dari 30 orang, perempuan semua atau laki-laki semua. Tidak dibatasi teritori karena bantuan teknologi. Teman yang lain kota pun bisa tergabung dalam satu grup.
Trus gimana kalau haid ?
Kalau ada yang haid, biasanya 'jatah' bacaannya dilelang ke anggota yang lain. Atau mencari tandem yang akan saling menggantikan membaca jatah tilawah. Ada juga anggota lain  yang nerima lelangan, bisa setengah juz, satu juz bahkan ada yang 4 juz. (Subhanallaah). Kebayang ya... dia baca 4 juz lelangan pleus satu juz jatah dia sendiri.
Trus gimana kalau enggak selesai satu juz hari itu ?
Ya nggak papaa juga  kaliii... namanya juga lagi belajar. besok berusaha meluangkan waktu, manajemen aktivitas, agar dapat membaca lebih banyak dari hari ini.
Atau bisa dengan minta 'perpanjangan waktu' ke admin grup.
Seneng ikut grup ini ? Seneng,
ada saja tiap hari ilmu baru. Ada yang share tadabbur ayat. Pemahaman yang lebih mendalam tentang ayat tertentu. Ada yang share tips sukses mencapai target, dst.
Lama nggak siih baca satu juz ? Kalau kita pakai Al Qur'an pojok yang standar,  satu juz kira kira 20 halaman atau 10 lembar. Bisa dibaca tiap habis shalat sebanyak dua lembar aka 4 halaman.
Atau ibaratnya sistem permainan bola bisa dibuat 4:3:3 dengan rincian 4 halaman dari subuh sampai zhuhur, zhuhur ashar 3 hal, ashar sampai maghrib 3 halaman.
Atur - atur sajalah sesuai kesibukan kita.
Nah, ada yang tertarik bergabung ? Yuk kita bikin grup ODOJ di WA, sms ke no aku 081901383151, nanti aku cariin grupnya, boleh ajak teman, adik, kakak supaya segera genap 30 anggota.

Sabtu, 07 Desember 2013

Bingung

Si Teteh kemarin malam masuk kamarku saat aku lagi nemenin Faiz mewarnai.
"Umi, aku bingung deh.."
"Bingung kenapa ?" Siap siapin jawaban pertanyaan
"Kalau aku lagi kesel sama Ayuk sama Mbak, trus aku ngambek gitu, kata mereka aku nggak boleh kekanak-kanakan. Karena aku sudah besar."
"Ya memang benar kan, kamu sudah besar".ih Ummi bukannya ngebelain yah
"Iya, katanya aku sudah besar. Tapi kalau Mbak sama Ayuk lagi ngobrol berdua trus aku datang, mereka bilang aku jangan ikut ndengerin, karena aku masih kecil."
"Oh, itu maksudnya kamu belum cukup besar untuk mendengarkan obrolan tentang anak SMP dan SMA" *ini jawaban ngeles bukan siih?

*dan memang sejak bertahun -tahun lalu aku sudah tidak menggunakan istilah sudah besar atau masih kecil, tapi pakai istilah belum cukup besar untuk..." tepatnya sejak Fikri mempertanyakan hal yang sama saat dia TK.