Selasa, 31 Desember 2013

Kisah Kasih Asisten Rumah Tangga

Ini bukan cerita tentang ART yang menjalin asmara ya.. tapi cerita tentang ART yang pernah menemani dan mengasuh anak-anakku.
Jadi aja ini semacam kaleidoskop ART gituuu...

Sewaktu kami tinggal di Kupang selama  hampir 5 tahun dan sampai lahir anak ketiga, tidak ada ART di rumah. Jadi pekerjaan rumah ya dikerjakan berdua aja sama Abi. Kalau Abi nyuci aku setrika. Kalau aku nyuci ya Abi yang setrika. Kadang Abi ya nyuci ya setrika ya ngepel, ya ngisi air hehehe...*istringelunjak*
Trus anak-anak gimana dooong kalau ditinggal kerja?

Pas Mbak Fathimah lahir, ada Ummi dan Cici  yang bersedia menjaga mbak Fathimah. Beliau berdua sepasang suami istri. Anak-anaknya dua orang dan menjadi murid pengajian Abi. Jadi pagi hari sebelum ngantor kami ke rumah beliau nganter mbak Fathimah, siang istirahat nengok ke rumah beliau, baru sore dibawa pulang. Meski punya bayi dan belum presensi sidik jari, aku gak bisa santai-santai istirahat siang. Karena waktu itu berlaku absen 4x. Jadi jam 12 istirahat tanda tangan dan maksimal jam 13.30 sudah harus kembali ke kantor /tanda tangan lagi. Makanya kalau yang nakal, pulangnya bukan jam 12, tapi jam 13 baru keluar, balik lagi menjelang jam pulang.
Kalau telat kembali setelah istirahat ? Ya telat/tlb. Jadi sehari bisa tlb/pc dua kali.
Tapi syukur juga aku ngalamin ini, sepuluh tahun kemudian pas di Bandung, dpt boss yang peduli banget masalah ini, udah enggak kaget. Karena aku sudah mengalami yang lebih dari itu.

Ketika Fikri lahir, Ummi dan Cici enggak sanggup menjaga dua anak. Alhamdulillah ada Nenek Khalid dan Kak Ida yang bersedia. Rumahnya lebih dekat dengan tempat tinggalku. Jadi pagi-pagi mbak Fathim dan Fikri: diboyong ke sana. Eh, Fikri aku bawa ngantor dulu ding, sampai 6 bulan ASI ekslusifnya. Baru setelah itu aku titipin di Nenek. Aku bawain masakan dan jajan-jajanan buat de krucils. Sufor juga nyimpen di rumah Nenek. Nenek Khalid ini baiiiik banget. Seringkali di akhir minggu kami dibikinkan kue-kue gitu. Favoritnya adalah bolu rasa jeruk, waktu itu aku belum tertarik baking, yang kuingat, rasa jeruk itu didapat dari sirup ABC aja, segimana dan bagaimananya aku gak perhatiin hehehe... Trus kalau lebaran dibikinin kuker dan baju baru. Pokoknya enggak itungan. Banyak utang budi sama Nenek Khalid ini.
Pas Fadhila lahir, Nenek Khalid sempat kebingungan bagaimana ini menjaga 3 anak. Fadhila kubawa ngantor sampai usia 6 bulan.
Trus Abi sudah mengajukan pindah ke Jawa. SK Abi keluar, aku menyusul mengajukan pindah juga.
Alhamdulillah waktu itu ada satu lagi anak gadis beliau yang baru keluar dari Pesantren Putri Padang Panjang dan sedang melamar  pekerjaan. Namanya Kak Aminah. Kak Aminah ini yang bersedia membantu menemani Fadhila, akhirnya Fadhila ikut juga ke rumah Nenek Khalid. Iramanya masih sama. Siang istirahat aku ke rumah Nenek. Sore nanti jemput. Jemputnya bukan di rumah, tapi di TPA/Taman Pendidikan Al Qur'an di masjid samping rumah. Karena kalau sore Kak Ida dan kak Aminah mengajar TPA. Kecuali Fadhila kecil yang kujemput di rumah Nenek. Demikian berlangsung selama Agustus-November tahun itu.

Nenek dan Kakek Khalid, pas pulang Haji 2007 mampir ke Bandung
'Cucu' kesayangan Nenek Khalid, sampai tangis-tangisan pas nganter ke bandara saat kami pindahan

Fadhila berumur hampir setahun saat kami pindah Bandung. Waktu itu Mbak Fathimah  sudah sekolah TK sampai siang. Inilah pertama kalinya kami punya ART di rumah.
ART pertama : Mbak Rini, lulusan SMA dari Jawa. Modelnya PP gitu, pagi datang, sore pulang.
Sebelum mulai bekerja, aku main dulu ke rumah kontrakannya. Dia ngontrak dekat kakaknya yang sudah berkeluarga dan bekerja di Bandung. Dekat rumah teman pengajianku juga.
Hari-hari pertama bekerja pakai celana pendek selutut. Lha aku aja sama pak suami gak boleh pakai celana pendek demi menjaga pandangan Fikri,,  ini ada gadis pakai celana pendek di rumah. Akhirnya kusediakan beberapa celana panjang untuk dipakainya. Alhamdulillah mba Rini gak keberatan.
Untuk memilih acara tivi, kami belikan tabloid bintang, dan kami lingkari acara-acara yang boleh ditonton bersama anak-anak. Kalau anak-anak tidur, terserah mbak Rini mau nonton apa.
Pekerjaan utama menjaga anak dan setrika. Masak dan nyuci sudah kukerjakan sebelum mba Rini datang. Bebersih rumah Abi yang melakukan.
Sayang, mbak Rini kerja hanya dua minggu saja. Dua minggu ?
Umminya galak ya.... kebanyakan peraturan kalii... gajinya kecil pulak.
Hahaha... enggaklaah... insya Allah. Mba Rini pamit baik-baik karena dia diterima kerja di pabrik tekstil. Jadi dia kerja di rumahku iseng-iseng aja nunggu jawaban lamaran kerja. Ya sudah deh belum rejeki. Padahal enak lho ngobrol sama mbak Rini. Yaeyalah... anak sma gitu lho...
Beberapa waktu kemudian pas ketemu lagi aku pangling karena mbak Rini sudah berkerudung cantik.

ART kedua Bi Erna
Usianya sudah setengah tua. Aku tidak ke rumah beliau dulu karena kami sudah kenal sering ketemu di warung ketika belanja.
Default pekerjaannya masih sama dengan Mbak Rini.
Paling sebulanan Bibi ini kerja, minta berhenti karena jam kerjanya terlalu panjang. Maunya yang nyuci setrika terus pulang gituuu... seperti ART pulang pergi pada umumnya. Yah.. bi, emang yang kami butuhkan teman anak-anak selama kami bekerja. Kalau kerjaan rumah mah udah biasa kami kerjakan bersama.
Ya sudah deeh.... kamipun merelakan bibi pindah.

Tidak lama kemudian, ada Bi Marie.
Alhamdulillah masa-masa mencari ART ini GPL alias gak pakai lama. Soalnya model ART pulang pergi ini banyak banget di komplekku. Kalau aku menyapu halaman pagi-pagi, pasti ketemu mereka berangkat kerja. Makanya pas aku perlu, nitip pesan aja sama yang lewat itu -para ART tetanggaku- untuk dicarikan.
Bi Marie bersama kami hampir dua tahunan.  Fikri sudah sekolah juga. Jadi kalau pagi bi Marie hanya berdua Fadhila. Pekerjaan mencuci aku delegasikan. Masak tetap aku yang mengerjakan. Kayaknya masih mendingan membiarkan anak main air daripada anak main dekat kompor..
Nah pas aku mau melahirkan anak ke empat, aku ambil cuti besar selama 3 bulan. Karena aku di rumah, dan tidak dapat tunjangan, maka aku bilang bi Marie kondisiku, aku tidak memungkinkan untuk membayar gajinya. Jadi Bibi Mari aku cutikan, dengan perjanjian kalau dapat kerjaan ya silakan bekerja di tempat lain. Gak balik ke aku gapapa. Tapi kalau mau kembali ya pintu rumah kami terbuka.
Kurang lebih sebulanan, bi Marie main ke rumah dan cerita sudah punya kerjaan. Aku ikut seneng juga, bi Marie enggak nganggur lagi.

Ketika cutiku hampir habis, tante sebelah menawarkan ART. Yang ditawarkan adalah ibu teh Entin-ART beliau. Namanya Bi Esih.
Yang mengejutkan adalah, Tante mensyaratkan Bi Esih pake kerudung untuk bekerja di rumahku. Padahal belum ada pembicaraan apapun antara aku dan bi Esih. Dan akupun enggak menjadikan itu sebagai syarat. Toh ketiga ART terdahulu juga aku gak pakai syarat itu. Tapi bi Esih ternyata menerima. Ya alhamdulillah...
Jadi kalau berangkat kerja Bibi pakai kerudung rapi. Kalau di rumah/pas libur ya kostumnya lain lagi.
Seperti ART terdahulu, aku main ke rumah bibi. Kenalan sama keluarganya, sama suaminya. Asalnya dari Kuningan tapi sudah menetap di Bandung. Suami ya punya toko di pasar.
Tahun-tahun pertama sama Bi Esih itu ibarat orang pacaran putus nyambung gitu. Kadang kesel. Tapi ya untunglah kalau malam Bibi pulang, jadi pas pagi datang lagi, aku udah ilang marahnya.
Misalnya : Bibi keukeuh membawa anak-anakku pulang ke rumahnya kalau siang hari. Tapi Bibi selalu berdalih "moal diculik, moal diciwitan". Gak akan diculik, gak akan dicubitin, tetap disayang.
Iyaaa... percaya. Justru saking sayangnya Bibi sama anak-anak, dan memberikan apa saja, dan mengijinkan nonton apapun di rumahnya itulah yang membuat kami khawatir. Rasa-rasanya seperti ada perebutan perhatian anak-anak dan inkonsistensi peraturan rumah gitu. Tapi ya alhamdulillah setiap malam Bibi pulang anak anak kembali pada kami dan tetap diingatkan dengan peraturan rumah, sebagai anak Abi dan Umi. Lama-kelamaan posisi Bibi itu seperti orang tua kami, gak bisa dibantah. Gemes ? Pecat aja sih ! *ups
Hahahaha.... *iya sekarang bisa ketawa*
Pernah... pernah aku mau day-care in siTeteh waktu itu. Udah survey sana sini, tapi ternyata si Tetehnya juga enggak bisa ditinggalin dan toh mikirnya bentar lagi juga sekolah. Ya udah deh, enggak jadi.
Pernah juga aku mau berhentikan Bibi pas lahiran Faiz. Dengan alasan aku gak bisa membayar gajinya. Eh ternyata Bibi cuma dua hari berhenti, habis itu tetap datang, katanya tetep mau ikut keluarga kami, enggak dibayar juga enggak papa. Drama banget enggak siih ???
Kenapa bisa gitu? Enggak dibayar gak papa. Dibayar nanti-nanti aja, maksudnya.
Tahukah saudara-saudara, Bibi itu bekerja bukannya butuh penghasilan. kayaknya ngisi waktu luang aja. Hasil pasar suaminya sangat cukup untuk menghidupi mereka berdua. Jadi gaji bibi tiap bulan dibelikan perhiasan (*pinjem dong Bi... buat digadaiin, 4 bulaaan aja..... ) dan setelah terkumpul banyak, menjadi tanah dan sapi di kampung sana. Bibi tidak tertarik overtime kalau dia enggak mau.
Bibi ini baiiik banget sama anak-anak. Enggak pernah mau makan di rumahku, makanya siang selalu pulang dan makan di rumahnya.Katanya buat anak-anak aja. Dibawain oleh - oleh juga enggak mau, kecuali dianter ke rumahnya. Sekarang aja, setelah bibi ada cucu, aku bilang 'titip buat Eka', bibi enggak bisa nolak lagi.
Tiap habis gajian pasti beliin oleh-oleh buat anak-anak. tiap Senin/habis libur pasti mbawain kue buat anak-anak. Jangan tanya kalau habis mudik, pasti bawa beras dan sayuran untuk kami.
Dan yang paling jooss, kalau lebaran dikasih THR, trus ngasih lagi THE lagi ke anak-anakku. Bibi juga mbeliin baju buat anak-anak.  Dulu jamannya Firda, ya Firda yang dikasih. Sekarang jaman Faiz, ya Faiz yang banyak dikasih perhatian sama Bibi.
Dan kurasa Bibi pun perlahan tapi pasti banyak menyesuaikan dengan kebiasaan kami. Pasti dia juga banyak makan hatinya sama kami, namanya juga 7 orang. orang banyak ya banyak maunya.
Itulah sebabnya kami selalu menekankan pada anak-anak, hormatilah bibi sebagai pengganti orang tua selama ummi dan abi enggak ada di rumah. Harus nurut sama bibi. Kalau disuruh makan ya makan, kalau disuruh mandi ya mandi. Kalau keluar rumah pamit sama bibi.

Bi Esih bersama Eka dan Faiz

Dengan 10 tahun bi Esih bersama kami, rasanya aku sudah membuktikan satu anekdot yang ku dapat dari temen kantor :
"Yang membuat pembantu betah itu, kalau bukan karena majikannya yang baik banget, pasti karena dianya yang baik banget".

14 komentar:

  1. Waaahhhh... penuh romantika bener kisah-kasihnya mbak...
    Hebat lho orang yang bisa menjalin hubungan baik sampai awet gitu... 10 tahun aja ama bi Esih... yang ini ni kayaknya jodohmu ya mbak??? Meski bumbu-bumbu itu pasti selalu ada, tapi manalah ada orang yang bebas masalah kan??

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaaa... romantika bercinta dengan asisten rumah tangga... hahaha...
      dan memang bener banget, bi Esih ini seperti jodoh, akhirnya ya kami ini kayak udah tahu tarik ulur masing - masing hihi... saling pengertian deh..

      Hapus
  2. haha, quote terakhirnyaaa....
    Tapi aku yakin, karena kalian baik lah, makanya si bibi betah sampe 10 tahun. Mbak, panjang bangetttt kisah kasih ARTnya. Tapi emang namanya berumah tangga, kalo nggak ada cerita ART kayaknya kurang seru, ya? Hihihi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. xixixi.. itu aku dapat dari bu Endang kalau enggak salah...
      mbak-mbak bu Endang kan direkrut dari jaman masih di bawah umur dan pulang-pulang pas udah pada dewasa dan mau nikah.

      Hapus
  3. Ini sih memang benar2 kisah kasih ART. Seru ya mba... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbaak... akhirnya emang jadi makin sayang.. terutama sama bibi yang sekarang

      Hapus
  4. waduh quote terakhirnya
    #jadi spechless

    BalasHapus
  5. Bener2 rejeki mbak selalu ada pengasuh anak2mu ketika ditinggal bekerja, dan baik2 pula orangnya.
    pasti ini balasan atas kebaikanmu juga...

    BalasHapus
    Balasan
    1. rejeki ini mbaak...
      pas butuh pas adaa.... *kata bagindaratu
      alhamdulillah bibi tahan menghadapi kerewelan kami berenam dan akhirnya jadi bertujuh seperti sekarang

      Hapus
  6. Balasan
    1. tak terkira deh mbaak...
      kalau enggak ada bibi nggak tau deh.. pasti bakalan lain ceritanya..

      Hapus
  7. mak, jaman sekarang dapet asisten yangs etia dan baik itu memang langka banget. Kayaknya anekdot itu memang benar, deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bener.. langka banget, makanya harus dilestarikan #eh.. harus disayang-sayang gitu Maak... bener enggak ?

      Hapus

Silakan Tinggalkan Kesan