Minggu, 15 Desember 2013

Terkontaminasi

Faiz menyanyi :

Kumpulkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia...

Huuuuu..... langsung diteriakin sama kakak-kakaknya. Andai itu di panggung pasti udah diteriakin 'turun.. turuuun !"
Eits tapi bukan Faiz kalau enggak ngeles. Katanya :
"Bentar .. bentar, sekarang enggak pakai lebay" meminta kesempatan kedua.
"Kumpulkanlah ingatanku...
Hapuskan tentang dia"

*klo yang update pasti tahu dimana letak kesalahan lagu itu.*

Yah... itulah Faiz. Umurnya baru 5 tahun. Tapi sudah ikut-ikutan menyanyikan lagu anak remaja.
Ini adalah salah satu tantangan buat mahmud abal-abal seperti diriku ini yang punya anak dengan rentang usia berbeda. Ada ABG di rumah, ada pula ATK alias anak TK. :D

Dulu waktu Fikri kecil pernah nanyain, kenapa anak-anak enggak boleh nyanyiin lagu anak gede, tapi anak gede boleh nyanyiin lagu anak-anak?
Waktu itu jawabanku adalah : karena anak gede sudah pernah menjadi anak-anak dan anak kecil belum pernah menjadi anak gede.
Nampaknya jawaban tersebut cukup masuk akal, sehingga Fikri kecil tidak mempertanyakan lagi hal tersebut.

Tapi, beda anak beda jaman, beda jaman beda lagi tantangannya. Jaman Fikri kan enggak ada remaja yang memperdengarkan lagu, nah kalau jaman Faiz, si hape F1 dan F3 selalu bunyi menemani mereka belajar. Yah enggak mendengarkan secara khususpun  bisa hafal. Harus banyak-banyak mencarikan kegiatan lain yang membuat anak hanya memperhatikan apa yang baik dan pas buat mereka. Susah ? Ya iyalah.. namanya juga tanggung jawab. Ya harus menanggung, gak cuma menjawab aja hahaha...

Kalau kata Fikri, anak-anak ABG sekarang itu terlalu mainstream. Iya sih, lihat saja gaya fotonya, dari mulai bibir monyong hingga lidah menjulur, tangan di pipi sambil mengacungkan dua jari membentuk "V". Anakku juga kalau foto ya kayak gitu.
Lihat gaya rambutnya... lihat gaya pakaiannya...
Semua mirip-mirip. Sampai sampai Abi  enggak bisa membedakan mana yang anggota Chibi Chibi mana anggota JKT 48 kalau mereka foto sendirian. Akupun demikian :D

Nah, kemarin ini ada seorang ibu yang mengeluhkan gadis sulungnya. Kata beliau, sejak kuliah senengnya pakai celana ketat, trus pakai T-shirt dan jaket. Kerudungnya juga lipat segitiga satu peniti dan ujung-ujungnya dilempar ke pundak.
Komenku ya jangan salahkan dulu anaknya. Kita sebagai orang tua harus mawas diri dahulu.
Coba, si kakak itu kalau beli pakaian sama siapa, trus kalau mau keluar pas pamitan, ibu lihat enggak. Sejak kapan si kakak ganti gaya gitu?
Trus selama ini dia mainnya sama siapa.
Segala sesuatu pasti ada awalnya kaaan. Ya ibaratnya garis lurus sama garis serong, berangkat di titik yang sama, setelah jauh/panjang baru kelihatan deh jaraknya.
Nah, tanda tanya doong, selama ini kita kemana ajaaa?

Menurutku I'ts Ok pakai celana panjang. Asalkan tidak ketat. Ini pakemku. Sejauh ini kalau untuk celana jeans anak-anak aku selalu pakai satu nomor di atas yang seharusnya. Supaya enggak ngetat di paha dan betis. Trus buat anak-anak gadis itu aku juga kasih rambu-rambu. Boleh keluar pakai celana jeans, asal atasannya minimal sampai ke paha.
Kalau pakai rok gak boleh yang nerawang membentuk paha, walau pakai leggingpun.
Kerudungnya juga harus (belajar) menutup dada. Memang sekarang belum ada tuh dada, belum nampak yang ditutupnya. Tapi satu dua tahun lagi? Kalau enggak dibiasakan dari sekarang khawatirnya tau-tau aku kaget sendiri dengan gaya fashion anakku.
Kenapa aku tegas gitu?
( Lah si mbak sama si Ayuk aja lebih galak lagi  sama aku. Kalau aku pakai baju agak pas, baru agak lho... belum pas, pasti mereka ribut. Ummi kerudungnya harus panjang nutup pinggang. Bukan berarti balas dendam ya... hahaha)
Yah namanya juga anak-anak. Katanya hidup cuma hari ini. Yang diinget cuma hari ini. Jadi meski ummi udah pernah ingatkan, ya lupa lagi lupa lagi. Aku yakin para gadisku itu sebenarnya sudah tahu rambu-rambu berpakaian mereka.
Ini semacam iseng iseng berhadiah gitu. Aku faham, mereka butuh perjuangan lhoo... untuk berpakaian anti mainstream.
Apakah anakku selalu nurut ? Ya enggaklah......
kalau mereka perginya pas nggak ada ummi dan abi ya kadang pakai gaya mereka sendiri. Namanya juga manusia. Harus selalu diingatkan. Yang udah tua begini aja masih sering lupa dan perlu diingatkan.

Yang bujang gimana ?
Kira kira setali tiga uanglah. Sejak Fikri punya hape baru hasil menabung 2 tahun+dapat donasi, sesekali aku pinjem hp dia buat IG-an. Iseng-isenglah kita lihat koleksi gambar dia.
Ya ampuuun... itu si jekateempatlapan bener bener mendominasi kartu memori.
Ava bbm pun gambar si jekate. Sampai pada suatu hari Abi lihat dan menggoda, kenapa sih gambarnya anak jekate banyak amiit?
Waktu jaman Abi kecil yang disimpan itu gambar gambar artis dan atlet, misalnya Rambo, Stalone (sama aja wkwk), dengan ringan Fikri menjawab  sambil ngeledek Abi
"Kalau aku suka gambar jekate, berarti aku masih normal, Bi. Daripada aku suka sesama cowok"

Gubrak banget enggak sih ??? Nau'dzubillahi min dzalika.

Agak kaget juga, meskipun sejak awal menikah dengan Abi dan punya anak, kami sepakat bahwa kami tidak akan mengarantina anak-anak dalam lingkungan yang homogen. Biarkan mereka tumbuh di lingkungan heterogen dan belajar bertahan. Maka yang harus kami bekalkan adalah imunitas.

*langsung keinget obrolan bareng Sondang, kalau kita ini lama-lama merasa biasa dengan LGBT, karena sering dengar dan sering dibercandakan. Sampai kitapun menganggap bahwa hal tsb biasa aja. Gak ada lagi rasa jijik atau perlawanan dalam hati. Akhirnya memaklumi kaan...*

*pantesan yak, Rasul sejak berabad yang lalu mengingatkan, agar segera mencegah kemungkaran. Tingkatan yang paling utama ya cegahlah dengan tangan/wewenangmu, kalau enggak bisa, cegah dengan lisanmu, kalau enggak bisa ya cegah dengan hatimu. Dan inilah selemah-lemah iman* kemudianhening

12 komentar:

  1. Mbaaaakkkk... aku paling gak suka lagu ini... ini lagu favorit ponakanku dan dia selalu ku 'marahi' kalo nyetel lagu ini... namanya orang ngomong atawa nyanyi kan kayak doa bagiku... jadi kalo mengucapkan berulang-ulang kan takutnya diijabah Allah.. hiii seremmm
    Aku juga sukaaa dengar lagu/musik, tapi emang aku pemilih banget.. kalo ada yang liriknya gak bagus ya cut.. atau kalo yang nyanyi gak oke kepribadiannya pun dah langsung cut dari daftar penyanyi favorit..
    Itu juga ku terapkan ke anak-anak... jadi yang ada kalo mereka suka sama sesuatu ya aku tunjukkan juga kekurangannya, cuma biar balance aja, tidak memuja sesama manusia ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku nggak merhatiin, bagian mana yang nggak kau suka ? Aku taunya ya cuma sepotong yang dinyanyiin Faiz itulah. Ntar aku kepoin deh ke hape F3.
      kalau lagu-lagu jaman aku remaja mah kadang masih hapal dari ujung ke ujung kalau ada yang nyetel. Etapi kenapa ya.. kalau hapalan mah musti diingetin sepotong demi sepotong *uhuk

      Hapus
    2. Yang Kumpulkanlah itu kan aslinya Lumpuhkanlah kan?? Nah lo... mau kalo kita lumpuh ingatan?? serem banget kan??

      Hapus
    3. jadi penasaran, emang itu lagu apa/ penyanyinya siapa... #kudet ni aku :p

      Hapus
    4. Ika : Oooh.. bagian itu. kalau aku menafsirkannya ya bagian melupakan tentang dia saja. ingatan lain mah masih ada hahaha #dibahas
      Mbak Tituk : Tanya anak muda di sekelilingmu deh.. di tivi TPT juga sering kedengaran (soalnya gak bisa lihat)

      Hapus
  2. Balasan
    1. Mbak Lidya... lebih aman kalo tidak tahu... ^_^.. maaf nyamber ni

      Hapus
    2. Iya mbak.. alhamdulillah enggak tahu mah. Enggak rugi kok...

      Hapus
  3. karena anak gede sudah pernah menjadi anak-anak dan anak kecil belum pernah menjadi anak gede.---> disimpen in case one day salah 1 dari A3 nanyain hal yang sama, hahaha...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahhaha boleeeh... monggo... gratiisss xixixixi

      Hapus
  4. akujuga gak tau lagu ini, kalo pas kuliah dulu biasanya updet. Kapan ya aku baca di jurnal winda -nya bhumi ya, pokoknya bilang kalau kita waspada sama makanan instan buat kesehatan badan anak kita, harusnya kita waspada sama syair-syair lagu jaman skrg yg banyak unsur depresifnya, karena gak baik buat kesehatan jiwa. beuh langsung terasa jeder jeder di udara

    BalasHapus
    Balasan
    1. walaaah... gak usahlah cari di google dengan kata geisha hahaha...
      ya gitu deeeh... emang harus waspadalah waspadalah...
      ya palingan aku bilang ke anak - anak, lagu itu nggak bagus, ummi nggak suka. seperti katamu itu laah... paling tidak, anak-anak tahu mana yang kita suka mana yang tidak

      Hapus

Silakan Tinggalkan Kesan