Sabtu, 22 Maret 2014

Obrolan Pelacur* (1)

*pelan-pelan curhat (pinjem istilah De yang kubaca di postingan Om Dani)

Suatu siang yang terik, aku masih melayani tamu karena tandemku sakit.
- Bu, itu beneran tuh, kantor ibu bebas korupsi
+ Insya Allaah...
- soalnya saya males bayar pajak kalau uangnya cuma dikorupsi
+ pajak yang bapak bayarkan,  dipakai seluruh departemen pak, beserta pemkot dan pemprov seluruh Indonesia.
- iyaa tapi kan ada temen ibu yang korupsi
+ maaf pak, bapak salah alamat. Seharusnya bapak bicara langsung kepada yang bersangkutan, dan kepada semua orang yang korupsi. soalnya saya nggak kenal sama mereka
- para pemimpin, pejabat juga sama aja. Sudah dipilih malah korupsi, makanya saya males nyoblos, golput aja. *emalahcurcol
+ kalau bapak nggak milih, bagaimana Bapak melakukan perubahan ?
- revolusi  *semangatbanget
+ :)  revolusi ? Siapa yang memimpin ? Tetep aja Bapak milih pemimpin revolusi. Siapa yang jadi korban ? Malah tambah banyak. Jangan-jangan uang pajak yang bapak bayarkan,  yg sudah  jadi gedung, jembatan, pasar, bakalan musnah percuma jadi korban revolusi
- Pokoknya revolusi
+ :) terima kasih, selamat siang. 

Hadeuuuh... Cepek deh enggak sih ? Klo ada klien yang gitu. Iih, sebenernya sih sudah pengen pasang tampang tanduk. Tapi kan gak boleh ya... harus tetep senyum.
Mungkin seharusnya gak perlu ditanggepin juga, tapi klo sudah lapar, panas, capek trus disinisin gitu,  ya pengen 'ngelawan' juga jadinya.
Sejujurnya  dalam hati banyaaaaaak banget yang mau diomongin sama orang-orang seperti di atas.
Antara lain :
Ya kalau Anda  pe en es-pe en es juga, gak usahlah sok-sok ngomongin pembayaran pajak. Wong pajak Anda ditanggung pemerintah kok. 
Atau kalau gaji Anda dibawah 2 juta*sebut angka*, gak usah juga ngomongin bayar pajak. Lho kok ? Yaeyalah, kan penghasilan tidak kena pajak sekarang 2.025rb.
*yang bingung soal pajak bisa tanya Mbak Tituk hihi seminggu ini mbak Tituk dah dapat tugas jadi konsultan 

Dan kalau kita bandingkan,  apa yang sudah kita nikmatin dari bangsa dan negara ini  jauuuuh   lebih banyak dari jumlah yang kita 'bayarkan'.  Oke, ini gue aja kali ya.. yang pe en es.
Yang bisa aku sebutin dari nikmat-nikmat itu misalnya:
* Jalan yang lumayan halus, wajarlah ada bolong, orang cantik aja bisa jerawatan.
* penerangan yang lumayan meski masih remang di sana sini, minimal jalur yang aku lewatin.
* keadaan yang lumayan aman -meski masih ada kejahatan, minimal kita masih 'berani' melepas anak keluar rumah buat sekolah dan aktivitas lain.
* Taman-taman dan trotoar yang mulai indah *di bandung ini mah* lumayan buat popotoan
* Pemerintahan yg digaji pakai 'uang pajak kita' yang terus menuju good governance
    - punya gubernur yang baik, satu-satunya  gubernur yang kiprah dan prestasinya banyak mendapat penghargaan.
     - punya walikota yang baik, satu2nya walkot bandung yg berani tanda tangan kontrak dengan KPK utk anti gratifikasi . Dan meski baru 6 bulan menjabat, perubahan sudah terasa di sana sini.

Ya itu baru sebagian kecil. Masih panjang daftarnya klo mau dibuat.
Seneeeng nggak siih ?
Ya kalau aku sih seneng. Bahkan terselip percaya diri, aku sudah mengambil peran, dan menjalani peran tsb meskipun kecil.
Aku sudah memilih orang yang tepat untuk mewakiliku dan memimpinku menuju perubahan.. Dan akupun  menjadi bagian dari upaya perubahan itu.
Dunia politik sering dibilang kotor. Kekotoran itu bukan karena banyaknya orang jahat di sana, tapi karena sedikitnya orang baik yang bersedia terlibat.

> bersambung <

13 komentar:

  1. Hidup perubahan! katakan tidak pada golput! :))))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hiduppp !!! *sembari mengacungkan kepalan*
      Bener bener, katakan tidak pada golput

      Hapus
  2. Revolusi? Aih ngeri.. ekstrem amat si bapak :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Revolusi !
      Aku juga heran, hari ini masih ada yang mikir revolusi. Ini kan inskonstitusi *haiyah... bahasanya*

      Hapus
  3. Ish mbak Titi.. aku kan juga mau nulis tentang golput ini.. cuma belum jadi2.. mudah2an cepet bisa jadi ah.. malu dah lama gak posting ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayooo.... tuliskaaan.. aku pengen tahu pendapat dan pandanganmu tentang hal ini.
      Posting dooong... kangen baca tulisanmu :D

      Hapus
  4. eeeh kok namaku disebut2.... aku buka konsultan mbaaak... tapi bagian law enforcement... ;) (konsultan dadakan sebulan ini... :))
    tentang golput, bikin prihatin yaa.... terutama kalau baca di forum2 diskusi islam, dan banyak saudara2 kita yang memilih untuk tidak memilih alias golput, dengan dalil agama dibawa2 pula, rasane kok sediiih.... mbok ya daripada golput dukunglah yg mereka pikir bisa membawa perubahan ke arah kebaikan,, sayang kan suaranya... masa memilih utk pasrah2 aja, siapa pun yang memimpin... gak ngerti deh aku...

    BalasHapus
    Balasan
    1. typo... bukan konsultan maksudnyaa...

      Hapus
    2. Yaaah... itulah Mbaak.. dan lebih priatin lagi karena biasanya yang golput itu udah menutup diri dengan pendapat mereka, nggak mempelajari dengan teliti semuuaaa partai yang ada . Yang ada nggebyah uyah.
      Sayang ya... kertas suara mereka itu rawan untuk disimpangkan lhoo

      Hapus
  5. Balasan
    1. Hihi iya -sejujurnya- iyaaa Mbaak. Habis itu aku suka ketawa sendiri dan bilang ke diri sendiri 'Ngapain dipikirin, bikin capek aja'

      Hapus
  6. mbak Titiii...! Samaaa pun aku suka nyeseekkk kalo belum apa2 ada yang komen "ngapain bayar pajak? nanti dikorupsi2 juga"
    hayaahhhh! tape deeehhhhh....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi mestinya kita tanya : berapa sih bayaran pajakmu ?
      Hahaha..... ini nih yang kupikirin kalau udah nepsong.
      Menurutku sih type2 begitu susyeeeh dikasih tau. Ntar deh yaa... kalau dirimu balik lagi ke kpp hehe...

      Hapus

Silakan Tinggalkan Kesan