Rabu, 26 Maret 2014

Obrolan Politikus (nerusin Obrolan Pelacur)

Sebelum ini aku cerita tentang orang yang nggak percaya mekanisme demokrasi. Dia memilih golput dan revolusi.
Ceritanya ada di sini.

Demokrasi itu katanya kekuasaan di tangan rakyat. Ya kalau pengen hasil demokrasi bagus, ya bagusin dulu rakyatnya. Asal tau saja korupsi itu bukan milik pejabat. Korupsi itu sekarang milik rakyat juga. Berapa tahun lalu pernah ikut pelatihannya BIG. Lha itu rakyat yang tiba-tiba ngaku miskin biar dapet jamkeskin dan lain-lainnya apa namanya gak korupsi ? Jelas-jelas dia gak berhak.
Oke ya... jadii.. kalau mau hasil demokrasi baik yuuuk kita baikin dulu rakyatnya. Aku pernah cerita bagaimana kita mengambil peran dalam upaya perbaikan itu di postingan yang ini.

Nah sekarang, penyelenggara negara atau yang pegang tampuk pemerintahan itu siapa sih ? Kalau pas jaman masih suka cerdas cermat P4 (jiaah... ketauan lahir jaman kapan) mah eksekutif (presiden dan jajarannya ke bawah, termasuk LPND dan pegawai di luar negeri), legislatif (MPR yang terdiri dari DPR dan perwakilan daerah/golongan, sekarang DPD), dan yudikatif (Mahkamah Agung, sekarang ada KY dan MK). Jaman reformasi nambah inspektif yaitu BPK.
Kalau di daerah pemerintahnya adalah Gubernur/Walikota/Bupati pleus DPRD.

Kesimpulannya kalau aku pe en es, ya   aku ini bagian dari pemerintahan. Kalau coba-coba nuding pemerintah belum becus ngurus negara ya sama aja nuding diri sendiri hiks. Sedih nggak siih...
Trus kalau dibilang anggota dewan pada korupsi ?
Yaelah..... musti flash back deh ke lima tahun lalu.  Dulu yang kita pilih siapa ? Atau lima tahun lalu, kita milih atau enggak ?
Klo salah pilih, ya tahun ini mestinya move on.
Kalau nggak milih ? ya nggak usah komenin ... hehe.. cukup menonton aja.*ini kata sondang*
Atau kalo sampai saat ini gak percaya ada caleg yang bisa dipercaya, ya coba aja nyalonin diri sendiri jadi caleg (kalau berani) xixixi.
Menurutku Aleg ini penting, karena mereka yang bakal ngatur2 kehidupan kita 5 tahun ke depan. Semua RUU harus disetujui mereka agar jadi UU. Biar dikata RUU baik macam yang anti pornografi itu, panjaaaaang sekali perjuangannya.
Di level daerah, bikin perda harus disetujuin mereka.
So sebaiknya kita memilih caleg yang kita kenal. Atau caleg yang direkomendasikan oleh orang yang kita percaya. Dengan kata lain pakai jalur 'temennya temen' .
Atau kita kenali mereka. Kan promonya banyak tuh,  sepanjang jalan. Follow dan stalking akun2 socmed mereka. Kepoin tuh, aktivitas mereka kepoin juga rekam jejaknya bila memungkinkan.
Ya kalau nyari yang sempurna gak bakalan ada. Seperti kita nyari jodoh dulu. Meski kita tahu suami kita gak sempurna, tapi karena dia baik, dan cucok ama kita, ya kita terima buat teman seumur hidup -insya Allah.

Trus kalau gak milih emang kenapa ?

Kan kita awalnya ngomongin uang pajak  ni ya.. kalau nggak milih, sayang uang pajak kita *yaelah kembali ke pajak* yang sudah dipakai menggaji orang KPU pusat, provinsi dan sekian ribu kota/kab, ngehonorin panwaslu, dipake bikin sekian juta  bilik suara, bikin sekian ratus juta kertas suara (kali 4 utk memilih DPRD II, DPRD I, DPR RI dan DPD), ngehonorin para pelipatnya, ngebayarin ongkirnya ke seluruh Indonesia, ngebayarin biaya promosinya, ngebayarin biaya pengamanannya, alamaaaaak...mihil amat yak pemilu kita ini. Ya mangkanya jangan sia-siakan.

Nah, nah, nah... Jadi plis plis plis, temen-temen nanti tanggal 9, gunakan hak pilihmu ya... Jangan nggak milih dan lalu  bikin revolusi kayak bapak yang kuceritain tadi.

Sekali lagi, politik itu menjadi kotor bukan karena banyaknya orang jahat di dalamnya, tetapi karena sedikitnya orang baik yang mau terlibat. Pilihan kita, menentukan masa depan kita, masa depan bangsa dan negara kita.

10 komentar:

  1. Dengan kondisi saat ini emang lebih susaaaahhhh meyakinkan mereka yang terlanjur apatis... yang ada malah jadi pada pasrah, padahal kan sekecil apapun yang kita lakukan, insyaAllah akan memberi nuansa kan???
    Yukkk milih ntar di tanggal 9..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa beneeer....
      Kadangan males nanggepin yang dah apatis.
      Cuma rasanya kok sayaaang bangeet gitu, punya hak suara dan bisa menggunakannya tapi dibiarkan begitu saja. Trus lebih sayang lagi klo kemudian hak itu diselewengkan oleh oknum yg gak bertanggung jawab. Aaah...

      Hapus
  2. Nudingnya dibatin wae, ben gak menimbulkan keramaian. Ahahaha

    Pasti iNyong nyontreng koq, Mba. Gep milih sapa lah urung genah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nek nudinge dibatin jenenge dudu nuding. Tapi mbatin hahaha
      Pokoke kudu nyoblos ya.... pilih sing indeks korupsine paling sethithik

      Hapus
  3. Yah... demokrasi di negeri ini memang mahal... ***masih galau antra mau vote atau mau golput :-(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena mahaal... sayang kalau disiakan.
      Vote yaaa... voote

      Hapus
  4. milih DPDnya ni mbak yg belom tau... belum sempet baca2... nyari2 info.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jabar Nomor 30 mbaak... pak Suharna mantan menristek.
      Jateng juga no 30 ya... Pak Cahyadi (suami Mak Ida Laila - finalis srikandi blogger)

      Hapus
  5. galau nih... nyoblos apaan yak... hehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan galau mbaak... ayoo ikuti langkahnya.. pertama kenali semua partai yang ada
      Kedua : cari track recordnya, banyakan positif atau negatifnya, pasti mbah gugel tau. Macam indek korupsinya, indeks ketidakhadiran sidang dpr/mpr, indeks pelanggaran selama kampanye dll
      Ketiga baru deh pilih partainya

      Hapus

Silakan Tinggalkan Kesan