Kamis, 29 Mei 2014

Ketika Musim Cukur Tiba

Setelah lihat IG Mamak soal Gama yang baru potram, jadi keidean mau posting soal potram juga.
Seputar cukur anak - anak ini, aku dan Abi lebih banyak menangani sendiri.
Dari Fathimah sampai Faiz, alhamdulillah kami selalu mencukur  tepat di hari ketujuh, bersamaan dengan publikasi nama. Seperti yang diajarkan Rasulullah agar mencukur rambut dan memberi nama di hari ketujuh. Nama sudah disiapkan, tapi baru dikasih tau ke orang lain pada hari ketujuh itu.

Balik lagi ke cukur, rambut anak-anakku termasuk yang tipis tipis saat mereka bayi sampai dua tiga tahun gitu. Kalau yang cewek sampai sekarang masih aku yang motong rambut mereka. Karena rambutnya pada lurus ya tinggal kres kres aja model bob, kalau yang panjang malah tanpa model. Asal mendekin aja barang 3-5cm.  Yang cowok ini lho, Fikri gak masalah aku cukur sendiripun sampai TK. Kalau nggak salah Fikri mulai ke tukang cukur pas masuk SD.

Tapi, begitu sampai Faiz sekarang, alamaak, rambutnya sih nggak tebel tebal amat yak, tapi lebih tebal dari saudara saudaranya di usia yang sama.  Makanya dari tau kapan aku udah membujuk dia buat cukur bareng Abi ke tukang pangkas rambut. Satu kali dua kali Abi membujuk, nggak berhasil. Malahan pertama kali berhasil ke tukang pangkas rambut ketika diajak sama Bibi. Selain karena bareng Eka,  abis cukur dapat hadiah es krim pulak. Iya, bibi yang nraktir. Cihuy nggak coba...

Nah sejak saat itu hampir setiap 3-4 bulan ya Faiz musti ke tukang potram. Modelnya gimana ? Ngikutin kepala dia aja... model gundul yang baru numbuh gitu.... hihi ... kebayang nggak ?  intinya mah sisakan rambut setengah cm. Gitu aja.

Sampai saat ini aku baru dua kali nemenin Faiz potram. Tapi yang terakhir potram kemarin, si Faiz kasih syarat yang aduhai.
"Hayu, mau cukur sama Ummi, tapi potoin aku banyak banyak ya..." #gubrak
Sempat ada insiden juga. Pas nyampe tempat si Mang, antrian penuh. Yang lagi dilayani 2 orang. Yang nunggu 6 orang termasuk Faiz. Aiih.. daripada bete ya udah pulang aja.
Sore sehabis hujan ke sono lagi alhamdulillah kosong.
Antrian hanya 2 orang termasuk Faiz. Jadi cukurpun gak pake lama. Dan selfipun gak pake malu.
Ongkosnya juga gak pake mahal.
Lima ribu rupiah saja kakaak...

potram pertama sejak bukan bayi lagi, kira kira umur 2-3 tahun gitu deeh

ini potram pertama dianter ummi di tukang pangkas rambut
potram terbaru kemarin, ada adegan selfie segala
Eca-eca baca koran, padahal cuma lihat iklan mobil doang
show tiiimeee.... alhamdulillah tenang banget. karena dia udah niatin kali ye..

Selasa, 20 Mei 2014

Gerakan 20 Menit Mendampingi Anak

Bismillah,,, meneruskan pesan
Dari bu Netty Heryawan :

Serentak tanggal 20 Mei 2014 pukul 18.30 - 18.50 WIB se Jabar

Bentuk kegiatan :
membacakan buku untuk anak/makan bersama
ngobrol
peluk anak katakan kita sayang pada
mereka
ucapkan terima kasih atas kebaikan
mereka
maaf atas kesalahan kita kepada anak
Mendoakan mereka, dll

Hal ini dimaksudkan untuk mendekatkan anak dg ortu sehingga anak-anak kita tidak kekurangan kasih sayang.
(Netty Heryawan)

Semoga program ini berlanjut seterusnya. (Rencananya akan diulang saat hari keluarga nasional di bulan Juni, Hari anak di bulan Juli dan hari Ibu)

Tolong Bantu Sebar Ya

Minggu, 18 Mei 2014

Tentang Memberi

Mumpung libur, sedikit bernostalgia tentang saat-saat awal aku diajak mentoring oleh kakak kelasku.
Di dalam mentoring, kami memang tidak menekuni ilmu tafsir atau ilmu al Qur'an secara khusus, tetapi lebih ke pemberian motivasi agar lebih sungguh-sungguh mempelajari agama. Silakan cari sumbernya. Waktu itu yang ngehits adalah belajar di Ma'had Al Hikmah jalan Bangka. (Sampai sekarang masih ada lhooo... hanya berubah nama).
Selain itu, kami pun belajar untuk mempraktekkan ayat-ayat al Qur'an dan sunnah  dalam kehidupan sehari-hari.
Aku semangat banget saat itu. Soalnya seperti dapat kakak yang baik hati. Namapun mahasiswa, jauh dari orang tua. Perhatian dari kakak mentor itu kadang terasa bagai tetesan air di padang tandus... *nggaklebaylho...

Aku yang saat itu sangat buta pelajaran agama, sedikit demi sedikit mulai terdorong untuk mempelajari dan membaca buku sendiri. Bahkan untuk menutupi biaya beli buku, pas tingkat dua aku 'buka cabang' toko buku secara konsinyasi. Jangan sangka toko itu besar ya...  ini cuma sebuah rak yang kusimpan di pojok rumah kontrakan. Ya alhamdulillah lah... ada aja akhwat yang beli.
Aku juga ingat uang rapelan gaji dulu aku belikan Tafsir Ibnu Katsir yang sampai sekarang masih nongkrong manis di rak bukuku.

Eh iya, cerita soal mraktekin ayat Al Qur'an ini aku jadi teringat satu peristiwa yang sampai sekarang selalu membuat hangat perasaanku.

Pada suatu ketika, ada seorang kakak mentor yang pakai kerudung baru. Sebagai cewek, biasalah kita komen komen 'iiih...... baguus, ih baguuss' gitu kaan.... dan beliau pun tersenyum sambil berucap alhamdulillah.
Beberapa hari kemudian, kakak mentor  itu berkunjung ke kontrakanku sambil memberikan sebuah bungkusan. Pas aku buka, isinya  adalah.... kerudung yang kubilang bagus itu!
Subhanallah....
Kejadian tersebut sangat berkesan bagiku. Sungguh aku mendapatkan pelajaran tentang keikhlasan dan tentang kecintaan terhadap saudara seiman. Kerasa banget bahwa dia memberikan itu dengan cinta. Sesuatu yang dia cintai, dia berikan dengan cinta. Akupun mendapat gambaran secara langsung bagaimana seseorang itu ternyata bisa, mencintai saudaranya lebih dari mereka mencintai dirinya sendiri. Bukan lagi melalui teori, tapi melalui praktek nyata.
Berlandaskan motivasi yang tinggi. Bukan untuk mendapatkan ucapan terima kasih atau sekedar balasan dari manusia. Pastilah dia mempunyai keyakinan yang jauh melampaui itu semua.
Makanya pas kemarin aku tilawah sampai ayat ini :

(لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ) [Surat
Ali Imran : 92]

"Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya."

Langsung deh keinget sama mbak mentor itu.
Jazakillah khairon katsiron, sudah membangunkan pondasi yang kokoh untukku. Semoga aku bisa terus istikamah mempelajari dan mempraktekkan agama sampai akhir hidupku. Amiin

Rabu, 14 Mei 2014

Antara Assembly dan Olimpiade Sains

Kemarin udah berturut-turut cerita 3 anak terbesar, sekarang giliran Teteh dan Faiz.

Ceritanya, bersamaan dengan Faiz assembly -gambarnya udah uplod di IG dari kapan tau- Teteh ikutan semifinal olimpiade sains. Aku di sekolah nonton Faiz assembly. Teteh berangkat dan pulang semifinal bareng rombongan sekolah karena kebetulan tahun ini lokasi semifinalnya masih sama-sama di Arcamanik.
Hihi... ngomong ngomong soal olimpiade sains, mari kita menggosip sejenak. Ini pov-ku tentang si olimpiade.

Aku lupa sejarah perkenalanku dengan olimpiade ini gimana. Kalau nggak salah sih, awalnya ada yang nawarin komik sains ke sekolah, mendekati jadwal olimpiade gitu. Untuk nambah-nambah pengalaman anak-anak, maka sejak jaman Fathimah SD, setiap tahun anak-anakku selalu ikut. Alhamdulillah, 2 tahun terakhir, si Teteh terpilih jadi duta sekolah ke olimpiade, jadi aku gak perlu bayar uang pendaftarannya. *emakiritmodeon*

Sejujurnya aku tidak terlalu serius nyiapin anak-anak ikut ini. Hihi dan seperti pernah kubilang... aku emak yang rendah banget level achievement-nya.
Ya palingan mbeliin komiknya aja di salah satu bimbel terkemuka. Tahun ini lebih parah, aku gak beli komiknya sama sekali. Tapi alhamdulillah Teteh ada tambahan les menghadapi olimpiade. Dikasih gratis oleh guru - gurunya.
Makanya.... meski sejak jaman F1 sampai sekarang F4  anak-anak selalu masuk semi final aku nganggepnya biasa aja. Hihi ini semacam emak nggak tau diuntung nggak siih...
Atau mungkin karena aku menilainya dalam lingkup sempit kali ya... soalnya serombongan yang ndaftar dari sekolah anak-anak, hampir masuk semifinal semua.. paling yang gugur satu dualah....
Sebaliknya, belum ada satupun -ya belum ada satupun sejak jaman Fathimah- yang berhasil masuk final. jadi inilah penyebab aku berkesimpulan, apa istimewanya ? Hihi.. *dipentungkomiksegabruk*

Nah pas kemarin si mba Tri ngomongin gimana caranya supaya bisa masuk final, baru deh kepikiran olehku. #ketauanlemotnya.
Ini nih jelekku juga, kalau aku udah nganggep ketinggalan jauh, maka aku akan berhenti lari dan kemudian berjalan lambat. Jadi makin jauh aja ketinggalannya. Gitu juga targetanku ke anak-anak.
Kalau mbak Tri itu, selain rajin memasak, ke anak-anak juga rajin ngajarin pelajaran. Sampai sekarang ke anak pertamanya yang SMA pun. Terkait olimpiade sains ini, setiap anaknya pulang dari olimpiade, mereka ada sessi bahas soal. Rajiiiin kaaan ?
Kalau aku ya.... boro-boro. Udah gak nyambung ...
Akhirnya pertanyaan serius mbak Tri tentang gimana cara masuk final, kujawab iseng dengan kata-kata "kali harus ikut bimbel di sono mbaak".
Eh, malah mba Tri serius mikirnya. Ia seperti mendapatkan another POV aja tuuh... (lain ya... kalau orang SBM ITB maah). "Bisa jadi kali ya Mbak, di sana sering dibahas soal-soal macam soal olimpiade".
Tapi jangan tanya aku bagaimana macam soalnya ya... aku nggak baca sedikitpun.

Trus di kalangan ibu ibu  sudah ada semacam anggapan, yang masuk final dari Bandung mah anak SD tertentu. Seperti cerita teh Silvi  di salah satu komen IG-nya. Ya sebenernya nggak juga siih...
Selain dari SD terkemuka itu, selalu ada satu dua dari SD lain.
Aiiih... baru deh ini, kepikiran, sebenernya, bisa jadi kaaan... satu atau dua dari SD lain itu anak kita, anakku, anak mba Tri atau anak teh Silvi, atau anak mba Lidya dari Bekasi sana kaan kan ? Nah, sekarang mari kita amiiiiin-kan berjamah...
Jadi ? Jadi sebenernya masih bisa berlari ya...
(Oke Teteh, insya Allah kita kejar 2x lagi di level 3 ).

Alhamdulilah, untuk tahun ini memang hasil si Teteh agak lumayan. Agak-agak di atas gitu...lagi-lagi kata Mbak Tri. Soalnya dia duluan yang liat pengumuman di web. Haha.. Baru setelah aku di SMS mbak Tri, aku buka web dan nge-print buat Teteh.
Begitu datang dari semifinal, Teteh nemuin aku di arena assembly Faiz , kemudian dia curhat :
"Mi, lebar ya (bhs Sunda : sayang ya).. tahun ini yang 10 besar dapat tabungan"
"Kamu nomer berapa memangnya ?"
"Nomor 11, lebar ih... satu lagi"
"Kamu tahu dari siapa dapat tabungan, kan biasanya enggak pernah ?"
"Dari Attakwa ada yang dapat, anak level 2 juga. Dia nomer 4 apa nomer 6 gitu"
"Ya sudah... nggak papa. Itu namanya belum rejeki. Dan yang namanya rejeki bukan hanya uang, kamu sehat, kamu pinter, itu juga rejeki yang harus disyukuri. Masih ada kesempatan di level 3 nanti."
(see ? komen emak nrimo kaan ?)
Si Teteh manggut manggut.
Hadeeeuh... ini aku kok jadi merasa bersalah gini ya... jangan jangan aku sudah menularkan mental nrimo, gampang puas, gak mau usaha lebih dsb ke anak-anak. (Nggak bakat banget kan buat ngadepin anak very superior ? Qiqiqiqi dibahas lagi)
Ya Teh, mari kita lihat, apakah dari sepuluh finalis olimpiade ini ada dari Attakwa ?
Atau kamu salah satunya ? (aamiiin)
Semoga hasilnya membanggakan ya.. dan bisa 'membayar' jerih payah bapak dan ibu guru yang telah memberikan les dengan sukarela tanpa biaya apapun 3x dalam seminggu. (Amiiiin sekali lagi).

Kalau soal Faiz assembly singkat aja ya... lihat aja di foto-fotonya. Ini aku melihat dia mau naik panggung aja udah alhamdulillah... soalnya seminggu sebelum pentas, bu guru sms katanya Faiz gak mau latihan karena nggak mau naik panggung. Tapi pas kucerita ke bu guru betapa hebohnya dia memeragakan gerak dan lagu, bu guru pun berkata : ya syukurlah. Sudah saya kasihh tahu Bu, pokoknya semua nanti harus belajar naik panggung, meski di atas cuma diem. :p

Selfie dulu....eh itu balon milik tetangga belakang kursi lho.. kayak ada di tangan Faiz ya..

 
bergaya setelah ganti busana
tampil ramai ramai di panggung
Ini pas pementasan PG, lucu ya.. bu Guru PG-nya kasih instruksi di depan panggung, di barisan depan para penonton. Kebayang nggak sih.. perjuangan nglatih anak dibawah 4 tahun yang sekolahnya cuma seminggu 3x ? qiqiqi

ngantri pentas

Jumat, 09 Mei 2014

Operasi Kecil

Jiaaaah.... judulnya sok keren banget.
Ini bukan salah satu jenis operasi seperti yang kita kenal pada umumnya ya...
Tetapi lebih ke operasi mengeluarkan benda super keciiillll  haha

Ceritanya Bandung akhir akhir ini kan hampir selalu hujan di siang hari. Ketika hujan itu, halaman sekolah Ayuk selalu digenangi air. Juga jalan raya menuju tempat pemberhentian angkotnya.
Entah udah jadi semacam 'gaya' anak-anak  atau gimana, kalau ujan gitu semuanya rombongan lepas sepatu, nyeker daaaaannnn main air.
Ya ampuun... anak SMP gitu lho. Jangan jangan kurang panjang ya, masa masa mandi hujan saat mereka kecil. Hehe...
Pas jaman F1 sampai F3 sih perasaan sering kuberi kesempatan mandi hujan. Kalau F4 dan F5 yang jarang.
Ya tapi mungkin karena SMP itu masanya peer group jadi seneng aja kali, si Ayuk hujan hujanan ramai ramai gitu.
Nah, di hari Rabu pagi tiba tiba Ayuk bilang kakinya sakit. Sampai jinjit gitu jalannya.
Pas kuperiksa ada bintik hitam di telapak kakinya. Ini pasti kerikil. Karena dia kan suka pulang nyeker gituuu...
Hmmm aku tahu ini bakal agak sulit. Karena ambang nyeri anak ini rendah banget. Dikiiiit aja kena towel teriaknya segede apa.
Pas mau kuambil pakai pemotong kuku, dia udah nangis duluan.
'Ya udah, nanti malem ke klinik di depan'
'Nggak mau ke dokter.... ' malah tambah nangis.
'Hmmmm... kita lihat nanti sore ya...'
Ih, kalau buat bolang macam aku, itu sih keciiil... dulu pas kecil kan sering main ke kebon dan kena duri yang item-item segede jarum yaa...
Aih, tapi tantangan anak sekarang kan beda lagi.

Sore pas pulang kerja, Ayuk ngeluh kakinya tambah sakit. aku ajak ke dokter enggak mau. Eh, si mbak malah njahilin, katanya nanti kakinya infeksi dan diamputasi, Ayuk tambah nangis. Khawatir bakalan infeksi dan diamputasi. Hadeeeeuuuh... heran deeeh.
Karena tidak ada alternatif lain selain harus mengeluarkan kerikil tersebut, sedangkan dia enggak mau ke dokter, padahal udah kubilangin kalau ke dokter nanti kan disuntik matirasa,jadi gak bakal sakit, eh.. tetep aja gak mau.
Akhirnya .. karena makin malam makin nyeri,  Ayuk nyerah, ntar aja pas dia tidur, dia mau kerikilnya dikeluarin.
sedikit nekat siiih.... karena pas malem mendapatkan cutter baru, eh, nggak ada alkohol buat sterilisasi. Yaudin deh, bismillah aja. Pertama kaki Ayuk di kompres es batu biar sedikit baal. Trus setelah berkutat sekitar satu jam karena Ayuk meski tidur masih sedikit kerasa dan bentar bentar narik kakinya, alhamdulillah berhasil ngeluarin kerikil. Besarnya ? cuma sedikit lebih besar daripada ujung jarum.

kerikil di ujung jarum

Rabu, 07 Mei 2014

IQ Anakku Very Superior ?


Fikri udah mau UN minggu depan. (ini ketauan draft dari tau kapan).
Fikri udah UN hari ini. Eh, sudah tinggal sehari lagi, besok. Mohon doa ya teman temiiin...
Kalau lihat effort dia sih... aku gak se-dag dig dug jaman Fadhila.
Umminya berdoa ? Ya insya allah... namanya juga ibu, pengen yang terbaik buat anaknya.
Apalagi semester dua ini dia mulai rajin shaum senin kamis. Pernah nyobain puasa daud tapi nggak tahan kali ya... karena masih banyak kegiatan. Masih les seminggu 2x pleus kadang futsal sama teman-temannya.

Kalau aku lihat trend prestasinya juga alhamdulillah ada peningkatan.
Aku sih bukan type yang minta anak jadi juara. Aku cuma minta mereka 'berlomba dengan dirinya sendiri'.  Katanya kan nafsu itu lawan yang paling berat ya... soalnya bak musuh dalam selimut gituu...
Ya alhamdulillah dari posisi 20 sekian di kelasnya pas naik kelas tiga kemarin, Fikri masuk 10 besar kelas di semester 1. Dan beberapa TO juga nilainya membaik.
Aku pernah posting sekilas  tentang hasil TO Fikri di sini.
Makanya pas Fikri bilang mau sekolah di tengah kota, di SMA-nya pak Walikota dulu, akhirnya Abi berpikir ulang soal sekolah harus dekat rumah (dan negeri dan bagus hehe) .
Abi pun memberi gambaran Fikri nanti musti berangkat jam berapa, sarapan jam berapa (ini terkait Ummi kan kudu masak jam berapa), dan pulangnya pun jam berapa harus diperhitungkan resikonya, capek dsb.
Soal biaya nanti Abi dan Ummi yang pikirkan, bagian Fikri adalah meraih nilai agar bisa masuk sekolah tsb. Abi kasih target 5 besar di sekolah sekarang, baru yakin ( insya Allah) masuk SMA 3.
Soalnya SMA 3 dan SMA dekat rumah itu kan sama-sama cluster satu. Kalau Fikri nggak masuk 3, nggak bisa lagi milih SMA dekat rumah walaupun nilainya cukup, dia harus masuk yang cluster 2.
Fikripun terdiam. Mikir kali ya... biasanya jam 6 masih bisa hahahehe di dapur sama aku, atau main bola sama Faiz, ngupi-ngupi cantik eh ganteng dsb.

Nah, hari kemarin pas dia nunjukin hasil TO terakhir yang turun, dia bilang mau berfikir ulang soal sekolah tengah kota. Males euy.... pagi pagi sekali perginya.
Ya kubilang aja, selalu ada harga yang harus dibayar untuk mendapat sesuatu. Jer basuki mawa bea. Itu kata orang Jawa.
Ya kita lihat nilai kamu ntar ya Nak....
Kemudian  aku juga ngingetin dia agar jangan terpengaruh soal gossip bocoran soal dan lembar jawab. Pokoknya bismillah.
Bukan sekedar jumlah nilai yang kita kejar, tapi keberkahan ilmu itulah yang jadi tujuan, sebagai bagian dari ibadah kita. Dan itu hanya bisa bila selalu menjaga kejujuran.

Kemudian, beberapa hari lalu dia menunjukkan psikotest di sekolahnya. aku sedikit kaget lihat hasilnya.

M. Fikri Ghazy Rabbani memiliki potensi kecerdasan berada pada taraf very superior dengan IQ-158 (berdasarkan skala TIKI) ptensi dalam bidan akademis yang dimiliki sangat baik, tetapi diharapkan jangan cepat puas dan tetap mempertahankan prestasi yang ada
Terus terang aku kaget. Antara bahagia dan cemas. Seneng lah ya.. anak berpotensi pinter, kan kecerdasan nurun dari ibu (keukeuh). Tapi cemas dan khawatir juga, jangan jangan selama ini aku dan suami belum memberikan pola asuh yang cocok buat anak pinter gitu. Jangan jangan selama ini banyak potensi kecerdasan yang terabaikan. Banyak laaah... sampai-sampai, jangan jangan karena pengentahuanku yang terbatas, jadi banyak hal yang Fikri butuhkan yang nggak kepikiran olehku.

Melihat hal itu aku bertanya kepada salah satu psikolog yang aku kenal. Sedang S3, praktisi pendidikan.
Pas aku bilang anakku IQ 158 dia bilang nggak mungkin. Biasanya test yang di sekolah itu levelnya lebih mudah. Jadi nilai IQ akan turun.
Tapi kemudian dia meralat lagi, seandainya turun 10 poin ya masih tinggi juga ya.. atuh dicoba mbak Titi, masuk ke SMA 3, barangkali bisa masuk kelas aksel (akselerasi)
(weeeek... suamiku termasuk yang anti aksel)

Trus minggu berikutnya, aku juga nanya ke teman psikolog yang lain. Beliau sedang S3 juga. praktisi pendidikan juga. konsultan beberapa sekolah di luar Jawa khusus menangani kelas akselerasi
Dan pas kubilang IQ 158 beliau mengatakan "Nggaaak mungkiin... anak very superior itu akan kelihatan sejak awal. Rasa ingin tahunya tinggi sekali. Nggak mungkin ibu baru tahu anak ibu very superior setelah sebesar ini. Test di mana dia ?"
Test di sekolah, kataku.
siapa yang nge-tes ?
Ada yang menawarkan dari lembaga test gitu
Berapa biayanya ?
50 rebu
Nah ini, kadangkala ada lembaga test yang menjual murah test test seperti ini. Mereka ini hanya mengejar uang. Seharusnya sebuah lembaga psikologi tidak mengeluarkan produk skala IQ anak, tetapi tes minat dan bakat. Yah , ini masalah kode etik profesi juga sih.. dan kadang kala juga ada yang baru sarjana psikologi sudah 'berani' bikin lembaga test. Harusnya dia ambil profesi psikolognya dulu, minimal. Atau sudah ambil S2 psikologi linier. Psikologi terapan juga nggak bisa. harusnya gelarnya M.PSi baru boleh memeriksa seperti itu. Itupun bukan untuk IQ

Trus aku minta Fikri untuk mengirim gambar surat itu. Daaaaan....

Yang Tanda tangan M.Psi
Waah... nggak mungkin lho Bu, anak ibu very superior. Ini skala TIKI yang mana ? Ada beberapa grade soalnya. Jangan jangan dikasih yang mudah untuk SD (ah masa' iya sih ?). Terus skala TIKI itu ada beberapa test, minimal 4 test. Nggak mungkin, IQ 158 nggak ketahuan.

Yaaa...kali aja Bu, karena keterbatasan saya, saya tidak dapat mendeteksi seberapa cerdas anak saya.

Nggak, anak very superior itu akan berbeda, akan ketahuan dari obrolannya

Ya mau tahu dari obrolan gimana, wong sama saya aja nggak kepikiran, masa' mau saya obrolin sama dia

Ya pokoknya enggak mungkin deh, IQ very superior. Anak very superior itu prestasi di kelasnya bagus, selalu tertantang dengan segala hal, jadi tidak ada kata menyerah buat dia. Mau gurunya nggak enak, mau temannya nggak enak, dia tidak akan terpengaruh, justru itu menjadi tantangan buat dia. Terus nggak bisa juga langsung masuk kelas aksel, harus menjalani serangkaian test lagi... (ya kebetulan suami juga termasuk yang enggak setuju adik pake kelas aksel, nanti kakaknya kebalap, dan kasian si anak aksel, nggak sempat main musti ngebut belajar - eh ini versi awam yaaa.a.....)

Aku manggut manggut aja
Ya sebenernya sih... nggak terlalu penting buat saya, berapa skala IQ anak saya, mau superior atau very superior. Maksudnya nanya itu supaya saya enggak salah langkah menangani ke depannya.
Ya kalau bener kan, kasihaan... kalau ternyata selama ini cuma dikasih tantangan 'segitu'. Ya kalau ternyata hasilnya salah (haiyaaaaah... sesama psikolog saling adu argumen) ya nggak papa juga. Toh selama ini aku dan Fikri sudah menjalin hubungan yang bagus, anak juga terbuka sama ortu, dari cerita soal pelajaran, sampai soal ngidol (JKT 48) dan rencana bisnis. Itu sudah lebih dari cukup laaah buatku.

Tapi pas melihat siapa yang bertanda tangan di surat itu, si Ibu psikolog yang kedua agak melunak.
"Bu, kalau ibu mau periksa lebih detil, dapat menghubungi psikolog di jalan pager gunung, (hihi gak mau nyebut nama, ntar kayak promosi) beliau juga konsultan aksel. Tapi test-nya nanti juga bukan test IQ, melainkan penelusuran bakat dan minat."

Iya deh, Bu.... aku tanya Fikri dulu.
Dan pas kuceritain Fikri, dianya cuma nyengir aja.
Mi, daripada ratusan ribu buat periksa, mendingan buat jalan jalan aja... hahaha
Dasar bocah, umminya udah khawatir, anaknya selow aja. Ya udah lah Fik, kita ngebakso berdua aja yuuk...